Meng-aqil Baligh-kan Anak


oleh :  Adriano Rusfi, Psi.

.
_Libatkan anak dalam masalah_
Saya baru punya mobil usia 42 tahun. Rumah baru punya 2 tahun lalu, sebelumnya ngontrak.
Dulu saat usia saya 28 tahun, teman-teman saya bilang, _“Lu makanya yang fokus dong cari duit.”_

.
Saya cuek saja, saya memilih fokus mendidik anak. Saya percaya dengan prinsip “Life begin at forty”. Bagaimana pun waktu bersama dengan anak tidak akan bisa diulang saat anak2 sudah dewasa.

.
Kalau sekarang teman-teman saya kagum dan bilang, _“Lu hebat banget sih?”_

.
Saya sekarang bisa membalas, _“Mungkin dulu Lu kecepetan fokus sih.”_

.
Karena setelah menikah dan mempunyai anak, saya memilih fokus untuk mendidik anak-anak saya.

.
*Supaya beban finansial saya cepat beres, saya fokus meng-aqilbaligh-kan anak-anak.*

.
Anak saya dari usia SMP sudah menjadi loper koran, membuka jasa servis tamiya, membantu scoring lembar psikotest.

.
Saya memberikan syarat jika anak meminta sesuatu, maka 10% haruslah memakai uangnya sendiri. Sehingga setiap permintaan anak saya akan dimulai dengan pertanyaan: “Abi ada duit nggak?”
Ketika anak saya ingin sepeda motor, saya katakan, “Bebas boleh pilih yang mana saja, asal 10% uang sendiri.”

.
Anak saya jadi berpikir juga. Yang 16 juta, harus ada 1,6 juta. Akhirnya anak saya memilih yang 9 juta saja, karena merasa mampu menyediakan 10%-nya. Abi nya senang, anak senang.

.
Ketika anak meminta barang baru sementara barang yang lama masih bisa dipakai, saya hanya katakan, 

_”Harusnya kamu bersyukur abi sudah belikan yang itu dan kamu masih bisa gunakan itu.”_

.
Salah satu cara mendidik anak menjadi Aqil Baligh adalah dengan tidak menyembunyikan masalah dari anak. Rem masa baligh anak dengan membantu orang tua menyelesaikan masalahnya.

.
*Jadi kurang tepat juga ketika mengatakan, “Biar Ayah saja yang menderita, kamu belajar saja yang rajin.”*

.
Itu adalah kalimat kurang ajar. Bukti bahwa si Ayah Egois. Mengapa si ayah tidak mengijinkan anaknya mengikuti jalan suksesnya? Tidak ada sejarahnya orang sukses hanya dari gelimangan kemudahan.
Konglomerat Tionghoa itu sadis-sadis sama anaknya. Kalau anak mereka minta macam-macam, jawabnya “Sudah bagus Bapak kasih segitu.”

.
Kita saja yang Melayu ini suka memanjakan anak. Ada tetangga saya Tionghoa yang pengusaha kaya raya. Ketika hujan, ia memberikan payung buat anaknya supaya jadi ojek payung.

.
Ketika anak saya sudah memasuki usia aqil baligh, anak saya beritahu. “Kamu ini sebenarnya sudah bisa abi suruh pindah, tapi sekarang masih boleh tinggal dirumah. 

.

Hanya kamu statusnya numpang. Numpang makan, numpang tidur. Jadi tahu diri ya sebagai penumpang. Baik-baik sama tuan rumah.”

.

Maka anak pun akan berusaha mematuhi tata tertib untuk tidak pulang malam, dll.

.
Hadapkan anak dengan berbagai masalah dan harus mencari solusinya sendiri adalah bagian dari upaya meng-aqilbaligh-kan anak kita. Ajari anak cari uang, ajari anak berorganisasi. Libatkan anak dengan masalah.

.
Anak mulai bisa diajarkan kemandirian saat usia di atas 7 tahun. Itu sudah fitrahnya. Didik anak dengan penuh optimis, tidak perlu rekayasa. Dan jangan lupa untuk meminta kepada Allah melengkapi kekurangan kita dalam mendidik anak-anak.

.
#PendidikanAqilBaligh

#SeniMendidikAnak

#GoodJob

#SmartAndReligius
.
Sumber : FB

Advertisements

​PERASAAN YANG TERABAIKAN

Elly Risman, Psi

.
Direktur, Psikolog, dan Trainer Yayasan Kita dan Buah Hati

.
“Diaaam !.. Diam Mama bilang! Cengeng banget sih gak berhenti-berhenti nangis dari tadi.. Kalau Mama sudah gak sabar nanti Mama pukul kamu!“

“Tau kenapa Mama gak suka sama kamu? Kalau nangis lama, dibilangin gak denger, gak kayak adikmu! Paham?” Ujar Bu Tini pada anaknya yang sulung berusia 5,5 tahun sambil mendorong kepala anaknya…

.
Terkesan familiar?

Bukan hanya Bu Tini tapi banyak ibu-ibu lain sering sekali merasa tak mampu mengendalikan emosinya menghadapi anak-anaknya, tanpa tahu mengapa mereka merasakan seperti itu. Umumnya bila sudah marah panjang lebar bahkan melengkapinya dengan nolak kepala seperti yang dilakukan Bu Tini, ada juga dengan mencubit bahkan memukul, mereka umumnya menyesal bahkan gak jarang menangis di kamar tidurnya. Apalagi kalau sudah malam, semua sudah tenang dan dia mengamati atau memandangi anaknya yang pulas tertidur dan nampak benar keluguan dan kepolosannya..

“Ya Allah kenapa aku marahi dan pukuli anakku ya Allaaah,” keluhnya sambil menciumi anaknya sementara air mata terus berurai. Penyesalan tak pernah datang diawal….

.
BEGINILAH JADINYA BILA TAK ADA PERSIAPAN
Umumnya, jarang sekali ayah dan ibu memiliki kesiapan atau dipersiapkan oleh orang tuanya untuk menjadi orang tua. Kalau dulu, ketika beban pelajaran belum seberat sekarang dan jam belajar belum lagi diatas 8 jam sehari, anak-anak masih punya kesempatan untuk bersama dengan anggota keluarga dirumah. Sehingga kalau tidak terlibat dalam membantu kakak atau tantenya yang punya anak kecil, anak-anak masih dimintai tolong untuk membantu mengasuh atau menolong adiknya.

.
Tapi situasi kini jauh berubah. Anak-anak sekolah pada usia yang lebih dini, mata pelajaran yang padat, jam belajar yang panjang dan tugas sejibun. Pulang, lelah jiwa raga. Main games, nonton TV, kerjakan tugas, lalu tidur. Jarang ada kesempatan untuk dialog dan bercengkrama dalam keluarga. Apalagi kalau kedua orang tua bekerja pula dan pulang selalu lebih telat dari waktu anak tiba dirumah. Bayangkan!

.
Tiba-tiba tak terasa anak sudah lulus sekolah menengah, mahasiswa atau sudah jadi sarjana dan waktu menikah pun tiba. Dari mana ada persiapan menjadi suami istri, apalagi ibu dan ayah? Tahu-tahu sudah punya anak saja. Karena kurang pengetahuan, sengaja atau ‘kesundulan’ : ada dua balita dalam keluarga. Huih!

.
Apa yang paling hilang dari pengasuhan seperti yang diuraikan diatas adalah kesempatan untuk mendengarkan perasaan anak. Andainya saja orang tua tahu, bagaimana pentingnya perasaan itu perlu didengarkan, mereka akan berjuang untuk punya waktu dan berdialog dan membicarakan soal “rasa“ dengan anaknya.
Bisakah Anda bayangkan, apa jadinya dengan anak Bu Tini di atas yang sejak usia balita ibunya suka berteriak, marah, memerintah (diam!), mengecap (cengeng banget), mengancam (mama pukul nanti), menyalahkan (gak suka sama kamu, gak denger), membandingkan (gak kayak adikmu)??..

.
Apakah cara pengasuhan seperti ini, memungkinkan bagi orang tuanya untuk menunjukkan perhatian dan mempedulikan perasaan anaknya? Kemana anak ini akan membawa atau mengadukan derita rasa atau jiwanya kalau orang tuanya terus menerus menggunakan cara pengasuhan serupa ?

.

Itukan baru sekali! biasanya berapa kali dalam sehari? dan sudah berapa lama..? Itu anak siapa ya?

Jadi bagaimana ya kalau nanti dia jadi ibu atau ayah pula? Bila orang tuanya terbiasa kalau marah seperti itu, tidakkah anak ini akan mengulang semua apa yang dia terima ini dengan OTOMATIS terhadap anaknya pula nanti?
Berkata seorang ahli : “Hati-hati mengasuh anakmu. Perbaiki pola pengasuhanmu sebelum anakmu baligh. Karena engkau sedang salah mengasuh cucumu!”
Bagaimana mungkin?

.
Bagaimana mungkin merubah cara mengasuh, kalau kita :
1. Tidak menyadari bahwa pola asuh yang kita lakukan adalah pengulangan otomatis dari apa yang diterima dulu dan belum mampu memutus mata rantainya.
2. Tidak mengenali pola asuh yang bagaimana yang terjadi dengan pasangan kita, mengapa dia suka bersikap dan memiliki cara pengasuhan bahkan cara berfikir yang berbeda dengan kita? Mengenali dan menyesuaikan diri dengan semua perbedaan itu tidaklah mudah, biasanya memerlukan waktu 5 – 10 tahun. Tergantung bisa di dialogkan dan mau mencari pertolongan ahli atau tidak, bisa dicari titik temu atau tidak. Sementara anak nambah terus… Marah sama pasangan, malah anak yang jadi korban, iya kan?
3. Apalagi kalau pernikahan itu sudah bermasalah dari awal, tidak disetujui kedua belah pihak, atau hanya sebelah saja, ada kesalahan dilakukan sebelum perkawinan yang menimbukan penolakan dari salah satu keluarga atau anggotanya.
4. Tidak mengerti sama sekali tahapan perkembangan dan tugas perkembangan anak : Usia sekian anak harusnya sudah mampu melakukan apa dan bagaimana merangsangnya.
5. Tidak faham bahwa bahwa otak anak ketika lahir belum bersambungan dengan sempurna, sehingga kemampuannya terbatas, dan banyak hal mereka belum mengerti. Begitu sambungan mencapai trilliunan pada usia 2.5 tahun, anak mulai belajar menunjukkan dirinya. Tapi ketidakpahaman membuat orang tua mematahkan semangat anak dan tidak memberinya kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya dengan sering menjadi > ayah atau mama “sini” : “Sini mama bantuin, Sini ayah tolongin…”
6. Begitu anak sudah 4 tahun bisa berpura-pura dan berkhayal dikomentari : “bohong, mengada-ada saja,” dll. Atau bila mereka memberikan pendapatnya orangtua mengatakan “dia sudah bisa membantah dan tidak patuh lagi!“ Hoalllah… Kasiannya tuh anak!
7. Orang tua tidak tahu bahwa :

Pusat perasaan di otak, berkembang lebih dulu dari pusat kognitifnya. Karena terburu-buru ingin anak jadi pintar dan masuk sekolah, usia dini sudah dileskan Calistung, usia 6 tahun masuk SD. Kadang-kadang ini dilakukan karena di rumah sudah ada 2-3 adiknya!
8. BKKBN dan Kelompok Neurosaince Terapan pernah menyarankan agar dihindari sedapat mungkin untuk ada dua balita dalam keluarga, karena sangat mengkonsumsi jiwa, pikiran dan tenaga ibu. Apalagi kalau kedua orang tua bekerja dan anak di “subkontrakkan” kepada orang lain. Bayangkan apa jadinya dengan anak itu?

.
Jika anak saja tidak mendapatkan kesempatan untuk didengarkan perasaannya apa lagilah ibunya?

Mengapa fungsi berfikir ibu jadi terganggu?

Bagaimana tidak, kalau ibu mengalami semua 8 masalah diatas?

.
Seorang ahli mengatakan bahwa bila seseorang sedang secara fisik sangat lelah, maka emosi mudah naik, sehingga bagian berpikir di otaknya menjadi sempit dan fungsi berpikir terganggu. Kelakuan di dominasi oleh emosi. Kesadaran dan penyesalan akan muncul belakangan setelah emosi reda, letih berkurang.

.
Katherine Ellison, dalam bukunya The Mommy Brain menceritakan hasil risetnya bertahun tahun, bahwa ibu yang baru melahirkan itu normal bila dua bulan pertama mengalami apa yang disebutnya : “Amnesia keibuan, atau pikun kehamilan”. Hal ini terjadi oleh karena kekacauan kimiawi saat hamil dan melahirkan ditambah dengan rasa sakit, kekurangan tidur dan keharusan untuk belajar banyak hal sekaligus tentang mengurus, bayi, diri sendiri dan tetap memperhatikan lingkungan. Bila Anda lengah sekejap saja, bisa menimbulkan akibat yang sangat mengerikan.

.
Allison mengemukakan juga bahwa di Inggris keadaan ini disebut sebagai : Otak Bubur, di Australia : “Otak Plasenta” dan “Otak mami” di Jepang . Bayangkanlah kalau di bulan ketiga ibu ini sudah hamil lagi…

.
Jadi untuk membantu bagaimana agar ibu “tidak emosian” dalam mengasuh anak-anaknya, semua orang disekitarnya, terutama para ayah dan orang tua hendaknya mengerti akan 8 hal yang umumnya dihadapi oleh seorang ibu berikut “amnesia atau pikun keibuan” di atas dan jangan abaikan perasaannya.

.
Diatas segalanya, ibu itu sendiri harus mampu mengenali dirinya dan berupaya memahami sepenuhnya serta berdamai dengan masa lalunya dengan memaafkan semua yang terjadi. Selain itu ia harus berusaha mengerti apa yang terjadi dengan pasangannya dan orang di sekitarnya. Jangan karena tak mau berdamai dengan sejarah hidup, kesal dengan orang sekitar : suami dan anggota keluarga, anak yang dijadikan korban.

.

Anak tertekan, tak dimengerti dan tak didengarkan perasaannya adalah bencana di hari tua dan akhirat Anda..

.
Dari risetnya tentang otak para ibu, Allison menunjukkan bahwa dengan menjadi ibu, Anda menjadi lebih pintar dan cerdas dari apa yang kita fikirkan! Ada lima sifat otak yang dirangsang oleh bayi Anda: Persepsi, Efisiensi, Daya tahan, Motivasi, dan Kecerdasan emosi..

.
Jadi apalagi dear? : manfaatkan Mommy Brain Anda!

.
Selamat berjuang untuk menyelesaikan urusan dengan diri sendiri sebelum Anda menyelesaikan urusan anak dan keluarga anda. Putuskan mata rantai itu.

.
Mulailah dengan belajar mendengarkan dan menerima perasaan anak Anda…

Selamat Berbahagia ..
Salam hangat,

Elly Risman, Psi

.
#YayasanKitadanBuahHati

#ParentingEraDigital

#EllyRismanParentingInstitute
.
Sumber : FB

FITRAH SEKSUALITAS

​By: Elly Risman Musa

.
Punya suami yang kasar? Kaku? 

 Garing dan susah memahami perasaan istrinya? Tidak mesra dgn anak? Coba tanyakan, beliau pasti tak dekat dengan ibunya ketika masa anak sebelum aqilbaligh.
Punya suami yang “sangat tergantung” pada istrinya? Bingung membuat visi misi keluarga bahkan galau menjadi ayah? Coba tanyakan, beliau pasti tak dekat dengan ayahnya ketika masa anak. 

.
Kok sebegitunya? 

.
Ya! karena figur ayah dan ibu harus ada sepanjang masa mendidik anak anak sejak lahir sampai aqilbaligh, tentu agar fitrah seksualitas anak tumbuh indah paripurna.

.
Pendidikan fitrah seksualitas berbeda dengan pendidikan seks. Pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak bayi lahir.

.
Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati.

.
 Menumbuhkan Fitrah ini banyak tergantung pada kehadiran dan kedekatan pada Ayah dan Ibu. 

.
Riset banyak membuktikan bahwa anak anak yang tercerabut dari orangtuanya pada usia dini baik karena perang, bencana alam, perceraian, dll akan banyak mengalami gangguan kejiwaan, sejak perasaan terasing (anxiety), perasaan kehilangan kelekatan atau attachment, sampai kepada depresi. Kelak ketika dewasa memiliki masalah sosial dan seksualitas seperti homoseksual, membenci perempuan, curiga pada hubungan dekat dsbnya.

.
Jadi dalam mendidik fitrah seksualitas, figur ayah ibu senantiasa harus hadir sejak lahir sampai AqilBaligh. Sedangkan dalam proses pendidikan berbasis fitrah, mendidik fitrah seksualitas ini memerlukan kedekatan yang berbeda beda untuk tiap tahap. 
Usia 0-2 tahun, anak lelaki dan perempuan didekatkan pada ibunya karena ada menyusui, di usia 3 – 6 tahun anak lelaki dan anak perempuan harus dekat dengan ayah ibunya agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional apalagi anak sudah harus memastikan identitas seksualitasnya sejak usia 3 tahun. 
Kedekatan paralel ini membuat anak secara imaji mampu membedakan sosok lelaki dan perempuan, sehingga mereka secara alamiah paham menempatkan dirinya sesuai seksualitasnya, baik cara bicara, cara berpakaian maupun cara merasa, berfikir dan bertindak sebagai lelaki atau sebagai perempuan dengan jelas. Ego sentris mereka harus bertemu dengan identitas fitrah seksualitasnya, sehingga anak di usia 3 tahun dengan jelas mengatakan “saya perempuan” atau “saya lelaki”

.
Bila anak masih belum atau tidak jelas menyatakan identitas gender di usia ini (umumnya karena ketiadaan peran ayah ibu dalam mendidik) maka potensi awal homo seksual dan penyimpangan seksualitas lainnya sudah dimulai. 
Ketika usia 7 – 10 tahun, anak lelaki lebih didekatkan kepada ayah, karena di usia ini ego sentrisnya mereda bergeser ke sosio sentris, mereka sudah punya tanggungjawab moral, kemudian di saat yang sama ada perintah Sholat. 

.
Maka bagi para ayah, tuntun anak untuk memahami peran sosialnya, diantaranya adalah sholat berjamaah, berkomunikasi secara terbuka,  bermain dan bercengkrama akrab dengan ayah sebagai aspek pembelajaran untuk bersikap dan bersosial kelak, serta menghayati peran kelelakian dan peran keayahan di pentas sosial lainnya. 

.
Wahai para Ayah, jadikanlah lisan anda sakti dalam narasi kepemimpinan dan cinta, jadikanlah tangan anda  sakti dalam urusan kelelakian dan keayahan. Ayah harus jadi lelaki pertama yang dikenang anak anak lelakinya dalam peran seksualitas kelelakiannya. Ayah pula yang menjelaskan pada anak lelakinya tatacara mandi wajib dan konsekuensi memiliki sperma bagi seorang lelaki.

.
Begitupula anak perempuan didekatkan ke ibunya agar peran keperempuanan dan peran keibuannya bangkit. Maka wahai para ibu jadikanlah tangan anda sakti dalam merawat dan melayani, lalu jadikanlah kaki anda sakti dalam urusan keperempuanan dan keibuan. 

.
Ibu harus jadi wanita pertama hebat yang dikenang anak anak perempuannya dalam peran seksualitas keperempuanannya. Ibu pula orang pertama yang harus menjelaskan makna konsekuensi adanya rahim dan telur yang siap dibuahi bagi anak perempuan.
Jika sosok ayah ibu tidak hadir pada tahap ini, maka inilah pertanda potensi homoseksual dan kerentanan penyimpangan seksual semakin menguat.

.
Lalu bagaimana dengan tahap selanjutnya, usia 10 – 14? Nah inilah tahap kritikal, usia dimana puncak fitrah seksualitas dimulai serius menuju peran untuk kedewasaan dan pernikahan.

.
Di tahap ini secara biologis, peran reproduksi dimunculkan oleh Allah SWT secara alamiah, anak lelaki mengalami mimpi basah dan anak perempuan mengalami menstruasi pada tahap ini. Secara syahwati, mereka sudah tertarik dengan lawan jenis. 

.
Maka agama yang lurus menganjurkan pemisahan kamar lelaki dan perempuan, serta memberikan warning keras apabila masih tidak mengenal Tuhan secara mendalam pada usia 10 tahun seperti meninggalkan sholat. Ini semua karena inilah masa terberat dalam kehidupan anak, yaitu masa transisi anak menuju kedewasaan termasuk menuju peran lelaki dewasa dan keayahan bagi anak lelaki, dan peran perempuan dewasa dan keibuan bagi anak perempuan.

.
Maka dalam pendidikan fitrah seksualitas, di tahap usia 10-14 tahun, anak lelaki didekatkan ke ibu, dan anak perempuan didekatkan ke ayah. Apa maknanya?

.
Anak lelaki didekatkan ke ibu agar seorang lelaki yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka di saat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok wanita terdekatnya, yaitu ibunya, bagaimana lawan jenisnya harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata perempuan bukan kacamata lelaki. Bagi anak lelaki, ibunya harus menjadi sosok wanita ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.

.
Anak lelaki yang tidak dekat dengan ibunya di tahap ini, tidak akan pernah memahami bagaimana memahami perasaan, fikiran dan pensikapan perempuan dan kelak juga istrinya. Tanpa ini, anak lelaki akan menjadi lelaki yg tdk dewasa, atau suami yang kasar, egois dsbnya.

.
Pada tahap ini, anak perempuan didekatkan ke ayah agar seorang perempuan yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka disaat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok lelaki terdekatnya, yaitu ayahnya, bagaimana lelaki harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata lelaki bukan kacamata perempuan. Bagi anak perempuan, ayahnya harus menjadi sosok lelaki ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.

.
Anak perempuan yang tidak dekat ayahnya di tahap ini, kelak berpeluang besar menyerahkan tubuh dan kehormatannya pada lelaki yang dianggap dapat menggantikan sosok ayahnya yang hilang dimasa sebelumnya.
Semoga kita dapat merenungi mendalam dan menerapkannya dalam pendidikan fitrah seksualitas anak anak kita, agar anak anak lelaki kita tumbuh menjadi lelaki dan ayah sejati, dan agar anak anak perempuan kita tumbuh menjadi perempuan dan ibu sejati.

.
Agar para propagandis homo seksualitas tidak lebih pandai menyimpangkan fitrah seksualitas anak anak kita daripada kepandaian kita menumbuhkan fitrah seksualitas anak anak kita. Agar ahli kebathilan gigit jari berputus asa, karena kita lebih ahli dan berdaya mendidik fitrah anak anak kita.

.
Salam Pendidikan Peradaban 
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
Sumber : WA

DURInya ber-MAWAR

_*Elly Risman, Psi*_

_Direktur, Psikolog, dan Trainer Yayasan Kita dan Buah Hati_

.
Glennon Melton berkata:

_”Jangan biarkan diri Anda begituuu khawatir akan bagaimana cara membesarkan anak dengan baik, sampai-sampai Anda lupa bahwa Anda TELAH memiliki anak yang baik.”_

Sering sekali orang tua begitu. 

Semut di ujung mana kelihatan, gajah di pelupuk mata kelewat melulu.

.
Kita sibuk khawatir _”Aduh Bu, Donny itu pendiam sekali deh anaknya.”_

(Padahal dalam diamnya, dia sebetulnya sangat perhatian sama sekitarnya)

.
_”Anak saya itu loh Bu, belum mau tidur sendiri, gimana ya?”_

Ibu itu lupa bahwa anaknya yang 3,5 tahun itu sudah bisa istinja (membersihkan diri setelah BAK dan BAB) sendiri, dan teman2 sebayanya belum bisa.

.
_”Kenapa sih ya Bu, anak saya kalau di suruh belajar sulit sekali?”_

Tapi shalatnya si anak yang selalu di kerjakan tanpa disuruh lagi, gak pernah dapat apresiasi.

.
_”Ya ampuuunnn, Raisa tuh kalo sama makanan sangaaat picky, udah kaya anak kurang gizi Bu, saya jadi malu.”_

Si anak sehat kan? Ceria kan? Aktif kan? Pintar kan? Lalu.. mau apa lagi??
Selengkapnya : http://bit.ly/DuriBerMawar
*Kita bisa mengeluh mawar berduri, atau bisa bersyukur duri bermawar* -Abraham Lincoln
#ParentingEraDigital

#EllyRismanParentingInstitute
Sumber : WA

​GEJALA SEX MATANG DINI

Hallo ayah edy, aku Hesty (bukan nama sesungguhnya). please tolong dong..???. aku lagi agak2 resah nich… masak anakku masih baru usia kira4 tahun kok udah cerita2 seneng ama teman cowoknya di Kinder Gartennya, wah.

.. aku suprise juga.. sekaligus bingung kok bisa ya… trus sebagai ortu bagaimana yach… aku harus menyikapinya…? 
Please tolong di jawab asap ya…please…
Bu Hesty yg baik,

Kira-kira putri kecil ibu lebih mirip siapa ya…? ayahnya atau bundanya waktu masih kecil dulu..?.(maaf sekedar bergurau).
Memang betul sekali belakangan ini sy sering mendapat keluhan dari orang tua mengenai anak-anak usia dini mereka yang sudah menunjukkan tanda-tanda ketertarikan pada lawan jenis juga bertanya seputar organ dan aktivitas seksual. 
Cukup mengejutkan memang jika dibandingkan dengan zaman kita kecil dulu yg mungkin baru mulai tertarik pada lawan jenis saat usia SMP atau malah SMA.
Dari seorang ahli nutrisi sy mendapatkan masukan bahwa hal ini mungkin dipicu oleh jenis2 makanan yg banyak dikosumsi oleh anak kita dewasa ini yg sebagian besar telah dicampur dengan sejenis hormon pertumbuhan pada anak-anak kita.
Faktor kedua adalah banyaknya jenis rangsangan seksual yg mempercepatnya matangnya hormon seksual pada anak2 terutama melalui program televisi yg menyajikan tayangan yg sangat kental sekali dengan bumbu adegan pornografi. 
Jika ibu cermati tayangan sinetron anak-anak zaman sekarang hampir semuanya di bumbui kisah percintaan dan suka-sukaan meskipun pemerannya masih anak2 usia belia dan bahkan mungkin ada yg tergolong masih balita.
Sementara jika dibandingkan dengan saat kita kecil dulu akses dan tontonan yg berbau percintaan semacam ini sangatlah terbatas (kita dulu hanya punya satu stasion TV yg di awasi ketat). Menurut hemat saya faktor inilah yg menjadi pemicu terbesar prilaku sex matang dini anak.
Selain tontonan ternyata komik2 bergambar anak sejenis manga dan hentai ada juga yg dibumbui adegan seks yg vulgar, Bahkan film2 seperti Avatar dan sejenisnya kerap juga disisipi adegan pornografi.
Yang lebih mengerikan lagi ternyata Game-game anak seperti GTA (Grand Theft Auto) baik di Play Station, Gadget2 anak atau di Game On Line Internet juga berisi adegan kekerasan dengan adegan senggama yg vulgar. 
Game GTA ini telah menjadikan anak kita untuk berperan sebagai pencuri mobil dan melawan polisi atau hukum. Dan jika berhasil mengalahkan Hukum, maka anak kita akan mendapat hadiah memilih wanita xxx untuk di ajak bercinta hingga bersenggama.
Bayangkan jika kita sebagai orang tua tidak mengetahui ini semua ??? Sementara Game2 on line semacam ini banyak bertebaran dimana2 tertutama di dekat2 tempat anak kita bersekolah. 
Hal ini juga ternyata di benarkan berdasarkan teori neuro sains (Teori Sains Otak) yg mengatakan bahwa sistem syaraf otak anak kita akan merespon hal-hal apa yg paling sering di terima oleh sistem indra penerimanya, dan hal tersebut akan mempercepat proses pertumbuhan hormon2 terkait. 
Sehingga pada akhirnya ini akan memicu munculnya fenomena seks matang dini. Mungkin ini mirip dengan perumpamaan buah yg di petik dan di peram atau di Karbit agar lebih cepat matang atau matang dipercepat sebelum waktu alamiahnya.
Masalahnya jika hal ini sudah terlanjur terjadi apa yg perlu kita lakukan?
Langkah pertama tentu saja sy menganjurkan para orang tua sedapat mungkin tidak memarahi anaknya, karena marah hanya akan menyebabkan anak tidak mau bercerita pada kita orang tuanya dan mungkin ia memilih cerita pada orang lain atau temannya, ini akan menjadi jauh lebih tidak terkendali dan bisa lebih berbahaya.
Langkah kedua adalah tenang dalam menanggapinya, bahkan berikan rasa antusias dan ketertarikan kita untuk mendengar lebih dalam ceritanya dan asal-usulnya.
Langkah ketiga adalah hanya bertanya dan terus menggali tanpa marah, mencela, menuduh atau menyanggah.
Langkah2 komunikatif tersebut di atas, kami sebut Probing (menggali) telah di tuangkan secara detail dalam buku kami yg berjudul “Problematik orang tua ABG” dan ayah edy menjawab 100 persoalan orang tua dan anak, diterbitkan oleh Penerbit Nourabooks. cara2 ini telah berhasil di praktekan oleh para orang tua yg pernah mengikuti Parenting ini.
Semakin ramah kita pada anak maka semakin mudah kita menggali informasi dari anak, semakin lengkap informasi maka semakin mudah kita melakukan tindakan penyelamatan.
Ingat anak akan jauh lebih mudah diarahkan jika kita lebih ramah dan bersahabat ketimbang kita marahi dan hukum.
Langkah berikutnya adalah Pencegahan, kami menganjurkan para orang tua untuk memilihkan makanan yg lebih alami tanpa hormon pertumbuhan. Dan yg jauh lebih penting adalah menghindari anak dari melihat tontonan atau tayangan yg memicu pertumbuhan hormon2 seksual anak sebelum waktunya. Baik melalui TV, Bacaan komik porno juga Game2 yg berisikan kekerasan dan pornografi.
Sebenarnya seks sendiri adalah sesuatu yg netral, Ia akan menjadi cenderung negatif manakala hadir tidak pada tempatnya dan belum waktunya,
Sesungguhnya jika kita mau, Seks itu bisa kita arahkan responsenya menjadi Sains biologi yg menjadi fungsi kerja bagian otak kiri anak, misalnya dengan memberi penjelasan ke arah sistem reproduksi yg terdapat pada hewan dan tumbuhan. 
Sementara Seks akan mengarah pada pornografi jika yg ditampilkan adalah bentuk2 visual imaginasi dan erotisme (yg menjadi bagian dari fungsi kerja otak kanan anak).
Masalahnya adalah pada masa anak2 biasanya mereka cenderung bereaksi dominan dengan otak kanan (visual)nya, jadi jika mereka melihat adegan seks tanpa bimbingan dari orang dewasa yg tepat (ortu dan guru) maka mereka langsung merespon hal tsb sebagai erotisme.
Untuk anak-anak usia dini akan jauh lebih baik jika pembicaraan seputar seks dan hubungan lawan jenis di arahkan pada Sains Biologi dan kedokteran ketimbang pada visualisasi imaginasi, hanya sayangnya tayangan televisi kita malah melakukan sebaliknya..
Ketika anak sudah terlanjur melihat dan bertanya seputar ketertarikan lawan jenis dan aktivitas seksual sebaiknya tidak perlu panik dan ditutup-tutupi, sedapat mungkin kita mengarahkan penjelasan kita pada sisi sains dari organ seks dan hubungan seks misalnya dengan menjelaskan proses reproduksi, kemudian sedapat mungkin mengajak anak untuk mengeksplorasi aktivitas reproduksi misalnya pada serangga, pada beberapa jenis ikan, berbagai macam tumbuhan dan sebagainya agar setiap ia melihat aktivitas seksual ia terbiasa untuk melihatnya sebagai sebuah aktivitas sains biologi yg alami.
Selain itu kita juga bisa menambahkan penjelasan tentang efek2 penyakit yg ditimbulkan akibat aktivitas sexual yg tidak sehat berikut contoh2 gambar yg kita ambilkan dari buku2 sains kedokteran. Jika ini yg lebih sering kita lakukan dan perlihatkan pada anak maka otak kiri anaklah yg akan jauh lebih dominan bekerja manakala datang pengaruh dari luar yang berbau pornografi dan seksual.
Cara inilah yg juga kami terapkan di sekolah kami dan pada orang tua yg menyekolahkan anaknya disana, karena proses ini perlu kekompakan antara orang tua dan pihak guru disekolahnya untuk membentengi anak kita dari fenomena bahaya sex matang dini yg saat ini marak terjadi dimana-mana.
Sumbet : Fb ayah edy

​MENENTRAMKAN ANAK TANTRUM

Hampir semua orang tua pernah melewatinya. Anak menangis, teriak-teriak, menendang-nendang, di rumah atau di tempat umum karena keinginannya tidak tercapai atau kemauannya tidak dituruti, atau bahkan ketika usahanya gagal. Kalau anak Anda tidak pernah melewatinya.. Bersyukurlah, karena Anda adalah 1 dari sedikit orang tua yang beruntung. Amukan itu di sebut temper tantrum.
Tantrum adalah ledakan emosi yang tiba-tiba, biasanya banyak dilakukan oleh anak-anak atau mereka yang di bawah tekanan emosi yang tinggi. Biasanya keluar dalam bentuk menangis, teriak, melawan, mengamuk, marah, menghindar dari usaha perdamaian, dan bisa sampai muncul dalam kekerasan fisik, seperti memukul, mencubit atau menggigit. Kehilangan kontrol diri ini bisa meyebabkan orang untuk tidak bisa tenang bahkan ketika tujuan awal dari tantrum tersebut tercapai. Tantrum biasanya berkurang seiring bertambahnya usia anak, dan sebetulnya tantrum adalah ukuran kekuatan karakter yg dapat dicapai oleh anak, hanya jika ia di bantu untuk mempertahankan kekuatan karakter itu dengan baik.
KENAPA SIH ANAK TANTRUM?
(1.) Mereka tidak tahu bagaimana cara mengemukakan keinginannya, rasa sakit yang dirasa, mendapatkan atensi Anda, dst.
(2.)  Mereka tidak mengerti kenapa keinginannya tidak bisa/boleh tercapai. Kenapa gak boleh dapet boneka yang lucu itu, atau permen yang berjejer berwarna warni.

(3.) Mereka tidak tahu bagaimana menangani rasa frustrasi dengan cara baik. Jangankan anak-anak, orang tua juga sering ngamuk-ngamuk gak karuan begitu.

(4.) Dan ini yg paling penting: Mereka tahu bahwa dengan mengamuk-ngamuk, Ayah – Ibu tidak akan tahan sama berisiknya, sama malunya, dan akhirnya memberikan apa yang mereka inginkan.
Jika di lihat dari 4 alasan di atas… Jadi anak tantrum salah siapa ya?

Tapi mari kita tidak sibuk membicarakan SIAPA yang salah, tp APA yg salah?

Jelas benar bahwa ada suatu keterampilan yang hilang, minimal keterampilan untuk mengemukakan keinginan, untuk menangani kekecewaan, dan bagi orang tuanya: keterampilan untuk mendisiplinkan dengan kasih sayang.
Apa yang harus di cermati dari tantrum? Kapan dan seberapa parah tantrumnya? Apakah anak lelah atau sakit? Berapa usianya? Dan tingkat ke-stress-an anak.

Anak-anak berkebutuhan khusus biasanya mengalaminya lebih sering dari pada anak normal lainnya.
Perilaku yang terlalu keras atau terlalu lembut membuat tantrum ini sering sekali berlanjut dari usia yang seharusnya, yaitu 1-4 tahun. Memukul atau mengancam anak sama sekali tidak menyelesaikan masalah, malah membuat anak menangis semakin keras dan belajar bahwa cara menangani marah dan sedih adalah melalui tindak kekerasan. Memberikan apa yang anak Anda inginkan akan membuat anak Anda terus menerus tantrum setiap kali tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.
Lantas, apa yang harus dilakukan? (Ini yang biasanya di tunggu-tunggu sama orang tua jaman sekarang yang mau semuanya serba instan, hehehe)

Apakah anak harus di cuekin lahir bathin? Salah.
Tantrum adalah bentuk kemarahan dan kemarahan adalah sebuah manifestasi dari rasa sedih. Sedih? Iya, sedih keinginannya tidak tercapai, sedih karena Ayah Ibu seakan tidak mengerti dan memenuhi keinginannya, sedih karena tidak mampu mengontrol diri atas rasa marah itu.

Pertanyaan saya, apakah ketika Bapak Ibu sedang sedih, maunya di cuekin lahir bathin atau di hibur hatinya?

Jadi, apakah ketika anak mengamuk-ngamuk, kita lantas menghibur hatinya dengan memberikan semua yang ia inginkan? Ya tidak juga.

Jadi gimana dong?
(1.) Tinggalkan anak Anda sejenak, jika Anda mengkhawatirkan keselamatannya, titipkan pada orang yang lebih tenang dan bisa menjaganya dari bahaya sampai ia tenang. Izinkan ia untuk marah. Marah itu fitrah manusia. Jika Anda mengambil haknya untuk merasakan marah, maka Anda mengambil haknya dari menjadi manusia? Adilkah? Jangankan manusia, Allah saja bisa marah (Q.S 7:71), Nabi-nabi pun marah (Q.S 7:150, 12:84, 21:87), apalagi kita yang hanya manusia biasa, atau anak-anak yang otaknya belum bersambungan. Dengan meninggalkan anak sejenak, Anda pun bisa menenangkan diri Anda dari teriakan-teriakan yang mudah sekali menyulut emosi. Tarik nafas, wudhu, mengaji, lakukan apa yang bisa Anda lakukan untuk tetap berlaku tenang. Ketenangan Anda mempengaruhi lamanya tantrum anak Anda. Terpisah dengan anak juga memberikan Anda berpikir apa penyulut tantrumnya, sehingga Anda bisa membantu anak Anda sebelum level emosinya sampai ke tahap tidak terkontrol. Kembali setiap 5-10 menit dan tawarkan pelukan. Ingat, marah adalah salah satu cara manusia untuk mengatasi rasa sedih. jika anak tdk mau di peluk, tdk perlu di paksa. Tidak perlu menjelaskan panjang lebar saat anak mengamuk, dia tidak akan mendengar. Cukup katakan bahwa “Ayah akan ngomong kalau Ella sudah tenang ya…”, kemudian cuekin lagi. \
(2.) Ketika sudah agak reda (bukan diam total), kembali tawarkan pelukan dan ketika sudah diam, jelaskan dalam 1 kalimat pendek mengapa Anda tidak dapat memberikan apa yang ia minta, atau pemahaman Anda akan rasa frustrasinya :
“Maaf yaa, tadi kita sudah makan 1 permen, jadi kita tidak makan permen lagi. 1 hari 1 permen. Besok boleh makan lagi.”
“Memasang kancing memang susah, nanti kita belajar sama-sama lagi ya bagaimana caranya.”
“Mama tau Fasya sedih sekali gak dapat boneka itu, terima kasih sudah tenang ya,” sambil mengelus-elus punggung belakangnya.
(3.) Nanti malam menjelang tidur, atau keesokan harinya, ketika TIDAK dalam keadaan tantrum, bahas kejadian tantrum itu :
“Tadi kan ada anak kecil, dia tadi nangis meraung-raung di Mall minta mainan boneka. Tapi tidak di kasih sama mamanya. Siapa ya namanya? *tunggu jawaban*. “Nggak semua yang kita mau bisa kita dapat, gak semua yang kita minta kita harus punya, apalagi dengan cara menangis-nangis dan teriak2 begitu.”
“Tadi siang Reza nangis minta permen 1 lagi ya? Di keluarga kita cuma boleh makan 1 permen sehari, karena kalau kebanyakan bisa sakit gula, karena kebanyakan makan gula. Mama sedih kalau reza sakit. Mama mendingan Reza sedih sedikit dari pada sakit. 1 permen sehari berlaku sampai Reza besar nanti. Jadi kalau Reza sudah makan 1 permen dalam sehari, boleh tambah 1 lagi gak? Nangis-nangis seperti kemarin lagi gak ya?”
“Kemarin Kahfi kesel ya gak bisa pasang kancing? Kadang-kadang memang ada kancing yang susah masuknya ya. Sebetulnya gak usah sampai nangis-nangis ngamuk-ngamuk begitu, bilang aja sama mama, mama bisa bantu. Kita latihan lagi sekarang yuk? Jadi nanti pas hari senin Kahfi mau pake seragam, Kahfi sudah bisa memasang kancing.”
Kuncinya adalah anak tidak mendapatkan apa yang ia inginkan selama episode tantrum berlangsung. Detik Anda kalah, anak akan belajar bahwa tantrum adalah cara mendapatkan apa yang ia inginkan.
Jika tantrum berlanjut diatas usia 4, maka ada masalah yang lebih dalam. Apakah di sekolah dengan guru atau teman, masalah psikis, stress, atau tekanan mental, kelainan fisik seperti sakit perut atau migraine, atau ketidakmampuan orang tua mengajarkan pengendalian emosi dengan baik di 5 tahun pertama kehidupan mereka.
Menghadapi tantrum memang tidak mudah, orang tua perlu TEGA, TEGAS dan SABAR saja, insha Allah tidak lama 🙂
Enjoy every moment of your children!
#EllyRismanParentingInstitute

#ParentingEraDigital
Sumber : WA

4 Anggota Tubuh Anak Yang Perlu Dicium Orangtua Setiap Hari

​Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Mari lahirkan rasa kasih dalam diri anak-anak melalui sifat ibu bapaknya yang penyayang. 
Berikut ini adalah saran kami sebagai psikolog islam yang sebaiknya diamalkan setiap hari terhadap anak-anak.
*CIUMAN KASIH SAYANG*
1. *Di ubun-ubun*, 

menunjukkan kebanggaan orangtua terhadap anak sambil didoakan agar menjadi anak soleh/sholehah, aamiin.
2. *Di dahi*, 

menandakan orangtua redha atas keberadaan anak. 

Rasulullah s.a.w mencium Fatimah radiallahu anha di dahinya.
3. *Di kedua pipi*

sambil mengucap masya Allah, sebagai tanda _syauq_ (perasaan sayang dan rindu) orangtua terhadap anak.
4. *Di tangan anak*, 

tanda _mawaddah wa hubb_ (kasih sayang) sambil mengucap _barakallah_, sebagaimana Rasulullah s.a.w juga selalu mencium tangan putri tercinta : Fatimah r.a.
*Perhatian* : 

Ciuman dimulut hanya untuk isteri saja.
*SENTUHAN SAYANG*
1. *Menggosok belakang kepala anak*, sebagai tanda kasih sayang dan perlindungan.
2. *Menggosok atas kepala atau ubun-ubun*, menunjukkan kebanggaan orangtua terhadap anak.
3. *Mengusap dahi*, sebagai tanda _syauq_ (perasaan sayang dan rindu) terhadap anak.
4. *Kedua pipi*, juga tanda _mawaddah wa hubb_ (kasih sayang)
5. *Memegang kedua tangan*, untuk menenangkan anak ketika perasaannya tampak kacau atau bingung.
*Perhatian* :

Usaplah dada anak sambil istighfar saat ia menunjukkan kecenderungan berbuat salah atau sedang marah, untuk menenangkannya.
Lakukan tindakan mawaddah warohmah ini diiringi kalimat2 thoyyibah.
Semoga bermanfaat.
Sumber : WA