Abu bin Hasyim

​Alkisah ada ahli ibadah bernama Abu bin Hasyim yg kuat sekali tahajudnya. Hampir ber-tahun2 dia tdk pernah absen melakukan sholat tahajud. 

Pd suatu ketika saat hendak mengambil wudhu utk tahajud, 

Abu dikagetkan oleh keberadaan sesosok makhluk yg duduk di bibir sumurnya. 

Abu bertanya, “Wahai hamba Allah, siapakah Engkau ?”. 

Sambil tersenyum, sosok itu berkata; “Aku Malaikat utusan Allah” 

Abu Bin Hazim kaget sekaligus bangga krn kedatangan tamu malaikat mulia. 

Dia lalu bertanya, “Apa yg sedang kamu lakukan di sini ?” 

Malaikat itu menjawab, “Aku disuruh mencari hamba pencinta Allah” 

Melihat Malaikat itu memegang kitab tebal, 

Abu lalu bertanya; “Wahai Malaikat, buku apakah yg kau bawa ?” Malaikat menjawab; “Ini adalah kumpulan nama hamba2 pencinta Allah.” Mendengar jawaban Malaikat, 

Abu bin Hasyim berharap dlm hati namanya ada disitu. Maka ditanyalah Malaikat itu.

 “Wahai Malaikat, adakah namaku disitu ?” 

Abu berasumsi bahwa namanya ada di buku itu, mengingat amalan ibadahnya yg tdk kenal putusnya.

 Selalu mengerjakan sholat tahajud setiap malam, berdo’a dan bermunajat pd Allâh SWT di sepertiga malam. 

“Baiklah, aku buka,” kata Malaikat sambil membuka kitab besarnya. 

Dan ternyata Malaikat itu tdk menemukn nama Abu di dalamnya. 

Tdk percaya, Abu bin Hazim meminta Malaikat mencarinya sekali lagi. “Betul … namamu tdk ada di dalam buku ini !” kata Malaikat.

 Abu bin Hazim pun gemetar dan jatuh tersungkur di depan Malaikat. 

Dia menangis se-jadi2nya. “Rugi sekali diriku yg selalu tegak berdiri di setiap malam dlm tahajud dan bermunajat … 

tetapi namaku tdk masuk dlm golongan para hamba pecinta Allah,” 

ratapnya. Melihat itu, Malaikat berkata, “Wahai Abu bin Hasyim ! 

Bukan aku tdk tahu engkau bangun setiap malam ketika yg lain tidur … 

mengambil air wudhu dan kedinginan pd saat orang lain terlelap dlm buaian malam. 

Tapi tanganku dilarang Allâh menulis namamu.” “Apakah gerangan yg menjadi penyebabnya ?” tanya Abu bin Hasyim.
 “Engkau memang bermunajat kpd Allâh, tapi engkau pamerkan dgn rasa bangga ke- mana2 dan asyik beribadah memikirkan diri sendiri. 

Di kanan kirimu ada org sakit atau lapar, tdk engkau tengok dan beri makan. 

Bgmn mungkin engkau dapat menjadi hamba pecinta Allah kalau engkau sendiri tdk pernah mencintai hamba2 yg diciptakan Allâh ?” 

kata Malaikat itu. Abu bin Hasyim spt disambar petir di siang bolong. 

Dia tersadar hubungan ibadah manusia tdklah hanya kpd Allâh semata (hablumminAllâh), 

tetapi juga ke sesama manusia (hablumminannâs) dan alam 🕋🕋🕋   
 JANGAN BANGGA DENGAN BANYAK SHALAT,PUASA DAN ZIKIR KARENA ITU SEMUA BELUM MEMBUAT ALLAH  SENANG !!!
`MAU TAHU APA YANG MEMBUAT ALLAH  SENANG ???
*Nabi Musa : Wahai Allah, aku sudah melaksanakan ibadah. Lalu manakah ibadahku yang membuat Engkau senang ?
*Allah :

*SHOLAT ? Sholat mu itu untukmu sendiri, karena dengan mengerjakan sholat, engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar.
*DZIKIR ? Dzikirmu itu hanya untukmu sendiri, membuat hatimu menjadi tenang.
*PUASA ? Puasamu itu untukmu sendiri, melatih dirimu untuk memerangi hawa nafsumu sendiri.
Nabi Musa : Lalu apa  yang membuat hatiMu senang Ya Allah ?
*Allah : SEDEKAH, INFAQ, ZAKAT serta PERBUATAN BAIKmu.

Itulah yang membuat AKU senang, karena tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang susah, AKU hadir disampingnya.Dan AKU akan mengganti dengan ganjaran 700 kali (Al-Baqarah 261-262)
*Nah, bila kamu sibuk dengan ibadah ritual dan bangga akan itu… maka itu tandanya kamu hanya mencintai dirimu sendiri, bukan Allah.

*Tapi, bila kau berbuat baik dan berkorban untuk orang lain… maka itu tandanya kau mencintai Allah dan tentu Allah senang karenanya.

*Buatlah Allah senang maka Allah akan limpahkan rahmatNya dengan membuat hidupmu lapang  dan bahagia
(Kitab Mukasyafatul Qulub  Karya Imam Al Ghazali)
Sumber : broadcast wa

​KITA INI BUKAN SIAPA-SIAPA

Nu’man bin Tsabit yg dikenal dg sebutan Abu Hanifah, atau populer disebut IMAM HANAFI , pernah  berpapasan dg anak kecil yg berjalan mengenakan sepatu kayu (terompah kayu).
Sang imam berkata :”Hati-hati nak dg sepatu kayumu itu, Jangan sampai kau tergelincir”.
Bocah ini pun tersenyum dan mengucapkan terima kasih atas perhatian Abu Hanifah.
“Bolehkah saya tahu namamu Tuan?” tanya si bocah.
“Nu’man namaku”, Jawab sang imam.”
Jadi, Tuan lah yg selama ini terkenal dg gelar al-imam al-a’dhom. (Imam agung) itu..??” Tanya si BOCAH. 
“Bukan aku yg memberi gelar itu, Masyarakat-lah yg berprasangka baik dan memberi gelar itu kepadaku”
“Wahai Imam, hati2 dg gelarmu. Jangan sampai Tuan tergelincir ke neraka karena gelar…!Sepatu kayuku ini mungkin hanya menggelincirkanku di dunia. Tapi gelarmu itu dapat menjerumuskan-mu ke dalam api yg kekal jika kesombongan dan keangkuhan menyertainya”.
Ulama besar yg diikuti banyak umat Islam itupun tersungkur menangis….
Imam Abu Hanifah bersyukur. Siapa sangka, peringatan datang dari lidah seorang bocah.
Betapa banyak manusia tertipu karena jabatan, tertipu karena kedudukan, tertipu karena gelar, tertipu karena sebutan Kyai,  Ustadz, doktor, profesor, pengamat,  artis dll, tertipu karena kemaqoman, tertipu karena Harta yg berlimpah, tertipu krn status sosial…
Jangan sampai kita tergelincir… jadi angkuh,riya’ dan sombong, merendah orang lain hanya karena gelar, jabatan, status sosial, kebesaran di dunia dan ilmu yang tinggi.

.

Seorang Ulama besar abu hanifah mampu tersadar hanya krn mulut seorang bocah.
🌿 PEPATAH MENGATAKAN :
“SEPASANG TANGAN YG MENARIKMU KALA TERJATUH  HARUS LEBIH KAU PERCAYAI, DARIPADA SERIBU TANGAN YG MENYAMBUTMU KALA TIBA DI PUNCAK KESUKSESAN”……
INGATLAH NASEHAT ANAK KECIL INI SELAMA LAMANYA AGAR MENGERTI BAGAIMANA HIDUP ZUHUD,WARA’,QONAAH DAN TAWAKKAL.
Sumber : broadcast wa

Kisah Raja Tikrit

​Najamuddin Ayub adalah raja Tikrit, sudah lama belum menikah. 
Adiknya Assaddudin Sirakuh bertanya kepadanya: 

wahai saudaraku apa yang membuatmu belum menikah  
Najmuddin (NA) : saya  tidak mendapati yang sesuai dengan saya
Assaddudin Sirakuh (AS) : boleh aku membantu untuk melamarkan engkau
NA :  dengan siapa
AS :  Putri raja Shah binti sultan Mohammad bin Raja Shah Sultan Seljuk atau putri Menteri Raja
NA : Ah.. dia tidak cocok untuk ku.
Assaduddin sungguh kaget mendengar jawaban Najamuddin
AS : Jadi siapa yang cocok bagi mu
NA : Sesungguhnya ku inginkan yang menjadi pendampingku kelak adalah istri yang solehah, bersamanya menuju ke surga. Melahirkan anak dan mendidiknya dengan baik, hingga tatkala tumbuh menjadi pemuda. Menjadi kesatria yang akan mengembalikan al Quds. 

Ini adalah impiannya
Asadduddin tidak terperanjat dengan perkataan saudaranya tersebut, kemudian bertanya :

Dari mana engkau mendapatkan hal itu?
NA : dari niat yang bersih karena Allah, maka Allah akan mewujudkannya.
Suatu hari Najamuddin sedang duduk bersama syekh di masjid Tikrit dan sedang asyik ngobrol, datanglah seorang pemudi yang memanggil syekh dari balik tirai. Syekh meminta izin untuk berbincang dengan pemudi. 
Najamuddin mendengar syekh bertanya kepada pemudi dan berkata :

Kenapa kamu menolak seorang pemuda yang datang kepadamu untuk melamar?.
Pemudi menjawab : Tuan guru, aku menginginkan seorang pemuda , bersamanya menuju ke surga. Melahirkan anak dan mendidiknya dengan baik, hingga tatkala tumbuh menjadi pemuda. Menjadi kesatria yang akan mengembalikan al Quds.
Allahu Akbar, sungguh kalimat pemudi itu sama seperti Najamuddin ungkapkan kepada saudaranya Assadduddin.
Najamuddin menolak putri raja dan anak mentri yang mereka itu mempunyai prestise dan keindahan.  Sama seperti pemudi menolak pemuda yang mempunyai prestise dan keindahan. 
Semua penolakan ini untuk apa sebenarnya ?
Najamuddin dan pemudi menginginkan agar pendamping mereka dapat menuntun ke surga, melahirkan anak sebagai kesatria bagi umat muslim dan mengembalikan al Quds ketangan islam. 
Najamuddin berdiri dan berkata kepada syekh, aku akan menikahinya. Syekh berkata, pemudi ini miskin dan tidak meliki apa-apa. 
NA menjawab : sebenarnya ini yang aku inginkan. Sebagaimana impianku.
Akhirnya Najamuddin menikah dengan pemudi tersebut, pertemuan mereka adalah bukti dari niat yang ikhlas dan kesungguhan hanya untuk Allah.  Sehingga Allah memberikan rizki seorang anak laki, tumbuh sebagai kesatria dipersiapkan untuk merebut kembali al Quds. Dia adalah Solahuddin Al Ayubbi.
Terjemahan ust Agus Purwanto 

(Divisi Media dan Komunikasi Aspac)
Sumber : broadcast wa

AL-QUR’AN DAN SANG JENDERAL

(diangkat dari kisah nyata)
Suatu sore pada tahun 1525, penjara tempat orang tahanan terasa hening mencengkam. Jenderal Adolf Roberto, pemimpin penjara yg terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan
Setiap sipir penjara membungkukkan badannya rendah² ketika ‘algojo penjara’ itu berlalu di hadapan mereka. Karena kalau tidak, sepatu ‘jenggel’ milik tuan Roberto yg fanatik … itu akan mendarat di wajah mereka
Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara² Ayat Suci yang amat ia benci

” Hai … hentikan suara jelekmu! Hentikan!!!” teriak Roberto sekeras-kerasnya sembari membelalakkan mata
Namun apa yang terjadi? Laki² di kamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dg khusyu’nya. Roberto bertambah berang. Algojo penjara itu menghampiri kamar tahanan yg luasnya tak lebih sekadar cukup untuk 1 orang
Dengan congkak ia menyemburkan ludahnya ke wajah renta sang tahanan yg keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dg rokoknya yg menyala
Sungguh ajaib … tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yg pucat kering milik sang tahanan amat gengsi untuk meneriakkan kata kepatuhan pada sang algojo, bibir keringnya hanya berkata lirih, “Rabbi, wa-ana ‘abduka ”
Tahanan lain yg menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, “Bersabarlah wahai ustadz … Insyaa Allah tempatmu di Syurga .”

Melihat kegigihan orang tua yg dipanggil ustadz oleh sesama tahanan, ‘algojo penjara’ itu bertambah memuncak amarahnya
Ia perintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras² hingga terjerembab di lantai. 

“Hai orang tua busuk!! Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa jelekmu itu?! Aku tidak suka apa-apa yg berhubung dg agamamu !!”
Sang Ustadz lalu berucap, “Sungguh … aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yg amat kucintai, Allah Subhanahu wa ta’ala … Karena kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk? Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yg amat bodoh .”
Baru saja kata² itu terhenti, sepatu laras Roberto sudah mendarat di wajahnya. Laki² itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dg wajah bersimbah darah.
Ketika itulah dari saku baju penjaranya yg telah lusuh, meluncur sebuah ‘buku kecil’. Adolf Roberto bermaksud memungutnya. Namun tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat²
” Berikan buku itu, hai laki² dungu!” bentak Roberto

” Haram bagi tanganmu yg kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!” ucap sang ustadz dg tatapan menghina pada Roberto
Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu. Sepatu laras berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari² tangan sang ustadz yg telah lemah. Suara gemeretak tulang yg patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto
Laki² bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yg terputus. Bahkan ‘algojo penjara’ itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yg telah hancur
Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yg membuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yg telah lusuh. Mendadak algojo itu termenung
” Ah … sepertinya aku pernah mengenal buku ini. Tapi kapan? Ya, aku pernah mengenal buku ini,” suara hati Roberto bertanya-tanya.

Perlahan Roberto membuka lembaran pertama buku itu
Pemuda berumur tiga puluh tahunan itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan² “aneh” dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Spanyol. Akhirnya Roberto duduk di samping sang ustadz yg telah melepas nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yg dalam
Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yg dialaminya sewaktu masih kanak². Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto.
Pemuda itu teringat ketika suatu sore di masa kanak²nya terjadi kericuhan besar di negeri tempat kelahirannya ini

Sore itu ia melihat peristiwa yg mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). *

*Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa.

Beribu-ribu jiwa tak berdosa berjatuhan di bumi Andalusia

Di ujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab) digantung pada tiang² besi yg terpancang tinggi

Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yg kencang, membuat pakaian muslimah yg dikenakan berkibar-kibar di udara
Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup² pada tiang² salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh para rahib
Seorang bocah laki² mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yg telah senyap. Korban² kebiadaban itu telah syahid semua .
Bocah mungil itu mencucurkan airmatanya menatap sang ibu yg terkulai lemah di tiang gantungan. Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi (ibu) yg sudah tak bernyawa, sembari menggayuti abayanya
Sang bocah berkata dg suara parau, “Ummi … ummi … mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa ….? Ummi, cepat pulang ke rumah ummi …”
Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa. Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah
Akhirnya bocah itu berteriak memanggil bapaknya, “Abi … Abi … Abi …”

Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapak ketika teringat kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam
” Hai … siapa kamu?!” teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati sang bocah

Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi,” jawab sang bocah memohon belas kasih

” Hah … siapa namamu bocah, coba ulangi!” bentak salah seorang dari mereka

” Saya Ahmad Izzah …” sang bocah kembali menjawab dg agak grogi

Tiba² “plak! sebuah tamparan mendarat di pipi sang bocah
” Hai bocah …! Wajahmu bagus tapi namamu jelek. Aku benci namamu. Sekarang kuganti namamu dengan nama yg bagus. Namamu sekarang ‘Adolf Roberto’ … Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yg jelek itu Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!” ancam laki² itu
Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata. Anak laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka
Roberto sadar dari renungannya yg panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yg melekat pada tubuh sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah ‘tanda hitam’ ia berteriak histeris, “Abi … Abi … Abi …”
Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu
Pikirannya terus bergelut dg masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yg ada di dalam genggamannya adalah Kitab Suci milik bapaknya, yg dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya. *

*Ia juga ingat betul ayahnya mempunyai ‘tanda hitam’ pada bagian pusar
Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yg amat dalam atas ulahnya selama ini. Lidahnya yg sudah berpuluh-puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, “Abi … aku masih ingat alif, ba, ta, tsa …”

Hanya sebatas kata itu yg masih terekam dalam benaknya
Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yg membasahi wajahnya

Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yg tadi menyiksanya habis²an kini tengah memeluknya. “Tunjuki aku pada jalan yg telah engkau tempuh Abi, tunjukkan aku pada jalan itu …” terdengar suara Roberto memelas
Sang ustadz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dg buah hatinya, di tempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah
Sang Abi dg susah payah masih bisa berucap, “Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dg Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu.”
Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dg berbekal kalimah indah, “Asyhadu an-laa Ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasullullah …’. Beliau pergi menemui Rabbnya dg tersenyum, setelah sekian lama berjuang di bumi yg fana ini
#Kemudian..

Ahmad Izzah mendalami Islam dg sungguh² hingga akhirnya ia menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk Islam, sebagai ganti kekafiran yg di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru dunia berguru dengannya. Dialah … “Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy ”

———

Benarlah firman Allah …
” Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui ”

(QS:30:30)
Masya Allah…

Semoga kisah ini dapat membuat hati kita luluh dengan hidayah Allah yang mudah-mudahan dapat masuk mengenai qolbu kita untuk tetap taat kepadaNya…😥
Sumber : broadcast wa

​Menjaga PERDAMAIAN

@salimafillah
Comte Tiberias, pemimpin para ‘ksatria merpati’ Kerajaan Salib Jerusalem yang berjuang menjaga perdamaian itu gusar. “Reynald de Chattilon, bersama para Ksatria Templar, telah menyerang dan merampok kafilah muslim!”
Ini bukan kejahatan pertama Reynald. Mencegat dan membunuh rombongan haji, menghancurkan desa muslim dan mengusir penduduknya, serta berbagai pelecehan kepada agama Islam telah diperbuatnya.
“Dia telah merusak perdamaian yang diperjuangkan Paduka Raja dan Shalahuddin!”
Balairung penghadapan Raja Baldwin IV bergemuruh. Para ksatria elang penyuka perang mengutuk ucapan Tiberias yang menyatakan bahwa memancing Shalahuddin bertempur adalah konyol. “Pasukan Yesus Kristus yang membawa salib suciNya”, begitu kata pemimpin Ordo Templar, “Takkan terkalahkan.” Perang ini memang dikehendaki Tuhan.
Di tengah perdebatan sengit akan apa yang harus dilakukan, seorang teliksandi menghaturkan sepucuk surat ke bawah duli raja yang memakai topeng perak untuk menutupi kusta yang kian menggerogoti wajahnya itu.
“Shalahuddin bersama 200.000 pasukannya telah menyeberangi Sungai Yordan!”, ujar Raja.
“Dan pertama-tama dia akan menghancurkan Reynald di Kerak!”, seru Tiberias sembari mendekat pada rajanya.
“Kita harus hentikan Shalahuddin sebelum mencapai Kerak”, bisik Baldwin. “Aku sendiri yang akan bicara padanya.”
“Tuanku”, ucap Tiberias dengan amat khawatir, “Jika kau berangkat ke medan perang, kau akan mati.”
Dengan senyum dari balik topengnya, Sang Raja menepuk bahu Tiberias dan bertitah, “Susun pasukan kita!” Gegap gempitalah sambutan para pencinta pertumpahan darah itu.
Tapi kita tahu adegan dramatik selanjutnya dalam film garapan Ridley Scott itu, Kingdom of Heaven.
Setelah bentrok kecil yang berarti besar bagi penyelamatan warga sipil sesuai amanat Baldwin untuk Balian dari Ibelin, pasukan utama Shalahuddin Al Ayyubi tiba dengan panji berwarna-warni dan kemegahan formasi yang menggetarkan. Awan seakan berarak menaungi kesatuan-kesatuannya yang terdiri atas para ksatria-santri terlatih.
Dari Benteng Kerak yang menjulang kokoh di atas bukit, Putri Sybilla dari Jerusalem menatap pasukan muslimin dengan kagum sekaligus cemas.
Ketegangan di dalam Kastil sedikit terredam oleh kilau-kemilau dari arah sebaliknya. Itulah kayu yang konon pernah memancang tubuh Yesus di bukit Golgota dan kini dihias selubung emas sebagai pusaka. Pasukan Jerusalem dipimpin langsung oleh Raja Baldwin IV telah pula tiba, diiringi kepulan debu dahsyat ke udara.
Ketegangan kembali memuncak ketika Sang Sultan dan Sang Raja memacu kuda masing-masing meninggalkan barisan untuk bertemu muka.
“Kuminta serahkan urusan penghakiman ini padaku dan tariklah mundur pasukanmu!”, ujar Shalahuddin.
“Justru kuminta kau yang mundur dan pulang ke Damaskus atau aku bersumpah kita semua akan mati di sini! Dan aku bersumpah Reynald de Chattilon akan dihukum sesuai kejahatannya!”, Baldwin yang telah menempuh perjalanan jauh tampak amat tersiksa di bawah baju besinya yang berat dan membara. Shalahuddin menatapnya dalam haru dan iba.
“Bukankah masih ada perjanjian di antara kita?”, tegas Baldwin.
“Tentu”, jawab Sang Sultan. Dia terdiam sejenak dengan wajah menunjukkan welas asihnya. “Aku akan mengirim dokterku untuk Anda.”
Janji sejati raja yang terkenal keksatriaannya itu meluluhkan hati Shalahuddin. Badannya memang berkusta, tapi hatinya permata, hal yang takkan dicapai oleh Guy de Lusignan penggantinya kelak. Maka nantinya benar keyakinan Comte Tiberias, “Shalahuddin sebenarnya bisa memenangkan perang dengan amat mudah kapanpun dia menginginkannya.”
Hari itu, dari atas Kastil Kerak terlihat bagaimana pasukan muslimin ditarik dengan formasi barisan yang begitu rapi dan lincah. Semua menghela nafas lega. Tapi sang penguasa benteng, Reynald de Chattilon tak menduga bahwa dia akan segera menerima hukuman berat seiring langkah kaki kuda Raja Baldwin IV yang dengan anggun memasuki kastilnya.
“Berlutut!”, perintah Sang Raja pada Reynald yang menyambutnya di halaman. Lelaki sombong itu patuh.
“Lebih rendah lagi!”
“Akulah Jerusalem”, kata Raja sembari membuka sarung tangannya hingga terlihatlah jari-jarinya yang meranggas geripis oleh lepra. Luka-lukanya merah dan lengket oleh nanah. “Maka maukah engkau, Reynald de Chattilon memberiku sebuah ciuman perdamaian?”
Reynald yang ketakutan bergegas menyambut jemari Raja yang selalu dia hina di belakang punggung itu, menciumnya dengan rakus. Dan tepat pada saat itulah tongkat komando Raja Baldwin menghantam kepala dan punggungnya bertubi. Seringai dan jerit kesakitannya belum hilang ketika akhirnya Sang Raja limbung dan jatuh terbanting sendiri. Comte Tiberias segera menyuruh pengawal memapah beliau ke tandu.
“Apa yang kaulihat?”, tanya Reynald yang masih terbaring kesakitan.
“Orang mati. Akhirnya”, sahut Tiberias berkacak pinggang. 

Penjahat itu dibawa ke penjara sedang seluruh gelarnya dicabut dan miliknya disita. Janji telah ditunaikan. Sang penista telah dihukum. Maka damai bersemayam di bumi.
Sumber : broadcast wa

KISAH BUAH SEMANGKA


*Suatu riwayat tentang Syeikh al-Imam Syaqiq al-Balkhi yang wafat pada tahun 194 H./810 M.*
Al Kisah.., pada suatu hari Syeikh al-Imam Syaqiq al-Balkhi membeli Buah Semangka untuk istrinya. Saat disantapnya ternyata buah Semangka tersebut terasa hambar.
Dan sang isteri pun marah.
Syeikh al-Imam Syaqiq menanggapi dengan tenang amarah istrinya itu, setelah selesai di dengarkan amarahnya, beliau bertanya dengan halus: 
“Kepada siapakah kau marah wahai istriku?
Kepada pedagang buahnya kah?
atau kepada pembelinya?
atau kepada petani yang menanamnya?
ataukah kepada yang Menciptakan Buah Semangka itu?”
Tanya Syeikh al-Imam Syaqiq
Istri beliau terdiam.
Sembari tersenyum., Syeikh Syaqiq melanjutkan perkataannya:
“Seorang pedagang tidak menjual sesuatu kecuali yang terbaik…
Seorang pembeli pun pasti membeli sesuatu yang terbaik pula..!
Begitu pula seorang petani, tentu saja ia akan merawat tanamannya agar bisa menghasilkan yang terbaik..!
Maka sasaran kemarahanmu berikutnya yang tersisa, tidak lain hanya kepada yang Menciptakan Semangka itu..!”.
Pertanyaan Syeikh al-Imam Syaqiq menembus ke dalam hati sanubari istrinya. Terlihat butiran air mata menetes perlahan di kedua pelupuk matanya…
Syeikh al-Imam Syaqiq al-Balkhi pun melanjutkan ucapannya :
“Bertaqwalah wahai istriku…Terimalah apa yang sudah menjadi Ketetapan-Nya.” Agar Allaah memberikan keberkahan pada kita”
“Mendengar nasehat suaminya itu… Sang istri pun sadar, menunduk dan menangis mengakui kesalahannya dan ridha’ dengan apa yang telah Allaah Subhanahu Wa Ta’ala tetapkan.”
pelajaran terpenting buat kita adalah bahwa setiap keluhan yg terucap sama saja kita tidak ridha dengan ketetapan Allaah SWT, sehingga barokah Allaah jauh dari kita.
Karena Barokah bukanlah serba cukup dan mencukupi saja, akan tetapi barokah ialah bertambahnya ketaatan kita kepada الله dengan segala keadaan yang ada, baik yang kita sukai atau sebaliknya.
Barokah itu: “… bertambahnya ketaatanmu kepada الله.
Makanan barokah itu bukan yang komposisi gizinya lengkap, tapi makanan yang mampu membuat yang memakannya menjadi lebih taat setelah memakannya.
Hidup yang barokah bukan hanya sehat, tapi kadang sakit itu justru barokah sebagaimana Nabi Ayyub, sakitnya menjadikannya bertambah taat kepada الله.
Barokah itu tak selalu panjang umur, ada yang umurnya pendek tapi dahsyat taatnya layaknya Mus’ab ibn Umair.
Tanah yang barokah itu bukan karena subur dan panoramanya indah, karena tanah yang tandus seperti Makkah punya keutamaan di hadapan الله …tiada banding….tiada tara.
Penghasilan barokah juga bukan gaji yg besar dan berlimpah, tetapi sejauh mana ia bisa jadi jalan rejeki bagi yang lainnya dan semakin banyak orang yang terbantu dengan penghasilan tersebut.
Anak² yang barokah bukanlah saat kecil mereka lucu dan imut atau setelah dewasa mereka sukses bergelar & mempunyai pekerjaan & jabatan hebat, tetapi anak yang barokah ialah yang senantiasa taat kepada Rabb-Nya dan kelak mereka menjadi lebih shalih dari kita & tak henti²nya mendo’akan kedua Orangtuanya.
💥Semoga kita semua dianugerahi kekuatan untuk senantiasa bersyukur padaNYA, agar kita mendapatkan keberkahanNYA._ آمِّيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
Sumber : broadcast wa

Hartamu yang Kau Infaqkan

✒ Üsƭάϑz DR. Syafiq Riza Basalamah. MA حفظه الله تعالى 
Akhi/Ukhti..‬

‪‪ ‬‬

‪‪Ada berapa banyak uang di tabunganmu???‬‬

‪‪Atau di Brangkas besimu?‬‬

‪‪Atau di mana saja kau menyimpannya..‬

‪‪ ‬‬

‪‪Pada suatu hari al Ahanf bin Qais melihat uang logam satu Dirham di tangan seseorang, maka iapun bertanya kepadanya, “uang siapakah ini???‬‬

‪‪Spontan orang itu menjawab, “Uangku!”.‬‬

‪‪Maka Ahnaf berkata, “Uang itu menjadi milikmu bila kau nafkahkan dalam rangka mencari pahala atau bersyukur pada Allah”.‬‬

‪‪ ‬‬

‪‪Kemudian ia mendendangkan sebuah bait sya’ir:‬‬

‪‪ ‬‬

‫أنت للمال إذا أمسكته .. فإذا أنفقته فالمال لك .‬

‪‪ ‬‬

‪‪”Kamu dimiliki oleh hartamu bila kau menyimpannya‬‬

‪‪Namun tatkala kamu menginfaqkannya, maka harta itu menjadi milikmu”.‬‬

‪‪ ‬‬

‪‪Subhanallah..‬

‪‪Jadi yang menjadi milik kita adalah yang telah berpindah tangan dari brangkas dan simpanan kita..‬

‪‪ ‬‬

‪‪Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:‬‬

‫ ‬

‫((يَقُولُ الْعَبْدُ مَالِى مَالِى إِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلاَثٌ مَا أَكَلَ فَأَفْنَى أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى أَوْ أَعْطَى فَاقْتَنَى وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ))‬

‫ ‬

‪‪”Hamba itu berkata, “Hartaku, hartaku”, tidaklah menjadi hartanya kecuali tiga:‬‬

‪‪Yang ia makan kemudian habis‬‬

‪‪Yang ia kenakan kemudian usang‬‬

‪‪Yang ia sedekahkan, maka itulah yang dikumpulkannya‬‬

‪‪Adapun yang selain itu, maka akan sirna dan ia akan meninggalkannya untuk orang lain”. (HR. Muslim)‬‬

‪‪ ‬‬

‪‪Kalau kau cinta kepada hartamu‬‬

‪‪ ‬‬

‪‪Kalau kau ingin menumpuk hartamu‬‬

‪‪ ‬‬

‪‪Maka segera pindahkan dari tempatnya, ke tempat yang abadi‬‬
Tidak perlu takut dirampok atau dicuri
Karena dijaga 

 ‬‬

oleh Pencipta langit dan Bumi.‬‬ 
[ 📖 ]✒ BBG  Al-ilmú 
❀ ❀ ❀ ❀ ❀
Sumber : broadcast fb