Mahasiswa Pantang Meminta-Minta

Dikutip dari status fb mas Saptuary

Kemarin (4/9/15) seru sekali! Ada 950 mahasiswa baru di Fakultas Ekonomi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta yang harus saya provokasi,

Bag big bug!! Dueerrrr!! Haakdissk!! Ngakak… Ngikik… Menggelepar… lalu Terkapar! Yess siapa yang mau bertanya?!

Satu! Yes kamu..
“Mas bagaimana cara melihat peluang?”

Jawab: peluang apa? Kalo jomblo mencari peluang biar gak membujang? Hehe Kalo peluang usaha bisa kamu mulai dari menjual apa yang dibutuhkan oleh kawan-kawanmu! Bisnis itu penawaran, tawarkan apa yang kamu punya dan mereka gak punya. jadi direbutin sama teman-temanmu. Cari aja supliyernya di internet. Jangan remehkan bisnis
kecil-kecilan, karena semua yang besar dulu dari yang kecil. Dapatkan 100 ribu pertamamu, kamu bakal ketagihan mendapatkan 100 ribumu
lanjutnya..

Dua! Olrait kamu..
“Bagaimana mas caranya jualan kalo saya gak punya bakat?”

Jawab: hayoooo.. Dulu gak bisa jalan kamu belajar jalan, gak bisa naik sepeda kamu belajar naik sepeda, gak bisa jualan ya ayoo belajar jualan! Bagaimana mungkin kamu mau
jago berenang kalo nyemplung ke kolam aja kamu gak mau! Mau bisnis online ya kamu harus belajar cara jualan barang lewat online. Bagaimana cara menampilkan jualan, bagaimana menentukan harga jual, bagaimana
cara mengirimkan barang, bagaimana cara transfer uang, belajarlah.. Yakin deh! Semua bisa dilakukan sambil kamu kuliah, dimulai dari kos-kosan..

Tiga! Kamu disana:
“Mas saya dari Palembang, bagaimana caranya supaya saya boleh bisnis lagi oleh orang tua, dulu sejak SMA saya sudah jualan online, tapi sekarang saya diminta fokus kuliah saja, dilain
sisi saya ingin mandiri dapat uang sendiri..”

Jawab: ooohooi.. Wong kito galo! Di Jogja gak boleh galau! Hehe.. Orang tua itu gak butuh janji, tapi mereka butuh bukti. Kamu harus bikin komitmen buat dirimu sendiri, kuliah jalan terusss.. Jualan tetep muluss! Caranya? Atur waktumu secara maksimal.. 7-8 jam di kampus, 6 jam tidur kamu masih punya 10 jam free!
Buat apa? Cuman mau nongkrong saja? Mending kamu ambil barang lagi kayak dulu, mulai tawarkan lagi, dapetin duitnya lagi. Tabung hasilnya, pas pulang kampung kasih kejutan buat orangtuamu.. Tunjukan, nilaimu
tetap aman, jualan juga tetep jalan. Sudahlah tunda kesenangan.. Jadi mahasiswa itu bukan untuk manja! Kuliah di Jogja sambil berleha-leha.. Nunggu kiriman bulanan sadja…

Oke! Empat yang diujung sana..
“Mas, bagaimana kalo mau usaha join sama teman?”

Jawab: boleh gak masalah, tapi inget semua komitmen di awal harus ditegaskan. Teman adalah teman, bisnis adalah bisnis. Bikin perjanjian sederhana kamu dan dia. Misal modal 10 juta, kalian patungan masing-masing 5 juta, prosentase saham jadi 50:50 kan. Naaah kamu yang ngurusin bisnis ini berhak dapat gaji tentukan lah misal 1 juta sebulan, temanmu
yang hanya urun uang dia gak ikut ngurusin. Misal dalam sebulan hasil jualan untung 4 juta. Maka kamu sebagai pengelola berhak dapat
gaji 1 juta, sisanya 3 juta dibagi dua 50:50. Adil kan? Awas hati-hati gara-gara duit kawan bisa jadi lawan karena godaan setan, makanya harus diperjelas di awal, tandatangan bareng, salaman bareng, berdoa bareng. Bisnis itu adalah KESEPAKATAN bukan keterpaksaan.

Yap terkahir, kamuuuu!!
“Mas, gimana caranya supaya bisa terus semangat kalo jadi pengusaha?”

Jawab: yess! Orientasimu jangan hanya dunia.. Kalo jadi pengusaha rezeki kebuka dari 9 pintu, naah kamu ngejar materi gak bakal ada puasnya, gak ada bakal ada ujungnya.. Tapi kalo niatmu akherat enak nih, punya usaha
supaya jadi jalan rejeki buat orang banyak, rejekinya bisa buat berjuang di jalan Allah, bisa sedekah banyak, bisa membangun masjid, rumah tahfidz dan pesantren, bisa menyantuni orang-orang yang membutuhkan. Kan rejekinya unlimited, Allah yang bakal ngasih 9 pintu rejekinya. Tinggal bagaimana ikhtiar kita. Kalo hanya mengandalkan gajian ya rejeki kita hanya bulanan. Kalo punya banyak usaha, tiap hari
rejeki kita dialiri.. Inget ya adik2 semua, semua yang diruangan ini bakal mati, dan gak bakal kembali ke dunia lagi, punya bekalnya belum?
Kalo belum yuk dari sekarang kita siapin.. Jangan santai-santai, karena yang mati gak harus yang tua duluan, banyak yang masih muda malah lebih dulu berangkatnya…
Semua terdiam… Ahaaaa!

“Siapa yang mau jadi pengusahaa?”
Tiba-tiba tangan terangkat bersama dan berteriak sayaaaaa!!!

Aaah takdir dan nasib akan menggiring kemana mereka nantinya, tugas saya hanya menunjukan jalan awalnya..
Yang jelas mereka adalah MAHA-Siswa, Siswa yang MAHA, tak pantas lagi merengek-rengek dan terus merepotkan orang tua..
Waktunya memasang rasa malu untuk terus jadi peminta-minta..

Sumber : @Saptuari

Advertisements

Di Dalam Hati Kita Ada…

Di dalam hati kita ada kesemrawutan yang takkan terurai selain dengan menghadap pada Allah dalam berdiri, ruku’, & sujud..

Di dalam hati kita ada kehampaan yang takkan terisi makna selain dengan melantunkan firman-firmanNya yang bicara pada kita..

Di dalam hati kita ada duka cita yang takkan tergeser selain oleh kebahagiaan mengenal Allah & ketulusan bermesra padaNya..

Di dalam hati kita ada gulana kegalauan yang takkan dapat ditentramkan selain dengan mengingat Allah & berlari menujuNya..

Di dalam hati kita ada kehausan yang tak dapat dilegakan selain dengan ridha pada ketentuan; tunduk pada perintah & larangan..

Di dalam hati kita ada kefakiran yang tak dapat dicukupi selain dengan qana’ah atas pembagianNya & syukur penambah karunia.

Ibn Qayyim Al Jauziyah
#salimafillah

Sumber : Broadcast wa

Kalau ribut dengan..

Motivasi hari ini :):):)

Kalau ribut dengan pelanggan,)
Walaupun kita menang,
Pelanggan tetap akan lari.

Kalau ribut dengan rekan sekerja,
Walaupun kita menang,
Tiada lagi semangat bekerja dalam tim.

Kalau kita ribut dengan boss,
Walaupun kita menang,
Tiada lagi masa depan di tempat itu.

Kalau kita ribut dengan keluarga,
Walaupun kita menang,
Hubungan kekeluargaan akan renggang.

Kalau kita ribut dengan guru,
Walaupun kita menang,
Keberkahan menuntut ilmu dan kemesraan itu akan hilang

Kalau ribut dengan kawan,
Walaupun kita menang,
Yang pasti kita akan kekurangan kawan.

Kalau ribut dengan pasangan,
Walaupun kita menang,
Perasaan sayang pasti akan berkurang.

Kalau kita ribut dengan siapapun,
Walaupun kita menang,
Kita tetap kalah…
Yang menang >> cuma ego diri  sendiri.
Yang susah >> mengalahkan ego diri sendiri.

Renungan bersama….
Apabila menerima teguran, tdk usah terus melenting, bersyukurlah, masih ada yang mau menegur kesalahan kita.

… Got this nice advice from somebody. It is a good reminder …

Happy reading in this nice day.👳

Sumber : broadcast wa

Motivator terbaik adalah…

Sejenak Pagi:

Inilah 10 (sepuluh) ‘‘Motivator’’ Terbaik di Indonesia:
②. Mario Teguh.
③. Andre Wongso.
④. Tung Desem Waringin.
⑤. Bong Chandra.
⑥. Krisnamurti.
⑦. James Gwee.
⑧. Gede Prana.
⑨. Yansen H. A. Purukan.
⑩. Christian Andrianto.

*Kok nomor ① (satu) nggak ada..?
Baik..! Ini jawabannya..

①. Diri Anda Sendiri.
Motivator terbaik untuk kita adalah diri kita sendiri.
Tak ada yg dapat mengubah hidup kita, selain diri kita sendiri.
Kita terlahir sebagai seorang pemenang.
Dari jutaan sel sperma, kitalah yang terpilih untuk lahir.
Motivator dari nomor 2 sampai 10 hanyalah pemacu semangat kita, karena walaupun kita mengikuti jutaan
seminar pun, tapi dlm diri kita belum ada niat untuk berubah sama saja dengan NOL.

Anda & saya, & kita semua adalah JUARA..!

– Sering kita dengar musuh terbesar adalah diri kita sendiri..!
– Itu benar..!
– Kalahkan diri kita sendiri, baru kita bisa mencapai tangga yg lebih tinggi..!

”Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.”

Motivator terbaik adalah diri kita sendiri. SEMANGAT, hadapi dengan Senyuman, Kita Bisa Luar Biasa. Lancar beraktivitas dan SUKSES MULIA untuk KITA SEMUA.

Selamat pagi…..

Dan semangat krn mulai hari ini kita harus menjadi juaranya!!!..

Robbana Taqobbal Minna
Ya Alloh terimalah dari kami (amalan kami), aamiin.

Semoga Bermanfaat.

Sumber : broadcast wa

Happy #saturday

Percakapan Jururawat dan Pasien Rumah Sakit

BUAT PERINGATAN DIRI SAYA DAN SAUDARA-SAUDARA SEMUA.

Cerita yg menyayat Hati: Percakapan Jururawat dan Pasien Rumah Sakit      
 
Pasien “Abang jururawat, seneng ya kerja di rumah sakit? Sdh lama ya kerja di sini?”     
 
Jururawat:→ “lumayanlah. ada suka dan dukanya  Tapi, selama 5 tahun kerja di sini, dapat banyak pengalaman yang berkesan yang orang luar sana takkan mengetahuinya  
       
Pasien :  “Apa yang menyenangkan? Perawat2nya cantik2 ya?”       
 
Jururawat: →”Bukan. Itu biasa saja. Ada yang lagi yg lebih mengesankan       
 
Pasien: “Wah, apa itu?”  
 
Jururawat  →”Di sini setiap hari saya lihat pasien meninggal dunia. Kerja saya ngurusi kencing dan berak mereka, bersihkan mereka sampai ke urusan jenazah.
 
          → Apa yang saya lihat sepanjang saya bekerja di RS ini, betapa ramainya di antara mereka yang sudah meninggal..sebelum meninggal meminta-minta apakavvh ada dari keluarga ahli waris atau jururawat yg bawa kitab al-Quran.
 
          → Ada yang gak bisa baca alQuran, ada yang suruh kami bacakan. Ada juga yang tidak sempat sentuh al-Quran, tak sempat baca al-Quran, Allah telah pun mengambil nyawa mereka.
Saat dibacakan  al-Quran pada mereka, berlinanganlah  air mata mereka.        

          →Saya lihat betapa orang-orang yang berada di saat2 akhir kehidupannya, sebagian besar ingin sekali menyentuh al-Quran. Kalau bisa, maunya mati dengan peluk al-Quran. Pengalaman-pengalaman yang saya lalui di sini buat hati ini insaf.sadar ttg satu hal yang sangat penting.”    
 
 Pasien: “Hm. Apa dia?”     
 
jururawat: →”Apa yang kita biasa pegang ketika kita masih sehat, apa yang kita biasa baca dan belai ketika masih hidup….itu jugalah yang kita akan dapat pegang dan sentuh di akhir hayat.
 
Jika kita selalu pegang handphone di tangan setiap  waktu ..sholat tdk tepat waktu ..sepanjang waktu memegang HP dan sibuk gadget… mungkin pula di akhir hayat kita nanti…itu pula yg kita kerjakan.
 
Dapatkah kita sentuh dan pegang al-Quran? Sedangkan tangan kita tak biasa pegang al-Quran, sehari sekali pun susah membuka al-Quran apalagi membaca atau mentadabburinya…yaa..Allah…ar Rahman ..ar Rahim..
 
Sungguh, kita sdh tak perlu handphone atau gadget di akhir nyawa kita..kita sangat memerlukan al-Quran…barulah kita sadar saat itu bhw waktu yg kita milki sdh terbuang begitu saja……ohh…Allah..Allah…”      
 
Pasien   “(meneteskan air mata..) mas Jururawat tolong bacakan saya al-Quran…saya tak bisa baca alQuran..saya buta tajwid…  ”   
 
Jururawat itu tersenyum. Dikeluarkan al-Quran mini dari kantong bajunya.  lalu dia membacakan alQuran pada  pasien itu    
 
✔Hampir 9 dari 10 pasien yang beragama islam yang berada di Rumah sakit itu kebanyakannya memperlihatkan wajah penuh kesedihan serta menyesal, menyesal dan menyesal tdk ambil kesempatan untuk membaca Quran ketika sehat dan lapang ?      
✔Wajah2 ketakutan  dan seram bila ambang maut mendekati? naudzubillah  
 
Saya sbg penulis cerita ini tersadar pula akan waktu yg sdh ter sia2kan. juga pembaca yang membaca posting ini belum terlambat dan pintu taubat luas terbuka untuk kita memulakan.. aamiin.

Yang singkat itu – “waktu”
Yang menipu itu – “dunia”
Yang dekat itu – “kematian”
Yang besar itu – “hawa nafsu”
Yang berat itu – “amanah”
Yang sulit itu – “ikhlas”
Yang mudah itu – “berbuat dosa”
Yang susah itu – “sabar”
Yang lupa itu – “bersyukur”
Yang membakar amal itu – “mengumpat”
Yang ke neraka itu – “lidah”
Yang berharga itu – “iman”
Yang mententeramkan hati itu – “teman sejati”
Yang ditunggu Allah S.w.t itu -“taubat”

(Imam Al Ghazali)

Sumber : broadcast wa

Yang langka itu..

Bismillaah

Yang langka itu…
Istri yg tunduk patuh pada suami.
Yg senantiasa berseri2 saat dipandang.
Yg ridha terdiam saat suami marah.
Tidak merasa lebih apalagi meninggikan suara.
Tercantik di hadapan suami.
Terharum saat menemani suami beristirahat.
Tak menuntut keduniaan yg tidak mampu diberikan suaminya.
Yang sadar bahwa ridhaNya ada pd ridha suaminya.
.
Yang langka itu…
Suami yg mengerti bahwa istrinya bukan pembantu.
Sadar tak melulu ingin dilayani.
Malu jika menyuruh ini itu krn tau istrinya sudah repot seharian urusan anak dan rumah.
Yg tak berharap keadaan rumah lapang saat pulang krn sadar itulah resiko hadirnya amanah2 yg masi kecil.
Yg sadar pekerjaan rumah tangga juga kewajibannya.
Yg rela mengerjakan pekerjaan rumah tangga krn rasa sayangnya thd istrinya yg kelelahan.
.
Yang langka itu…
Anak lelaki yg sadar bahwa ibunya yg paling berhak atas dirinya.
Yg mengutamakan memperhatikan urusan ibunya.
Yg lebih mencintai ibunya dibanding mencintai istri dan anak2nya.
Yg sadar bahwa surganya ada pd keridhaan ibunya.
.
Yang langka itu…
Orang tua yg sadar bahwa anak perempuannya jika menikah sudah bukan lagi miliknya.
Yg selalu menasehati untuk mentaati suaminya selama suaminya tdk menyuruhnya kpd perkara munkar.
Yg sadar bahwa keridhaan Allah bagi anaknya telah berpindah pd ridha suaminya.
.
Yang langka itu…
Seorang ibu yg meskipun tau surga berada di bawah telapak kakinya.
Tapi tidak pernah sekalipun menyinggung hal tsb saat anaknya ada kelalaian thdnya.
Yg selalu sadar bahwa mgkn segala kekurangan pd anak2nya adalah hasil didikannya yg salah selama ini.
Yg sadar bahwa jika dirinya salah berucap atau doa keburukan maka malaikat akan mengijabah doanya.
.
Yang langka itu…
Anak yg senantiasa mendoakan kebaikan bagi orangtuanya dlm keheningan sepertiga malam terakhir.
Meskipun sehari hari dlm kesibukan rumah tangganya.
Dalam kesibukan usahanya.
Dalam kesibukan pekerjaannya.
.
Yang langka itu…
Orang orang yg saling memberikan uzur.
Yg saling memaklumi jika hal2 di atas lupa atau lalai dilakukan.
Sehingga saling memaafkan diantara mereka.
Maka rahmat Allah berada diantara mereka.
Dan Allah dgn kemurahanNya memaafkan kesalahan2 mereka.
.
Barakallaahu fiikum

—-
Sumber : broadcast wa

Ada yang Lebih Sakit daripada Melahirkan bagi Ibu

By Ary Ginanjar Agustian

“IBU, masakin air bu. Aku mau mandi pakai air hangat,” seorang anak meminta ibunya menyiapkan air hangat untuk mandinya.

Sang ibu dengan ikhlas melaksanakan apa yang diperintah oleh sang anak.

Dengan suara lembut ibunya menyahut, “Iya, tunggu sebentar ya, sayang!”

“Jangan terlalu lama ya Bu! Soalnya saya ada janji sama teman.” ujar sang anak.

Tidak lama kemudian sang ibu telah usai menyiapkan air hangat untuk buah hatinya.

“Nak, air hangatnya sudah siap,” ibu itu memberi tahu.

“Lama sekali sih, Bu…” sang anak sedikit membentak.

Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi, sang anak berpamitan kepada ibunya, “Bu, saya keluar dulu ya, mau jalan-jalan sama teman.”

“Mau kemana nak?” tanya sang ibu.

“Kan sudah aku bilang, saya mau keluar jalan-jalan sama teman,” kata sang anak sambil mengerutkan dahi.

Malam harinya, sang anak pulang dari jalan-jalan, sesampainya di rumah ia merasa kesal karena ibunya tidak ada di rumah. Padahal perutnya sangat lapar, di meja makan tidak ada makanan apa pun.

Beberapa saat kemudian, ibunya datang sambil mengucapkan salam, “Assalamu’ alaik­­um.. Nak, kamu sudah pulang? Sudah dari tadi?”

“Hah, ibu dari mana saja. Saya ini lapar, mau makan tidak ada makanan di meja makan. Seharusnya kalau ibu mau keluar itu masak dulu…” kata si anak dengan suara sangat lantang.

Sang ibu mencoba menjelaskan sambil memegang tangan anaknya, “Begini sayang, kamu jangan marah dulu. Ibu tadi keluar bukan untuk urusan yang tidak penting, kamu belum tahukan kalau istrinya Pak Rahman meninggal?”

“Meninggal? Padahal tidak sakit apa- apa kan, Bu?” sang anak sedikit kaget, nada suaranya juga tidak tinggi lagi.

“Dia meninggal waktu Maghrib tadi. Dia meninggal saat melahirkan anaknya. Kamu juga harus tahu nak, seorang ibu itu bertaruh nyawa saat melahirkan anaknya,” ibu memberikan penjelasan.

Hati sang anak mulai terketuk, dengan suara lirih ia bertanya pada ibunya, “Itu artinya, ibu saat melahirkanku juga begitu? Ibu juga merasakan sakit yang luar biasa juga?”

“Iya anakku. Saat itu ibu harus berjuang menahan rasa sakit yang luar biasa. Namun, ada yang lebih sakit daripada sekadar melahirkanmu, nak,” sang ibu menjawab.

“Apa itu, Bu?” sang anak ingin mengerti apa yang melebihi rasa sakit ibunya saat melahirkan dia.

Sang ibu tak mampu menahan air mata yang mengalir dari setiap sudut matanya seraya berkata, “Rasa sakit saat ibu melahirkanmu itu tak seberapa, bila dibandingkan dengan rasa sakit yang ibu rasakan saat dirimu membentak ibu dengan suara lantang, saat kau menyakiti hati ibu, Nak.”

Si anak langsung menangis dan memohon ampun atas apa yang telah diperbuat selama ini pada ibunya.

Disadur dari Web islampos

Sumber : broadcast wa