​Mengocehlah…. Agar Jakarta Tak Seperti Granada

(1). Apa yg menyebabkan kerajaan Granada, sbg salah satu kerajaan Islam terkuat di Eropa, akhirnya runtuh?
(2). Jawaban pastinya adalah karena serangan musuh.
(3). Tapi serangan musuh tentu tidak serta merta dilakukan begitu saja. Banyak faktor yg harus diperhitungkan. Salah satunya adalah ‘timing’ yg pas.
(4). Utk mengetahui kapan ‘timing’ yg pas, raja Ferdinand dari Aragon perlu mengutus mata2.
(5). Yg dilakukan sang mata2 cukup sederhana : pantau ‘ocehan’ masyarakat Granada.
(6). Satu waktu ia melihat anak kecil menangis. Dihampirinya sang bocah dan bertanya ttg apa yg menyebabkannya menangis?
(7). “Aku menangis karena anak panahku tidak tepat sasaran”, jawab sang bocah. “Bukankah kamu bisa mencobanya lagi?”, kata sang mata2.
(8). Jawaban sang bocah cukup mengejutkan. “Jika satu anak panah saya gagal mengenai musuh, apa mungkin musuh memberi saya kesempatan utk memanahnya lagi?”
(9). Mendengar ‘ocehan’ bocah tsb, sang mata2 menyarankan raja Ferdinand utk tidak menyerang Granada saat ini. Anak kecilnya aja begitu, gimana org2 tuanya?
(10). Bbrp tahun kemudian sang mata2 kembali ke Granada dan dilihatnya seorang dewasa yg sedang menangis.
(11). “Mengapa kau menangis?” tanya si mata2. “Kekasihku meninggalkan aku”, jawab si org dewasa tsb.
(12). Maka sang mata2 merekomendasikan inilah ‘timing’ yg tepat utk melakukan penyerangan.
(13). Tidak butuh lama, Granada sbg benteng terakhir kaum muslimin di Eropa, dapat dikuasai dgn mudah.
(14). Puncak malapetaka bagi kaum muslimin Granada adalah dgn dibentuknya lembaga Inguisition (inkuisisi, pengadilan yang dibentuk oleh dewan gereja). Pilihannya hanya 2 : menerima ajaran katholik atau dibantai.
(15). Maka tamatlah riwayat kaum muslimin di Andalusia, dan Eropa secara keseluruhan.
(16). Mungkinkah tragedi Granada terulang di negeri kita? Bisa iya, bisa tidak. Tergantung apa ‘ocehan’ kita.
(17). Saya teringat sebuah ceramah dari ‘Da’i Sejuta Ummat’, (alm) KH. Zainuddin MZ. Beliau katakan: “Allah memang menjamin bahwa Islam akan terus ada di muka bumi hingga akhir zaman; namun Dia tidak menjamin bhw Islam akan terus ada di Indonesia.”
(18). Spt mata2 di Granada dulu, musuh2 Islam saat ini jg sedang memata-matai kita. Menunggu ‘timing’ yg pas.
(19). Bahkan kini mrk tak perlu repot2 terjun langsung ke lapangan utk mengetahui isi ocehan dan obrolan kita.
(20). Cukup pantau sosial media dan simak tema2 apa yg menjadi concern kaum muslimin.
(21). Utk saat ini bolehlah kita bernafas lega. Namun tetap bersiaga.
(22). Bahwa disaat MU kalah telak oleh Chelsea, kita masih ‘ngoceh’ soal penindasan saudara kita di Suriah dan Palestina.
(23). Bahwa tatkala valentino rossi terjatuh, kita masih ‘ngoceh’ ttg qur’an yg dinistakan.
(24). Bahwa ditengah dukungan terhadap adik Rachel di Voice Kids Indonesia, kita juga semangat mendukung petisi2 online yg digalang utk memenjarakan ahok.
(24). Ini tanda dan mjd pesan bagi musuh bhw ghiroh jihad itu blm luntur dari dada kaum muslimin.
(25). Apalagi kemudian terbukti bhw kita tidak sekedar besar ngoceh di sosial media, tapi juga wujud di dunia nyata.
(26). Jutaan kaum muslimin, tidak hanya di Jakarta, tapi di berbagai tempat hadir dalam aksi-aksi pembelaan terhadap kehormatan agama yg dilecehkan, dan puncaknya insya Allah pada 4 November nanti.
(27). Ini jelas membuat musuh ketar-ketir meski di back up kekuasaan sekalipun.
(28). Apalagi setelah ustadzuna, KH. Tengku Zulkarnain (wasekjen MUI) menyampaikan ‘ocehan’ nya: “Wahai Para Penjilat dan Penjual Agama! Berhenti lah Menghina Kami Umat Islam. Nanti Jika Kami Teriakkan JIHAD AKBAR, Kalian Musnah.”
(29). Maka jangan anggap remeh meski sekedar ‘mengoceh’ di dunia maya utk membela Islam. Krn bisa jadi inilah yg membuat mrk berfikir ulang utk menyerang kita. #Granada
(30). Ini ocehanku mana ocehanmu?
Ocehan karyawan yg terjepit di KRL.
I like monday
31/10/2016
-ERWIN-
Sumber : broadcast wa

Advertisements

Jangan Membuat “Cengeng”

1. Kadang kala iman kita naik dan turun | dipengaruhi sifat jahatnya setan dan hasutan hawa nafsu

2. Itulah mengapa banyak yang dulu jadi pelopor dakwah | Kini justru ompong dalam dakwah

3. Itulah mengapa banyak yang mundur dari dakwah | maklum saja, saat imannya telah dikalahkan harta, tahta dan cinta

4. Tak sedikit yang dulunya jadi macan di area dakwah | kini justru terlibat dalam kubangan maksiat tenggelam dalam lumpurnya dosa

5. Diingatkan untuk kembali beriman dan dakwah | yang ada menjauh dan marah karena dinasehati

6. Tak sedikit yang dulu pemegang panji kebenaran | justru kini mencari-cari pembenaran untuk kemaksiatannya

7. Itulah mengapa wasiat ulama begitu penting | agar kita tidak meninggalkan dari lingkaran orang-orang soleh

8. Karena dalam lingkaran kesolehan | mereka saling menjaga agar tidak terkilir iman | agar tahu jalan yang lurus agar tahu dalam mengurus

ustadz Rizqi Awal

😄

Pencuri Yang Mendapat ‘Harta Curian’ Hidayah

1. Malik ibn Dinar adalah seorang periwayat hadis dari generasi tabi’in. Ia orang miskin. Sangat miskin. #RZTausyiah

2. Tidak ada barang berharga di rumahnya. Jelas, jika ada pencuri memasuki rumahnya, itu adalah keputusan yang sangat salah. #RZTausyiah

3. Suatu malam, pencuri itu memasuki rumah Malik ibn Dinar. Ia mencari-cari barangkali ada barang berharga yang bisa dicuri. #RZTausyiah

4. Semua ruangan dimasuki. Malik ibn Dinar yang saat itu sedang mengerjakan shalat di kamarnya tahu jika ada yang masuk ke rumahnya.

5. Ia tetap mengerjakan shalat, tidak khawatir sama sekali dengan kedatangan si pencuri. #RZTausyiah

6. Ia yakin jika pencuri itu tdk akan menemukan apa pun yg bisa dibawa. Sebab, dirinya hanya orang miskin yg tdk punya apa-apa. #RZTausyiah

7. Sampai kemudian si pencuri masuk ke kamar tempat Malik mengerjakan shalat, dan secara kebetulan, Malik baru selesai mengerjakan shalat.

8. Si pencuri terkejut.Ternyata rumah ada penghuniny.Keduany bertatapan.Malik mengucapkn salam kpd pencuri,sementara si pencuri hny terpaku

9. “Saudaraku,” kata Malik. “Kau sudah memasuki rumahku tapi tidak menemukan apa-apa. #RZTausyiah

10. Dan aku tidak akan membiarkanmu keluar dari rumahku tanpa membawa apa-apa.” Si pencuri masih terpaku. #RZTausyiah

11. Malik berdiri lalu ke belakang mengambil air dan menyodorkannya kepada si pencuri. #RZTausyiah

12. “Berwudulah dengan air ini,” kata Malik, “Lalu kerjakanlah salat dua rakaat. Kau akan keluar dari rumah ini dengan membawa kebaikan.”

13. “Baik, Tuan,” kata si pencuri. Ia seperti terhipnotis, menuruti semua perintah Malik. #RZTausyiah

14. Setelah selesai mengerjakan shalat, si pencuri mendekati Malik. “Tuan! Bolehkah aku menambah dua rakaat lagi?” #RZTausyiah

15. “Silakan. Kerjakan semampumu,” jawab Malik. #RZTausyiah

16.Si pencuri tampak menikmati shalat malam itu,sampai2 ia tdk hanya menambah dua rakaat,tp terus mengerjakan salat sampai waktu subuh tiba.

17. “Sekarang sudah saatnya kau pulang dari sini,” kata Malik. “Kau akan pergi dengan membawa hidayah.” #RZTausyiah

18. Tapi si pencuri berkata, “Jika Tuan mengizinkan, aku ingin tinggal di sini untuk sehari ini. #RZTausyiah

19. Aku sudah berniat berpuasa.” Malik pun mengizinkan. “Silakan, jika kau memang menghendaki.” #RZTausyiah

20. Saat hendak pergi, si pencuri berkata kepada Malik, “Aku ingin bertobat.” #RZTausyiah

21. “Biar itu menjadi urusanmu dengan Allah,” kata Malik. #RZTausyiah

22.Pencuri itu berlalu.Sampai kemudian ia bertemu dgn temannya sesama pencuri.“Aku pikir kau membawa banyak hasil curian,” kata temannya itu

23. “Kemarin aku berniat mencuri di rumah seseorang bernama Malik ibn Dinar,” kata si pencuri. #RZTausyiah

24. “Tapi dia ternyata orang miskin yang tak punya apa-apa. Dan, justru dia yang mencuri apa yang kumiliki selama ini.” #RZTausyiah

Sumber : RZ @rumahzakat

Adakah yang Tahu &  Bisa Menjamin ?

Adakah yang tahu &  bisa menjamin ?
Orang yang kerap kita ghibahi, kini ia telah sibuk membenahi diri,

#

Orang yang  rajin kita dzalimi, ia sedang akrab mendoakan pengampunan untuk kita,

#

Orang yang kita rancang putus ukhuwah dengannya karna menurut kita, ia tak sejalan dengan kita, tak selevel dengan kita, sekarang ia tekun meraih cara menguatkan ukhuwah dengan kita,

#

Orang yang telah kita sebar aibnya, ia tengah menutup segala aib-aib kita,

#

Dan … mungkin saja orang yang kita sibuk jauhkan karna terlihat pakaiannya belum syar’i,  kehidupannya belum nyunnah, jarang hadir ke majelis ilmu. Ternyata ia termasuk calon penduduk surga.

#

Lalu bisakah kita masih mau menghisab dan mencari cari kesalahan saudari kita ? siapa yang tahu ? Bahwa ternyata ia calon peduduk surga !

#

Karna ketawadhuannya, kesabaran & keikhlasannya yang tidak memandang orang lain sebelah mata. Selalu merasa rendah hati kepada siapapun. Meski mungkin ilmunya tinggi.

#

Selalu mampu Berprasangka baik kepada orang lain.
Meski penampilannya belum terlihat syar’i, tapi ia bukan orang yang sibuk memilih teman hanya berdasarkan pakaian yang dikenakan.

#

Meski mungkin… ia terlihat belum menjalankan sunnah. Tapi apakah tahu ? Ternyata ibadah wajibnya yang Allah terima dan tak pernah cacat ! *cacat yakni terlalu sibuk menilai suatu hal hanya berdasar 1 sumber. Hingga mata hatinya tidak sejalan. Hingga mudah mengkafirkan oranglain. Menghisab dosa oranglain. Mengeksklusifkan kelompok yang hanya sesuai dengan pemahamannya. Hingga lupa akan cacat ibadahnya. Naudzubillah.

Repost @likeislam

Iman Para Ibunda

By : @salimafillah

Tiga manusia itu sedang melintas di sebuah lembah. Kosong, gersang, terik, liar, tak
berpenghuni. Tak tampak hewan, tak terlihat tanaman.

Mereka adalah seorang lelaki yang mulai menua, dan seorang wanita yang menggendong
bayi merah. Rasa lelah membuat mereka berhenti.

Dan sang bayi yang kehausan mulai menetek pada ibunya.

Tetapi laki-laki itu, suaminya yang shalih, tiba-tiba saja berjalan ke arah utara. Sekilas sang isteri melihat ada kaca-kaca di pelupuk matanya. Dan ia
terus berjalan. Hingga sang isteri kemudian sadar, bahwa ia dan bayinya telah ditinggalkan. Maka
iapun mengejar, mencoba menyusul. Ia berlari kecil dengan bayi merahnya terguncang-guncang dalam gendongan.

”Mengapa kau tinggalkan kami hai Ibrahim?”, serunya penuh tanya. Lelaki itu, Ibrahim, tak menjawab. Ia hanya berhenti sejenak, menghela nafas dalam-dalam dan
menahan isak. ”Mengapa kau tinggalkan kami hai Ibrahim?”

Yang ditanya tetap diam. Ia tak mampu menjawab. Lalu ia melangkah lagi, sedikit menyerong, menghindar dari isterinya yang menghadang.

”Mengapa kau tinggalkan kami hai Ibrahim?” Ibrahim masih diam.

Dalam hatinya berkecamuk sejuta senyawa rasa. Dia yang menanti-nanti kelahiran buah hati berpuluh tahun lamanya. Dia yang melalui malam-malamnya dengan doa-doa, memohon ada tangis kecil yang memecah kesunyian rumahnya.

Kini Allah telah memberikan anugerah itu, Isma’il. Dan kini, Allah tiba-tiba memintanya meninggalkan
Isma’il dan ibunya di tanah tak berpenghidupan ini.
Ia akan merasa sepi lagi. Ia akan dilanda khawatir tak bertepi.

Tetapi apa daya seorang hamba? Dan mengapa harus bersangka pada Allah dengan yang tak semestinya?

Ya, ia ridha dengan perintahNya. Hanya saja ia tak sanggup menjawab Hajar. Lapis bening di matanya telah berubah menjadi genangan. Hatinya gerimis.

”Apakah ini perintah Allah?”, tiba-tiba Hajar mengubah pertanyaan.

Ibrahim terhenyak. Ia berhenti sesaat, lalu berbalik.

Tatapannya ditumbukkan ke bola mata Hajar yang bening dan polos. Kedua tangannya mencekau lengan-lengan Hajar. ”Ya”, katanya. Helaan
nafasnya panjang dan berat. ”Ini perintah Allah.”

Sesaat hening. Mereka berpelukan. “Kalau ini perintah Allah”, kata Hajar berbisik di telinga suaminya, “Dia sekali-kali takkan pernah menyia- nyiakan kami.”

“Ya Rabb kami, sungguh telah kutempatkan
sebagian keturunanku di lembah yang tak
bertanaman di dekat rumahMu yang dihormati. Ya Rabb kami, agar mereka mendirikan shalat.

Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka, dan karuniakan pada mereka rizqi dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS Ibrahim: 37)

Maka begitulah. Jalan cinta pejuang selalu meminta kita memahkotai cinta dengan iman bercahaya.

Ibrahim, kekasih Allah itu membuktikan cintanya. Demikian pula Hajar isterinya.
Kalimatnya menjadi proklamasi iman sepanjang masa. ”Kalau ini perintah Allah, sekali-kali Dia takkan pernah menyia-nyiakan kami.”

Inilah perasaan hati yang bergejolak menjadi keteguhan.

Perasaan yang menggantungkan diri pada Dzat Maha Tinggi, hingga melesat meloncati emosi-emosi.

Inilah iman. Tentu kita bisa membayangkan, sangat manusiawi
jika Hajar tak terima ditinggalkan begitu saja di gurun terik tanpa tumbuhan, tanpa makan, tanpa kawan. Atau jika cemburu menguasainya lalu ia berkata, ”Oh jadi kau tinggalkan kami di sini karena Sarah yang mandul cemburu padaku?!

Jadi kini kami disia-siakan sementara kau akan bersenang- senang dengan isterimu yang lain?”

Subhanallah.. Tentu saja ibunda Hajar jauh dari akhlaq semacam ini. Tapi mari kita berandai-andai untuk menunjukkan bahwa apa yang dilakukan
Hajar bukanlah perkara yang mudah. Sama sekali tidak mudah. Dan jika keberatannya yang
manusiawi itu ia turutkan tentu kita tak mengenal zamzam, tentu tak ada sa’i antara bukit Shafa dan Marwa, tentu tak ada lempar jumrah, dan tak ada
ibadah kurban. Dan kitapun mungkin urung menambah lafazh shalawat kita pada sang Nabi dengan, ”..Kamaa shallaita ’alaa Ibraahiim, wa ’alaa Aali Ibraahiim..”

Para shahabiyah mukminah yang ditinggal suaminya berjihad di Perang Tabuk itu juga dihadapkan pada ujian iman. Inilah Jaisyul ’Usrah, pasukan yang penuh kesulitan.

Meninggalkan keluarga dalam ketidakmenentuan, cuaca yang ganas, juga bekal dan simpanan yang tipis.

Wanita-wanita munafiq pun datang, bagiakan syaithan-syaithan perempuan yang penuh cinta dan perhatian. ”Bu.. Kok tega ya suami Ibu ninggalin di saat-saat semacam ini.

Cuaca ganas, panen tak menentu, situasi sulit, anak juga masih kecil-kecil. Ah, begitulah kadang laki-laki. Eh, ngomong-ngomong, ibu juga kok mau-maunya sih ditinggal pergi? Kalau saya pasti nggak mau, keadaan lagi susah begini..”

”Innama dzahabal Akkal”, sahut para mukminah lagi shalihah itu, ”Wa baqiya Ar Razzaq.” Ah, cerdas sekali. Untuk orang munafiq memang harus dipilih kalimat menghunjam, qaulan baliigha.

Dalam bahasa kita, kira-kira para shahabiyah itu
berkata, ”Bu.. Yang pergi itu tukang makan. Kalau
di rumah ngabis-ngabisin jatah. Yang Maha Pemberi Rizqi tetap bersama kami.”
Apakah mereka tak mencintai suami dan merasa terbebas dari beban ketika lelaki-lelaki itu pergi?

Bukan. Cinta itu sangat dalam bagaikan lembah
berngarai. Hanya saja mereka, meski payah, meski berdarah, berhasil meloncat melintasinya untuk menggapai ridha Ilahi.

Resep Nabi: Doa Mengatasi Kegelisahan

by: @MiftahFaridl_ID

1. Seorang shahabat mengeluh
kepada Nabi tentang perasaannya
yang tidak tenang, sering resah
dan gelisah #DoaAtasiGelisah

2. Nabi memberikan resep dengan
sebuah do’a agar terhindar dari 8
penyakit rohani: #DoaAtasiGelisah

3. Allahumma inni a’udzubika
minal hammi wal hazan, (Ya Allah
aku berlindung kepadamu dari
kebingungan & kesedihan) #
DoaAtasiGelisah

4. wa a’udzubika minal ajzi wal
kasal (Aku berlindung kepadamu
dari kelemahan & kemalasan) #
DoaAtasiGelisah

5. wa a’udzubika minal jubni wal
bukhli (Aku berlindung kepadamu
dari sifat penakut dan kikir) #
DoaAtasiGelisah

6. wa a’udzubika min gholabattid’
daini wa qohrir rijal (Aku
berlindung kepadamu dr jeratan
hutang & ancamaan manusia) #
DoaAtasiGelisah

7. Pada kesempatan lain beliau
mengajarkan do’a berlindung dari
lima keadaan yg tidak
menyenangkan. #DoaAtasiGelisah

8. Allahumma inni a’udzubika (Ya
Allah aku berlindung kepadaMu…)
#DoaAtasiGelisah

9. min qoblin la yakhsya (dari hati
yang tidak khusyu) #
DoaAtasiGelisah

10. wa a’udzubika min ilmin la
yanfa (dan aku berlindung padamu
dari Ilmu yang tidak bermanfaat) #
DoaAtasiGelisah

11. wa a’udzubika min du’ain la
yusma’ (dan aku berlindung
padaMu dr Do’a yang tidak
didengar) #DoaAtasiGelisah

12. wa a’udzubika min nafsin la
tasyba’ (dan aku berlindung
padaMu dr diri/nafsu yg tidak
pernah kenyang) #
DoaAtasiGelisah

13. wa innii a’udzubika min
hamazatisyayathin wa a’udzubika
min ayyah-dluruni (&aku brlindung
pdMu dr tipu daya syaitan &
khadiran syaithan)

14. Ketika menerima suatu situasi
yang pahit dan tidak
menyenangkan, Nabi memberikan
resep do’a #DoaAtasiGelisah

15. Allahummar ‘zuqni nafsan
muthmainnatan tu’minu biliqoika
wa tardlo bi qodloika #
DoaAtasiGelisah

16. Ya Allah berilah aku hati yg
tenang yg briman saat perjumpaan
denganMu dan ridlo menerima
segala keputusanMu” #
DoaAtasiGelisah

17. Ketika didzalimi, dikhianati,
difitnah o/ orang lain, Nabi
mnganjurkan agar membaca do’a
kepasrahan kpd Allah SWT. #
DoaAtasiGelisah

18. Hasbunalloh wa’nimal wakiil
ni’mal maula wa ni’man nashiir
(Cukup Allah sj pelindungku,
penolongku & tempat kembaliku) #
DoaAtasiGelisah

19. Atau membaca ayat terakhir
surat At-Taubah: #
DoaAtasiGelisah

20. Hasbiyallahu la ilaha illa huwa
’alaihi tawakkaltu wa huwa robbul
’arsyil ’azhiim” (At-Taubah: 129)
#DoaAtasiGelisah

21. Cukup bagiku Allah saja, tidak
ada Tuhan selain Dia. Kepada-Nya
aku bertawakal. Dan Dia Tuhan
‘Arasy Yang Agung #
DoaAtasiGelisah

22. Baik sekali apabila do’a tsb
dilakukan stlh sholat, baik sholat
fardlu maupun sunnah. Terutama
stlh tahajjud & witir. #
DoaAtasiGelisah

23. atau setelah sholat syukrul
wudhu langsung sholat, lalu
membaca doa tersebut. #
DoaAtasiGelisah

24. Lakukan dengan khusyu’, baca
berulang kali, hadapkan diri ke
arah kiblat. #DoaAtasiGelisah

25. Hilangkan perasaan-perasaan
sombong, hilangkan buruk sangka
kepada Allah. #DoaAtasiGelisah

26. Dan lebih baik lagi kalau kita
berdoa dalam posisi suci dari
hadats. #DoaAtasiGelisah

27. Sebelum berdo’a, perbanyaklah
amal kebajikan #DoaAtasiGelisah

28. Demikian bahasan kita pagi ini
ttg #DoaAtasiGelisah I Semoga
bermanfaat. Jika brkenan mangga
dsebarluaskan

Miftah Faridl @miftahfaridl_ID 28/
Aug/2014 10:59:22

Tentang Kata “Jangan”

Ini mengenai perbedaan sudut pandang penggunaan diksi “jangan” dalam pengasuhan dilihat dari sudut pandang ilmu psikologi barat dan Al Quran. Semoga bermanfaat..

Jangan ada keributan gara-Gara Kata “Jangan”

by : bendri  jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)

1.       Beberapa hari ini banyak yg tanya saya (lebih tepatnya ajak diskusi) seputar kata “jangan” dalam ilmu parenting dan Alquran

2.       Sebagian ada yg mengatakan kata “jangan” sebaiknya dihindarkan diganti kata anjuran. Ini ajaran parenting

3.       Sebagian yg lain justru mempertentangkan dgn berdalih bahwa alquran justru banyak memuat kata jangan. Apakah quran salah?

4.       Ujung-ujungnya saling melabel. Seolah-olah ilmu parenting yg menolak kata “jangan” dianggap tidak islami, pro yahudi, dsb.

5.       Nah, ini yg saya khawatirkan. Pertentangan yg berujung kepada labeling. Jangan-jangan ini disengaja. Eh kok pake kata “jangan”?

6.       Bukannya sok bijak. Sebab orang sok bijak sok bayar pajak hehe.. Tapi bersikap ekstrim meskipun baik tidak sesuai sunnah nabi.

7.       Hakikatnya, islam ini agama pertengahan (ad diinul wasath). Maka tindakan menyalahkan ilmu yg bersumber dari barat tanpa dicari akarnya juga tak tepat

8.       Seolah-olah kalau parenting itu dari barat jelas-jelas salah. Langsung tertolak. Padahal kita sering makan dari barat semisal rendang dari sumatera barat #eh 😀

9.       Ilmu parenting pada dasarnya bagian dari ilmu “keduniawian” dimana rasul mengatakan “kalian lebih tau urusan dunia kalian”. Artinya silahkan inovasi

10.   Tentu bukan berarti islam tak punya konsep dasar. Sama seperti ilmu kedokteran, parenting juga punya dasar ilmunya

11.   Tapi Islam tak menolak inovasi dalam bidang kedokteran sebab berprinsip “hukum asal muamalah adalah boleh kecuali ada dalil yg melarang”

12.   Maka, inovasi dalam kedokteran semisal operasi jantung, kemotherapi, dan cesar itu boleh kecuali yg jelas ada larangannya

13.   Sama juga dgn ilmu parenting. Muncul banyak inovasi yg tak semuanya kita tolak kecuali dgn dalil yg tegas.

14.   Mengenai kata “jangan” itu sendiri tak perlu kita cari dalih. Hal ini memang ada dalam alquran. So what?

15.   Tentu sesuatu yg berada dlm alquran tak boleh diragukan. Ini wilayah iman (QS 2:2)

16.   Namun, sesuatu yg ada dalam alquran tentu harus dilihat prakteknya dalam keseharian nabi. Sebab beliau sejatinya ‘penerjemah’ terbaik maksud dari alquran

17.   Jika hanya berdasarkan quran tanpa lihat praktek nabi, hati-hati bisa terkecoh. Bisa-bisa malah aneh.

18.   Sholat, contohnya. Dalam quran perintahnya hanya rukuk dan sujud (qs 48 : 29). Jika tanpa melihat rasul, maka kita akan anggap sesat orang yg iktidal atau duduk tahiyat

19.   Begitu juga penggunaan kata “jangan” dalam quran. Kita harus dudukkan dalam konteks ilmu parenting yg dicontohkan Rasul

20.   Itu artinya, mari kita tengok sejarah bagaimana sikap rasul kepada anak-anak? Dan kita akan dapati beberapa perlakuan yg “beda”

21.   Sesuatu yg dilarang kepada orang dewasa ternyata dimaklumi bahkan dibolehkan kepada anak-anak

22.   JIka orang dewasa dilarang main patung atau boneka, ternyata anak-anak boleh. Aisyah contohnya

23.   Jika orang dewasa dilarang ngobrol atau bercanda dalam sholat. Maka khusus anak-anak semisal husein, main di punggung rasul bahkan dibiarkan

24.   Bayangkan, kalau yg main di punggung itu Umar. Mungkin sudah rasul marahin

25.   Bahkan ada seorang anak yg pipis di baju rasul, dibiarkan. Tak dilarang. Kalau itu sahabat? Mungkin udah dikeroyok sama yg lain

26.   Karena itu, melihat penggunaan kata “jangan” dalam alquran tak boleh sembarangan. Ada patokan dan standarnya

27.   Untuk anak kecil yg belum baligh tentu beda perlakuannya dengan orang dewasa

28.   Bahkan sesama orang dewasa saja masih ada perlakuan yg beda. Contohnya orang badui yg pipis di masjid nabawi dibiarkan, tak dilarang

29.   Kenapa? Karena orang badui itu tak tahu alias bodoh. Inilah hebatnya rasul. Bersikap berdasarkan konteks kejadian

30.   Jadi ayat tak dikeluarkan serampangan. Indah betul Islam ini jadinya

31.   Karena itu, sebagai panduan penggunaan kata jangan ada beberapa pembahasan yg lumayan panjang. Salah satu yg mau saya bahas disini yakni konteks usia

32.   Minimal ada 3 konteks usia penggunaan kata jangan sesuai sikap nabi : utk anak yg belum berakal, untuk anak yg sudah berakal dan utk remaja atau dewasa

33.   Untuk remaja atau dewasa rasul tak ragu untuk memberikan kata jangan jika memang membahayakan agama orang ini. Biasanya terkait akidah dan akhlak

34.   Sementara utk anak, rasul sikapnya beda. Rasul bedakan yg sudah berakal mana yg belum.

35.   Caranya sesuai petunjuk rasul dlm urusan perintah sholat yaitu “jika sudah bisa bedakan kanan dan kiri”. Itu artinya sudah diajak berpikir

36.   Nah, untuk anak tipe ini (bisa bedakan kanan dan kiri) kata larangan atau “jangan” dibolehkan.

37.   Tapi lebih elok jika ditambah solusinya agar mereka tau apa yg harus dilakukan. Ingat mereka minim pengalaman

38.   Hal ini dialami oleh Rafi’ bin Amr Al Ghifari yg punya hobi melempar kurma. Rasul melarangnya namun kasih solusi.

39.   Solusinya adalah kalau mau makan kurma, yg jatuh di tanah, tak perlu dilempar. Indah kan?

40.   Sementara untuk anak yg belum bisa berpikir, rasul tak melarang. Lebih banyak memberi tahu sikap yg tepat. Bahkan cenderung membiarkan

41.   Yang dibiarkan rasul juga biasanya terkait dgn hal-hal yg berkaitan dgn eksplorasi skill.

42.   Rasul bahkan memotivasi anak yg lagi main panah di mesjid dgn ucapan “teruslah memanah. Sesungguhnya kakek moyangmu ismail seorang pemanah”

43.   Kalau anak sekarang main panah di masjid? Udah jadi rempeyek dihujat jamaah hehe

44.   Makanya, yg kedua yg harus dipahami selain konteks objeknya juga konteks apa yg dilarang

45.   Jika untuk eksplorasi skill hindari kata jangan. Agar anak termotivasi kembangkan potensi. Tapi untuk eksplorasi spiritual dan emosi silahkan pakai “jangan” dgn penjelasan

46.   Contoh penjelasan dlm quran “jangan ikuti langkah syetan, syetan itu musuh nyata bagimu”

47.   Lebih elok jika larangan ada penjelasan. Tentu ini pas bagi anak yg sudah berpikir.

48.  Di masa rasul ada seorang anak yg makan berlari-lari. Rasul ucap : ‘Nak, sebutlah nama Allah. Pakai tangan kananmu dan makan yg paling dekat denganmu’

49. Rasul tak keluarkan kata ‘jangan’ karena anak ini butuh tindakan konkret apa yg harus dilakukan saat itu

50.   Kesimpulannya, gak perlu bersikap ekstrim. Parenting meski dari barat bisa jadi adalah hikmah kaum muslimin yg tercecer

51.  So, buanglah sampah pada tempatnya ups..maksudnya pakailah kata jangan pada konteksnya.

52.   Sekarang, silahkan cicipi jangan nya (alias sayur) 😀

– bendri jaisyurrahman-