Mempermudah Curang

Terpampang mencolok di Pintu Gerbang salah satu Universitas di Afrika Selatan tulisan: 
*”Untuk menghancurkan sebuah Bangsa, tidak perlu dengan bom,  roket, dan senjata berat, tapi cukup dengan MEMPERMUDAH MURID  CURANG DALAM UJIAN dan LONGGAR DALAM DISIPLIN  BELAJAR”*
Maka;
Manusia akan banyak yang mati di tangan para Dokter yang lulus karena curang.- 
Rumah dan gedung akan banyak yang ambruk di tangan para Arsitek yang lulus karena curang- 
Perusahaan akan banyak yang bangkrut di tangan para Manajer & Akuntan yang lulus karena curang.- 
Agama akan menjadi jualan murahan di dalam ceramah dan pidato para Tokoh Agama yang lulus karena curang.- 
Keadilan akan hilang di tangan Hakim yang lulus karena curang- 
Kebodohan dan kekasaran akan menjadi karakter anak bangsa yang lulus dari tangan para Guru dan Pendidik yang lulus karena curang…
Tatanan berbangsa akan rusak berat karena di tangan Anggota Legislatif yg lulus karena curang…

*KEMUNDURAN DUNIA PENDIDIKAN DALAM ARTI YANG SEBENARNYA ADALAH AWAL KEHANCURAN SEBUAH BANGSA.*

(Sebuah Renungan bagi kita semua dan Pendidik).

Advertisements

​Animals Schooling

Di sebuah Hutan belantara berdirilah sebuah sekolah para binatang. Statusnya “disamakan” dengan sekolah manusia. Kurikulum sekolah tersebut mewajibkan setiap siswa lulus semua pelajaran dan mendapatkan ijazah. Terdapat 5 mata pelajaran dlm sekolah tsb.

a. Terbang

b. Berenang

C. Memanjat

d. Berlari 

E. Menyelam
Banyak siswa yang bersekolah di “animals schooling”, ada elang, tupai, bebek, rusa dan katak.
Terlihat diawal masuk sekolah, masing2 siswa memiiki keunggulan pada mata pelajaran tertentu.
Elang, sangat unggul dalam terbang. Dia memiliki kemampuan yg berada diatas kemampuan binatang lain.
Demikian juga katak, sangat mahir pd pelajaran menyelam.
Namun, beberapa waktu kemudian krn “animals schooling” mewajibkan semua harus lulus 5 Mapel.
Maka mulailah si Elang belajar memanjat dan berlari.
Tupai pun berkali-kali jatuh dari dahan yg tinggi krn belajar terbang.
Bebek seringkali ditertawakan meski sdh bisa berlari dan sedikit terbang. Namun sdh mulai tampak putus asa ketika mengikuti pelajaran memanjat.
Semua siswa berusaha dg susah payah namun belum jg menunjukkan hasil yg lebih baik. 
Tidak ada siswa yg menguasai 5 mapel tsb dengan sempurna.
Kini, kelamaan.

Tupai sudah mulai lupa cara memanjat, bebek sudah tidak dapat berenang dg baik krn sebelah kakinya patah dan sirip kakinya robek, krn terlalu sering belajar memanjat.
Kondisi inilah yang saat ini terjadi mirip dengan kondisi pendidikan kita. 

Orangtua berharap anaknya serba bisa. 

Sangat stress ketika matematikanya dapat nilai 5.
Les A, Kursus B, Les C, kursus D, private E dsb dan berjibun kegiatan lain tanpa memperhatikan dan fokus dipotensi anaknya masing masing.
Mari kita syukuri karunia  luar biasa yg sdh Alloh amanahkan kpd kita para orangtua yg memiliki anak2 yg sehat dan Lucu.
Setiap anak memiliki belahan otak dominannya masing2,
Ada yg dominan di Limbik kiri, neokortek kiri, limbik kanan, neokortek kanan, juga batang otak.
Sehingga masing2 memiliki kelebihannya masing2…
Fokuslah dengan kelebihan itu, kawal, stimulasi dan senantiasa fasilitasi agar terus berkembang.
Janganlah kita disibukkan dengan kekurangannya.
Karena sesungguhnya setiap anak yg terlahir didunia ini adalah cerdas (dikelebihannya msg2), istimewa dan mereka adalah Bintang yang bersninar diantara kegelapan Malam.
Inilah saatnya kita bergandeng tangan  menggali potensi diri anak & anak didik kita seoptimal mungkin.
Selamat berjuang mengetuk pintu langit di sepertiga malam Ayah & Bunda. Semoga Allah mudahkan segala urusan kita mengiringi kesuksesan ananda kelak di dunia & di akhirat…
Sumber : broadcast wa

​Jika Anak Sekolah Terlalu Dini

(Elly Risman, S. Psi)

1. Keyakinan umum…

* Otak anak usia dini seperti spons, artinya ini masa yg tepat untuk ditanamkan ilmu, agar anak tumbuh cerdas

* Semakin dini disekolahkan, otak anak semakin berkembang.
2. Sehingga…

Ada ortu yg menyekolahkan sedini mungkin, bahkan ada yg masuk prasekolah diusia 1,5-2 tahun.
3. Mari kita bercermin…

* Apakah kita begitu meyakini bahwa anak harus segera pintar agar siap menghadapi persaingan zaman?

* Apakah kita disiapkan mjd orang tua?

* Apakah memiliki bekal yang cukup dlm mengasuh?

* Bagaimana innerchild diri kita?
4. Betapa kita disiapkan untuk menjadi ahli namun tdk disiapkan jadi orangtua, shg tidak punya kesabaran & endurance utk jadi ortu.
5. Ilmu yg kita miliki untuk mengasuh pun serba tanggung. 

Ilmu yg setengah-tengah, berujung pada false belief (keyakinan yg salah). 

Sayangnya false belief ini dpt berubah menjadi societal false belief (keyakinan yg salah pd sekelompok orang).

Jika ortu tdk memiliki kemampuan berpikir (thinking skill) yg baik, false belief akibat ilmu yg serba tanggung itu jd pembenaran bersama atas keputusan kita yg keliru.
6. Pintar ada waktunya!

Karena yg berkembang adalah pusat perasaan, anak usia dini hrs jadi anak yg bahagia, bukan jd anak yg pintar!
7. Kita berpikir…

“Kan di sekolah belajarnya sambil bermain”

“Kan anak perlu belajar sosialisasi”

“Kan anak jd belajar berbagi & bermain bersama”

Padahal…

* Anak usia dini belum perlu belajar sosialisasi dg beragam orang

* Saat anak diusia dini, otak anak yg paling pesat berkembang adl pusat perasaannya, bukan pusat berpikirnya. 
8. Di sekolah, kegiatan anak hanya bermain kok!

Taukah ayah bunda, permainan terbaik adalah tubuh ayah ibunya! Bermain dg ayah ibu jga menciptakan kelekatan. Misal: bermain peran, bermain pura-pura, muka jelek, petak umpet.
9. Di sekolah, mainan lebih lengkap.

Permainan paling kreatif adalah bermain tanpa mainan. Jangan batasi kreatifitas anak dg permainan yg siap pakai. 

Contoh: karpet jadi mobil, panci jadi topi.
10. Di sekolah, anak belajar bersosialisasi & berbagi. 

Anak <5 th blm saatnya belajar sosialisasi. Ia blm bisa bermain bersama. Mereka baru bisa bermain bersama-sama.

Bermain bersama-sama= bermain diwaktu & tempat yg sama namun tdk berbagi mainan yg sama (menggunakan mainan masing2)

Bermain bersama= bermain permainan yg membutuhkan berbagi mainan yg sama.
11. Di sekolah, anak belajar patuh pada aturan & mengikuti instruksi.

Aturan & instruksi perlu diterapkan setahap demi setahap. Jika di rumah ada aturan, di sekolah ada aturan, berapa banyak aturan yg harus anak ikuti? Apa yg dirasakan anak?

Analogi: Seorang anak <5 thn yg sangat berbakat dlm memasak, dimasukkan ke sekolah memasak. Di sekolah itu, dia diajari berbagai aturan memasak yg banyak, dilatih oleh beberapa instruktur sekaligus. Yg dirasakan anak: pusing!
12. Memasukkan sekolah anak terlalu dini, sama seperti menyemai benih kanker.

Kita tidak tahu kapan kanker akan muncul & dlm jenis apa.

Otaknya belum siap. Kita tidak pernah tahu kapan ia kehilangan motivasi belajar.

Semakin muda kita sekolahkan anak, semakin cepat pula ia mengalami BLAST (Bored Lonely Afraid-Angry Stress Tired).

anak yg mengalami BLAST, lebih rentan mjd pelaku & korban bullying, pornografi & kejahatan seksual.
13. Jika si adik ingin ikut kakaknya sekolah…

Sekolah itu bukan karena ikut-ikutan. Anak harus masuk masa teachable moment, krn memang ada anak yg mampu sekolah lebih cepat dr ketentuan umum yg berlaku. Ortu harus mampu mengendalikan keinginan anak. Kendali ada ditangan ortu, krn otak anak belum sempurna bersambungan.
14. Ciri anak memasuki masa teachable moment.

* Menunjukkan minat utk sekolah

* Minat tersebut bersifat menetap

* Jika kita beri kesempatan untuk bersekolah, ia menunjukkan kemampuannya.
15. Kapan sebaiknya anak masuk sekolah?

* TK A → usia 5 th

* TK B → usia 6 th

* SD → usia 7 th

Dibawah usia 5 th, anak tdk perlu bersekolah.
Kebutuhan anak 0-8 tahun adalah bermain & terbentuknya kelekatan.

Jangan kau cabut anak2 dari dunianya terlalu cepat, krn kau akan mendapatkan orang dewasa yg kekanakan. -Prof. Neil Postman, The Disappearance Childhood-
Sumber: Yayasan Kita & Buah Hati
Sumber : broadcast wa

Filosofi Kopi

Dalam minuman *kopi* pada dasarnya terdiri dari 3 unsur:

1. Kopi

2. Gula

3. Rasa
Yang mana dalam *filosofi kopi* di gambarkan sbb:
Kopi = Orang tua/wali

Gula = Guru

Rasa = siswa
Kasus 1

Jika kopi terlalu pahit

Siapa yang salah?
Gula lah yg di salahkan karena terlalu sedikit hingga “rasa” kopi pahit
Kasus 2

Jika kopi terlalu manis

Siapa yg d salahkan?
Gula lagi karena terlalu banyak hingga “Rasa” kopi manis
Kasus 3

Jika takaran kopi & gula balance

Siapa yg di puji…?
Tentu semua akan berkata…

Kopi’a mantaaap
Kmn gula yg mempunyai andil

Membuat “rasa” kopi menjadi mantaaap
Itulah guru yg ketika, “rasa” (siswa) terlalu manis (menyebabkan diabet) atw terlalu pahit (bermasalah) akan dipersalahkan
Tetapi ketika “rasa” mantap atau berprestasi mk orang tualah yang akan menepuk dadanya

“Anak siapa dulu”
Mari Ikhlas seperti Gula yg larut tak terlihat tapi sangat bermakna.
– itu mungkin yang mendasari logo madrasah harus ‘ ikhlas beramal’

Belajar IKHLAS dari GULA PASIR 
Gula PASIR memberi RASA MANIS pada KOPI, tapi orang MENYEBUTnya KOPI MANIS…bukan KOPI GULA…
Gula PASIR memberi RASA MANIS pada TEH, tapi orang MENYEBUTnyaTEH MANIS…bukan TEH GULA…
Gula PASIR memberi RASA MANIS pada ES JERUK…, tapi orang MENYEBUTnya ES JERUK MANIS…bukan ES JERUK GULA
ORANG menyebut ROTI MANIS…bukan ROTI GULA…
ORANG menyebut SYRUP Pandan, Syrup APEL, Syrup JAMBU…. 

padahal BAHAN DASARnya GULA….

Tapi GULA tetap IKHLAS LARUT dalam memberi RASA MANIS…
akan tetapi apabila berhubungan dgn Penyakit, barulah GULA disebut.. PENYAKIT GULA ..!!!
BEGITUlah HIDUP….Kadang KEBAIKAN yang Kita TANAM tak pernah diSEBUT Orang….

Tapi kesalahan akan dibesar-besarkan…
IKHLASlah seperti GULA…

LARUTlah seperti GULA…
Tetap SEMANGAT memberi KEBAIKAN…!!!!

Tetap SEMANGAT menyebar KEBAIKAN..!!! 

Karena KEBAIKAN tidak UNTUK DISEBUT…

tapi untuk DIRASAkan…
Semoga bermanfaat

Salam Keindahan, berbagi dan kedamaian…😇🙏
Sumber : broadcast wa

Tidak Ada Orang yang Tidak Memiliki Kompetensi

​CERPEN SIANG;

Dari kisah nyata seorang guru.

==========================🙏👍😭
Di suatu sekolah dasar, ada seorang guru yang selalu tulus mengajar dan selalu berusaha dengan  sungguh-sungguh membuat suasana kelas yang baik untuk murid-muridnya.
Ketika guru itu menjadi wali kelas 5, seorang anak–salah satu murid di kelasnya– selalu berpakaian kotor dan acak-acakan. Anak ini malas, sering terlambat dan selalu mengantuk di kelas. Ketika semua murid yang lain mengacungkan tangan untuk menjawab kuis atau mengeluarkan pendapat, anak ini tak pernah sekalipun mengacungkan tangannya.
Guru itu mencoba berusaha, tapi ternyata tak pernah bisa menyukai anak ini. Dan entah sejak kapan, guru itu pun menjadi benci dan antipati terhadap anak ini. Di raport tengah semester, guru itu pun menulis apa adanya mengenai keburukan anak ini.
Suatu hari, tanpa disengaja, guru itu melihat catatan raport anak ini pada saat kelas 1. Di sana tertulis: “Ceria, menyukai teman-temannya, ramah, bisa mengikuti pelajaran dengan baik, masa depannya penuh harapan,”
“..Ini pasti salah, ini pasti catatan raport anak lain….,” pikir guru itu sambil melanjutkan melihat catatan berikutnya raport anak ini.
Di catatan raport kelas 2r tertulis, “Kadang-kadang terlambat karena harus merawat ibunya yang sakit-sakitan,”
Di kelas 3 semester awal, “Sakit ibunya nampaknya semakin parah, mungkin terlalu letih merawat, jadi sering mengantuk di kelas,”
Di kelas 3 semester akhir, “Ibunya meninggal, anak ini sangat sedih terpukul dan kehilangan harapan,”
Di catatan raport kelas 4 tertulis, “Ayahnya seperti kehilangan semangat hidup, kadang-kadang melakukan tindakan kekerasan kepada anak ini,”
Terhentak guru itu oleh rasa pilu yang tiba-tiba menyesakkan dada. Dan tanpa disadari diapun meneteskan air mata, dia mencap memberi label anak ini sebagai pemalas, padahal si anak tengah berjuang bertahan dari nestapa yang begitu dalam…

Terbukalah mata dan hati guru itu. Selesai jam sekolah, guru itu menyapa si anak:

“Bu guru kerja sampai sore di sekolah, bagaimana kalau kamu juga belajar mengejar ketinggalan, kalau ada yang gak ngerti nanti Ibu ajarin,”
Untuk pertama kalinya si anak memberikan senyum di wajahnya.
Sejak saat itu, si anak belajar dengan sungguh-sungguh, prepare dan review dia lakukan di bangkunya di kelasnya.
Guru itu merasakan kebahagian yang tak terkira ketika si anak untuk pertama kalinya mengacungkan tanganya di kelas. Kepercayaan diri si anak kini mulai tumbuh lagi.
Di Kelas 6, guru itu tidak menjadi wali kelas si anak.
Ketika kelulusan tiba, guru itu mendapat selembar kartu dari si anak, di sana tertulis. “Bu guru baik sekali seperti Bunda, Bu guru adalah guru terbaik yang pernah aku temui.”
Enam tahun kemudian, kembali guru itu mendapat sebuah kartu pos dari si anak. Di sana tertulis, “Besok hari kelulusan SMA, Saya sangat bahagia mendapat wali kelas seperti Bu Guru waktu kelas 5 SD. Karena Bu Guru lah, saya bisa kembali belajar dan bersyukur saya mendapat beasiswa sekarang untuk melanjutkan sekolah ke kedokteran.”
Sepuluh tahun berlalu, kembali guru itu mendapatkan sebuah kartu. Di sana tertulis, “Saya menjadi dokter yang mengerti rasa syukur dan mengerti rasa sakit. Saya mengerti rasa syukur karena bertemu dengan Ibu guru dan saya mengerti rasa sakit karena saya pernah dipukul ayah,”
Kartu pos itu diakhiri dengan kalimat, “Saya selalu ingat Ibu guru saya waktu kelas 5. Bu guru seperti dikirim Tuhan untuk menyelamatkan saya ketika saya sedang jatuh waktu itu. Saya sekarang sudah dewasa dan bersyukur bisa sampai menjadi seorang dokter. Tetapi guru terbaik saya adalah guru wali kelas ketika saya kelas 5 SD.”
Setahun kemudian, kartu pos yang datang adalah surat undangan, di sana tertulis satu baris,
“Mohon duduk di kursi Bunda di pernikahan saya,”
Guru pun tak kuasa menahan tangis haru dan bahagia.
Kalau hati bapak ibu guru bergetar membaca cerita ini,boleh bapak ibu guru share ke semua orang terutama kepada guru/pendidik….
karena keikhlasan mampu menggetarkan dunia……
Semoga manfaat..
Sumber : broadcast wa

ANEH Tapi NYATA

Penyebutan : Angka 1 sampai 9 dgn huruf bahasa Indonesia (satu s/d sembilan) mengandung decak kagum.

Jika kita menjumlahkan dua angka yg huruf awalnya sama, maka hasilnya selalu  10.

Angka Berawalan S —►
Satu + Sembilan = 10
Angka yg hurufnya Berawalan D —►
Dua + Delapan = 10
Berawalan T —►
Tiga + Tujuh = 10
Berawalan E —►
Empat + Enam = 10
Bahkan —► Lima + Lima = 10
Kok bisa begitu ya….
😎😜🍼🍼😅😪.
Hari ini adalah Hari Matematika Nasional

Lihatlah yang menakjubkan dalam Matematika berikut ini !

1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321

1 x 9 + 2 = 11
12 x 9 + 3 = 111
123 x 9 + 4 = 1111
1234 x 9 + 5 = 11111
12345 x 9 + 6 = 111111
123456 x 9 + 7 = 1111111
1234567 x 9 + 8 = 11111111
12345678 x 9 + 9 = 111111111
123456789 x 9 +10= 1111111111

9 x 9 + 7 = 88
98 x 9 + 6 = 888
987 x 9 + 5 = 8888
9876 x 9 + 4 = 88888
98765 x 9 + 3 = 888888
987654 x 9 + 2 = 8888888
9876543 x 9 + 1 = 88888888
98765432 x 9 + 0 = 888888888

Brilliant sekali ya?
Dan lihat simetrinya yang berikut ini :
1 x 1 = 1
11 x 11 = 121
111 x 111 = 12321
1111 x 1111 = 1234321
11111 x 11111 = 123454321
111111 x 111111 = 12345654321
1111111 x 1111111 = 1234567654321
11111111 x 11111111 = 123456787654321
111111111 x 111111111 = 12345678987654321

Brilliant kan?
Silahkan share hal yang menakjubkan ini dengan teman..
Selamat Hari Matematika Nasional 👍👍👍

Sumber : broadcast wa

Mengajari Calistung,Penting Proses atau Output?

Oleh Lita Edia, S.Psi
Diskusi group WA Parenting Online Depok Tanggal 17 Mei 2016
Dirangkum oleh Ayas Ayuningtias

Saat ini banyak silang pendapat mengenai mengajarkan baca tulis hitung pada anak usia dini. Saya pribadi tidak berada di posisi melarang keras anak usia dini belajar calistung dan juga tidak dalam posisi berpendapat bahwa calistung harus diajarkan sedini mungkin.

Lalu bagaimana? Boleh mengajarkan baca tulis hitung ketika anak sudah melalui rangkaian proses sehingga ia sudah siap dan matang untuk belajar.
 
Ilustrasi kematangan :

Kalau ada anak usia 12 bulan sedang belajar jalan, kita bersikap biasa saja kan ya? Wajar anak usia 12 bulan belajar jalan, karena secara awam kita tahu usia 12 bulan otot kaki sudah kuat, koordinasi motorik secara keseluruhan sudah matang untuk belajar jalan.

Kalau ada anak 9 bulan belajar jalan, kita maklum, ooh mungkin memang dia sudah siap dan matang, semua proses pra berjalannya sudah dilalui, otot kakinya juga tampak sudah siap.
Kalau kita bertemu dengan anak 15 bulan masih belajar jalan, kita juga masih akan bersikap oke. Tapi kalau sudah 17 bulan belum jalan, baru kita konsultasi ke DSA.

Tapi andai nih, ada anak usia  4 bulan, dipaksa orangtua untuk jalan. Apa pandangan kita? Marah dong. Tega banget orangtuanya. Dalam bayangan kita sebagai awam, anak 4 bulan bukan tahapnya belajar berjalan. Otot kakinya belum kuat untuk jalan.

Belajar jalan, selain latihan dari orangtua juga perlu proses kematangan  (sifatnya biologis) dari anak sendiri. Sekuat kuatnya keinginan orangtua agar anaknya cepat belajar berjalan, tetap ia akan mengikuti intuisi dan pengetahuan kapan anak siap belajar berjalan.

Nah, belajar calistung sama prinsipnya dengan belajar jalan tadi. Jadi satu keterampilan/pencapaian /perilaku itu selalu berkaitan dengan latihan dan kematangan (biologis). Sama seperti belajar jalan, kematangan biologis dalam hal ini kematangan otak dan motorik, setiap anak itu berbeda-beda. Akan tetapi secara umumnya tetap ada standar sebagai panduan. Kalau jalan itu di usia 12 – 15 bulan, dalam baca tulis hitung (calistung) itu usia 6 – 7 tahun.

Adakah yang usia 2,5 tahun matang? Kenyataannya ada, buktinya ada yang bisa membaca tanpa diajari di usia tersebut. Hal tersebut kekhususan yang jarang dimiliki anak, tapi ada. Seperti adanya anak yang bisa berjalan di usia 7 bulan, jarang tapi ada. Namun bagi orangtua selaku pendidik  sebagai awalan, acuannya adalah panduan yang bersifat umum.

*Proses Calistung*

Sama juga seperti belajar jalan yang diawali dengan mengangkat leher, tengkurap, duduk, merangkak, merembet lalu berjalan, Baca tulis hitung juga ada keterampilan pra baca, pra tulis dan pra hitung. Nanti ketika anak sudah tampak matang, dilatih, maka anak akan segera bisa.

Proses pra baca tulis hitung itu apa saja? Di antaranya memahami konsep atas bawah, panjang pendek, depan belakang, kiri kanan, banyak sedikit, mengenal bentuk, mengenal pola, membedakan bunyi, mengenal persamaan dan perbedaan, rentang konsentrasi dan daya ingat yang mencukupi, koordinasi mata yang baik, koordinasi motorik yang seimbang, kekuatan otot tangan untuk menulis dan lain lain.

Lalu bagaimana sih kalau proses calistung pada anak itu kita potong tanpa melewati pra baca tulis hitung, langsung saja belajar ba bi bu? Prinsipnya bisa di analogikan dengan belajar jalan tapi langsung di titah saja, padahal anaknya belum duduk dan merangkak. Istilah kasarnya “menyiksa” kan ya? Istilah halusnya, proses kehidupannya terpotong.

Proses calistung, walau di kacamata orang dewasa itu sederhana, sebenarnya meliputi proses yang rumit. Melibatkan banyak aspek ketrampilan pra baca tulis hitung seperti yang sudah disebutkan di atas. Pada dasarnya biasanya ketrampilan itu tuntas di usia 5-7 tahun.

Contoh cobalah ajarkan anak 3 tahun merangkai huruf, jika ia kesulitan mungkin karena rentang konsentrasi untuk mengingat huruf huruf tersebut menjadi satu kata belum mencukupi. Ketika beralih ke suku kata kedua, ia lupa suku kata pertama. Ini wajar sekali, bukan karena anak malas belajar tapi rentang konsentrasi selain stimulasi juga berkembang sesuai dengan perkembangan kematangan otaknya.

*Akibat Pemotongan Proses Calistung*

Akibat pemotongan proses calistung, ketika di usia sekolah dasar, terkadang tampak anak akan tidak menikmati proses, kalau membaca, suka salah karena menebak kata, menulis kurang huruf, menghitung kurang teliti, atau tidak paham konsep, dan lain-lain. Coba tanyakan pada guru SD apakah hal ini banyak mereka temui? Bahkan di kelas 4-5 pun masih banyak ditemui.

*Harus Bagaimana?*

Untuk tahapan proses calistung gambaran umumnya seperti tadi disebutkan di atas dengan istilah proses pra baca tulis hitung. Secara detilnya kita bisa browsing dengan kata kunci tahapan membaca, tahapan menulis, tahapan menghitung. Cara lainnya dan lebih mendetil, kita bisa mengikuti list tahap perkembangan anak PAUD versi Diknas. PAUD itu ada panduannya dari Diknas. Misal, perkembangan apa yang perlu dicapai anak, dari sisi motorik kasar, motorik halus, kognitif, sosial dan emosi.

PAUD termasuk di dalamnya PG, TK, RA yang bagus akan menggunakan panduan ini. Menyusun aktivitas berdasarkan panduan. Sehingga kalau sudah lulus proses calistung, insya Allah akan siap calistung.

Sayangnya memang ada PAUD yang tidak menggunakan panduan ini. Ada PAUD yang sudah langsung mengajarkan calistung tanpa proses pra baca tulis hitung. Kembali pada kita, kejelian orangtua dalam memilih.

Pada dasarnya boleh, mengenalkan huruf dan angka sejak usia berapapun, tapi dengan cara yang sesuai kematangannya. Sekedar pengenalan seperti, menempel huruf, menyanyikan huruf dan angka, mewarnai huruf dan angka, menebak huruf di awal kata, dll. Namun untuk merangkai huruf menjadi kata, perlu tuntas dulu proses pra baca tulis hitungnya.

Jadi, demi kebaikan anak, kuatkan proses persiapan calistung bukan sekedar mengejar output.

Sumber : broadcast wa