Mati anak ada kuburnya…

Quote

Maté aneuk meupat jirat, reulé adat hana pat ta mita!

Mati anak ada kuburnya. Rusak hukum tiada gantinya.

~ Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam ( bertakhta di Kesultanan Aceh Darussalam 1607-1636)
Maté aneuk meupat jirat, reulé adat hana pat ta mita!

Mati anak ada kuburnya. Rusak hukum tiada gantinya.

~ Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam ( bertakhta di Kesultanan Aceh Darussalam 1607-1636)

Maté aneuk meupat jirat, reulé adat hana pat ta mita!

Mati anak ada kuburnya. Rusak hukum tiada gantinya.

~ Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam ( bertakhta di Kesultanan Aceh Darussalam 1607-1636)

Maté aneuk meupat jirat, reulé adat hana pat ta mita!

Mati anak ada kuburnya. Rusak hukum tiada gantinya.

~ Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam ( bertakhta di Kesultanan Aceh Darussalam 1607-1636)

Maté aneuk meupat jirat, reulé adat hana pat ta mita!

Mati anak ada kuburnya. Rusak hukum tiada gantinya.

~ Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam ( bertakhta di Kesultanan Aceh Darussalam 1607-1636)

Kalimat ini diucapkan sultan saat menghukum rajam putra tercintanya, Meurah Pupok, yang berzina. Diabadikan sebagai peribahasa.

Advertisements

Ketika Istighfar Takdirkan Lelaki Shalih Ini Bertemu dengan Imam Ahmad

IMAM Ahmad rahimahullah merupakan salah satu ulama madzhab 4 yang namanya mahsyur hingga saat ini. Pada zamannya, Ia begitu dielu-elukan oleh banyak orang. Dalam sebuah kisah yang ditulis Imam al Jauzi rahimahullah dalam buku tentang Imam Ahmad dikisahkan bahwa saat sang Imam memasuki usia senja beliau begitu ingin pergi ke Negeri Syam.
.

Namun anehnya Imam Ahmad sama sekali tidak memiliki tujuan yang jelas kenapa Ia ingin pergi ke tempat itu. Padahal Ia harus menempuh perjalanan jauh dari kediamannya di Baghdad menuju Syam. Sesampainya di Syam, Imam Ahmad berhenti untuk menunaikan salat dzuhur. Tidak ada yang mengenalinya, mengingat zaman dahulu teknologi tidak secanggih saat ini.

.

Ia menunggu di masjid tersebut hingga menjelang salat Ashar. Setelah Ashar, sang Imam membaca Al-quran untuk menunggu waktu Magrib dan Isya. Setelah habis malam, Imam Ahmad kemudian ingin tidur dan beristirahat di masjid tersebut.
Namun penjaga masjid tidak mengizinkan Ia tidur disana.

.
“Wahai syekh, anda tidak boleh tidur disini, ini peraturan silahkan pergi,” kata penjaga

.
Namun Imam Ahmad menolak, “Saya musafir, saya ingin istirahat disini,” jawab sang Imam.

.
Namun sang penjaga tetap menolak dan memintanya untuk keluar lalu kemudian mengunci pintu masjid. Setelah penjaga tersebut pergi, Imam Ahmad kembali beristirahat di pelataran masjid.

.
Tapi, sang penjaga kembali datang dan lagi-lagi mengusirnya hingga mendorongnya menuju ke jalanan. Lalu ada tukang roti yang rumahnya tidak jauh dari masjid melihat kondisi tersebut. Tukang Roti tersebut memanggilnya
“Hai syekh, kemarilah beristirahatlah di tokoku,”
Kemudian Iman Ahmad masuk ke toko roti tersebut.

.

“Rumahku tidak jauh dari sini, ini toko roti ku, dibelakang sana, ada ruangan untuk beristirahat. Beristirahatlah malam ini dan besok pagi engkau bisa melanjutkan perjalanan lagi,” kata tukang roti itu.

.
Setelah masuk ke toko tersebut, Imam Ahmad kemudian memperhatikan aktivitas sang penjual roti. Dan ada satu hal yang paling menarik perhatian beliau dari lelaki ini. Yakni ucapan dzikir dan doa istighfar yang terus meluncur dari mulutnya tanpa putus sejak awal ia mulai mengerjakan adonan rotinya.
Imam Ahmad yang kagum lalu bertanya “Sejak kapan Anda selalu beristighfar tanpa henti seperti ini?”

.
Ia menjawab, “Sejak lama sekali. Ini sudah menjadi kebiasaan rutin saya, hampir dalam segala kondisi.”

.
Lalu Imam Ahmad bertanya lagi “Lantas apa hasilnya”

.
“Ya, Allah mengabulkan semua permintaanku” Jawabnya.

.
“Lalu apa permintaanmu yang belum dikabulkan Allah?” tanya Sang Imam.

.
Si lelaki saleh ini pun melanjutkan jawabannya dan berkata, “Sudah cukup lama saya selalu berdoa memohon kepada Allah untuk bisa dipertemukan dengan seorang ulama besar yang sangat saya cintai dan agungkan. Beliau adalah Imam Ahmad bin Hanbal!”

.
“Allahu Akbar! karena Istighfarmu lah Allah SWT mendatangkan saya datang ke kotamu ini tanpa alasan yang jelas, karena Istighfarmu lah Marbot Masjid melarang saya tidur di Masjid, karena Istighfarmulah engkau menawarkan aku istirahat ditempatmu. Saya lah Ahmad bin Hanbal!”

.
Masya Allah, Allah SWT mendatangkan Imam Ahmad ke rumahnya karena Istighfarnya.

.
Sumber : islampos

​UNTUKMU PARA IBU RUMAH TANGGA

Jangan bu… Jangan dulu dilanda sendu…

.
Ketika Engkau mendengar kabar, di kantor barunya sahabatmu kembali mendapat promosi, serta merta dirimu merasa tak berarti sebab hanya tumpukan pakaian kotor yg Kau hadapi sehari2.

.
Tarik nafasmu, hembuskan perlahan bu… Luruskan niatmu lagi!

.
Jangan Kau ganggu kekhusyukanmu mencuci dengan perasaan bahwa dirimu tak memiliki prestasi.
Mencuci baju, memantau ketersediaan stok pakaian bersih dan suci, serta mengatur pendistribusian baju siap pakai kedalam lemari, bukanlah sekadar rutinitas yg tak berarti. Jika niatmu agar senantiasa terjaga kebersihan yg adalah separuh dari iman, supaya pakaian suci, yg menjadi syarat diterimanya shalat anggota keluargamu, senantiasa terpenuhi, maka itu adalah amalan yg bernilai tinggi.

.
Cobalah kalkulasi, berapa pahala yg menyertaimu setiap mereka sholat 5 kali sehari. Dikali seminggu, sebulan, setahun…
Jika Engkau ikhlas bu, melakukan semuanya semata demi meraih ridha Allah Ta’ala, Engkau adalah manajer yg paling berprestasi ketika Yaumul Hisab tiba.

.
Jangan bu… Jangan dulu dihantui cemburu…

.
Saat di media sosial Kau dapati, sederet foto teman yg sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri, tiba2 Engkau merasa dunia begitu kelabu karena mengantar anak2 ke sekolah adalah perjalanan dinas terjauhmu.

.
Tarik nafasmu, hembuskan perlahan bu… Kukuhkan kesabaranmu lagi!

.
Jangan kau usik ketekunanmu mendidik anak2 dengan anggapan bahwa Kau tak memiliki kompetensi. 

.
Menjadi madrasatul ‘ula bukan tugas mudah dan perkara remeh belaka. Dibutuhkan kehandalan berpikir dan berstrategi. Sungguh tak mudah ‘menaklukkan’ anak2, meski itu anakmu sendiri. 

.

Karenanya, ketika Engkau memutuskan bahwa Engkau lah yg memegang kendali, bukan guru privat atau guru mengaji, sesungguhnya Engkau tengah melakukan investasi yg tak pernah mengenal kata rugi.

.
Cobalah dirinci. Untuk satu saja kebaikan yg Engkau ajarkan kepada anak2mu, lalu ia amalkan di sepanjang umurnya, untuk setiap huruf hijaiyah yg Engkau kenalkan padanya, hingga ia bisa membaca dan menghapal surat demi surat dalam Al-Quran dengan baik dan benar, lalu ia baca surat2 itu di setiap shalatnya, setiap hari, selama berbulan2 hingga berpuluh2 tahun kemudian. Betapa banyak pahala yg mengalir padamu meski ruh tak lagi dikandung badan.

.
Jika Engkau ikhlas bu, melakukan semuanya semata demi meraih ridha Allah Ta’ala, Engkau adalah pebisnis paling sukses saat menghuni alam barzah.

.
Jangan bu… Jangan dulu didera pilu…

.
Kala sampai berita seorang kawan hendak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yg lebih tinggi, sekonyong2 Engkau sedih karena merasa tak mampu lagi meng-up grade diri.

.
Tarik nafasmu perlahan bu… Kencangkan semangatmu lagi!
Jangan kau rusak keistiqamahanmu dalam menuntut ilmu syar’i dengan anggapan itu tak bisa menaikkan gengsi.

.
Mengkaji kitab2 ulama dalam sebuah majelis ilmu, yg rutin Kau hadiri pada waktu2 tertentu adalah cara meng-up grade diri yg paling diridhai Allah Jalla jalaluhu. Setiap langkah yg menyeretmu sampai majelis itu, setiap tetes bahan bakar yg meluncurkan kendaraanmu menuju ke sana akan diganjar dengan pahala. 

.
Dan tidaklah Engkau duduk di dalamnya dengan penuh ketakziman, kecuali malaikat tengah merentangkan sayapnya, merengkuhmu dengan segenap keberkahan. Ia akan memohonkan untukmu suatu anugerah berharga bernama sakinah. Sebuah ketentraman jiwa yg belum tentu Engkau dapatkan ketika menuntut ilmu selain ilmu agama di universitas manapun di seluruh dunia.

.
Jika Engkau ikhlas bu, melakukan semuanya semata demi meraih ridha Allah Ta’ala, Engkau adalah penuntut ilmu dengan sebaik2 gelar ketika seluruh manusia berkumpul di Padang Mahsyar.

 .

Jangan bu… Jangan Engkau lakukan itu!

.
Mengukur segala ‘kemewahan’ yg Engkau punya dengan nilai2 yg berlaku di dunia. Profesimu itu mulia, sungguh amat mulia. Terlalu mulia untuk kau sandingkan dengan dunia yg buruk lagi hina.

.
*Nasehat ini terlebih2 untuk diriku sendiri, yg masih amatir dalam profesi ini.

.

Salam kebaikkan dan taqwa..
RIZKI-KU ADA DI LANGIT, BUKAN DI TEMPAT KERJA.!

.
Belajar Tawakal Kepada Putri 10 Tahun …

.
*Hatim Al Ashom rahimahullah,* Ulama besar muslimin, teladan kesederhanaan dan tawakal. Hatim rahimahullah, suatu hari berkata kepada istri dan 9 putrinya bahwa ia akan pergi untuk menuntut ilmu. 

.

Istri dan putri-putrinya keberatan. Karena siapa yang akan memberi mereka makan.

.
Salah satu dari putri-putri itu berusia *10 tahun dan hapal Al Quran.*

.
Dia menenangkan semua: “Biarkan beliau pergi. Beliau menyerahkan kita kepada *Dzat Yang Maha Hidup, Maha Memberi rizki dan Tidak Pernah mati!”*
Hatim pun pergi

.

Hari itu berlalu, malam datang menjelang …
Mereka mulai lapar. Tapi tidak ada makanan. Semua mulai memandang protes kepada putri 10 tahun yang telah mendorong kepergian Ayah mereka.
Putri hapal Al Quran itu kembali meyakinkan mereka: *”Beliau menyerahkan kita kepada Dzat Yang Maha Hidup, Maha Memberi rizki dan Tidak Pernah mati!”*
Dalam suasana seperti itu, pintu rumah mereka diketuk. Pintu dibuka. Terlihat para penunggang kuda. 

.

Mereka bertanya: 

*”Adakah air di rumah kalian?”*

.
Penghuni rumah menjawab: 

“Ya, kami memang tidak punya apa-apa kecuali air”.

.
Air dihidangkan. Menghilangkan dahaga mereka. 

.
Pemimpin penunggang kuda itu pun bertanya: 

*”Rumah siapa ini?”*

.
Penghuni rumah menjawab: *”Hatim al Ashom”.*

.
Penunggang kuda terkejut: *”Hatim, ulama besar muslimin..”*

.
Penunggang kuda itu mengeluarkan sebuah kantong berisi uang dan dilemparkan ke dalam rumah dan berkata kepada para pengikutnya: 

*”Siapa yang mencintai saya, lakukan seperti yang saya lakukan..”*

.
Para penunggang kuda lainnya pun melemparkan kantong-kantong mereka yang berisi uang. Sampai pintu rumah sulit ditutup, karena banyaknya kantong-kantong uang. 

.

Mereka kemudian pergi.
Tahukah antum, *siapa pemimpin penunggang kuda itu…?*
Ternyata *Abu Ja’far Al Manshur, Amirul Mukminin.*

.
Kini giliran putri 10 tahun yang telah hapal Al Quran itu memandangi ibu dan saudari-saudarinya. 

.

Dia memberikan *PELAJARAN AQIDAH* yang sangat mahal sambil menangis, dia berkata:

.
” *JIKA SATU PANDANGAN MAKHLUK BISA MENCUKUPI KITA, MAKA BAGAIMANA JIKA YANG MEMANDANG KITA ADALAH AL KHOLIQ ..!! “*

.
***

Terimakasih Nak, kau telah menyengat kami yang dominasi kegelisahannya hanya urusan dunia.

.
Hingga lupa ada *Al Hayyu Ar Rozzaq …*

.
Hingga lupa jaminan- Nya: 

“dan di *LANGIT lah RIZKI kalian …”*

.
Bukan di pekerjaan …

bukan di bank … 

bukan di kebun … 

bukan di toko … 

tapi …

*DI LANGIT !!*

.
Hingga kami lupa tugas besar akhirat,
اللهم لا تجعل الدنيا أكبر همنا
“Duhai Allah, jangan Kau jadikan dunia sebagai kegundahan terbesar kami …”

.
✒ الفَقيْر إلَىٰ عفو رَبِّه
Barakallāhu fiykum 

.
Ditulis oleh. *Ustadz ZAENAL ABIDIN bin SYAMSUDDIN, Lc.*

.

.

.

Sumber : WAG

​ANAK ADALAH ASURANSI TERBAIK

Oleh : Ust. Budi Ashari. Lc

 

Bukti cinta orang tua sepanjang jalan adalah mereka memikirkan masa depan anaknya. Mereka tidak ingin anak-anak kelak hidup dalam kesulitan. Persiapan harta pun dipikirkan masak-masak dan maksimal.
Para orang tua sudah ada yang menyiapkan tabungan, asuransi bahkan perusahaan. Rumah pun telah dibangunkan, terhitung sejumlah anak-anaknya. Ada juga yang masih bingung mencari-cari bentuk penyiapan masa depan terbaik. Ada yang sedang memilih perusahaan asuransi yang paling aman dan menjanjikan. Tetapi ada juga yang tak tahu harus berbuat apa karena ekonomi hariannya pun pas-pasan bahkan mungkin kurang.
Bagi yang telah menyiapkan tabungan dan asuransi, titik terpenting yang harus diingatkan adalah jangan sampai kehilangan Allah. Hitungan detail tentang biaya masa depan tidak boleh menghilangkan Allah yang Maha Tahu tentang masa depan. Karena efeknya sangat buruk. Kehilangan keberkahan. Jika keberkahan sirna, harta yang banyak tak memberi manfaat kebaikan sama sekali bagi anak-anak kita.
Lihatlah kisah berikut ini:
Dalam buku Alfu Qishshoh wa Qishshoh oleh Hani Al Hajj dibandingkan tentang dua khalifah di jaman Dinasti Bani Umayyah: Hisyam bin Abdul Malik dan Umar bin Abdul Aziz. Keduanya sama-sama meninggalkan 11 anak, laki-laki dan perempuan. Tapi bedanya, Hisyam bin Abdul Malik meninggalkan jatah warisan bagi anak-anak laki masing-masing mendapatkan 1 juta Dinar. Sementara anak-anak laki Umar bin Abdul Aziz hanya mendapatkan setengah dinar.
Dengan peninggalan melimpah dari Hisyam bin Abdul Malik untuk semua anak-anaknya ternyata tidak membawa kebaikan. Semua anak-anak Hisyam sepeninggalnya hidup dalam keadaan miskin. Sementara anak-anak Umar bin Abdul Aziz tanpa terkecuali hidup dalam keadaan kaya, bahkan seorang di antara mereka menyumbang fi sabilillah untuk menyiapkan kuda dan perbekalan bagi 100.000  pasukan penunggang kuda.
Apa yang membedakan keduanya? KEBERKAHAN.
Kisah ini semoga bisa mengingatkan kita akan bahayanya harta banyak yang disiapkan untuk masa depan anak-anak tetapi kehilangan keberkahan. 1 juta dinar (hari ini sekitar Rp 2.000.000.000.000,-) tak bisa sekadar untuk berkecukupan apalagi bahagia. Bahkan mengantarkan mereka menuju kefakiran.
Melihat kisah tersebut kita juga belajar bahwa tak terlalu penting berapa yang kita tinggalkan untuk anak-anak kita. Mungkin hanya setengah dinar (hari ini sekitar Rp 1.000.000,-) untuk satu anak kita. Tapi yang sedikit itu membaur dengan keberkahan. Ia akan menjadi modal berharga untuk kebesaran dan kecukupan mereka kelak. Lebih dari itu, membuat mereka menjadi shalih dengan harta itu.
Maka ini hiburan bagi yang hanya sedikit peninggalannya.
Bahkan berikut ini menghibur sekaligus mengajarkan bagi mereka yang tak punya peninggalan harta. Tentu sekaligus bagi yang banyak peninggalannya.
Bacalah dua ayat ini dan rasakan kenyamanannya,
Ayat yang pertama,
وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ
“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (Qs. Al Kahfi: 82)
Ayat ini mengisahkan tentang anak yatim yang hartanya masih terus dijaga Allah, bahkan Allah kirimkan orang shalih yang membangunkan rumahnya yang nyaris roboh dengan gratis. Semua penjagaan Allah itu sebabnya adalah keshalihan ayahnya saat masih hidup.
Al Qurthubi rahimahullah menjelaskan,
“Ayat ini menunjukkan bahwa Allah ta’ala menjaga orang shalih pada dirinya dan pada anaknya walaupun mereka jauh darinya. Telah diriwayatkan bahwa Allah ta’ala menjaga orang shalih pada tujuh keturunannya.”
Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menukil kalimat Hannadah binti Malik Asy Syaibaniyyah,
“Disebutkan bahwa kedua (anak yatim itu) dijaga karena kesholehan ayahnya. Tidak disebutkan kesholehan keduanya. Antara keduanya dan ayah yang disebutkan keshalihan adalah 7 turunan. Pekerjaannya dulu adalah tukang tenun.”
Selanjutnya Ibnu Katsir menerangkan,
“Kalimat: (dahulu ayah keduanya orang yang sholeh) menunjukkan bahwa seorang yang shalih akan dijaga keturunannya. Keberkahan ibadahnya akan melingkupi mereka di dunia dan akhirat dengan syafaat bagi mereka, diangkatnya derajat pada derajat tertinggi di surga, agar ia senang bisa melihat mereka, sebagaimana dalam Al Quran dan Hadits. Said bin Jubair berkata dari Ibnu Abbas: kedua anak itu dijaga karena keshalihan ayah mereka. Dan tidak disebutkan kesholehan mereka. Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa ia adalah ayahnya jauh. Wallahu A’lam
Ayat yang kedua,
إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ
“Sesungguhnya pelindungku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.” (Qs. Al A’raf: 196)
Ayat ini mengirimkan keyakinan pada orang beriman bahwa Allah yang kuasa menurunkan al Kitab sebagai bukti rahmatNya bagi makhlukNya, Dia pula yang akan mengurusi, menjaga dan menolong orang-orang shalih dengan kuasa dan rahmatNya. Sekuat inilah seharusnya keyakinan kita sebagai orang beriman. Termasuk keyakinan kita terhadap anak-anak kita sepeninggal kita.
Untuk lebih jelas, kisah orang mulia berikut ini mengajarkan aplikasinya.
Ketika Umar bin Abdul Aziz telah dekat dengan kematian, datanglah Maslamah bin Abdul Malik. Ia berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, engkau telah mengosongkan mulut-mulut anakmu dari harta ini. Andai anda mewasiatkan mereka kepadaku atau orang-orang sepertiku dari masyarakatmu, mereka akan mencukupi kebutuhan mereka.”
Ketika Umar mendengar kalimat ini ia berkata, “Dudukkan saya!”
Mereka pun mendudukkannya.
Umar bin Abdul Aziz berkata, “Aku telah mendengar ucapanmu, wahai Maslamah. Adapun perkataanmu bahwa aku telah mengosongkan mulut-mulut anakku dari harta ini, demi Allah aku tidak pernah mendzalimi hak mereka dan aku tidak mungkin memberikan mereka sesuatu yang merupakan hak orang lain. Adapun perkataanmu tentang wasiat, maka wasiatku tentang mereka adalah: ((إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ)). Anaknya Umar satu dari dua jenis: shalih maka Allah akan mencukupinya atau tidak sholeh maka aku tidak mau menjadi orang pertama yang membantunya dengan harta untuk maksiat kepada Allah.” (Umar ibn Abdil Aziz Ma’alim At Tajdid wal Ishlah, Ali Muhammad Ash Shalaby)
Begitulah ayat bekerja pada keyakinan seorang Umar bin Abdul Aziz. Ia yang telah yakin mendidik anaknya menjadi shalih, walau hanya setengah dinar hak anak laki-laki dan seperempat dinar hak anak perempuan, tetapi dia yakin pasti Allah yang mengurusi, menjaga dan menolong anak-anak sepeninggalnya. Dan kisah di atas telah menunjukkan bahwa keyakinannya itu benar.
Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang khalifah besar yang berhasil memakmurkan masyarakat besarnya. Tentu dia juga berhak untuk makmur seperti masyarakatnya. Minimal sama, atau bahkan ia punya hak lebih sebagai pemimpin mereka. Tetapi ternyata ia tidak meninggalkan banyak harta. Tak ada tabungan yang cukup. Tak ada usaha yang mapan. Tak ada asuransi seperti hari ini.
Tapi tidak ada sedikit pun kekhawatiran. Tidak tersirat secuil pun rasa takut. Karena yang disyaratkan ayat telah ia penuhi. Ya, anak-anak yang shalih hasil didikannya.
Maka izinkan kita ambil kesimpulannya:
Bagi yang mau meninggalkan jaminan masa depan anaknya berupa tabungan, asuransi atau perusahaan, simpankan untuk anak-anak dari harta yang tak diragukan kehalalannya.

Hati-hati bersandar pada harta dan hitung-hitungan belaka. Dan lupa akan Allah yang Maha Mengetahui yang akan terjadi.

Jaminan yang paling berharga –bagi yang berharta ataupun yang tidak-, yang akan menjamin masa depan anak-anak adalah: keshalihan para ayah dan keshalihan anak-anak.

Dengan keshalihan ayah, mereka dijaga.
Dan dengan keshalihan anak-anak, mereka akan diurusi,….
Sumber : WAG

Kisah Abu bin Hasyim

​Alkisah ada ahli ibadah bernama Abu bin Hasyim yg kuat sekali tahajudnya. Hampir ber-tahun2 dia tdk pernah absen melakukan sholat tahajud.

Pada suatu ketika saat hendak mengambil wudhu utk tahajud, Abu dikagetkan oleh keberadaan sesosok makhluk yg duduk di bibir sumurnya. Abu bertanya, “Wahai hamba Allah, siapakah Engkau?”

Sambil tersenyum, sosok itu berkata; “Aku Malaikat utusan Allah”.

Abu Bin Hasyim kaget sekaligus bangga krn kedatangan tamu malaikat mulia. Dia lalu bertanya, “Apa yg sedang kamu lakukan di sini?”

Malaikat itu menjawab, “Aku disuruh mencari hamba pencinta Allah.”

Melihat Malaikat itu memegang kitab tebal, Abu lalu bertanya; “Wahai Malaikat, buku apakah yg kau bawa?”

Malaikat menjawab; “Ini adalah kumpulan nama hamba2 pencinta Allah.”

Mendengar jawaban Malaikat, Abu bin Hasyim berharap dlm hati namanya ada di situ. Maka ditanyalah Malaikat itu. “Wahai Malaikat, adakah namaku di situ ?”

Abu berasumsi bahwa namanya ada di buku itu, mengingat amalan ibadahnya yg tdk kenal putusnya. Selalu mengerjakan shalat tahajud setiap malam, berdo’a dan bermunajat pd Allâh SWT di sepertiga malam.

“Baiklah, aku buka,” kata Malaikat sambil membuka kitab besarnya. Dan, ternyata Malaikat itu tdk menemukn nama Abu di dalamnya.

Tdk percaya, Abu bin Hasyim meminta Malaikat mencarinya sekali lagi.

“Betul … namamu tdk ada di dalam buku ini!” kata Malaikat.

Abu bin Hasyim pun gemetar dan jatuh tersungkur di depan Malaikat. Dia menangis se-jadi2nya. “Rugi sekali diriku yg selalu tegak berdiri di setiap malam dlm tahajud dan bermunajat … tetapi namaku tdk masuk dlm golongan para hamba pecinta Allah,” ratapnya.

Melihat itu, Malaikat berkata, “Wahai Abu bin Hasyim! Bukan aku tdk tahu engkau bangun setiap malam ketika yg lain tidur … mengambil air wudhu dan kedinginan pada saat orang lain terlelap dlm buaian malam. Tapi tanganku dilarang Allâh menulis namamu.”

“Apakah gerangan yg menjadi penyebabnya?” tanya Abu bin Hasyim.

“Engkau memang bermunajat kpd Allâh, tapi engkau pamerkan dgn rasa bangga ke- mana2 dan asyik beribadah memikirkan diri sendiri. Di kanan kirimu ada org sakit atau lapar, tdk engkau tengok dan beri makan. Bgmn mungkin engkau dapat menjadi hamba pecinta Allah kalau engkau sendiri tdk pernah mencintai hamba2 yg diciptakan Allâh ?” kata Malaikat itu.

Abu bin Hasyim seperti disambar petir di siang bolong. Dia tersadar hubungan ibadah manusia tdklah hanya kpd Allâh semata (hablumminAllâh), tetapi juga ke sesama manusia (hablumminannâs) dan alam.

JANGAN BANGGA DENGAN BANYAK SHALAT, PUASA, DAN ZIKIR KARENA ITU SEMUA BELUM MEMBUAT ALLAH SENANG !!!

“`MAU TAHU APA YANG MEMBUAT ALLAH SENANG?

Nabi Musa : Wahai Allah, aku sudah melaksanakan ibadah. Lalu manakah ibadahku yang membuat Engkau senang?

Allah SWT:

SHALAT? Sholat mu itu untukmu sendiri, karena dengan mengerjakan shalat, engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar.

DZIKIR? Dzikirmu itu hanya untukmu sendiri, membuat hatimu menjadi tenang.

PUASA? Puasamu itu untukmu sendiri, melatih dirimu untuk memerangi hawa nafsumu sendiri.

Nabi Musa : Lalu apa yang membuat hati-Mu senang Ya Allah?

Allah SWT: SEDEKAH, INFAQ, ZAKAT serta PERBUATAN BAIK-mu. 

Itulah yang membuat AKU senang, karena tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang susah, AKU hadir di sampingnya. —Dan AKU akan mengganti dengan ganjaran 700 kali (Al-Baqarah 261-262)—

Nah, bila kamu sibuk dengan ibadah ritual dan bangga akan itu… maka itu tandanya kamu hanya mencintai dirimu sendiri, bukan Allah.

Tapi, bila kau berbuat baik dan berkorban untuk orang lain… maka itu tandanya kau mencintai Allah dan tentu Allah senang karenanya.

Buatlah Allah senang maka Allah akan limpahkan rahmat-Nya dengan membuat hidupmu lapang dan bahagia

(Dikutip dari Kitab Mukasyafatul Qulub Karya Imam Al Ghazali)

Saudaraku seiman, sebarkanlah ilmu ini agar kita makin barakah. Pentingnya Silahtuhrahmi.

Aamiin …
Sumbet : WAG

Abu bin Hasyim

​Alkisah ada ahli ibadah bernama Abu bin Hasyim yg kuat sekali tahajudnya. Hampir ber-tahun2 dia tdk pernah absen melakukan sholat tahajud. 

Pd suatu ketika saat hendak mengambil wudhu utk tahajud, 

Abu dikagetkan oleh keberadaan sesosok makhluk yg duduk di bibir sumurnya. 

Abu bertanya, “Wahai hamba Allah, siapakah Engkau ?”. 

Sambil tersenyum, sosok itu berkata; “Aku Malaikat utusan Allah” 

Abu Bin Hazim kaget sekaligus bangga krn kedatangan tamu malaikat mulia. 

Dia lalu bertanya, “Apa yg sedang kamu lakukan di sini ?” 

Malaikat itu menjawab, “Aku disuruh mencari hamba pencinta Allah” 

Melihat Malaikat itu memegang kitab tebal, 

Abu lalu bertanya; “Wahai Malaikat, buku apakah yg kau bawa ?” Malaikat menjawab; “Ini adalah kumpulan nama hamba2 pencinta Allah.” Mendengar jawaban Malaikat, 

Abu bin Hasyim berharap dlm hati namanya ada disitu. Maka ditanyalah Malaikat itu.

 “Wahai Malaikat, adakah namaku disitu ?” 

Abu berasumsi bahwa namanya ada di buku itu, mengingat amalan ibadahnya yg tdk kenal putusnya.

 Selalu mengerjakan sholat tahajud setiap malam, berdo’a dan bermunajat pd Allâh SWT di sepertiga malam. 

“Baiklah, aku buka,” kata Malaikat sambil membuka kitab besarnya. 

Dan ternyata Malaikat itu tdk menemukn nama Abu di dalamnya. 

Tdk percaya, Abu bin Hazim meminta Malaikat mencarinya sekali lagi. “Betul … namamu tdk ada di dalam buku ini !” kata Malaikat.

 Abu bin Hazim pun gemetar dan jatuh tersungkur di depan Malaikat. 

Dia menangis se-jadi2nya. “Rugi sekali diriku yg selalu tegak berdiri di setiap malam dlm tahajud dan bermunajat … 

tetapi namaku tdk masuk dlm golongan para hamba pecinta Allah,” 

ratapnya. Melihat itu, Malaikat berkata, “Wahai Abu bin Hasyim ! 

Bukan aku tdk tahu engkau bangun setiap malam ketika yg lain tidur … 

mengambil air wudhu dan kedinginan pd saat orang lain terlelap dlm buaian malam. 

Tapi tanganku dilarang Allâh menulis namamu.” “Apakah gerangan yg menjadi penyebabnya ?” tanya Abu bin Hasyim.
 “Engkau memang bermunajat kpd Allâh, tapi engkau pamerkan dgn rasa bangga ke- mana2 dan asyik beribadah memikirkan diri sendiri. 

Di kanan kirimu ada org sakit atau lapar, tdk engkau tengok dan beri makan. 

Bgmn mungkin engkau dapat menjadi hamba pecinta Allah kalau engkau sendiri tdk pernah mencintai hamba2 yg diciptakan Allâh ?” 

kata Malaikat itu. Abu bin Hasyim spt disambar petir di siang bolong. 

Dia tersadar hubungan ibadah manusia tdklah hanya kpd Allâh semata (hablumminAllâh), 

tetapi juga ke sesama manusia (hablumminannâs) dan alam 🕋🕋🕋   
 JANGAN BANGGA DENGAN BANYAK SHALAT,PUASA DAN ZIKIR KARENA ITU SEMUA BELUM MEMBUAT ALLAH  SENANG !!!
`MAU TAHU APA YANG MEMBUAT ALLAH  SENANG ???
*Nabi Musa : Wahai Allah, aku sudah melaksanakan ibadah. Lalu manakah ibadahku yang membuat Engkau senang ?
*Allah :

*SHOLAT ? Sholat mu itu untukmu sendiri, karena dengan mengerjakan sholat, engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar.
*DZIKIR ? Dzikirmu itu hanya untukmu sendiri, membuat hatimu menjadi tenang.
*PUASA ? Puasamu itu untukmu sendiri, melatih dirimu untuk memerangi hawa nafsumu sendiri.
Nabi Musa : Lalu apa  yang membuat hatiMu senang Ya Allah ?
*Allah : SEDEKAH, INFAQ, ZAKAT serta PERBUATAN BAIKmu.

Itulah yang membuat AKU senang, karena tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang susah, AKU hadir disampingnya.Dan AKU akan mengganti dengan ganjaran 700 kali (Al-Baqarah 261-262)
*Nah, bila kamu sibuk dengan ibadah ritual dan bangga akan itu… maka itu tandanya kamu hanya mencintai dirimu sendiri, bukan Allah.

*Tapi, bila kau berbuat baik dan berkorban untuk orang lain… maka itu tandanya kau mencintai Allah dan tentu Allah senang karenanya.

*Buatlah Allah senang maka Allah akan limpahkan rahmatNya dengan membuat hidupmu lapang  dan bahagia
(Kitab Mukasyafatul Qulub  Karya Imam Al Ghazali)
Sumber : broadcast wa

​KITA INI BUKAN SIAPA-SIAPA

Nu’man bin Tsabit yg dikenal dg sebutan Abu Hanifah, atau populer disebut IMAM HANAFI , pernah  berpapasan dg anak kecil yg berjalan mengenakan sepatu kayu (terompah kayu).
Sang imam berkata :”Hati-hati nak dg sepatu kayumu itu, Jangan sampai kau tergelincir”.
Bocah ini pun tersenyum dan mengucapkan terima kasih atas perhatian Abu Hanifah.
“Bolehkah saya tahu namamu Tuan?” tanya si bocah.
“Nu’man namaku”, Jawab sang imam.”
Jadi, Tuan lah yg selama ini terkenal dg gelar al-imam al-a’dhom. (Imam agung) itu..??” Tanya si BOCAH. 
“Bukan aku yg memberi gelar itu, Masyarakat-lah yg berprasangka baik dan memberi gelar itu kepadaku”
“Wahai Imam, hati2 dg gelarmu. Jangan sampai Tuan tergelincir ke neraka karena gelar…!Sepatu kayuku ini mungkin hanya menggelincirkanku di dunia. Tapi gelarmu itu dapat menjerumuskan-mu ke dalam api yg kekal jika kesombongan dan keangkuhan menyertainya”.
Ulama besar yg diikuti banyak umat Islam itupun tersungkur menangis….
Imam Abu Hanifah bersyukur. Siapa sangka, peringatan datang dari lidah seorang bocah.
Betapa banyak manusia tertipu karena jabatan, tertipu karena kedudukan, tertipu karena gelar, tertipu karena sebutan Kyai,  Ustadz, doktor, profesor, pengamat,  artis dll, tertipu karena kemaqoman, tertipu karena Harta yg berlimpah, tertipu krn status sosial…
Jangan sampai kita tergelincir… jadi angkuh,riya’ dan sombong, merendah orang lain hanya karena gelar, jabatan, status sosial, kebesaran di dunia dan ilmu yang tinggi.

.

Seorang Ulama besar abu hanifah mampu tersadar hanya krn mulut seorang bocah.
🌿 PEPATAH MENGATAKAN :
“SEPASANG TANGAN YG MENARIKMU KALA TERJATUH  HARUS LEBIH KAU PERCAYAI, DARIPADA SERIBU TANGAN YG MENYAMBUTMU KALA TIBA DI PUNCAK KESUKSESAN”……
INGATLAH NASEHAT ANAK KECIL INI SELAMA LAMANYA AGAR MENGERTI BAGAIMANA HIDUP ZUHUD,WARA’,QONAAH DAN TAWAKKAL.
Sumber : broadcast wa