​Mengocehlah…. Agar Jakarta Tak Seperti Granada

(1). Apa yg menyebabkan kerajaan Granada, sbg salah satu kerajaan Islam terkuat di Eropa, akhirnya runtuh?
(2). Jawaban pastinya adalah karena serangan musuh.
(3). Tapi serangan musuh tentu tidak serta merta dilakukan begitu saja. Banyak faktor yg harus diperhitungkan. Salah satunya adalah ‘timing’ yg pas.
(4). Utk mengetahui kapan ‘timing’ yg pas, raja Ferdinand dari Aragon perlu mengutus mata2.
(5). Yg dilakukan sang mata2 cukup sederhana : pantau ‘ocehan’ masyarakat Granada.
(6). Satu waktu ia melihat anak kecil menangis. Dihampirinya sang bocah dan bertanya ttg apa yg menyebabkannya menangis?
(7). “Aku menangis karena anak panahku tidak tepat sasaran”, jawab sang bocah. “Bukankah kamu bisa mencobanya lagi?”, kata sang mata2.
(8). Jawaban sang bocah cukup mengejutkan. “Jika satu anak panah saya gagal mengenai musuh, apa mungkin musuh memberi saya kesempatan utk memanahnya lagi?”
(9). Mendengar ‘ocehan’ bocah tsb, sang mata2 menyarankan raja Ferdinand utk tidak menyerang Granada saat ini. Anak kecilnya aja begitu, gimana org2 tuanya?
(10). Bbrp tahun kemudian sang mata2 kembali ke Granada dan dilihatnya seorang dewasa yg sedang menangis.
(11). “Mengapa kau menangis?” tanya si mata2. “Kekasihku meninggalkan aku”, jawab si org dewasa tsb.
(12). Maka sang mata2 merekomendasikan inilah ‘timing’ yg tepat utk melakukan penyerangan.
(13). Tidak butuh lama, Granada sbg benteng terakhir kaum muslimin di Eropa, dapat dikuasai dgn mudah.
(14). Puncak malapetaka bagi kaum muslimin Granada adalah dgn dibentuknya lembaga Inguisition (inkuisisi, pengadilan yang dibentuk oleh dewan gereja). Pilihannya hanya 2 : menerima ajaran katholik atau dibantai.
(15). Maka tamatlah riwayat kaum muslimin di Andalusia, dan Eropa secara keseluruhan.
(16). Mungkinkah tragedi Granada terulang di negeri kita? Bisa iya, bisa tidak. Tergantung apa ‘ocehan’ kita.
(17). Saya teringat sebuah ceramah dari ‘Da’i Sejuta Ummat’, (alm) KH. Zainuddin MZ. Beliau katakan: “Allah memang menjamin bahwa Islam akan terus ada di muka bumi hingga akhir zaman; namun Dia tidak menjamin bhw Islam akan terus ada di Indonesia.”
(18). Spt mata2 di Granada dulu, musuh2 Islam saat ini jg sedang memata-matai kita. Menunggu ‘timing’ yg pas.
(19). Bahkan kini mrk tak perlu repot2 terjun langsung ke lapangan utk mengetahui isi ocehan dan obrolan kita.
(20). Cukup pantau sosial media dan simak tema2 apa yg menjadi concern kaum muslimin.
(21). Utk saat ini bolehlah kita bernafas lega. Namun tetap bersiaga.
(22). Bahwa disaat MU kalah telak oleh Chelsea, kita masih ‘ngoceh’ soal penindasan saudara kita di Suriah dan Palestina.
(23). Bahwa tatkala valentino rossi terjatuh, kita masih ‘ngoceh’ ttg qur’an yg dinistakan.
(24). Bahwa ditengah dukungan terhadap adik Rachel di Voice Kids Indonesia, kita juga semangat mendukung petisi2 online yg digalang utk memenjarakan ahok.
(24). Ini tanda dan mjd pesan bagi musuh bhw ghiroh jihad itu blm luntur dari dada kaum muslimin.
(25). Apalagi kemudian terbukti bhw kita tidak sekedar besar ngoceh di sosial media, tapi juga wujud di dunia nyata.
(26). Jutaan kaum muslimin, tidak hanya di Jakarta, tapi di berbagai tempat hadir dalam aksi-aksi pembelaan terhadap kehormatan agama yg dilecehkan, dan puncaknya insya Allah pada 4 November nanti.
(27). Ini jelas membuat musuh ketar-ketir meski di back up kekuasaan sekalipun.
(28). Apalagi setelah ustadzuna, KH. Tengku Zulkarnain (wasekjen MUI) menyampaikan ‘ocehan’ nya: “Wahai Para Penjilat dan Penjual Agama! Berhenti lah Menghina Kami Umat Islam. Nanti Jika Kami Teriakkan JIHAD AKBAR, Kalian Musnah.”
(29). Maka jangan anggap remeh meski sekedar ‘mengoceh’ di dunia maya utk membela Islam. Krn bisa jadi inilah yg membuat mrk berfikir ulang utk menyerang kita. #Granada
(30). Ini ocehanku mana ocehanmu?
Ocehan karyawan yg terjepit di KRL.
I like monday
31/10/2016
-ERWIN-
Sumber : broadcast wa

SAMAHAH

Oleh: Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi

Pada tahun 1936 Samuel Zwemer memberi trik-trik metode Kristenisasi kepada para missionaries di Jerussalem. Ia berpesan “tugas kalian bukan mengkristenkan orang Islam tapi merobah cara berfikir orang Islam, agar nanti lahir generasi Muslim yang memusuhi agamanya”.  Trik itu kini berjalan dengan baik dan relatif berhasil. Trik penyebaran agama a la Zwemer itu nampak tidak memaksa tapi sejatinya menipu.

Islam tidak mengajarkan cara-cara berda’wah seperti itu. Prinsip Islam jelas “tidak ada paksaan dalam beragama ” (QS 2:256). Beragama bukan basa-basi. Artinya orang tidak boleh terpaksa atau pura-pura dalam beragama Islam. Islam hanya menunjukkan dan mengajak ke jalan yang benar dari jalan yang salah atau sesat. Ajakan itu ada tiga tingkatan dengan argumentasi yang bijak (hikmah), nasehat yang baik (mauizah hasanah) atau dengan debat yang sehat (jadal). Jika mereka menolak maka tidak perlu dan tidak boleh memaksa. Muslim bahkan tetap harus melindungi mereka, membebaskan mereka menganut agama mereka. Itulah toleransi dalam Islam.

Tema untuk makna toleransi dalam Islam adalah samahah. Tasamuh artinya bersikap mudah dan tenang, halus atau moderat alias tidak ekstrim. Orang Arab biasa membuat ungkapan asmih yusmah, permudahlah niscaya akan dipermudah. Tahanawi dalam al-Ta’rifat mengartikan tasamuh sebagai melakukan sesuatu yang tidak berlebihan. Dalam kamus Tajul Arus terdapat istilah millatun samhah atau agama yang tidak sulit. Tapi dalam kamus Arabic-English Dictionary, samaha diartikan toleran.

Dalam hadith riwayat Ibn Abi Syaybah dan Bukhari Nabi bersabda: ahabbu al-din ila Allah al-hanafiyyah al-samhah (beragama yang paling disukai Allah adalah yang lurus dan mudah). Dalam hadith lain Nabi bersabda: Ursiltu bi al-hanafiyyat al-samhah (aku diutus [Allah] dengan [sikap] lurus dan mudah).

Ajaran ini benar-benar di praktekkan dengan baik dalam aktifitas da’wah para ulama di zaman dulu. Di Andalusia dan Cordoba, misalnya kebebasan untuk para pemeluk agama selain Islam sungguh dijamin. Penduduk Kristen diberi hak memiliki pengadilan sendiri berdasarkan “hukum” Kristen. Ibadah Kristen tidak terganggu sedikitpun. Kebaktian massal masih bebas di adakan di lapangan. Semua itu tidak dinikmati Muslim dinegara Barat sekarang.

Bahkan pendirian gereja tidak perlu izin khalifah. Dalam aktifitas sehari-hari umat Kristiani bebas memilih pakaiannya. Biarawati tidak dilarang memakai jilbab atau pakaian keagamaan mereka. Bahkan para pemeluk agama Kristen mendapat hak yang sama dengan Muslim menjadi pegawai sipil mapun militer. Tidak terbayangkan Negara non-Muslim saat ini ada yang bisa setoleran itu.

Muhammad al-Makkari dalam bukunya The History of the Muhammedan Dynasties of Spain (jld.I) mencatat bahwa karena umat Kristen tidak toleransi terhadap keyakinan kaum pagan, maka mereka membenci agama itu. Merasa dihargai mereka berbondong-bondong masuk Islam. Toleransi ternyata memiliki hikmah yang dalam, dan efektifitas da’wah yang tinggi.

Akibat dari tingginya sikap toleransi ini, kaum Yahudi dan Nasrani di Spanyol merasa hidup nyaman berabad-abad lamanya. Orang tentu akan ingat akan zaman Umar bin Khattab ketika memerintah Yerussalem. Mithaq Umar adalah masa indah hubungan tiga agama yang tidak pernah dilupakan oleh Yahudi dan Nasrani yang tulus. Tentu kerukunan beragama seperti ini tidak mereka temui dalam lingkungan agama Kristen.

Anehnya, energi damai dan toleransi umat Islam di Spanyol itu telah merembes ke bidang-bidang lain. Pelajaran bahasa Arab lebih disukai ketimbang pelajaran bahasa Latin di sekolah-sekolah Kristen waktu itu. Akibatnya, banyak syair Arab yang ditulis oleh para penyair Kristen abad ke 11. Yang lebih menyolok lagi para pendeta justru lebih menguasai bahasa Arab ketimbang bahasa Latin. Maka tidak heran jika seorang penulis Spanyol berkeluh kesah:”kita sibuk mengkaji hukum-hukum Islam seperti beo dan lalai membaca Injil.”

Bukan hanya toleransi, tapi kedamaian, kesantuan, dan keterpelajaran umat Islam telah mencuri hati orang Kristen. Banyak orang Kristen yang meniru-niru gaya hidup orang Islam atau orang Arab. Tren ini kemudian disebut Mozarab. Cara berpakaian, makanan, minuman dan bahkan khitan pun diikuti oleh orang-orang Kristen. Lebih dari sekedar ke Arab-Araban banyak orang Kristen Spanyol yang lebih nyaman menjadi Muslim daripada tetap memeluk Kristen. Akhirnya lahirlah generasi Muslim dari golongan Muwallah, yakni penduduk Muslim tapi keturunan Spanyol. Mungkin ini aneh, sebab wajah bukan Arab tapi Muslim, kulit putih tapi terpelajar.

Banyak kisah tentang keindahan peradaban Islam di Spanyol yang dirindukan orang yang suka damai. Namun, toleransi yang tulus bagai susu itu dibalas dengan air toba. Ketika pasukan Ferdinand dan Isabela merebut Malaga tahun 1487 orang-orang Muwallah ini disiksa sampai mati. Pada tahun 1610, umat Islam diusir secara biadab (baca: tanpa adab) dari Spanyol. orang-orang Muawallah itu juga ikut diusir oleh tim Inquisisi.

Di antara saksi sejarah yang selamat dari pengusiran itu menulis catatatan protes:”pernahkan nenek moyang kami mengusir orang-orang Kristen dari Spanyol? Tidakkah mereka memberi kebebasan kepada kalian beribadah? Orang masuk Islam semata-mata atas keinsyafan sendiri dan tanpa suatu paksaan. Anda tidak akan pernah menemukan perlakuan umat Islam seperti yang dilakukan oleh tim Inquisisi yang menjijikkan itu.”

Karena perlakuan tidak manusiawi itu seorang Archbishop dari Valencia tahun 1602 sadar dan menulis kepada Raja Philip III “mereka (para Muwallah) tidak selayaknya dihukum seberat itu, mengingat sikap mereka yang sangat toleran dalam soal-soal keyakinan agama”.

Namun, apapun yang terjadi Islam adalah agama misi, tapi tidak memaksa. Aqidahnya meneguhkan keesaan Tuhan, dan syariatnya memuliakan kemanusiaan.

Peperangannya untuk kedamaian dan kedamaiannya untuk kemakmuran. Keindahan kehidupan sosialnya mencerminkan ketulusan persahabatan dan keluhuran nurani. Prinsip-prinsip keilmuannya mencerahkan dan implikasi amalnya menjadi rahmat bagi siapapun yang merasakan dengan lubuk hati yang paling dalam. Sungguh tepat kesimpulan Thomas Walker Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam bahwa “Islam adalah agama yang penuh toleransi, dan disiarkan dengan penuh damai”.

Sumber : broadcast wa

AKHIRNYA ISLAM RUNTUH

Hanya dengan kekuatan 200.000 tentara dan berlangsung hanya dalam  waktu 40 hari Kekhalifahan Abbasiyah yang bertahta selama 500 tahun dengan segala kebesarannya lenyap dari muka bumi.

Baghdad luluh lantak dihancurkan. 1,8 juta kaum muslimin di Baghdad disembelih dan kepalanya disusun menjadi gunung tengkorak. Tua, muda bahkan kanak-kanak. Laki-laki maupun perempuan, hingga janin di dalam kandungan semua dipenggal.

Khalifah dibantai beserta 50.000 tentara pengawalnya. Sejak pembantaian itu selama 3,5 tahun umat Islam hidup tanpa Khalifah. Tentara yang biadab memusnahkan ribuan perpustakaan yang memuat jutaan kitab-kitab, manuskrip-manuskrip sebagai khazanah peradaban di Baghdad dengan mencampakkannya ke dalam laut sehingga berwarna kehitaman. Siapa pelakunya?

Mereka yang bengis itu disebut Bani Qantura dengan ciri-ciri fisik bermuka lebar dan bermata kecil yang telah diisyaratkan kemunculannya oleh Nabi Muhammad saw. Kita mengenalnya sebagai bangsa Mongol atau Tartar yang kala itu dipimpin oleh Hulagu Khan, cucu dari Jengis Khan.

Ketika itu, seluruh negeri Islam yaitu Baghdad, Syria dan Asia Tengah sudah jatuh ke tangan tentara Mongol. Hanya tinggal tiga negeri Islam yang belum dimasuki yaitu Makkah, Madinah dan Mesir. Maka Hulagu Khan terus merangsek berupaya menaklukkan negeri yang lain.

Ambisi selanjutnya adalah menaklukan  Mesir dan mengutus delegasi Mongol ke Mamluk Mesir, dimana pemimpin saat itu adalah Sultan Syaifuddin Muzaffar al Quthuz. Delegasi ini datang dengan membawa surat dari Hulagu Khan yang isinya,

*“Dari Raja Raja Timur dan Barat, Khan Agung. Untuk Quthuz Mamluk, yang melarikan diri dari pedang kami. Anda harus berpikir tentang apa yang terjadi pada negara-negara lain dan tunduk kepada kami. Anda telah mendengar bagaimana kami telah menaklukkan kerajaan yang luas dan telah memurnikan bumi dari gangguan yang tercemar itu. Kami telah menaklukkan daerah luas, membantai semua orang. Anda tidak dapat melarikan diri dari teror tentara kami. kemana Anda lari? Jalan apa yang akan Anda gunakan untuk melarikan diri dari kami?*

*Kuda-kuda kami cepat, panah kami tajam, pedang kami seperti petir, hati kami sekeras gunung-gunung, tentara kami banyak seperti pasir. Benteng tidak akan mampu menahan kami, lengan Anda tidak dapat menghentikan laju kami. Doa-doa Anda kepada Allah tidak akan berguna untuk melawan kami. Kami tidak digerakkan oleh air mata atau disentuh oleh ratapan. Hanya orang-orang yang mohon perlindungan akan aman. Mempercepat balasan Anda sebelum perang api dinyalakan.*

*Menolak dan Anda akan menderita bencana yang paling mengerikan. Kami akan menghancurkan masjid Anda dan mengungkapkan kelemahan Tuhanmu, dan kemudian kami akan membunuh anak-anak dan orang tua Anda bersama-sama. Saat ini Andalah satu-satunya musuh yang mesti kami hadapi.”*

Isi surat tersebut jelas-jelas melecehkan kedaulatan Islam, cuma ada dua opsi, menyerah atau berperang. Syaifuddin Quthuz tidak gentar sedikitpun, malah beliau dengan berani menempeleng delegasi Mongol itu dan membunuh mereka karena tertangkap tangan melakukan tindakan spionase. Dengan segera ia menggerakkan pasukannya dan memancing Mongol untuk bertempur di Ain jalut.

Kemudian Al Quthuz segera memobilisasi tentaranya maka terbentuklah pasukan berjumlah 20. 000 orang tentara dan bergerak menuju Ain Jalut di Palestina untuk menantang tentara Mongol. Bahkan istri sang sultan ikut berjuang dan memilih jalan jihad bersama kekasihnya.

Pada malamnya Quthuz dan pasukan Islam melakukan tahajud dan memohon dari Allah demi kemenangan pasukan Islam dalam pertempuran esok hari. Malam itu adalah malam jum’at 25 Ramadhan, mereka menghabiskan malam mereka dengan tahajud dan doa serta menyerahkan diri kepada Allah. Semoga Allah menerima mereka sebagai hamba-Nya dan memberikan kemuliaan kemenangan atau syahid di medan pertempuran esok hari. Hari di mana mereka menebus semua kematian jutaan umat Islam di tangan Mongol. Hari dimana kekhalifahan Islam akan sirna selamanya jika Mongol berhasil mengalahkan mereka.

JUM’AT, 25 RAMADHAN 658 H

Sultan Quthuz berdiri gagah, ia hendak memotivasi seluruh tentara gabungan Mesir, Syam dan Turki, serta seluruh rakyat Mesir untuk bergerak menuju jihad di jalan Tuhan. Suaranya begitu lantang dan keras, membuat jiwa bergetar, dan mengalirkan air mata, kata-katanya terdengar nyaring, menyerukan jihad paling menentukan dalam sejarah.

*“Jika Mongol memiliki kuda, panah, tameng, dan manjanik. Maka kita punya yang tak terkalahkan oleh apapun, kita punya Allaaaaah,,,,,Azza wa Jalla.”*

Suara takbir bergemuruh, semangat pasukan terbakar, dan rakyat  berjanji akan bertempur bersama sultan mati-matian, hingga darah penghabisan.

Bertemulah Kedua kekuatan tersebut di Medan perang Ain jalut, Pasukan Mamluk dengan mengandalkan pasukan kavaleri sebagai kekuatan utama di pimpin oleh Jendral Baibars dengan Sultan Quthuz mengamati dari dataran tinggi sementara Pasukan Mongol dipimpin langsung oleh jendral tangan kanan dan kepercayaan Hulagu Khan, Qitbuka Noyan.

Baibars yang memiliki jumlah pasukan kaveleri yang lebih sedikit menggunakan taktik “hit and run” dalam melawan pasukan Mongol hingga terjadi pertempuran selama berjam-jam sampai pada akhirnya pasukan Mongol jatuh ketengah-tengah perangkap pasukan Mamluk.

Melihat lawannya sudah masuk kedalam perangkap, pasukan Mamluk yang bersembunyi mulai keluar dan langsung menghujani pasukan Mongol dengan panah dan meriam kecil dalam penyerangan ini.

Ketika pasukan lawannya sudah berada dalam posisi terdesak, pasukan kavaleri Mamluk lain yang juga bersembunyi serta kemudian disusul oleh Infantrinya langsung menyerbu lawannya dalam empat posisi, menutup jalan keluar bagi pasukan Mongol.

Qitbuka yang menyadari bahwa pasukannya tidak mempunyai harapan lagi untuk melawan pasukan Kaveleri utama pimpinan Baibars dan memenangkan pertempuran, serta pasukannya terpojok ditengah-tengah, segera memerintahkan keseluruhan sisa pasukan yang dimilikinya untuk memfokuskan penyerangan ke posisi sayap kiri pasukan Mamluk pimpinan Al-Mansur Mohammad yang dirasa paling lemah, untuk membuka jalan keluar bagi pasukan yang dipimpinnya. Setelah digempur secara gencar akhirnya posisi sayap kiri pasukan Mamluk menjadi goyah.

Dari dataran tinggi, Sultan Quthuz yang mengamati jalannya pertempuran, melihat posisi sayap kiri pasukannya mulai terbuka akan dijebol pasukan Mongol, seketika itu pula ia membuang topeng bajanya ke tanah hingga wajahnya dapat terlihat oleh seluruh pasukannya, Sambil mengacungkan senjata Ia menggebrak kudanya ke arah posisi sayap kiri pasukannya,dan berteriak keras-keras,

*”Demi Islam!..Demi Islam!”*

Melihat sultannya menuju ke arah mereka, seketika itu pula moral dan semangat bertempur pasukan sayap kiri Mamluk meningkat, mereka kembali meningkatkan pertahanan dan tekanan kepada pasukan Mongol, satu-persatu pasukan Mongol berjatuhan terbunuh termasuk Qitbuka.

Pasukan yang tak pernah terkalahkan akhirnya takluk oleh pejuang Islam yang pemberani dan panji-panji Islam kembali ditegakkan.

Sultan Syaifuddin Muzhaffar al Quthuz meninggal dunia hanya lima puluh hari setelah kemenangan Ain Jalut. Kekuasaannya hanya berusia 11 bulan dan 17 hari. Tidak genap satu tahun!

Berbagai peristiwa bersejarah yang agung, persiapan yang bagus, pendidikan yang tinggi, kemenangan gemilang, hasil yang luar biasa dan dampak yang besar. Ya, semua ini dicapai kurang dari satu tahun di bawah pemerintahan pemuda legendaris ini.

Lalu. Bagaimana dengan kita? Di penghujung Ramadhan ini, apakah yang telah kita persiapkan, korbankan bahkan perjuangkan untuk menegakkan keadilan dan mencegah kemungkaran di sepanjang hidup kita?

Ramadhan adalah bulan perjuangan. Mulai dari perang Badar, perang Tabuk, menggali parit untuk perang Khandaq, penaklukkan Makkah, penaklukkan Andalusia, serta banyak peperangan terjadi di bulan ini termasuk perang Ain Jalut. Maka bukan kebetulan juga jika kemerdekaan bangsa ini diproklamirkan pada hari jum’at 9 Ramadhan.

Selain bulan perjuangan,Ramadhan juga bulan kemenangan. Maka mari jadikan bulan ramadhan ini sebagai momentum revolusi. Mari kita berjuang, tentu saja bermula dari melawan hawa nafsu kita sendiri untuk menang dan merdeka baik sebagai diri, ummat dan bangsa. Karena tak ada yang tak bisa diraih jika perjuangan (Fight) dikombinasikan dengan keimanan (Faith).

Semoga cerita tersebut diatas menginspirasi kita semua, untuk terus bersiap siaga menjaga kehormatan diri, agama, bangsa dan negara.

Salam spektakuler!
Archan The Revolutionist

Sumber : broadcast wa

PARIS DAN KEBANGKITAN YANG RENDAH HATI

http://salimafillah.com/paris-dan-kebangkitan-yang-rendah-hati/

Tiada pengambilan yang tak ditagih. Tiada ketamakan yang tak dibayar.

Apa yang hari-hari ini terjadi di Eropa, barangkali tak terbayangkan oleh laksamana-laksamana penjelajah samudera, serikat dagangnya, para gubernur jenderal, dan raja-raja serta pemerintahan mereka yang sejak lima abad lalu bersimaharajalela mengangkuti berbagai hasil bumi dan sumber daya dunia timur. Semula rempah sahaja; lalu emas dan perak, kopi dan gula, vanili dan jarak, barang tambang dan minyak, bahkan manusia yang diperbudak.

Pada beberapa bangsa, kebudayaan dan sejarahnya turut terenggut; peradabannya musnah.

Mari bayangkan benua jelita yang nantinya dinamai Amerika, dengan penduduk asli yang sebelum kedatangan Columbus, Vespucci, Cortez, dan Pizzaro diperdebatkan sejarawan dengan angka mencengangkan; antara 12, atau 30, atau 50, atau bahkan 110 juta orang. Atau lihatlah Australia, dengan Aborigin yang sebelum kedatangan James Cook dan Flinders diperkirakan berada di kisaran 8 hingga 20 juta orang. Dan kini, puluhan ribu saja sisanya.

Keganasan penjajahan barat amat mengerikan.

Nusantara barangkali termasuk yang beruntung. Ia bukan 350 tahun dijajah, melainkan tiga setengah abad melawan penjajahan. Salah satu yang membuat bangsa ini bertahan tanpa dapat dibantah adalah Islam. Atas berkat rahmat Allah, abad sebelum kedatangan Magelhaens, D’ Albuquerque, dan Cornelis De Houtman adalah abad yang dipenuhi pekik gelora syahadat secara hampir merata di Nusantara. Maka sebagaimana banyak bangsa muslim lain di Afrika dan Asia, Islam telah menjadi ruh perlawanan yang tak dapat dipadamkan oleh para penindas dari Eropa.

Tapi tentu saja, penjajahan yang dirasakannya juga amat perih hingga ulu hati.

Barangkali melihat negara-negara yang tergabung dalam persemakmuran Britania hari ini, ada yang berkata, “Andai saja kita dijajah Inggris, bukan Belanda.” Tapi sesungguhnya, nestapa yang ditinggalkan negerinya Richard The Lionheart bagi kita tak banyak berbeda. Izinkan saya memberi contoh dengan bulan Juni 1812 yang kelam, ketika bombardemen artileri pasukan Inggris selama 4 hari 3 malam di bawah komando Kolonel Robert R. Gillespie menghancur-leburkan Benteng Baluwarti Yogyakarta terutama di sisi utara hingga timur serta meremuk dan membakar bagian luas dari kraton dan kota yang indah ini.

Sebakda itu, penjarahan oleh Legiun Infanteri ke-14 (Buckinghamshire) dalam bulan Juli yang bahkan melibatkan Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles, nyaris menghabiskan semua hal berharga dari Yogyakarta; emas dan perak dalam jumlah mencengangkan, pusaka-pusaka Kraton, naskah-naskah tak ternilai, aneka perhiasan, bahkan sampai kancing baju Sultan Hamengkubuwana II yang terbuat dari berlian tak luput dipreteli ketika beliau ditodong senjata di kiri, kanan, dan belakang kepala sebelum dilucuti dan dibuang ke Penang.

Daftar  itu akan sangat panjang mendereti negara-negara Eropa masa kini dengan jajahan mereka dari zaman ke zaman, bukan hanya dengan kisah perampasan tapi juga pembantaian. Inggris punya 94 negeri dan wilayah jajahan, sementara Spanyol membentangkan penzhalimannya dari ujung selatan Amerika hingga tengah dan seberang Pasifik. Belanda mengangkangi Suriname di Amerika, Nusantara di Asia, hingga Afrika Selatan; adapun Perancis, Italia, dan Jerman seakan berlomba mengeruk kekayaan Afrika dan sebagian Asia Barat.

Dan hukum kesejarahan berlaku; ke mana sumber daya mengalir dan mengendap menjadi kemakmuran, ke sanalah berduyun-duyun manusia menuju.

Hampir lima abad lamanya Eropa menumpuk sumber daya dari timur dan mengendapkannya menjadi kristal-kristal kemilau yang mencahayakan peradabannya. Dengan kelimpahan itu mereka membangun katedral menjulang, istana megah, jalan-jalan lebar, pelabuhan besar, serta tentara yang ampuh. Dengan itu pula mereka menyusun filsafat, kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi tinggi, dan berbagai nilai yang mereka jajakan dengan semangat seakan ianya puncak keadaban insan; demokrasi, liberalisme, dan sekularisasi.

Sementara itu di bentang bumi dari Maroko hingga Merauke yang terrampok, gelap kian pekat setiap harinya. Kemiskinan dan kebodohan yang diwariskan para penganiaya Eropa, ditambah kepemimpinan penindas dari bangsanya sendiri yang masih mewarisi kelaliman penjajah, pula perang saudara yang masih menjadi permainan sebagian kekuatan Barat, lengkaplah sudah alasan berjuta manusia dari berbagai bangsa itu; Aljazair, Tunisia, Libya, Mesir, Turki, Lebanon, Suriah, Somalia, Ethiopia, Nigeria, Afghanistan, Pakistan, India, dan Bangladesh, berbondong mereka hendak berbagi ruang hidup dengan bangsa-bangsa Eropa yang moyangnya pernah mencekikkan penindasan pada leluhur mereka.

Bukan. Ini bukan pembalasan. Ini hanya gemericik arus orang yang secara alami membuntuti derasnya aliran sumber daya yang menopang hidup ummat manusia sejagat. Para penduduk Eropa yang merasa asli dapat menyebutnya pengungsi, atau imigran. Tapi keberadaan mereka tak terelakkan.

Tiada pengambilan yang tak ditagih. Tiada ketamakan yang tak dibayar.

Kemudian kaum pendatang itu jumlahnya tumbuh berlipat melampaui bangsa-bangsa Barat yang sayangnya justru sedang bersorai meninggalkan lembaga pernikahan dan keluarga serta mengesahkan perkawinan sejenis.  Sebuah kekhawatiran atas peta kependudukan kian mencekam Eropa. Barangkali, beberapa dasawarsa ke depan, wajah Jerman sudah lebih banyak yang mirip Mesut Ozil dibanding Angela Merkel, wajah Perancis lebih jamak seperti Karim Benzema daripada Francois Hollande, begitu pula negara di sekitarnya.

Warga Eropa sedang diuji atas nilai-nilai yang mereka gemakan sendiri sejak Revolusi Perancis; kebebasan, persamaan, dan persaudaraan.

Akankah nilai-nilai tentang hak asasi bagi setiap insan, persamaan yang tak membedakan asal, warna kulit, dan bahasa, juga persaudaraan kemanusiaan yang melampaui batas kebangsaan menang di hadapan ego untuk mendaku “asli”, merasa “pribumi”, serta menganggap mereka yang datang sebagai gangguan, ancaman, bahkan teror?

Tentu saja, kaum muslimin sebagai bagian terbesar dari para pendatang itu juga harus menghadapi tantangan dan menjawab ujian yang lebih rumit lagi. Prof. Tariq Ramadhan mengistilahkannya sebagai bagaimana menjadi ‘Muslim Eropa’. Yakni muslim yang teguh dengan tsawabit-nya, nilai dasar yang tetap sebagai muslim dalam ‘aqidah, ibadah, dan mu’amalahnya; tapi mampu menyesuaikan yang mutaghayyirat, nilai-nilai dalam ekspresi intelektual, sosial, dan kebudayaan yang sesuai dengan lingkungan barunya di belahan bumi barat.

Bahkan dalam tuntutan agamanya, kaum muslimin sudah seharusnya bukan hanya menyesuaikan diri; melainkan datang untuk menjawab berbagai krisis yang sedang dialami oleh warga Eropa. Dan saya melihat itu, salah satunya, pada sesosok Imam muda di Newcastle, Abdul Basith yang amat ramah dengan proyek Masjid Pusat Newcastle-nya yang padat nilai dakwah dan program anak-anak muda yang didukungnya dalam IDC, Islamic Diversity Center.

Beliau dikenal masyarakat dan pemerintah Newcastle dengan inisiatif sosialnya yang dahsyat seperti kerja bakti muslimin membersihkan lingkungan dari sampah, mengeruk salju di musim dingin, mengenalkan Islam ke murid-murid sekolah, membuka Da’wah Stall di area publik, kunjungan kasih ke Panti Jompo, memerankan tokoh superhero dan mendatangi anak-anak yang dirawat di rumah sakit untuk menghibur mereka, menyelenggarakan aksi donor darah rutin, dan menggalang dana bagi para pasien kanker. Berbagai hal ini membawa IDC, yang di antara aktivisnya ada Daniel Johnson, muslim bule nan bersemangat, beberapa kali meraih penghargaan dari Mayor Councillor.

Dan kini beliau amat bersemangat membangun Masjid yang diharapkan benar-benar menjadi inspirasi peradaban. Akan ada di sana Youth Center dengan segala fasilitas olahraga serta kreativitas, taman yang hijau hingga atap masjidnya, sistem yang hemat energi, ruang-ruang belajar yang nyaman, perpustakaan lengkap, pusat konsultasi, penyediaan kebutuhan untuk para homeless, dan lain sebagainya.

Saya berbincang dengan beliau pekan ini; dan memahami sebuah hal penting. Kita tidak dapat menunggu para warga Eropa mengerti dengan sendirinya bahwa kedatangan kaum muslimin yang berbagi ruang hidup dengan mereka bukanlah ancaman. Kita harus segera menunjukkan pada mereka bahwa muslim sebagai para peneladan Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam benar-benar adalah rahmat bagi semesta alam. Maka kedatangan seorang muslim ke sebuah negeri seperti Inggris sebagaimana dialaminya, seharusnya digegas untuk menjadi keberkahan bagi siapapun di sekitarnya.

Maka Imam Abdul Basith, masjidnya, dan IDC adalah cinta yang hangat bagi kesepian yang dialami para jompo; adalah cinta yang ceria bagi anak-anak yang dirawat di Rumah Sakit; adalah cinta yang mengalir bagi mereka yang memerlukan darah sebab sukarnya menemukan donor yang layak karena tato, HIV, atau sebab lainnya; adalah cinta yang bersih bagi lingkungan yang sampah dan saljunya dia bersihkan.

Biarlah warga Eropa menginsyafi kembali bahwa nilai-nilai yang diyakininya tentang kebebasan, persamaan, dan persaudaraan; bukan hanya berarti mereka harus menerima beban dari para pengungsi muslim yang datang untuk menghindarkan diri dari nestapa di negeri mereka, melainkan juga berarti terbukanya pintu-pintu rahmat Allah bagi semesta.

Saya berdoa agar Allah kian memperbanyak dai-dai di Eropa yang sebagaimana beliau; menampakkan hakikat seorang muslim-mukmin yang aman, bukan membahayakan; ramah, bukan mengancam; dan bermanfaat, bukan membebani. Inilah kebangkitan yang rendah hati.

Nubuwwah Nabi tentang futuhnya Eropa harus kita perjuangkan untuk digenapi, barangkali bukan dengan kejumawaan tepuk dada dan sesumbar bahwa kita akan menaklukkannya dengan senjata. Betapa indahnya mereka yang menginsyafi kebenaran lalu dengan tangan-tangannya sendiri meruntuhkan berhala-berhala yang selama ini disembah dan dipujanya, untuk beralih kepada Allah dan RasulNya yang telah membentangkan rahmat dan pengampunan bagi mereka. Seperti yang terjadi pada Fathu Makkah.

“Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia berbondong-bondong memasuki agama Allah. Maka bertasbihlah memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepadaNya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima Taubat.” (QS An Nashr [110]: 1-3)

Semoga Allah mengampuni kita yang masih lemah dalam menjadi penghantar hidayah. Semoga Allah mengampuni kita yang belum dapat mengerahkan segenap sumber daya untuk dakwah. Semoga Allah mengampuni kita yang terus mencoba mengikhlaskan niat di dalam meneladani Rasulullah untuk membawa kabar gembira, memberi peringatan, menyeru ke jalanNya, dan menjadi pelita yang mencahayai.

Tantangan dakwah ke depan di Eropa masih begitu banyak. Kita berduka atas apa yang baru-baru ini terjadi di Paris, korban-korban yang terbunuh bukan atas kesalahan mereka secara langsung, beserta dampaknya bagi muslimin Eropa yang di beberapa tempat mulai dilihat dengan tatapan kebencian lagi, juga pada para da’i Eropa yang akan harus berbusa-busa menjelaskan berbagai hal. Tapi siapapun dalang keji di balik hal ini dan segala kepentingan jahat yang memanfaatkannya nanti, semoga Allah menjadikannya pintu dakwah yang kian menumpahruahkan berkah.

Ditulis di Nottingham, kota keberangkatan Pasukan Salib ke-4.

PARIS DAN KEBANGKITAN YANG RENDAH HATI

http://salimafillah.com/paris-dan-kebangkitan-yang-rendah-hati/

Tiada pengambilan yang tak ditagih. Tiada ketamakan yang tak dibayar.

Apa yang hari-hari ini terjadi di Eropa, barangkali tak terbayangkan oleh laksamana-laksamana penjelajah samudera, serikat dagangnya, para gubernur jenderal, dan raja-raja serta pemerintahan mereka yang sejak lima abad lalu bersimaharajalela mengangkuti berbagai hasil bumi dan sumber daya dunia timur. Semula rempah sahaja; lalu emas dan perak, kopi dan gula, vanili dan jarak, barang tambang dan minyak, bahkan manusia yang diperbudak.

Pada beberapa bangsa, kebudayaan dan sejarahnya turut terenggut; peradabannya musnah.

Mari bayangkan benua jelita yang nantinya dinamai Amerika, dengan penduduk asli yang sebelum kedatangan Columbus, Vespucci, Cortez, dan Pizzaro diperdebatkan sejarawan dengan angka mencengangkan; antara 12, atau 30, atau 50, atau bahkan 110 juta orang. Atau lihatlah Australia, dengan Aborigin yang sebelum kedatangan James Cook dan Flinders diperkirakan berada di kisaran 8 hingga 20 juta orang. Dan kini, puluhan ribu saja sisanya.

Keganasan penjajahan barat amat mengerikan.

Nusantara barangkali termasuk yang beruntung. Ia bukan 350 tahun dijajah, melainkan tiga setengah abad melawan penjajahan. Salah satu yang membuat bangsa ini bertahan tanpa dapat dibantah adalah Islam. Atas berkat rahmat Allah, abad sebelum kedatangan Magelhaens, D’ Albuquerque, dan Cornelis De Houtman adalah abad yang dipenuhi pekik gelora syahadat secara hampir merata di Nusantara. Maka sebagaimana banyak bangsa muslim lain di Afrika dan Asia, Islam telah menjadi ruh perlawanan yang tak dapat dipadamkan oleh para penindas dari Eropa.

Tapi tentu saja, penjajahan yang dirasakannya juga amat perih hingga ulu hati.

Barangkali melihat negara-negara yang tergabung dalam persemakmuran Britania hari ini, ada yang berkata, “Andai saja kita dijajah Inggris, bukan Belanda.” Tapi sesungguhnya, nestapa yang ditinggalkan negerinya Richard The Lionheart bagi kita tak banyak berbeda. Izinkan saya memberi contoh dengan bulan Juni 1812 yang kelam, ketika bombardemen artileri pasukan Inggris selama 4 hari 3 malam di bawah komando Kolonel Robert R. Gillespie menghancur-leburkan Benteng Baluwarti Yogyakarta terutama di sisi utara hingga timur serta meremuk dan membakar bagian luas dari kraton dan kota yang indah ini.

Sebakda itu, penjarahan oleh Legiun Infanteri ke-14 (Buckinghamshire) dalam bulan Juli yang bahkan melibatkan Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles, nyaris menghabiskan semua hal berharga dari Yogyakarta; emas dan perak dalam jumlah mencengangkan, pusaka-pusaka Kraton, naskah-naskah tak ternilai, aneka perhiasan, bahkan sampai kancing baju Sultan Hamengkubuwana II yang terbuat dari berlian tak luput dipreteli ketika beliau ditodong senjata di kiri, kanan, dan belakang kepala sebelum dilucuti dan dibuang ke Penang.

Daftar  itu akan sangat panjang mendereti negara-negara Eropa masa kini dengan jajahan mereka dari zaman ke zaman, bukan hanya dengan kisah perampasan tapi juga pembantaian. Inggris punya 94 negeri dan wilayah jajahan, sementara Spanyol membentangkan penzhalimannya dari ujung selatan Amerika hingga tengah dan seberang Pasifik. Belanda mengangkangi Suriname di Amerika, Nusantara di Asia, hingga Afrika Selatan; adapun Perancis, Italia, dan Jerman seakan berlomba mengeruk kekayaan Afrika dan sebagian Asia Barat.

Dan hukum kesejarahan berlaku; ke mana sumber daya mengalir dan mengendap menjadi kemakmuran, ke sanalah berduyun-duyun manusia menuju.

Hampir lima abad lamanya Eropa menumpuk sumber daya dari timur dan mengendapkannya menjadi kristal-kristal kemilau yang mencahayakan peradabannya. Dengan kelimpahan itu mereka membangun katedral menjulang, istana megah, jalan-jalan lebar, pelabuhan besar, serta tentara yang ampuh. Dengan itu pula mereka menyusun filsafat, kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi tinggi, dan berbagai nilai yang mereka jajakan dengan semangat seakan ianya puncak keadaban insan; demokrasi, liberalisme, dan sekularisasi.

Sementara itu di bentang bumi dari Maroko hingga Merauke yang terrampok, gelap kian pekat setiap harinya. Kemiskinan dan kebodohan yang diwariskan para penganiaya Eropa, ditambah kepemimpinan penindas dari bangsanya sendiri yang masih mewarisi kelaliman penjajah, pula perang saudara yang masih menjadi permainan sebagian kekuatan Barat, lengkaplah sudah alasan berjuta manusia dari berbagai bangsa itu; Aljazair, Tunisia, Libya, Mesir, Turki, Lebanon, Suriah, Somalia, Ethiopia, Nigeria, Afghanistan, Pakistan, India, dan Bangladesh, berbondong mereka hendak berbagi ruang hidup dengan bangsa-bangsa Eropa yang moyangnya pernah mencekikkan penindasan pada leluhur mereka.

Bukan. Ini bukan pembalasan. Ini hanya gemericik arus orang yang secara alami membuntuti derasnya aliran sumber daya yang menopang hidup ummat manusia sejagat. Para penduduk Eropa yang merasa asli dapat menyebutnya pengungsi, atau imigran. Tapi keberadaan mereka tak terelakkan.

Tiada pengambilan yang tak ditagih. Tiada ketamakan yang tak dibayar.

Kemudian kaum pendatang itu jumlahnya tumbuh berlipat melampaui bangsa-bangsa Barat yang sayangnya justru sedang bersorai meninggalkan lembaga pernikahan dan keluarga serta mengesahkan perkawinan sejenis.  Sebuah kekhawatiran atas peta kependudukan kian mencekam Eropa. Barangkali, beberapa dasawarsa ke depan, wajah Jerman sudah lebih banyak yang mirip Mesut Ozil dibanding Angela Merkel, wajah Perancis lebih jamak seperti Karim Benzema daripada Francois Hollande, begitu pula negara di sekitarnya.

Warga Eropa sedang diuji atas nilai-nilai yang mereka gemakan sendiri sejak Revolusi Perancis; kebebasan, persamaan, dan persaudaraan.

Akankah nilai-nilai tentang hak asasi bagi setiap insan, persamaan yang tak membedakan asal, warna kulit, dan bahasa, juga persaudaraan kemanusiaan yang melampaui batas kebangsaan menang di hadapan ego untuk mendaku “asli”, merasa “pribumi”, serta menganggap mereka yang datang sebagai gangguan, ancaman, bahkan teror?

Tentu saja, kaum muslimin sebagai bagian terbesar dari para pendatang itu juga harus menghadapi tantangan dan menjawab ujian yang lebih rumit lagi. Prof. Tariq Ramadhan mengistilahkannya sebagai bagaimana menjadi ‘Muslim Eropa’. Yakni muslim yang teguh dengan tsawabit-nya, nilai dasar yang tetap sebagai muslim dalam ‘aqidah, ibadah, dan mu’amalahnya; tapi mampu menyesuaikan yang mutaghayyirat, nilai-nilai dalam ekspresi intelektual, sosial, dan kebudayaan yang sesuai dengan lingkungan barunya di belahan bumi barat.

Bahkan dalam tuntutan agamanya, kaum muslimin sudah seharusnya bukan hanya menyesuaikan diri; melainkan datang untuk menjawab berbagai krisis yang sedang dialami oleh warga Eropa. Dan saya melihat itu, salah satunya, pada sesosok Imam muda di Newcastle, Abdul Basith yang amat ramah dengan proyek Masjid Pusat Newcastle-nya yang padat nilai dakwah dan program anak-anak muda yang didukungnya dalam IDC, Islamic Diversity Center.

Beliau dikenal masyarakat dan pemerintah Newcastle dengan inisiatif sosialnya yang dahsyat seperti kerja bakti muslimin membersihkan lingkungan dari sampah, mengeruk salju di musim dingin, mengenalkan Islam ke murid-murid sekolah, membuka Da’wah Stall di area publik, kunjungan kasih ke Panti Jompo, memerankan tokoh superhero dan mendatangi anak-anak yang dirawat di rumah sakit untuk menghibur mereka, menyelenggarakan aksi donor darah rutin, dan menggalang dana bagi para pasien kanker. Berbagai hal ini membawa IDC, yang di antara aktivisnya ada Daniel Johnson, muslim bule nan bersemangat, beberapa kali meraih penghargaan dari Mayor Councillor.

Dan kini beliau amat bersemangat membangun Masjid yang diharapkan benar-benar menjadi inspirasi peradaban. Akan ada di sana Youth Center dengan segala fasilitas olahraga serta kreativitas, taman yang hijau hingga atap masjidnya, sistem yang hemat energi, ruang-ruang belajar yang nyaman, perpustakaan lengkap, pusat konsultasi, penyediaan kebutuhan untuk para homeless, dan lain sebagainya.

Saya berbincang dengan beliau pekan ini; dan memahami sebuah hal penting. Kita tidak dapat menunggu para warga Eropa mengerti dengan sendirinya bahwa kedatangan kaum muslimin yang berbagi ruang hidup dengan mereka bukanlah ancaman. Kita harus segera menunjukkan pada mereka bahwa muslim sebagai para peneladan Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam benar-benar adalah rahmat bagi semesta alam. Maka kedatangan seorang muslim ke sebuah negeri seperti Inggris sebagaimana dialaminya, seharusnya digegas untuk menjadi keberkahan bagi siapapun di sekitarnya.

Maka Imam Abdul Basith, masjidnya, dan IDC adalah cinta yang hangat bagi kesepian yang dialami para jompo; adalah cinta yang ceria bagi anak-anak yang dirawat di Rumah Sakit; adalah cinta yang mengalir bagi mereka yang memerlukan darah sebab sukarnya menemukan donor yang layak karena tato, HIV, atau sebab lainnya; adalah cinta yang bersih bagi lingkungan yang sampah dan saljunya dia bersihkan.

Biarlah warga Eropa menginsyafi kembali bahwa nilai-nilai yang diyakininya tentang kebebasan, persamaan, dan persaudaraan; bukan hanya berarti mereka harus menerima beban dari para pengungsi muslim yang datang untuk menghindarkan diri dari nestapa di negeri mereka, melainkan juga berarti terbukanya pintu-pintu rahmat Allah bagi semesta.

Saya berdoa agar Allah kian memperbanyak dai-dai di Eropa yang sebagaimana beliau; menampakkan hakikat seorang muslim-mukmin yang aman, bukan membahayakan; ramah, bukan mengancam; dan bermanfaat, bukan membebani. Inilah kebangkitan yang rendah hati.

Nubuwwah Nabi tentang futuhnya Eropa harus kita perjuangkan untuk digenapi, barangkali bukan dengan kejumawaan tepuk dada dan sesumbar bahwa kita akan menaklukkannya dengan senjata. Betapa indahnya mereka yang menginsyafi kebenaran lalu dengan tangan-tangannya sendiri meruntuhkan berhala-berhala yang selama ini disembah dan dipujanya, untuk beralih kepada Allah dan RasulNya yang telah membentangkan rahmat dan pengampunan bagi mereka. Seperti yang terjadi pada Fathu Makkah.

“Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia berbondong-bondong memasuki agama Allah. Maka bertasbihlah memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepadaNya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima Taubat.” (QS An Nashr [110]: 1-3)

Semoga Allah mengampuni kita yang masih lemah dalam menjadi penghantar hidayah. Semoga Allah mengampuni kita yang belum dapat mengerahkan segenap sumber daya untuk dakwah. Semoga Allah mengampuni kita yang terus mencoba mengikhlaskan niat di dalam meneladani Rasulullah untuk membawa kabar gembira, memberi peringatan, menyeru ke jalanNya, dan menjadi pelita yang mencahayai.

Tantangan dakwah ke depan di Eropa masih begitu banyak. Kita berduka atas apa yang baru-baru ini terjadi di Paris, korban-korban yang terbunuh bukan atas kesalahan mereka secara langsung, beserta dampaknya bagi muslimin Eropa yang di beberapa tempat mulai dilihat dengan tatapan kebencian lagi, juga pada para da’i Eropa yang akan harus berbusa-busa menjelaskan berbagai hal. Tapi siapapun dalang keji di balik hal ini dan segala kepentingan jahat yang memanfaatkannya nanti, semoga Allah menjadikannya pintu dakwah yang kian menumpahruahkan berkah.

Ditulis di Nottingham, kota keberangkatan Pasukan Salib ke-4.

Boedi Oetomo (BO) VS Syarikat Islam (SI)

EDISI 20 MEI HARI KEBANGKITAN NASIONAL

Supaya kita Melek Sejarah,
Boedi Oetomo (BO) VS Syarikat Islam (SI)

1. Tujuan
SI -> bertujuan Islam Raya dan Indonesia Raya
BO -> bertujuan menggalang kerjasama guna memajukan Jawa-Madura (Anggaran Dasar BO Pasal 2).

2. Sifat
SI -> bersifat Nasional untuk seluruh bangsa Indonesia.
BO -> bersifat kesukuan yang sempit, terbatas Jawa-Madura.

3. Bahasa
SI -> berbahasa Indonesia, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Indonesia
BO -> berbahasa Belanda, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Belanda

4. Sikap terhadap Belanda
SI -> bersikap non-koperatif dan anti terhadap penjajahan kolonial Belanda.
BO -> bersifat menggalang kerjasama dengan Belanda, krn sebagian besar tokoh-tokohnya terdiri dari kaum priyayi pegawai pemerintah kolonial Belanda.

5. Sikap terhadap Agama
SI -> membela Islam dan membela/memperjuangkan keadilan
BO -> bersikap anti Islam dan anti Arab (dibenarkan oleh sejarahwan Hamid algadrie dan DR Radjiman)

6. Perjuaangan. Terhadap kemerdekaan
SI -> memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan mengantar bangsa ini melewati pintu gerbang kemerdekaan
BO -> tidak pernah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan telh membubarkan diri tahun 1935, sebab itu tidak mengantarkan bangsa ini melewati pintu gerbng kemerdekaan.

7. Korban perjuangan
SI -> anggota SI berdesak-desakan maduk penjara, ditembak mati oleh Belanda, dan banyak anggotamya dibuang ke Digul.

8. Kerakyataan
SI -> bersifat kerakyatan dan kebangsaan.
BO -> bersifat feodal dan keningratan

9. Melawan Arus
SI -> melawan arus penjajahan
BO -> menurut kemauanarus penjajah

10. Kelahiran
SI -> Syarikat Islam a.k.a Syarikat Dagang Islam lahir 16 Okt 1905, 3 tahun sblm BO.
BO -> lahir pada 20 Mei tahun 1908.

Hari Kebangkitan Nasional yg seak tahun 1948 kadung diperingati setiap tgl 20 mei, seharusnya dihapus dan diganti menjadi tgl 16 Oktober. Tidak ada alasan apapun yg masuk akal dan logis utk menolak hal ini.
Dan seyogyanyalah, di orde reformasi ini sejarah bangsa harus diluruskan. Fakta-fakta sejarah harus di kritiso dengn jernih agar anak cucu kita kelak bisa mewarisi sejarah yang benar, bukan sejarah yang berisi kebohongan dan kepalsuan. Koreksi sejarah bangsa oleh prof.mansur suryanegara, budi utomo adalah sekumpulan mahasiswa jawa yg ningrat anti nasionalis,menghina islam di media jawa hisworo , dilawan oleh cokro aminoto dg membentuk tentara kanjeng rasul, kalau sampai sekarang bangsa ini masih memperingati 20 mei sbg hari kebangkitan nasional adalah kesalahan yg harusnya segera disudahi, bagaimana lahirnya budi utomo diperingati sebagai kebangkitan nasional sedangkan dia anti nasionalisme dan menolak konggres pemuda 1928, bukti sejarah tak terbantahkan bahwa syarikat islamlah yang pertama kali membangkitkan semangat nasionalisme di konggres SI surabaya 1916, cokroaminoto guru  para pendiri bangsa

Broadcast WA

RA Kartini

RA Kartini pernah punya pengalaman tidak menyenangkan saat mempelajari Islam. Guru ngajinya memarahinya karena dia bertanya tentang arti sebuah ayat Al-Qur’an. Ketika mengikuti pengajian Kiai Soleh Darat di pendopo Kabupaten Demak yang bupatinya adalah pamannya sendiri, RA Kartini sangat tertarik dengan Kiai Soleh Darat.  Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat Al-Fatihah.

RA Kartini lantas meminta romo gurunya itu agar Al-Qur’an diterjemahkan. Karena menurutnya tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya. Pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan Al-Qur’an. Dan para ulama waktu juga mengharamkannya. Mbah Shaleh Darat menentang larangan ini. Karena permintaan Kartini itu, dan panggilan untuk berdakwah, beliau menerjemahkan Qur’an dengan ditulis dalam huruf  Arab pegon sehingga tak dicurigai penjajah.

Kitab tafsir dan terjemahan Al-Qur’an itu diberi nama Faidh al-Rahman fi Tafsir Al-Qur’an. Tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Jilid pertama yang terdiri dari 13 juz. Mulai dari surat Al-Fatihah sampai surat Ibrahim.

Kitab itu dihadiahkannya kepada RA Kartini sebagai kado pernikahannya dengan RM Joyodiningrat, Bupati Rembang. Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya.

Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan: “Selama ini al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.”

Melalui kitab itu pula Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya. Yaitu Surat Al-Baqarah ayat 257 yang mencantumkan, bahwa Allah-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minadh-Dhulumaati ilan Nuur).

Kartini terkesan dengan kalimat Minadh-Dhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya karena ia merasakan sendiri proses perubahan dirinya. 

Kisah ini sahih, dinukil dari Prof KH Musa al-Mahfudz Yogyakarta, dari Kiai Muhammad Demak, menantu sekaligus staf ahli Kiai Soleh Darat.

Dalam surat-suratnya kepada sahabat Belanda-nya, JH Abendanon, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat “Dari Gelap Kepada Cahaya” ini. Sayangnya, istilah “Dari Gelap Kepada Cahaya” yang dalam Bahasa Belanda “Door Duisternis Tot Licht” menjadi kehilangan maknanya setelah diterjemahkan Armijn Pane dengan kalimat “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Mr. Abendanon yang mengumpulkan surat-surat Kartini menjadikan kata-kata tersebut sebagai judul dari kumpulan surat Kartini.
Tentu saja ia tidak menyadari bahwa kata-kata tersebut sebenarnya dipetik dari Al-Qur’an. Kata “Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur“ dalam bahasa Arab tersebut, tidak lain, merupakan inti dari dakwah Islam yang artinya: membawa manusia dari kegelapan (jahiliyyah atau kebodohan) ke tempat yang terang benderang (petunjuk, hidayah atau kebenaran)..

Sumber : broadcast WA