NABI MUSA & WANITA MANDUL

Diriwayatkan ada seorang wanita datang kpd Nabi Musa. Ia berkata: 

_”Wahai Nabi, sampaikan kpd Allah bahwa aku menginginkan anak.”_
Maka nabi Musa bermunajat kepada Allah memintakan hal tsb.
Tapi Allah menjawab, 
_”Hai Musa, Aku telah menentukannya sbg wanita yg ‘Aqiim (mandul). “_
Maka Nabi Musa menyampaikan hal itu kpd si wanita.
Selang bbrp waktu kemudian, nabi Musa mendapati wanita itu menggendong anak kecil.

Nabi Musa pun bertanya, 

_”Anak siapakah itu?”_
_”Ini Anakku..,”_ jawab si wanita..
_”Bukankah Allah telah menaqdirkanmu sbg wanita mandul..??”_
_”Benar, tetapi aku TETAP meminta kpd Nya & dengan menyebut namaNya yang Ar-Rahman Ar-Rahiim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)..”_
Nabi Musa pun bertanya kembali kpd Allah, 
_”Bukankah telah Engkau telah taqdirkan wanita itu sbg wanita yg mandul…  Wahai Allah?”_
_”Benar, tetapi setiap kali ia meminta & kutentukan mandul, Ia memanggilKU; “Yaa Arhamar – Raahimiin” (wahai Dzat yg Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).., terus menerus dan terus menerus dg tulus dan ikhlas.._
_Maka Kuberikan apa yg ia minta, Sebab Kasih Sayang-Ku melebihi ketentuan-KU..”_
_SUBHANALLAH…_
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, dari hadist Tsauban:
_”Tidak ada yang dapat mencegah takdir kecuali do’a, tdk ada yang dapat memberi tambahan umur kecuali kebaikan, Dan seseorang benar² dihalangi dari rizki disebabkan oleh dosa yang diperbuatnya.”_ (HR. Ibnu Majah)
*****
Saudaraku… 

Tetaplah berusaha atas semua keinginanmu dan janganlah putus doamu hingga suatu saat Allah mengabulkan keinginanmu dg kasih sayang Nya… 
Ingatlah selalu Allah dalam keadaan susah maupun senang. 

Dalam keadaan miskin maupun kaya. 

Dalam keadaan sakit maupun sehat. 

Dalam keadaan sempit maupun lapang. 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تَعَرَّفْ إِلَي اللهِ فِى الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِى الشِّدَّةِ

_“Kenali (ingat) lah Allah di waktu lapang, niscaya Allah akan mengenali (mengingat) mu ketika susah.”_ [HR. Hakim]
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita rezeki yang penuh berkah yang bisa semakin mendekatkan diri kepada-Nya.
Selamat menjemput rezeki, saudariku tercinta.. 

:)❤💕
Sumber : broadcast wa

Burung Pembawa Air

Nun di satu masa, saat Nabi Ibrahim sedang dibakar Raja Namrudz dan kaumnya, ada seekor burung yang menyaksikan pembakaran itu. Burung itu terbang ke sana ke mari, mencari sesuatu. Ia lalu membawa air dengan menggunakan paruh kecilnya. Burung itu melepaskan air itu ke dalam kobaran api yang menyelimuti Nabi Ibrahim. Begitu terus. Dia menjauh mencari air, membawa air dengan paruh kecilnya, dan menjatuhkan air ke api sampai Allah menyelamatkan Nabi Ibrahim.

Makhluk Allah yang lain heran dengan perbuatan burung ini. Mereka bertanya padanya, mengapa bersusah-susah menjemput air yang jelas tidak akan mungkin memadamkan kobaran api itu?

Burung itu menjawab, “ Walaupun aku tahu aku tidak akan mampu memadamkan api  itu, aku harus menegakkan kebenaran sekuat tenagaku. Allah tidak akan menanyakan apakah aku berhasil memadamkan api itu atau tidak. Allah akan menanyakan apa yang aku lakukan saat melihat kezaliman di depan mataku.”

Sumber : broadcast wa

Haaruuna Akhii

———————————–
Haaruuna Akhii (QS 20:30)
———————————–

Amunisi apa yang pertama kali diminta Musa saat diberi tugas maha berat menda’wahi ayah angkatnya sendiri yang durjana level 4?

Satu set alusista? Modal bermilyar? Satu peleton pasukan invanteri? Satu korps kavaleri?

Tongkat mukjizat? Tidak, tongkat itu Allah yang beri tanpa Musa minta.

Tetapi, Musa minta Harun agar membersamainya. Sebab Musa tahu bahwa jalan didepan akan penuh liku tanjak.

Apakah mereka selalu rukun canda tawa? Tidak juga. Bahkan pernah Musa saking kesalnya ia pada Harun, hampir meninjunya. Saat ia titipkan kaum israil pada Harun, Harun gagal laksanakan tugas. (QS 20: 92-94)

. . . . .

Kita, tidak ada yang sekuat Musa. Tetapi Firaun presiden dzalim, Korun kapitalis serakah, Hamman pejabat busuk, dan Samiri kyai ilmuan sesat telah terkloning sedemikian jumlahnya. Maka kita lebih butuh bersama dibanding butuhnya Musa pada Harun. Itulah ukhuwah.

Dan hari ini kita memaknai ukhuwah sebatas makan-makan bersama canda dan tawa. Atau sebatas ucapan “barakallah” disaat ada rekan yang milad, wisuda atau menggenap.

Sedang Harun, ia membersamai Musa bahkan saat keadaan begitu mencekam: didepan laut, dibelakang pasukan Firaun siap menjagal. Bahkan saat Musa marah sekalipun. Mereka tetap bersama perjuangkan kebenaran.

Harun mengajarkan kita bahwa ukhuwah adalah bersama dalam cahaya apapun kondisinya. Bukan sama-sama gembira dalam canda tawa.

—Ust. Jumadil Muhammad —