TEMBANG GUNDUL-GUNDUL PACUL

🚊🎼 Tembang Jawa sudah berumur 600 thn lebih; konon diciptakan pada tahun 1400-an oleh Sunan Kalijaga, ternyata mempunyai arti filosofis yang dalam, terkait dengan KEPEMIMPINAN…

📍 GUNDUL =
👉 kehormatan tanpa mahkota..

📍 ⛏PACUL = cangkul,
👉 yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat..
      Jadi pacul adalah lambang dari kawula rendah, kebanyakan petani..

📍 GUNDUL PACUL,
👉 artinya :
      bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan
      orang yang diberi mahkota,
      tetapi dia adalah pemimpin yang mengupayakan
      kesejahteraan bagi rakyatnya..

📍 Orang Jawa mengatakan pacul adalah
      “papat kang ucul.” (4 (empat) hal itu lepas)

📍 Kemuliaan seseorang tergantung dari 4 (empat) hal,
👉 yaitu bagaimana menggunakan :
👀 mata,
👃 hidung,
👂 telinga dan
💋 mulutnya :

👉 1.
👀 Mata untuk melihat kesulitan rakyat/masyarakat/orang banyak..

👉 2.
👂 Telinga untuk mendengar nasehat..

👉 3.
👃 Hidung untuk mencium aroma kebaikan..

👉 4.
💋 Mulut untuk berkata adil.

📍 Jika 4 (empat) hal itu lepas,
👉 maka lepaslah kehormatannya..

📍 GEMBELENGAN artinya :
👉 besar kepala, sombong dan
      bermain-main dalam menggunakan kehormatannya..

📍 GUNDUL GUNDUL PACUL-CUL.
👉 Jika orang yang kepalanya sudah kehilangan 4 (empat) indera itu,
       mengakibatkan :

📍 a. GEMBELENGAN
👉   (Congkak/sombong)..

📍 b. NYUNGGI-NYUNGGI WAKUL KUL.
👉 (Menjunjung amanah rakyat/orang banyak) dengan..
       GEMBELENGAN (sombong hati)..

📍 c. WAKUL NGGLIMPANG.
👉 (Amanah/kekuasaan jatuh tak bisa dipertahankan)..

📍 d. SEGANE DADI SAK LATAR.
👉 (Berantakan sia-sia, tak bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat)..

🚊🎼 Ternyata lagu yang bernada lucu dan gembira ini bermakna dalam dan mulia…👍🙏

Sumber : broadcast wa

Advertisements

SLOW DOWN MUMMY

Poem By R. Night

Slow down mummy, there is no need to rush
Slow down mummy, what is all the fuss
Slow down mummy, make yourself a cup of tea
Slow down mummy, come spend some time with me

Slow down mummy, let’s pull boots on for a walk
Let’s kick a piles of leaves, and smile and laugh and talk
Slow down mommy, you look ever so tired
Come sit snuggle under the duvet, and rest with me a while

Slow down mummy, those dirty dishes can wait
Slow down mummy, let’s have some fun-bake a cake!
Slow down mummy, i know you work a lot,
But sometimes mummy it’s nice when you just stop

Sit with me a minute,
And listen to our day,
Spend a cherished moment,
Because our childhood won’t stay

Sumber : broadcast wa

KAU INI BAGAIMANA ATAU AKU HARUS BAGAI MANA

Kau ini bagaimana?
Kau bilang Aku merdeka,
Kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh Aku berpikir,
Aku berpikir
Kau tuduh Aku kapir

Aku harus bagaimana?
Kau bilang bergeraklah,
Aku bergerak Kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah,
Aku diam saja Kau waspadai

Kau ini bagaimana?
Kau suruh Aku pegang prinsip,
Aku memegang prinsip
Kau tuduh Aku kaku
Kau suruh Aku toleran
Kau bilang Aku plin-plan

Aku harus bagaimana?
Aku Kau suruh maju,
Aku maju Kau srimpung kakiku
Kau suruh Aku bekerja,
Aku bekerja Kau ganggu Aku

Kau ini bagaimana?
Aku kau suruh menghormati hukum,
kebijaksanaanmu menyepelekannya
Aku Kau suruh berdisiplin,
Kau menyontohkan yang lain

Aku harus bagaimana?
Kau bilang Tuhan sangat dekat,
Kau sendiri memanggilnya dengan pengeras suara tiap saat
Kau bilang Kau suka damai,
Kau ajak Aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana?
Aku Kau suruh membangun,
Aku membangun
Kau merusaknya
Aku Kau suruh menabung,
Aku menabung
Kaumenghabiskannya

Kau ini bagaimana?
Kau suruh Aku menggarap sawah,
sawahku Kau tanami rumah-rumah
Kau bilang Aku harus punya rumah,
Aku punya rumah
Kau meratakannya dengan tanah

Kau ini bagaimana?
Aku Kau larang berjudi,
permainan spekulasimu menjadi-jadi
Aku Kau suruh bertanggung jawab,
Kau sendiri terus berucap Wallahu a’lam bissawab

Kau ini bagaimana?
Kau suruh Aku jujur,
Aku jujur Kau tipu Aku
Kau suruh Aku sabar,
Aku sabar Kau injak tengkukku

Aku harus bagaimana?
Aku Kau suruh memliihmu sebagai wakilmu,
sudah kupilih Kau bertindak semaumu
Kau bilang Kau selalu memikirkanku,
Aku sapa saja Kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana?
Kau bilang bicaralah,
Aku bicara Kau bilang Aku ceriwis
Kau bilang jangan banyak bicara,
Aku bungkam
Kau tuduh Aku apatis

Aku harus bagaimana?
Kau bilang kritiklah,
Aku kritik Kau marah
Kau bilang cari alternatifnya,
Aku kasih alternatif
Kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana?
Aku bilang terserah Kau,
Kau tidak mau
Aku bilang terserah kita,
Kau tak suka
Aku bilang terserah Aku,
Kau memakiku

Kau ini bagaimana?
Aku harus bagaimana?

(K.H.A. Mustofa Bisri, 1987)

Allah…

Oleh: Salim. A. Fillah

Allah, jadikan ikhlasku bagai susu. Tak campur kotoran, tak disusup darah. Murni, bergizi, menguati. Langit ridha, bumi terilhami.

Allah, jadikan dosa mendekatkanku padaMu dengan taubat nashuha. Jadikan ibadah tak menjauhkanku dariMu gara-gara membangga.

Allah, untuk tanah nan gersang; jadikan aku embun pada paginya, awan teduh bagi siangnya, dan rembulan menghias malamnya.

Allah, jika aku harus berteman khawatir, jadikan ia dzikirku mengingatMu.

Allah, jika aku harus berteman rasa takut, jadikan ia penghalang dari mendurhakaiMu.

Allah, jika aku harus berkawan gelisah, jadikan ia titik mula amal-amal shalih menjemput keajaiban menenangkan.

Allah, jadikan semua gejolak di dalam hatiku mengantarku mendekat pada ridha dan surgaMu.

Allah, luruskanlah lisanku dalam kebenaran, indahkan tuturku dengan kesantunan, jadikan yang mendengar terbimbingkan.

Allah, ilhamkan kebajikan di tiap huruf yang terucap, lahirkan amal tuk setiap kata yang terbicara, alirkan pahala tiada putusnya.

Allah, jangan henti rindu pada NabiMu menyala syahdu, agar akhlaq teladannya merembesi tingkahku.

Allah, jangan henti gelegak neraka menyergap menggiriskan, di tiap hasrat nista dan goda kemaksiatan.

Allah, jangan henti bayang surgaMu melekati mata, di tiap niat dan kesempatan amal shalih nan terbuka.

Allah, jangan henti keesaanMu terteguh di jiwaku, sebab kuasa dan rizqiMu juga tak sedetikpun berpisah dariku.

Allah, jangan henti bimbingMu menuntunku, selama jantung berdenyut selalu, semasih Kau hembuskan nafas dalam paru.

Allah, jangan henti kasihMu mengguyuriku, hingga santun budiku menebar rasa sayang, bahkan membalik penentang jadi pejuang.

Allah, jangan henti keagunganMu tertaut dalam nyali, hingga kuhadapi segala yang aniaya dengan gagah dan berani.

Uup hasrat baik jadi akhlaq terlaku.

Allah, jangan henti penjagaanMu mengarus dalam darahku, hingga syaithan tak beroleh tempat dalam alirannya menderu.

Allah, jangan henti rasa malu padaMu menyumsum di tulangku, mengurat di ototku; hingga semua gerak dalam ridhaMu.

Allah, jangan henti keindahanMu mengilhamkan senyum dan cerah di wajahku, agar pergaulanku semanis madu.

Allah, jangan henti kebenaranMu tertambat di akal dan lisanku, terpancar dalam sikap, terjuang di tiap kalimat.

Allah, jangan henti namaMu menyapa hati dan jiwa, dengan gigil takut, gerisik harap, dan getar cinta.

Aamiin

Sumber : broadcast wa

Da’wah adalah Cinta…

Alm KH. Rahmat Abdullah : Da’wah adalah Cinta…

Memang seperti itu dakwah…
Dakwah adalah cinta…
Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu…
Sampai pikiranmu…
Sampai perhatianmu…
Berjalan, duduk, dan tidurmu…
Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah…
Tentang umat yg kau cintai…

Lagi-lagi memang seperti itu…
Dakwah…
Menyedot saripati energimu…
Sampai tulang belulangmu…
Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu…
Tubuh yg luluh lantak diseret-seret…
Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari…

Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah…
Beliau memang akan tua juga…
Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah…

Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz…
Dia memimpin hanya sebentar…
Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung…
Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah…
Tubuh mulia itu terkoyak-koyak…
Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja…
Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok…
Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah, kemudian meninggal…
Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang…

Dan di etalase akhirat kelak…
Mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik…
Kepalanya sampai botak…
Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana…
Kurang heroik?
Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat…

Dakwah bukannya tidak melelahkan…
Bukannya tidak membosankan…
Dakwah bukannya tidak menyakitkan…
Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan…
Tidak…
Justru kelelahan…
Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya…
Setiap hari…
Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”…
Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani…
Justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi…
Akhirnya menjadi adaptasi…

Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur…
Pada akhirnya salah satunya harus mengalah…
Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman…
Lalu terus berkobar dalam dada…
Begitu pula rasa sakit…
Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka…
Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda…
Dibandingkan jihad yang begitu cantik…

Begitupun Umar…
Saat Rasulullah wafat, ia histeris…
Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk…
Bukannya tidak cinta pada Abu Bakar…
Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi
kewajaran…
Dan menjadi semacam tonik bagi iman…
Karena itu kamu tahu…
Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore…
Yg takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu… Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah…
Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya
besar…

Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan…
Sekalinya hal itu mereka rasakan…
Mereka merasa menjadi orang besar…
Dan mereka justru jadi lelucon dan target do’a para mujahid sejati, “Ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang…”

Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak…
Jasadnya dikoyak beban dakwah…
Tapi iman di hatinya memancarkan cinta…
Mengajak kita untuk terus berlari…

Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu…
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu…
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu…
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu…
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu…

Kalau iman dan syetan terus bertempur. Pada akhirnya salah satunya harus mengalah…

(Mengenangmu wahai Sang Murabbi, siapakah sosok sepertimu sekarang ini…??)

The Flower

Without being shakened up,
Where is the flower that blooms?

In this world, even the beautiful flower blooms because it got shaken up.
While it is shakened up, the stem becomes straightened.
Without being shaken up, where is the love that is possible?
A flower without getting rained on, where is it?

In this world, even the most beautiful flower, has been rained on, and rained on and bloomed.
Getting wet from the rain and wind, the flower blooms warmly.
A life without getting rained on, where is it?

~School 2013

Pantun Zaman Batu

Pantun Zaman Batu
Oleh: Taufiq Ismail.

Inilah pantun-pantun zaman batu,
Pantun untuk mereka yang berkepala batu.
Lihatlah siluman dan preman bersatu,
Mencuri anggaran dengan bersekutu.

Semua mabuk batu akik batu bacan
Yang bawa senapan matanya mendelik cari sasaran.
Hati-hatilah wahai kalian para cendekiawan.
Hanya karena berpikir waras bisa dikriminalkan.

Tawuran, biasanya hujannya hujan batu
Tawaran, biasanya uangnya uang dolar
Jika akhirnya polisi dan koruptor bersatu
Harus dilawan biarpun pangkatnya Jenderal.

Hujan emas di negeri orang
Panen rejeki hatinya girang.
Presiden bilang kriminalisasi dilarang,
Tapi bawahannya tetap membangkang.

Hujan akik di negeri sendiri,
Hidup tercekik sudah menjadi ciri.
Presiden mimpi jadi bangsa mandiri,
Eh, import komoditi tetap jadi mainan menteri.

Hakim jujur bisa kehilangan palu,
Hakim lucu dengkulnya berotak batu.
Jika koruptor ketawa-ketiwi tak lagi punya malu,
Alumni perguruan tinggi harus mengganyang dan bersatu.
(Taufik Ismail)