Nusaibah Binti Ka’ab ra.

​Jangan Mau kalah dg Ummahat !!!!
Wanita yang Kematiannya Disambut Para Malaikat
Muslimahzone.com – Kisah ini mungkin telah sering kita dengar. Namun, sekedar mengingatkan kembali tentang perjuangan wanita mulia ini, semoga dapat mengembalikan ghirah kita untuk juga bisa menteladani beliau, wanita yang ‘berhati baja’.
Nusaibah Binti Ka’ab radhiyallahu anha, namanya tercatat dalam tinta emas penuh kemuliaan. Bahkan kematiannya mengundang ribuan malaikat untuk menyambutnya.
Hari itu Nusaibah sedang berada di dapur. Suaminya, Said sedang beristirahat di bilik tempat tidur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh. Nusaibah menerka, itu pasti tentara musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di kawasan Gunung Uhud. Dengan bergegas, Nusaibah meninggalkan apa yang sedang dilakukannya dan masuk ke bilik. Suaminya yang sedang tertidur dengan halus dan lembut dikejutkannya.
“Suamiku tersayang”, Nusaibah berkata, “Aku mendengar pekik suara menuju ke Uhud. Mungkin orang-orang kafir telah menyerang.”
Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Dia menyesal mengapa bukan dia yang mendengar suara itu. Malah isterinya. Dia segera bangun dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu dia menyiapkan kuda, Nusaibah menghampiri. Dia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.
“Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang.”
Said memandang wajah isterinya. Setelah mendengar perkataannya itu, tak pernah ada keraguan padanya untuk pergi ke medan perang. Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju ke utara. Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum kepadanya. Senyum yang tulus itu semakin mengobarkan keberanian Said.
Di rumah, Nusaibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan ibunya dengan pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang penunggang kuda yang nampaknya sangat gugup.
“Ibu, salam dari Rasulullah,” berkata si penunggang kuda, “Suami Ibu, Said baru sahaja gugur di medan perang. 

Beliau syahid…”
Nusaibah tertunduk sebentar, 

“Inna lillah…..” gumamnya,

“Suamiku telah menang perang. Terima kasih, ya Allah.”
Setelah pemberi kabar itu meninggalkan tempat, Nusaibah memanggil Amar. Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan,
“Amar, kaulihat Ibu menangis?.. Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah Syahid. Aku sedih karena tidak memiliki apa-apa lagi untuk diberikan pagi para pejuang Nabi. Maukah engkau melihat ibumu bahagia?”
Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.
“Ambillah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir terhapus.”
Mata Amar bersinar-sinar. “Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak dari tadi. Aku ragu, seandainya Ibu tidak memberi peluang kepadaku untuk membela agama Allah.”
Putera Nusaibah yang berbadan kurus itu pun terus menderapkan kudanya mengikut jejak sang ayah. Tidak terlihat ketakutan sedikitpun dalam wajahnya. Di hadapan Rasulullah, ia memperkenalkan diri.
“Ya Rasulullah, aku Amar bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayahku yang telah gugur.”
Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu. “Engkau adalah pemuda Islam yang sejati, Amar. Allah memberkatimu….”
Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung hingga petang. Pagi-pagi seorang utusan pasukan Islam berangkat dari perkemahan di medan tempur, mereka menuju ke rumah Nusaibah.
Setibanya di sana, wanita yang tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita, “Ada kabar apakah gerangan?..” serunya gemetar ketika sang utusan belum lagi membuka suaranya, “Apakah anakku gugur?..”
Utusan itu menunduk sedih, “Betul….”
“Inna lillah….” Nusaibah bergumam kecil. Ia menangis.

“Kau berduka, ya Ummu Amar?..”
Nusaibah menggeleng kecil. “Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan kuberangkatkan?.. Saad masih kanak-kanak.”
Mendengar itu, Saad yang sedang berada tepat di samping ibunya, menyela, “Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah putera seorang ayah yang gagah berani.”
Nusaibah terperanjat. Ia memandang puteranya. “Kau tidak takut, nak?..”
Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng, yakin. Sebuah senyum terhias di wajahnya. Ketika Nusaibah dengan besar hati melambaikan tangannya, Saad hilang bersama utusan tentara itu.
Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap di dadanya. Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, “Allahu Akbar!..”
Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke rumah Nusaibah.
Mendengar berita kematian itu, Nusaibah meremang bulu tengkuknya. “Hai utusan,” ujarnya, “Kau saksikan sendiri aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diriku yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang.”
Sang utusan mengerutkan keningnya. “Tapi engkau wanita, ya Ibu….”
Nusaibah tersinggung, “Engkau meremehkan aku karena aku wanita?.. Apakah wanita tidak ingin pula masuk ke Syurga melalui jihad?..”
Nusaibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas menghadap Rasulullah dengan mengendarai kuda yang ada.
Tiba di sana, Rasulullah mendengarkan semua perkataan Nusaibah. Setelah itu, Rasulullah pun berkata dengan senyum.
“Nusaibah yang dimuliakan Allah. Belum masanya wanita mengangkat senjata. Untuk sementara engkau kumpulkan saja obat-obatan dan rawatlah tentara yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur.”
Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nusaibah pun segera menenteng obat-obatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur.
Dirawatnya mereka yang mengalami luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang menunduk dan memberi minum seorang prajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba rambutnya terkena percikan darah. Nusaibah lalu memandang. Ternyata kepala seorang tentara Islam tergolek, tewas terbabat oleh senjata orang kafir.
Timbul kemarahan Nusaibah menyaksikan kekejaman ini.
Apalagi ketika dilihatnya Rasulullah terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh. Nusaibah tidak dapat menahan diri lagi, menyaksikan hal itu.
Ia bangkit dengan gagah berani. Diambilnya pedang prajurit yang tewas itu.

Dinaiki kudanya. 

Lantas bagaikan singa betina, ia mengamuk.
Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang.
Hingga pada suatu waktu ada seorang kafir yang mengendap dari arah belakang, dan langsung menebas putus lengan kirinya. Nusaibah pun terjatuh, terinjak-injak oleh kuda. Peperangan terus berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga tubuh Nusaibah teronggok sendirian.
Tiba-tiba Ibnu Mas’ud menunggang kudanya, mengawasi kalau-kalau ada orang yang bisa ditolongnya. Sahabat itu, begitu melihat ada tubuh yang bergerak-gerak dengan susah payah, dia segera mendekatinya. Dipercikannya air ke muka tubuh itu.
Akhirnya Ibnu Mas’ud mengenalinya, “Isteri Said-kah engkau?..”
Nusaibah samar-sama memperhatikan penolongnya. Lalu bertanya, “Bagaimana dengan Rasulullah?.. Selamatkah baginda?..”
“Baginda Rasulullah tidak kurang suatu apapun…”
“Engkau Ibnu Mas’ud, bukan?.. Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku….”
“Engkau masih terluka parah, Nusaibah….”
“Engkau mau menghalangi aku untuk membela Rasulullah?..”
Terpaksa Ibnu Mas’ud menyerahkan kuda dan senjatanya. Dengan susah payah, Nusaibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke medan pertempuran. Banyak musuh yang dijungkirbalikkannya. Namun karena tangannya sudah buntung, akhirnya tak urung juga lehernya terbabat putus oleh sabetan pedang musuh.
Gugurlah wanita perkasa itu ke atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya.
Tiba-tiba langit berubah mendung, hitam kelabu. Padahal tadinya langit tampak cerah dan terang benderang. Pertempuran terhenti sejenak.
Rasul kemudian berkata kepada para sahabatnya,
“Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan?.. Itu adalah bayangan para malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah Nusaibah, wanita yang perkasa.”
Subhanallah..

Allahu Akbar..

Allahu Akbar..

Allahu Akbar..
Tanpa pejuang sejati seperti dia, mustahil agama Islam bisa sampai dengan damai kepada kita yang hidup di jaman sekarang.
Semoga Allah ‘Azza Wa Jalla menempatkan mereka, dan kita semua di Syurga-Nya disamping Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aamiin..
Apa yang telah kita perbuat untuk menegakkan Dienullah Islam ?
Kisah penuh inspiratif ini seharusnya dapat menggugah jiwa juang kita, agar tidak cengeng melepas anak -anak yang sedang berjuang. Kalo ingin anak menjadi kuat, maka kita harus menjadi ibu yang kuat terlebih dulu.
Sumber : broadcast wa

​BIJAKSANA atau PENGECUT? SOK BIJAKSANA

Oleh : Ust Nasrullah 

Saat genting adalah saat di mana sikap gentlemen seseorang diuji. Sikap pengecut dan sok bijaksana terkadang samar di saat-saat seperti itu.

Sekelas Umar bin Khattab ra saja pernah mengalami hal itu. Padahal di zaman Nabi saw masih hidup, sikap beliau sering berada di sisi yg gentlemen yang diakui Allah.
Adalah Abu Bakar ash-shiddiq yg mengaduk-aduk sikap gentlemen nya Umar ra. Saat itu gerakan murtad terjadi sepeninggal Nabi saw. Padahal sederhana, bbrp kabilah hanya tidak mau menyetor zakat. Masalah sesederhana itu dipandang Abu Bakar ra sangat fatal dan bisa jadi benih pemberontakan. Dan sikap Abu Bakar saat itu adalah : memerangi mereka. 
Umar ra berusaha membujuk Abu Bakar untuk mengurungkan niatnya. Bahkan banyak sahabat yang meminta Umar ra membujuk Abu Bakar. Tentu dgn alasan2 yg bijaksana. Tapi jawaban Abu Bakar mengejutkan Umar ra, “Umar, di masa jahiliyah engkau adalah pemberani, sekarang di masa Islam engkau menjadi pengecut. Sedangkan aku, demi Allah. Aku akan memerangi mereka, selama aku cukup kuat untuk memegang pedang di tanganku. Bahkan walaupun mereka hanya menahan (harta zakat) sedikit saja” 
Saat itu Umar ra akhirnya sadar bahwa sikap bijaksana beliau tercampur dengan sikap pengecut. Dan benar saja, pilihan sikap Abu Bakar ra sangat tepat. Pemberontakan demi pemberontakan bisa dihadapi.
*****
Sikap pengecut yang diliput dengan alasan-alasan bijaksana sering terjadi. Sebenarnya itu timbul dari rasa takut yang dituruti, tapi mencari alasan terbaik. Tapi sayangnya, tidak sesuai konteksnya. Sehingga jadinya malah “Sok Bijaksana”
Dalam kasus Umar ra di atas, beliau tertutupi fakta bahwa masalah yang dihadapi sebenarnya sederhana saja. Para penolak pembayar zakat itu tidak mau melaksanakan rukun Islam. Sebuah fondasi dalam Islam. 
Maka, Abu Bakar ra melihat itu. Jika tidak mau melaksanakan rukun Islam, maka sikapnya sederhana. Perangi.
*****
Islam itu dasarnya adalah agama damai. Tidak mau perang. Maka semua jalan untuk menuju kedamaian akan diperjuangkan dengan maksimal. Bahkan jika damai itu harus diperoleh dengan perang.
Hehe… bingung ya?
Ya sebingung masyarakat kita sekarang menghadapi seorang Ahok. 
Masalahnya kan sederhana. Tangkap saja beliau. Maka kedamaian akan terwujud. Ketenangan masyarakat akan adanya keadilan terpenuhi. Semua bahagia. Dan hidup damai kembali. 
Tapi jika jalan kedamaian itu berliku, maka sikap-sikap kesatria kita diuji. Menghadapi hal ini, muncullah sikap “sok bijaksana”. Wajar saja. Krn ini memang persimpangan yang mendebarkan.
Jangankan kita, Umar ra saja sempat muncul rasa takutnya akan terjadi peperangan antar suku, karena sikap tegasnya Abu Bakar ra yang ingin memerangi mereka.
Sikap sok bijaksana itu indah sekali kata-katanya:
“Sudahlah, maafkan saja, Nabi saw itu orang yang gemar memaafkan”
“Duduk tenang saja di rumah, biarkan polisi mengerjakan tugasnya”
“Wah ini gerakan demonstrasi ada yang menunggangi”
Bahkan sikap-sikap sok bijaksana itu ada yang mengarah pada provokasi,
“Hati-hati, suriah kedua”
Ya kayaknya ga sampai segitunya kali… 
*****
Masalah pak Ahok ini sudah menyentuh nilai fondasi dalam Islam. Darimana mengukurnya? Sederhana saja sih… MUI sudah bersikap. MUI itu bukan lembaga sederhana. Legitimasinya dalam Islam itu kuat sekali.
Urutan Hukum Islam itu terdiri dari :
1. Al-Qur’an

2. Hadits Shohih

3. Ijma’

4. Qiyas

5. Ijtihad
Jika tidak ada dalam Al-Qur’an maka berusaha menemukan dalam hadits. Jika tidak ada di hadits, maka para ulama bersepakat untuk menentukannya (Ijma’). Jika belum ada ijma’ maka ulama orang per orang mencoba mengambil hukum dari qiyas dan ijtihad pribadi (tentu dengan syarat yang sangat ketat).
Naaah… sikap terhadap pak Ahok ini masuk dalam derajat nomor 3. Kuat sekali. MUI itu kumpulan para ulama seluruh Indonesia. Pimpinannya sekarang KH Ma’ruf Amin adalah kyai NU yang sangat disegani.
Jadi, jika MUI sudah menyatakan bahwa ada penistaan agama di sana dan hukum di Indonesia menyatakan bahwa penistaan agama ada hukuman pidananya, ya tinggal dilaksanakan.
Tapi… sejarah membuktikan bahwa pak Ahok ini selalu lolos dalam semua jeratan hukum. Jangankan yang ringan, yang kelas super berat sekalipun beliau sakti. Sepertinya sekarang juga akan lolos. 
Maka, itu yang terekam dalam sanubari masyarakat Indonesia. Mereka bergerak. Menuntut keadilan. Dengan damai tentunya. Karena umat Islam Indonesia ini beda dengan lainnya. Sangat sangat toleran. 
Toh, menyuarakan pendapat dengan damai ini dilindungi undang-undang.
*****
Dengan kejelasan yang terang benderang dalam kasus pak Ahok ini, maka sikap “sok bijaksana” malah menunjukkan rasa pengecut yang nyata.
“Islam dihinakan, lalu muncul seruan untuk memaafkan”
Masalahnya tidak sesederhana itu. Ini adalah sikap gentlemen yang muncul dari sanubari paling dalam. Tidak akan bisa dihilangkan walau dgn pengalihan isu apapun.
Jadi menghadapi kasus pak Ahok ini terang benderang. Anda gentleman atau pengecut. Itu saja.
*****
Sikap sok bijaksana itu bahkan ada yang begini… 
“Al-Qur’an ga perlu dibela. Allah langsung koq yang bela, kita mah siapa atuh…”
Indah bukan? Menyihir sekali kata-katanya. Sehingga mereka yang pengecut jadi terhibur… 
Ya memang Al-Qur’an itu lgsg Allah yang bela, tanpa kita pun Al-Qur’an akan tetap mulia. Tanpa kita turun ke jalan pun Al-Qur’an tetap mulia. 
Sama seperti sholat, tanpa kita menyembah Allah pun, Allah akan tetap mulia.
Tapi, bukan Allah yang butuh disembah, kita yang butuh sholat. Dengan sholat, maka Allah tahu bahwa kita adalah Muslim yang taat.
Begitu juga dengan Al-Qur’an. Bukan Al-Qur’an yang butuh kita, kitalah yang membutuhkan Al-Qur’an. Dengan membelanya saat dihina, menunjukkan bahwa kita pecinta Al-Qur’an. Kalam Allah yang akan membela nanti di yaumil akhir. Bagian dari Rukun Iman. 
Jadi, saat Al-Qur’an dihinakan, kita di mana? Apakah masih ada gentlemen dalam diri kita? Atau ini membuktikan bahwa kita pengecut?
*****
Tetap damai ya dalam demonstrasi. Krn itu jati diri kita. Tanpa marah-marah. Tanpa caci maki. Hanya turun ke jalan sudah membuat polisi berfikir koooq… sooo… jaga diri ya… sopan dan santun saat berdemo…
Pak Ahok tenang aja. Masuk penjara itu cuma kesempatan bertaubat koq. Insya Allah akan dapat hidayah dariNya… aamiin…
Selamat berdemonstrasi.
*****
So, Jangan Sok Bijaksana..

Aslinya sih…. PENGECUT..!
^_^
Sumber : broadcast wa

Ya Allah, Jadikan Saya Dari yang Sedikit

​Ketika Umar bin al-Khattab (رضي الله عنه) sedang berjalan di pasar, ia melewati seorang pria yang sedang memohon,
اللهم اجعلني من القليل اللهم اجعلني من القليل
“Ya Allah, jadikan saya dari yang sedikit! Ya Allah jadikan saya dari yang sedikit! ”
Lalu ‘Umar berkata kepadanya, “Dari mana kamu mendapatkan du`a ini’ (permohonan) ini?” Dan orang itu berkata, “Allah di dalam Kitab-Nya berfirman :
و قليل من عبادي الشكور
“Dan (hanya) sedikit dari hamba-hambaKu yang bersyukur.” (Al Qur’an 34:13) ”
Lalu ‘Umar menangis dan menegur dirinya, “Orang-orang  lebih berpengetahuan daripada kamu, yaa Umar!
Ya Allah jadikan kami dari yang sedikit  dari ‘hambaMu.”
Kadang-kadang ketika kita menasehati seseorang untuk meninggalkan dosa, mereka merespon dengan : “Tapi semua orang melakukannya, itu bukan hanya aku!”
☝️Tapi jika kita mencari kata-kata “kebanyakan orang” dalam Al-Qur’an, kitaakan menemukan bahwa kebanyakan orang :
ولكن اكثرهم لا يعلمون

🔸 “Namun kebanyakan orang tidak mengetahui” (7: 187)
ولكن أكثرهم لا يشكرون

🔸 “dan kebanyakan orang tidak menunjukkan rasa terima kasih” (2: 243)
dan
و لكن اكثر الناس لا يؤمنون

🔸 “dan kebanyakan orang tidak beriman” (11:17).
☝️Dan jika kita mencari kata “sebagian besar dari mereka”, kita akan menemukan bahwa sebagian besar dari mereka adalah :
و آن أكثرهم فاسقون

🔸 “pasti tidak taat” (05:59)
و لكن أكثرهم يجهلون

🔸 “bodoh” (6: 111)
بل أكثرهم لا يعلمون الحق فهم معرضون

🔸 “berpaling” (21:24)
Maka, jadilah dari yang “sedikit”, yang Allah telah berfirman tentang mereka:
و قليل من عبادي الشكور

🔹 “Dan (hanya) sedikit dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.” (34:13)
و ما امن معه الا قليل

🔹 “Tapi tidak ada yang percaya dengan dia, kecuali sedikit.” (11:40)
في جنات النعيم ثلة من الاولين و قليل من الآخرين

🔹 “Berada dalam Surga kenikmatan, Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.” (56: 12-14)
Semoga Allah menjadikan kita dan menerima kita di antara yang sedikit,  yang terkemuka dari yang terkemuka.
Sumber : broadcast wa

The Well of Usman

*_The True Story._*

Suatu hari, di Madinah, tidak terlalu jauh dari masjid Nabawi,  ada sebuah properti sebidang tanah dengan sumur yang tidak pernah kering sepanjang tahun.  Sumur itu dikenal dengan nama :
*_Sumur Ruma (The Well of Ruma)_*  karena dimiliki seorang Yahudi bernama *_Ruma_*

Sang Yahudi menjual air kepada penduduk Madinah, dan setiap hari orang antri untuk membeli airnya. Di waktu waktu tertentu sang Yahudi menaikkan seenaknya harga airnya,  dan rakyat Medinahpun terpaksa harus tetap membelinya. karena hanya sumur inilah yang tidak pernah kering.

Melihat kenyataan ini, Rasulullah SAW berkata, “kalau ada yang bisa membeli sumur ini, balasannya adalah Surga”. Seorang sahabat nabi bernama Usman bin Affan RA mendekati sang Yahudi. Usman menawarkan untuk membeli sumurnya.  Tentu saja Ruma sang Yahudi menolak. Ini adalah bisnisnya, dan ia mendapat banyak uang dari bisnisnya.
Tetapi Usman bukan hanya pebisnis sukses yang kaya raya, tetapi ia juga negosiator ulung. Ia bilang kepada Ruma, “aku akan membeli setengah dari sumur mu dengan harga yang pantas, jadi kita bergantian menjual air, hari ini kamu, besok saya”  Melalui negosiasi yang sangat ketat, akhirnya sang Yahudi mau menjual sumurnya senilai 1 juta  Dirham dan memberikan hak pemasaran 50% kepada Usman bin Affan.

Apa yang terjadi setelahnya membuat sang Yahudi merasa keki. Ternyata Usman menggratiskan air tersebut kepada semua penduduk Madinah. Pendudukpun mengambil air sepuas puasnya sehingga hari kesokannya mereka tidak perlu lagi membeli air dari Ruma sang Yahudi. Merasa kalah, sang Yahudi akhirnya menyerah, ia meminta sang Usman untuk membeli semua kepemilikan sumur dan tanahnya. Tentu saja  Usman harus membayar lagi seharga yang telah disepakati sebelumnya.

*_Hari ini, sumur tersebut dikenal dengan nama Sumur Usman, atau The Well of Usman._*  Tanah luas sekitar sumur tersebut menjadi sebuah kebun kurma yang diberi air dari sumur Usman. Kebun kurma tersebut dikelola oleh badan wakaf pemerintah Saudi sampai hari ini. Kurmanya dieksport ke berbagai negara di dunia, hasilnya diberikan untuk yatim piatu, dan pendidikan. Sebagian dikembangkan menjadi hotel dan proyek proyek lainnya, sebagian lagi dimasukkan kembali kepada sebuah rekening tertua di dunia atas nama Usman bin Affan. Hasil kelolaan kebun kurma dan grupnya yang di saat ini menghasilkan 50 juta Riyal pertahun (atau setara 200 Milyar pertahun)

Sang Yahudi tidak akan penah menang. Kenapa?

*_Karena visinya terlalu dangkal. Ia hanya hidup untuk masa kini, masa ia ada di dunia. Sedangkan visi dari Usman Bin Affan  adalah jauh kedepan. Ia berkorban untuk menolong manusia lain yang membutuhkan dan ia menatap sebuah visi besar yang bernama Shadaqatun Jariyah, sedekah berkelanjutan._* 
Sebuah shadaqah yang tidak pernah berhenti, bahkan pada saat manusia sudah mati.

*_MasyaAllah._*

Sumber : broadcast wa

Amilatun Naashibah (AMAL-AMAL yg Melelahkan)

Kita sering membaca ayat dari Al Qur’an.
Ayat ke 3 surah Al Ghosyiyah, mari kita perhatikan sisi lain dari penjelasan ayat yang sangat menggugah itu. Alloh Ta’ala berfirman:

عاملة ناصبة
“Amilatun nashibah”

Artinya:
amal-amal yg hanya melelahkan.

Rangkaian ayat di awal surah ini bercerita ttg neraka dan para penghuninya.

Ternyata salah satu penyebab orang dimasukan ke neraka adalah amalan yg banyak dan beragam tapi penuh cacat; baik motif dan niatnya, maupun kaifiyat (tata cara) yg tidak sesuai dengan sunnah Rasululloh.
Astaghfirulah hal’adzim…

Alkisah, Seorang shahabat Umar bin Khathab ra menangis saat mendengar ayat ini.

Suatu hari Atha As-Salami rh, seorang Tabi`in yang mulia, bermaksud menjual kain yg telah ditenunnya kepada penjual kain di pasar. Setelah diamati dan diteliti secara seksama oleh sang penjual kain, sang penjual kain mengatakan, “Ya, Atha sesungguhnya kain yg kau tenun ini cukup bagus, tetapi sayang ada cacatnya sehingga saya tidak dapat membelinya.”

Begitu mendengar bahwa kain yg telah ditenunnya ada cacat, Atha termenung lalu menangis.

Melihat Atha menangis, sang penjual kain berkata, “Atha sahabatku, aku mengatakan dg sebenarnya bahwa memang kainmu ada cacatnya sehingga aku tidak dapat membelinya, kalaulah karena sebab itu engkau menangis, maka biarkanlah aku tetap membeli kainmu dan membayarnya dg harga yg pas.”

Tawaran itu dijawabnya, “Wahai sahabatku, engkau menyangka aku menangis disebabkan karena kainku ada cacatnya? ketahuilah sesungguhnya yg menyebabkan aku menangis bukan karena kain itu.
Aku menangis disebabkan karena aku menyangka bahwa kain yg telah kubuat selama berbulan-bulan ini tidak ada cacatnya, tetapi di mata engkau sbg ahlinya, ternyata kain itu ada cacatnya.
Begitulah aku menangis kepada Alloh dikarenakan aku menyangka bahwa ibadah yg telah aku lakukan selama bertahun- tahun ini tidak ada cacatnya,   mungkin di mata Alloh SWT sbg ahli-Nya ada cacatnya, itulah yg menyebabkan aku menangis.”

Semoga kita menyadari sedini mungkin tentang amal yg kita lakukan apakah sudah sesuai ataukah tidak.

Hanya dg ilmulah kita akan mengetahui dimana letak kekurangan amal kita.

Maka bukan hanya dg beramal sebanyak-banyaknya tapi juga beramal dg sebenar-benarnya. *Karena syarat diterimanya suatu ‘amal adalah ketika amal itu ikhlas karena Alloh dan sesuai dengan tuntunan Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam.*

Allahu a’alam…

اللهم إنى أسئلك علما نافعا و رزقا طيبا و عملا متقبلا

آمين يا رب العالمين

Sumber : broadcast wa

Si Badui Yang Menghisab اَللّهُ

Seorang lelaki Badui telah memeluk Islam, tetapi karena keadaan ekonominya yang terbatas dan tempat tinggalnya yang sangat jauh dari Madinah, ia belum pernah menghadap dan bertemu langsung dengan Nabi SAW. Ia hanya berbai’at memeluk Islam dan belajar tentang peribadatan dari para pemuka kabilahnya yang pernah mendapat pengajaran Nabi SAW. Tetapi dengan segala keterbatasannya itu, ia mampu menjadi seorang mukmin yang sebenarnya, bahkan sangat mencintai Rasulullah SAW. 

Suatu ketika ia mengikuti rombongan kabilahnya melaksanakan ibadah umrah ke Makkah. Sambil thawaf sendirian, terpisah dari orang-orang lainnya, si badui ini selalu berdzikir berulang-ulang dengan asma Allah, “Ya Kariim, ya Kariim…..”

Ia memang bukan orang yang cerdas, sehingga tidak mampu menghafal dengan tepat doa atau dzikr yang idealnya dibaca ketika thawaf, sebagaimana diajarkan Nabi SAW. Karena itu ia hanya membaca berulang-ulang asma Allah yang satu itu. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang mengikuti berjalan di belakangnya sambil mengucap juga, “Ya Kariim, ya Kariim!!”

Si Badui ini berpindah dan menjauh dari tempat dan orang tersebut sambil meneruskan dzikrnya, karena ia menyangka lelaki yang mengikutinya itu hanya memperolok dirinya. Tetapi kemanapun ia berpindah dan menjauh, lelaki itu tetap mengikutinya dan mengucapkan dzikr yang sama. Akhirnya si Badui berpaling menghadapi lelaki itu dan berkata, “Wahai orang yang berwajah cerah dan berbadan indah, apakah anda memperolok-olokkan aku? Demi Allah, kalau tidak karena wajahmu yang cerah dan badanmu yang indah, tentu aku sudah mengadukan kamu kepada kekasihku…”

Lelaki itu berkata, “Siapakah kekasihmu itu?”

Si Badui berkata, “Nabiku, Muhammad Rasulullah SAW!!”

Lelaki itu tampak tersenyum mendengar penuturannya, kemudian berkata, “Apakah engkau belum mengenal dan bertemu dengan Nabimu itu, wahai saudaraku Badui?”

“Belum..!!” Kata si Badui.

Lelaki itu berkata lagi, “Bagaimana mungkin engkau mencintainya jika engkau belum mengenalnya? Bagaimana pula dengan keimananmu kepadanya?”

Si Badui berkata, “Aku beriman atas kenabiannya walau aku belum pernah melihatnya, aku membenarkan kerasulannya walau aku belum pernah bertemu dengannya…!!”

Lagi-lagi lelaki itu tersenyum dan berkata, “Wahai saudaraku orang Badui, aku inilah Nabimu di dunia, dan pemberi syafaat kepadamu di akhirat…!!”

Memang, lelaki yang mengikuti si Badui itu tidak lain adalah Rasulullah SAW, yang juga sedang beribadah umrah. Sengaja beliau mengikuti perilaku si Badui karena beliau melihatnya begitu polos dan ‘unik’, menyendiri dari orang-orang lainnya, tetapi tampak jelas begitu khusyu’ menghadap Allah dalam thawafnya itu.

Si Badui tersebut memandang Nabi SAW seakan tak percaya, matanya berkaca-kaca. Ia mendekat kepada beliau sambil merendah dan akan mencium tangan beliau. Tetapi Nabi SAW memegang pundaknya dan berkata, “Wahai saudaraku, jangan perlakukan aku sebagaimana orang-orang asing memperlakukan raja-rajanya, karena sesungguhnya Allah mengutusku bukan sebagai orang yang sombong dan sewenang-wenang. Dia mengutusku dengan kebenaran, sebagai pemberi kabar gembira (yakni akan kenikmatan di surga) dan pemberi peringatan (akan pedihnya siksa api neraka) …”

Si Badui masih berdiri termangu, tetapi jelas tampak kegembiraan di matanya karena bertemu dengan Nabi SAW. Tiba-tiba Malaikat Jibril turun kepada Nabi SAW, menyampaikan salam dan penghormatan dari Allah SWT kepada beliau, dan Allah memerintahkan beliau menyampaikan beberapa kalimat kepada orang Badui tersebut, yakni : “Hai Badui, sesungguhnya Kelembutan dan Kemuliaan Allah (yakni makna asma Allah : Al Karim) bisa memperdayakan, dan Allah akan menghisab (memperhitungkan)-nya dalam segala hal, yang sedikit ataupun yang banyak, yang besar ataupun yang kecil…..”

Nabi SAW menyampaikan kalimat dari Allah tersebut kepada si Badui, dan si Badui berkata, “Apakah Allah akan menghisabku, ya Rasulullah??”

“Benar, Dia akan menghisabmu jika Dia menghendaki…” Kata Nabi SAW.

Tiba-tiba si Badui mengucapkan sesuatu yang tidak disangka-sangka, “Demi Kebesaran dan Keagungan-Nya, jika Dia menghisabku, aku juga akan menghisab-Nya….!!”

Sekali lagi Nabi SAW tersenyum mendengar pernyataan si badui, dan bersabda, “Dalam hal apa engkau akan menghisab Tuhanmu, wahai saudaraku Badui?”

Si Badui berkata, “Jika Tuhanku menghisabku atas dosaku, aku akan menghisab-Nya dengan maghfirah-Nya, jika Dia menghisabku atas kemaksiatanku, aku akan menghisab-Nya dengan Afwan (pemaafan)-Nya, dan jika Dia menghisabku atas kekikiranku, aku akan menghisab-Nya dengan kedermawanan-Nya….”

Nabi SAW sangat terharu dengan jawaban si Badui itu sampai memangis meneteskan air mata yang membasahi jenggot beliau. Jawaban sederhana, tetapi mencerminkan betapa “akrabnya” si Badui tersebut dengan Tuhannya, betapa tinggi tingkat ma’rifatnya kepada Allah, padahal dia belum pernah mendapat didikan langsung dari Nabi SAW. Sekali lagi Malaikat Jibril AS turun kepada Nabi SAW dan berkata, “Wahai Muhammad, Tuhanmu, Allah As Salam mengirim salam kepadamu dan berfirman : Kurangilah tangismu, karena hal itu melalaikan malaikat-malaikat pemikul Arsy menjadi lalai dalam tasbihnya. Katakan kepada saudaramu, si Badui, ia tidak usah menghisab Kami dan Kami tidak akan menghisab dirinya, karena ia adalah (salah satu) pendampingmu kelak di surga….!!!”

Sumber : broadcast wa

Amilatun Nashibah

“Amilatun nashibah” artinya amal-amal yg hanya melelahkan. 
Ayat ke3 surah Al Ghosyiyah, rangkaian ayat di awal surah ini bercerita ttg neraka dan para penghuninya.

Ternyata salah satu penyebab orang dimasukan ke neraka adalah sebab amalan yg banyak dan beragam tapi penuh cacat; baik motif dan niatnya, maupun kaifiyat yg tidak sesuai dengan sunnah Rasululloh.
AstaghfiruLlahal’adzhim…

Alkisah, ‘Umar bin Khathab menangis saat mendengar ayat ini.

Alkisah juga, suatu hari Atha As-Salami, seorang Tabi`in bermaksud menjual kain yg telah ditenunnya kepada penjual kain di pasar. Setelah diamati dan diteliti secara seksama oleh sang penjual kain, sang penjual kain mengatakan, “Ya, Atha sesungguhnya kain yg kau tenun ini cukup bagus, tetapi sayang ada cacatnya sehingga saya tidak dapat membelinya.”
Begitu mendengar bahwa kain yg telah ditenunnya ada cacat, Atha termenung lalu menangis.

Melihat Atha menangis, sang penjual kain berkata, “Atha sahabatku, aku mengatakan dg sebenarnya bahwa memang kainmu ada cacatnya sehingga aku tidak dapat membelinya, kalaulah karena sebab itu engkau menangis, maka biarkanlah aku tetap membeli kainmu dan membayarnya dg harga yg pas.”

Tawaran itu dijawabnya, “Wahai
sahabatku, engkau menyangka aku menangis disebabkan karena kainku ada cacatnya? ketahuilah sesungguhnya yg menyebabkan aku menangis bukan karena kain itu. 
Aku menangis disebabkan karena aku menyangka bahwa kain yg telah kubuat selama berbulan-bulan ini tidak ada cacatnya, tetapi di mata engkau sbg ahlinya ternyata ada cacatnya.
Begitulah aku menangis kepada Alloh dikarenakan aku menyangka bahwa ibadah yg telah aku lakukan selama bertahun- tahun ini tidak ada cacatnya, tetapi mungkin di mata Alloh sbg ahli-Nya ada cacatnya, itulah yg menyebabkan aku menangis.”

Semoga kita menyadari sedini mungkin tentang amal yg kita lakukan apakah sudah sesuai ataukah tidak.

Hanya dg ilmulah kita akan mengetahui dimana letak kekurangan amal kita.

Maka bukan hanya dg beramal sebanyak-banyaknya tapi juga beramal dg sebenar-benarnya. Allahu a’alam Bishowab.

Robbana Taqobbal Minna.
Ya Alloh terimalah dari kami (amalan kami), aamiin.

Semoga Bermanfaat.
:)❤👍

Kiriman dari : Adibatul Hafidhoh

Sumber : broadcast line