​Pelajarilah Dahulu Adab dan Akhlak

Terlalu banyak menggeluti ilmu diin sampai lupa mempelajari adab. Lihat saja sebagian kita, sudah mapan ilmunya, banyak mempelajari tauhid, fikih dan hadits, namun tingkah laku kita terhadap orang tua, kerabat, tetangga dan saudara muslim lainnya bahkan terhadap guru sendiri jauh dari yang dituntunkan oleh para salaf.
.

Coba lihat saja kelakuan sebagian kita terhadap orang yang beda pemahaman, padahal masih dalam tataran ijtihadiyah. Yang terlihat adalah watak keras, tak mau mengalah, sampai menganggap pendapat hanya boleh satu saja tidak boleh berbilang. Ujung-ujungnya punya menyesatkan, menghizbikan dan mengatakan sesat seseorang.

.

Padahal para ulama sudah mengingatkan untuk tidak meninggalkan mempelajari masalah adab dan akhlak.

.

Namun barangkali kita lupa?

.

Barangkali kita terlalu ingin cepat-cepat bisa kuasai ilmu yang lebih tinggi?

.

Atau niatan dalam belajar yang sudah berbeda, hanya untuk mendebat orang lain?

.

Pelajarilah Adab Sebelum Mempelajari Ilmu

.

Ketahuilah bahwa ulama salaf sangat perhatian sekali pada masalah adab dan akhlak. Mereka pun mengarahkan murid-muridnya mempelajari adab sebelum menggeluti suatu bidang ilmu dan menemukan berbagai macam khilaf ulama. Imam Darul Hijrah, Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy,

.

تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

.

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

.

Kenapa sampai para ulama mendahulukan mempelajari adab? 

.

Sebagaimana Yusuf bin Al Husain berkata,

.

بالأدب تفهم العلم

“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”

.

Guru penulis, Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi berkata, “Dengan memperhatikan adab maka akan mudah meraih ilmu. Sedikit perhatian pada adab, maka ilmu akan disia-siakan.”

.

Oleh karenanya, para ulama sangat perhatian sekali mempelajarinya.

.

Ibnul Mubarok berkata,

تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين

“Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”

.

Ibnu Sirin berkata,

كانوا يتعلمون الهديَ كما يتعلمون العلم

“Mereka -para ulama- dahulu mempelajari petunjuk (adab) sebagaimana mereka menguasai suatu ilmu.”

.

Makhlad bin Al Husain berkata pada Ibnul Mubarok,

نحن إلى كثير من الأدب أحوج منا إلى كثير من حديث

“Kami lebih butuh dalam mempelajari adab daripada banyak menguasai hadits.” Ini yang terjadi di zaman beliau, tentu di zaman kita ini adab dan akhlak seharusnya lebih serius dipelajari.

.

Dalam Siyar A’lamin Nubala’ karya Adz Dzahabi disebutkan bahwa ‘Abdullah bin Wahab berkata,

ما نقلنا من أدب مالك أكثر مما تعلمنا من علمه

“Yang kami nukil dari (Imam) Malik lebih banyak dalam hal adab dibanding ilmunya.” –

.

Imam Malik juga pernah berkata, “Dulu ibuku menyuruhku untuk duduk bermajelis dengan Robi’ah Ibnu Abi ‘Abdirrahman -seorang fakih di kota Madinah di masanya-. Ibuku berkata,

تعلم من أدبه قبل علمه

“Pelajarilah adab darinya sebelum mengambil ilmunya.”

.

Imam Abu Hanifah lebih senang mempelajari kisah-kisah para ulama dibanding menguasai bab fiqih. Karena dari situ beliau banyak mempelajari adab, itulah yang kurang dari kita saat ini. Imam Abu Hanifah berkata,

الْحِكَايَاتُ عَنْ الْعُلَمَاءِ وَمُجَالَسَتِهِمْ أَحَبُّ إلَيَّ مِنْ كَثِيرٍ مِنْ الْفِقْهِ لِأَنَّهَا آدَابُ الْقَوْمِ وَأَخْلَاقُهُمْ

“Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberapa bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlaq luhur mereka.” (Al Madkhol, 1: 164)

.

Di antara yang mesti kita perhatikan adalah dalam hal pembicaraan, yaitu menjaga lisan. Luruskanlah lisan kita untuk berkata yang baik, santun dan bermanfaat. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,

من عدَّ كلامه من عمله ، قلَّ كلامُه إلا فيما يعنيه

“Siapa yang menghitung-hitung perkataannya dibanding amalnya, tentu ia akan sedikit bicara kecuali dalam hal yang bermanfaat” Kata Ibnu Rajab, “Benarlah kata beliau. Kebanyakan manusia tidak menghitung perkataannya dari amalannya” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 291).

.

Yang kita saksikan di tengah-tengah kita, “Talk more, do less (banyak bicara, sedikit amalan)”.

.

Berbeda Pendapat Bukan Berarti Mesti Bermusuhan

.

Sungguh mengagumkan apa yang dikatakan oleh ulama besar semacam Imam Syafi’i kepada Yunus Ash Shadafiy -nama kunyahnya Abu Musa-. Imam Syafi’i berkata,

يَا أَبَا مُوْسَى، أَلاَ يَسْتَقِيْمُ أَنْ نَكُوْنَ إِخْوَانًا وَإِنْ لَمْ نَتَّفِقْ فِيْ مَسْأَلَةٍ

“Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap bersaudara (bersahabat) meskipun kita tidak bersepakat dalam suatu masalah?” (Siyar A’lamin Nubala’, 10: 16).

.

Berdoalah Agar Memiliki Adab dan Akhlak yang Mulia

.

Dari Ziyad bin ‘Ilaqoh dari pamannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca do’a,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ

“Allahumma inni a’udzu bika min munkarotil akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa’ [artinya: Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari akhlaq, amal dan hawa nafsu yang mungkar].” (HR. Tirmidzi no. 3591, shahih)

.

Doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lainnya,

اللَّهُمَّ اهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّى سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّى سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ

“Allahummahdinii li ahsanil akhlaaqi laa yahdi li-ahsanihaa illa anta, washrif ‘anni sayyi-ahaa, laa yashrif ‘anni sayyi-ahaa illa anta [artinya: Ya Allah, tunjukilah padaku akhlak yang baik, tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan palingkanlah kejelekan akhlak dariku, tidak ada yang memalinggkannya kecuali Engkau].” (HR. Muslim no. 771, dari ‘Ali bin Abi Tholib)

.

أسأل الله أن يزرقنا الأدب وحسن الخلق

Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar mengaruniakan pada kami adab dan akhlak yang mulia.

.

.

.

Sumber : WAG

Advertisements

​ADAB TERHADAP GURU

Pelajaran pertama yang mesti dicari seorang murid bukanlah tafsirnya, hadistnya, atau fiqihnya, melainkan Adabu Mu’allim wa Muta’allim. Adab seorang murid pada gurunya.
Para Salafus shalih, memberikan contoh indah dalam penghormatan terhadap guru. 

.
“Seperti inilah kami diperintahkan untuk memperlakukan para ulama kami” begitu ujar sahabat mulia Ibnu Abbas, ahli bait Nabi, Mufassir umat ini saat menuntun dengan rendah hati tali unta Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu yang membuat Zaid memerah malu.

.
Penghormatan pada guru adalah asas seorang murid dalam mencari ilmu.

.
Ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata, “Demi Allah, aku tidak berani meminum air dalam keadaan Asy-Syafi’i melihatku karena segan kepadanya”.

.
Adapun sang Imam sendiri begitu mulia akhlaknya pada sang Guru tercinta, “Dulu aku membolak balikkan kertas di depan  Malik dengan sangat lembut karena segan padanya dan supaya dia tak mendengarnya”.

.
Akhlak itu yang membuat terang benderang generasi terdahulu. Bukan kepintarannya, tapi akhlaknya. Bukan kelimuannya, tapi barakahnya.

.
Mereka mengamalkan betul kaidah mulia yg dipegang oleh para sahabat dan salafusshalih: ‘abdu man ‘allamani walau harfan waahidan.

“Aku adalah budak milik orang yang telah mengajarku walau cuma satu huruf.”

.
Tinggalah kita yg perlu dikasihani, yg belum mahir menjaga adab pada guru/ustadz, tapi berani mengatur, menggibah, menilai ustadz sesuai keinginan dan selera.

.

Ustadz wahabi katanya.. ustadz garis keras katanya.. komunitas tertentu katanya. Allahul musta’an. 🙂

.
Ingat adabmu terhadap gurumu, mencerminkan bersihnya hatimu.
“Aina nahnu min akhlaqis salaf?”

.

.

.

Sumber : WAG

Mempermudah Curang

Terpampang mencolok di Pintu Gerbang salah satu Universitas di Afrika Selatan tulisan: 
*”Untuk menghancurkan sebuah Bangsa, tidak perlu dengan bom,  roket, dan senjata berat, tapi cukup dengan MEMPERMUDAH MURID  CURANG DALAM UJIAN dan LONGGAR DALAM DISIPLIN  BELAJAR”*
Maka;
Manusia akan banyak yang mati di tangan para Dokter yang lulus karena curang.- 
Rumah dan gedung akan banyak yang ambruk di tangan para Arsitek yang lulus karena curang- 
Perusahaan akan banyak yang bangkrut di tangan para Manajer & Akuntan yang lulus karena curang.- 
Agama akan menjadi jualan murahan di dalam ceramah dan pidato para Tokoh Agama yang lulus karena curang.- 
Keadilan akan hilang di tangan Hakim yang lulus karena curang- 
Kebodohan dan kekasaran akan menjadi karakter anak bangsa yang lulus dari tangan para Guru dan Pendidik yang lulus karena curang…
Tatanan berbangsa akan rusak berat karena di tangan Anggota Legislatif yg lulus karena curang…

*KEMUNDURAN DUNIA PENDIDIKAN DALAM ARTI YANG SEBENARNYA ADALAH AWAL KEHANCURAN SEBUAH BANGSA.*

(Sebuah Renungan bagi kita semua dan Pendidik).

​Animals Schooling

Di sebuah Hutan belantara berdirilah sebuah sekolah para binatang. Statusnya “disamakan” dengan sekolah manusia. Kurikulum sekolah tersebut mewajibkan setiap siswa lulus semua pelajaran dan mendapatkan ijazah. Terdapat 5 mata pelajaran dlm sekolah tsb.

a. Terbang

b. Berenang

C. Memanjat

d. Berlari 

E. Menyelam
Banyak siswa yang bersekolah di “animals schooling”, ada elang, tupai, bebek, rusa dan katak.
Terlihat diawal masuk sekolah, masing2 siswa memiiki keunggulan pada mata pelajaran tertentu.
Elang, sangat unggul dalam terbang. Dia memiliki kemampuan yg berada diatas kemampuan binatang lain.
Demikian juga katak, sangat mahir pd pelajaran menyelam.
Namun, beberapa waktu kemudian krn “animals schooling” mewajibkan semua harus lulus 5 Mapel.
Maka mulailah si Elang belajar memanjat dan berlari.
Tupai pun berkali-kali jatuh dari dahan yg tinggi krn belajar terbang.
Bebek seringkali ditertawakan meski sdh bisa berlari dan sedikit terbang. Namun sdh mulai tampak putus asa ketika mengikuti pelajaran memanjat.
Semua siswa berusaha dg susah payah namun belum jg menunjukkan hasil yg lebih baik. 
Tidak ada siswa yg menguasai 5 mapel tsb dengan sempurna.
Kini, kelamaan.

Tupai sudah mulai lupa cara memanjat, bebek sudah tidak dapat berenang dg baik krn sebelah kakinya patah dan sirip kakinya robek, krn terlalu sering belajar memanjat.
Kondisi inilah yang saat ini terjadi mirip dengan kondisi pendidikan kita. 

Orangtua berharap anaknya serba bisa. 

Sangat stress ketika matematikanya dapat nilai 5.
Les A, Kursus B, Les C, kursus D, private E dsb dan berjibun kegiatan lain tanpa memperhatikan dan fokus dipotensi anaknya masing masing.
Mari kita syukuri karunia  luar biasa yg sdh Alloh amanahkan kpd kita para orangtua yg memiliki anak2 yg sehat dan Lucu.
Setiap anak memiliki belahan otak dominannya masing2,
Ada yg dominan di Limbik kiri, neokortek kiri, limbik kanan, neokortek kanan, juga batang otak.
Sehingga masing2 memiliki kelebihannya masing2…
Fokuslah dengan kelebihan itu, kawal, stimulasi dan senantiasa fasilitasi agar terus berkembang.
Janganlah kita disibukkan dengan kekurangannya.
Karena sesungguhnya setiap anak yg terlahir didunia ini adalah cerdas (dikelebihannya msg2), istimewa dan mereka adalah Bintang yang bersninar diantara kegelapan Malam.
Inilah saatnya kita bergandeng tangan  menggali potensi diri anak & anak didik kita seoptimal mungkin.
Selamat berjuang mengetuk pintu langit di sepertiga malam Ayah & Bunda. Semoga Allah mudahkan segala urusan kita mengiringi kesuksesan ananda kelak di dunia & di akhirat…
Sumber : broadcast wa

​Jika Anak Sekolah Terlalu Dini

(Elly Risman, S. Psi)

1. Keyakinan umum…

* Otak anak usia dini seperti spons, artinya ini masa yg tepat untuk ditanamkan ilmu, agar anak tumbuh cerdas

* Semakin dini disekolahkan, otak anak semakin berkembang.
2. Sehingga…

Ada ortu yg menyekolahkan sedini mungkin, bahkan ada yg masuk prasekolah diusia 1,5-2 tahun.
3. Mari kita bercermin…

* Apakah kita begitu meyakini bahwa anak harus segera pintar agar siap menghadapi persaingan zaman?

* Apakah kita disiapkan mjd orang tua?

* Apakah memiliki bekal yang cukup dlm mengasuh?

* Bagaimana innerchild diri kita?
4. Betapa kita disiapkan untuk menjadi ahli namun tdk disiapkan jadi orangtua, shg tidak punya kesabaran & endurance utk jadi ortu.
5. Ilmu yg kita miliki untuk mengasuh pun serba tanggung. 

Ilmu yg setengah-tengah, berujung pada false belief (keyakinan yg salah). 

Sayangnya false belief ini dpt berubah menjadi societal false belief (keyakinan yg salah pd sekelompok orang).

Jika ortu tdk memiliki kemampuan berpikir (thinking skill) yg baik, false belief akibat ilmu yg serba tanggung itu jd pembenaran bersama atas keputusan kita yg keliru.
6. Pintar ada waktunya!

Karena yg berkembang adalah pusat perasaan, anak usia dini hrs jadi anak yg bahagia, bukan jd anak yg pintar!
7. Kita berpikir…

“Kan di sekolah belajarnya sambil bermain”

“Kan anak perlu belajar sosialisasi”

“Kan anak jd belajar berbagi & bermain bersama”

Padahal…

* Anak usia dini belum perlu belajar sosialisasi dg beragam orang

* Saat anak diusia dini, otak anak yg paling pesat berkembang adl pusat perasaannya, bukan pusat berpikirnya. 
8. Di sekolah, kegiatan anak hanya bermain kok!

Taukah ayah bunda, permainan terbaik adalah tubuh ayah ibunya! Bermain dg ayah ibu jga menciptakan kelekatan. Misal: bermain peran, bermain pura-pura, muka jelek, petak umpet.
9. Di sekolah, mainan lebih lengkap.

Permainan paling kreatif adalah bermain tanpa mainan. Jangan batasi kreatifitas anak dg permainan yg siap pakai. 

Contoh: karpet jadi mobil, panci jadi topi.
10. Di sekolah, anak belajar bersosialisasi & berbagi. 

Anak <5 th blm saatnya belajar sosialisasi. Ia blm bisa bermain bersama. Mereka baru bisa bermain bersama-sama.

Bermain bersama-sama= bermain diwaktu & tempat yg sama namun tdk berbagi mainan yg sama (menggunakan mainan masing2)

Bermain bersama= bermain permainan yg membutuhkan berbagi mainan yg sama.
11. Di sekolah, anak belajar patuh pada aturan & mengikuti instruksi.

Aturan & instruksi perlu diterapkan setahap demi setahap. Jika di rumah ada aturan, di sekolah ada aturan, berapa banyak aturan yg harus anak ikuti? Apa yg dirasakan anak?

Analogi: Seorang anak <5 thn yg sangat berbakat dlm memasak, dimasukkan ke sekolah memasak. Di sekolah itu, dia diajari berbagai aturan memasak yg banyak, dilatih oleh beberapa instruktur sekaligus. Yg dirasakan anak: pusing!
12. Memasukkan sekolah anak terlalu dini, sama seperti menyemai benih kanker.

Kita tidak tahu kapan kanker akan muncul & dlm jenis apa.

Otaknya belum siap. Kita tidak pernah tahu kapan ia kehilangan motivasi belajar.

Semakin muda kita sekolahkan anak, semakin cepat pula ia mengalami BLAST (Bored Lonely Afraid-Angry Stress Tired).

anak yg mengalami BLAST, lebih rentan mjd pelaku & korban bullying, pornografi & kejahatan seksual.
13. Jika si adik ingin ikut kakaknya sekolah…

Sekolah itu bukan karena ikut-ikutan. Anak harus masuk masa teachable moment, krn memang ada anak yg mampu sekolah lebih cepat dr ketentuan umum yg berlaku. Ortu harus mampu mengendalikan keinginan anak. Kendali ada ditangan ortu, krn otak anak belum sempurna bersambungan.
14. Ciri anak memasuki masa teachable moment.

* Menunjukkan minat utk sekolah

* Minat tersebut bersifat menetap

* Jika kita beri kesempatan untuk bersekolah, ia menunjukkan kemampuannya.
15. Kapan sebaiknya anak masuk sekolah?

* TK A → usia 5 th

* TK B → usia 6 th

* SD → usia 7 th

Dibawah usia 5 th, anak tdk perlu bersekolah.
Kebutuhan anak 0-8 tahun adalah bermain & terbentuknya kelekatan.

Jangan kau cabut anak2 dari dunianya terlalu cepat, krn kau akan mendapatkan orang dewasa yg kekanakan. -Prof. Neil Postman, The Disappearance Childhood-
Sumber: Yayasan Kita & Buah Hati
Sumber : broadcast wa

Filosofi Kopi

Dalam minuman *kopi* pada dasarnya terdiri dari 3 unsur:

1. Kopi

2. Gula

3. Rasa
Yang mana dalam *filosofi kopi* di gambarkan sbb:
Kopi = Orang tua/wali

Gula = Guru

Rasa = siswa
Kasus 1

Jika kopi terlalu pahit

Siapa yang salah?
Gula lah yg di salahkan karena terlalu sedikit hingga “rasa” kopi pahit
Kasus 2

Jika kopi terlalu manis

Siapa yg d salahkan?
Gula lagi karena terlalu banyak hingga “Rasa” kopi manis
Kasus 3

Jika takaran kopi & gula balance

Siapa yg di puji…?
Tentu semua akan berkata…

Kopi’a mantaaap
Kmn gula yg mempunyai andil

Membuat “rasa” kopi menjadi mantaaap
Itulah guru yg ketika, “rasa” (siswa) terlalu manis (menyebabkan diabet) atw terlalu pahit (bermasalah) akan dipersalahkan
Tetapi ketika “rasa” mantap atau berprestasi mk orang tualah yang akan menepuk dadanya

“Anak siapa dulu”
Mari Ikhlas seperti Gula yg larut tak terlihat tapi sangat bermakna.
– itu mungkin yang mendasari logo madrasah harus ‘ ikhlas beramal’

Belajar IKHLAS dari GULA PASIR 
Gula PASIR memberi RASA MANIS pada KOPI, tapi orang MENYEBUTnya KOPI MANIS…bukan KOPI GULA…
Gula PASIR memberi RASA MANIS pada TEH, tapi orang MENYEBUTnyaTEH MANIS…bukan TEH GULA…
Gula PASIR memberi RASA MANIS pada ES JERUK…, tapi orang MENYEBUTnya ES JERUK MANIS…bukan ES JERUK GULA
ORANG menyebut ROTI MANIS…bukan ROTI GULA…
ORANG menyebut SYRUP Pandan, Syrup APEL, Syrup JAMBU…. 

padahal BAHAN DASARnya GULA….

Tapi GULA tetap IKHLAS LARUT dalam memberi RASA MANIS…
akan tetapi apabila berhubungan dgn Penyakit, barulah GULA disebut.. PENYAKIT GULA ..!!!
BEGITUlah HIDUP….Kadang KEBAIKAN yang Kita TANAM tak pernah diSEBUT Orang….

Tapi kesalahan akan dibesar-besarkan…
IKHLASlah seperti GULA…

LARUTlah seperti GULA…
Tetap SEMANGAT memberi KEBAIKAN…!!!!

Tetap SEMANGAT menyebar KEBAIKAN..!!! 

Karena KEBAIKAN tidak UNTUK DISEBUT…

tapi untuk DIRASAkan…
Semoga bermanfaat

Salam Keindahan, berbagi dan kedamaian…😇🙏
Sumber : broadcast wa

Tidak Ada Orang yang Tidak Memiliki Kompetensi

​CERPEN SIANG;

Dari kisah nyata seorang guru.

==========================🙏👍😭
Di suatu sekolah dasar, ada seorang guru yang selalu tulus mengajar dan selalu berusaha dengan  sungguh-sungguh membuat suasana kelas yang baik untuk murid-muridnya.
Ketika guru itu menjadi wali kelas 5, seorang anak–salah satu murid di kelasnya– selalu berpakaian kotor dan acak-acakan. Anak ini malas, sering terlambat dan selalu mengantuk di kelas. Ketika semua murid yang lain mengacungkan tangan untuk menjawab kuis atau mengeluarkan pendapat, anak ini tak pernah sekalipun mengacungkan tangannya.
Guru itu mencoba berusaha, tapi ternyata tak pernah bisa menyukai anak ini. Dan entah sejak kapan, guru itu pun menjadi benci dan antipati terhadap anak ini. Di raport tengah semester, guru itu pun menulis apa adanya mengenai keburukan anak ini.
Suatu hari, tanpa disengaja, guru itu melihat catatan raport anak ini pada saat kelas 1. Di sana tertulis: “Ceria, menyukai teman-temannya, ramah, bisa mengikuti pelajaran dengan baik, masa depannya penuh harapan,”
“..Ini pasti salah, ini pasti catatan raport anak lain….,” pikir guru itu sambil melanjutkan melihat catatan berikutnya raport anak ini.
Di catatan raport kelas 2r tertulis, “Kadang-kadang terlambat karena harus merawat ibunya yang sakit-sakitan,”
Di kelas 3 semester awal, “Sakit ibunya nampaknya semakin parah, mungkin terlalu letih merawat, jadi sering mengantuk di kelas,”
Di kelas 3 semester akhir, “Ibunya meninggal, anak ini sangat sedih terpukul dan kehilangan harapan,”
Di catatan raport kelas 4 tertulis, “Ayahnya seperti kehilangan semangat hidup, kadang-kadang melakukan tindakan kekerasan kepada anak ini,”
Terhentak guru itu oleh rasa pilu yang tiba-tiba menyesakkan dada. Dan tanpa disadari diapun meneteskan air mata, dia mencap memberi label anak ini sebagai pemalas, padahal si anak tengah berjuang bertahan dari nestapa yang begitu dalam…

Terbukalah mata dan hati guru itu. Selesai jam sekolah, guru itu menyapa si anak:

“Bu guru kerja sampai sore di sekolah, bagaimana kalau kamu juga belajar mengejar ketinggalan, kalau ada yang gak ngerti nanti Ibu ajarin,”
Untuk pertama kalinya si anak memberikan senyum di wajahnya.
Sejak saat itu, si anak belajar dengan sungguh-sungguh, prepare dan review dia lakukan di bangkunya di kelasnya.
Guru itu merasakan kebahagian yang tak terkira ketika si anak untuk pertama kalinya mengacungkan tanganya di kelas. Kepercayaan diri si anak kini mulai tumbuh lagi.
Di Kelas 6, guru itu tidak menjadi wali kelas si anak.
Ketika kelulusan tiba, guru itu mendapat selembar kartu dari si anak, di sana tertulis. “Bu guru baik sekali seperti Bunda, Bu guru adalah guru terbaik yang pernah aku temui.”
Enam tahun kemudian, kembali guru itu mendapat sebuah kartu pos dari si anak. Di sana tertulis, “Besok hari kelulusan SMA, Saya sangat bahagia mendapat wali kelas seperti Bu Guru waktu kelas 5 SD. Karena Bu Guru lah, saya bisa kembali belajar dan bersyukur saya mendapat beasiswa sekarang untuk melanjutkan sekolah ke kedokteran.”
Sepuluh tahun berlalu, kembali guru itu mendapatkan sebuah kartu. Di sana tertulis, “Saya menjadi dokter yang mengerti rasa syukur dan mengerti rasa sakit. Saya mengerti rasa syukur karena bertemu dengan Ibu guru dan saya mengerti rasa sakit karena saya pernah dipukul ayah,”
Kartu pos itu diakhiri dengan kalimat, “Saya selalu ingat Ibu guru saya waktu kelas 5. Bu guru seperti dikirim Tuhan untuk menyelamatkan saya ketika saya sedang jatuh waktu itu. Saya sekarang sudah dewasa dan bersyukur bisa sampai menjadi seorang dokter. Tetapi guru terbaik saya adalah guru wali kelas ketika saya kelas 5 SD.”
Setahun kemudian, kartu pos yang datang adalah surat undangan, di sana tertulis satu baris,
“Mohon duduk di kursi Bunda di pernikahan saya,”
Guru pun tak kuasa menahan tangis haru dan bahagia.
Kalau hati bapak ibu guru bergetar membaca cerita ini,boleh bapak ibu guru share ke semua orang terutama kepada guru/pendidik….
karena keikhlasan mampu menggetarkan dunia……
Semoga manfaat..
Sumber : broadcast wa