PUBER KE 2

​RESUME KULWAP RKI KOTA BEKASI , ahad 14 MEI 2017
Tema : PUBER KE 2, Bagaimana Pandangan syariah Islam dan cara mengatasinya untuk ketahanan keluarga
Bersama ; Ustadzah Dra Herlini Amran MA
Pengantar : 
Islam tidak mengenal puber kedua, yg ada adalah konsep Baligh. Sebagaimana tujuan penciptaan manusia adalah Beribadah kepada Allah swt, maka usia dimulainya perhitungan setiap amal, dimana manusia sudah diberikan beban syariat untuk di amalkan dalam kehidupan (mukallaf) adalah pada usia Baligh.

Selain konsep Baligh, Islam juga memberikan perhatian secara khusus usia 40 tahun (apakah diusia ini yang disebut masa puber kedua menurut konsep psikologi, wallohu a’lam) , yang jelas sebagai umat Islam cukuplah konsep Islam yg telah memberikan panduan dan arahan komplit dalam kehidupan di dunia ini wa bilkhusus kehidupan didalam rumah tangga.
Berbicara tentang ketahanan keluarga, tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi saja, ketika ada permasalahan yang terjadi antara suami istri kemudian langsung di vonis sebagai ‘mengalami puber kedua’ apalagi kebetulan pasangan tsb saat itu  berusia sekitar 40 tahunan.
Disini sy memisahkan pembahasan tentang ketahanan keluarga disatu sisi dan adakah puber kedua didalam Islam. Tema ketahanan keluarga tidak kita bahas detail, hanya sekedar bahan evaluasi saja bagi pasangan yang akan dan telah menikah untuk melihat sejauh mana kekokohan keluarga mereka dapat dipertahankan dalam kehidupan berumahtangga didunia ini, apakah pasangan mereka hanya berkeluarga di dunia saja, tidak bersama-sama di akhirat, atau mereka menginginkan pasangannya juga berkumpul bersama-sama juga di akhirat nanti.
Oleh karena itu mari di cek keluarga masing2,  apa tujuan kita berkeluarga? Keluarga seperti apa yg kita harapkan?, lantas pola hubungan seperti apa yg ingin kita lakukan, keluarga ini mau dibawa kemana?, apa hal2 yg penting bg kita sebagai sebuah keluarga, bagaimana pola komunikasi yg akan kita jalankan dlm kehidupan berkeluarga ini? Apa sebenar nya prioritas tinggi dari tujuan berkeluarga kita?
Ringkasnya klg akan kokoh bila memiliki visi dan misi hidup yg benar. Keluarga tsb memiliki komitmen keislaman yg kokoh dan persepsi yg utuh ttg rumah tangga(bhw rmh tangga punya tugas kolektif untuk merealisasikan nilai2 Islam dlm rmh tg unt kemudian di transfer kan  kepd masyarakat.   

 Secara spesifik usia 40 th disebutkan dlm al Qur’an yaitu pd QS. 46:15.

Itulah sebabnya para ulama memberikan perhatian yg besar terhadap usia 40 th.
Asy Syaukani mengatakan jika sdh masuk usia 40 th maka harus banyak berdoa seperti  dalam QS 46:15.
Dlm ‘Bahrul Maurud’ Abd Wahab bin Ahmad Asy Sya’ban menjelaskan : bila umur sdh 40 th, siap2 melipat kasur yang dan selalu ingat setiap tarik nafas, bahwa kita sedang menuju akhirat. 

Jadi usia 40 th adalah usia matang, usia dimana seseorang meningkatkan rasa syukurnya pd Allah dan ortunya, meningkatkan amal sholih nya agar dpt menjadi teladan yg baik pd anak2nya, usia yg menjadi titik tolak dan memperbarui taubat pd Allah atas dosa  kesalahan atas kufur nikmat selama ini..
*PERTANYAAN 1 :*
Bagaimana jika ada terjadi, ada seorang suami justru (seperti memanfaatkan istilah puber 40th), dgn  berprilaku atau berbicara kearah polygami.

bagaimana menyikapi nya,& menghadapi kondisi psikologi suami jg,( yg sprti nya usia 40 ada yg semakin kekanak2an, gayanya.)

kbtln ada teman akhwat suaminya yg usianya sdh 40th lbh, skrg srg membahas polygami.
_Jawab :_
di usia 40 th biasanya manusia telah mencapai puncak kehidupannya baik dr segi fisik, intelektual,  emosi dll nya, itu disatu sisi, disisi lainnya, rumah tangga yg sdh dibina bertahun2 tentu mengalami titik jenuh …Maka para ulama salafi sholih menganjurkan mereka yg berusia 40 th kurang atau lebih untuk membaca doa 46:15
رَبِّ أَوْزِعْنِى أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِى أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِى إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

  “Ya Rabbku , tunjukkanlah aku jalan untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang soleh yang engkau redhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.”(QS Al-Ahqaf: 15)
Do’a tersebut perlu dibahas bersama. Sehingga konsep syukur itu lebih didahulukan penyebutannya. Ketika orientasi bergeser, maka terbukalah pintu dunia, bukan berarti dilarang poligami. Memang ada Yg mengatakan life began at forty,

Tapi perlu diingat kematian memanggil kita kapan saja tanpa perlu tanda-tanda, Itu tergantung bagaimana menterjemahkannya, benar jika kehidupan yg dimaksud adalah upaya untuk mendekatkan diri pad Allah dengan sebenar-benarnya. Tapi bagaimana memberikan  konsep pemahaman itu kepada suami..jika suami nya lebih pandai berdalil.

Apakah yg hrs dilakukan istri..sikap atau pelayanan apa? untuk menguatkan hubungan suami istri. Biasanya suami gengsi jika diberi tahu oleh istri…

Bukan masing-masing sibuk dengan urusan nya masing-masing karena anak-anak sudah pada besar. Ketika anak-anak sudah besar, sebagai istri kita upayakan Kebersamaan dengan suami semakin ditingkatkan.

Artinya, pola komunikasi semakin intensif menjaga Ruhiyah suami sangat penting munculnya keinginan tsb krn pergaulan yang heterogen.
*PERTANYAAN 2:*
“Assalaamu’alaykum…Ustadzah saya mau nanya….

Ada seorang wanita yg bercerita bhw ia sangat mencintai suaminya tetapi di saat yg sama dia msh menyimpan rasa kpd pria di masa lalunya..

Bagaimana Islam memandang hal ini? Batasan seperti apa yg dibolehkan / dilarang?
_Jawab :_

Menyimpan rasa kepada pria diluar suaminya tsb spt apa?

Biasanya ini adalah Godaan syetan, yg tdk suka manusia harmonis dlm berubah tangga

Ada istilah tulul amal. Bahkan yg parah, saat jimak dengan suami, yg dibayangkan adalah pria masa lalunya tsb panjang angan2, maksudnya syetan membuatnya msh teringat dg masa lalu nya. Na’u zubillah. Dalam kaca mata Islam, selain krn godaan syaitan, ini bisa jg msk dlm kategori kurang beriman kepd Taqdir (salah satu dr rukun iman).

Jika iman kepada Taqdir yg telah Allah tentukan pd dirinya, maka tdk ada ruang untuk pria lain di hatinya. Jika dia teringat dg pria tersebut, cepat2 ta’awwuz
*PERTANYAAN 3 :*
“Assalamu’alaykum bu Herlini, apakah masa kecil yg kurang mendapat perhatian dan kasih sayang yg semestinya dari orang tua akan mempengaruhi kematangan seseorang di kemudian hari?seperti org yg harusnya tambah umur tambah dewasa, ini malah  kekanak2an…cuek, semaunya sndiri dan egois
_Jawab :_
Tidak selalu.

Memang pola asuh berperan sgt penting pada pertumbuhan anak. Nilai-nilai keislaman dan keimanan dpt membuat seseorang tsb menjdi matang, lebih memahami hakikat kehidupan, bahkan bertekad untuk tdk mengulangi kembali masa lalunya yg krg mendptkan kasih sayang, dia tdk ingin anaknya mengalami hal yg serupa dg dirinya. Nah pendamping hidup berperan penting dalam hal ini.
Lihatlah bagaimana sorang Muhammad saw, yatim sejak kecil, mendptkan kasih sayang istri tercinta. Mestinya hasil dari proses Tarbiyah, dpt membuat ssorg memiliki kepribadian yg matang
Peran orang terdekat (selain ortu) sgt membantu perubahan pd diri seseorang. Jd sikap krg dewasa, kekanak2an tdk bisa dijadikan pembenaran, dikarenakan kurang perhatian dr  kedua ortu.
Proses tarbiyah mampu merubah seseorang. Jika Rasulullah saw sedemikian Subhanalloh kepribadiannya dan akhlaknya, sbb Allah lgs yg mentarbiyah dirinya saw (addabani Rabbi fa ahsana ta’dibi)
*PERTANYAAN 4 :*
“Assalaamu’alaykum Ustadzah,
Dalam Islam memang tidak ada puber kedua.

Namun ada kecenderungan manusia yg enggan disebut tua yg relevan dg ketidak berdayaan.

Barangkali itu yg menyebabkan seseorang, khususnya laki2 memunculkan perilaku atau sikap tertentu dengan harapan masih dianggap “muda / mampu dan masih cukup “menarik.”
Bagaimana cara meyakinkan orang lain atau pasangan bahwa itu bukan cara yg tepat;  utk menunjukkan bahwa tua itu bukan sesuatu yg horor scr fisik maupun psikis.?
Atau menjadi tua itu sesuatu yg harus dikhawatiri sehingga harus melakukan ini dan itu yg sifatnya utk menyangkal ke *tua* an?”
Syukron….

Jazakumullah ahsanal jaza
_Jawab:_
Kembali lagi kepada masalah orientasi hidup, menarik apa yg dikatakan oleh Ibnu Abbas ra : “Barangsiapa mencapai usia 40 th dan Amal kebaikan nya tdk mantap dan tdk dapat mengalahkan amal keburukannya, maka hendaklah ia bersiap siap ke neraka
Masalahnya kita hdp di era skrg ini banyak godaan, coba cek amaliyah yaumiyah kita masih jalan kah?
Alwajibat aktsar minal auqot,  .. kewajiban lebih banyak dari waktu yg tersedia
Namun bukan berarti tidak bisa mendaptkan hidayah kan ustadzah? Atau seseorang masih mungkin berubah setelah 40 th kan?
Suami istri perlu duduk bersama dlm merumuskannya
Masalah terbesar kita adalah sulit duduk rapat bersama suami untuk merumuskan dan mengevaluasi visi misi keluarga, tapi sangat antusias rapat-rapat untuk acara yg bersifat temporer. Lebih Banyak kewajiban drpd waktu yg dimiliki .
Dan apakah mungkin itu terjadi krn menomor duakan keluarga?
Bisa saja seorang  menjadi baik setelah 40 th. Keluarga juga menjadi yang salah satu kewajiban yg harus diutamakan
*Penutup*
Bagi yg akan berusia 40 th atau sdh melewatinya , maka perbyk lah berdoa dg doa tsb 46:15, dipahami bersama dengan pasangan hidup kita, shg hari hari yg kita lewati bersama penuh dg rasa syukur pd Allah dan pd ortu, bisa mendidik anak shg menjdi solih dan muslih, berorientasi memperbanyak amal ibadah yg di ridhoi Allah, senantiasa memperbaharui tobat pd Allah atas segala dosa dan kelalaian yg pernah dilakukan, smg ketika mengakhiri hidup dpt diakhiri dg keindahan, yaitu husnul khotimah wallohu a’lam Wassalaamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh
Sumber : broadcast wa

MENGUBAH KONFLIK JADI CINTA

Materi  Seminar Pasutri
Oleh : Cahyadi Takariawan,S.Si Apt

Ahad 24 April 2017 M /27 Rojab 1438 H

Tempat : Mayang Convention Hall
🌹Menikah….tidak cukup hanya berbekal Cinta.

Menikah harus berbekal niat,motivasi yang lurus untuk Beribadah.

Bisa jadi sebelum menikah belum atau tidak ada rasa Cinta dengannya.

Namun ketika engkau sudah menikah…,engkau harus terus belajar menumbuhkan Cinta itu, hingga tidak ada alasan lagi untuk berhenti Mencintainya…

💞SubhanAlloh Indahnya…😘
🌹Ada 5 Tahap Kehidupan Pernikahan…

Tahap 1 Romantic Love

Tahap 2 Dissapointment or Distress

Tahap 3 Knowledge and Awareness

Tahap 4 Transformation

Tahap 5 Real love
🌹Tahap 1 (Darling I Love You Now)

Adalah tahapan pernikahan yg penuh dg Keromantisan Cinta, keindahan,gelora cinta yg menggebu

Semua terasa indah dan bahagia asal selalu berdua…:)😘😘

Kisaran waktunya sekitar 3-5 tahun.

Jadi ketika ada orang yg berpacaran 3 atau sampai 5 thn…begitu mereka menikah…Tahap Romantic Love nya sdh Lewaat..

Yg ada adalah tahap ke 2 dimana saling melihat Realita yg ada..saling kecewa…marah..menyalahkan…

Itulah Hikmahnya mengapa dalam Islam tdk ada Pacaran sebelum nikah…Yg ada adalah Pacaran sesudah nikah…

Supaya bisa benar” melewati tahap Romantic Love secara halal dg puas…

SubhanAlloh…💞
🌹Tahap 2 ( Ko ternyata begitu?)

Pada tahap ini suami istri mulai melihat realitas” hidup yg sesungguhnya,mulai melihat Cela pada pasangan,saling menyalahkan,marah,kecewa.

Ada kekagetan tertentu yg tdk mereka duga atau tidk mereka bayangkan sebelum pernikahan.

Kaget dg kepribadian, karakter, sifat, sikap, prilaku dan kondisi lainnya.

Ini tahapn yg menentukan…

Usahakan jangan berlama lama pada tahapan ini.

Hanya kita yg bisa mengeluarkan diri dari tahapan ini…
Contoh sederhana yg bs jadi konflik/ masalah…(saya dan suami sampai td tahan menahan tawa..lucu… karena itu dialami…)

;):):)
Seorang suami yg mempunyai kebiasaan ngorok/ mendengkur ketika tidur…di tahap 1…itu tdk menjadi masalah…malah mungkin ngoroknya suami terdengar seperti nada” atau irama Cinta…;)

Tapi ketika itu hadir ada pada tahap 2…hal sepele itu bs jd bahan pertengkaran dn jd konflik yg besar….
🌹Tahap 3 (Oh…Kamu seperti itu ya?)

Pada tahap ini mulai saling Memahami karakter dan kepribadian masing”.

Contoh kasusnya ngorok suami…sudh tdk jd masalah lagi..Sdh faham dan menerima…ya itulah keadaan suami saya….;)

Malah mungkin akan merindukan dengkuran itu di saat suami tdk ada di sisi kita…
🌹Tahap 4 (Aku semakin membutuhkanmu)

Pada tahap ini sdh ada kematangan hubungan.

Tumbuh rasa membutuhkan…

Timbul sikap saling menghargai,menghormati..

Berusaha membahagiakan pasangan..

Ada pemahaman yg menyeluruh dlm mensikapi perbedaan atau konflik yg terjadi…
🌹Tahap 5 (Aku mencintaimu seperti apapun dirimu)

 Chemistry kesejiwaan sdh benar” terwujud secara nyata.

Menyatu di kedalaman Cinta yg sejati…yg menyatukan hingga maut menjemput…

SubhanAlloh….

Kehidupan mereka akan dipenuhi keceriaan,kebahagiaan,kemesraan,keintiman dan kebersamaan dg pasangan…

Bahkan akan terasa seperti pengantin baru lagi….

Kembali merasakan Jatuh Cinta lagi…

Masya Alloh…indahnya….😘😘😘
🌹💖🌹 Kata Kunci

💖Nikmati masa Romantic Love seoptimal mungkin.

Upayakan memperlama masa ini agar kalian bisa mendapatkan kebahagiaan dalam waktu yg panjang

💖Lalui tahap ke 2 secepat mungkin…agar terhindar dari keadaan yg tdk menyenangkan..bahkan kegagalan pernikahan

💖Berusaha bersungguh sungguh memahami dan menerima pasangan.

Hal ini membuat tahap 3 dan4 berjalan mulus dan bersambung tidak terputus…

🌹🌹💖💖💖🌹🌹
💔KONFLIK

Konflik tdk datang secara tiba tiba…

Ada proses dan tingkatan…

1.💔Konflik ada di bathin atau perasaan,dipendam dlm hati dan fikiran

Ada ketidakcocokan,ketidaknyamanan, tp tdk muncul dalm ucapan,sikap atau tindakan…
2. 💔Konflik sudah sama” diketahui,sdh tampak di permukaan dan mulai timbul percekcokan,pertengkaran dan perlawanan
3.💔 Konflik sdh berupa tindakn fisik..tamparan,pukulan bahkan mungkin dg senjata tajam.
💞Cara Menghindari dan Menyelesaikan Konflik
💞Deteksi sedini mungkin konflik di tingkt pertama, agar segera mencari jalan keluar

Jangan berlarut larut.

Keluarlah pada level pertama konflik

💞Bila sudah mulai merasakan konflik…jangan menjauh dari pasangan…

Mendekatlah…komunikasi…diskusi…

Jarak fisik anda bisa menandakan jarak psikologis yg sedang terjadi…
💞🌹💞Akhirnya…

🌹Yu berusaha selaraskan perbedaan…

🌹Mengalah…

🌹Masalah?selesaikan…lupakan…
💞Yu Rubah Konflik Jadi Cinta…

💞🌹💞Selamat Jatuh Cinta Kembali…dg pasangan kita…

💞Mencintainya selamanya…sampai maut menjemput….

SubhanAlloh….!

💞🌹🌹💖🌹🌹💞
(Ditulis kembali oleh emmier sutisna 2442017/2771438)
Sumber : broadcast wa

Sudut Pandang

​💐💐💐💐💐

Oleh : Ida Nur Laila
💖

Siang terik, lewat jam 13.30. Seorang lelaki memarkir motor di halaman rumah. Gerah dan lelah menampak dari peluh di dahi. 

Bayangan rumah teduh, segelas air dingin dan nasi hangat, sangat menyenangkan.
Namun saat memasuki rumah, yang nyaring didengar adalah dua anaknya berteriak dan menangis berebut sebuah mainan. 
Diletakkannya barang bawaan, sebagian belanjaan dan sisa  dagangan. Dilerainya kedua anak yg tengah bertengkar.
Celingak-celinguk dicarinya sang isteri. Tak nampak jua. Beberapa saat akhirnya anak-anak dapat ditenangkan.

Lalu tergopoh-gopoh istrinya muncul dari belakang. 
“Aduh maaf abang. Aku lagi jemur baju. Mumpung panas. Tadi baru sempat nyuci. Seharian listrik mati. Baru hidup dan air ngalir. Jadi bisa nyuci…”
Lelaki itu tersenyum berusaha maklum. Ia menuju ke dapur dan membuka penutup meja.
“Ya ampun baang…aku lupa. Nasinya sudah habis dimakan anak-anak. Tadi listrik hidup malah ingatnya nyuci…belum ngidupin rice cooker…”
Lelaki itu tersenyum masam.

Rupanya ia harus menunda mengisi perutnya.
Lalu pergilah ia merebahkan diri di tempat tidur. Sembari menyisihkan barang-barang yang berantakan memenuhi tempat tidur.
Biarlah ia menunggu nasi masak, sambil merebahkan diri melepas lelah. Hari ini adalah hari yang berat. Namun tak ingin diceritakannya pada istrinya.
Dari kamar ia mendengar istrinya  mengomeli dua putranya yang membuat rumah berantakan.
Hmm, hatinya enggak enak banget mendengarnya. Coba ditulikannya telinga sambil memejamkan mata. 

Mengapa selalu berulang kisah ini.

Keinginan sekedar istirah tak pernah bisa nyaman. Istrinya seakan tak pernah selesai dengan urusan rumah dan dua anaknya. 
Dalam hati ia menyimpan kecewa. Merasa tak sepenuhnya mendapat hak ketenangan dan perhatian dari istrinya.

Belum lagi ia memejam. Muncullah istrinya.

“Bang…gasnya habis. Aku mau gorengin abang telur.. abang beliin gih sebentar ke toko di ujung gang.”
Lelaki itu menghembuskan nafas kesal tak terucap.

Bergegas ia mengambil gas, memanggulnya tanpa berkata-kata. Namun wajah keruhnya tak mampu disembunyikannya. Sambil menstarter motor, masih terdengar keributan di balik pintu rumah: dua anaknya bertengkar dan istrinya melerai dengan omelan panjang kali lebar.
Sempurna sudah kecewanya.
***
Di rumah yang sama. 

Perempuan itu, sejak pagi berjibaku. Ada beberapa jahitan baju yang harus diselesaikannya.

Listrik mati, maka tak kurang akal ia menggenjot saja mesin jahitnya. Semua dilakukannya setelah suaminya berangkat kerja, dua balitanya terpenuhi makan dan sudah rapi mandi.
Listrik mati dan ia tak bisa mencuci piring pun baju. Apalagi mengepel rumah.

Lewat dhuhur barulah pompa menyala dan ia dapat mencuci baju. 

Serta tumpukan piring kotor. Dua anaknya tak henti memberantakkan isi rumah. Hingga lelah kaki dan tangannya merapikan. Dan tetap berantakan. 

Rasanya tak ada waktu barang lima menit untuk sekedar selonjor. Waktu seakan berlari saat ia sibuk menyiapkan makan untuk anaknya. Menyuapi di kecil. Membereskan makan si sulung yang berlepotan. Mengganti ompol, mengajak mereka sholat dhuhur…lanjut mencuci baju.
Jika ia lengah sebentar, seringkali dua anaknya bertengkar.

Namun dari belakang, sembari menjemur baju ia tetap memantau keributan di dalam rumah. 

Ketika tak ada suara ribut, ia justru bertanya-tanya, dan bergegas masuk menengok. 
Rupanya suaminya tengah menenangkan 2 anaknya.

Rasanya ingin benar ia menumpahkan semua harinya yang tidak terlalu menyenangkan. Semprotan pelanggan yang akan mengambil jahitan dan ternyata belum kelar. 

Listrik yang mati hingga cucian tertunda, tukang sayur enggak lewat jadi ia tak bisa belanja. 
Namun melihat wajah masam suami, ia mengurungkan ceritanya antara rasa jengkel dan rasa bersalah saat suaminya tertunda makan siang karena nasi habis.
Inginnya ia mendapat hiburan yang tulus dari suaminya, sekedar bilang : ” ya udah gak papa, aku tunggu saja.”
Namun alih-alih menghibur, suaminya memilih masuk kamar. 

Dan saat anaknya mulai bertengkar, ia makin riweuh. Dongkol. Seandainya suaminya mau bermain dengan dua putranya barang sebentar, ia akan segera selesai menyiapkan makan siang.
Dan gondoknya bertambah saat menyadari gasnya habis. Dengan enggan ia minta tolong pada suaminya.

Tak mungkin ia pergi meninggalkan rumah dan membeli gas, meninggalkan dua balita yang rawan bertengkar. Sementara suaminya justru tidur siang.
Ah tidur siang. Itu adalah barang mewah yang telah lama tak bisa dilakukan sejak memiliki anak. Tega banget jika suaminya melakukannya dan membiarkannya berjibaku. 
Dan kecewanya bertambah saat suami menuruti permintaannya, membeli gas dengan muka masam, tanpa kata-kata.
Maka, diluapkannya pada omelan saat dua balitanya mulai saling merengek.

Sempurna sudah kecewanya.
***
Ketika hanya melihat dengan sudut pandang apa yang telah kita berikan dan apa yang kita harapkan, maka bersiaplah untuk menelan kecewa.
Cobalah sedikit bergeser dan melihat, pada sisi apa yang telah dilakukan pasangan kita.
Berbagai keruwetan yg diceritakan, semoga menyisakan kemaafan dan permakluman. Serta menumbuhkan keinginan untuk menjadi secercah kegembiraan, dengan senyum cerah, suara merdu dan kabar kebaikan. Apalagi hiburan dan pujian serta kesyukuran atas anugerah keluarga. 
Baiti jannati, bukan turun dari langit. Namun surga yang tercipta dalam cinta dan kesediaan menghargai pasangan.  
@lailacahyadi
Sumber : broadcast wa

Mengapa Eksekutif Kelas A Hanya Bisa Menjadi Bapak Kelas E?

Oleh: dr. Gamal Albinsaid
“Bahagia itu mudah, pulang, dan cintai keluargamu.”

Bismillahirrahmanirrahim….
Ada sebuah pertanyaan besar masuk majalah Fortune tahun 1990, “Mengapa eksekutif kelas A, hanya bisa menjadi bapak kelas E?” Dia pebisnis berhasil, tapi tidak disukai anak-anaknya. Ingatlah, semua yang disekitar kita punya hak, ibu kita punya hak untuk kita dengarkan curhatannya, kendaraan kita punya hak untuk dicuci, anak kita punya hak untuk dididik, diperhatikan, dibelai, dan disayang. Jika usaha gagal, kita bisa membuat usaha yang baru lagi, tapi tidak dengan mendidik anak, kita tidak bisa mengulangnya. Happiness is simple, go home and love your family. Bahagia itu mudah, pulang dan cintai keluargamu.
Tahun 2004 The Harvard Crimson, sebuah koran harian di Harvard menampilkan sebuah penelitian yang mengungkap 80 persen mahasiswa Harvard University mengalami gangguan mental bipolar disorder, tentunya itu menjadi contoh tidak seimbangnya kehidupan pelajar disana, oleh karenanya bangunlah harmoni dalam kehidupan kita, dalam pengejaran mimpi kita. Berapa banyak diantara kita ketika muda mengorbankan kesehatan untuk uang, lalu ketika tua mengorbankan uang untuk kesehatan. Ya, itulah manusia, membingungkan.
Seperti pesan Imam Nawawi, bagilah waktumu menjadi 3, sepertiga untuk diri sendiri, sepertiga untuk Allah, dan sepertiga untuk umat. Jangan sampai waktu untuk mengikat tali sepatu lebih lama dan banyak dibandingkan waktu untuk membaca dan menyerapi makna dalam Alquran. 
Bukankah Rasulullah memiliki waktu 24 jam? Bukankah Abu Jahal juga memiliki waktu 24 jam? Diantara mereka ada yang dalam waktu 24 jam menghasilkan surga dan kebahagiaan, ada yang menghasilkan neraka, penderitaan, dan kesedihan. Sang penghafal quran Musa pun juga memiliki waktu 24 jam, namun di usia 7 tahun ia mampu menghafal quran  dan mengharumkan  nama bangsa di kancah dunia, bagaimana dengan 24 jam kita?
Ada 4 hal yang menjadikan saya begitu mengagumi sosok ayahanda B.J. Habibie, antara lain, kemampuan intelektualitasnya yang memiliki daya saing global, ketulusan cintanya yang begitu mendalam kepada Indonesia, spiritualitas yang menjadi dasar berpijak dan bergerak, dan yang keempat kemampuannya membangun harmoni keluarga dan jiwa pengabdiannya.
If you want to be a great leader, it starts at home. Jika kamu ingin menjadi pemimpin besar, itu dimulai dari rumah. Kawanku semua, ajaklah keluargamu untuk memeluk mimpimu, lalu menemanimu mengejarnya!
“Menjadi orang tua adalah jabatan yang tak tergantikan,”
#gamalberbagi

#mudamendunia

#inspirasi
Sumber : broadcast wa

CINTA KASIH SEORANG AYAH

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim.
Ayah di dalam kamar, beberapa kali batuk².
“Cinta ayahmu kepadamu luar biasa, tetapi lebih banyak disimpan dalam hati karena kau perempuan”, kata ibu.

Aku mendengarkan ibu dengan heran.
“Ketika kau melanjutkan kuliah ke Jakarta dan aku bersama ayahmu mengantarmu ke stasiun, kau dan aku saling berpelukan.

Ayahmu hanya memandang. Dia bilang juga ingin memelukmu, tapi sebagai laki² tak lazim memeluk anak perempuan di depan banyak orang, maka dia hanya menjabat tanganmu, lalu berdiri sampai kereta itu menghilang”, kata ibu.
“Ibu memang sering menelponmu.

Tahukah kau, itu selalu ayahmu yg menyuruh dan mengingatkan.
Mengapa bukan ayahmu sendiri yg menelpon?

Dia bilang, “Suaraku tak selembut suaramu, anak kita harus menerima yg terbaik”.
“Ketika kamu diwisuda, kami duduk di belakang.

Ketika kau ke panggung dan kuncir di togamu dipindahkan rektor, ayahmu mengajak ibu berdiri agar dapat melihatmu lebih jelas.

“Alangkah cantiknya anak kita ya bu,” kata ayahmu sambil menyeka air matanya.
Mendengar cerita ibu di ruang tamu, dadaku sesak, mungkin karena haru atau rasa bersalah.
Jujur saja selama ini kepada ibu aku lebih dekat dan perhatianku lebih besar. Sekarang tergambar kembali kasih sayang ayah kepadaku. Aku teringat ketika naik kelas 2 SMP aku minta dibelikan tas. Ibu bilang ayah belum punya uang.
Tetapi sore itu ayah pulang membawa tas yg kuminta.

Ibu heran. “Tidak jadi ke dokter?” tanya ibu. “Kapan² saja.

Nanti minum jahe hangat, batuk akan hilang sendiri”

Kata ayah.
Rupanya biaya ke dokter, uangnya untuk membeli tasku, membeli kegembiraan hatiku, dengan mengorbankan kesehatannya.
“Dulu setelah prosesi akad nikahmu selesai, ayahmu bergegas masuk kamar.

Kau tahu apa yg dilakukan?” tanya ibu.
Aku menggeleng. “Ayahmu sujud syukur sambil berdoa untukmu.

Air matanya membasahi sajadah.
Dia mohon agar Allah melimpahkan kebahagiaan dalam hidupmu.

Sekiranya kau dilimpahi kenikmatan, dia mohon tidak membuatmu lupa zikir kepada-Nya.
Sekiranya diberi cobaan, mohon cobaan itu adalah cara Tuhan meningkatkan kualitas hidupmu.
Lama sekali dia sujud sambil terisak.

Ibu mengingatkan banyak tamu menunggu.

Dia lalu keluar dengan senyuman tanpa ada bekas air di pelupuk matanya”.
Mendengar semua itu, air mataku tak tertahan lagi, tumpah membasahi pipi.
Dari kamar terdengar ayah batuk lagi.

Aku bergegas menemui ayah sambil membersihkan air mata.
“Kau habis menangis?”

Ayah menatapku melihat sisa air di mataku.

“Oh, tidak ayah!” aku tertawa renyah.

Ku pijit betisnya lalu pundaknya. 

“Pijitanmu enak sekali seperti ibumu”, katanya sambil tersenyum.
Aku tahu, meski sakit, ayah tetap ingin menyenangkan hatiku dengan pujian.
Itulah pertama kali aku memijit ayah.

Aku melihat betapa gembira wajah ayah. Aku terharu.
“Besok suamiku menyusulku, ambil cuti seminggu seperti aku.

Nanti sore ayah kuantar ke dokter”, kataku. Ayah menolak. “Ini hanya batuk ringan, nanti akan sembuh sendiri”.
“Harus ke dokter, aku pulang memang ingin membawa ayah ke dokter, mohon jangan tolak keinginanku”, kataku berbohong.
Ayah terdiam. Sebenarnya aku pulang hanya ingin berlibur, bukan ke dokter.
Tapi aku berbohong agar ayah mau kubawa ke dokter.

Aku bawa ayah ke dokter spesialis.
Ayah protes lagi, dia minta dokter umum yg lebih murah. Aku hanya tersenyum.
Hasil pemeriksaan ayah harus masuk rumah sakit hari itu juga.

Aku bawa ke rumah sakit terbaik di kotaku.
Ibu bertanya setengah protes. “Dari mana biayanya?”.

Aku tersenyum.

“Aku yg menanggung seluruhnya bu.

Sejak muda ayah sudah bekerja keras mencari uang untukku.
Kini saatnya aku mencari uang untuk ayah.

Aku bisa! Aku bisa bu!”. 
Kepada dokter aku berbisik; “Tolong lakukan yg terbaik untuk ayahku dok, jangan pertimbangkan biaya”, kataku. Dokter tersenyum.
Ketika ayah sudah di rumah dan aku pamit pulang, aku tidak menyalami, tetapi merangkul dengan erat untuk membayar keinginannya di stasiun dulu.

“Seringlah ayah menelponku, jangan hanya ibu”, kataku.

Ibu mengedipkan mata sambil tersenyum.
Dalam perjalanan pulang, aku berfikir, berapa banyak anak yg tidak paham dengan ayahnya sendiri seperti aku.
Selama ini aku tidak paham betapa besar cinta ayah kepadaku.
Hari² berikutnya aku selalu berdoa :

“Rabbighfir lii wa li waalidayya warhamhuma kama rabbayaani shagiira”.
Namun kini dengan perasaan berbeda.

Terbayang ketika ayah bersujud pada hari pernikahanku sampai sajadahnya basah dengan air matanya.
NB.. 

Moga menjadi contoh bagi para anak, betapa besar nya cinta kasih seorang bpk..

Tidaklah jauh berbeda dgn cinta kasih seorang ibu..
Wassallam..
Sumber : broadcast wa

PILIH AKU ATAU IBUMU

  Berpuluh kali membaca postingan ini,tidak akan bosan. Subhan Allah

Pagi-pagi sekali, Sarah mengetuk pintu rumah ibunya. Ia menggendong anaknya dan membawa satu tas besar di tangan kanannya. 

Dari matanya yang sembab dan merah, ibunya sudah tahu kalau Sarah pasti habis bertengkar lagi dengan  suaminya.

Meski heran, karena biasanya Sarah hanya sebatas menelpon sambil menangis jika bertengkar dengan suaminya. Ayah Sarah yang juga keheranan, segera menghampiri Sarah dan menanyakan masalahnya. 

Sarah mulai menceritakan awal pertengkarannya dengan suaminya tadi malam.

Sarah kecewa karena suaminya telah membohongi Sarah selama ini.

Sarah menemukan buku rekening suaminya terjatuh didalam mobil. 

Sarah baru tahu, kalau suaminya selalu menarik sejumlah uang setiap bulan, di tanggal yang sama. 

Sementara Sarah tahu, uang yang Sarah terima pun sejumlah uang yang sama.

Berarti sudah 1 tahun lebih, suaminya membagi uangnya, setengah untuk Sarah, setengah untuk yang lain. Jangan-jangan ada wanita lain??
Ayah Sarah hanya menghela nafas, wajah bijaksananya tidak menampakkan rasa kaget atau pun marah.
“Sarah…, 

» Yang pertama, langkahmu datang ke rumah ayah sudah ‘Dilaknat Allah dan para MalaikatNya’, karena meninggalkan rumah tanpa seizin suamimu” 

Kalimat ayah sontak membuat Sarah kebingungan.

Sarah mengira ia akan mendapat dukungan dari ayahnya.
» “Yang kedua, mengenai uang suamimu, kamu tidak berhak mengetahuinya. 

Hakmu hanyalah uang yang diberikan suamimu ke tanganmu. 

Itu pun untuk kebutuhan rumah tangga. 

Jika kamu membelanjakan uang itu tanpa izin suamimu, meskipun itu untuk sedekah, itu tak boleh”. 

Lanjut ayahnya.
“Sarah.., suamimu menelpon ayah dan mengatakan bahwa sebenarnya uang itu memang diberikan setiap bulan untuk seorang wanita. 

Suamimu tidak menceritakannya padamu, karena kamu tidak suka wanita itu sejak lama. 

Kamu sudah mengenalnya, dan kamu merasa setelah menikah dengan suamimu, maka hanya kamulah wanita yang memilikinya”.

“Suamimu meminta maaf kepada ayah karena ia hanya berusaha menghindari pertengkaran denganmu.

Ayah mengerti karena ayah pun sudah mengenal watakmu” mata ayah mulai berkaca-kaca.

“Sarah…, 

kamu harus tahu, setelah kamu menikah maka yang wajib kamu taati adalah suamimu.
Jika suamimu ridho pdmu, maka Allah pun Ridho.

Sedangkan suamimu, ia wajib taat kepada ibunya. 

Begitulah Allah mengatur laki-laki untuk taat kepada ibunya. 

Jangan sampai kamu menjadi penghalang bakti suamimu kepada ibundanya”.

“Suamimu, dan harta suamimu adalah  milik ibu nya”.

Ayah mengatakan itu dengan tangis. Air matanya semakin banyak membasahi pipinya. 

Seorang ibu melahirkan anaknya dengan susah payah dan kesakitan. 
• Kemudian ia membesarkannya hingga dewasa hingga anak laki-lakinya menikah, ia melepasnya begitu saja. 
• Kemudian anak laki-laki itu akan sibuk dengan kehidupan barunya. 
• Bekerja untuk keluarga barunya. 
• Mengerahkan seluruh hidupnya untuk istri dan anak-anaknya. 
• Anak laki-laki itu hanya menyisakan sedikit waktu untuk sesekali berjumpa dengan ibunya. sebulan sekali, atau bahkan hanya1 tahun sekali.
“Kamu yang sejak awal menikah tidak suka dengan ibu mertuamu. 

Kenapa? 

Karena rumahnya kecil dan sempit? Sehingga kamu merajuk kepada suamimu bahwa kamu tidak bisa tidur disana. 

Anak-anakmu pun tidak akan betah disana. 

Sarah.., mendengar ini ayah sakit sekali”.
“Lalu, jika kamu saja merasa tidak nyaman tidur di sana. 

Bagaimana dengan ibu mertuamu yang dibiarkan saja untuk tinggal disana?”

“Uang itu diberikan untuk ibunya. 

Suamimu ingin ayahnya berhenti berkeliling menjual gorengan. 

Dari uang itu ibu suamimu hanya memakainya secukupnya saja, selebihnya secara rutin dibagikan ke anak-anak yatim dan orang-orang tidak mampu di kampungnya. 

Bahkan masih cukup untuk menggaji seorang guru ngaji di kampung itu” lanjut ayah.
Sarah membatin dalam hatinya, uang yang diberikan suaminya sering dikeluhkannya kurang. 

Karena Sarah butuh banyak pakaian untuk mengantar jemput anak sekolah. 

Sarah juga sangat menjaga penampilannya untuk merawat wajah dan tubuhnya di spa. 

Berjalan-jalan setiap minggu di mall.

Juga berkumpul sesekali dengan teman-temannya di restoran.
Sarah menyesali sikapnya yang tak ingin dekat-dekat dengan mertuanya yang hanya seorang tukang gorengan. 

Tukang gorengan yang berhasil 

• Menjadikan suaminya seorang sarjana, 

• mendapatkan pekerjaan yang di idam-idamkan banyak orang. 

• Berhasil mandiri, hingga Sarah bisa menempati rumah yang nyaman dan mobil yang bisa ia gunakan setiap hari.
“Ayaaah, maafkan Sarah”, tangis sarah meledak.

Ibunda Sarah yang sejak tadi duduk di samping Sarah segera memeluk Sarah.
“Sarah…

• kembalilah ke rumah suamimu. 

Ia orang baik nak… 

• Bantulah suamimu berbakti kepada orang tuanya. 
• Bantu suamimu menggapai surganya, dan dengan sendirinya, ketaatanmu kepada suamimu bisa menghantarkanmu ke surga”.
Ibunda sarah membisikkan kalimat itu ke telinga Sarah.
Sarah hanya menjawabnya dengan anggukan, ia menahan tangisnya. 

Bathinnya sakit, menyesali sikapnya.
Namun Sarah berjanji dalam hatinya, untuk menjadi istri yang taat pada suaminya…

Subhanallah….
* Kirimkan Kisah ini ke semua sahabat Anda, siapa tahu ada orang yang mau mencoba dan mengambil manfaat dari kisah ini, sehingga anda pun akan mendapatkan pahala. 🙏🙏🙏

 SEMOGA BERMANFAAT

ُSumber : broadcast wa

​Keromantisan Nabawi

Banyak dari kita yang mencari cinta di atas kapal “Titanic” ..

Banyak yang mencari cinta di tetes terakhir dari botol racun yang ditelan oleh “Romeo” dan kekasihnya “Juliet”. 
Yang lainnya mencari satu sama lain di tengah bukit gurun pasir, “Qais dan Leila”
Sementara semua mereka ini bahwa Rasul kita yang mulia lah orang pertama yang mengajarkan tentang  asas/dasar cinta.
Di bawah bendera Islam: diangkat semua slogan keagamaan, sosial dan politik ..

Sementara cinta dalam Islam merupakan slogan yang terbuang,

Berapa banyak dari kita berpikir yang meniatkan untuk mengikuti Sunnah Nabi Saw. dalam cinta kasih Beliau Saw. pada para istri Beliau Saw., sebagai usaha untuk mencontoh Beliau Saw. dalam semua aspek kehidupan lainnya?
Perang tak sepi dari cinta!

Pedang dan darah tidak mampu membuat lupa Sang Komandan (meskipun semua tanggung jawab dan kesulitan perang, yang membawa berbagai kekhawatiran) dari perhatian terhadap kekasih Beliau Saw. , Sayyiduna Anas mengatakan: “… kami pergi ke Madinah (bertolak dari Khaibar) dan saya melihat Nabi Saw. duduk di sisi unta Beliau, melipatkan lutut, Shafiah pun meletakkan kakinya di atas kedua lutut tersebut sampai naik ke atas”. (al-Bukhari)

Nabi (Saw.) tidak merasa malu ketika para prajurit Beliau melihat adegan ini. Dari apa harus malu? Bukankah dia kekasih Beliau? (Adegan ini adalah apa yang diceritakan pada abad pertengahan sebagai perilaku ksatria dan bangsawan.)
Tampaknya pertempuran ini bukan suatu pengecualian, tapi cinta yang sama itu tetap ada di semua peperangan, bahkan selalu bertambah..
Suatu hal yang menujukkan Nabi Saw. yang manusiawi ketika menggoda Saidah Aisha ra di perjalan kembali dari salah satu invasi, membuat kafilah bergerak maju sampai Saidah Aisyah ( yg didalam kafilah) tidak melihat Sayyidina Nabi Saw. yang di belakang jauh, lalu tiba-tiba Nabi Saw. datang & mendahului kafilah ..

Beliau tidak melakukannya sekali saja, tapi dua kali; mendahuluinya sekali atau Saidah Aisyah mendahului Beliau Saw. (atau Beliau membiarkan Saidah Aisyah untuk mendahului Beliau).
Begitu lembut Beliau Saw. pada istri-istri Beliau sehingga tidak rela “al-haadiy” (tukang pandu unta)  mereka mempercepat jalannya unta yang meraka tunggani,

Anas ra berkata: Nabi (Saw.) dalam perjalanan dan ada seorang anak/budak bernama Anjasyah yang berdendang  “al-hidaa” (nyanyian untuk mendesak unta berjalan aktif karena unta menyukainya) di dalam unta itu ada  beberapa ummahat al-mu`miniin, termasuk Umm Salamah, Anjasyah itu memiliki suara yang bagus, sehingga unta mempercepat dan berlari kuat, Nabi (Saw) bersabda:

“”Ruwaidak” (Pelan-pelan) wahai Anjasyah, kamu itu mengendalikan unta yang membawa “al-qawaariir (para wanita yang diibaratkan sebagai gelas-gelas kaca yang mudah pecah) .. (HR Bukhari) (Dalam riwayat lain “Rifqan bil-qawaaariir,” (lembutlah pada para qawaariir) -seperti apa yang saya baca-.
Meneriakkan cinta!
Ketika para laki-laki merendahkan suara mereka saat menyebutkan nama istri mereka, kita menemukan Rasul kita yang mulia mengakui cinta Beliau pada para istri Beliau di depan semua orang.

Diriwayatkan dari Amr bin al-Aas bahwa ia bertanya kepada Nabi (Saw.): “Manakah dari orang yang paling Anda kasihi? Beliau mengatakan: Aisha, saya berkata: kalau dari pihak laki-laki? Beliau bersabda: ayahnya” (HR. al-Bukhari)
Perilaku “gentleman”
Anas mengatakan bahwa tetangga Rasulullah yang berasal dari Persia pandai memasak kaldu, dan ia membuatkan sebuah hidangan untuk Rasulullah (Saw.) kemudian datang untuk mengundang Beliau,

Nabi Muhammad Saw. menolak undangan itu dua kali, karena tetangga tidak mengundang Beliau bersama Aisya untuk makan, dan itulah yang dilakukan tetangga pada akhirnya!
Istri Beliau Saw., Saidah Shafia bint Huyay menceritakan bahwa dirinya mendatangi Rasulullah (Saw.) untuk mengunjung Beliau yang sedang menjalankan i’tikaaf di masjid pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, berbicara dengan dia beberapa waktu dan kemudian berdiri untuk pergi, maka Nabi (Saw.) untuk berdiri untuk mengantarkannya, ketika berjalan keluar masjid di arah pintu Ummu Salamah ada dua orang Ansar mengucapkan salam pada Rasulullah (Saw.)

Beliau Saw. berkata kepada mereka: “Sebentar, Dia ini  Shafia bint Huyay” (HR. al-Bukhari) [Pelajaran dari hadits itu bahwa Beliau mengantarkan sendiri isteri Beliau, & ucapan Beliau pada 2 orang Anshar merupakan pelajaran lain yaitu usaha menepis kalau ada kecurigaan]
Romantis yang terbaik!
Terlepas dari kebahagiaan yang dinikmati oleh setiap orang di sekitar Rasulullah, istri-istri Nabi Saw. juga menikmati kebahagiaan perkawinan

Semua putri Hawa iri pada mereka, wanita mana yang tidak ingin hidup bersama seorang suami yang peduli haknya dan menjaga perasaannya lebih dari apapun? Bahkan menjadikan perhatian keluarga, kasih sayang & cinta pada mereka sebagian patokan untuk pria yang baik. Beliau Saw. bersabda: 

“.. Yang terbaik dari kalian adalah yang  paling baik untuk keluarganya, dan aku adalah orang yang terbaik bagi keluargaku”. (HR al-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Saidah Aisyah mengatakan bahwa beliau bersama Rasulullah (Saw) mandi bersama menggunakan tempat air yang sama, Beiau berdua saling adu cepat mengambil air, sampai Beliau Saw. mengatakan pada Saidah Aisyah: “Sisai aku”, Saidah Aisyah pun berkata pada Beliau: “Sisai aku”.
 Sementara saat itu orang-orang Arab merasa enggan (mengganggap jijik) dan menghindari sekali wanita yang sedang menstruasi, Saidah Aisyah berkata:

“Aku minum ketika sedang menstruasi, lalu ku memberikan bekas tempat airku pada Nabi (Saw.), Beliaupun meletakkan mulut Beliau di bekas tempat mulutku”. (HR Muslim & an Nasaai)
Dan Saidah Maimunah ra berkata:

“Rasulullah (Sa.) masuk ke salah satu dari kami yang saat itu sedang menstruasi dan meletakkan kepala di pangkuannya kemudian membaca Al Qur’an. Dan salah satu dari kami membuat “khumrah” (campuran wewangian) Beliau & meletakkannya di masjid ketika sedang haidh”.. (HR Ahmad)
Meskipun banyak jumlah mereka, Rasulullah (Saw) sebagai komandan (pemimpin) dan rasul selalu memeriksa situasi/keadaan mereka dan menginginkan perasaan kasih itu bertahan dan berlanjut terus menerus, Ibnu Abbas mengatakan:
“Setelah Rasulullah (Saw.) menunaikan shalat Shubuh, Beliau Saw. tetap duduk di tempat shalat Beliau dan orang-orang duduk di sekitar Beliau sampai matahari terbit, kemudian Beliau Saw. mengunjungi satu persatu istri Beliau, memberi salam pada mereka & mendo`akan mereka, Jika ada giliran salah satu dari mereka, Beliau pun berada di rumah isteri yang kena giliran”. (Fath al-Bari, syarh shahih al-Bukhari)
Rumah Nabawi

Di zaman yang jauh dari kesejahteraan ribuan tahun yang lalu, Nabi Saw. yang Pencinta adalah seorang terbaik dalam membantu istri Beliau, Dikisahkan oleh Saidah Aisyah di lebih dari satu riwayat, bahwa Beliau selalu siap dalam melayani keluarga Beliau, Saidah Aisyah ditanya apa yang Nabi (Saw.) lakukan di rumah?

Beliau mengatakan: “Beliau Saw. berprofesi melayani keluarga Beliau”. (HR Bukhari)

Dalam riwayat lain, Saidah Aisyah ditanya apa yang Rasulullah (Saw.) kerjakan di rumah?

Beliau mengatakan: “Beliau Saw. menjahit pakaian Beliau,  memperbaiki sandal Beliau, dan melakukan apa yang dilakukan para laki-laki di rumah mereka”.
Setia tanpa akhir!

Nabi Muhammad Saw. tetap  pada  kesetiaan Beliau kepada Saidah Khadijah, istri pertama Beliau sepanjang hidupnya, tidak menikah dengan siapapun sampai Saidah Khadijah meninggal, dan setelah kematiannya Beliau mengakui terang-terangan tentang cinta Beliau di depan semua orang, Beliau menyantuni teman-teman Saidah Khadijah sebagai penghormatan padanya yang dalam ingatan, bahkan Saidah Aisyah ra mengatakan: “Aku tidak cemburu pada salah seorang isteri Nabi selain cemburuku pada Khadijah, aku tidak pernah melihatnya, tapi Nabi Saw. sering menyebutnya, dan boleh jadi ketika menyembelih domba dan memotong-motongnya, Beliau Saw. mengirimkan potongan itu pada teman-teman Khadija, maka saat itu aku mengatakan pada Beliau: “Seakan-akan tidak ada di dunia ini seorang wanitapun selain Khadijah”. Beliau pun berkata: “Dia dulu begini & begini.. darinya aku punya anak” (HR, al-Bukhari).
Allah SWT Maha Tinggi & Mengetahui.

Inilah Nabi Saw.,  ciptaan terbesar Allah SWT, dan beginilah budi pekerti Beliau dalam interaksi dengan perempuan dan para istri Beliau. Adakah ditemukan dalam semua manusia seseorang yang lebih baik dari Beliau Saw.?

(Terjemah dari email yang dikirimkan Syekh Emad Effat rahimahullah pada 20 maret 2008)


Sumber : broadcast wa