​ANAK ADALAH ASURANSI TERBAIK

Oleh : Ust. Budi Ashari. Lc

 

Bukti cinta orang tua sepanjang jalan adalah mereka memikirkan masa depan anaknya. Mereka tidak ingin anak-anak kelak hidup dalam kesulitan. Persiapan harta pun dipikirkan masak-masak dan maksimal.
Para orang tua sudah ada yang menyiapkan tabungan, asuransi bahkan perusahaan. Rumah pun telah dibangunkan, terhitung sejumlah anak-anaknya. Ada juga yang masih bingung mencari-cari bentuk penyiapan masa depan terbaik. Ada yang sedang memilih perusahaan asuransi yang paling aman dan menjanjikan. Tetapi ada juga yang tak tahu harus berbuat apa karena ekonomi hariannya pun pas-pasan bahkan mungkin kurang.
Bagi yang telah menyiapkan tabungan dan asuransi, titik terpenting yang harus diingatkan adalah jangan sampai kehilangan Allah. Hitungan detail tentang biaya masa depan tidak boleh menghilangkan Allah yang Maha Tahu tentang masa depan. Karena efeknya sangat buruk. Kehilangan keberkahan. Jika keberkahan sirna, harta yang banyak tak memberi manfaat kebaikan sama sekali bagi anak-anak kita.
Lihatlah kisah berikut ini:
Dalam buku Alfu Qishshoh wa Qishshoh oleh Hani Al Hajj dibandingkan tentang dua khalifah di jaman Dinasti Bani Umayyah: Hisyam bin Abdul Malik dan Umar bin Abdul Aziz. Keduanya sama-sama meninggalkan 11 anak, laki-laki dan perempuan. Tapi bedanya, Hisyam bin Abdul Malik meninggalkan jatah warisan bagi anak-anak laki masing-masing mendapatkan 1 juta Dinar. Sementara anak-anak laki Umar bin Abdul Aziz hanya mendapatkan setengah dinar.
Dengan peninggalan melimpah dari Hisyam bin Abdul Malik untuk semua anak-anaknya ternyata tidak membawa kebaikan. Semua anak-anak Hisyam sepeninggalnya hidup dalam keadaan miskin. Sementara anak-anak Umar bin Abdul Aziz tanpa terkecuali hidup dalam keadaan kaya, bahkan seorang di antara mereka menyumbang fi sabilillah untuk menyiapkan kuda dan perbekalan bagi 100.000  pasukan penunggang kuda.
Apa yang membedakan keduanya? KEBERKAHAN.
Kisah ini semoga bisa mengingatkan kita akan bahayanya harta banyak yang disiapkan untuk masa depan anak-anak tetapi kehilangan keberkahan. 1 juta dinar (hari ini sekitar Rp 2.000.000.000.000,-) tak bisa sekadar untuk berkecukupan apalagi bahagia. Bahkan mengantarkan mereka menuju kefakiran.
Melihat kisah tersebut kita juga belajar bahwa tak terlalu penting berapa yang kita tinggalkan untuk anak-anak kita. Mungkin hanya setengah dinar (hari ini sekitar Rp 1.000.000,-) untuk satu anak kita. Tapi yang sedikit itu membaur dengan keberkahan. Ia akan menjadi modal berharga untuk kebesaran dan kecukupan mereka kelak. Lebih dari itu, membuat mereka menjadi shalih dengan harta itu.
Maka ini hiburan bagi yang hanya sedikit peninggalannya.
Bahkan berikut ini menghibur sekaligus mengajarkan bagi mereka yang tak punya peninggalan harta. Tentu sekaligus bagi yang banyak peninggalannya.
Bacalah dua ayat ini dan rasakan kenyamanannya,
Ayat yang pertama,
وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ
“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (Qs. Al Kahfi: 82)
Ayat ini mengisahkan tentang anak yatim yang hartanya masih terus dijaga Allah, bahkan Allah kirimkan orang shalih yang membangunkan rumahnya yang nyaris roboh dengan gratis. Semua penjagaan Allah itu sebabnya adalah keshalihan ayahnya saat masih hidup.
Al Qurthubi rahimahullah menjelaskan,
“Ayat ini menunjukkan bahwa Allah ta’ala menjaga orang shalih pada dirinya dan pada anaknya walaupun mereka jauh darinya. Telah diriwayatkan bahwa Allah ta’ala menjaga orang shalih pada tujuh keturunannya.”
Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menukil kalimat Hannadah binti Malik Asy Syaibaniyyah,
“Disebutkan bahwa kedua (anak yatim itu) dijaga karena kesholehan ayahnya. Tidak disebutkan kesholehan keduanya. Antara keduanya dan ayah yang disebutkan keshalihan adalah 7 turunan. Pekerjaannya dulu adalah tukang tenun.”
Selanjutnya Ibnu Katsir menerangkan,
“Kalimat: (dahulu ayah keduanya orang yang sholeh) menunjukkan bahwa seorang yang shalih akan dijaga keturunannya. Keberkahan ibadahnya akan melingkupi mereka di dunia dan akhirat dengan syafaat bagi mereka, diangkatnya derajat pada derajat tertinggi di surga, agar ia senang bisa melihat mereka, sebagaimana dalam Al Quran dan Hadits. Said bin Jubair berkata dari Ibnu Abbas: kedua anak itu dijaga karena keshalihan ayah mereka. Dan tidak disebutkan kesholehan mereka. Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa ia adalah ayahnya jauh. Wallahu A’lam
Ayat yang kedua,
إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ
“Sesungguhnya pelindungku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.” (Qs. Al A’raf: 196)
Ayat ini mengirimkan keyakinan pada orang beriman bahwa Allah yang kuasa menurunkan al Kitab sebagai bukti rahmatNya bagi makhlukNya, Dia pula yang akan mengurusi, menjaga dan menolong orang-orang shalih dengan kuasa dan rahmatNya. Sekuat inilah seharusnya keyakinan kita sebagai orang beriman. Termasuk keyakinan kita terhadap anak-anak kita sepeninggal kita.
Untuk lebih jelas, kisah orang mulia berikut ini mengajarkan aplikasinya.
Ketika Umar bin Abdul Aziz telah dekat dengan kematian, datanglah Maslamah bin Abdul Malik. Ia berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, engkau telah mengosongkan mulut-mulut anakmu dari harta ini. Andai anda mewasiatkan mereka kepadaku atau orang-orang sepertiku dari masyarakatmu, mereka akan mencukupi kebutuhan mereka.”
Ketika Umar mendengar kalimat ini ia berkata, “Dudukkan saya!”
Mereka pun mendudukkannya.
Umar bin Abdul Aziz berkata, “Aku telah mendengar ucapanmu, wahai Maslamah. Adapun perkataanmu bahwa aku telah mengosongkan mulut-mulut anakku dari harta ini, demi Allah aku tidak pernah mendzalimi hak mereka dan aku tidak mungkin memberikan mereka sesuatu yang merupakan hak orang lain. Adapun perkataanmu tentang wasiat, maka wasiatku tentang mereka adalah: ((إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ)). Anaknya Umar satu dari dua jenis: shalih maka Allah akan mencukupinya atau tidak sholeh maka aku tidak mau menjadi orang pertama yang membantunya dengan harta untuk maksiat kepada Allah.” (Umar ibn Abdil Aziz Ma’alim At Tajdid wal Ishlah, Ali Muhammad Ash Shalaby)
Begitulah ayat bekerja pada keyakinan seorang Umar bin Abdul Aziz. Ia yang telah yakin mendidik anaknya menjadi shalih, walau hanya setengah dinar hak anak laki-laki dan seperempat dinar hak anak perempuan, tetapi dia yakin pasti Allah yang mengurusi, menjaga dan menolong anak-anak sepeninggalnya. Dan kisah di atas telah menunjukkan bahwa keyakinannya itu benar.
Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang khalifah besar yang berhasil memakmurkan masyarakat besarnya. Tentu dia juga berhak untuk makmur seperti masyarakatnya. Minimal sama, atau bahkan ia punya hak lebih sebagai pemimpin mereka. Tetapi ternyata ia tidak meninggalkan banyak harta. Tak ada tabungan yang cukup. Tak ada usaha yang mapan. Tak ada asuransi seperti hari ini.
Tapi tidak ada sedikit pun kekhawatiran. Tidak tersirat secuil pun rasa takut. Karena yang disyaratkan ayat telah ia penuhi. Ya, anak-anak yang shalih hasil didikannya.
Maka izinkan kita ambil kesimpulannya:
Bagi yang mau meninggalkan jaminan masa depan anaknya berupa tabungan, asuransi atau perusahaan, simpankan untuk anak-anak dari harta yang tak diragukan kehalalannya.

Hati-hati bersandar pada harta dan hitung-hitungan belaka. Dan lupa akan Allah yang Maha Mengetahui yang akan terjadi.

Jaminan yang paling berharga –bagi yang berharta ataupun yang tidak-, yang akan menjamin masa depan anak-anak adalah: keshalihan para ayah dan keshalihan anak-anak.

Dengan keshalihan ayah, mereka dijaga.
Dan dengan keshalihan anak-anak, mereka akan diurusi,….
Sumber : WAG

Advertisements

Kisah Abu bin Hasyim

​Alkisah ada ahli ibadah bernama Abu bin Hasyim yg kuat sekali tahajudnya. Hampir ber-tahun2 dia tdk pernah absen melakukan sholat tahajud.

Pada suatu ketika saat hendak mengambil wudhu utk tahajud, Abu dikagetkan oleh keberadaan sesosok makhluk yg duduk di bibir sumurnya. Abu bertanya, “Wahai hamba Allah, siapakah Engkau?”

Sambil tersenyum, sosok itu berkata; “Aku Malaikat utusan Allah”.

Abu Bin Hasyim kaget sekaligus bangga krn kedatangan tamu malaikat mulia. Dia lalu bertanya, “Apa yg sedang kamu lakukan di sini?”

Malaikat itu menjawab, “Aku disuruh mencari hamba pencinta Allah.”

Melihat Malaikat itu memegang kitab tebal, Abu lalu bertanya; “Wahai Malaikat, buku apakah yg kau bawa?”

Malaikat menjawab; “Ini adalah kumpulan nama hamba2 pencinta Allah.”

Mendengar jawaban Malaikat, Abu bin Hasyim berharap dlm hati namanya ada di situ. Maka ditanyalah Malaikat itu. “Wahai Malaikat, adakah namaku di situ ?”

Abu berasumsi bahwa namanya ada di buku itu, mengingat amalan ibadahnya yg tdk kenal putusnya. Selalu mengerjakan shalat tahajud setiap malam, berdo’a dan bermunajat pd Allâh SWT di sepertiga malam.

“Baiklah, aku buka,” kata Malaikat sambil membuka kitab besarnya. Dan, ternyata Malaikat itu tdk menemukn nama Abu di dalamnya.

Tdk percaya, Abu bin Hasyim meminta Malaikat mencarinya sekali lagi.

“Betul … namamu tdk ada di dalam buku ini!” kata Malaikat.

Abu bin Hasyim pun gemetar dan jatuh tersungkur di depan Malaikat. Dia menangis se-jadi2nya. “Rugi sekali diriku yg selalu tegak berdiri di setiap malam dlm tahajud dan bermunajat … tetapi namaku tdk masuk dlm golongan para hamba pecinta Allah,” ratapnya.

Melihat itu, Malaikat berkata, “Wahai Abu bin Hasyim! Bukan aku tdk tahu engkau bangun setiap malam ketika yg lain tidur … mengambil air wudhu dan kedinginan pada saat orang lain terlelap dlm buaian malam. Tapi tanganku dilarang Allâh menulis namamu.”

“Apakah gerangan yg menjadi penyebabnya?” tanya Abu bin Hasyim.

“Engkau memang bermunajat kpd Allâh, tapi engkau pamerkan dgn rasa bangga ke- mana2 dan asyik beribadah memikirkan diri sendiri. Di kanan kirimu ada org sakit atau lapar, tdk engkau tengok dan beri makan. Bgmn mungkin engkau dapat menjadi hamba pecinta Allah kalau engkau sendiri tdk pernah mencintai hamba2 yg diciptakan Allâh ?” kata Malaikat itu.

Abu bin Hasyim seperti disambar petir di siang bolong. Dia tersadar hubungan ibadah manusia tdklah hanya kpd Allâh semata (hablumminAllâh), tetapi juga ke sesama manusia (hablumminannâs) dan alam.

JANGAN BANGGA DENGAN BANYAK SHALAT, PUASA, DAN ZIKIR KARENA ITU SEMUA BELUM MEMBUAT ALLAH SENANG !!!

“`MAU TAHU APA YANG MEMBUAT ALLAH SENANG?

Nabi Musa : Wahai Allah, aku sudah melaksanakan ibadah. Lalu manakah ibadahku yang membuat Engkau senang?

Allah SWT:

SHALAT? Sholat mu itu untukmu sendiri, karena dengan mengerjakan shalat, engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar.

DZIKIR? Dzikirmu itu hanya untukmu sendiri, membuat hatimu menjadi tenang.

PUASA? Puasamu itu untukmu sendiri, melatih dirimu untuk memerangi hawa nafsumu sendiri.

Nabi Musa : Lalu apa yang membuat hati-Mu senang Ya Allah?

Allah SWT: SEDEKAH, INFAQ, ZAKAT serta PERBUATAN BAIK-mu. 

Itulah yang membuat AKU senang, karena tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang susah, AKU hadir di sampingnya. —Dan AKU akan mengganti dengan ganjaran 700 kali (Al-Baqarah 261-262)—

Nah, bila kamu sibuk dengan ibadah ritual dan bangga akan itu… maka itu tandanya kamu hanya mencintai dirimu sendiri, bukan Allah.

Tapi, bila kau berbuat baik dan berkorban untuk orang lain… maka itu tandanya kau mencintai Allah dan tentu Allah senang karenanya.

Buatlah Allah senang maka Allah akan limpahkan rahmat-Nya dengan membuat hidupmu lapang dan bahagia

(Dikutip dari Kitab Mukasyafatul Qulub Karya Imam Al Ghazali)

Saudaraku seiman, sebarkanlah ilmu ini agar kita makin barakah. Pentingnya Silahtuhrahmi.

Aamiin …
Sumbet : WAG

Abu bin Hasyim

​Alkisah ada ahli ibadah bernama Abu bin Hasyim yg kuat sekali tahajudnya. Hampir ber-tahun2 dia tdk pernah absen melakukan sholat tahajud. 

Pd suatu ketika saat hendak mengambil wudhu utk tahajud, 

Abu dikagetkan oleh keberadaan sesosok makhluk yg duduk di bibir sumurnya. 

Abu bertanya, “Wahai hamba Allah, siapakah Engkau ?”. 

Sambil tersenyum, sosok itu berkata; “Aku Malaikat utusan Allah” 

Abu Bin Hazim kaget sekaligus bangga krn kedatangan tamu malaikat mulia. 

Dia lalu bertanya, “Apa yg sedang kamu lakukan di sini ?” 

Malaikat itu menjawab, “Aku disuruh mencari hamba pencinta Allah” 

Melihat Malaikat itu memegang kitab tebal, 

Abu lalu bertanya; “Wahai Malaikat, buku apakah yg kau bawa ?” Malaikat menjawab; “Ini adalah kumpulan nama hamba2 pencinta Allah.” Mendengar jawaban Malaikat, 

Abu bin Hasyim berharap dlm hati namanya ada disitu. Maka ditanyalah Malaikat itu.

 “Wahai Malaikat, adakah namaku disitu ?” 

Abu berasumsi bahwa namanya ada di buku itu, mengingat amalan ibadahnya yg tdk kenal putusnya.

 Selalu mengerjakan sholat tahajud setiap malam, berdo’a dan bermunajat pd Allâh SWT di sepertiga malam. 

“Baiklah, aku buka,” kata Malaikat sambil membuka kitab besarnya. 

Dan ternyata Malaikat itu tdk menemukn nama Abu di dalamnya. 

Tdk percaya, Abu bin Hazim meminta Malaikat mencarinya sekali lagi. “Betul … namamu tdk ada di dalam buku ini !” kata Malaikat.

 Abu bin Hazim pun gemetar dan jatuh tersungkur di depan Malaikat. 

Dia menangis se-jadi2nya. “Rugi sekali diriku yg selalu tegak berdiri di setiap malam dlm tahajud dan bermunajat … 

tetapi namaku tdk masuk dlm golongan para hamba pecinta Allah,” 

ratapnya. Melihat itu, Malaikat berkata, “Wahai Abu bin Hasyim ! 

Bukan aku tdk tahu engkau bangun setiap malam ketika yg lain tidur … 

mengambil air wudhu dan kedinginan pd saat orang lain terlelap dlm buaian malam. 

Tapi tanganku dilarang Allâh menulis namamu.” “Apakah gerangan yg menjadi penyebabnya ?” tanya Abu bin Hasyim.
 “Engkau memang bermunajat kpd Allâh, tapi engkau pamerkan dgn rasa bangga ke- mana2 dan asyik beribadah memikirkan diri sendiri. 

Di kanan kirimu ada org sakit atau lapar, tdk engkau tengok dan beri makan. 

Bgmn mungkin engkau dapat menjadi hamba pecinta Allah kalau engkau sendiri tdk pernah mencintai hamba2 yg diciptakan Allâh ?” 

kata Malaikat itu. Abu bin Hasyim spt disambar petir di siang bolong. 

Dia tersadar hubungan ibadah manusia tdklah hanya kpd Allâh semata (hablumminAllâh), 

tetapi juga ke sesama manusia (hablumminannâs) dan alam 🕋🕋🕋   
 JANGAN BANGGA DENGAN BANYAK SHALAT,PUASA DAN ZIKIR KARENA ITU SEMUA BELUM MEMBUAT ALLAH  SENANG !!!
`MAU TAHU APA YANG MEMBUAT ALLAH  SENANG ???
*Nabi Musa : Wahai Allah, aku sudah melaksanakan ibadah. Lalu manakah ibadahku yang membuat Engkau senang ?
*Allah :

*SHOLAT ? Sholat mu itu untukmu sendiri, karena dengan mengerjakan sholat, engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar.
*DZIKIR ? Dzikirmu itu hanya untukmu sendiri, membuat hatimu menjadi tenang.
*PUASA ? Puasamu itu untukmu sendiri, melatih dirimu untuk memerangi hawa nafsumu sendiri.
Nabi Musa : Lalu apa  yang membuat hatiMu senang Ya Allah ?
*Allah : SEDEKAH, INFAQ, ZAKAT serta PERBUATAN BAIKmu.

Itulah yang membuat AKU senang, karena tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang susah, AKU hadir disampingnya.Dan AKU akan mengganti dengan ganjaran 700 kali (Al-Baqarah 261-262)
*Nah, bila kamu sibuk dengan ibadah ritual dan bangga akan itu… maka itu tandanya kamu hanya mencintai dirimu sendiri, bukan Allah.

*Tapi, bila kau berbuat baik dan berkorban untuk orang lain… maka itu tandanya kau mencintai Allah dan tentu Allah senang karenanya.

*Buatlah Allah senang maka Allah akan limpahkan rahmatNya dengan membuat hidupmu lapang  dan bahagia
(Kitab Mukasyafatul Qulub  Karya Imam Al Ghazali)
Sumber : broadcast wa

​KITA INI BUKAN SIAPA-SIAPA

Nu’man bin Tsabit yg dikenal dg sebutan Abu Hanifah, atau populer disebut IMAM HANAFI , pernah  berpapasan dg anak kecil yg berjalan mengenakan sepatu kayu (terompah kayu).
Sang imam berkata :”Hati-hati nak dg sepatu kayumu itu, Jangan sampai kau tergelincir”.
Bocah ini pun tersenyum dan mengucapkan terima kasih atas perhatian Abu Hanifah.
“Bolehkah saya tahu namamu Tuan?” tanya si bocah.
“Nu’man namaku”, Jawab sang imam.”
Jadi, Tuan lah yg selama ini terkenal dg gelar al-imam al-a’dhom. (Imam agung) itu..??” Tanya si BOCAH. 
“Bukan aku yg memberi gelar itu, Masyarakat-lah yg berprasangka baik dan memberi gelar itu kepadaku”
“Wahai Imam, hati2 dg gelarmu. Jangan sampai Tuan tergelincir ke neraka karena gelar…!Sepatu kayuku ini mungkin hanya menggelincirkanku di dunia. Tapi gelarmu itu dapat menjerumuskan-mu ke dalam api yg kekal jika kesombongan dan keangkuhan menyertainya”.
Ulama besar yg diikuti banyak umat Islam itupun tersungkur menangis….
Imam Abu Hanifah bersyukur. Siapa sangka, peringatan datang dari lidah seorang bocah.
Betapa banyak manusia tertipu karena jabatan, tertipu karena kedudukan, tertipu karena gelar, tertipu karena sebutan Kyai,  Ustadz, doktor, profesor, pengamat,  artis dll, tertipu karena kemaqoman, tertipu karena Harta yg berlimpah, tertipu krn status sosial…
Jangan sampai kita tergelincir… jadi angkuh,riya’ dan sombong, merendah orang lain hanya karena gelar, jabatan, status sosial, kebesaran di dunia dan ilmu yang tinggi.

.

Seorang Ulama besar abu hanifah mampu tersadar hanya krn mulut seorang bocah.
🌿 PEPATAH MENGATAKAN :
“SEPASANG TANGAN YG MENARIKMU KALA TERJATUH  HARUS LEBIH KAU PERCAYAI, DARIPADA SERIBU TANGAN YG MENYAMBUTMU KALA TIBA DI PUNCAK KESUKSESAN”……
INGATLAH NASEHAT ANAK KECIL INI SELAMA LAMANYA AGAR MENGERTI BAGAIMANA HIDUP ZUHUD,WARA’,QONAAH DAN TAWAKKAL.
Sumber : broadcast wa

Kisah Raja Tikrit

​Najamuddin Ayub adalah raja Tikrit, sudah lama belum menikah. 
Adiknya Assaddudin Sirakuh bertanya kepadanya: 

wahai saudaraku apa yang membuatmu belum menikah  
Najmuddin (NA) : saya  tidak mendapati yang sesuai dengan saya
Assaddudin Sirakuh (AS) : boleh aku membantu untuk melamarkan engkau
NA :  dengan siapa
AS :  Putri raja Shah binti sultan Mohammad bin Raja Shah Sultan Seljuk atau putri Menteri Raja
NA : Ah.. dia tidak cocok untuk ku.
Assaduddin sungguh kaget mendengar jawaban Najamuddin
AS : Jadi siapa yang cocok bagi mu
NA : Sesungguhnya ku inginkan yang menjadi pendampingku kelak adalah istri yang solehah, bersamanya menuju ke surga. Melahirkan anak dan mendidiknya dengan baik, hingga tatkala tumbuh menjadi pemuda. Menjadi kesatria yang akan mengembalikan al Quds. 

Ini adalah impiannya
Asadduddin tidak terperanjat dengan perkataan saudaranya tersebut, kemudian bertanya :

Dari mana engkau mendapatkan hal itu?
NA : dari niat yang bersih karena Allah, maka Allah akan mewujudkannya.
Suatu hari Najamuddin sedang duduk bersama syekh di masjid Tikrit dan sedang asyik ngobrol, datanglah seorang pemudi yang memanggil syekh dari balik tirai. Syekh meminta izin untuk berbincang dengan pemudi. 
Najamuddin mendengar syekh bertanya kepada pemudi dan berkata :

Kenapa kamu menolak seorang pemuda yang datang kepadamu untuk melamar?.
Pemudi menjawab : Tuan guru, aku menginginkan seorang pemuda , bersamanya menuju ke surga. Melahirkan anak dan mendidiknya dengan baik, hingga tatkala tumbuh menjadi pemuda. Menjadi kesatria yang akan mengembalikan al Quds.
Allahu Akbar, sungguh kalimat pemudi itu sama seperti Najamuddin ungkapkan kepada saudaranya Assadduddin.
Najamuddin menolak putri raja dan anak mentri yang mereka itu mempunyai prestise dan keindahan.  Sama seperti pemudi menolak pemuda yang mempunyai prestise dan keindahan. 
Semua penolakan ini untuk apa sebenarnya ?
Najamuddin dan pemudi menginginkan agar pendamping mereka dapat menuntun ke surga, melahirkan anak sebagai kesatria bagi umat muslim dan mengembalikan al Quds ketangan islam. 
Najamuddin berdiri dan berkata kepada syekh, aku akan menikahinya. Syekh berkata, pemudi ini miskin dan tidak meliki apa-apa. 
NA menjawab : sebenarnya ini yang aku inginkan. Sebagaimana impianku.
Akhirnya Najamuddin menikah dengan pemudi tersebut, pertemuan mereka adalah bukti dari niat yang ikhlas dan kesungguhan hanya untuk Allah.  Sehingga Allah memberikan rizki seorang anak laki, tumbuh sebagai kesatria dipersiapkan untuk merebut kembali al Quds. Dia adalah Solahuddin Al Ayubbi.
Terjemahan ust Agus Purwanto 

(Divisi Media dan Komunikasi Aspac)
Sumber : broadcast wa

AL-QUR’AN DAN SANG JENDERAL

(diangkat dari kisah nyata)
Suatu sore pada tahun 1525, penjara tempat orang tahanan terasa hening mencengkam. Jenderal Adolf Roberto, pemimpin penjara yg terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan
Setiap sipir penjara membungkukkan badannya rendah² ketika ‘algojo penjara’ itu berlalu di hadapan mereka. Karena kalau tidak, sepatu ‘jenggel’ milik tuan Roberto yg fanatik … itu akan mendarat di wajah mereka
Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara² Ayat Suci yang amat ia benci

” Hai … hentikan suara jelekmu! Hentikan!!!” teriak Roberto sekeras-kerasnya sembari membelalakkan mata
Namun apa yang terjadi? Laki² di kamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dg khusyu’nya. Roberto bertambah berang. Algojo penjara itu menghampiri kamar tahanan yg luasnya tak lebih sekadar cukup untuk 1 orang
Dengan congkak ia menyemburkan ludahnya ke wajah renta sang tahanan yg keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dg rokoknya yg menyala
Sungguh ajaib … tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yg pucat kering milik sang tahanan amat gengsi untuk meneriakkan kata kepatuhan pada sang algojo, bibir keringnya hanya berkata lirih, “Rabbi, wa-ana ‘abduka ”
Tahanan lain yg menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, “Bersabarlah wahai ustadz … Insyaa Allah tempatmu di Syurga .”

Melihat kegigihan orang tua yg dipanggil ustadz oleh sesama tahanan, ‘algojo penjara’ itu bertambah memuncak amarahnya
Ia perintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras² hingga terjerembab di lantai. 

“Hai orang tua busuk!! Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa jelekmu itu?! Aku tidak suka apa-apa yg berhubung dg agamamu !!”
Sang Ustadz lalu berucap, “Sungguh … aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yg amat kucintai, Allah Subhanahu wa ta’ala … Karena kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk? Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yg amat bodoh .”
Baru saja kata² itu terhenti, sepatu laras Roberto sudah mendarat di wajahnya. Laki² itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dg wajah bersimbah darah.
Ketika itulah dari saku baju penjaranya yg telah lusuh, meluncur sebuah ‘buku kecil’. Adolf Roberto bermaksud memungutnya. Namun tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat²
” Berikan buku itu, hai laki² dungu!” bentak Roberto

” Haram bagi tanganmu yg kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!” ucap sang ustadz dg tatapan menghina pada Roberto
Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu. Sepatu laras berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari² tangan sang ustadz yg telah lemah. Suara gemeretak tulang yg patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto
Laki² bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yg terputus. Bahkan ‘algojo penjara’ itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yg telah hancur
Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yg membuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yg telah lusuh. Mendadak algojo itu termenung
” Ah … sepertinya aku pernah mengenal buku ini. Tapi kapan? Ya, aku pernah mengenal buku ini,” suara hati Roberto bertanya-tanya.

Perlahan Roberto membuka lembaran pertama buku itu
Pemuda berumur tiga puluh tahunan itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan² “aneh” dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Spanyol. Akhirnya Roberto duduk di samping sang ustadz yg telah melepas nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yg dalam
Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yg dialaminya sewaktu masih kanak². Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto.
Pemuda itu teringat ketika suatu sore di masa kanak²nya terjadi kericuhan besar di negeri tempat kelahirannya ini

Sore itu ia melihat peristiwa yg mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). *

*Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa.

Beribu-ribu jiwa tak berdosa berjatuhan di bumi Andalusia

Di ujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab) digantung pada tiang² besi yg terpancang tinggi

Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yg kencang, membuat pakaian muslimah yg dikenakan berkibar-kibar di udara
Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup² pada tiang² salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh para rahib
Seorang bocah laki² mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yg telah senyap. Korban² kebiadaban itu telah syahid semua .
Bocah mungil itu mencucurkan airmatanya menatap sang ibu yg terkulai lemah di tiang gantungan. Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi (ibu) yg sudah tak bernyawa, sembari menggayuti abayanya
Sang bocah berkata dg suara parau, “Ummi … ummi … mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa ….? Ummi, cepat pulang ke rumah ummi …”
Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa. Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah
Akhirnya bocah itu berteriak memanggil bapaknya, “Abi … Abi … Abi …”

Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapak ketika teringat kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam
” Hai … siapa kamu?!” teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati sang bocah

Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi,” jawab sang bocah memohon belas kasih

” Hah … siapa namamu bocah, coba ulangi!” bentak salah seorang dari mereka

” Saya Ahmad Izzah …” sang bocah kembali menjawab dg agak grogi

Tiba² “plak! sebuah tamparan mendarat di pipi sang bocah
” Hai bocah …! Wajahmu bagus tapi namamu jelek. Aku benci namamu. Sekarang kuganti namamu dengan nama yg bagus. Namamu sekarang ‘Adolf Roberto’ … Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yg jelek itu Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!” ancam laki² itu
Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata. Anak laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka
Roberto sadar dari renungannya yg panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yg melekat pada tubuh sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah ‘tanda hitam’ ia berteriak histeris, “Abi … Abi … Abi …”
Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu
Pikirannya terus bergelut dg masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yg ada di dalam genggamannya adalah Kitab Suci milik bapaknya, yg dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya. *

*Ia juga ingat betul ayahnya mempunyai ‘tanda hitam’ pada bagian pusar
Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yg amat dalam atas ulahnya selama ini. Lidahnya yg sudah berpuluh-puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, “Abi … aku masih ingat alif, ba, ta, tsa …”

Hanya sebatas kata itu yg masih terekam dalam benaknya
Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yg membasahi wajahnya

Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yg tadi menyiksanya habis²an kini tengah memeluknya. “Tunjuki aku pada jalan yg telah engkau tempuh Abi, tunjukkan aku pada jalan itu …” terdengar suara Roberto memelas
Sang ustadz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dg buah hatinya, di tempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah
Sang Abi dg susah payah masih bisa berucap, “Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dg Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu.”
Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dg berbekal kalimah indah, “Asyhadu an-laa Ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasullullah …’. Beliau pergi menemui Rabbnya dg tersenyum, setelah sekian lama berjuang di bumi yg fana ini
#Kemudian..

Ahmad Izzah mendalami Islam dg sungguh² hingga akhirnya ia menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk Islam, sebagai ganti kekafiran yg di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru dunia berguru dengannya. Dialah … “Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy ”

———

Benarlah firman Allah …
” Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui ”

(QS:30:30)
Masya Allah…

Semoga kisah ini dapat membuat hati kita luluh dengan hidayah Allah yang mudah-mudahan dapat masuk mengenai qolbu kita untuk tetap taat kepadaNya…😥
Sumber : broadcast wa

​Menjaga PERDAMAIAN

@salimafillah
Comte Tiberias, pemimpin para ‘ksatria merpati’ Kerajaan Salib Jerusalem yang berjuang menjaga perdamaian itu gusar. “Reynald de Chattilon, bersama para Ksatria Templar, telah menyerang dan merampok kafilah muslim!”
Ini bukan kejahatan pertama Reynald. Mencegat dan membunuh rombongan haji, menghancurkan desa muslim dan mengusir penduduknya, serta berbagai pelecehan kepada agama Islam telah diperbuatnya.
“Dia telah merusak perdamaian yang diperjuangkan Paduka Raja dan Shalahuddin!”
Balairung penghadapan Raja Baldwin IV bergemuruh. Para ksatria elang penyuka perang mengutuk ucapan Tiberias yang menyatakan bahwa memancing Shalahuddin bertempur adalah konyol. “Pasukan Yesus Kristus yang membawa salib suciNya”, begitu kata pemimpin Ordo Templar, “Takkan terkalahkan.” Perang ini memang dikehendaki Tuhan.
Di tengah perdebatan sengit akan apa yang harus dilakukan, seorang teliksandi menghaturkan sepucuk surat ke bawah duli raja yang memakai topeng perak untuk menutupi kusta yang kian menggerogoti wajahnya itu.
“Shalahuddin bersama 200.000 pasukannya telah menyeberangi Sungai Yordan!”, ujar Raja.
“Dan pertama-tama dia akan menghancurkan Reynald di Kerak!”, seru Tiberias sembari mendekat pada rajanya.
“Kita harus hentikan Shalahuddin sebelum mencapai Kerak”, bisik Baldwin. “Aku sendiri yang akan bicara padanya.”
“Tuanku”, ucap Tiberias dengan amat khawatir, “Jika kau berangkat ke medan perang, kau akan mati.”
Dengan senyum dari balik topengnya, Sang Raja menepuk bahu Tiberias dan bertitah, “Susun pasukan kita!” Gegap gempitalah sambutan para pencinta pertumpahan darah itu.
Tapi kita tahu adegan dramatik selanjutnya dalam film garapan Ridley Scott itu, Kingdom of Heaven.
Setelah bentrok kecil yang berarti besar bagi penyelamatan warga sipil sesuai amanat Baldwin untuk Balian dari Ibelin, pasukan utama Shalahuddin Al Ayyubi tiba dengan panji berwarna-warni dan kemegahan formasi yang menggetarkan. Awan seakan berarak menaungi kesatuan-kesatuannya yang terdiri atas para ksatria-santri terlatih.
Dari Benteng Kerak yang menjulang kokoh di atas bukit, Putri Sybilla dari Jerusalem menatap pasukan muslimin dengan kagum sekaligus cemas.
Ketegangan di dalam Kastil sedikit terredam oleh kilau-kemilau dari arah sebaliknya. Itulah kayu yang konon pernah memancang tubuh Yesus di bukit Golgota dan kini dihias selubung emas sebagai pusaka. Pasukan Jerusalem dipimpin langsung oleh Raja Baldwin IV telah pula tiba, diiringi kepulan debu dahsyat ke udara.
Ketegangan kembali memuncak ketika Sang Sultan dan Sang Raja memacu kuda masing-masing meninggalkan barisan untuk bertemu muka.
“Kuminta serahkan urusan penghakiman ini padaku dan tariklah mundur pasukanmu!”, ujar Shalahuddin.
“Justru kuminta kau yang mundur dan pulang ke Damaskus atau aku bersumpah kita semua akan mati di sini! Dan aku bersumpah Reynald de Chattilon akan dihukum sesuai kejahatannya!”, Baldwin yang telah menempuh perjalanan jauh tampak amat tersiksa di bawah baju besinya yang berat dan membara. Shalahuddin menatapnya dalam haru dan iba.
“Bukankah masih ada perjanjian di antara kita?”, tegas Baldwin.
“Tentu”, jawab Sang Sultan. Dia terdiam sejenak dengan wajah menunjukkan welas asihnya. “Aku akan mengirim dokterku untuk Anda.”
Janji sejati raja yang terkenal keksatriaannya itu meluluhkan hati Shalahuddin. Badannya memang berkusta, tapi hatinya permata, hal yang takkan dicapai oleh Guy de Lusignan penggantinya kelak. Maka nantinya benar keyakinan Comte Tiberias, “Shalahuddin sebenarnya bisa memenangkan perang dengan amat mudah kapanpun dia menginginkannya.”
Hari itu, dari atas Kastil Kerak terlihat bagaimana pasukan muslimin ditarik dengan formasi barisan yang begitu rapi dan lincah. Semua menghela nafas lega. Tapi sang penguasa benteng, Reynald de Chattilon tak menduga bahwa dia akan segera menerima hukuman berat seiring langkah kaki kuda Raja Baldwin IV yang dengan anggun memasuki kastilnya.
“Berlutut!”, perintah Sang Raja pada Reynald yang menyambutnya di halaman. Lelaki sombong itu patuh.
“Lebih rendah lagi!”
“Akulah Jerusalem”, kata Raja sembari membuka sarung tangannya hingga terlihatlah jari-jarinya yang meranggas geripis oleh lepra. Luka-lukanya merah dan lengket oleh nanah. “Maka maukah engkau, Reynald de Chattilon memberiku sebuah ciuman perdamaian?”
Reynald yang ketakutan bergegas menyambut jemari Raja yang selalu dia hina di belakang punggung itu, menciumnya dengan rakus. Dan tepat pada saat itulah tongkat komando Raja Baldwin menghantam kepala dan punggungnya bertubi. Seringai dan jerit kesakitannya belum hilang ketika akhirnya Sang Raja limbung dan jatuh terbanting sendiri. Comte Tiberias segera menyuruh pengawal memapah beliau ke tandu.
“Apa yang kaulihat?”, tanya Reynald yang masih terbaring kesakitan.
“Orang mati. Akhirnya”, sahut Tiberias berkacak pinggang. 

Penjahat itu dibawa ke penjara sedang seluruh gelarnya dicabut dan miliknya disita. Janji telah ditunaikan. Sang penista telah dihukum. Maka damai bersemayam di bumi.
Sumber : broadcast wa