Sebongkah Emas Dan Sebongkah Tanah

Sebongkah emas bertemu dengan sebongkah tanah.

.
● _Emas berkata pada tanah, “Coba lihat dirimu, suram dan lemah, apakah engkau memiliki cahaya mengkilat seperti aku…….?_

_Apakah engkau berharga seperti aku……. ?”_

.
● _Tanah menggelengkan kepala dan menjawab, “Aku bisa menumbuhkan bunga dan buah, bisa menumbuhkan rumput dan pohon, bisa menumbuhkan tanaman dan banyak yang lain, apakah kamu bisa……. ?”_
*Emas pun terdiam seribu bahasa……*

.
Dalam hidup ini banyak orang yang seperti emas, berharga, menyilaukan tetapi tidak bermanfaat bagi sesama. 

Sukses dalam karir, banyak harta kekayaan, rupawan dalam paras, tapi sukar membantu apalagi peduli. 
Tapi ada juga yang seperti tanah. Posisi biasa saja, bersahaja namun ringan tangan siap membantu kapanpun. 

.
*_Makna dari kehidupan bukan terletak pada seberapa bernilainya diri kita, tetapi seberapa besar bermanfaatnya kita bagi orang lain._*

.
*_Jika keberadaan kita dapat menjadi berkah bagi banyak orang, barulah kita benar- benar bernilai._*

.
Apalah gunanya kesuksesan bila itu tidak membawa manfaat bagi orang lain disekitar kita. 

.
Apalah arti kemakmuran bila  tidak berbagi pada yang membutuhkan. 
Apalah arti kepintaran bila tidak memberi inspirasi di sekeliling kita. 

.
Karena hidup adalah proses, ada saatnya kita memberi dan ada saatnya kita menerima. 

.
*Selalu rendah hati tetap SEMANGAT dan memberi inspirasi* 🙏🏻

.

.

.

Sumber : WAG

Advertisements

MENTARI PASTI KAN BERSINAR

Alkisah di Turki, seorang ayah menyuruh anak-anaknya ke hutan melihat sebuah pohon pir di waktu yang berbeda.

.
Anak ke 1 disuruhnya pergi pada musim DINGIN,

.

anak ke 2 pada musim SEMI,

.

anak ke 3 pada musim PANAS,

.

Anak ke 4 pada musim GUGUR.

.
Anak 1: melihat pohon pir itu tampak sangat jelek dan batangnya bengkok.

.
Anak 2: melihat pohon itu dipenuhi kuncup-kuncup hijau yg menjanjikan.

.
Anak 3: melihat pohon itu dipenuhi dg bunga2 yg menebarkan bau harum.

.
Anak 4: ia tidak setuju dg saudara2nya, ia berkata bhw pohon itu penuh dg buah yang matang dan ranum.

.
Kemudian sang ayah berkata :  _”kalian semua benar, hanya saja kalian melihat di waktu yang berbeda.”_

.
Ayahnya berpesan: 

 _“Mulai sekarang jangan pernah menilai kehidupan hanya berdasarkan SATU MASA yg sulit.”_

.
_”Ketika kamu sedang mengalami masa2 sulit, memang segalanya terlihat tidak menjanjikan, banyak kegagalan dan kekecewaan; tetapi janganlah cepat menyalahkan diri sendiri dan orang lain, atau  bahkan berkata bahwa kamu tidak mampu, bodoh dan bernasib sial…_

.

_Ingatlah, tdk ada istilah “nasib sial” bagi orang yg YAKIN !_

.
_Kerjakanlah saja apa yang menjadi bagianmu dan yakinlah semua masalah akan selesai …_

.
_Jika kamu tidak bersabar ketika berada di musim dingin, maka kamu akan kehilangan musim semi dan musim panas yg menjanjikan harapan, dan kamu tidak akan menuai hasil di musim gugur.”_

.
_“Kegelapan malam tidak seterusnya bertahan, esok pasti akan datang fajar yg mengusir kegelapan…”_

.
_Dengan KEYAKINAN, maka selalu akan ada pengharapan yg baru._

.

_Karena Mentari pasti kan bersinar…_

.
*****

Selamat menyongsong mentari pagi yang indah saudara-riku tercinta… 

:)❤💕

.

.

.

Sumber : WAG

Dingin, Karena Tidak Ada Panas

​Seorang profesor yang Atheis berbicara dalam sebuah kelas fisika.

Profesor: “Apakah Allah menciptakan segala yang ada?”

Para mahasiswa: “Betul! Dia pencipta segalanya.”

Profesor: “Jika Allah menciptakan segalanya, berarti Allah juga menciptakan kejahatan.”

(Semua terdiam dan agak kesulitan menjawab hipotesis profesor itu).

Tiba-tiba suara seorang mahasiswa memecah kesunyian.

Mahasiswa: “Prof! Saya ingin bertanya. Apakah dingin itu ada?”

Profesor: “Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada.”

Mahasiswa: “Prof! Dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin sebenarnya adalah ketiadaan panas.

Suhu -460 derajat Fahrenheit adalah ketiadaan panas sama sekali. Semua partikel menjadi diam. Tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut.

Kita menciptakan kata ‘dingin’ untuk mengungkapkan ketiadaan panas.

Selanjutnya! Apakah gelap itu ada?”

Profesor: “Tentu saja ada!”

Mahasiswa: “Anda salah lagi Prof! Gelap juga tidak ada.

Gelap adalah keadaan di mana tiada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari. Sedangkan gelap tidak bisa.

Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk mengurai cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari panjang gelombang setiap warna.

Tapi! Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur melalui berapa besar intensitas cahaya di ruangan itu.

Kata ‘gelap’ dipakai manusia untuk menggambarkan ketiadaan cahaya.

Jadi! Apakah kejahatan, kemaksiatan itu ada?”

Profesor mulai bimbang tapi menjawab juga: “Tentu saja ada.”

Mahasiswa: “Sekali lagi anda salah Prof! Kejahatan itu tidak ada. Allah tidak menciptakan kejahatan atau kemaksiatan. Seperti dingin dan gelap juga.

Kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk menggambarkan ketiadaan Allah dalam dirinya.

Kejahatan adalah hasil dari tidak hadirnya Allah dalam hati manusia.”

Profesor terpaku dan terdiam!

_Dosa terjadi karena manusia lupa menghadirkan Allah dalam hatinya.._

*Hadirkan Allah dalam hati kita setiap saat, maka akan selamatlah kita..*Itulah _*IMAN..*_

_*SESUNGGUHNYA DOSA ITU LAHIR SAAT IMAN TIDAK HADIR DALAM HATI KITA
(Group WA & Albert Einstein)

Puasa Ular dan Puasa Ulat

Assalammu’alaikum. Wr. Wb.

Izin share..

Ini ada artikel bagus…  semoga bisa jadi inspirasi… 
*BERPUASALAH SEPERTI ULAT, JANGAN SEPERTI PUASANYA ULAR*
Secara sunnatullah yang berpuasa sesungguhnya tidak hanya diwajibkan kepada orang mukmin saja. 

Beberapa jenis makhluk hidup melakukan juga berpuasa sebelum mendapatkan kualitas dan kelangsungan hidupnya. 
Banyak contoh, misalnya puasanya induk ayam yang mengeram sehingga mengubah telur menjadi makhluk baru yang berbeda bentuk yang disebut anak ayam.

Di antara sekian banyak puasa hewan yang dapat kita ambil pelajaran agar puasa kita mencapai derajat taqwa, ialah puasanya ULAR dan puasanya ULAT.
*A. PUASA ULAR*
Agar ular mampu menjaga kelangsungan hidupnya, salah satu yang harus dilakukan adalah harus mengganti kulitnya secara berkala.

Tidak serta merta ular bisa menanggalkan kulit lama. Ia harus BERPUASA tanpa makan dalam kurun waktu tertentu. Setelah PUASANYA TUNAI, kulit luar terlepas dan muncullah kulit baru.
Ibroh dari puasanya ular :
1. WAJAH ular sebelum dan sesudah puasa tetap SAMA.
2. NAMA ular sebelum dan sesudah puasa tetap sama yakni ULAR.
3. MAKANAN ular sebelum dan sesudah puasa tetap SAMA.
4. CARA BERGERAK sebelum dan sesudah puasa tetap SAMA.
5. TABIAT dan SIFAT sebelum dan sesudah puasa tetap SAMA.

*B. PUASA ULAT*
Ulat termasuk hewan paling rakus. Karena hampir sepanjang waktunya dihabiskan untuk makan. Tapi begitu sudah bosan makan, ia lakukan perubahan dengan cara berpuasa. Puasa yang benar-benar dipersiapkan untuk mengubah kualitas hidupnya. Karenanya ia asingkan diri, badannya dibungkus rapat dan tertutup dalam kokon (kepompong) sehingga tak mungkin lagi melampiaskan hawa nafsu makannya.
Setelah berminggu-minggu puasa, maka keluarlah dari kokon seekor makhluk baru yang sangat indah bernama KUPU-KUPU.
Ibroh dari puasanya ulat :
1. WAJAH ulat sesudah puasa berubah INDAH MEMPESONA
2. NAMA ulat sesudah puasa berubah menjadi KUPU-KUPU
3. MAKANAN ulat sesudah puasa berubah MENGISAP MADU
4. CARA BERGERAK ketika masih jadi ulat menjalar, setelah puasa berubah TERBANG di awang-awang.
5. TABIAT dan SIFAT berubah total. Ketika masih jadi ulat menjadi perusak alam pemakan daun. Begitu menjadi kupu-kupu menghidupkan dan membantu kelangsungan kehidupan tumbuhan dengan cara membantu PENYERBUKAN BUNGA.
*Kesimpulan :*
Puasa seharusnya mampu menghijrahkan diri kita agar semakin taqwa dan mampu menjadi  *khairunnas anfauhum linnas* (sebaik-baik manusia ialah yang dapat memberikan manfaat bagi manusia lainnya).
Selamat menunaikan shaum Romadlon yg ke2.. semoga lulus menjadi Muttaqin.
Amiin Ya Robbal A’lamiin
Sumber : WAG

KISAH SEBATANG PENSIL

Si anak lelaki memandangi neneknya yang sedang menulis surat, lalu bertanya, “Apakah Nenek sedang menulis cerita tentang kegiatan kita? Apakah cerita ini tentang aku?”
Sang nenek berhenti menulis surat dan berkata kepada cucunya, “Nenek memang sedang menulis tentang dirimu, sebenarnya, tetapi ada yang lebih penting daripada kata – kata yang sedang Nenek tulis, yakni pensil yang Nenek gunakan. Mudah – mudahan kau menjadi seperti pensil ini, kalau kau sudah dewasa nanti.”
Si anak lelaki merasa heran, diamatinya pensil itu, kelihatannya biasa saja.
“Tapi pensil itu sama saja dengan pensil – pensil lain yang pernah kulihat!”
“Itu tergantung bagaimana kau memandang segala sesuatunya. Ada lima pokok yang penting, dan kalau kau berhasil menerapkannya, kau akan senantiasa merasa damai dalam menjalani hidupmu.”
Pertama : Kau sanggup melakukan hal – hal yang besar, tetapi jangan pernah lupa bahwa ada tangan yang membimbing setiap langkahmu. Kita menyebutnya tangan Tuhan. Dia selalu membimbing kita sesuai dengan kehendak-Nya.
Kedua : Sesekali Nenek mesti berhenti menulis dan meraut pensil ini. Pensil ini akan merasa sakit sedikit, tetapi sesudahnya dia menjadi jauh lebih tajam. Begitu pula denganmu, kau harus belajar menanggung beberapa penderitaan dan kesedihan, sebab penderitaan dan kesedihan akan menjadikanmu orang yang lebih baik.
Ketiga : Pensil ini tidak keberatan kalau kita menggunakan penghapus untuk menghapus kesalahan – kesalahan yang kita buat. Ini berarti, tidak apa – apa kalau kita memperbaiki sesuatu yang pernah kita lakukan. Kita jadi tetap berada di jalan yang benar untuk menuju keadilan.
Keempat : Yang paling penting pada sebatang pensil bukanlah bagian luarnya yang dari kayu, melainkan bahan grafit di dalamnya. Jadi, perhatikan selalu apa yang sedang berlangsung di dalam dirimu.
Dan yang Kelima : Pensil ini selalu meninggalkan bekas. Begitu pula apa yang kau lakukan. Kau harus tahu bahwa segala sesuatu yang kau lakukan dalam hidupmu akan meninggalkan bekas, maka berusahalah untuk menyadari hal tersebut dalam setiap tindakanmu.
Sumber : broadcast wa

RESEP MIE REBUS

​Arafat || Channel Telegram:
Mari kita bayangkan, seandainya ada seorang pemuda yang sedang memasak mie. Pertama dia rebus mie, kemudian masukkan bumbu, lalu aduk rata. Selesai. Hasilnya lumayan enak.
Besoknya dia ingin rasa yang lebih enak. Dia rebus mie, masukkan bumbu, aduk rata, selesai. Begitu dicoba, kok sama kaya kemarin ? gak jadi lebih enak ?
Ternyata dia pantang menyerah. Berharap rasa yang lebih enak, besoknya dia coba lagi. Rebus mie, masukkan bumbu, aduk rata, selesai. Dicoba lagi, kenapa rasa mie itu gak ada bedanya ? Kenapa gak jadi lebih enak ? 
Kita semua tau jawabannya : 

“Jika kita terus melakukan cara yang sama, jangan harap mendapatkan hasil yang berbeda”.
Seharusnya orang itu menambah caranya, misalnya tambahkan telur, tambahkan bawang goreng, sosis, tumisan bawang putih, irisan cabe rawit, dll. Pasti hasilnya berbeda.
Lucunya, kita juga mirip dengan si pemuda tersebut, cuma bukan urusan mie. Melainkan dalam urusan rezeki.
“Kita terus melakukan ibadah yang sama, tetapi berharap Allah memberi rezeki yang berbeda”
Coba ingat-ingat kualitas ibadah kita sepanjang 2014 ? Lalu apa yang kita dapatkan di tahun 2015 ?
Lalu kita ulangi lagi kualitas ibadah yang sama sepanjang 2015, rezeki kita pun sama seperti tahun sebelumnya. Begitu-begitu saja
Sekarang mau kita ulangi lagi kualitas ibadah yang sama sepanjang 2016? Tebak rezeki seperti apa yang kita dapat tahun depan!
Harusnya bagaimana ? Harusnya kan tambah shalat dhuha nya, harusnya tambah tilawah hariannya, tambah shalawat nya, istighfar nya, dll. 
Insya Allah dengan merubah cara, baru kita pantas untuk menikmati perubahan rezeki.
Wassalam.

Sumber : broadcast fb

Filosofi Kopi

Dalam minuman *kopi* pada dasarnya terdiri dari 3 unsur:

1. Kopi

2. Gula

3. Rasa
Yang mana dalam *filosofi kopi* di gambarkan sbb:
Kopi = Orang tua/wali

Gula = Guru

Rasa = siswa
Kasus 1

Jika kopi terlalu pahit

Siapa yang salah?
Gula lah yg di salahkan karena terlalu sedikit hingga “rasa” kopi pahit
Kasus 2

Jika kopi terlalu manis

Siapa yg d salahkan?
Gula lagi karena terlalu banyak hingga “Rasa” kopi manis
Kasus 3

Jika takaran kopi & gula balance

Siapa yg di puji…?
Tentu semua akan berkata…

Kopi’a mantaaap
Kmn gula yg mempunyai andil

Membuat “rasa” kopi menjadi mantaaap
Itulah guru yg ketika, “rasa” (siswa) terlalu manis (menyebabkan diabet) atw terlalu pahit (bermasalah) akan dipersalahkan
Tetapi ketika “rasa” mantap atau berprestasi mk orang tualah yang akan menepuk dadanya

“Anak siapa dulu”
Mari Ikhlas seperti Gula yg larut tak terlihat tapi sangat bermakna.
– itu mungkin yang mendasari logo madrasah harus ‘ ikhlas beramal’

Belajar IKHLAS dari GULA PASIR 
Gula PASIR memberi RASA MANIS pada KOPI, tapi orang MENYEBUTnya KOPI MANIS…bukan KOPI GULA…
Gula PASIR memberi RASA MANIS pada TEH, tapi orang MENYEBUTnyaTEH MANIS…bukan TEH GULA…
Gula PASIR memberi RASA MANIS pada ES JERUK…, tapi orang MENYEBUTnya ES JERUK MANIS…bukan ES JERUK GULA
ORANG menyebut ROTI MANIS…bukan ROTI GULA…
ORANG menyebut SYRUP Pandan, Syrup APEL, Syrup JAMBU…. 

padahal BAHAN DASARnya GULA….

Tapi GULA tetap IKHLAS LARUT dalam memberi RASA MANIS…
akan tetapi apabila berhubungan dgn Penyakit, barulah GULA disebut.. PENYAKIT GULA ..!!!
BEGITUlah HIDUP….Kadang KEBAIKAN yang Kita TANAM tak pernah diSEBUT Orang….

Tapi kesalahan akan dibesar-besarkan…
IKHLASlah seperti GULA…

LARUTlah seperti GULA…
Tetap SEMANGAT memberi KEBAIKAN…!!!!

Tetap SEMANGAT menyebar KEBAIKAN..!!! 

Karena KEBAIKAN tidak UNTUK DISEBUT…

tapi untuk DIRASAkan…
Semoga bermanfaat

Salam Keindahan, berbagi dan kedamaian…😇🙏
Sumber : broadcast wa