Perbedaan antara Maghfirah (مغفرة) dengan ‘Afuw (عفو)

🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅

Oleh Syeikh Abu Yusuf

⚡Maghfirah adalah hak Allah untuk mengampuni kita atas segala dosa-dosa kita (dosa kecil, karena dosa besar hanya diampuni dengan taubat -red), tetapi dosa-dosa tersebut akan tetap tercatat di dalam buku amalan kita selama di dunia. Maghfirah adalah ampunan Allah atas dosa-dosa kita, tetapi di Hari Pembalasan kelak, dosa-dosa tersebut tetap tertulis di dalam rapor kita. Allah akan menanyai kita tentang dosa-dosa tersebut, tetapi Allah tidak akan menghukum kita karenanya

⚡’Afuw adalah hak Allah untuk mengampuni dosa-dosa kita, lalu menghapusnya dari buku catatan amal kita selama di dunia. Seolah-olah, kita tidak pernah melakukan dosa-dosa tersebut. ‘Afuw adalah ampunan Allah atas dosa-dosa kita, yang lalu dosa-dosa tersebut akan dihapus secara total dari rapor kita, dan Allah tidak akan menanyai kita tentang dosa-dosa tersebut di Hari Pembalasan

❗Itulah kenapa Rasulullah (ﷺ) memerintahkan kita untuk membaca doa berikut di malam Laylatul Qadr:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

(Ya Allah, Engkaulah Satu-satunya yang Maha Pengampun, dan Engkau suka memberi ampunan. Maka dari itu, ampunilah aku),
(HR Ahmad, Ibn Majah, dan Tirmidhi)

❗Jadi, pastikan kita senantiasa membaca doa tersebut sepanjang waktu, sebanyak mungkin. Jadikan ia sebagai dzikir harian kita.

🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅

Bayangkan bahwa diri kita sedang berdiri di Hari Pembalasan, dimintai pertanggungjawaban atas segala amal perbuatan kita, dan kita tidak memiliki jaminan untuk memasuki Jannah-Nya.

Tiba-tiba, kita mendapati bahwa kita memiliki bergunung-gunung Hasanat (pahala) di dalam rapor kita.

Tahukah kita dari mana pahala yang begitu banyak tadi datang?

Karena ketika di Dunia, kita terus-menerus mengucapkan, “SubhanAllah wa bihamdihi, SubhanAllah al ‘Adhim.”

Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda, “Dua kalimat yang ringan di lidah, tetapi berat timbangannya. Keduanya begitu disukai oleh Arrahman (Maha Pengasih) :

سُبْحَانَ اللّهِ وَ بِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللّهِ الْعَظِيمِ

SubhanAllahi wa biHamdihi, Subhan-Allahi ‘l-`adheem
(Mahasuci Allah, dengan segala pujian dan kesucian hanya teruntuk bagiNya, Yang Mahabesar)
(HR Bukhari, Muslim).

Coba bayangkan betapa banyak pahala yang akan dilipatgandakan jika kita membagikan ilmu ini, ilmu tentang keutamaan berzikir mengingat Allah.

Betapa banyak yang akan mengucapkannya, dan kita akan mendapat aliran pahala dari mereka yang mengamalkannya setelah mengetahuinya dari kita.

“Sesiapa yang menunjuki orang lain pada kebaikan, baginya pahala yang sama dengan mereka yang melakukannya,”
(HR Muslim).

Wallahua’lam bish shawwab

🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅
Diterjemahkan dari Bahasa Inggris oleh: Irfan Nugroho

Sumber : broadcast wa

RAMADHAN PEMBUKA REZEKI

Ust. Nasrullah

Sahabat iman… Jika ingin sukses dunia maupun akhirat kuncinya sederhana… Terhapusnya Dosa.

Jika selama ini rezeki seret, harga makin mahal ga sanggup terbeli, peluang2 tertutup, target tak terpenuhi, order sepi, semua hanya bermuara oleh satu perisai diri : dosa. Tak ada yang lain.

Padahal rezeki Allah datang dengan dipaksa. Sama seperti nafas yg datang pada kita setiap detik. Itulah hakikat rezeki. Coba Anda tahan nafas Anda, 5 menit saja? Tidak sanggup kan? Ya sbnrnya yg kita tidak sanggup bukannya mencari rezeki, tapi menolak rezeki. Tambah menit tambah gemetar saat menahannya.

Begitulah rezeki-rezeki lain yg siap datang pada kita. Tapi kita cinta betul dengan dosa2 kita. Kita pegangi dosa itu. Kita peluk erat2 dosa itu. Maka tubuh sbnrnya berontak. Gemetar tak tentu arah. Cuma kita yg tidak menyadari gemetarnya hati saat menahan dosa.

Inilah hakikat dakwahnya Nabi Nuh, mengajak kaumnya utk meninggalkan dosanya.

“Maka aku katakan pada mereka “mohonlah ampun pada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun” (QS Nuh : 10)

Di dunia, saat dosa sudah diampuni, maka Allah akan menurunkan rezekinya dengan deras pada kita.

“Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak2mu, dan mengadakan untukmu kebun2 dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai2” (QS Nuh :11-12)

Maka bagi mereka yg merindukan rezeki berlimpah, tidak ada yg semestinya dilakukan kecuali bersungguh2 minta ampunan Allah. Dan ampunan itu tersedia berlimpah di bulan Ramadhan yang tinggal tersisa bbrp hari ini.

Maka ajaran doa nabi adalah doa sederhana utk di ujung Ramadhan ini :

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fuanni – Ya Allah Engkau Maha pemaaf, cinta dgn org yg meminta maaf, maka maafkan kami…

Yuk, kita tutup Ramadhan ini dengan menggandakan kesungguhan untuk meminta ampun. Perbanyak Sholat Taubat. Itu saja yg dilakukan berulang2 sampai tetesan air mata terus mengalir mengingat dosa2 kita. Ulangi lagi sholat taubat. Bangun lagi, sholat taubat lagi. Teruuuus sholat taubat sampai akhir Ramadhan ini.

Doakan juga sahabat2mu agar dosanya diampuni. Sholat taubat utk mereka. Berdiri utk mereka. Bantu agar sahabatmu diampuni oleh Allah dosanya…

Smg Allah tutup Ramadhan kita dgn bersihnya seluruh dosa2 kita. Aamiin yaa robbal ‘aalamiin

Sumber : broadcast wa

Mengapa Harus Berpenat dalam Dosa Jika Pahala Lebih Nikmat?

By Ust. BUDI ASHARI
29 Ramadhan

Mari sejenak menikmati seteguk faedah dari dalamnya lautan ilmu Al-Qur’an..

Allah berfirman dalam akhir surah Al-Baqarah,
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

_Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari keburukan) yang diusahakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”_

Perhatikan ayat ini pada bagian:
لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ
_Ia mendapat pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari keburukan) yang diusahakannya._

Para ulama menyebutkan bahwa isi ayat ini tentang kebaikan yang mendatangkan pahala dan keburukan yang mendatangkan dosa.

Kata لَهَا di ayat ini bermakna bahwa pahala dari usaha kebaikan menjadi milik kita. Sedangkan untuk dosa Allah gunakan kata َعَلَيْهَا, yang bermakna dosa dari usaha keburukan ada di atas kita, menjadi beban. Dan begitulah dosa, ia akan menjadi beban yang dipikul para pendosa di hari kiamat.

Kemudian, Allah menggunakan kata كَسَبَتْ untuk kebaikan dan kata اكْتَسَبَتْ untuk keburukan. Apa bedanya?

Arti dari كَسَبَ ialah sebuah usaha. Jiwa akan mendapatkan apa yang diusahakannya dari kebaikan.

Kata اكْتَسَبَ juga berarti sebuah usaha. Jiwa akan mendapatkan apa yang diusahakannya dari keburukan.

Orang yang berbuat baik berusaha, dan orang yang berbuat dosa pun berusaha. Akan tetapi, Allah gunakan ا dan ت untuk membedakan antara usaha dalam kebaikan dan usaha dalam keburukan. Ada penambahan wazan di sini, dan ulama bahasa menggariskan bahwa setiap penambahan wazan mengandung perubahan makna.

Bentuk كَسَبَ ialah wazan yang normal. Itulah mengapa saat Allah menyampaikan usaha manusia untuk berbuat kebaikan, digunakan wazan yang normal/standar. Normalnya manusia itu berbuat kebaikan.

Akan tetapi, untuk orang yang mengusahakan keburukan, Allah gunakan kata اكْتَسَبَ. Maknanya, seseorang perlu usaha dan perjuangan yang luar biasa dalam melakukan keburukan.

Bagi orang yang berbuat maksiat, maka setan menggambarkan di benak bahwa melakukan perbuatan dosa lebih nikmat daripada melakukan perbuatan baik (misalnya: begadang menuruti syahwat lebih nikmat dari qiyamullail).

Surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai oleh manusia. Adapun neraka, maka ia dikelilingi oleh syahwat. Namun begitu seseorang masuk ke salah satu di dalamnya (berbuat baik atau maksiat), maka pada keduanya ada kenikmatan. Bedanya, setelah orang berbuat kebaikan, kenikmatannya terus bertambah. Sedangkan bagi orang yang berbuat maksiat, kenikmatannya hilang, karena ia khawatir jika perbuatannya ketahuan.

Saat seseorang melakukan dosa, sebenarnya ia sedang melakukan perjuangan yang sangat berat. Fisik yang berbuat dosa akan mengeluarkan energi yang lebih besar dari fisik yang berbuat kebaikan.

Fisik ini Allah ciptakan sejalan dengan kebaikan dan tidak diciptakan untuk berbuat keburukan. Makanya orang yang berbuat dosa itu lelah sekali hidupnya. Ia dipaksa untuk menjalankan kenikmatan demi kenikmatan yang sesaat. Dan di penghujungnya, ia akan mengakhiri hidup dengan tekanan yang luar biasa pada fisik dan jiwanya.

Sekarang mari kita lihat surah Al-Baqarah ayat 81,
بَلَىٰ مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
_(Bukan demikian), yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya._

Di ayat ini, mengapa Allah menggunakan kata كَسَبَ untuk usaha melakukan perbuatan dosa?

Inilah pentingnya mendalami ilmu Al-Qur’an, karena setiap ayat memiliki konteks dan penekanan yang berbeda. Konteks ayat ini berbicara tentang orang-orang Yahudi (lihat ayat-ayat sebelumnya).

Karena bagi Yahudi, melakukan kebaikan itu sama saja dengan melakukan keburukan. Kalau pun mereka tahu itu keburukan, maka hal itu sudah biasa mereka lakukan, bahkan menjadi sifat/kebiasaan mereka. Bukan hal yang sulit lagi. Makanya Allah gunakan kata كَسَبَ bukannya اكْتَسَبَ.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, _”Setiap umatku bisa dimaafkan Allah, kecuali orang-orang yang membuka dosanya (al muhajirun).”_

Al-Muhajirun adalah orang-orang yang menceritakan dosanya setelah Allah menutupinya. Bahkan ia bangga dengan dosanya. Inilah golongan yang menghuni neraka. Dan semoga kita terhindar dari menjadi golongan yang seperti ini. Allahu musta’an.

*yang tercatat dari apa yang disampaikan oleh Ustadz Budi Ashari, Lc. pada kajian i’tikaf Khowatir Quraniyyah.
Bumi Hambalang, 29 Ramadhan 1437 H

Mengapa Harus Berpenat dalam Dosa Jika Pahala Lebih Nikmat?

By Ust. BUDI ASHARI
29 Ramadhan

Mari sejenak menikmati seteguk faedah dari dalamnya lautan ilmu Al-Qur’an..

Allah berfirman dalam akhir surah Al-Baqarah,
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

_Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari keburukan) yang diusahakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”_

Perhatikan ayat ini pada bagian:
لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ
_Ia mendapat pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari keburukan) yang diusahakannya._

Para ulama menyebutkan bahwa isi ayat ini tentang kebaikan yang mendatangkan pahala dan keburukan yang mendatangkan dosa.

Kata لَهَا di ayat ini bermakna bahwa pahala dari usaha kebaikan menjadi milik kita. Sedangkan untuk dosa Allah gunakan kata َعَلَيْهَا, yang bermakna dosa dari usaha keburukan ada di atas kita, menjadi beban. Dan begitulah dosa, ia akan menjadi beban yang dipikul para pendosa di hari kiamat.

Kemudian, Allah menggunakan kata كَسَبَتْ untuk kebaikan dan kata اكْتَسَبَتْ untuk keburukan. Apa bedanya?

Arti dari كَسَبَ ialah sebuah usaha. Jiwa akan mendapatkan apa yang diusahakannya dari kebaikan.

Kata اكْتَسَبَ juga berarti sebuah usaha. Jiwa akan mendapatkan apa yang diusahakannya dari keburukan.

Orang yang berbuat baik berusaha, dan orang yang berbuat dosa pun berusaha. Akan tetapi, Allah gunakan ا dan ت untuk membedakan antara usaha dalam kebaikan dan usaha dalam keburukan. Ada penambahan wazan di sini, dan ulama bahasa menggariskan bahwa setiap penambahan wazan mengandung perubahan makna.

Bentuk كَسَبَ ialah wazan yang normal. Itulah mengapa saat Allah menyampaikan usaha manusia untuk berbuat kebaikan, digunakan wazan yang normal/standar. Normalnya manusia itu berbuat kebaikan.

Akan tetapi, untuk orang yang mengusahakan keburukan, Allah gunakan kata اكْتَسَبَ. Maknanya, seseorang perlu usaha dan perjuangan yang luar biasa dalam melakukan keburukan.

Bagi orang yang berbuat maksiat, maka setan menggambarkan di benak bahwa melakukan perbuatan dosa lebih nikmat daripada melakukan perbuatan baik (misalnya: begadang menuruti syahwat lebih nikmat dari qiyamullail).

Surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai oleh manusia. Adapun neraka, maka ia dikelilingi oleh syahwat. Namun begitu seseorang masuk ke salah satu di dalamnya (berbuat baik atau maksiat), maka pada keduanya ada kenikmatan. Bedanya, setelah orang berbuat kebaikan, kenikmatannya terus bertambah. Sedangkan bagi orang yang berbuat maksiat, kenikmatannya hilang, karena ia khawatir jika perbuatannya ketahuan.

Saat seseorang melakukan dosa, sebenarnya ia sedang melakukan perjuangan yang sangat berat. Fisik yang berbuat dosa akan mengeluarkan energi yang lebih besar dari fisik yang berbuat kebaikan.

Fisik ini Allah ciptakan sejalan dengan kebaikan dan tidak diciptakan untuk berbuat keburukan. Makanya orang yang berbuat dosa itu lelah sekali hidupnya. Ia dipaksa untuk menjalankan kenikmatan demi kenikmatan yang sesaat. Dan di penghujungnya, ia akan mengakhiri hidup dengan tekanan yang luar biasa pada fisik dan jiwanya.

Sekarang mari kita lihat surah Al-Baqarah ayat 81,
بَلَىٰ مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
_(Bukan demikian), yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya._

Di ayat ini, mengapa Allah menggunakan kata كَسَبَ untuk usaha melakukan perbuatan dosa?

Inilah pentingnya mendalami ilmu Al-Qur’an, karena setiap ayat memiliki konteks dan penekanan yang berbeda. Konteks ayat ini berbicara tentang orang-orang Yahudi (lihat ayat-ayat sebelumnya).

Karena bagi Yahudi, melakukan kebaikan itu sama saja dengan melakukan keburukan. Kalau pun mereka tahu itu keburukan, maka hal itu sudah biasa mereka lakukan, bahkan menjadi sifat/kebiasaan mereka. Bukan hal yang sulit lagi. Makanya Allah gunakan kata كَسَبَ bukannya اكْتَسَبَ.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, _”Setiap umatku bisa dimaafkan Allah, kecuali orang-orang yang membuka dosanya (al muhajirun).”_

Al-Muhajirun adalah orang-orang yang menceritakan dosanya setelah Allah menutupinya. Bahkan ia bangga dengan dosanya. Inilah golongan yang menghuni neraka. Dan semoga kita terhindar dari menjadi golongan yang seperti ini. Allahu musta’an.

*yang tercatat dari apa yang disampaikan oleh Ustadz Budi Ashari, Lc. pada kajian i’tikaf Khowatir Quraniyyah.
Bumi Hambalang, 29 Ramadhan 1437 H

PROFIL ORANG YANG BERTAQWA

Kajian Rabu,
11 Mei ’16/ 4 Sya’ban 1437 H
H-26 Ramadhan
@Aula Al Hurriyyah

oleh : Ust Achmad

Buah ketakwaan berbanding lurus dg seberapa jauh kita mengamalkan ciri2 orang yg bertakwa.

*Janji Allah pada hamba yg bertaqwa
(lanjutan….)

QS Al A’raf 96

ﻭَﻟَﻮْ ﺃَﻥَّ ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟْﻘُﺮَﻯٰ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﺍﺗَّﻘَﻮْﺍ ﻟَﻔَﺘَﺤْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺑَﺮَﻛَﺎﺕٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎءِ ﻭَﺍﻷَْﺭْﺽِ ﻭَﻟَٰﻜِﻦْ ﻛَﺬَّﺑُﻮﺍ ﻓَﺄَﺧَﺬْﻧَﺎﻫُﻢْ ﺑِﻤَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﻜْﺴِﺒُﻮﻥَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

ayat ini merupakan konsekuensi dr keimanan kita. harus kita pegang dlm rangka menjemput keberkahan Allah dg perantara langit dan bumi.

berkah : ukurannya bukan angka. bukan kuantitas.
sebagai hamba yg beriman, kita tdk boleh menggunakan ukuran angka, kuantitas sebagai ukuran utama. tp gunakan ukuran keberkahan.
suatu dikatakan berkah jika dijalankan dg ikhlas yg berdasarkan aturan Allah dan rosulnya.

ukuran kuantitatif sangat relatif. boleh digunakan tp jangan dijadikan acuan utama.

pd zaman kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz, tercatat seluruh penduduknya saat itu tak meminta2. hingga baitul mal tidak menemukan org yg pantas menerima sedekah. kemudian di salurkan k negri lain.

karakter orang yg beriman harus benar2 diaplikasikan.
QS Ad Dzariyat (15-25) –> Lihat catatan sebelumnya.

Orang yg bertakwa selalu berusaha optimal dlm kebaikan. selalu mengisi waktu dg kegiatan terbaik. tidak hanya amalan ruhiyahnya (shalat, tilawah dsb) tetapi aktif mengaplikasikan.

Hamparan bumi ini adalah karunia Allah yg harus disyukuri. tdk boleh ada sejengkal tanahpun yg di sia-siakan.

QS Al A’raf 96. Jika direnungkan, maka maknanya sangat dalam.
pada diri kalian terdapat ayat2 Allah. maka optimalkan seluruh tubuh kita untuk kebaikan ummat.
dari hal kecil seperti mikroba, bisa menghasilkan industri besar. tp ini dimanfaatkan oleh orang kafir yg tak memahami quran. padahal jika kita yg menguasai sangat luar biasa.

Di langit, ada sumber2 rizki bagi orang yg bertaqwa. Mengambil sarana langit untuk sumber rizki, masih dimanfaatkan oleh orang kafir.

studi s1 s2 s3 itu ringan. sudah disaku. kelulusan itu mudah bagi aktivis. kita harus berfikir jauh ke depan. jangan karena studi, kita tak punya waktu untuk ummat, kemudian kita memilih meninggalkan amalan untuk orang lain. padahal studi hanyalah sarana untuk lebih bermanfaat untuk umat. jangan berfikiran sempit. hanya mementingkan kepentingan sendiri yg kecil padahal jika kita memilih ummat, Allah akan memudahkan urusan kita.

QS Muhammad 7

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺇِﻥْ ﺗَﻨْﺼُﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﻨْﺼُﺮْﻛُﻢْ ﻭَﻳُﺜَﺒِّﺖْ ﺃَﻗْﺪَﺍﻣَﻜُﻢْ

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

ketika baca qur’an,
Resapi maknai Al qur’an secara dalam, kemudian rasakan ia melalui aliran darah kita. hingga kekuatannya akan menguatkan anggota tubuh kita. hingga mata kita akan kuat mengkaji dan belajar. hingga kaki kita akan kuat dan ringan melangkah menuju tempat2 yg baik. JADIKAN AL QUR’AN PEDOMAN atas segala urusan. urusan rumah tangga, urusan belajar, urusan memimpin negara dsb.
apalagi bagi seorang intelektual muslim, orang kampus, calon pemimpin ummat. maka, Al quran harus benar2 menghujam, setiap ayatnya.

sebagai intelektual muslim, kita jangan dininabobokan dg hanya melihat hasil zaman keemasan islam. tapi, lihatlah bagaimana proses mereka para sahabat meraih itu. pada usia 10 tahun mereka sudah hafal qur’an. dan Al quran benar2 jadi pedoman setiap geraknya.

Sholat yg khusyu berkorelasi dg aktivitas yg optimal. dlm QS Al Mukminun. Allah menggandeng antara kualitas ibadah maghdhoh dg kualitas ibadah khoshoh.
Muslim harusnya selalu merasa waktu ini begitu sempit untuk kebaikan2 yg ia akan lakukan. jangankan terfikir untuk melakukan maksiat. untuk membuang waktu sia2 saja tidak.

QS Al Muzzammil 7.

ﺇِﻥَّ ﻟَﻚَ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ ﺳَﺒْﺤًﺎ ﻃَﻮِﻳﻠًﺎ

Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak).

Malamnya,

QS Ad Dzariyat

ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻗَﻠِﻴﻼً ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻣَﺎ ﻳَﻬْﺠَﻌُﻮﻥَ

Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam.

pekerjaan org bertakwa adalah pekerjaan yg berbobot

Orang beriman selalu menebar manfaat. kehadirannya selalu ditunggu2. dan ketika wafat maka, bukan hanya manusia, tapi semua makhluk Allah, tanaman, batu, air dsb bersedih karena wafatnya..

Tebarkan kebaikan. Kebaikan yg terbaik. dan istiqomahkanlah. oleh karena itu pentingnya secara kontinyu menghadiri majelis ilmu dan dzikir, serta menyampaikannya pd orang lain. agar kita selalu saling mengingatkan dan selalu bermanfaat.

Sabda Rosul,
“Sebaik2 kamu adalah kamu yg terus belajar Al qur’an dan menyampaikannya pada orang lain”

PERUT LAPAR kita khawatir dan langsung mencari penawarnya. tapi apabila ruhiyah lapar. cemaskah kita??

Berat memang datang kajian. tapi azzamkan, bila perlu wajibkan pada diri. insya Allah, Allah yg akan meringankan dan menguatkan…

Dakwah adalah jalan utama kita, yg lain, studi, karir dsb hanya sarana saja. itu sudah digenggaman tangan. Allah akan jamin itu..

Allohu’alam bishowab

Resumed by : ‘SA’

Sumber : broadcast wa

Penjual dan Seorang Wanita

Kajian Senin,
9 Mei 2016/ 2 Sya’ban1437 H
H-28 Ramadhan
@ Aula Masjid Al Hurriyyah IPB

Oleh : Ust Achmad

Kisah  Shahabat :

Ada salah seorang shahabat Nabi. Ia adalah seorang penjual. Penjual dg barang dagangan dan transaksi yg halal. dlm Riyadush Shalihin kisah ini diceritakan. Pada suatu hari, saat penjual sdg berjualan, ada seorang wanita cantik yg ingin membeli buah, dagangan shahabat tadi. Ia datang sendiri. Shahabat ini, yg tadinya tdk memiliki maksud jahat. tetapi syaitan membisikkan kejahatan dlm hati shahabat tsb. Datangnya gangguan syaitan bisa dlm beberapa situasi, yaitu :
1. di awal
2. di tengah.
sehingga kita harus betul2 berlindung pada Allah dan mematuhi rambu2 dalam berinteraksi.
Syaitan mengganggu sahabat tadi. sehingga shahabat ini mulai berbohong, dan mengatakan pd wanita itu.
“Jika kau inginkan buah yg lebih bagus, maka bukan di sini.”
wanita tsb, karena menginginkan buah dg kualitas bagus, maka dipenuhilah permintaan shahabat tsb.
Kesalahan wanita tsb :
1. datang sendiri.
2. berinteraksi hanya berdua.
3. Memenuhi permintaan shahabat tsb pergi ke tempat sepi.
Hingga sampailah ditempat yg ditunjukkan. dg godaan syaitan shahabat td melakukan segala sesuatunya kecuali berzina. kemudian dia sadar dan bertaubat. Ia kemudian berlari mencari Rosul. Ia menceritakan apa yg terjadi dan ia rela menerima konsekuensi apapun atas perbuatan yg dilakukannya asalkan Allah menerima taubatnya.

Mendengar itu, Rosul terdiam, hingga Allah menurunkan QS Hud 114.

ﻭَﺃَﻗِﻢِ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓَ ﻃَﺮَﻓَﻲِ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ ﻭَﺯُﻟَﻔًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ۚ ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﺴَﻨَﺎﺕِ ﻳُﺬْﻫِﺒْﻦَ ﺍﻟﺴَّﻴِّﺌَﺎﺕِ ۚ ﺫَٰﻟِﻚَ ﺫِﻛْﺮَﻯٰ ﻟِﻠﺬَّﺍﻛِﺮِﻳﻦَ

Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.

***HIKMAH****

1. Berhati2lah dlm berinteraksi antar ikhwan akhwat yg bukan muhrim. Ikutilah rambu2 yg ada (baca catatan 2 minggu lalu).

*Sadarilah, dlm perjalanan hidup kita, syaitan selalu mengikuti di manapun dan dalam keadaan apapun hingga sakaratul maut.
setiap detiknya syaitan tak pernah meninggalkan kita. kita diikuti qorin.
Rosul juga. bedanya adalah qorin yg mengikuti Rosul, Allah jaga supaya tdk bisa mengalahkan Rosulullah.
Syaitan bisa dtang di awal di tengah maupun di akhir.

*Jangan salah memahami ibrah ayat dan kisah ini. jangan membuat skenario kemaksiatan kemudian menggunakan ayat ini sebagai senjata.

2. Yang dilakukan tidak sampai zina. kalau saja yg dilakukan smpai zina maka Rosul akan lgsung melaksanakan sesuai QS An Nisa 2. yaitu dihukum rajam.

3. Allah menurunkan QS Hud 114. Ayat ini berkaitan dg perintah menegakkan shalat.

Menegakkan shalat ini saat disampaikan pd shahabat td. Shahabat paham betul seperti dlm
QS 29:45

ﺍﺗْﻞُ ﻣَﺎ ﺃُﻭﺣِﻲَ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻭَﺃَﻗِﻢِ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓَ ۖ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓَ ﺗَﻨْﻬَﻰٰ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻔَﺤْﺸَﺎءِ ﻭَﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِ ۗ ﻭَﻟَﺬِﻛْﺮُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ۗ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻣَﺎ ﺗَﺼْﻨَﻌُﻮﻥَ

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Shahabat langsung bergetar hatinya. dan segera menunaikannya.

**TAUBATAN NASUHA itu memiliki 4 syarat :

1. Taubat karena Allah, sadar bahwa apa yg dilakukan sebelumnya melanggar ketentuan Allah. jangan bertaubat karena tidak punya lagi kesempatan melakukan maksiat.
misal : seorang koruptor bertaubat karena telah tertangkap KPK sehingga tak lagi punya kesempatan korupsi. padahal hatinya masih ingin korupsi.

2. Menyesali dan tidak mengulangi lagi.
3. Mengikutinya dg amal sholeh.
4. Selesaikan dg orang yg telah terdzolimi, sampaikan maaf.

Jangan sampai meremehkan point ke-4 ini. mengganggap dengan shalat semua selesai sedang ia masih bisa berbuat maksiat.

Misal : Pacaran. setelah sadar shalat, tetapi masih saja pacaran. kemudian berangkat ke masjid bersama. ini salah. orang yg shalatnya benar, maka semua perbuatan maksiat itu tidak akan dilakukannya lagi.
lalu apa solusinya?
Jika sudah tdk bisa menahan. Maka bersiaplah, menikahlah..
Bersiap : siap memegang amanah sebagai calon ayah dan ibu.
kesiapan calon ayah : maknawi, maisyah
kesiapan : maknawi.

Seringkali Laki2 tidak Rojul (jantan), memacari wanita tanpa berani menikahinya.
Wanita bisa saja dikatakan Rojul jika ia bisa menjaga dirinya dan tetap menjalankan semua perintah Allah.
karena perintah Nabi adalah menikahlah, jika belum siap maka berpuasalah.

AKTIFIS Harus kreatif. berpikiran ke depan. aktifis tak ada yg tidur setelah subuh. mereka bertebaran di bumi Allah untuk menebar manfaat. aktifis itu sejak kuliah sudah berfikir bagaimana mencari maisyah. seharusnya masjid tdk mencari dg meminta sumbangan tetapi dg usaha yg produktif yg dijalankan oleh para aktifis dakwah di dalamnya.

Allohu’alam bishowab

Resumed by : “SA”

Sumber : broadcast wa

Seputar Fiqh di Kala Mudik

🍃 FAQ ( _Frequently Asked Question_ ) 🍃

🏍🚙🚎🚅⛴✈🚁🚀

👉🏻 Berikut ini adalah hal yang sering ditanyakan (FAQ) masyarakat awam selama mudik.

Tanya jawab ini berfokus pada jawaban, bukan pembahasan, sehingga bentuknya ringkas dan praktis untuk yang butuh jawaban segera.

📚 Disusun oleh tim Relawan Literasi, dan sebagai narasumber adalah Al Ustadz Al-‘Aliim Farid Nukman Hasan Hafidzahullaah 📚

Semoga bermanfaat 🤗

📝 Kewajiban apa saja yang diringankan ketika dalam perjalanan?

👳🏻 Shalat bisa dijamak dan atau diqashar, puasa bisa dibatalkan diganti di hari lain, shalat bisa di kendaraan jika tidak mungkin singgah.

📝 Apa pengertian sholat jamak dan qashar?

👳🏻 Jamak adalah menggabung dua waktu shalat dalam satu waktu, yaitu zuhur dan ashar, juga maghrib dan isya. Subuh tidak ada jamak.

Qashar adalah meringkas shalat yang empat rakaat; seperti zuhur, ashar, dan isya menjadi dua rakaat. Subuh dan maghrib tidak bisa diqashar

📝 Apa perbedaan jamak dan qashar?

👳🏻 Jamak disebabkan oleh masyaqqat (kesulitan/kepayahan/kesempitan) jika dikumpulkan semua dalil maka seperti sakit, takut dengan orang kafir, kesibukan yang sangat, hujan deras, safar, sedang menuntut ilmu syar’i, bahkan nabi pernah sedang di rumah, tidak sakit, tidak hujan, beliau menjamak shalat. Tapi, ini hanya boleh dilakukan sesekali saja, sebagaimana penjelasan ulama. Saat safar, jamak boleh dilakukan sebelum berangkat.

Qashar disebabkan oleh safar saja, dan dilakukannya hanya boleh jika sudah berangkat dan sudah keluar dari daerah asal.

📝 Perjalanan sejauh apa agar diperbolehkan menjamak atau mengqashar sholat?

👳🏻 Imam Ibnul Mundzir mengatakan ada lebih 20 pendapat tentang ini. Tapi, yang paling umum dianut oleh ulama sejak masa sahabat nabi adalah jika sudah 4 Burud, yaitu sekitar 88Km.

📝 Apakah boleh menjamak/qashar sholat karena alasan macet?

👳🏻 Macet, jika menghasilkan masyaqqat (kesulitan/kepayahan/kesempitan) maka boleh jamak shalat. Ada pun qasharnya tergantung jarak yang sudah ditempuh.

📝 Mana yang lebih afdhal, menjamak/qashar sholat atau sholat seperti biasa ketika dalam perjalanan?

👳🏻 Jika syarat-syarat sudah terpenuhi maka mengambil keringanan untuk jamak dan qashar lebih utama diambil. Sebab itu adalah karunia dari Allah Ta’ala bagi umatnya.

📝 Apa hukumnya sholat duduk di atas kendaraan?

👳🏻 Boleh, jika memang tidak memungkinkan untuk turun singgah. Sebab Nabi pernah melakukan dan juga para sahabat juga pernah melakukan.

📝 Bagaimana bila terjebak macet dan tak sempat sholat berdiri, boleh sholat sambil duduk?

👳🏻 Boleh, jika memang tidak mampu berdiri, baik karena sakit, atau karena posisi yang sulit berdiri secara normal. Fattaqullaha mastatha’tum – bertaqwalah kepada Allah semampu kamu…

📝 Mana yang lebih afdhol, tetap berpuasa atau berbuka ketika dalam perjalanan?

👳🏻 Jika dia kuat melanjutkan puasa, maka lebih baik dia puasa saja. Tapi, jika dia tidak kuat atau lemah, maka lebih baik berbuka saja. Nabi pernah melakukan keduanya dalam safarnya, Beliau pernah puasa, pernah juga berbuka.

📝 Orang yang tetap berpuasa saat berpergian, misal dari Aceh ke Surabaya, dan ia sahur saat masih di Aceh, apakah berbukanya harus mengikuti waktu Aceh atau Surabaya?

👳🏻 Ikuti waktu dimana dia berada, jika saat sahur di aceh, maka ikuti waktu Aceh. Jika saat berbuka sedang di Surabaya maka ikut waktu di Surabaya, bukan di Aceh.

📝 Saat terjebak macet, bolehkah tayamum dengan debu yang ada di jok mobil?

👳🏻 Boleh, baik debu yang ada di jok, dinding, tanah, dan benda suci lain yang terdapat debu.

📝 Apakah boleh berwudhu menggunakan air mineral? Harus berapa liter?

👳🏻 Boleh, air mineral berasal dari air sungai atau pegunungan, suci dan mensucikan. Proses penyulingan atau pemurnian tidak mengubah hukum tersebut.

📝 Boleh tidak sholat sambil duduk di samping penumpang lain yang berlainan jenis kelamin?

👳🏻 Sebaiknya tidak tidak demikian, tapi jika tidak memungkinkan dan tidak sampai bersentuhan tidak apa-apa. Atau, bisa juga menjamak saja jika sidah sampai di tujuan

📝 Apakah sholat boleh di-qodho’?

👳🏻 Boleh, khususnya pada shalat-shalat wajib yang baru saja ditinggalkan. Sebab Nabi dan para sahabatnya seperti Umar r.a., pernah melakukan. Tapi qadha terjadi karena ketiduran dan lupa, bukan saat terjaga dan sengaja. Ada pun jika qadhanya adalah shalat-shalat yang sudah lama ditinggalkan bertahun-tahun, maka ulama beda pendapat. Sebagian mesti qadha, dengan mengitung semampunya jumlah shalat yang ditinggalkan lalu dia shalat sebanyak-banknya untuk itu. Ulama lain mengatakan tidak ada qadha untuk yang seperti itu, tapi banyak-banyak shalat sunnah, istighfar dan banyak taubat.

📝 Bila pakaian terkena najis dan tak sempat diganti dalam perjalanan, tetap lakukan sholat atau diqodho’ saja?

👳🏻 Bersihkan saja, kucek-kucek sampai bersih, baik dengan air atau pasir, debu, yang bisa mensucikan. Jika tidak mungkin juga bisa dijamak ta’khir saat sampai tujuan.

📝 Apakah muntah termasuk najis?

👳🏻 4 madzhab menyatakan najis, tapi mereka berbeda dalam sifat zat muntah seperti apa yang najis itu.

📝 Bolehkah buang air kecil di semak-semak saat terjebak macet?

👳🏻 Pada dasarnya tidak boleh, sebab nabi melarang keras buang hajat di jalan tempat manusia lalu lalang dan tempat manusia berteduh. Tapi, jika kondisinya seperti yang ditanyakan, maka bisa kencing di botol lalu istinja dengan tisue, kalau tidak bisa juga maka kencing di semak adalah pilihan terakhir. Kaidahnya: Idza dhaqqa ittasa’a – jika keadaan sulit dan sempit maka dilapangkan.

📝 Bagaimana cara berwudhu yang hemat air?

👳🏻 Bisa membasuh yang wajib saja, wajah, kepala, tangan sampai siku, kaki sampai mata kaki.

📝 Selama di kampung apakah sholat boleh dijamak/qashar?

👳🏻 Boleh, qashar saja, tanpa jamak. Jamak boleh lagi dilakukan jika ada masyaqqat (kesulitan) di sana. Nabi pernah qashar 20 hari di Tabuk, beberapa sahabat nabi ada yang qashar 6 bulan, 1 tahun, bahkan 2 tahun, itu dilakukan dengan syarat tidak berniat jadi penduduk tetap di situ.

📝 Apa hukum ziarah kubur?

👳🏻 Sunah, dan bisa dilakukan kapan saja

📝 Apa hukum membaca Qur’an saat ziarah kubur?

👳🏻 Khilafiyah ulama, antara yang membolehkan seperti Imam Asy Syafi’i dalam riwayat Abu Bakar Al Khalal dalam kitab Al Quraah fil Qubuur, juga Imam Ahmad bin Hambal seperti yg disebutkan oleh Imam Ibnu Qudamah dalam Syarhul Kabir, dan Imam Ibnul Qayyim dalam Ar Ruuh. Sementara ulama lain memakruhkan seperti Imam Abu Hanifah dan Imam Malik.

📝 Apa yang harus dilakukan saat ziarah kubur?

👳🏻 Ucapkan salam, membuka alas kaki jika memungkinkan, mendoakan, dan dzikrul maut, ini disepakati anjurannya. Sedangkan yang diperselisihkan seperti membaca Al Quran, menyiram air, dan meletakkan pohon di kubur.

Yang dilarang adalah meninggikan kubur melebihi sejengkal, meratap, dan meminta-minta kepada penghuni kubur.

📝 Apa hukumnya memanfaatkan jasa penukaran uang di pinggir jalan, yang mana uang yang dikembalikan ke kita jumlahnya lebih kecil daripada uang yang kita berikan?

👳🏻 Itu terlarang. Tampaknya “penukaran”, tapi itu adalah membeli uang pakai uang. Ini terlarang. Kalau pun mau dikatakan penukaran, juga terlarang. Yaitu merupakan riba nasi’ah: pertukaran barang sejenis dengan adanya nilai lebih. Ini haram juga.

📝 Bila sedang puasa sunnah (puasa syawal) dalam suasana lebaran, lalu silaturahim ke rumah saudara dan di sana di suguhi makanan, apakah harus dibatalkan puasa sunnahnya?

👳🏻 Bebas memilih, lanjutkan puasa atau batalkan. Untuk puasa sunnah, kata nabi, kita adalah rajanya. Batalkan silakan, lanjutkan juga bagus.

📝 Apakah memungkinkan mencari malam lailatul qadar bila sedang dalam perjalanan?

👳🏻 Lailatul Qadar adalah milik siapa pun yang beribadah saat itu. Baik sedang i’tikaf, safar, di rumah sakit, di rumah saja, yang penting dia ibadah saat itu. Baik shalat sunnah, tilawah, dan dzikir. Jadi, I’tikaf bukan syarat untuk mendapatkan Lailatul Qadar.

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Selamat mudik. Syariat Islam tidak untuk memberatkan kita. Tapi sebagai sarana menghamba pada Allah. Mohon maaf lahir dan batin. Taqobalallahu minna wa minkum. 🙏🙏🙏

📋 Relawan Literasi & Al Ustadz Al-‘Aliim Farid Nukman Hasan Hafidzahullaah 📋
http://www.ayolebihbaik.com

Sumber : broadcast line