Pengobatan Thibbun Nabawi sebagai Pondasi Pengobatan Islami

*D e f i n i s i  :*
Pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak dikenal istilah Thibbun Nabawi, baru sekitar abad ke-13 M para dokter muslim menyebut pengobatan medis ala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini dengan istilah Thibbun Nabawi.
Thibbun Nabawi dianggap sebagai rujukan ilmu-ilmu kedokteran yang berada dalam bingkai keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga terjaga dari kesyirikan, takhayul dan khurafat.
Terdapat beberapa pengertian mengenai Thibbun Nabawi yang telah didefinisikan oleh ulama di antaranya : [1]
_• “Segala sesuatu yang disebutkan oleh Al-Quran dan Al-Hadits yang shahih yang berkaitan dengan kedokteran baik berupa pencegahan (penyakit) atau pengobatan.”_
_• “Petunjuk Rasulullah dalam kedokteran yang dia berobat dengannya atau untuk mengobati orang lain.”_
_• “Metode pengobatan Rasulullah yang dia ucapkan, dia tetapkan (akui), dia amalkan, merupakan pengobatan yang pasti (bukan sangkaan), bisa mengobati penyakit jasad, ruh dan indera.”_
Sehingga dari ketiga penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa :
“Thibbun Nabawi adalah Segala sesuatu yang disebutkan oleh Al-Quran dan Al-Hadits yang shahih yang berkaitan dengan kedokteran baik berupa pencegahan atau pengobatan (penyakit jasad, ruh dan indera) yang diucapkan, ditetapkan (akui) secara pasti (bukan sangkaan) dan diamalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam baik untuk mengobati dirinya sendiri atau orang lain.”.
Pada umumnya, pengetahuan masyarakat terhadap Thibbun Nabawi atau pengobatan ala Rasul ini sangat rendah, bahkan seringkali dijadikan pengobatan alternatif.
Beralihnya masyarakat kepada Thibbun Nabawi lebih karena keputus-asaan penderita sakit yang tidak kunjung memperoleh kesembuhan saat berobat secara konvensional dan juga ada alasan yang bersangkutan dengan kondisi finansialnya.
Sehingga kemungkinan besar jika yang bersangkutan memiliki dana yang cukup, maka akan lebih cenderung untuk kembali lagi kepada pengobatan konvensional.
Walaupun tidak sedikit pula masyarakat yang menggunakan Thibbun Nabawi ini sebagai pengobatan utama, dengan berbagai alasan tentunya.

*Kunci Pengobatan Thibbun Nabawi.*
Pengobatan Thibbun Nabawi tidak cukup hanya dengan melakukan metode pengobatan (bekam, ruqiyah, dsb) atau dengan mengkonsumsi obat-obatan yang disunnahkan (madu, habbatus sauda, kurma, dsb).
Tetapi ada prinsip dasar yang harus dimiliki pada saat melakukan pengobatan ini. Berikut adalah kunci dalam pengobatan Thibbun Nabawi agar mendapatkan hasil (kesembuhan) yang maksimal, yaitu :
• Tawakal dan yakin dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala semua penyakit bisa disembuhkan.
• Istiqomah dalam pengobatannya.
• Diagnosa, ramuan (pemilihan obat) dan dosis yang tepat.
• Hindari berbagai pantangan yang dapat menghambat kerja obat

*Tawakal, yakin dan istiqomah.*
Keyakinan untuk diberi kesembuhan atas izin Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kunci pertama dan yang paling utama. Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Setiap penyakit ada obatnya. Maka bila obat itu mengenai penyakit akan sembuh dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim no. 5705)
Ada dua hal yang digaris bawahi dari hadits diatas, yaitu semua penyakit ada obatnya dan dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pengobatan Thibbun Nabawi bersumber dari wahyu, maka pengobatan ala Rasul ini bersifat pasti, bernuansa ilahiah, alamiah, ilmiah serta berasal dari kesempurnaan akal melalui proses berfikir. [2]
Ada pula kisah hadits mengenai pengobatan Thibbun Nabawi, yang dengan keyakinan kesembuhan atas kuasa dari Allah Subhanahu wa Ta’ala suatu penyakit dapat disembuhkan.
Dari sahabat Abu Sa‘id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu berkisah :
“Sejumlah sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pergi dalam sebuah safar (perjalanan) yang mereka tempuh, hingga mereka singgah di sebuah kampung Arab.
Mereka kemudian meminta penduduk kampung tersebut agar menjamu mereka, namun penduduk kampung itu menolak. Tak lama setelah itu, kepala suku dari kampung tersebut tersengat binatang berbisa. Penduduknya pun mengupayakan segala cara pengobatan, namun tidak sedikit pun yang memberikan manfaat untuk kesembuhan pemimpin mereka.
Sebagian mereka berkata kepada yang lain: “Seandainya kalian mendatangi rombongan yang tadi singgah di tempat kalian, mungkin saja ada di antara mereka punya obat (yang bisa menghilangkan sakit yang diderita pemimpin kita).”
Penduduk kampung itu pun mendatangi rombongan sahabat Rasulullah yang tengah beristirahat tersebut, seraya berkata:
“Wahai sekelompok orang, pemimpin kami disengat binatang berbisa. Kami telah mengupayakan berbagai cara untuk menyembuhkan sakitnya, namun tidak satu pun yang bermanfaat. Apakah salah seorang dari kalian ada yang memiliki obat?”
Salah seorang sahabat berkata: “Iya, demi Allah, aku bisa meruqyah. Akan tetapi, demi Allah, tadi kami minta dijamu namun kalian enggan untuk menjamu kami. Maka aku tidak akan melakukan ruqyah untuk kalian hingga kalian bersedia memberikan imbalan kepada kami.”
Mereka pun bersepakat untuk memberikan sekawanan kambing sebagai upah dari ruqyah yang akan dilakukan.
Sahabat itu pun pergi untuk meruqyah pemimpin kampung tersebut. Mulailah ia meniup disertai sedikit meludah dan membaca: “Alhamdulillah rabbil ‘alamin” (Surah Al-Fatihah). Sampai akhirnya pemimpin tersebut seakan-akan terlepas dari ikatan yang mengekangnya. Ia pun pergi berjalan, tidak ada lagi rasa sakit (yang membuatnya membolak-balikkan tubuhnya di tempat tidur).
Penduduk kampung itu lalu memberikan imbalan sebagaimana telah disepakati sebelumnya. Sebagian sahabat berkata: “Bagilah kambing itu.” Namun sahabat yang meruqyah berkata: “Jangan kita lakukan hal itu, sampai kita menghadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu kita ceritakan kejadiannya, dan kita tunggu apa yang beliau perintahkan.”
Mereka pun menghadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu mengisahkan apa yang telah terjadi. Beliau bertanya kepada sahabat yang melakukan ruqyah: “Dari mana engkau tahu bahwa Al-Fatihah itu bisa dibaca untuk meruqyah? Kalian benar, bagilah kambing itu dan berikanlah bagian untukku bersama kalian.”
Hadits di atas diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam kitab Shahih-nya no. 5749, kitab Ath-Thibb, bab An-Nafats fir Ruqyah. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya no. 5697 kitab As-Salam, bab Jawazu Akhdzil Ujrah ‘alar Ruqyah.
Beberapa hikmah yang dapat kita ambil dari hadits Abu Sa‘id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu diatas adalah :
Salah satu fadhilah Surat Al-Fatihah adalah jika dibacakan kepada orang yang sakit (disengat binatang berbisa) maka akan sembuh dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.Boleh mengambil upah dari ruqyah dan untuk menunjukkan bahwa upah yang didapatkan tersebut halal dan tidak mengandung syubhat, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sengaja meminta bagian kambing tersebut agar hati para sahabatnya tenang.Seluruh kambing itu sebenarnya milik orang yang meruqyah (sebagai hadiah), adapun yang lainnya tidak memiliki hak, namun dibagikannya kepada teman-temannya karena kedermawanan dan kebaikan.
Dari kisah hadits diatas kita juga bisa menarik hikmah bahwa unsur keimanan dan keyakinan dari orang yang mengobati dan atau dari orang yang diobati haruslah kuat. 

Keduanya harus yakin bahwa kesembuhan itu mutlak berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Jika pengobatan Nabi diibaratkan sebagai pedang tajam yang digunakan pada saat berperang, maka pedang (Thibbun Nabawi) tersebut jika digunakan oleh tangan yang kuat dan terlatih (keimanan dan keyakinan). Maka akan menjadi senjata (obat) yang sangat mematikan bagi lawan (penyakit).
Sebaliknya jika pedang tajam tersebut digunakan oleh tangan yang kurang terlatih, maka tidak akan mematikan (tidak bisa menyembuhkan).
Pengobatan Thibbun Nabawi harus dilakukan secara konsisten dan dengan diagnosa dan dosis yang tepat. Tidak cukup dengan hanya cukup sekali saja, karena proses penyembuhan terkadang tidak terjadi dalam satu malam.
Namun dengan kadar keimanan dan keyakinan yang tinggi semua itu BISA terjadi..

*Diperlukan penelitian secara medis dan penjelasan ulama.*
Dalam prakteknya, pengobatan Thibbun Nabawi seringkali menjadi salah kaprah. Hal ini dikarenakan kurangnya penjelasan yang komprehensif terhadap fungsi dan manfaat suatu metode pengobatan Thibbun Nabawi.
Salah satu contoh korelasi harus adanya penelitian medis dan penjelasan ulama yaitu bisa dilihat pada hadits mengenai khasiat habbatus sauda dan hadits mengunakan air sebagai pereda panas demam. Haditsnya adalah sebagai berikut..
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Sesungguhnya habbatus sauda ini merupakan obat dari semua penyakit, kecuali dari penyakit as-saam”.
Aku (yakni`Aisyah radhiallahu ‘anha) bertanya: “Apakah as-saam itu?”
Beliau menjawab: “Kematian.” (HR. Al-Bukhari no. 5687 dan Muslim no. 5727)
Jika kita serta merta menelan bulat-bulat hadits diatas maka manfaat dari habbatus sauda jika langsung dikonsumsi mentah-mentah kemungkinan tidak akan terasa manfaatnya, dan malah akan berbahaya bagi tubuh kita.
Karena habbatus sauda juga mengandung zat kimia aktif seperti :

thymoquinone (TQ), dithymouinone (DTQ), thymohydroquimone (THQ) dan thymol (THY)
Zat kimia aktif diatas bisa lebih berbahaya jika mencapai dosis tertentu.
Kita percaya bahwa habbatus sauda adalah obat segala penyakit, tetapi orang yang meramu dan melakukan pengobatannya juga harus orang yang ahli serta memiliki pengalaman.
Begitu juga hadits mengenai air sebagai pereda panas demam yang bisa salah kaprah jika tidak dikaji dan dijelaskan oleh para penafsir hadits.
Hadis riwayat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu
Dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda : “Panas demam itu berasal dari didihan api neraka Jahanam. Karena itu dinginkanlah derajat panasnya dengan air.” (HR. Muslim No.4093)
Jika tidak ditafsir dan dijelaskan oleh penafsir hadits, maka kemungkinan besar orang yang demam malah akan bertambah parah jika menggunakan air sebagai pereda demam.
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullahu, ulama sekaligus seorang dokter dari abad ke 13 menjelaskan hadits tersebut diatas dalam kitabnya.
“Hadits ini menimbulkan banyak masalah bagi dokter yang bodoh, yang memandangnya sabagai peniadaan pengobatan bagi penyakit demam dan pencegahannya.
Kami akan menjelaskan -dengan daya dan kekuatan Allah- segi dan maknanya. Maka kami katakan:
Seruan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ada dua macam : yang umum bagi penduduk bumi dan yang khusus bagi sebagian mereka.
Yang pertama misalnya seruan beliau pada umumnya.
Dan yang kedua seperti ucapan beliau : Janganlah kamu menghadap kiblat dengan tahi dan air kencing. Dan jangan pula kamu membelakanginya; akan tetapi menghadaplah ke timur atau ke barat.
Ini bukanlah seruan kepada penduduk timur atau penduduk barat, juga bukan penduduk Irak. Tetapi ia adalah seruan kepada pendudukk Madinah dan kawasan yang serupa dengannya seperti syiria dan yang lain. Juga ucapan baliau : Apa yang ada diantara timur dan barat adalah kiblat.
Apabila yang demikian diketahui, maka seruan beliau didalam hadits ini adalah khusus bagi penduduk Hijaz dan siapa yang ada di sekitar mereka, sebab kebanyakan demam yang menyerang mereka dari jenis demam matahari dan aksidental yang terjadi karena terik sinar matahari.
Dan ini dapat diatasi dengan air yang dingin, baik minum atau pun mandi.” [Tibbun Nabawi hal 20, maktabah Ats-Tsaqafiy, Koiro, Tahqiq Dr. Hamid Muhammad Ath-Thohir]
Kasus seperti hadits diatas jika dilihat dari sisi medis/kedokteran dan penjelasan dari ulama, maka bisa digambarkan bahwa panas demam yang dimaksud adalah sunburn atau terbakar sinar matahari.
*Adapun gejala orang yang mengalami sunburn adalah sebagai berikut :*
• Kulit menjadi kemerahan-merahan (merah jambu) dan terasa hangat atau panas jika disentuh.
• Rasa nyeri dan gatal.
• Munculnya lepuhan kecil yang bisa pecah- Sakit kepala, panas demam, menggigil dan kelelahan/lemas jika kondisi sudah parah

Tanda dan gejala sunburn biasanya akan muncul dalam beberapa jam setelah kulit terkena paparan sinar matahari. Mungkin diperlukan waktu satu atau beberapa hari untuk mengetahui tingkat sengatan matahari tersebut.
Dalam beberapa hari, tubuh mulai menyembuhkan dirinya sendiri dengan “mengelupas” lapisan atas kulit yang rusak. Setelah mengelupas, kulit akan memiliki warna dan pola yang tidak teratur (sementara).
Jika merujuk kepada hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan cara pengobatan/perawatan sunburn yang cepat, praktis, mudah dan murah sesuai sunnah bisa dengan cara :
Cobalah untuk mandi, atau berteduh ditempat yang dingin dan lembab. Cuci dengan air dingin pada bagian yang terbakar.Dengan membenamkan handuk dalam air dingin. Setelah itu, peras handuk dan letakkan di daerah yang terbakar. Kemudian duduk atau berbaring di depan kipas angin atau pendingin ruangan.
Air dingin tidak hanya terasa menyegarkan, tetapi juga penting untuk menghidrasi kulit dan mencegah dehidrasi. Tubuh biasanya kehilangan cairan melalui kulit karena sengatan matahari.
Kiranya jelas bahwa pengobatan ala Rasul harus berjalan bersama-sama antara ilmu dan iman. Dengan begitu hasil yang diperoleh akan lebih maksimal dalam proses penyembuhannya serta menjadi bermanfaat untuk kehidupan yang lebih baik.
“Iman tanpa ilmu bagaikan lentera di tangan bayi. Namun ilmu tanpa iman, bagaikan lentera di tangan pencuri – Buya Hamka”
Wallahu a’lam bish showaab

Semoga bermanfaat
_Footnote:_

[1] wikipedia

[2] eramuslim.com

———————————————
Sumber : WA

Advertisements

Self-healing…

​Kiriman dari sahabat:

*Duowoo…. semoga bermanfaat untuk kesehatan* 
Kami sedang antri periksa kesehatan. Dokter yang kami kunjungi ini termasuk dokter sepuh –berusia sekitar tujuh puluhan- spesialis penyakit “Silakan duduk,” sambut dr.Paulus. 

Aku duduk di depan meja kerjanya, mengamati pria sepuh berkacamata ini yang sedang sibuk menulis identitasku di kartu pasien.
“Apa yang dirasakan, Mas?”
Aku pun bercerita tentang apa yang kualami sejak 2013 hingga saat ini. Mulai dari awal merasakan sakit maag, peristiwa-peristiwa kram perut, ambruk berkali-kali, gejala dan vonis tipes, pengalaman opnam dan endoskopi, derita GERD, hingga tentang radang duodenum dan praktek tata pola makan Food Combining yang kulakoni.
“Kalau kram perutnya sudah enggak pernah lagi, Pak,” ungkapku, “Tapi sensasi panas di dada ini masih kerasa, panik juga cemas, mules, mual. Kalau telat makan, maag saya kambuh. Apalagi setelah beberapa bulan tata pola makan saya amburadul lagi.”
“Tapi buat puasa kuat ya?”
“Kuat, Pak.”
“Orang kalau kuat puasa, harusnya nggak bisa kena maag!”
Aku terbengong, menunggu penjelasan.
“Asam lambung itu,” terang Pak Paulus, “Diaktifkan oleh instruksi otak kita. Kalau otak kita bisa mengendalikan persepsi, maka asam lambung itu akan nurut sendiri. Dan itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang puasa.”
“Maksudnya, Pak?”
“Orang puasa ‘kan malamnya wajib niat to?”
“Njih, Pak.”
“Nah, niat itulah yang kemudian menjadi kontrol otak atas asam lambung. Ketika situ sudah bertekad kuat besok mau puasa, besok nggak makan sejak subuh sampai maghrib, itu membuat otak menginstruksikan kepada fisik biar kuat, asam lambung pun terkendali. Ya kalau sensasi lapar memang ada, namanya juga puasa. Tapi asam lambung tidak akan naik, apalagi sampai parah. Itu syaratnya kalau situ memang malamnya sudah niat mantap. Kalau cuma di mulut bilang mau puasa tapi hatinya nggak mantap, ya tetap nggak kuat. Makanya niat itu jadi kewajiban, ‘kan?”
“Iya, ya, Pak,” aku manggut-manggut nyengir.
“Manusia itu, Mas, secara ilmiah memang punya tenaga cadangan hingga enam puluh hari. Maksudnya, kalau orang sehat itu bisa tetap bertahan hidup tanpa makan dalam keadaan sadar selama dua bulan. Misalnya puasa dan buka-sahurnya cuma minum sedikit. Itu kuat. Asalkan tekadnya juga kuat.”
Aku melongo lagi.
“Makanya, dahulu raja-raja Jawa itu sebelum jadi raja, mereka tirakat dulu. Misalnya puasa empat puluh hari. Bukanya cuma minum air kali. Itu jaman dulu ya, waktu kalinya masih bersih. Hahaha,” ia tertawa ringan, menambah rona wajahnya yang memang kelihatan masih segar meski keriput penanda usia.
Kemudian ia mengambil sejilid buku di rak sebelah kanan meja kerjanya. Ya, ruang praktek dokter dengan rak buku. Keren sekali. Aku lupa judul dan penulisnya. Ia langsung membuka satu halaman dan menunjukiku beberapa baris kalimat yang sudah distabilo hijau.
“Coba baca, Mas: ‘mengatakan adalah mengundang, memikirkan adalah mengundang, meyakini adalah mengundang’. Jadi kalau situ memikirkan; ‘ah, kalau telat makan nanti asam lambung saya naik’, apalagi berulang-ulang mengatakan dan meyakininya, ya situ berarti mengundang penyakit itu. Maka benar kata orang-orang itu bahwa perkataan bisa jadi doa. Nabi Musa itu, kalau kerasa sakit, langsung mensugesti diri; ah sembuh. Ya sembuh. Orang-orang debus itu nggak merasa sakit saat diiris-iris kan karena sudah bisa mengendalikan pikirannya. Einstein yang nemuin bom atom itu konon cuma lima persen pendayagunaan otaknya. Jadi potensi otak itu luar biasa,” papar Pak Paulus.
“Jadi kalau jadwal makan sembarangan berarti sebenarnya nggak apa-apa ya, Pak?”
“Nah, itu lain lagi. Makan harus tetap teratur, ajeg, konsisten. Itu agar menjaga aktivitas asam lambung juga. Misalnya situ makan tiga kali sehari, maka jarak antara sarapan dan makan siang buatla sama dengan jarak antara makan siang dan makan malam. Misalnya, sarapan jam enam pagi, makan siang jam dua belas siang, makan malam jam enam petang. Kalau siang, misalnya jam sebelas situ rasanya nggak sempat makan siang jam dua belas, ya niatkan saja puasa sampai sore. Jangan mengundur makan siang ke jam dua misalnya, ganti aja dengan minum air putih yang banyak. Dengan pola yang teratur, maka organ di dalam tubuh pun kerjanya teratur. Nah, pola teratur itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang yang puasa dengan waktu buka dan sahurnya.”
“Ooo, gitu ya Pak,” sahutku baru menyadari.
“Tapi ya itu tadi. Yang lebih penting adalah pikiran situ, yakin nggak apa-apa, yakin sembuh. Allah sudah menciptakan tubu kita untuk menyembuhkan diri sendiri, ada mekanismenya, ada enzim yang bekerja di dalam tubuh untuk penyembuhan diri. Dan itu bisa diaktifkan secara optimal kalau pikiran kita optimis. Kalau situ cemas, takut, kuatir, justru imunitas situ turun dan rentan sakit juga.”
Pak Paulus mengambil beberapa jilid buku lagi, tentang ‘enzim kebahagiaan’ endorphin, tentang enzim peremajaan, dan beberapa tema psiko-medis lain tulisan dokter-dokter Jepang dan Mesir.
“Situ juga berkali-kali divonis tipes ya?”
“Iya, Pak.”
“Itu salah kaprah.”
“Maksudnya?”
“Sekali orang kena bakteri thypoid penyebab tipes, maka antibodi terhadap bakteri itu bisa bertahan dua tahun. Sehingga selama dua tahun itu mestinya orang tersebut nggak kena tipes lagi. Bagi orang yang fisiknya kuat, bisa sampai lima tahun. Walaupun memang dalam tes widal hasilnya positif, tapi itu bukan tipes. Jadi selama ini banyak yang salah kaprah, setahun sampai tipes dua kali, apalagi sampai opnam. Itu biar rumah sakitnya penuh saja. Kemungkinan hanya demam biasa.”
“Haah?”
“Iya Mas. Kalaupun tipes, nggak perlu dirawat di rumah sakit sebenarnya. Asalkan dia masih bisa minum, cukup istirahat di rumah dan minum obat tipes. Sembuh sudah. Dulu, pernah di RS Sardjito, saya anjurkan agar belasan pasien tipes yang nggak mampu, nggak punya asuransi, rawat jalan saja. Yang penting tetep konsumsi obat dari saya, minum yang banyak, dan tiap hari harus cek ke rumah sakit, biayanya gratis. Mereka nurut. Itu dalam waktu maksimal empat hari sudah pada sembuh. Sedangkan pasien yang dirawat inap, minimal baru bisa pulang setelah satu minggu, itupun masih lemas.”
“Tapi ‘kan pasien harus bedrest, Pak?”
“Ya ‘kan bisa di rumah.”
“Tapi kalau nggak pakai infus ‘kan lemes terus Pak?”
“Nah situ nggak yakin sih. Saya yakinkan pasien bahwa mereka bisa sembuh. Asalkan mau nurut dan berusaha seperti yang saya sarankan itu. Lagi-lagi saya bilang, kekuatan keyakinan itu luar biasa lho, Mas.”
Dahiku berkernyit. Menunggu lanjutan cerita.
“Dulu,” lanjut Pak Paulus, “Ada seorang wanita kena kanker payudara. Sebelah kanannya diangkat, dioperasi di Sardjito. 

Nggak lama, ternyata payudara kirinya kena juga. Karena nggak segera lapor dan dapat penanganan, kankernya merembet ke paru-paru dan jantung. Medis di Sardjito angkat tangan.
Dia divonis punya harapan hidup maksimal hanya empat bulan.”
“Lalu, Pak?” tanyaku antusias.
“Lalu dia kesini ketemu saya. Bukan minta obat atau apa. 

Dia cuma nanya; ‘Pak Paulus, saya sudah divonis maksimal empat bulan.
Kira-kira bisa nggak kalau diundur jadi enam bulan?’
Saya heran saat itu, saya tanya kenapa.
Dia bilang bahwa enam bulan lagi anak bungsunya mau nikah, jadi pengen ‘menangi’ momen itu.”
“Waah.. Lalu, Pak?”
“Ya saya jelaskan apa adanya. Bahwa vonis medis itu nggak seratus persen, walaupun prosentasenya sampai sembilan puluh sembilan persen, 

tetap masih ada satu persen berupa kepasrahan kepada Tuhan yang bisa mengalahkan vonis medis sekalipun. 

Maka saya bilang; sudah Bu, situ nggak usah mikir bakal mati empat bulan lagi. 

Justru situ harus siap mental, bahwa hari ini atau besok situ siap mati. 

Kapanpun mati, siap! 

Begitu, situ pasrah kepada Tuhan, siap menghadap Tuhan kapanpun. Tapi harus tetap berusaha bertahan hidup.”
Aku tambah melongo. Tak menyangka ada nasehat macam itu. 

Kukira ia akan memotivasi si ibu agar semangat untuk sembuh, malah disuruh siap mati kapanpun. 

O iya, mules mual dan berbagai sensasi ketidaknyamanansudah tak kurasakan lagi.
“Dia mau nurut. Untuk menyiapkan mental siap mati kapanpun itu dia butuh waktu satu bulan. 

Dia bilang sudah mantap, pasrah kepada Tuhan bahwa dia siap. 

Dia nggak lagi mengkhawatirkan penyakit itu, sudah sangat enjoy. 

Nah, saat itu saya cuma kasih satu macam obat. Itupun hanya obat anti mual biar dia tetap bisa makan dan punya energi untuk melawan kankernya.
Setelah hampir empat bulan, dia check-up lagi ke Sardjito dan di sana dokter yang meriksa geleng-geleng. Kankernya sudah berangsur-angsur hilang!”
“Orangnya masih hidup, Pak?”
“Masih. Dan itu kejadian empat belas tahun lalu.”
“Wah, wah, wah..”
“Kejadian itu juga yang menjadikan saya yakin ketika operasi jantung dulu.”
“Lhoh, njenengan pernah Pak?”
“Iya. 

Dulu saya operasi bedah jantung di Jakarta. Pembuluhnya sudah rusak. Saya ditawari pasang ring.
Saya nggak mau. Akhirnya diambillah pembuluh dari kaki untuk dipasang di jantung.
Saat itu saya yakin betul sembuh cepat. Maka dalam waktu empat hari pasca operasi, saya sudah balik ke Jogja, bahkan dari bandara ke sini saya nyetir sendiri. 

Padahal umumnya minimal dua minggu baru bisa pulang. 

Orang yang masuk operasi yang sama bareng saya baru bisa pulang setelah dua bulan.”
Pak Paulus mengisahkan pengalamannya ini dengan mata berbinar. Semangatnya meluap-luap hingga menular ke pasiennya ini. Jujur saja, penjelasan yang ia paparkan meningkatkan harapan sembuhku dengan begitu drastis.
Persis ketika dua tahun lalu pada saat ngobrol dengan Bu Anung tentang pola makan dan kesehatan. Semangat menjadi kembali segar!
“Tapi ya nggak cuma pasrah terus nggak mau usaha. 

Saya juga punya kenalan dokter,” lanjutnya, 

“Dulu tugas di Bethesda, aslinya Jakarta, lalu pindah mukim di Tennessee, Amerika.
Di sana dia kena kanker stadium empat. Setelah divonis mati dua bulan lagi, dia akhirnya pasrah dan pasang mental siap mati kapanpun.
Hingga suatu hari dia jalan-jalan ke perpustakaan, dia baca-baca buku tentang Afrika. 

Lalu muncul rasa penasaran, kira-kira gimana kasus kanker di Afrika. 

Dia cari-cari referensi tentang itu, nggak ketemu. Akhirnya dia hubungi kawannya, seorang dokter di Afrika Tengah.
Kawannya itu nggak bisa jawab. 

Lalu dihubungkan langsung ke kementerian kesehatan sana. Dari kementerian, dia dapat jawaban mengherankan, bahwa di sana nggak ada kasus kanker. 

Nah dia pun kaget, tambah penasaran.”
Pak Paulus jeda sejenak. Aku masih menatapnya penuh penasaran juga,

 “Lanjut, Pak,” benakku.
“Beberapa hari kemudian dia berangkat ke Afrika Tengah. 

Di sana dia meneliti kebiasaan hidup orang-orang pribumi. Apa yang dia temukan? 

Orang-orang di sana makannya sangat sehat. 

Yaitu sayur-sayuran mentah, dilalap, nggak dimasak kayak kita.
Sepiring porsi makan itu tiga perempatnya sayuran, sisanya yang seperempat untuk menu karbohidrat. Selain itu, sayur yang dimakan ditanam dengan media yang organik. Pupuknya organik pake kotoran hewan dan sisa-sisa tumbuhan.
Jadi ya betul-betul sehat. 

Nggak kayak kita, sudah pupuknya pakai yang berbahaya, eh pakai dimasak pula. Serba salah kita.
Bahkan beras merah dan hitam yang sehat-sehat itu, kita nggak mau makan. 

Malah kita jadikan pakan burung, ya jadinya burung itu yang sehat, kitanya sakit-sakitan.”
Keterangan ini mengingatkanku pada obrolan dengan Bu Anung tentang sayur mayur, menu makanan serasi, hingga beras sehat. Pas sekali.
“Nah dia yang awalnya hanya ingin tahu, akhirnya ikut-ikutan.
Dia tinggal di sana selama tiga mingguan dan menalani pola makan seperti orang-orang Afrika itu.”
“Hasilnya, Pak?”
“Setelah tiga minggu, dia kembali ke Tennessee.
Dia mulai menanam sayur mayur di lahan sempit dengan cara alami. 

Lalu beberapa bulan kemudian dia check-up medis lagi untuk periksa kankernya,”
“Sembuh, Pak?”
“Ya! Pemeriksaan menunjukkan kankernya hilang. 

Kondisi fisiknya berangsur-angsur membaik. Ini buki bahwa keyakinan yang kuat, kepasrahan kepada Tuhan, itu energi yang luar biasa.
Apalagi ditambah dengan usaha yang logis dan sesuai dengan fitrah tubuh.
Makanya situ nggak usah cemas, nggak usah takut..”
Takjub, tentu saja.
Pada momen ini Pak Paulus menghujaniku dengan pengalaman-pengalamannya di dunia kedokteran, tentang kisah-kisah para pasien yang punya optimisme dan pasien yang pesimis.
Aku jadi teringat kisah serupa yang menimpa alumni Madrasah Huffadh Al-Munawwir, pesantren tempatku belajar saat ini.
Singkatnya, santri ini mengidap tumor ganas yang bisa berpindah-pindah benjolannya.
Ia divonis dokter hanya mampu bertahan hidup dua bulan. Terkejut atas vonis ini, ia misuh-misuh di depan dokter saat itu. 

Namun pada akhirnya ia mampu menerima kenyataan itu.
Ia pun bertekad menyongsong maut dengan percaya diri dan ibadah. Ia sowan ke Romo Kiai, menyampaikan maksudnya itu.
Kemudian oleh Romo Kiai, santri ini diijazahi (diberi rekomendasi amalan)

Riyadhoh Qur’an, yakni amalan membaca Al-Quran tanpa henti selama empat puluh hari penuh, kecuali untuk memenuhi hajat dan kewajiban primer.
Riyadhoh pun dimulai. Ia lalui hari-hari dengan membaca Al-Quran tanpa henti.
Persis di pojokan aula Madrasah Huffadh yang sekarang. Karena merasa begitu dingin, ia jadikan karpet sebagai selimut.
Hari ke tiga puluh, ia sering muntah-muntah, keringatnya pun sudah begitu bau.
Bacin, mirip bangkai tikus,kenang narasumber yang menceritakan kisah ini padaku. Hari ke tiga puluh lima, tubuhnya sudah nampak lebih segar, dan ajaibnya; benjolan tumornya sudah hilang.
Selepas rampung riyadhoh empat puluh hari itu, dia kembali periksa ke rumah sakit di mana ia divonis mati.
Pihak rumah sakit pun heran. 

Penyakit pemuda itu sudah hilang, bersih, dan menunjukkan kondisi vital yang sangat sehat!
Aku pribadi sangat percaya bahwa gelombang yang diciptakan oleh ritual ibadah bisa mewujudkan energi positif bagi fisik.
Khususnya energi penyembuhan bagi mereka yang sakit.
Memang tidak mudah untuk sampai ke frekuensi itu, namun harus sering dilatih. Hal ini diiyakan oleh Pak Paulus.
“Untuk melatih pikiran biar bisa tenang itu cukup dengan pernapasan.
Situ tarik napas lewat hidung dalam-dalam selama lima detik, kemudian tahan selama tiga detik. Lalu hembuskan lewat mulut sampai tuntas. Lakukan tujuh kali setiap sebelum Shubuh dan sebelum Maghrib.
Itu sangat efektif. Kalau orang pencak, ditahannya bisa sampai tuuh detik. 

Tapi kalau untuk kesehatan ya cukup tiga detik saja.”
Nah, anjuran yang ini sudah kupraktekkan sejak lama. Meskipun dengan tata laksana yang sedikit berbeda.
Terutama untuk mengatasi insomnia. Memang ampuh. Yakni metode empat-tujuh-delapan.
Ketika merasa susah tidur alias insomnia, itu pengaruh pikiran yang masih terganggu berbagai hal.
Maka pikiran perlu ditenangkan, yakni dengan pernapasan. 

Tak perlu obat, bius, atau sejenisnya, murah meriah.
Pertama, tarik napas lewat hidung sampai detik ke empat, lalu tahan sampai detik ke tujuh, lalu hembuskan lewat mulut pada detik ke delapan. Ulangi sebanyak empat sampai lima kali.
Memang iya mata kita tidak langsung terpejam ngantuk, tapi pikiran menadi rileks dan beberapa menit kemudian tanpa terasa kita sudah terlelap. 

Awalnya aku juga agak ragu, tapi begitu kucoba, ternyata memang ampuh. Bahkan bagi yang mengalami insomnia sebab rindu akut sekalipun.
“Gelombang yang dikeluarkan oleh otak itu punya energi sendiri, dan itu bergantung dari seberapa yakin tekad kita dan seberapa kuat konsentrasi kita,” terangnya, 
“Jadi kalau situ sholat dua menit saja dengan khusyuk, itu sinyalnya lebih bagus ketimbang situ sholat sejam tapi pikiran situ kemana-mana, hehehe.”

Duh, terang saja aku tersindir di kalimat ini.
“Termasuk dalam hal ini adalah keampuhan sholat malam.
Sholat tahajud. Itu ketika kamu baru bangun di akhir malam, gelombang otak itu pada frekuensi Alpha. Jauh lebih kuat daripada gelombang Beta yang teradi pada waktu Isya atau Shubuh. 

Jadi ya logis saja kalau doa di saat tahajud itu begitu cepat ‘naik’ dan terkabul. Apa yang diminta, itulah yang diundang. 

Ketika tekad situ begitu kuat, ditambah lagi gelombang otak yang lagi kuat-kuatnya, maka sangat besar potensi terwujud doa-doa situ.”
Tak kusangka Pak Paulus bakal menyinggung perihal sholat segala.  Aku pun ternganga. Ia menunjukkan sampul buku tentang ‘enzim panjang umur’.
“Tubuh kita ini, Mas, diberi kemampuan oleh Allah untuk meregenerasi sel-sel yang rusak dengan bantuan enzim tertentu, populer disebut dengan enzim panjang umur.  Secara berkala sel-sel baru terbentuk, dan yang lama dibuang. 

Ketika pikiran kita positif untuk sembuh, maka yang dibuang pun sel-sel yang terkena penyakit. 
Menurut penelitian, enzim ini bisa bekerja dengan baik bagi mereka yang sering merasakan lapar dalam tiga sampai empat hari sekali.”
Pak Paulus menatapku, seakan mengharapkan agar aku menyimpulkan sendiri.
“Puasa?”

“Ya!”

“Senin-Kamis?”
“Tepat sekali! Ketika puasa itu regenerasi sel berlangsung dengan optimal.
Makanya orang puasa sebulan itu juga harusnya bisa jadi detoksifikasi yang ampuh terhadap berbagai penyakit.”
Lagi-lagi,aku manggut-manggut.
Tak asing dengan teori ini.
“Pokoknya situ harus merangsang tubuh agar bisa menyembuhkan diri sendiri.
Jangan ketergantungan dengan obat. Suplemen yang nggak perlu-perlu amat,nggak usahlah. Minum yang banyak, sehari dua liter, bisa lebih kalau situ banyak berkeringat, ya tergantung kebutuhan.
Tertawalah yang lepas, bergembira, nonton film lucu tiap hari juga bisa merangsang produksi endorphin, hormon kebahagiaan. Itu akan sangat mempercepat kesembuhan.
Penyakit apapun itu! Situ punya radang usus kalau cemas dan khawatir terus ya susah sembuhnya.
Termasuk asam lambung yang sering kerasa panas di dada itu.”
Terus kusimak baik-baik anjurannya sambil mengelus perut yang tak lagi terasa begah. Aneh.
“Tentu saja seperti yang saya sarankan, situ harus teratur makan, biar asam lambung bisa teratur juga.
Bangun tidur minum air hangat dua gelas sebelum diasupi yang lain.
Ini saya kasih vitamin saja buat situ, sehari minum satu saja. Tapi ingat, yang paling utama adalah kemantapan hati, yakin, bahwa situ nggak apa-apa. Sembuh!”
Begitulah. Perkiraanku yang tadinya bakal disangoni berbagai macam jenis obat pun keliru.
Hanya dua puluh rangkai kaplet vitamin biasa, Obivit, suplemen makanan yang tak ada ?;kaitannya dengan asam lambung apalagi GERD.
Hampir satu jam kami ngobrol di ruang praktek itu, tentu saja ini pengalaman yang tak biasa. Seperti konsultasi dokter pribadi saja rasanya.
Padahal saat keluar, kulihat masih ada dua pasien lagi yang kelihatannya sudah begitu jengah menunggu.
“Yang penting pikiran situ dikendalikan, tenang dan berbahagia saja ya,” ucap Pak Paulus sambil menyalamiku ketika hendak pamit.
Dan jujur saja, aku pulang dalam keadaan bugar, sama sekali tak merasa mual, mules, dan saudara-saudaranya.
Terima kasih Pak Paulus.
Kadipiro Yogyakarta, 2016
Dari wordpress GUBUGREOT

Maaf, Dr Paulus ini non muslim, tp beliau tahu banyak hal ttg ke islaman. Luar biasa.jl.samas.. selatan pasar celep barat jalan mas….

Sumber : FB

Thawaf

​Subhanallah :.                                

Americana menulis: “Sekiranya orang2 Islam berhenti melaksanakan thawaf ataupun sholat di muka bumi ini, niscaya akan terhentilah perputaran bumi kita ini, karena rotasi dari super konduktor yang berpusat di Hajar Aswad, tidak lagi memencarkan gelombang elektromagnetik. 

Menurut hasil penelitian dari 15 Universitas menunjukkan Hajar Aswad adalah batu meteor yang mempunyai kadar logam yang sangat tinggi, yaitu 23.000 kali dari baja yang ada. Beberapa astronot yang mengangkasa melihat suatu sinar yang sangat terang memancar dari bumi dan setelah diteliti ternyata bersumber dari Bait Allah atau Ka’bah. Super konduktor itu adalah Hajar Aswad, yang berfungsi bagai mikrofon yang sedang siaran dan jaraknya mencapai ribuan mil jangkauan siarannya. 
Prof Lawrence E. Yoseph – Fl Whiple menulis: “Sungguh kita berhutang besar kpd orang Islam, karena thawaf dan sholat tepat waktu menjaga super konduktor itu. 

” Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Illaha illallah, Allahu Akbar. Betapa bergetar hati kita melihat dahsyatnya gerakan thawaf haji dan umroh.
“Subhanallah”.
Sumber : broadcast wa

Manfaat Demam Untuk Tubuh (Syariat Dan Medis)

​Jangan beri penurun panas jika demam tak tinggi, tujuan penurun panas bukan menormalkan suhu tetapi menurunkan agar anak nyaman

# Manfaat Demam Untuk Tubuh (Syariat Dan Medis)
Mungkin ada kita pernah melihat seorang ibu yang saking paniknya karena anaknya demam tinggi atau anaknya kejang karena demam, akhirnya sang ibu menyalahkan demam bahkan ada juga yang mencela
“kok demamnya naik terus sih, padahal sudah diberi obat”
Atau
“dasar demam ini! Ga tau apa kita susah ni.”
Ternyata demam yang dicela atau sangat tidak diharapkan, ada manfatnya bagik bagi dunia maupun akhirat. berikut sedikit pembahasanya.
Sebagian orang yang tidak sabar, ketika ditimpa musibah atau sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan hatinya maka ia mengeluh bahkan mencela. Seseorang yang sakit mungkin awalnya ia akan mengeluh, akan tetapi lama-lama ia akan mencela dan memaki.  Apalagi jika sakit tersebut disertai dengan demam yang tinggi dan sulit hilang, atau hilang-muncul.
Terdapat larangan dalam syariat agar kita tidak mencela demam. dari Jabir radiyallahu ‘anhu,
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ (أَوْ: أُمِّ الْمُسَيَّبِ)، فَقَالَ: مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ (أَوْ: يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ) تُزَفْزِفِيْنَ؟ قَالَتْ: اَلْحُمَّى، لاَ بَارَكَ اللهُ فِيْهَا. فَقَالَ: لاَ تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِيْ آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ.
“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjenguk Ummu as-Saib (atau Ummu al-Musayyib), kemudian beliau bertanya, ‘Apa yang terjadi denganmu wahai Ummu al-Sa’ib (atau wahai Ummu al-Musayyib), kenapa kamu bergetar?’ Dia menjawab, ‘Sakit demam yang tidak ada keberkahan Allah padanya.’ Maka beliau bersabda, ‘Janganlah kamu mencela demam, karena ia menghilangkan dosa anak Adam, sebagaimana alat pemanas besi mampu menghilangkan karat’.“[1]
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata,
” الحمَّى ” هي السخونة ، وهي نوع من الأمراض وهي أنواع متعددة ، ولكنها تكون بقدَر الله عز وجل ، فهو الذي يقدِّرها وقوعاً ، ويرفعها سبحانه وتعالى ، وكل شيءٍ من أفعال الله فإنه لا يجوز للإنسان أن يسبَّه ؛ لأن سبَّه سبٌّ لخالقه جل وعلا ، ولهذا قال النبي صلى الله عليه وسلم : ( لا تسبوا الدهر : فإن الله هو الدهر )
 
“Demam yaitu rasa panas/hangat merupakan jenis penyakit yang sering terjadi, akan tetapi terjadi karena takdir Allah, Allah yang menakdirkannya. Segala sesuatu yang merupakan perbuatan Allah maka tidak boleh bagi manusia mencelanya karena jika mencelanya berarti mencela penciptanya. Karenanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ‘janga;ah kalian mencela waktu karena Allah adalah (pengatur dan pencipta) waktu.”[2]
 
Demikianlah secara umum sakit bisa menggugurkan dosa seseorang asalkan dia bersabar Nabishallallahu ‘alihi wa sallambersabda,
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيْبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلاَّ حَطَّ اللهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا
“Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti akan hapuskan kesalahannya, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya”[3]
 
Dan beliau shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ، وَلاَ حَزَنٍ، وَلاَ وَصَبٍ، حَتَّى الْهَمُّ يُهِمُّهُ؛ إِلاَّ يُكَفِّرُ اللهُ بِهِ عَنْهُ سِيِّئَاتِهِ
“Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau sesuatu hal yang lebih berat dari itu melainkan diangkat derajatnya dan dihapuskan dosanya karenanya.”[4]
 
bahkan bisa jadi ia tidak mempunyai dosa sama sekali, menjadi suci sebagaimana anak yang baru lahir ketika sembuh atau ketika meninggal karena penyakit tersebut.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ
“Cobaan akan selalu menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada anaknya maupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikitpun.”[5]
 
Hampir setiap manusia pernah terkena demam
Karenanya demam tidak perlu dicela karena memang sudah menjadi jatah manusia di dunia dan ternyata bermanfaat, bisa menggugurkan dosa-dosa kita.
Oleh karena itu, Ibnu Mas’udradhiallahu ‘anhu berkata,
الحمى حظ المؤمن من النار
“demam adalah bagian jatah seorang mukmin dari neraka”[6]
Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terkena demam dengan panas dua kali lipat manusia.
Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu berkata,
دخلت على النبي صلى الله عليه وسلم وهو يوعك، فوضعت يدي عليه فوجدت حره بين يدي فوق اللحاف، فقلت: يا رسول الله، ما أشدها عليك! قال: إنا كذلك يضاعف لنا البلاء ويضاعف لنا الأجر، قلت: يا رسول الله، أي الناس أشد بلاءً؟ قال: الأنبياء، قلت: يا رسول الله، ثم من؟ قال: ثم الصالحون، إن كان أحدهم ليبتلى بالفقر حتى ما يجد أحدهم إلا العباءة يحويها، وإن كان أحدهم ليفرح بالبلاء كما يفرح أحدكم بالرخاء
 
“Aku pernah mengunjungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu sedang sakit. Kemudian Aku letakkan tanganku di atas selimut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku dapati panasnya (sangat panas karena yang disentuh adalah selimutnya, bukan badannya, pent).
Aku berkata, “wahai Rasulullah, betapa beratnya demam ini!”
Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya kami para nabi, diberi ujian yang sangat berat, sehingga pahala kami dilipat gandakan.”
Abu Said pun bertanya, ‘wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab;
“Para nabi, kemudian orang shaleh. Sungguh ada diantara mereka yang diuji dengan kemiskinan, sehingga harta yang dimiliki tinggal baju yang dia gunakan. Sungguh para nabi dan orang shaleh itu, lebih bangga dengan ujian yang dideritanya, melebihi kegembiraan kalian ketika mendapat rezeki.”[7]
 
Bahakan para sahabat juga terkena demam.
Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafidzahullah berkata,
وقد أصيب الصحابة لما وصلوا المدينة بالحمى، فوعك أبو بكر و بلال ، ودخلت عائشة على أبيها فقالت: يا أبت، كيف تجدك؟ ويا بلال ، كيف تجدك؟ وكان أبو بكر إذا أخذته الحمى يقول:

كل امرئ مصبح في أهله والموت أدنى من شراك نعله
“Para Sahabat terkena demam ketika sampai di Madinah. Maka Abu Bakar dan Bilal terkena demam. Kemudian ‘Aisyah menemui mereka kemudian berkata,
“wahai ayah bagaimana keadaannmu? Wahai Bilal bagaimana keadaanmu?”
Abu Bakar ketika tertimpa demam beliau berkata,
“Setiap orang bersama keluarganya padahal kematian lebih dekat daripada tali sandalnya.”[8]
 
Manfaat demam secara medis
Ternyata demam memiliki menfaat bagi tubuh dan merupakan proses tubuh dalam adaptasi dan menyesuaikan dengan keadaan tubuh yang terkena serangan infeksi atau peradangan. Berikut ringkasan manfaat demam:
1.meningkatkan kekebalan atau imunitas alami tubuh, sehingga infeksi bisa terkendali terutama infeksi virus
2.mengurangi zat besi yang merupakan sumber makanan bagi kuman
3.meningkatkan mobilitas sel darah putih untuk melawan penyakit dan infeksi
4.demambisa menurunkan efek racun dari kuman yaitu yang disebut endoktoksin
5. dan masih banyak manfaat demam lainnya.
 
AKan tetapi demam juga perlu dikontrol dan jangan sampai terlalu lama dan berlebihan. Selebihnya bisa kontrol ke dokter untuk mengontrol demam dan memeriksakan penyebab demam.
Alhamdulillah segalanya memang ada hikmahnya dan tidaklah Allah menciptakannya dengan sia-sia.
Penyusun:   dr. Raehanul Bahraen
Artikel http://www.muslimafiyah.com
 
[1] HR. Muslim4/1993, no. 2575
[2] Syarh Riyadus shalihin 6/467-468
[3] HR. Al-Bukhari no. 5661 dan Muslim no. 651
[4] HR. Muslim no. 2572
[5] HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan lainnya, dan dinyatakan hasan shahih oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/565 no. 2399
[6] Dari Munad Ibnu Syihab dan dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari
[7] HR. al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubro (3/372) dishahihkan al-Albani
[8] Durus shautiyyah, sumber:http://islamport.com/w/amm/Web/1587/154.htm

 Manfaat Demam Untuk Tubuh (Syariat Dan Medis)

Sumber : broadcast wa

GUNUNG

Al Qur’an mengarahkan perhatian kita pada fungsi geologis penting dari gunung.

“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka…” (Al Qur’an, 21:31)
Sebagaimana terlihat, dinyatakan dalam ayat tersebut bahwa gunung-gunung berfungsi mencegah goncangan di permukaan bumi.
Kenyataan ini tidaklah diketahui oleh siapapun di masa ketika Al Qur’an diturunkan. Nyatanya, hal ini baru saja terungkap sebagai hasil penemuan geologi modern.
Menurut penemuan ini, gunung-gunung muncul sebagai hasil pergerakan dan tumbukan dari lempengan-lempengan raksasa yang membentuk kerak bumi. Ketika dua lempengan bertumbukan, lempengan yang lebih kuat menyelip di bawah lempengan yang satunya, sementara yang di atas melipat dan membentuk dataran tinggi dan gunung. Lapisan bawah bergerak di bawah permukaan dan membentuk perpanjangan yang dalam ke bawah. Ini berarti gunung mempunyai bagian yang menghujam jauh ke bawah yang tak kalah besarnya dengan yang tampak di permukaan bumi.
Dalam tulisan ilmiah, struktur gunung digambarkan sebagai berikut:
Pada bagian benua yang lebih tebal, seperti pada jajaran pegunungan, kerak bumi akan terbenam lebih dalam ke dalam lapisan magma. (General Science, Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 305)
Dalam sebuah ayat, peran gunung seperti ini diungkapkan melalui sebuah perumpamaan sebagai “pasak”:
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?” (Al Qur’an, 78:6-7)
Dengan kata lain, gunung-gunung menggenggam lempengan-lempengan kerak bumi dengan memanjang ke atas dan ke bawah permukaan bumi pada titik-titik pertemuan lempengan-lempengan ini. Dengan cara ini, mereka memancangkan kerak bumi dan mencegahnya dari terombang-ambing di atas lapisan magma atau di antara lempengan-lempengannya. Singkatnya, kita dapat menyamakan gunung dengan paku yang menjadikan lembaran-lembaran kayu tetap menyatu.
Fungsi pemancangan dari gunung dijelaskan dalam tulisan ilmiah dengan istilah “isostasi”. Isostasi bermakna sebagai berikut:
Isostasi: kesetimbangan dalam kerak bumi yang terjaga oleh aliran materi bebatuan di bawah permukaan akibat tekanan gravitasi. (Webster’s New Twentieth Century Dictionary, 2. edition “Isostasy”, New York, s. 975)
Peran penting gunung yang ditemukan oleh ilmu geologi modern dan penelitian gempa, telah dinyatakan dalam Al Qur’an berabad-abad lampau sebagai suatu bukti Hikmah Maha Agung dalam ciptaan Allah.
“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang Hb bersama mereka…” (Al Qur’an, 21:31)

http://www.keajaibanalquran.com/earth_mountains.html
Sumber : broadcast wa

Mengapa Membaca Al Qur’an Itu Penting ?

Karena menurut survey yang dilakukan oleh dr.  Al Qadhi  di Klinik Besar Florida, Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan ayat suci  al Qur’an
baik bagi  yg mengerti bahasa Arab atau tidak,  ternyata memberikan perubahan fisiologis yang sangat besar. Termasuk salah satunya menangkal berbagai macam penyakit.
Hal ini dikuatkan lagi oleh penemuan Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston.

Lalu mengapa di dalam Islam ketika kita mengaji disarankan untuk bersuara ? Minimal untuk diri sendiri alias terdengar oleh telinga kita.

Berikut penjelasan logisnya :

✅Setiap sel di dalam tubuh kita bergetar di dalam sebuah sistem yang seksama, dan perubahan sekecil apapun dalam getaran ini akan menimbulkan potensi penyakit di berbagai bagian tubuh. Nah sel2 yang rusak ini harus digetarkan kembali untuk mengembalikan keseimbangannya. Hal ini artinya harus dengan suara. Maka muncullah terapi suara. Ditemukan oleh Alfred Tomatis seorang dokter di Prancis.

Sementara Dr. Al Qadhi menemukan bahwa Membaca Al Qur’an dengan bersuara, memberikan pengaruh yg luar biasa terhadap sel2 otak untuk mengembalikan keseimbangannya.

✅Penelitian berikutnya membuktikan sel kanker dapat hancur dengan menggunakan frekuensi suara saja.
Dan kembali terbukti bahwa membaca Al Qur’an memiliki dampak hebat dlam proses penyembuhan penyakit sekaliber kanker.

✅Virus dan kuman berhenti bergetar saat dibacakan ayat suci Al Qur’an
dan disaat yang sama , sel2 sehat menjadi aktif. Mengembalikan keseimbangan program yang terganggu tadi.
Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar/penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian (QS Al Isra’ : 82).

Dan yang lebih menguatkan supaya diri ini makin getol baca Qur’an adlah karena menurut survey :
SUARA YANG PALING MEMILIKI PENGARUH KUAT TERHADAP SEL2 TUBUH ADALAH SUARA SI PEMILIK TUBUH ITU SENDIRI !
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. (QS al’araf : 55)

Mengapa sholat berjamaah lebih di anjurkan ?
Karena ada doa yg dilantunkan dengan keras sehingga terdengar oleh telinga, Dan ini bisa memgembalikan sistem yang seharian rusak.

Mengapa dalam Islam mendengarkan lagu hingar bingar tidak dianjurkan ?
Karena survey membuktikan bahwa getaran suara yg sangat keras bisa MEMBUAT TUBUH TIDAK SEIMBANG. Ingat cerita kaum Tsamud yang dibinasakan ALLAH melaui suara yg memekakkan telinga (Al Haqqah:5)

Maka kesimpulannya adalah :
1. Bacalah Al Qur’an di pagi hari dan malam hari sebelum tidur untuk mengembalikan sistem tubuh kembali normal.

2. Kurangi mendegarkan musik hingar bingar, ganti saja dgn murotal yang jelas2 memberikan efek menyembuhkan. Siapa tau kita punya potensi kena kanker, tapi karena rajin dengerin murotal, keburu hancur sebelum terdeteksi..

3. Benerin baca Qur’an , karena efek suara kita sendirilah yang paling dasyat d alam penyembuhan.

Selamat Mencoba dan semoga bermanfaat:)🙏

Sumber : broadcast wa

Air Nabeez (Infused Water Kurma)

Infuse water:
Ternyata Rasul minum infuse water..

Minumlah Air Rendaman Kurma, Inilah yang Akan Terjadi Pada Tubuh Anda

Air nabeez adalah air rendaman (infused water) kurma / kismis (raisins). Kurma atau kismis di rendam dalam air masak semalaman (dalam wadah yang bertutup) dan diminum keesokkan paginya.

Air nabeez ini merupakan kegemaran Rosululloh. Nabi merendam beberapa butir kurma atau kismis (salah satunya) di dalam air matang dalam wadah bertutup selama 12 jam. Airnya diminum & buah kurma yang sudah lembut ditelan sekali telan.

Ada beberapa hadis yang menyebutkan tentang cara membuat air nabeez ini, salah satunya riwayat dari Imam Muslim sebagai berikut :

Dari Aisyah dia berkata, “Kami biasa membuat perasan untuk Rosululloh di dalam air minum yang bertali di atasnya, kami membuat rendaman di pagi hari dan meminumnya di sore hari, atau membuat rendaman di sore hari lalu meminumnya di pagi hari.” (H.R. Muslim)

Berbicara mengenai infused water. Orang barat baru sekarang faham dan baru mempopulerkan khasiat infuse water ini. Tetapi Nabi Muhammad SAW. telah lama melakukan hal ini.

Dari segi kesehatan tubuh, buah kurma telah terbukti sebagai :
1. Pemberi & pemulih tenaga (inilah sebab mengapa kita disunahkan untuk memakan buah kurma pada saat berbuka puasa).

2. Tinggi kandungan fiber ~ menghilangkan kolestrol jahat yang terkumpul di dalam tubuh. Sangat bagus dalam menghilangkan sembelit (atau meredakan & memulihkan diri dari sembelit).

3. Pemberi zat besi yang sangat bagus.

4. Kaya akan pottassium ~ penting dalam menjaga jantung & menstabilkan tekanan darah.

Khasiat air nabeez
Air nabeez adalah minuman beralkali, yang mampu menolong membuang kelebihan asam pada perut dan memulihkan sistem pencernaan tubuh. Juga membantu badan untuk menyingkirkan toksin yang berbahaya didalam tubuh, dalam kata lain berguna sebagai detox.

Disebabkan air nabeez tinggi akan kadar fiber, ia mampu membantu proses pencernaan yang baik & meningkatkan / menajamkan fikiran agar kita tidak mudah lupa.

Cara membuat air nabeez :

Rendamlah beberapa butir kurma (sebagusnya dalam bilangan ganjil) ke dalam air masak didalam segelas air. Alangkah baiknya dibuat pada waktu sore menjelang malam, dan pastikan gelas rendaman kurma tersebut tertutup rapat. Keesokkan paginya (+ 8-12 jam setelah perendaman), air rendaman baru boleh diminum & buah kurma hasil rendaman yang telah lembut ikut dimakan.

Kurma yang baik digunakan untuk membuat air nabeez adalah kurma ajwa. Tapi kalo tidak ada kurma ajwa bisa menggunakan buah kurma yang lainnya.

Kalau ingin membuat air nabeez dengan menggunakan buah kismis pun bisa.

Caranya ambil segenggam kismis, kemudian direndam dalam segelas air. Dan dibiarkan semalaman seperti membuat air rendaman kurma.

Kalau ingin meminum air nabeez di waktu pagi hari, siapkan rendaman kurma / kismis pada sore menjelang malam. Dan kalo ingin meminum air nabeez di waktu malam, buatlah rendaman kurma / kismis di waktu pagi hari (+ 8 sampe 12 jam perendaman).

Sebaiknya,
Hanya menggunakan satu macam buah saja Kurma atau Kismis – Jangan dicampur.

Air nabeez bila tersimpan di dalam lemari es bisa bertahan 1 hingga 2 hari.Tetapi dilarang meminum air rendaman kurma / kismis yang sudah memasuki lebih dari 3 hari, karena akan terjadi proses fermentasi, yang menjadikan, air rendaman kismis / kurma tersebut menjadi arak, dan dan hukumnya haram untuk diminum.

Silahkan bagikan tips sehat ala nabi ini agar dibaca oleh saudara kita yg lain……

Sumber : broadcast wa