Permintaan Anak

​Ada 13 permintaan anak yang mungkin tidak pernah mereka ucapkan:..*
1. Cintailah aku sepenuh hatimu.
2. Jangan marahi aku di depan orang banyak.:evil:
3. Jangan bandingkan aku dengan Kakak atau adikku atau orang lain.👐
4. Ayah Bunda jangan lupa, aku adalah fotocopy-mu.
5. Kian hari umurku kian bertambah, maka jangan selalu anggap aku anak kecil.🙇
6.  Biarkan aku mencoba, lalu beritahu aku bila salah.
7. Jangan ungkit-ungkit kesalahanku.🙈

8. Aku adalah Ladang Pahala bagimu.🎁
9. Jangan memarahiku dengan mengatakan hal-hal buruk, bukankah apa yang keluar dari mulutmu sbgai orang tua adalah doa bagiku?:|
10. Jangan melarangku hanya dengan mengatakan “JANGAN” tapi berilah penjelasan kenapa aku tidak boleh melakukan sesuatu.😇
11. Tolong ayah ibu, jangan rusak mentalku dan pemikiranku dengan selalu kau bentak-bentak aku setiap hari.
12. Jangan ikutkan aku dalam masalahmu yang tidak ada kaitannya denganku. Kau marah sama yang lain, aku imbasnya.
13. Aku ingin kau sayangi cintai karena engkaulah yang ada dikehidupanku dan masa depanku.
“SEMOGA BERMANFAAT, BAGI PARA ORANG TUA”
Sumber : WAG

Advertisements

​6 KESALAHAN SAAT MENGHADAPI MASA GTM ANAK

By : Amalia Sinta
Dear Mak Emak Sayang,

Berkaitan dengan masalah GTM (Gerakan Tutup Mulut) alias sulit makan pada anak, maaf yang japri belum semuanya sempat saya jawab. Saya coba jelasin di tulisan ini ajah ya, semoga bisa membantu.
FYI, anak saya bukannya gak pernah GTM lowh. Tera pernah males makan selama hampir 2 bulan waktu umur 1,5 tahun. Tapi saya tanamkan di pikiran bahwa dia gak GTM, tapi lagi bosen ajah sama masakan saya yang itu-itu ajah hahaha..
Meski sebetulnya saya gak terlalu bisa masak, tapi terpaksa putar otak cari kreatifitas dalam mengolah makanan. Setelah berjuang di dapur dengan aneka resep baru, apa anaknya mau makan?
Tetep gak mauu! 😅😅
Dan setelah trial n error menu, tau gak dia mau makannya apa?
Nasi putih hangat dikasih parutan keju! Wkwkwk..
Dia makan itu doank selama sebulan.Tapi selama itu, buah tetep masuk.
Saya gak pernah memaksa secara berlebihan agar anak mau makan. Cuma masuk beberapa suap, ya udah gpp. Tapi tetap dicoba dan saya kasih contoh makan di depannya. 
Pelan-pelan, nafsu makan Tera pulih. Dia mulai mau makan sop ayam, ikan goreng, dan menu lainnya.
Saya seringkali menemukan orang tua yang melakukan hal yang kurang tepat untuk mengatasi GTM pada anak, malah berujung trauma dan anak makin sulit makan.
Berikut saya ulas ya :
6 KESALAHAN DALAM MENGHADAPI MASA GTM ANAK :

1. Memaksa Anak Makan Dengan Cara Tidak Wajar

Gak sekali dua kali saya temui di grup emak-emak, ada yang memakai cara berlebihan untuk memaksa anak makan. Seperti mencekoki paksa makanan ke mulut anak, nangis tetep disuapi, bahkan sampai mengikat badan anak 😰
Hal-hal semacam ini berbahaya ya Mak. Anak bisa tersedak. Makanan dan minuman bisa masuk ke saluran nafas dan bisa fatal sampai meninggal.
Selain itu, jelas akan menimbulkan trauma. Anak butuh makan 3x sehari. Kebanyang gak stress nya anak kalo selalu dipaksa. Jangan sampai dia merasa kegiatan makan adalah penyiksaan. Kasian kaan..

2. Memberi Label “Susah Makan” Pada Anak

Saya sering sekali bertemu orangtua yang menyebut : “anak saya susah makan”, bahkan di depan anaknya.

Tau gak, kalo label yang sering diucapakan ke anak, akan mengendap ke bawah sadarnya?
Itu membuat anak terus menerus menolak makan, karena dia menganggap bahwa memang benar, dirinya adalah anak yang susah makan, gak suka makan sayur, dsb.
Mulai sekarang, yuk coba berhenti mengucapkannya Mak.
Ganti dengan bilang :

“adek anak yang pintar makannya”.

“adek suka makan, ini enak, adek suka makan ini (sebut nama makanannya).
Konsistenlah merubah label negatif menjadi positif. Biarkan meresap ke bawah sadar anak, termasuk emaknya, pengasuhnya ataupun neneknya. Amati hasilnya, akan ada perubahan perilaku anak soal makanan.

3. Menyuruh Tanpa Memberi Contoh Nyata

Menyuruh anak makan sayur, sedangkan ortunya engga. Ya kebanyang donk, mana mau anaknya hehe..
Gak perlu langsung suka semua sayur, mulailah satu dua jenis sayur ajah, dengan porsi sedikit. Makan di depan anak. Anakpun akan mengekor. Lama-lama bisa ditambah porsinya.

4. Jadwal Makan Tidak Teratur

Anak yang jam makannya berantakan, akan sulit mengenal “rasa lapar”. Jadi gak jelas kapan alarm lapar dalam tubuhnya berbunyi. Itu sebabnya anak susah makan.
Apalagi jika terbiasa ngemil apapun, kapanpun. Perut anak itu belum muat banyak, sayang kalau hanya diisi jajan tanpa gizi. Giliran tiba waktu makan besar, perut dah penuh.
Oya terlalu banyak minun susu juga bikin males makan ya Mak. Karena susu itu mengenyangkan. Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), untuk anak usia diatas 1 tahun, konsumsi susu maksimal 500 ml perhari ajah.
Dan jangan pula terlalu sering menawarkan makan pada anak. Dikit-dikit disuruh makan, bentar-bentar disuapin. Bosen kali Mak hehe.. Kecuali anak yang emang lagi program penggemukan, emang dijadwalkan makan besar sampai 6x sehari dalam porsi kecil.
Aturlah jam makan besar dan jam makan cemilan. Kalau saya, makan besar pukul 8,12 dan 19.00. Makan cemilan pukul 10 dan 16.00.
Diluar jam itu, anak-anak gak makan apapun. Saya gak sedia cemilan kemasan di rumah, cukup buah potong segar, roti, jus atau susu sebagai selingan.

5. Memaksa Anak Makan Dengan Rapi

Ya kali ada anak yang langsung bisa makan dengan rapi hehe..

Ga ada, Mak. Setiap anak perlu diberi kesempatan untuk berantakan saat belajar makan. Usia setahun dua tahun motoriknya belum sempurna, gerakan memasukkan makanan ke mulut sering meleset. Kalo dimarahi pas ada yang tumpah, anak malah males makan.
Nanti semakin besar anak, dia akan mampu makan dengan rapi dan jadi mandiri makan sendiri.
Sekarang emaknya tinggal memperbanyak stok tenaga, stok sabar dan stok lap pel hehe..

6. Membandingkan Dengan Anak Lain

Tiap anak itu berbeda. Jadi gak perlu baper liat anak tetangga yang ginuk-ginuk, sementara anak kita sendiri tampak kurus.
Ingat Mak, anak yang sehat tidak selalu yang gemuk. Anak kuruspun tak masalah. Karena besar kecilnya anak tergantung dari gen orang tuanya juga. Masa mamanya imut, maksa pengen anaknya tinggi besar? Hehe…
Tapi bukan berarti kita adem ayem ajah kalo anak terlalu lama gak nambah berat badannya ya Mak. Karena anak juga perlu tumbuh, artinya berat badan perlu naik. Pantau grow chart untuk memastikan anak tidak gagal tumbuh.
Jika dirasa stuck, saya menyarankan untuk konsultasi dengan dokter spesialis anak atau dokter tumbuh kembang. Agar didapat permasalahan sekaligus solusinya.
Mungkin saja anak kita terkena ADB (Anemia Defisiensi Besi), mungkin ada gangguan pencernaan yang bikin nutrisi sulit terserap, mungkin tidak nambah beratnya karena sering sakit, atau karena sebab lainnya.
Nah segini dulu ulasan tentang GTM ya Mak. Besok saya sambung lagi dengan tips agar anak mau makan. 
Oya tabel yang saya upload ini adalah Standar Antropometri dari Kementrian Kesehatan tentang berat badan ideal balita. Silahkan di cek n ricek BB anak kita masing-masing ya Mak.

Ada juga tabel tinggi badan, silahkan bisa download sendiri di : http://www.gizi.depkes.go.id
Semangat ya Mak

Semoga masa GTM segera berlalu..
#SharingnyaSinta
*SHARE gak perlu izin
Sumber : FB

​ANAK ADALAH ASURANSI TERBAIK

Oleh : Ust. Budi Ashari. Lc

 

Bukti cinta orang tua sepanjang jalan adalah mereka memikirkan masa depan anaknya. Mereka tidak ingin anak-anak kelak hidup dalam kesulitan. Persiapan harta pun dipikirkan masak-masak dan maksimal.
Para orang tua sudah ada yang menyiapkan tabungan, asuransi bahkan perusahaan. Rumah pun telah dibangunkan, terhitung sejumlah anak-anaknya. Ada juga yang masih bingung mencari-cari bentuk penyiapan masa depan terbaik. Ada yang sedang memilih perusahaan asuransi yang paling aman dan menjanjikan. Tetapi ada juga yang tak tahu harus berbuat apa karena ekonomi hariannya pun pas-pasan bahkan mungkin kurang.
Bagi yang telah menyiapkan tabungan dan asuransi, titik terpenting yang harus diingatkan adalah jangan sampai kehilangan Allah. Hitungan detail tentang biaya masa depan tidak boleh menghilangkan Allah yang Maha Tahu tentang masa depan. Karena efeknya sangat buruk. Kehilangan keberkahan. Jika keberkahan sirna, harta yang banyak tak memberi manfaat kebaikan sama sekali bagi anak-anak kita.
Lihatlah kisah berikut ini:
Dalam buku Alfu Qishshoh wa Qishshoh oleh Hani Al Hajj dibandingkan tentang dua khalifah di jaman Dinasti Bani Umayyah: Hisyam bin Abdul Malik dan Umar bin Abdul Aziz. Keduanya sama-sama meninggalkan 11 anak, laki-laki dan perempuan. Tapi bedanya, Hisyam bin Abdul Malik meninggalkan jatah warisan bagi anak-anak laki masing-masing mendapatkan 1 juta Dinar. Sementara anak-anak laki Umar bin Abdul Aziz hanya mendapatkan setengah dinar.
Dengan peninggalan melimpah dari Hisyam bin Abdul Malik untuk semua anak-anaknya ternyata tidak membawa kebaikan. Semua anak-anak Hisyam sepeninggalnya hidup dalam keadaan miskin. Sementara anak-anak Umar bin Abdul Aziz tanpa terkecuali hidup dalam keadaan kaya, bahkan seorang di antara mereka menyumbang fi sabilillah untuk menyiapkan kuda dan perbekalan bagi 100.000  pasukan penunggang kuda.
Apa yang membedakan keduanya? KEBERKAHAN.
Kisah ini semoga bisa mengingatkan kita akan bahayanya harta banyak yang disiapkan untuk masa depan anak-anak tetapi kehilangan keberkahan. 1 juta dinar (hari ini sekitar Rp 2.000.000.000.000,-) tak bisa sekadar untuk berkecukupan apalagi bahagia. Bahkan mengantarkan mereka menuju kefakiran.
Melihat kisah tersebut kita juga belajar bahwa tak terlalu penting berapa yang kita tinggalkan untuk anak-anak kita. Mungkin hanya setengah dinar (hari ini sekitar Rp 1.000.000,-) untuk satu anak kita. Tapi yang sedikit itu membaur dengan keberkahan. Ia akan menjadi modal berharga untuk kebesaran dan kecukupan mereka kelak. Lebih dari itu, membuat mereka menjadi shalih dengan harta itu.
Maka ini hiburan bagi yang hanya sedikit peninggalannya.
Bahkan berikut ini menghibur sekaligus mengajarkan bagi mereka yang tak punya peninggalan harta. Tentu sekaligus bagi yang banyak peninggalannya.
Bacalah dua ayat ini dan rasakan kenyamanannya,
Ayat yang pertama,
وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ
“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (Qs. Al Kahfi: 82)
Ayat ini mengisahkan tentang anak yatim yang hartanya masih terus dijaga Allah, bahkan Allah kirimkan orang shalih yang membangunkan rumahnya yang nyaris roboh dengan gratis. Semua penjagaan Allah itu sebabnya adalah keshalihan ayahnya saat masih hidup.
Al Qurthubi rahimahullah menjelaskan,
“Ayat ini menunjukkan bahwa Allah ta’ala menjaga orang shalih pada dirinya dan pada anaknya walaupun mereka jauh darinya. Telah diriwayatkan bahwa Allah ta’ala menjaga orang shalih pada tujuh keturunannya.”
Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menukil kalimat Hannadah binti Malik Asy Syaibaniyyah,
“Disebutkan bahwa kedua (anak yatim itu) dijaga karena kesholehan ayahnya. Tidak disebutkan kesholehan keduanya. Antara keduanya dan ayah yang disebutkan keshalihan adalah 7 turunan. Pekerjaannya dulu adalah tukang tenun.”
Selanjutnya Ibnu Katsir menerangkan,
“Kalimat: (dahulu ayah keduanya orang yang sholeh) menunjukkan bahwa seorang yang shalih akan dijaga keturunannya. Keberkahan ibadahnya akan melingkupi mereka di dunia dan akhirat dengan syafaat bagi mereka, diangkatnya derajat pada derajat tertinggi di surga, agar ia senang bisa melihat mereka, sebagaimana dalam Al Quran dan Hadits. Said bin Jubair berkata dari Ibnu Abbas: kedua anak itu dijaga karena keshalihan ayah mereka. Dan tidak disebutkan kesholehan mereka. Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa ia adalah ayahnya jauh. Wallahu A’lam
Ayat yang kedua,
إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ
“Sesungguhnya pelindungku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.” (Qs. Al A’raf: 196)
Ayat ini mengirimkan keyakinan pada orang beriman bahwa Allah yang kuasa menurunkan al Kitab sebagai bukti rahmatNya bagi makhlukNya, Dia pula yang akan mengurusi, menjaga dan menolong orang-orang shalih dengan kuasa dan rahmatNya. Sekuat inilah seharusnya keyakinan kita sebagai orang beriman. Termasuk keyakinan kita terhadap anak-anak kita sepeninggal kita.
Untuk lebih jelas, kisah orang mulia berikut ini mengajarkan aplikasinya.
Ketika Umar bin Abdul Aziz telah dekat dengan kematian, datanglah Maslamah bin Abdul Malik. Ia berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, engkau telah mengosongkan mulut-mulut anakmu dari harta ini. Andai anda mewasiatkan mereka kepadaku atau orang-orang sepertiku dari masyarakatmu, mereka akan mencukupi kebutuhan mereka.”
Ketika Umar mendengar kalimat ini ia berkata, “Dudukkan saya!”
Mereka pun mendudukkannya.
Umar bin Abdul Aziz berkata, “Aku telah mendengar ucapanmu, wahai Maslamah. Adapun perkataanmu bahwa aku telah mengosongkan mulut-mulut anakku dari harta ini, demi Allah aku tidak pernah mendzalimi hak mereka dan aku tidak mungkin memberikan mereka sesuatu yang merupakan hak orang lain. Adapun perkataanmu tentang wasiat, maka wasiatku tentang mereka adalah: ((إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ)). Anaknya Umar satu dari dua jenis: shalih maka Allah akan mencukupinya atau tidak sholeh maka aku tidak mau menjadi orang pertama yang membantunya dengan harta untuk maksiat kepada Allah.” (Umar ibn Abdil Aziz Ma’alim At Tajdid wal Ishlah, Ali Muhammad Ash Shalaby)
Begitulah ayat bekerja pada keyakinan seorang Umar bin Abdul Aziz. Ia yang telah yakin mendidik anaknya menjadi shalih, walau hanya setengah dinar hak anak laki-laki dan seperempat dinar hak anak perempuan, tetapi dia yakin pasti Allah yang mengurusi, menjaga dan menolong anak-anak sepeninggalnya. Dan kisah di atas telah menunjukkan bahwa keyakinannya itu benar.
Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang khalifah besar yang berhasil memakmurkan masyarakat besarnya. Tentu dia juga berhak untuk makmur seperti masyarakatnya. Minimal sama, atau bahkan ia punya hak lebih sebagai pemimpin mereka. Tetapi ternyata ia tidak meninggalkan banyak harta. Tak ada tabungan yang cukup. Tak ada usaha yang mapan. Tak ada asuransi seperti hari ini.
Tapi tidak ada sedikit pun kekhawatiran. Tidak tersirat secuil pun rasa takut. Karena yang disyaratkan ayat telah ia penuhi. Ya, anak-anak yang shalih hasil didikannya.
Maka izinkan kita ambil kesimpulannya:
Bagi yang mau meninggalkan jaminan masa depan anaknya berupa tabungan, asuransi atau perusahaan, simpankan untuk anak-anak dari harta yang tak diragukan kehalalannya.

Hati-hati bersandar pada harta dan hitung-hitungan belaka. Dan lupa akan Allah yang Maha Mengetahui yang akan terjadi.

Jaminan yang paling berharga –bagi yang berharta ataupun yang tidak-, yang akan menjamin masa depan anak-anak adalah: keshalihan para ayah dan keshalihan anak-anak.

Dengan keshalihan ayah, mereka dijaga.
Dan dengan keshalihan anak-anak, mereka akan diurusi,….
Sumber : WAG

Masalah Anak Sering Sakit

​Pernah nonton berita islami masa kini, yg di pandu zaskia adiya mecca sama ustad danu (klo nggak salah ngebahas masalah anak), jadi zaskia blg bahwa saya sudah punya anak 3 nih pak ustad, tp kok saya merasa anak2 sering banget sakit, yaa batuk pilek, demam, alergi dan suka sesak… Kata orang2, mungkin harus ganti nama takut namanya terlalu berat, gmna itu pak ustad”? ustad danu menjawab “anak sakit bukan krn keberatan nama, asal namanya punya arti yg baik tdk perlu diganti, sebenrnya anak yg sakit itu adalah sentilan dr ALLAH SWT “anaknya sakit apa mb zaskia?” zaskia menjawab “batuk pilek pak ustad” kemudian pak ustad menjelaskan… Coba koreksi mb… Saya mau tanya, kira2 dirumah antara mas hanung dan mb zaskia siapa yg suka marah2?? Zaskia menjawab “iya, kayaknya sih saya pak ustad 😁” ustad kembali menjelaskan… Nah, itulah mbak.. Kenapa anak batuk? Itu karena istri suka bicara kasar dan pakai nada yg tinggi sm suami, Allah SWT menegur kalian lewat sakitnya anak.. Kemudian, kalau anak alergi? Saya tanya, siapa diantara kalian kalau dikasih masukan selalu nolak, nggak terima dikasih tau?” “hmmm… Saya lagi nih kayaknya pak ustad…” 😁 kemudian ustad danu kembali bertanya “lalu sakit apalagi nih mb zaskia mecca anaknya? Zaskia menjawab “sesak” ustad danu bertanya :” siapa diantara mb zaskia dan mas hanung yg klo marah suka di tahan, suka ngambek dan diam?” zaskia dgn cpt menjawab “aku” 😁 ustad danu kembali memberi penjelsan, “membawa anak sakit ke dokter, membawa anak ke Rumah Sakit tdk salah, ini karena faktor kebiasaan. Anak dikasih obat sembuh, besoknya sakit lg, dbwa lagi ke dokter jangan sampai ujung2nya kita meNuhankan Dokter, nau’dzubillahumindzaliq… 
Kesimpulannya: Allah SWT menegor kita orangtua lewat anak, karena ketika anak sakit orangtua akan merasa hancur bathinnya agar orangtua mampu evaluasi diri… “Salahnya dimna? Kenapa? Bagaimana harus berubah? Agar orangtua sadar diri, dan segera saling memaafkan diiringi perubahan ahlak untuk lebih baik. Suami dan istri harus damai, sehingga pertumbuhan anak2 jg baik, orangtua menjadi tauladan bagi anak2nya. 
Memang betul apa yg dijelaskan pak ustad, saya jg merasa begitu.. Jadi, kalau saya sedang memendam amarah terhadap suami saya, sebegitu kesalnya saya sampai2 setiap detiknya saya tidak tenang, dada bergemuruh emosi.. Anak saya rewel, saya ajak tidur sambil menyusuipun diaa masih rewel.. Serba salah, nangis trs.. Saya sadar, karena anak saya sedang bersentuhan kulitnya dgn ibunya yg sedang memendam amarah… Beda dgn kalau saya mengikhlaskan amarah, dengan perasaan lembut dan belaian sayang, hati yg tenang anak saya cepat sekali tidurnya.. Tanpa nangis, tanpa teriak2… 

Semoga kita pasangan suami istri bisa sadar, dan semoga yg menjadi suami membaca.. Kadang tidak semua permasalahan ada dr istri, dan perlu di ketahui.. Tidak ada anak adalag ujian, belum punya anak adalah ujian, dikasih anak itupun ujian… Jangan sampai kita menyalahlan anak atas kesalahannya, yg salah adalah KITA orangtuanya.. Kitalah yg melahirkan, kita yg membesarkan, kita yg mendidik, jd saat anak melakukan kesalahan kita evaluasi… Apakah kita sudah mendidik anak kita dengan benar atau belum? 🙂 

#coretanmalam

#evaluasi

#sentialan
Sumber : FB

Catatan dari buku harian seorang ibu ….

​Bismillah: membaca ini tak terasa air mataku mengalir. .😭😭😭…

Dulu … rumahku ini ramai dengan anak2 ku …

tawa mereka … 
Tangis mereka … juga pertengkaran antara mereka …
 Buku2 berserakan disetiap sudut ruangan …
 pensil , baju , mainan bertebaran di atas tempat tidur
 … karena jengkelnya akupun berteriak : ” **cukup** … jangan buat kekacauan dirumah ! ..
 ayo masing2 barang nya dibereskan … 
susun rapi di tempatnya ! ” .. 
Di pagi hari menjelang waktu sekolah …
 seorang anakku mengadu : ” ummi … buku dan penaku hilang entah dimana ?” ..

. anak yang kedua berkata : ” ummi … mana bedaknya ?” ..
 anakku yang ketiga merengek :” ummi … susunya tumpah ” …
yang keempat … sambil memegangi kakiku mengadu cemas : ” ummi … aku belum

 mengerjakan PR ”
 …. semua … semua mereka mengeluhkan kelalaian nya masing2 … 
Saat ini .. aku sudah tua … 
anak2 sudah dewasa … 
aku berdiri di depan pintu kamar anak2 ku … tempat tidur
 tersusun rapi .. kosong tidak ada lagi yang tidur disana … di lemari hanya ada sedikit pakaian … pakaian masa kecil milik mereka … 

di rumah ini sekarang sepi sekali … tidak ada lagi yang tersisa selain aroma harum tubuh anak2 ku … 
ya .. setiap anak2 ku itu memiliki bau yang khas bagiku …
 aku menghirup udara dalam2 … bau tubuh mereka seakan kembali … meringankan rasa rindu yang menyesakkan dadaku .
. kenangan2 itu pun datang kembali … kala aku marah pada seorang anakku … ia langsung berlari dan memeluk kakiku : ” maaf kan aku … ummi ” rintihnya … dan … tak terasa … air mataku pun jatuh … Anak2 kini sudah mandiri … hidup di tempat2 yang jauh dengan keluarga masing2 ..
satu persatu meninggalkan rumah dengan
 ucapan yang sama : ” jazakillah khairan ummi … untuk semua kebaikan … untuk semua kasih sayang … 
aku tak akan pernah bisa membalas jasa ummi … mohon doamu ummi ” …
 Ya ALLAH … ingin rasanya kembali ke masa lalu … waktu dimana anak2 masih kecil2 ….
*Pesanku untukmu wahai para ibu … nikmatilah tangisan … rengekan dan suara teriakan anak2 mu … nikmatilah bila buku2 .. pena .. mainan2 mereka berserak dan bertebaran … nikmatilah setiap ketidak rapian rumah disebabkan ulah mereka … jangan membentak … jangan berteriak … semua itu akan menjadi kenangan manis … kenangan yang indah … setiap ibu pasti akan mengalami seperti yang kini ku alami … hari dimana setiap anak … satu persatu akan keluar meninggalkan rumah tempat lahir mereka … setiap satu anak ku keluar dengan membawa/ menyeret tas / koper nya … ia ikut serta membawa/menyeret hatiku bersamanya … ku peluk pintu itu setiap satu anak pergi … aku memeluk pintu itu karena lututku gemetar … separuh jiwaku seakan terbang pergi bersamanya … lalu aku kembali mengumpulkan kekuatanku … menghadapi sisa hidup sepi yang harus ku jalani …
Sumber : WAG

Mengenali Speech Delay Pada Anak

​*Resume Kulwap Internal Sabumi-HSMN Bandung*
Tema: *Mengenali Speech Delay Pada Anak*
Pemateri: Dra. Yosrika, A.Md.TW
Hari: Senin, 24 April 2017

Jam: 19.00 – 20.30 WIB

Moderator: Astri Pratiwi

Notulis: Rika 
🍀🌸🍀🌸🍀🌸🍀🌸🍀🌸🍀
*Curriculum Vitae*
✏ Nama: Dra.Yosrika, A.Md.TW
✏ Tanggal lahir:  15 Desember 1967
✏ Alamat: Perumahan Permata Biru Blok T 19
✏ Pendidikan: D3 Poltekkes Ali Islam, S1 IKIP Bandung. Saat ini sedang melanjutkan program S2
✏ Status: Menikah, 2 putra
✏ Aktivitas: Terapis bicara Yayasan Suryakanti Bandung,Terapis bicara klinik Precious Kids, Koordinator terapis wicara  Yayasan Suryakanti, pengurus Litbang IKATWI Bandung, Fasilitator deteksi dini tumbuh kembang anak
✏ No telp.: 08122120808
🌸🍀🌸🍀🌸🍀🌸🍀🌸🍀🌸
Pada kesempatan ini saya ingin share dengan bunda mengenai keterlambatan bicara. 
Bunda biasanya suka bingung dan bertanya kenapa anaknya tidak mau berbicara? 

Kapan dia bicara? Normalkah jika anak terlambat bicara? 

Dan berbagai pertanyaan lainnya yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan buah hatinya. 
Keterlambatan bicara bisa disebabkan oleh banyak hal. Bisa disebabkan karena pengasuhan yang kurang tepat. Misalnya anak kurang mendapatkan stimulasi bicara karena jarang diajak bicara, banyak main game, atau menonton TV.
Tetapi keterlambatan bicara juga bisa disebabkan karena faktor patologis. Seperti, anak dengan keterlambatan perkembangan (contoh: anak down syndrom,nak mental retarded.), anak dengan gangguan pendengaran, gangguan celah bibir dan langit-langit, gangguan konsentrasi, gangguan sensori, atau gangguan syaraf (misalnya anak Cerebral Palsy). 
Bagaimanakah cara penanggulangannya? Penyebabnya harus diketahui dulu. Untuk perkembangan anak normal, biasanya usia satu tahun sudah bisa mengucapkan minimal 1 sampai 3 kata tetapi bermakna. 
Contoh: mama… Bertujuan untuk mamanya. Dua tahun minimal bisa mengucapkan dua kata. Misalnya mama bobo. 
Semakin tinggi usianya, bahasa reseptif dan ekspresifnya semakin berkembang. Karena kosa kata semakin berkembang dan sebagainya. 
Keterlambatan bicara akan memengaruhi kemampuan sosialisasinya juga.
Ayo bunda, kita diskusi masalah keterlambatan bicara. Semakin dini dan cepat ditangani, maka kemungkinan untuk berkembang lebih cepat.
Mungkin bisa saya informasikan juga tentang keterampilan anak makan dan minum juga biasanya ada pengaruh ke motorik mulut anak. Dan tahukah bunda, ada banyak sekali aktivitas di sekitar kita yang bisa kita lakukan untuk menstimulasi oral motornya.

Anak dengan keterlambatan bicara tanpa gangguan yang lain akan lebih mudah mengejar kekurangannya. Tetapi, anak dengan keterlambatan bicara dan dicurigai ada faktor penyertanya harus ditangani dengan benar dan lebih cepat lebih baik.
Lihat juga pola anak makan. Apakah anak bisa mengunyah dengan gerakan yang benar. Lalu permainan meniup dan menyedot (dengan menggunakan sedotan). Itu bisa menstimulasi gerakan bibir lebih kuat dan respirasi lebih kuat juga.

Saat kita meniup, banyak sekali syaraf cranial yang bekerja di sekitar mulut kita. Klo terapis bicara melihatnya dari kekuatannya bu, jadi bukan hanya sekadar dia bisa meniup saja.

Saat anak minum dari sedotan, bibir harus menutup. Dan ada kekuatan napas juga di proses itu. Saat bibir tutup secara tidak langsung anak belajar refleks bunyi bilabial untuk konsonan b, m, dan p.

Tapi perhatikan juga apakah anak sering menggigit-gigit sedotan atau tidak.
🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋

*Sesi Tanya Jawab*
*Pertanyaan Teh Riska:*
Bismillaah.. 

Bu, sebaiknya bahasa apa dulu yang kita perkenalkan ke anak? 

Karena ada keinginan kami sebagai orang tua agar anak kami menguasai bahasa asing.
Yang kami lakukan saat ini, anak kami perkenalkan bahasa Indonesia, jadi kata-kata pertama yang dikenalkan adalah “Ayah”,, “Bunda”, “Eyang”, dan lain-lain.
Nah, jika anak diperkenalkan bahasa campuran sejak kecil ada pengaruhnyakah ke speech delay?
*Jawaban:*

Terima kasih banyak ibu untuk pertanyaannya. Setahu saya, memang lebih baik memperkenalkan bahasa ibu terlebih dahulu. Terutama untuk anak-anak yang ada indikasi keterlambatan bicara yang serius. Tetapi untuk banyak anak yang pemahaman bahasanya bagus, tidak tertutup kemungkinan anak ini diperkenalkan bahasa yang lain juga.

Jadi, jika putra ibu cepat menangkap dan ibu mulai mengenalkan bahasa asing, Disarankan untuk konsisten juga, Bu. Biar anaknya tidak bingung. Misal untuk kucing, ibu bilangnya cat tapi eyang bilang kucing. Tapi anak akan belajar kalau ibu selalu bilang cat untuk kucing (jadi dalam hal ini ibu yang jadi model).

Untuk beberapa kasus, bisa terjadi keterlambatan bicara juga karena bingung bahasa.

Demikian Ibu penjelasan saya.

*Pertanyaan teh Rintan*
Sampai batas usia berapakah anak dikatakan speech delay dan harus diperiksakan ke dokter?

Apakah penggunaan bahasa lebih dari satu berpengaruh?
*Jawaban:*

Anak dikatakan terlambat bicara tentunya jika perkembangan bicara dan bahasanya tidak sesuai dengan usia kalendernya, Bu. Sekarang ada banyak info mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak. Sebagai informasi untuk Ibu, jika anak usia 1 tahun belum keluar suara, dipanggil tidak menoleh, atau sampai usia 2 tahun belum keluar kata-kata sama sekali, ini juga harus dicurigai. Apalagi jika disertai dengan aktivitas yang berlebihan dibandingkan anak seusianya. Seperti dijelaskan di atas, Bu. Untuk beberapa anak yang ada indikasi keterlambatan bicara, biasanya penggunaan lebih dari satu akan memengaruhi perkembangannya. 
*Pertanyaan Teh Prita:*
Assalamu’alaikum Bu  Yosrika. 

Saya Pritta. Ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan, Bu.

1. Adakah perbedaan antara anak yang speech delay dan autis? Saya melihat ada anak teman saya, usianya 2 tahun, belum bisa berbicara sepatah kata pun. Saya perhatikan memang anak tersebut kurang stimulus. TV dan gadget selalu menemaninya. Sering saking asyiknya, bisa tertawa terpingkal-pingkal dan kalau dipanggil nama bahkan sampai ditoel-toel pipinya, tidak ada respons sama sekali, tetap asyik dengan tontonannya. Apakah anak teman saya itu speech delay atau sudah autis juga?

Bagaimana sebaiknya penanganannya?
2. Jika anak sudah positif speech delay, Adakah kurikulum buat ibunya di rumah  untuk terapi perilaku agar siap untuk terapi bicara? Dan bagaimana cara melatih kemandirian anak yang speech delay?
3. Anak saya, usia sudah 3 tahun. Alhamdulillah sejak usia 1 tahun sudah bisa mengucapkan kata-kata yang agak sulit, misalnya tumpah.

Nah, yang menjadi ganjalannya, masih ada beberapa huruf yang masih cadel. R jika ada di akhir berubah jd W. Misal menyebut nama Bisyir: Bisyiw. Huruf K jadi T. Misal Kuning jadi Tuning.

Masih tahap normal ga ya Bu? Latihan seperti apa yang tepat agar pelafalannya bisa benar, karena berulang kali saya latih, masih cadel pada huruf tertentu itu.
4. Kalau anak sering menggigit sedotan, artinya apa? Bisyir kalau habis minum susu kotak, sedotannya suka digigit-gigit juga. 😬
5. Kalau gangguan bahasa ekspresif termasuk ke dalam speech delay ga ya Bu? 
Jazakillah khoiron.
*Jawaban :*

Baik Bu. Saya jawab satu per satu pertanyaan Ibu ya.

1. Anak yg speech delay belum tentu dia autis, Bu. Tetapi anak yang autis biasanya disertai dengan keterlambatan bicara. Untuk membedakan apakah anak ini speech delay atau autis, kita lihat ciri-ciri dari autis itu sendiri. Biasanya anak autis disertai dengan gangguan perilaku, gangguan interaksi, dan gangguan komunikasi.
2. Biasanya kalau terapis itu membuat home program untuk anaknya di rumah dan tentunya home program dibuat berdasarkan hasil observasi dan kebutuhan anaknya, Bu. Jadi program akan berbeda antara satu anak dengan anak lainnya walaupun dia sama-sama speech delay.
3. Setahu saya untuk perkembangan konsonan anak sampai usia 3 tahun yang harus dikuasai adalah konsonan: b.m.p.w.n.d.t.d.k.f.

Klo konsonan R mah untuk usia 3 tahun tidak apa-apa dulu, Bu karena memang belum usianya. Konsonan R biasanya di sekitar usia 5 tahun harus sudah terbentuk. Asal konsonan tadi yang saya sebut di awal sudah dia kuasai. Kalau anak mengucap konsonan K jadi T, jika ibu sudah koreksi dan tidak membaik, mungkin Ibu harus melatih refleks lidahnya. Dicoba dengan memberikan minuman juice yang agak kental dengan sedotan supaya refleks lidahnya lebih ke belakang. Coba ibu rasakan bagaimana mengucapkan bunyi K. Terasa lidah lebih ke belakang. Kalau konsonan T terasa lidah datar.
4. Kalau dari sudut pandang terapis bicara, mungkin dia masih belum bisa membedakan fungsi bibir dan gigi atau dia masih banyak mencari sensasi di oral motornya. Ibu bisa coba agak dipendekkan sedikit sedotan yang masuk ke mulutnya supaya bibirnya lebih kuat. Dan akibatnya menstimulasi refleks lidahnya ke bekakang juga.
5. Betul Bu. Gangguan bahasa ekspresif termasuk speech delay juga. Jadi anaknya terlihat mengerti dan berespons bagus tetapi tidak mau bicara verbal. Ada banyak juga kasus seperti ini.
*Tanggapan:*

Punten Bu. Saya baru keingetan juga, Bisyir belum bisa meniup balon. Ini apakah berpengaruh juga ke pelafalan konsonannya yang delay?
*Jawaban :*

Kalau kita melihat dari teori, memang ada urutannya untuk produksi suara. Pertama kita lihat Respirasi, Resonansi, Fonasi. Baru ke produksi suara. Jadi memang respirasi itu seperti motornya untuk bicara. Nah, untuk anak-anak biasanya memang kita melihat dari keterampilan anak meniup. Karena untuk meniup dia perlu mengatur napasnya, posisi mulutnya, dan sebagainya. Jadi beberapa anak mungkin meniupnya gerakan mulutnya tidak halus atau seperti menyembur. Kalau anaknya tertarik dengan permainan tiup-tiup, mungkin Ibu bisa beli tiupan peluit yang ringan berbentuk kincir dan bermain bersama. Jadi jangan langsung meminta anaknya meniup. Kita dulu yang memberi contoh. Intinya, meniup bisa membantu melatih pernapasan yang dipakai untuk bicara dan melenturkan otot-otot di area mulut.
*Pertanyaan Teh Asni Sundarini:*
Ponakan saya 4 tahun speech delay. Sudah terapi wicara kurang lebih 6 bulan. Alhamdulillah sudah ada kemajuan, tapi sekarang terapinya sedang berhenti karena terkendala waktu. Apakah dengan menyekolahkannya akan efektif untuk mengganti terapi wicaranya? Kondisi di rumah memang tidak ada teman main.
*Jawaban :*

Sekolah memang membantu untuk perkembangan sosialisasi, emosi, dan juga bicara. Saya tidak tahu kasus keponakan ibu, jadi bergantung kasusnya juga. Mungkin saya bisa menjawab pertanyaan ibu dengan tepat jika saya tahu diagnosis dari  terapi bicaranya.
*Pertanyaan Teh Silmi:* 
1. Sebesar apa pengaruhnya jika ada tahapan perkembangan yang tidak dilalui, misal tidak tengkurap dan merangkak? Apa yang harus dilakukan jika bagian itu terlewat atau tidak optimal? Dan selain meniup, aktivitas sehari-hari apa lagi yang bisa menstimulasi anak yang speech delay?
2. Satu lagi, ga bisa mengucap huruf S, L, R dalam satu kalimat.
*Jawaban:*
1. Tahapan perkembangan dimulai dari motorik kasar, motorik halus, pengamatan, berbicara, dan sosialisasi (menurut DDTK). Jika seorang anak tidak melewatinya, misal tahapan merangkak, tetapi tampaknya baik-baik saja di aspek perkembangan yang lainnya. Biasanya kesulitan akan muncul di usia sekolah. Misalnya cepat cape bila menulis, posisi duduk tidak bisa lama-lama untuk tegap jika menulis, dan sebagainya. Dengan merangkak, banyak sekali stimulasi alami yang anak dapatkan. Di antaranya belajar keseimbangan, gerakan lateralisasi kiri-kanan, belajar penguatan otot tangan, koordinasi mata dan tangan, dan sebagainya. Jika terlewati, memberi stimulasinya tentu bergantung usianya juga dan tahapan mana yang anak lewati.
Menstimulasi anak merangkak bisa dengan memberikan mainan di depan anak tapi agak jauh sedikit. Usahakan mainan yang anak suka biar anak ada ketertarikan mengambil mainan. Perhatikan juga apakah anak “ngesod” atau tidak.
2. Melatih S.L.R dalam satu kalimat? Terapis bicara biasanya akan melihat dulu berapa umur klien? Kalau putra ibu  masih 2 tahunan, tidak perlu khawatir yang berlebihan. Cuma biasanya terapis bicara akan memeriksa dulu bagaimana gerakan lidahnya, kekuatan juga koordinasinya. Jadi kita lihat dulu anatominya.
Setelah itu baru ada latihannya. Jadi istilahnya kita lihat oral motornya dulu baru bisa menentukan latihan apa yang tepat.
*Pertanyaan teh Puspa:*
Assalamu’alaikum

Teh mau nanya, indikasi speech delay pada anak 2 tahun apa saja ya?
*Jawaban:*

Indikasi anak speech delay usia 2 tahun di antaranya adalah dipanggil tidak menoleh, tidak bisa bermain sesuai dengan fungsinya (tentunya yang sesuai dengan perkembangan bermain ank 2 tahun), belum bisa mengeluarkan sepatah kata pun, dan bisa merangkai dua kata sederhana.
*Pertanyaan teh Nuraeni:*
Anak saya akhir-akhir ini sedang sering (bukan durasi setiap harinya, karena setiap hari meski cuma kurang dari sejam) nonton sitkom di HP.

Sampai hafal semua dialognya. Kira-kira itu berdampak negatif ga terhadap tumbuh kembangnya?
*Jawaban:*

Berapa tahun anak Ibu? Memang ada fase anak lagi senang meniru. Menonton TV atau HP sesekali tidak apa-apa sepanjang kita mendampinginya. Tetapi jauh lebih baik jika banyak bermain dan berinteraksi dengan ayah bundanya karena selain akan mempererat hubungan ibu dan anak, juga akan banyak lagi stimulasi yang bisa diberikan secara tidak langsung saat bermain bersama ayah bundanya. Di antaranya stimulasi bahasa, gerakan, dan lain-lain.

🌸🍀🌸🍀🌸🍀🌸🍀🌸🍀🌸
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

🔆 *Sabumi-HSMN bandung* 🔆

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

👥 FB Grup: Sabumi (Muslim Homeschooling Bandung)

📷 Instagram: @sabumibdg

🌏 Blog: sabumibdg.wordpress.com

PERBAIKILAH ANAKMU DENGAN IBADAH

Orang yang selalu menjaga Allah ketika masih muda dan kuat, Allah akan selalu menjaganya ketika sudah tua dan lemah. Allah akan menjaga pendengarannya, penglihatannya, kekuatannya dan akalnya.
Dahulu ada sebagian ulama yang usianya melebihi 100 tahun tapi ia masih kuat badannya dan sehat akalnya. Ketika ditanya rahasianya ia menjawab, “Badan ini aku selalu menjaganya dari perbuatan maksiat dulu ketika aku masih muda. Maka sekarang Allah menjaganya ketika aku sudah tua.”
Sebaliknya, dulu ada orang yang ketika muda mengabaikan kewajiban-kewajibannya terhadap Allah, maka Allah pun menjadikannya lemah di usia tua dan akhirnya ia menjadi pengemis.
Adakalanya Allah menjaga orang yang shalih sampai keturunannya, sebagaimana firman Allah, “Dahulu ayah kedua anak ini adalah seorang lelaki yang shalih.” Maksudnya, kedua anak itu dijaga oleh Allah karena keshalihan ayah mereka dahulu.
Dulu, Said bin Al Musayyib mengatakan kepada anaknya, “Nak, aku akan menambah jumlah rakaat shalat sunnahku dengan harapan agar Allah menjagamu.”
Umar bin Abdul Aziz mengatakan, “Setiap orang beriman yang meninggal dunia, pasti Allah selalu menjaga keturunannya.”
Ibnul Munkadir mengatakan, “Sungguh Allah akan menjaga orang yang shalih sampai kepada anaknya, cucunya dan lingkungan sekitarnya. Mereka selalu berada dalam lindungan dan penjagaan Allah.”
Semoga Allah selalu menjaga kita dan menjadikan kita serta keturunan kita orang-orang yang shalih. Aamiin.
📚”Jamiul Ulum wal Hikam” karya Ibnu Rojab Al Hambali.

Sumber : broadcast wa