​Mengurus Ruhiyah Anak

.
Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari 

.
Anak kita lebih duluan kenal kita, orangtuanya atau lingkungan pergaulannya? Anak kita lebih lama hidup dengan kita, orangtuanya atau lingkungan pergaulannya? 

.
Jawabannya jelas: orangtua. Jadi mengapa menyalahkan lingkungan pergaulan anak atas perilaku anak yang tidak kita harapkan? 

.
Jika ada anak terpengaruh teman-temannya, sudah jelas, mereka tidak mendapatkan banyak pengaruh dari orangtuanya. Mungkin orangtua sudah berusaha mempengaruhi, tapi karena mengasuh anak seadanya (tanpa ilmu) maka akhirnya yang sampai kepada anak pun seadanya. 

.
Akibat tidak sampai pengaruh itu kepada anak seadanya, wajar anak-anak ini akhirnya lebih banyak terpengaruh teman-temannya dibandingkan orangtuanya. 
Padahal, andaikan semua anak menerima cinta orangtua, maka kecil kemungkinan bagi anak untuk tidak menjadikan orangtua sebagai sumber referensi kehidupan terpercaya. 

.
Jika orangtua sudah memberikan cinta pada anak dengan benar, seharusnya semua anak yang menerima cinta orangtuanya, akan kecewa jika membuat orangtuanya kecewa, akan sedih jika membuat orangtuanya sedih. 

.
Bayangkan kita bersahabat dengan seseorang. Katakanlah nama sahabat kita: Fulan. Kita sangat akrab dengan Fulan. Sering curhat bareng. Sering ngobrol. Sering bercanda. Apa yang kita rasakan jika suatu hari, secara tidak sengaja, mengecewakan Fulan? Bukankah kita dalam hati juga merasa kecewa? Bukankah kita akan merasa sedih jika tak sengaja, apalagi sengaja, membuat dia sedih?

.
Jadi, jika ada anak-anak setelah dewasa terlalu sering menyusahkan hidup orangtua, mengecewakan orangtua, membuat sedih orangtua, bahkan berani menyakiti orangtuanya, tandanya apa? Sungguh mereka tidak menerima cinta kita. 

.
Memberi cinta pada anak berarti memberikan tidak hanya KASIH tapi juga SAYANG (pelajari tentang apa bedanya orangtua pengasih dan penyayang di https://youtu.be/IOYz5WY_sLU). Memberi cinta pada anak berarti tidak sekadar ngurus fisiknya, tapi juga jiwanya.

.
Seseorang di sesi konseling saat mengadukan anaknya bermasalah, lalu saya ungkapkan soal di atas, dia segera membantah “saya kerja untuk anak, saya masakin anak, saya pulang kerja mandiin mereka, ngasi makan mereka, beliin baju dan mainan mereka, bukankah saya sudah memberikan cinta?”

.
Lalu ibu ini sesegukan menangis, ketika saya katakan bahwa memberikan cinta pada anak juga berarti ngurus “ruhiyah” atau hati anak, bukan hanya fisiknya. 
Ngurus hati anak berarti kita benar-benar menyediakan waktu BERSAMA mereka untuk menginstall nilai-nilai kebaikan kepada mereka, menyediakan majlis ilmu di rumah, membuat halaqoh ilmu dengan mereka. Program 1821 adalah ikhtiarnya (yang belum tahu 1821 yang saya gagas buka d sini: https://youtu.be/8JIsZwnRKgI)

.
Andai saja setiap hari orangtua mau nyediakan waktu untuk anak 3 jam saja bersama mereka untuk 1821 atau menyediakan majlis ilmu di rumah dengan anak, insya Allah seharusnya semua anak akan benar-benar keurus ruhiyahnya. 
Ini minimal, apalagi lebih dari itu. Ingat ya bersama anak, bukan di dekat anak. Bersama anak itu berarti benar-benar fokus, tidak disambil dengan mengerjakan urusan domestik, pekerjaan kantor, bermedsos, bergadget dan gangguan “pihak ketiga” lainnya. 
Insya Allah semua anak yang diurus ruhiyahnya, anak-anak itu semuanya mencintai orangtuanya kok.

.
Seorang guru melaporkan kepada saya dengan penuh haru, bahwa seorang murid menulis ini saat ditanya pekerjaan orangtuanya. Ini kira-kira bunyinya:

.
“Abahku (panggilan anak ini untuk ayahnya) bekerja demi keluargaku. Aku sangat bersyukur mempunyai abah seperti sekarang. 
Dulu abahku tidak seperti aku, kalau minta apa-apa harus jualan dulu, membantu dirumah orang kaya. Aku bangga dengan abahku, dia selalu menemaniku setiap malam. Ia tak pernah merasa lelah di depan kami, tetapi hatinya lelah.
Aku sangat senang mempunyai abah, dia yang mengingatkanku selain umi.  Dia hebat bekerja, tidak pernah malas. Iya sangat baik, bekerja seminggu 2 kali, sabtu-Ahad. Aku juga bersyukur pada Allah telah mencukupkan keluargaku. 
Aku akan membahagiakan Abah dan Umiku. Aku akan berusaha untuk membuat mereka bahagia, hanya dengan senyumannya aku sudah bahagia. Terimakasih ya Rabbi kau telah berikan abah seperti abahku yang sangat hebat. 
Terimakasih telah menafkahi keluarga, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan engkau.”

.
Bukan hanya anak ini, bagi saya, semua anak bahkan jika mereka ditanya, apakah mereka mencintai orangtuanya? 

.
Jika orangtua sering menghabiskan waktu bersama anak, sering mengisi ruhiyahnya, sering ngobrol dengan mereka dan seterusnya, jika mereka diberikan kesempatan meluahkan perasaan, termasuk tulisan, insya Allah mereka akan menuliskan perasaan yang sama bahwa mereka mencintai orangtuanya.

.
Jika itu terjadi, maka saya ucapkan, selamat, Anda sudah jadi orangtua BETULAN. insya Allah

.

FB Abah Ihsan

.

.

Sumber : WAG

Advertisements

KEKUATAN DO’A ORANGTUA YANG DAHSYAT UNTUK ANAKNYA

​🌾 -*Renungan Dhuha*_ ☀

.
_Syaikh Fahad Al Kandari bercerita._

.
🕌 _Dulu saat mengimami sebuah masjid di Kuwait, saya lupa sebuah ayat. Ternyata, ada seorang yang mengoreksi bacaan saya. Hanya seorang, yang ternyata ia adalah kakek tua._
Saya tertarik untuk menemuinya.

.
👳🏻Syaikh Fahad : Kek, anda hafal Qur’an ya?

👴🏻Kaket tua : Iya, benar.

👳🏻Syaikh Fahad : Masya Allah, tentu anda hafal sejak kecil kan?

👴🏻Kakek Tua : _Tidak Syaikh. Saya malah baru mulai menghafal sejak usia 60 tahun._

Syaikh tertegun.
👳🏻Syaikh Fahad : *Masya Allah, bagaimana mungkin?e Bagaimana ceritanya? Bukannya itu sulit ?*

👴🏻Kakek Tua : *Tidak juga. Mungkin salah satu penyebabnya, adalah ibuku.*

*Ada satu hal yg selalu ia lakukan, tak pernah ia tinggalkan hingga beliau meninggal.*
👳🏻Syaikh Fahad : Apa itu?
👴🏻Kakek Tua : *Ia tidak pernah berhenti mendoakan ku agar hafal Al-Qur’an…*

.

🌺Suatu ketika ada yang bertanya kepada seorang ibu yang berhasil membesarkan 9 anaknya, mendidik dan menjadikan mereka manusia berakhlak dan berguna bagi agama, negara, bangsa dan sesama.

.
🌻Apa rahasia di balik keberhasilannya ?. Jawabnya adalah, do’a yang tak henti-henti dipanjatkan untuk anak-anaknya tersebut :

.
1⃣ *_Allahummaj’al aulaadana kulluhum shaalihan wa thaa’atan_*

Yaa Allah jadikanlah anak-anak hamba orang yang sholehah dan shaleh yang taat beribadah kepadaMu.

.
2⃣ *_Wa ummuruhum thowiilan_*

Panjangkanlah umurnya yang barakah.

.
3⃣ *_War zuqhum waasi’an_*

Luaskan dan lapangkan rizkinya yang halal.

.
4⃣ *_Wa ‘uquuluhum zakiyyan_*

Cerdaskan akalnya untuk kebaikan dunia dan akhirat.

.
5⃣ *_Wa quluubuhum nuuran_*

Terangilah kalbunya untuk urusan agamaMu.

.
6⃣ *_Wa ‘uluumuhum katsiiran naafi’an_*

Karuniakan ia ilmu yang bermanfaat untuk urusan kebaikkan dunia dan akhirat.

.
7⃣ *_Wa jasaaduhum shihhatan wa ‘aafiyatan_*

Sehatkanlah jasmani dan rohaninya yang dengan itu memberikan ketenangan dalam melaksanakan ibadah hanya kepada-Mu.

.
8⃣ *_Birahmatika yaa arhamar raahimiin_*

Dengan segala Rahmat-Mu Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

.
💢 *PENTING :* 

_*Panjatkanlah doa mutlak di atas itu sesering mungkin.*_

.
🙏 _*Karena doa orangtua termasuk doa yang terkabul, dan tidak memiliki penghalang menuju Allah*_

.
🍂Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda :
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
🍃“Ada tiga macam doa yang mustajab, dan tidak ada keraguan di dalamnya. Yaitu : *doa orangtua, doa seorang musafir, dan doa orang yang terzalimi”*

👉(HR. Al-Bukhari / Al-Adab, Al-Mufrad-32, Abu Dawud)

.
👨‍👩‍👧‍👦 _Ayah, Ibu, jangan pernah engkau remehkan kekuatan doamu untuk anak-anakmu…_

.
💐_Jikapun belum terkabul sekarang, mungkin kelak, ketika engkau telah tiada…_
Saudaramu dlm berbagi…😇

.

.

Sumber : WAG

​Mengajarkan Anak  Mengendalikan Perut dan Bukan Dikendalikan Perut.

.

By:Umm Marwan(Nia Nuraeni Gustni Lc,MA)

.
Menjadi salah satu negara yang mempunyai anak obesitas terbesar,Australia sangat memperhatikan kegemukan pada anak, maka digalakan makanan sehat sayuran dan buah menjadi salah satu menu bekal.

.

Semenjak bayi sampai umur prasekolah maka bidan akan memantau perkembangan anak dan khususnya berat badan yang seimbang.

.

Ketika seorang anak gemuk  maka  ahli kesehatan anak akan fokus kepada sang ibu dan berusaha menurunkan badan anak , ditinjau asupan perhari dan selalu dipantau  perkembangannya maka dikala itu sang ibu akan merasa  bersalah dan merasa dianggap ibu yang buruk karena menyebabkan anaknya gemuk.

.
Di Indonesia banyak salah pemahaman bahwa anak gemuk adalah anak sehat tapi sebenarnya tidak seperti itu. 

.
Asupan Karbohidrat yang terlalu banyak di makan bisa menyebabkan kegemukan seperti :adakalanya setelah makan nasi, makan baso dan juga sate serta gorengan. 
Kegemukan  adalah musuh bukan hanya di negara berkembang tapi juga di dalam islam karena:

.

Dari Ja’dah bin Khalid, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat ada orang gendut. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk perutnya,
لَوْ كَانَ هَذَا فِي غَيْرِ هَذَا لَكَانَ خَيْرًا لَكَ
Andai gendut ini tidak di sini, niscaya itu lebih baik bagimu. (HR. Ahmad 15868, dan sanadnya didhaifkan Syuaib al-Arnauth).

.
Kemudian dalam hadis dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma,
Suatu ketika ada orang bersendawa di dekat Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau menegurnya,
كفّ عنا جُشاءك ، فإنَّ أكثرهم شبعاً في الدنيا أطولُهم جوعاً يوم القيامة
Jangan keras-keras sendawanya, sesungguhnya orang yang paling sering kenyang di dunia, dia paling lama laparnya di akhirat. (HR. Turmudzi 2666 dan dihasankan al-Albani)

.
Anak gemuk akan susah bangun untuk sholat.

.

Anka gemuk rentan penyakit.

.

Anak gemuk akan malas bergerak.

.

Anak gemuk akan banyak tidur.

.

Anak gemuk malas berolah raga .

.

Anka gemuk mengikuti keinginan jiwa untuk makan.

.
Karena itu:

.

Mengajarkan anak makan tidak sampai kekenyangan.

.

Mengajarkan anak duduk secara sunnah ketika makan.

.

Mengajarkan anak  mengendalikan jiwa ketika melihat makanan.

.

Mengajarkan anak waktu  malam dilarang makan berat .

.

Mengajarkan anak tentang adab makan.

.

Mengajarkan anak bahwa perut itu adalah rumahnya penyakit.

.

Mengajarkan  pemakanan sehat  sayuran dan mengurangi yang digoreng.

.

mengajarkan anak  mengendalikan perut dan bukan dikendalikan perut.

.
Umm Marwan

.

Sumber : WAG

​BUKAN URUSAN ELO KALEEE..

(Elly Risman, Psi)

.
(Direktur, Psikolog, dan Trainer Yayasan Kita dan Buah Hati)

.
Ketika terlintas dipikiran saya untuk menuliskan apa yang saya alami hari ini, maka hal pertama yang muncul di benak saya adalah kata-kata diatas itu. Kalau saya berpegang pada kata-kata tersebut, mungkin saya gak pernah nulis disini, karena semua yang saya tulis umumnya ’bukan urusan saya’, iya nggak sih?

.
Tapi sekali ini saya sungguh-sungguh tidak tahan melihat kenyataan di depan mata yang sebenarnya sudah lama sekali mengganggu pikiran saya.

.

Mau tahu apa?
Saya tidak tahan melihat anak 6 tahun sedang di”kerjain” rambut panjangnya di salon, setelah di creambath. Rambut itu sedang ‘dipotong dalam’ karena mau di buat “curly”.. Anak itu tidak habis-habisnya memandang kaca dengan menggerak-gerakkan wajahnya dan tersenyum. Selain dia ada dua anak lagi yang berusia setahun – dua di atas usianya. Yang satu juga di creambath dan yang satu lagi : Dicabutin telur kutu di helai-helai rambutnya.

.
Dari wawancara pendek dengan petugas di salon itu saya ketahui bahwa anak-anak ini dibawa secara regular oleh orangtuanya ke salon tersebut, minimal sebulan sekali. Yang paling menarik adalah yang dibersihin telur kutunya itu, karena menurut petugas ini anak itu dibawa ke salon karena menolak untuk dilakukan oleh Ibunya. Dia hanya mau kalau dikerjakan disalon. ”Berapa umur anak itu?” tanya saya. “Delapan tahun Bu,” jawab petugas itu. Otomatis meluncur dari mulut saya : ”Wow! 8 tahun saja Ibunya sudah KEHILANGAN KATA sama anaknya bagaimana kalau dia berusia 12 tahun dan lebih besar lagi ya?” “Tahu deh, Bu,” jawab petugas itu.
Pengasuhan itu Membentuk kebiasaan dan Meninggalkan kenangan!

.
Bagi teman-teman yang sudah lama bergaul dengan saya dan YKBH, pasti sudah hafal benar dengan kata-kata saya ini. Kebiasaan apalah yang ingin ditinggalkan oleh Ibu itu pada anaknya diusia yang sangat dini itu, kecil-kecil sudah membiasaan anaknya perawatan ke salon?

.
Apakah ini sekedar ‘hype’nya punya anak perempuan? Sebagai mana ‘hype’nya Ayah pengen punya anak lelaki biar ada teman main atau nonton bola, jamaah ke masjid, dsbnya ?

.

Tidakkah ibu ini berfikir bahwa, ini akan jadi kebiasaan anaknya nanti, padahal hidup ke depan tidak selamanya akan senang dan punya uang? Suaminya belum tentu sekaya ayahnya? Hari itu kan akan di “gilir-gilir” kan oleh Allah? Ibu ini sedang menciptakan “life style” apa ya untuk masa depan anaknya?
Rambut anak-anak kan masih se-bening kulitnya yang kita sebut : kulit bayi? Tidakkah sadar Ibu itu bahwa semua yang dikenakan ke rambut dan kulit kepala anaknya mengandung unsur kimia? Bukannya mereka masih dalam kelompok yang masih pake shampoo yang khusus untuk anak anak? Perlu sedini itukah?
Pertanyaan berikutnya yang muncul dibenak saya mengamati anak-anak ini adalah tetang “konsep cantik” yang bagaimana yang ingin di tanamkan ibu ini pada anaknya. Cantik fisik dulu ya? Atau memang cantik fisik jadi ukuran utama? Saya kawatir apa lagi mendengar kata-kata anak itu, terkesan soal cantik jiwa dan cantik budi belum kesentuh dengan baik. Maklum saja usia mereka baru 6-8 th! Bukankah anak-anak ini sebenarnya masih sangat perlu diajarkan untuk keramas sendiri dengan benar dan baik. Menjaga kebersihan tubuh, kamar dan lingkungan dekatnya. Bukankah anak-anak ini lebih perlu diperkenalkan kepada kemampuan berfikir kritis tentang kecantikan yang dianugrahi Allah kepadanya dan jangan sampai merasa sombong karenanya?

.
Heran dan tak habis pikir saya apa sebenarnya yang ada di pikiran Ibu-Ibu ini, mengapa anaknya digesa-gesakan benar jadi dewasa. Saya kawatir, jangan-jangan setelah rambut curly, lalu di foto dan kemudian dimasukkan ke instagram. Tidak jelas tujuannya apa.

.
Banyak Ibu yang memamerkan anaknya dengan sengaja di instagram. Kegiatan yang tak bisa dilepaskan dengan perasaan bangga, dan lupa bahwa bangga dekat benar dengan sombong. Banyak juga yang mungkin gak sempat tahu bahwa : ”sombong itu selendangnya Allah dan Allah tidak suka bila ada makhluk lain yang mengenakannya!” Allah akan menyiksanya!

.

Tidak takutkah?
Telur kutu, diselesaikan oleh petugas salon! Ibu patuh sama kemauan anaknya? Alangkah indahnya bila sang Ibu itu sendiri yang menelisik telur-telur kutu itu sambil bercerita bagaimana telur kutu bisa menempel di helai-helai rambut anaknya. Ibu juga bisa mendiskusikan dan berbagi cara dengan anak bagaimana mengatasinya, serta sejibun cerita lain. Bukankah itu mengakrabkan hubungan, mendekatkan hati dan menghangatkan jiwa.

.
Telur kutu sebenarnya cerita lama, dari saya kecil. Heran di zaman sudah begitu modern masih ada saja. Sebagai pelaku riset pasar, ketika muda dulu saya sempat membantu Richardson Vicks melakukan penelitian karena mereka ingin memproduksi obat kutu. Sayapun pernah berkutu ketika saya SD. Teringat oleh saya sampai kini bagaimana Ibu saya duduk menyisir rambut saya dengan ”serit” sisir khusus untuk kutu, kemudian membalur rambut saya dengan “peditox”, lalu membungkusnya dengan rapih pakai handuk putih yang khusus dibelinya. Lalu sambil menunggu kutu-kutu itu mati dan menempel dihanduk, Ibu saya bercerita dan kami merencanakan apa yang dilakukan selanjutnya sambil ketawa-ketawa. Malamnya sampai sekarang saya bisa mengingatnya dengan jelas dan merasakan kelembutan tangan nenek saya yang menelusuri sehelai demi sehelai rambut saya sampai saya tertidur.. Menurut saya itu kenangan sangat indah!

.

Semoga Allah melapangkan kubur Ibu dan Nenek saya tercinta, dan melindungi beliau dari azab kubur.
Hehehe… sekali lagi ini memang bukan urusan saya.

.

Hanya ingin berbagi kebingungan dan keprihatinan saja, kok semakin hari “common sense” atau akal sehat semakin menjauh dari sementara Ibu-Ibu muda. Kekhawatiran satu lagi adalah : semua ini jangan jangan LUPUT dari perhatian sang Ayah .. yah sudahlah…

.
#YayasanKitadanBuahHati

#EllyRismanParentingInstitute

#ParentingEraDigital
Sumber : wa

Meng-aqil Baligh-kan Anak


oleh :  Adriano Rusfi, Psi.

.
_Libatkan anak dalam masalah_
Saya baru punya mobil usia 42 tahun. Rumah baru punya 2 tahun lalu, sebelumnya ngontrak.
Dulu saat usia saya 28 tahun, teman-teman saya bilang, _“Lu makanya yang fokus dong cari duit.”_

.
Saya cuek saja, saya memilih fokus mendidik anak. Saya percaya dengan prinsip “Life begin at forty”. Bagaimana pun waktu bersama dengan anak tidak akan bisa diulang saat anak2 sudah dewasa.

.
Kalau sekarang teman-teman saya kagum dan bilang, _“Lu hebat banget sih?”_

.
Saya sekarang bisa membalas, _“Mungkin dulu Lu kecepetan fokus sih.”_

.
Karena setelah menikah dan mempunyai anak, saya memilih fokus untuk mendidik anak-anak saya.

.
*Supaya beban finansial saya cepat beres, saya fokus meng-aqilbaligh-kan anak-anak.*

.
Anak saya dari usia SMP sudah menjadi loper koran, membuka jasa servis tamiya, membantu scoring lembar psikotest.

.
Saya memberikan syarat jika anak meminta sesuatu, maka 10% haruslah memakai uangnya sendiri. Sehingga setiap permintaan anak saya akan dimulai dengan pertanyaan: “Abi ada duit nggak?”
Ketika anak saya ingin sepeda motor, saya katakan, “Bebas boleh pilih yang mana saja, asal 10% uang sendiri.”

.
Anak saya jadi berpikir juga. Yang 16 juta, harus ada 1,6 juta. Akhirnya anak saya memilih yang 9 juta saja, karena merasa mampu menyediakan 10%-nya. Abi nya senang, anak senang.

.
Ketika anak meminta barang baru sementara barang yang lama masih bisa dipakai, saya hanya katakan, 

_”Harusnya kamu bersyukur abi sudah belikan yang itu dan kamu masih bisa gunakan itu.”_

.
Salah satu cara mendidik anak menjadi Aqil Baligh adalah dengan tidak menyembunyikan masalah dari anak. Rem masa baligh anak dengan membantu orang tua menyelesaikan masalahnya.

.
*Jadi kurang tepat juga ketika mengatakan, “Biar Ayah saja yang menderita, kamu belajar saja yang rajin.”*

.
Itu adalah kalimat kurang ajar. Bukti bahwa si Ayah Egois. Mengapa si ayah tidak mengijinkan anaknya mengikuti jalan suksesnya? Tidak ada sejarahnya orang sukses hanya dari gelimangan kemudahan.
Konglomerat Tionghoa itu sadis-sadis sama anaknya. Kalau anak mereka minta macam-macam, jawabnya “Sudah bagus Bapak kasih segitu.”

.
Kita saja yang Melayu ini suka memanjakan anak. Ada tetangga saya Tionghoa yang pengusaha kaya raya. Ketika hujan, ia memberikan payung buat anaknya supaya jadi ojek payung.

.
Ketika anak saya sudah memasuki usia aqil baligh, anak saya beritahu. “Kamu ini sebenarnya sudah bisa abi suruh pindah, tapi sekarang masih boleh tinggal dirumah. 

.

Hanya kamu statusnya numpang. Numpang makan, numpang tidur. Jadi tahu diri ya sebagai penumpang. Baik-baik sama tuan rumah.”

.

Maka anak pun akan berusaha mematuhi tata tertib untuk tidak pulang malam, dll.

.
Hadapkan anak dengan berbagai masalah dan harus mencari solusinya sendiri adalah bagian dari upaya meng-aqilbaligh-kan anak kita. Ajari anak cari uang, ajari anak berorganisasi. Libatkan anak dengan masalah.

.
Anak mulai bisa diajarkan kemandirian saat usia di atas 7 tahun. Itu sudah fitrahnya. Didik anak dengan penuh optimis, tidak perlu rekayasa. Dan jangan lupa untuk meminta kepada Allah melengkapi kekurangan kita dalam mendidik anak-anak.

.
#PendidikanAqilBaligh

#SeniMendidikAnak

#GoodJob

#SmartAndReligius
.
Sumber : FB

​PERASAAN YANG TERABAIKAN

Elly Risman, Psi

.
Direktur, Psikolog, dan Trainer Yayasan Kita dan Buah Hati

.
“Diaaam !.. Diam Mama bilang! Cengeng banget sih gak berhenti-berhenti nangis dari tadi.. Kalau Mama sudah gak sabar nanti Mama pukul kamu!“

“Tau kenapa Mama gak suka sama kamu? Kalau nangis lama, dibilangin gak denger, gak kayak adikmu! Paham?” Ujar Bu Tini pada anaknya yang sulung berusia 5,5 tahun sambil mendorong kepala anaknya…

.
Terkesan familiar?

Bukan hanya Bu Tini tapi banyak ibu-ibu lain sering sekali merasa tak mampu mengendalikan emosinya menghadapi anak-anaknya, tanpa tahu mengapa mereka merasakan seperti itu. Umumnya bila sudah marah panjang lebar bahkan melengkapinya dengan nolak kepala seperti yang dilakukan Bu Tini, ada juga dengan mencubit bahkan memukul, mereka umumnya menyesal bahkan gak jarang menangis di kamar tidurnya. Apalagi kalau sudah malam, semua sudah tenang dan dia mengamati atau memandangi anaknya yang pulas tertidur dan nampak benar keluguan dan kepolosannya..

“Ya Allah kenapa aku marahi dan pukuli anakku ya Allaaah,” keluhnya sambil menciumi anaknya sementara air mata terus berurai. Penyesalan tak pernah datang diawal….

.
BEGINILAH JADINYA BILA TAK ADA PERSIAPAN
Umumnya, jarang sekali ayah dan ibu memiliki kesiapan atau dipersiapkan oleh orang tuanya untuk menjadi orang tua. Kalau dulu, ketika beban pelajaran belum seberat sekarang dan jam belajar belum lagi diatas 8 jam sehari, anak-anak masih punya kesempatan untuk bersama dengan anggota keluarga dirumah. Sehingga kalau tidak terlibat dalam membantu kakak atau tantenya yang punya anak kecil, anak-anak masih dimintai tolong untuk membantu mengasuh atau menolong adiknya.

.
Tapi situasi kini jauh berubah. Anak-anak sekolah pada usia yang lebih dini, mata pelajaran yang padat, jam belajar yang panjang dan tugas sejibun. Pulang, lelah jiwa raga. Main games, nonton TV, kerjakan tugas, lalu tidur. Jarang ada kesempatan untuk dialog dan bercengkrama dalam keluarga. Apalagi kalau kedua orang tua bekerja pula dan pulang selalu lebih telat dari waktu anak tiba dirumah. Bayangkan!

.
Tiba-tiba tak terasa anak sudah lulus sekolah menengah, mahasiswa atau sudah jadi sarjana dan waktu menikah pun tiba. Dari mana ada persiapan menjadi suami istri, apalagi ibu dan ayah? Tahu-tahu sudah punya anak saja. Karena kurang pengetahuan, sengaja atau ‘kesundulan’ : ada dua balita dalam keluarga. Huih!

.
Apa yang paling hilang dari pengasuhan seperti yang diuraikan diatas adalah kesempatan untuk mendengarkan perasaan anak. Andainya saja orang tua tahu, bagaimana pentingnya perasaan itu perlu didengarkan, mereka akan berjuang untuk punya waktu dan berdialog dan membicarakan soal “rasa“ dengan anaknya.
Bisakah Anda bayangkan, apa jadinya dengan anak Bu Tini di atas yang sejak usia balita ibunya suka berteriak, marah, memerintah (diam!), mengecap (cengeng banget), mengancam (mama pukul nanti), menyalahkan (gak suka sama kamu, gak denger), membandingkan (gak kayak adikmu)??..

.
Apakah cara pengasuhan seperti ini, memungkinkan bagi orang tuanya untuk menunjukkan perhatian dan mempedulikan perasaan anaknya? Kemana anak ini akan membawa atau mengadukan derita rasa atau jiwanya kalau orang tuanya terus menerus menggunakan cara pengasuhan serupa ?

.

Itukan baru sekali! biasanya berapa kali dalam sehari? dan sudah berapa lama..? Itu anak siapa ya?

Jadi bagaimana ya kalau nanti dia jadi ibu atau ayah pula? Bila orang tuanya terbiasa kalau marah seperti itu, tidakkah anak ini akan mengulang semua apa yang dia terima ini dengan OTOMATIS terhadap anaknya pula nanti?
Berkata seorang ahli : “Hati-hati mengasuh anakmu. Perbaiki pola pengasuhanmu sebelum anakmu baligh. Karena engkau sedang salah mengasuh cucumu!”
Bagaimana mungkin?

.
Bagaimana mungkin merubah cara mengasuh, kalau kita :
1. Tidak menyadari bahwa pola asuh yang kita lakukan adalah pengulangan otomatis dari apa yang diterima dulu dan belum mampu memutus mata rantainya.
2. Tidak mengenali pola asuh yang bagaimana yang terjadi dengan pasangan kita, mengapa dia suka bersikap dan memiliki cara pengasuhan bahkan cara berfikir yang berbeda dengan kita? Mengenali dan menyesuaikan diri dengan semua perbedaan itu tidaklah mudah, biasanya memerlukan waktu 5 – 10 tahun. Tergantung bisa di dialogkan dan mau mencari pertolongan ahli atau tidak, bisa dicari titik temu atau tidak. Sementara anak nambah terus… Marah sama pasangan, malah anak yang jadi korban, iya kan?
3. Apalagi kalau pernikahan itu sudah bermasalah dari awal, tidak disetujui kedua belah pihak, atau hanya sebelah saja, ada kesalahan dilakukan sebelum perkawinan yang menimbukan penolakan dari salah satu keluarga atau anggotanya.
4. Tidak mengerti sama sekali tahapan perkembangan dan tugas perkembangan anak : Usia sekian anak harusnya sudah mampu melakukan apa dan bagaimana merangsangnya.
5. Tidak faham bahwa bahwa otak anak ketika lahir belum bersambungan dengan sempurna, sehingga kemampuannya terbatas, dan banyak hal mereka belum mengerti. Begitu sambungan mencapai trilliunan pada usia 2.5 tahun, anak mulai belajar menunjukkan dirinya. Tapi ketidakpahaman membuat orang tua mematahkan semangat anak dan tidak memberinya kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya dengan sering menjadi > ayah atau mama “sini” : “Sini mama bantuin, Sini ayah tolongin…”
6. Begitu anak sudah 4 tahun bisa berpura-pura dan berkhayal dikomentari : “bohong, mengada-ada saja,” dll. Atau bila mereka memberikan pendapatnya orangtua mengatakan “dia sudah bisa membantah dan tidak patuh lagi!“ Hoalllah… Kasiannya tuh anak!
7. Orang tua tidak tahu bahwa :

Pusat perasaan di otak, berkembang lebih dulu dari pusat kognitifnya. Karena terburu-buru ingin anak jadi pintar dan masuk sekolah, usia dini sudah dileskan Calistung, usia 6 tahun masuk SD. Kadang-kadang ini dilakukan karena di rumah sudah ada 2-3 adiknya!
8. BKKBN dan Kelompok Neurosaince Terapan pernah menyarankan agar dihindari sedapat mungkin untuk ada dua balita dalam keluarga, karena sangat mengkonsumsi jiwa, pikiran dan tenaga ibu. Apalagi kalau kedua orang tua bekerja dan anak di “subkontrakkan” kepada orang lain. Bayangkan apa jadinya dengan anak itu?

.
Jika anak saja tidak mendapatkan kesempatan untuk didengarkan perasaannya apa lagilah ibunya?

Mengapa fungsi berfikir ibu jadi terganggu?

Bagaimana tidak, kalau ibu mengalami semua 8 masalah diatas?

.
Seorang ahli mengatakan bahwa bila seseorang sedang secara fisik sangat lelah, maka emosi mudah naik, sehingga bagian berpikir di otaknya menjadi sempit dan fungsi berpikir terganggu. Kelakuan di dominasi oleh emosi. Kesadaran dan penyesalan akan muncul belakangan setelah emosi reda, letih berkurang.

.
Katherine Ellison, dalam bukunya The Mommy Brain menceritakan hasil risetnya bertahun tahun, bahwa ibu yang baru melahirkan itu normal bila dua bulan pertama mengalami apa yang disebutnya : “Amnesia keibuan, atau pikun kehamilan”. Hal ini terjadi oleh karena kekacauan kimiawi saat hamil dan melahirkan ditambah dengan rasa sakit, kekurangan tidur dan keharusan untuk belajar banyak hal sekaligus tentang mengurus, bayi, diri sendiri dan tetap memperhatikan lingkungan. Bila Anda lengah sekejap saja, bisa menimbulkan akibat yang sangat mengerikan.

.
Allison mengemukakan juga bahwa di Inggris keadaan ini disebut sebagai : Otak Bubur, di Australia : “Otak Plasenta” dan “Otak mami” di Jepang . Bayangkanlah kalau di bulan ketiga ibu ini sudah hamil lagi…

.
Jadi untuk membantu bagaimana agar ibu “tidak emosian” dalam mengasuh anak-anaknya, semua orang disekitarnya, terutama para ayah dan orang tua hendaknya mengerti akan 8 hal yang umumnya dihadapi oleh seorang ibu berikut “amnesia atau pikun keibuan” di atas dan jangan abaikan perasaannya.

.
Diatas segalanya, ibu itu sendiri harus mampu mengenali dirinya dan berupaya memahami sepenuhnya serta berdamai dengan masa lalunya dengan memaafkan semua yang terjadi. Selain itu ia harus berusaha mengerti apa yang terjadi dengan pasangannya dan orang di sekitarnya. Jangan karena tak mau berdamai dengan sejarah hidup, kesal dengan orang sekitar : suami dan anggota keluarga, anak yang dijadikan korban.

.

Anak tertekan, tak dimengerti dan tak didengarkan perasaannya adalah bencana di hari tua dan akhirat Anda..

.
Dari risetnya tentang otak para ibu, Allison menunjukkan bahwa dengan menjadi ibu, Anda menjadi lebih pintar dan cerdas dari apa yang kita fikirkan! Ada lima sifat otak yang dirangsang oleh bayi Anda: Persepsi, Efisiensi, Daya tahan, Motivasi, dan Kecerdasan emosi..

.
Jadi apalagi dear? : manfaatkan Mommy Brain Anda!

.
Selamat berjuang untuk menyelesaikan urusan dengan diri sendiri sebelum Anda menyelesaikan urusan anak dan keluarga anda. Putuskan mata rantai itu.

.
Mulailah dengan belajar mendengarkan dan menerima perasaan anak Anda…

Selamat Berbahagia ..
Salam hangat,

Elly Risman, Psi

.
#YayasanKitadanBuahHati

#ParentingEraDigital

#EllyRismanParentingInstitute
.
Sumber : FB

FITRAH SEKSUALITAS

​By: Elly Risman Musa

.
Punya suami yang kasar? Kaku? 

 Garing dan susah memahami perasaan istrinya? Tidak mesra dgn anak? Coba tanyakan, beliau pasti tak dekat dengan ibunya ketika masa anak sebelum aqilbaligh.
Punya suami yang “sangat tergantung” pada istrinya? Bingung membuat visi misi keluarga bahkan galau menjadi ayah? Coba tanyakan, beliau pasti tak dekat dengan ayahnya ketika masa anak. 

.
Kok sebegitunya? 

.
Ya! karena figur ayah dan ibu harus ada sepanjang masa mendidik anak anak sejak lahir sampai aqilbaligh, tentu agar fitrah seksualitas anak tumbuh indah paripurna.

.
Pendidikan fitrah seksualitas berbeda dengan pendidikan seks. Pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak bayi lahir.

.
Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati.

.
 Menumbuhkan Fitrah ini banyak tergantung pada kehadiran dan kedekatan pada Ayah dan Ibu. 

.
Riset banyak membuktikan bahwa anak anak yang tercerabut dari orangtuanya pada usia dini baik karena perang, bencana alam, perceraian, dll akan banyak mengalami gangguan kejiwaan, sejak perasaan terasing (anxiety), perasaan kehilangan kelekatan atau attachment, sampai kepada depresi. Kelak ketika dewasa memiliki masalah sosial dan seksualitas seperti homoseksual, membenci perempuan, curiga pada hubungan dekat dsbnya.

.
Jadi dalam mendidik fitrah seksualitas, figur ayah ibu senantiasa harus hadir sejak lahir sampai AqilBaligh. Sedangkan dalam proses pendidikan berbasis fitrah, mendidik fitrah seksualitas ini memerlukan kedekatan yang berbeda beda untuk tiap tahap. 
Usia 0-2 tahun, anak lelaki dan perempuan didekatkan pada ibunya karena ada menyusui, di usia 3 – 6 tahun anak lelaki dan anak perempuan harus dekat dengan ayah ibunya agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional apalagi anak sudah harus memastikan identitas seksualitasnya sejak usia 3 tahun. 
Kedekatan paralel ini membuat anak secara imaji mampu membedakan sosok lelaki dan perempuan, sehingga mereka secara alamiah paham menempatkan dirinya sesuai seksualitasnya, baik cara bicara, cara berpakaian maupun cara merasa, berfikir dan bertindak sebagai lelaki atau sebagai perempuan dengan jelas. Ego sentris mereka harus bertemu dengan identitas fitrah seksualitasnya, sehingga anak di usia 3 tahun dengan jelas mengatakan “saya perempuan” atau “saya lelaki”

.
Bila anak masih belum atau tidak jelas menyatakan identitas gender di usia ini (umumnya karena ketiadaan peran ayah ibu dalam mendidik) maka potensi awal homo seksual dan penyimpangan seksualitas lainnya sudah dimulai. 
Ketika usia 7 – 10 tahun, anak lelaki lebih didekatkan kepada ayah, karena di usia ini ego sentrisnya mereda bergeser ke sosio sentris, mereka sudah punya tanggungjawab moral, kemudian di saat yang sama ada perintah Sholat. 

.
Maka bagi para ayah, tuntun anak untuk memahami peran sosialnya, diantaranya adalah sholat berjamaah, berkomunikasi secara terbuka,  bermain dan bercengkrama akrab dengan ayah sebagai aspek pembelajaran untuk bersikap dan bersosial kelak, serta menghayati peran kelelakian dan peran keayahan di pentas sosial lainnya. 

.
Wahai para Ayah, jadikanlah lisan anda sakti dalam narasi kepemimpinan dan cinta, jadikanlah tangan anda  sakti dalam urusan kelelakian dan keayahan. Ayah harus jadi lelaki pertama yang dikenang anak anak lelakinya dalam peran seksualitas kelelakiannya. Ayah pula yang menjelaskan pada anak lelakinya tatacara mandi wajib dan konsekuensi memiliki sperma bagi seorang lelaki.

.
Begitupula anak perempuan didekatkan ke ibunya agar peran keperempuanan dan peran keibuannya bangkit. Maka wahai para ibu jadikanlah tangan anda sakti dalam merawat dan melayani, lalu jadikanlah kaki anda sakti dalam urusan keperempuanan dan keibuan. 

.
Ibu harus jadi wanita pertama hebat yang dikenang anak anak perempuannya dalam peran seksualitas keperempuanannya. Ibu pula orang pertama yang harus menjelaskan makna konsekuensi adanya rahim dan telur yang siap dibuahi bagi anak perempuan.
Jika sosok ayah ibu tidak hadir pada tahap ini, maka inilah pertanda potensi homoseksual dan kerentanan penyimpangan seksual semakin menguat.

.
Lalu bagaimana dengan tahap selanjutnya, usia 10 – 14? Nah inilah tahap kritikal, usia dimana puncak fitrah seksualitas dimulai serius menuju peran untuk kedewasaan dan pernikahan.

.
Di tahap ini secara biologis, peran reproduksi dimunculkan oleh Allah SWT secara alamiah, anak lelaki mengalami mimpi basah dan anak perempuan mengalami menstruasi pada tahap ini. Secara syahwati, mereka sudah tertarik dengan lawan jenis. 

.
Maka agama yang lurus menganjurkan pemisahan kamar lelaki dan perempuan, serta memberikan warning keras apabila masih tidak mengenal Tuhan secara mendalam pada usia 10 tahun seperti meninggalkan sholat. Ini semua karena inilah masa terberat dalam kehidupan anak, yaitu masa transisi anak menuju kedewasaan termasuk menuju peran lelaki dewasa dan keayahan bagi anak lelaki, dan peran perempuan dewasa dan keibuan bagi anak perempuan.

.
Maka dalam pendidikan fitrah seksualitas, di tahap usia 10-14 tahun, anak lelaki didekatkan ke ibu, dan anak perempuan didekatkan ke ayah. Apa maknanya?

.
Anak lelaki didekatkan ke ibu agar seorang lelaki yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka di saat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok wanita terdekatnya, yaitu ibunya, bagaimana lawan jenisnya harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata perempuan bukan kacamata lelaki. Bagi anak lelaki, ibunya harus menjadi sosok wanita ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.

.
Anak lelaki yang tidak dekat dengan ibunya di tahap ini, tidak akan pernah memahami bagaimana memahami perasaan, fikiran dan pensikapan perempuan dan kelak juga istrinya. Tanpa ini, anak lelaki akan menjadi lelaki yg tdk dewasa, atau suami yang kasar, egois dsbnya.

.
Pada tahap ini, anak perempuan didekatkan ke ayah agar seorang perempuan yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka disaat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok lelaki terdekatnya, yaitu ayahnya, bagaimana lelaki harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata lelaki bukan kacamata perempuan. Bagi anak perempuan, ayahnya harus menjadi sosok lelaki ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.

.
Anak perempuan yang tidak dekat ayahnya di tahap ini, kelak berpeluang besar menyerahkan tubuh dan kehormatannya pada lelaki yang dianggap dapat menggantikan sosok ayahnya yang hilang dimasa sebelumnya.
Semoga kita dapat merenungi mendalam dan menerapkannya dalam pendidikan fitrah seksualitas anak anak kita, agar anak anak lelaki kita tumbuh menjadi lelaki dan ayah sejati, dan agar anak anak perempuan kita tumbuh menjadi perempuan dan ibu sejati.

.
Agar para propagandis homo seksualitas tidak lebih pandai menyimpangkan fitrah seksualitas anak anak kita daripada kepandaian kita menumbuhkan fitrah seksualitas anak anak kita. Agar ahli kebathilan gigit jari berputus asa, karena kita lebih ahli dan berdaya mendidik fitrah anak anak kita.

.
Salam Pendidikan Peradaban 
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
Sumber : WA