MAU TAHU TIPS ULAMA MENGATASI KONFLIK RUMAH TANGGA? 

​Bismillah..

.
Nasehat Syaikh Muhammad bin Mukhtar Asy- Syinqithiy hafidzahullah…

.
Oleh karena itu, bersemangatlah melaksanakan shalat-shalat sunnah di rumah. Itulah diantara tujuan sunnah Nabi.

.
Rumah yang banyak dilakukan shalat di dalamnya, maka Allah akan menjadikan didalamnya kebaikan yang banyak. Hal ini banyak diperbincangakan para ulama dan orang-orang shalih.
Sebagian orang mengeluhkan di rumahnya selalu ada masalah.
Dia bercerita, “Kemudian aku mendatangi salah seorang ulama dan beliau bertanya kepadaku tentang shalat malam dan shalat rowatib.”

.
Ulama bertanya, “Apakah engkau termasuk orang yang menyia-nyiakan shalat sunnah rowatib?
Jawab orang tadi, “Ya benar.”
Rowatib maksudnya shalat sunnah yang dikerjakan sesudah atau sebelum shalat fardhu.

.
Ulama tersebut bertanya lagi, “Apakah engkau juga tidak shalat witir?”
Jawabnya, “Benar aku juga tidak shalat witir.”

.
Ulama tersebut berkata, “Kalau begitu rutinkan shalat sunnah rowatib dan tunaikan seperti Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menunaikan shalat tersebut di rumahmu. Begitupula rutinkan shalat witir jangan pernah engkau tinggalkan.”

.
“Al-Witir itu adalah kebenaran. Barangsiapa yang tidak shalat witir maka bukan golongan kami.” (HR. Ahmad dan Abu Daawud. Dinilai shahih oleh Al-Hakim)

.
“Wahai Ahlul Qur’an, shalat witirlah kalian karena sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla itu witir (Maha Esa) dan mencintai orang-orang yang melakukan shalat Witir.”

.
“Sungguh Allah telah melengkapi kalian dengan suatu shalat yang lebih baik dari unta merah.”

.
Para sahabat bertanya, “Shalat apakah itu wahai Rasulullah?”
Beliau shallallahu’alaihi wa sallam menjawab, “Shalat Witir yang dikerjakan antara waktu ‘Isya dan terbit fajar.”

.
Kemudian subhanallah dalam waktu satu minggu, tiba-tiba di rumahnya keadaan berubah sempurna; akhlak istri berubah, anak-anak mudah diarahkan. Semua perkara telah berubah.
Karena apa?

.
ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺟﺎﻋﻞ ﻟﻪ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻪ ﻣﻦ ﺻﻼﺗﻪ

خيرأ
“Maka Allah jadikan baginya di rumahnya banyak kebaikan dari shalat yang dia lakukan.” (HR. Muslim no.778)

.
Khairan dalam hadis ini bentuknya nakiroh (umum) mencakup semua kebaikan.

.
Jika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan bahwa didalamnya ada kebaikan pasti ada kebaikan.

.
Sungguh apa yang beliau sabdakan adalah kebenaran. Dan tidaklah beliu berucap mengikuti hawa nafsu, sesungguhnya itu adalah wahyu yang diturunkan.

.
Wallallahua’lam bishshowab.

.
Sumber: Channel Duror Asy Syaikh Muhammad hin Mukhtar Asy Syinqithi

.
Di share oleh,

@STaushiyyah

Telegram channel

Whatsapp Group Sahabat Taushiyyah
.
Sumber : WA

Advertisements

Anak-Anakku

​*Ada baiknya tulisan ini dikirim kepada anak2 kita*

~~~~~~~~~~~~~~~~~

      بِسْــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــمِ 

   السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kutipan dari tulisan almarhum

*KH. E. Z. MUTTAQIEN*  ~~~~~~~~~~~~~~~~~

Rektor Unisba Bandung yang pertama.​

(In-syaa-ALLAH baik untuk anak2 kita maupun untuk kita sendiri).
      ~~~~~~~~~~~

           *”ANAK2 KU”* 

           ~~~~~~~~~

Ada kekhawatiran besar setiap orang tua!!!

» di saat tua, 

» di saat daya melemah, 

» di saat anak2 semakin sibuk.

.
       *KESENJANGAN*

        ~~~~~~~~~~~

» Diawali dari ‘merenggangnya komunikasi’.

» Terjadinya ‘perbedaan alam fikir’ yang menjauh.

» Dan … ‘sulitnya saling memahami’, 

Yang mungkin sekarang belum terbayang oleh kalian semua… 

» Tapi itu ‘punya potensi’ akan terjadi!!! 

.
         *KELAK …* 

         ~~~~~~~

» Pada saatnya kami ‘hanya bisa berdoa’ & ‘berlinang air mata’…

» Mengiringi ‘semua kekhawatiran’ yang ‘menyelimuti hati kami’… 

» Yang kami khawatirkan adalah ‘keselamatan kalian’, juga ‘sakaratul maut kami’.

  

“Akan adakah anak2 tercinta menggumamkan ‘Kalimat TALKIN’ di telinga kami saat mengiringi perjalanan kami ‘pulang keharibaan saat ‘sakaratul maut’…” ???

.
         *SAAT INI …*

         ~~~~~~~~

» Kami sangat ingin 

komunikasi kita berjalan ‘mesra’…, ‘ramah’… & … ‘penuh rindu’…. 

» Kami berharap komunikasi kita membuat kita ‘saling faham’. 

.
         *MEMANG …*

         ~~~~~~~~~

» Kebersamaan kita hanya sebentar.

» Hanya 20 tahunan.

» Sisanya kalian akan bersama pasangan kalian masing2 ‘sampai akhir hayat’ kalian.

» Sama seperti apa yang kami rasakan saat ini.

» Rasanya sangat sebentar.

» Belum cukup rasanya kita ‘berbagi rasa’ dalam kurun waktu 20 tahunan itu.
Tapi mudah2an komunikasi yg kita bangun sekarang ini bisa memperpanjang ‘kebersamaan rohani kita’ & ‘mengecilkan rasa khawatir’ yang selalu ada di hati kami.

.
        *ANAKKU …*

         ~~~~~~~~

• *Jagalah shalat kalian*.

• *Jagalah shaum kalian*.

• *Jagalah shadaqah kalian*.

• *Selalulah berbuat baik kepada siapapun*.

• *Jangan pernah letih untuk mendekatkan diri kepada ALLAH Subhanallahu Wata’la.*.

• *Berbuatlah sesuatu yang bisa membuat orang tua kalian ‘berbahagia di alam barzah & akhirat kelak…!!!*
Kami TITIPKAN masa depan akhirat kami kepada kalian dgn “Akhlaq Mulia” kalian, Aamiin Ya Rabbal A’alamiin
Sumber : WA

​Negeri Tanpa Ayah 

1. Jika memiliki anak sudah ngaku-ngaku jadi AYAH, maka sama anehnya dengan orang yang punya bola ngaku-ngaku jadi pemain bola
2. AYAH itu gelar untuk lelaki yang mau dan pandai mengasuh anak bukan sekedar ‘membuat’ anak
3. Jika AYAH mau terlibat mengasuh anak bersama ibu, maka separuh permasalahan negeri ini teratasi
4. AYAH yang tugasnya cuma ngasih uang, menyamakan dirinya dengan mesin ATM. Didatangi saat anak butuh saja
5. Akibat hilangnya fungsi tarbiyah dari AYAH, maka banyak AYAH yang tidak tahu kapan anak lelakinya pertama kali mimpi basah
6. Sementara anak dituntut sholat shubuh padahal ia dalam keadaan junub. Sholatnya tidak sah. Dimana tanggung jawab AYAH ?

7. Jika ada anak durhaka, tentu ada juga AYAH durhaka. Ini istilah dari umar bin khattab
AYAH durhaka bukan yang bisa dikutuk jadi batu oleh anaknya. Tetapi AYAH yang menuntut anaknya shalih dan shalihah namun tak memberikan hak anak di masa kecilnya
9. AYAH ingin didoakan masuk surga oleh anaknya, tapi tak pernah berdoa untuk anaknya
10. AYAH ingin dimuliakan oleh anaknya tapi tak mau memuliakan anaknya
11. Negeri ini hampir kehilangan AYAH. Semua pengajar anak di usia dini diisi oleh kaum ibu. Pantaslah negeri kita dicap fatherless country
12. Padahal keberanian, kemandirian dan ketegasan harus diajarkan di usia dini. Dimana AYAH sang pengajar utama ?
13. Dunia AYAH saat ini hanyalah Kotak. Yakni koran, televisi dan komputer. AYAH malu untuk mengasuh anak apalagi jika masih bayi
14. Banyak anak yg sudah merasa yatim sebelum waktunya sebab AYAH dirasakan tak hadir dalam kehidupannya
15. Semangat quran mengenai pengasuhan justru mengedepankan AYAH sebagai tokoh. Kita kenal Lukman, Ibrahim, Ya’qub, Imron. Mereka adalah contoh AYAH yang peduli
16. Ibnul Qoyyim dalam kitab tuhfatul maudud berkata: Jika terjadi kerusakan pada anak penyebab utamanya adalah AYAH
17. Ingatlah! Seorang anak bernasab kepada AYAHnya bukan ibu. Nasab yang merujuk pada anak menunjukkan kepada siapa Allah meminta pertanggung jawaban kelak
18. Rasulullah yang mulia sejak kecil ditinggal mati oleh AYAHnya. Tapi nilai-nilai keAYAHan tak pernah hilang didapat dari sosok kakek dan pamannya
19. Nabi Ibrahim adalah AYAH yang super sibuk. Jarang pulang. Tapi dia tetap bisa mengasuh anak meski dari jauh. Terbukti 2 anaknya menjadi nabi
20. Generasi sahabat menjadi generasi gemilang karena AYAH amat terlibat dalam mengasuh anak bersama ibu. Mereka digelari umat terbaik.
21. Di dalam quran ternyata terdapat 17 dialog pengasuhan. 14 diantaranya yaitu antara AYAH dan anak. Ternyata AYAH lebih banyak disebut
22. Mari ajak AYAH untuk terlibat dalam pengasuhan baik di rumah, sekolah dan masjid
23. Harus ada sosok AYAH yang mau jadi guru TK dan TPA. Agar anak kita belajar kisah Umar yang tegas secara benar dan tepat. Bukan ibu yang berkisah tapi AYAH
24. AYAH pengasuh harus hadir di masjid. Agar anak merasa tentram berlama-lama di dalamnya. Bukan was was atau merasa terancam dengan hardikan
25. Jadikan anak terhormat di masjid. Agar ia menjadi generasi masjid. Dan AYAH yang membantunya merasa nyaman di masjid
26. Ibu memang madrasah pertama seorang anak. Dan AYAH yang menjadi kepala sekolahnya
27. AYAH kepala sekolah bertugas menentukan visi pengasuhan bagi anak sekaligus mengevaluasinya. Selain juga membuat nyaman suasana sekolah yakni ibunya
28. Jika AYAH hanya mengurusi TV rusak, keran hilang, genteng bocor di dalam rumah, ini bukan AYAH ‘kepala sekolah’ tapi AYAH ‘penjaga sekolah’
29. Ibarat burung yang punya dua sayap. Anak membutuhkan kedua-duanya untuk terbang tinggi ke angkasa. Kedua sayap itu adalah AYAH dan ibunya
30. Ibu mengasah kepekaan rasa, AYAH memberi makna terhadap logika. Kedua-duanya dibutuhkan oleh anak
31. Jika ibu tak ada, anak jadi kering cinta. Jika AYAH tak ada, anak tak punya kecerdasan logika
32. AYAH mengajarkan anak menjadi pemimpin yang tegas. Ibu membimbingnya menjadi pemimpin yang peduli. Tegas dan peduli itu sikap utama
33. Hak anak adalah mendapatkan pengasuh yang lengkap. AYAH terlibat, ibu apalagi.
34. Mari penuhi hak anak untuk melibatkan AYAH dalam pengasuhan. Semoga negeri ini tak lagi kehilangan AYAH
35. Silahkan share jika berkenan agar makin banyak AYAH yang peduli dengan urusan pengasuhan. 
Referensi: 

Dari berbagai sumber
Sumber : WA

Ibu Lelah? Rehatlah

​Copas status teman.. : 
Semalam saat saya baru saja membuka laptop untuk membuat tulisan di hari ke 9,sebuah pesan masuk :
“Saya lelah mbak.Rasanya hanya saya yang harus bertanggung jawab untuk semuanya.Waktu rasanya begitu cepat,sementara saya melihat diri saya tidak mencapai apapun…saya minder kalau ketemu temen-teman lainnya,rasanya saya doang yang gini-gini aja…”
“saya merasa tidak bahagia..rasanya berputar putar terus di rutinitas yang sama.Di rumah rasanya hati saya gak tenang..tiap hari ada saja masalah yang dibuat oleh anak-anak.Anak-anak gak nurut kalau diberi tau..melawan terus,suami malah keliatannya lebih asik di luar rumah…”
•••

saya terpaku, membayangkan situasi yang terjadi di rumahnya.
Saya memperhatikan pola seperti ini sering sekali terjadi,dan mungkin sebagiannya pernah juga dialami oleh saya&jutaan ibu lainnya.
Ada rasa lelah yang sangat besar, yang pada akhirnya mengambil rasa bahagia ibu,dan lambat laun mengambil rasa bahagia seluruh anggota keluarga.
Saya tentunya tidak akan membahas kisah ibu tersebut di tulisan ini,tapi saya tergugah untuk menulis sebuah perspektif tentang kata “lelah”
Saya teringat sebuah nasehat yang dikiaskan dalam bentuk sebuah narasi antara iblis dan syetan : 
“Jika kau ingin merusak sebuah keluarga, rusaklah dulu ibunya!!”
beri ia perasaan akan rasa lelah bertubi yang membuatnya merasa lemah dan habis energi
jika ia sudah merasa lelah, ambil rasa syukurnya
biarkan ia merasa bahwa hidupnya habis untuk mengurus keluarga dan buatlah ia tidak memiliki apapun, selain lelah yang didapatnya
setelah kau ambil rasa syukurnya, buatlah ia menjadi orang yang tidak percaya diri
sibukkan pandangan matanya untuk melihat kebahagiaan orang lain dan buatlah ia lupa akan kebaikan yang ia miliki, 
buatlah ia merasa minder dan merasa tidak berharga
jika itu sudah terjadi, ambilah juga sabarnya,
gaduhkan hatinya agar ia merasa ada banyak hal yang berantakan dalam rumahnya, buatlah ia merasa betapa banyak masalah yang ditimbulkan dari anak-anaknya, dari suaminya
goda lisannya untuk berkata kasar, 

Hingga nanti anak-anak mencontohnya dan tak menghargainya lagi, lalu bertambahlah kemarahan demi kemarahan, hilanglah aura syurga dalam rumah
dan kau akan menemukan perlahan, rumah itu rusak…dari pintu seorang Ibu

….
Sekali lagi, makhluk penting itu bernama Ibu,
Lelah yang tidak selesai menjadi tempat masuknya syetan,
Ia mengambil bahagiamu, mengambil sabar dan syukurmu wahai ibu,
Jangan biarkan syetan mengambil itu, 

Jika kau lelah, rehatlah. 

Jika kau lelah, berbagilah
Sungguh tak ada satupun yang akan membiarkanmu merasa sakit sendiri

jika kau pandai menghargai dirimu,
Ringankan tugasmu bu, 

Jangan menekan dirimu terlalu keras,

Sesekali tak masalah rumahmu kotor

tak masalah betapa banyaknya pekerjaan yang belum kau tuntaskan
Jangan terjebak dalam waktumu bu,

sungguh tugas muliamu jauh lebih penting dari sekedar rutinitas yang kau lakukan setiap harinya
rehatlah, 

Jika pun tak mungkin kau tempuh jarak puluhan kilo untuk segarkan diri, 
Sekedar menepi, menepilah

beri waktu untuk dirimu sendiri,
Sekedar melihat betapa banyak kebaikan yang kau punya, 

betapa manisnya keceriaan anak-anakmu, 

betapa bertanggungjawabnya suamimu,
rasakan pelukannya,

ada cinta dan ketulusanmu dalam tegap badannya
Kau berharga ibu,jangan pernah lupakan itu.
•••

Kualalumpur Dini Hari
malam ini jadi malam penuh refleksi buat saya

bisa jadi kita pernah mengalami hal yang sama akan rasa lelah yang bertubi
tapi, saat mendengar masalah orang lain,kita semakin sadar bahwa perspektif kita menentukan cara pandang kita terhadap masalah
jika kita melihat peran ini sebagai beban,maka kita hanya akan sampai pada titik lelah
jika kita memandang diri hanya sebatas pelaku rutinitas,kita tidak akan menemukan ruhnya
rewarding your self mom,

sungguh peranmu jauh lebih besar dari semua keluhanmu
jangan biarkan syetan merusak bahagia dengan mengambil rasa sabar dan syukurmu
karena dari bahagiamu,tercipta ketahanan sebuah keluarga
semoga coretan ini ada manfaatnya….
# Tak akan ku biarkan syetan merusak kebahagiaankuu
Sumber : WA

KOMUNIKASI SUAMI ISTRI

​Tadzkirroh utk kita berdua ya💕💗
Umum sekali terjadi, tak lama setelah perkawinan, suami istri baru ini sudah mulai menemukan bahwa komunikasi antar mereka berdua jadi tidak selancar, sehangat apalagi seindah ketika dulu pacaran atau sebelum menikah.
Sekarang, ada saja yang gak nyambung, emosi naik, kadang diam, tak biasa dimengerti dan seolah tak ada keinginan untuk mengerti. Dulu kalau begini, salah satu pasti tidak akan pernah berhenti membujuk, sampai salah satunya mengalah dan komunikasi tersambung kembali.

Kenapa sudah kawin malah jadi sebaliknya?
Harapan dan mimpi indah yang dulu dibagi bersama dan menimbulkan semangat, kini seolah menguap begitu saja . Kenyataan yang ada sangat mencengangkan karena banyak hal yang dulu tidak diketahui kini menjadi jelas merupakan kebiasaan yang kurang pas dan kurang menyenangkan bagi pasangannya. Mulai dari kalau ngomong kurang diperhatiin, mau menang sendiri, kebiasaan yang tidak sama : naruh handuk basah diatas tempat tidur, suami merasa kurang dilayani, istri merasa kurang didengarkan perasaannya dan sejuta perbedaan lainnya yang terus menerus terjadi dari hari ke hari….
MENGAPA SEMUA INI TERJADI?
(1.) Hidup lebih realistis, kebiasaan dan sikap asli masing-masing nampak dan tak perlu dipoles dan disembunyikan lagi. Cara ekspresi emosi juga otomatis nampak : marah, menghakimi, selfish, narcist, mencap, dll.
(2.) Dari pengalaman saya menghadapi berbagai kasus keluarga dan perceraian, ketika pasangan ini belum menikah, mereka tidak mengetahui atau diberi tahu bahwa, masing-masing harus mempelajari latar belakang pengasuhan pasangannya dan mengapa perlu tahu.. Yang paling buruk adalah kenyataan bahwa masing-masing pasangan tersebut bahkan tidak cukup kenal dengan dirinya sendiri!
(3.) Tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah menciptakan laki-laki dan perempuan itu berbeda : otaknya, hormon2nya, alat kelamin, ratio otot daging, kapasitas paru paru dan lain sebagainya.
(4.) Tidak memiliki ketrampilan bicara yang benar, baik dan menyenangkan serta
(5.) Kurang memiliki keterampilan mendengar, sehingga
(6.) Tak mampu berkomunikasi yang baik, bersih dan jelas.
APA AKIBATNYA?
Masing masing seperti terperangkap dalam diri sendiri. Bagaimana jalan keluarnya? Mana bisa kita ceritakan sama ortu? Sudahlah beliau capek mendidik kita, menyekolahkan, mengawinkan. Masa masalah kita, kita bawa juga ke mereka. Kawin di jodohkan saja tidak mudah kita adukan apalagi ini pilihan kita sendiri. Tangan mencincang bahu memikullah. Kalau diceritakan ke orang lain, aib hukumnya. Menceritakan kekurangan atau kejelekan pasangan, bisa-bisa gak dapat mencium wanginya syurga!
Jadi terasa seperti api dalam sekam, panas terus tapi jangankan ada pintu atau jalan keluar, asap saja tak bisa dihembuskan. Ini yang membuat kadang-kadang semangat redup karena hati luka – merasa terkunci di hati sendiri, sulit ditemukan apalagi diberi pertolongan!

Harapan timbul tenggelam, “Ah.. siapa tahu nanti membaik. Siapa tahu kalau anak sudah lahir, siapa tahu kalau ada adiknya pula.. siapa tahu…..”
APA YANG TERJADI SELANJUTNYA?
Kebutuhan semakin beda, marah mencuat, bersitegang – bertengkar, saling: merendahkan, menyalahkan, menjelek-jelekan & menjatuhkan, saling menuduh, menghakimi, mencap, bahkan sampai menyebut-nyebut orang tua. Akhirnya saling diam-diaman, bicara seperlunya saja semuanya membuat semakin sunyi di hati.

Sudah jelas dalam keadaan seperti ini sulit bagi masing-masing pasangan untuk menunjukkan pengertian, pengakuan apalagi pujian!

Satu tempat tidur tapi seperti beda planet! Berpapasan dipintu berusaha jangan senggolan, beradu kaki ditarik buru2. Kamar sering sekali sunyi, masing-masing dengan aktifitas sendiri sendiri. Tapi hati semakin luka, semakin perih.

Kalau ada tamu : standard ganda. Saling menyebut dan menyapa, seolah tidak terjadi apa-apa : “Iya begitu kan ya Ma/Pa?” (Hahahaha). Begitu tamu pulang, sunyi dan senyap kembali…
Kebutuhan untuk diterima dan didengarkan tetap ada pada masing-masing, sebagai kebutuhan dasar agar tetap menjadi manusia, mulailah terjadi perselingkuhan atau punya teman curhat yang biasanya berujung maksiat atau kawin lagi. Yang popular sekarang adalah BINOR (Bini Orang) atau LAKOR (Laki Orang), yaitu selingkuh dengan teman sekerja, sekantor atau lain kantor atau teman SMP dan SMA dulu. Semua dijaga ; Tahu sama Tahu. Kalau hamil kan punya suami! Yang paling buruk adalah selingkuh sejenis, seperti yang sering dibicarakan akhir-akhir ini. Yang jelas kebutuhan jiwa dapat, material apalagi!
Bayangkan bagaimana bermasalah anak-anak yang tumbuh dalam keluarga seperti ini? Sudahlah mungkin rezeki tidak halal dan thayyib, orang tuanya berbuat maksiat pula.

Banyak sekali orang tidak tahu, memang belum ada penelitiannya, bahwa bila seorang Ayah atau Ibu melakukan maksiat, pasangannya mungkin bisa dikelabuinya, tapi tidak dengan Allah dan anaknya!
Pengalaman saya menunjukkan bahwa anak yang tadinya manis, patuh dan berkelakuan baik, bisa tiba-tiba gelisah, tempramen, tantrum, tak bisa mengendalikan diri, marah, ngamuk dsb. Bila secara diam-diam salah satu ortunya berzina! Bayangkan, berapa banyak sekarang pasangan melakukan hal itu dan hubungkan dengan keresahan jiwa dan kenakalan remaja.
Dalam iklim psikologis, dirumah yang buruk sekali itulah anak tumbuh dan berkembang. Bayangkanlah dampak bagi perkembangan kejiwaan, emosi, kecerdasan, social dan spititualnya!
JADI, BAGIMANA SEBAIKNYA?
Pertama, harus disadari benar bahwa KOMUNIKASI PASANGAN ini sangat PENTING karena ia MENCERMINKAN IKLIM RUMAH : fondasi keluarga, kesehatan pribadi, kesehatan anggota keluarga, cerminan: kekuatan, kelemahan & kesulitan perkawinan dan kelanjutan serta kepuasan hidup!

Intinya, kalau suami usia masih muda sudah sakit-sakitan jangan-jangan ada masalah besar dengan istrinya. Sebaliknya, bila istri masih-muda sakit-sakitan, jangan-jangan suaminya bermasalah!
Untuk itu, kenalilah masa lalu masing-masing pasangan. Apa dan pengasuhan yang bagaimana yang membuatnya seperti sekarang ini yang kita uraikan diatas. Perjodohan adalah sebagian dari iman, karena tidak akan berjodoh Anda dengan pasangan Anda kecuali dengan izin Allah. Jangan mudah menceraikan atau minta cerai, karena itu adalah pekerjaan halal yang dibenci Allah. Perkawinan adalah perjanjian yang sangat kokoh : “Mitsaqan Galidha”. Allah lebih tahu, dari yang Anda rasa dan fikir kurang atau buruk, disitu banyak kelebihan dan kebaikan menurut Allah.

Tapi karena kita kurang waspada dan menyadari bahwa syaithan tujuan utamanya adalah untuk menghancurkan perkawinan, seperti yang dilakukannya terhadap Nabi Adam dan Ibu Hawa, maka kita akan terkurung dalam penilaian dan pemikiran yang buruk saja tentang pasangan kita.
Jadi, berusahalah untuk meningkatkan keimanan, mintalah pertolongan Allah agar dibukakan mata hati kita untuk : bersyukur, menerima ketentuan Allah, bersangka baik, melihat kelebihan lebih banyak dari kekurangan, menemukan “Inner child” pasangan dan berusaha memaklumi dan perlahan merubahnya. 
Kesulitan utama yang banyak dihadapi orang adalah karena dia tidak mengenal dirinya sendiri. Dia sendiri memiliki “inner child” yang parah dan terperangkap disitu. Dia sendiri melimpah, sehingga bagaimana mungkin menolong pasangannya. Dalam situasi seperti ini pasangan ini memerlukan pertolongan ahli, bahkan mungkin butuh terapi. Bila hal ini tidak segera dilakukan, penderitaan keduanya bisa berkepanjangan karena yang jadi korban adalah harapan satu-satunya dimasa depan yaitu : anak-anak mereka !
Selanjutnya adalah menyadari bahwa Allah menciptakan otak kita ini berbeda. Jadi pelajarilah akibat perbedaan ini lewat syeikh Google atau mbah Wiki, dan apa dampaknya pada salah pengertian dan salah harapan antara suami dan istri.
Langkah berikutnya untuk memperbaiki komunikasi adalah belajar MENJADI “PENDENGAR” YANG BAIK. Memang tidak mudah, karena kita dari kecil diajarkan untuk bicara dan bicara : lewat lomba pidato, story telling, debat dan lain sebagainya. Tapi tidak ada lomba mendengar!
MENDENGAR YANG BAIK ADA KIATNYA :
(1.) Hindari penghalang mendengar, yaitu : lebih mudah membuat jarak dengan pasangan, malas komunikasi, kalau ngomong bukannya dengar tapi memikirkan jawaban, menyaring tanda-tanda bahaya dalam percakapan, mengumpulkan data-data untuk mengutarakan pendapat dan memberikan penilaian terhadap apa yang di kemukakan oleh pasangan.
(2.) Berusahalah mendengar yang benar dengan : bukan hanya diam di depan pasangan yang sedang bicara tapi cari tahu (tanpa “baca pikiran”) apa yang dimaksudkan, dikatakan dan dilakukan pasangan . Tunjukkan kita mengerti pasangan, sehingga hubungan terasa jadi lebih dekat, bisa menikmati kebersamaan, menciptakan dan melanggengkan keintiman.
(3.) Mendengar yang benar membutuhkan COMMITMENT & COMPLIMENT. Commitment/ kesepakatan dengan diri kita sendiri artinya dalam mendengar kita berusaha untuk: Mengerti, Memahami, Menyisihkan minat dan kebutuhan pribadi , Menjauhkan prasangka dan berusaha untuk Belajar melihat dari sudut pandangan pasangan.

Sedangkan Compliment/hadiah adalah menunjukkan pada pasangan bahwa “Saya peduli kamu, Saya ingin tahu apa yang kamu pikir atau apa yang kamu rasakan dan apa yang kamu butuhkan”.
Semua ini memang tidak gampang tapi bukan hal yang mustahil untuk dilakukan. Cobalah sedikit-sedikit asal jangan Anda menyerah dan kembali ke pola komuniasi yang semula.

Mungkin yang penting sekali untuk Anda ingat :

Kalau ada kerikil dalam sepatu, terasa menganggu dipakai berjalan, buka sepatunya buang kerikilnya, bukan sepatunya yang Anda ganti. Tidak ada manusia yang sempurna, termasuk Anda!.
Yakin bahwa Anda bisa. Pasti bisa!!
Salam hangat,

Elly Risman, Psi
#EllyRismanParentingInstitute

#ParentingEraDigital
Sumber : WA

IBU BEKERJA Vs. IBU RUMAH TANGGA

​Share Rangkuman Kajian Ahad Pagi
Oleh: Ustadz Bendri Jaisyurrahman
_Masjid Ukhuwah Islamiyah_

_Universitas Indonesia, Depok_

Ahad, 23 Juli 2017 
Rangkuman:
🌸 *Kita tidak bisa menghakimi sembarangan ibu yang bekerja,* karena terdapat beberapa situasi yang tidak bisa dipungkiri membuat seorang ibu harus bekerja. 

1. Seorang janda, yang harus menafkahi anak-anaknya. Apalagi di negara kita tidak ada santunan untuk janda.

2. Pos-pos profesi yang tidak bisa diisi lelaki demi kemaslahatan umat, seperti: dokter kandungan, perawat, atau (juga) guru. 
🌸 *Tidak ada satupun ulama melarang wanita untuk bekerja.* 

Perbedaan pendapat hanya terjadi pada lapangan pekerjaan apa saja yang boleh dirambah para wanita. (Syaikh Bin Baz fatwa 4167)
🌸 *Tiga syarat (minimal) pekerjaan untuk wanita:*
1. Pekerjaan itu pekerjaan yang disyariatkan

– jelas, tidak ada riba, tidak ada maksiat

– tidak “melayani” laki-laki 

– tidak melenggak-lenggok

– di tempat yang tidak bercampur baur dengan lelaki

– dsb
2. Memenuhi adab wanita muslimah

– pakaian syari

– cara bicara (tidak menggoda)

– tidak bersama laki-laki berdua dalam ruangan 

– tidak safar dengan bukan mahram

– dsb
3. Tidak mengabaikan kewajiban pokok sebagai isteri dan ibu

_ibu itu profesi utama, *bukan sambilan*_
🌸 *Wanita itu utamanya di rumah* 

Terdapat dalam Al-Ahzab ayat 33:

_”Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu, dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”_

_”Seorang wanita datang menemui Rasulullah SAW kemudian berkata: Wahai Rasulullah, laki-laki memiliki keutamaan dan mereka juga berjihad di jalan Allah. Apakah bagi kami kaum wanita bisa mendapatkan amalan orang yang jihad di jalan Allah? Rasulullah menjawab: Barangsiapa yang tetap tinggal di rumah maka pahalanya sama dengan berjuang di jalan Allah.”_ (Ibnu Musayyab)
🌸 *Dalam hukum islam:*

Wanita bekerja itu boleh.

Tetapi kalau mau ambil peran utama, utamanya di rumah.

Wanita itu idealnya di rumah.

Tempat terbaiknya di rumah.
🌸 *Lalu yang bekerja, apakah buruk di hadapan Allah?*

Wanita, utamanya memang di rumah. Tidak di rumah, berarti tidak utama. *_Tidak utama bukan berarti (atau tidak sama dengan) hina._*

Yang utama, ibu di rumah.

Ibu yang bekerja, hina? Tidak.

Sebagiamana sabda Rasulullah:

_Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah dan pada keduanya ada kebaikan._ (HR. Muslim)

Jadi,

Orang yang kuat lebih utama daripada yang lemah.

Tetapi dua-duanya tetap baik hanya beda derajatnya. 
🌸 *Keutamaan dalam Islam ada syaratnya. Syaratnya gugur atau tidak dipenuhi, gugurlah keutamaannya.*

Ibu sudah di rumah? Penuhi syaratnya. Supaya dapat keutamaan.

Ibu di rumah, tetapi tidak dipenuhi syaratnya, ya tidak dapat keutamaan. 

Kita sering menemui Ibu yang di rumah tetapi malah sibuk dengan gadgetnya, bisnis onlinenya, sehingga sama saja tidak mengurus anaknya.
Jadi apa syaratnya?

🌸 *_”Nikahilah olehmu wanita yang wadud dan walud._* (HR. Abu Daud dan An Nasa’i)

*Walud: subur, bisa hamil/memiliki anak*

Wanita dapat keutamaan utamanya ketika memiliki anak, ketika bisa memberikan anak pada suaminya. 

Tetapi sebelum punya anak, ada sifat yang harus dimiliki wanita, 

*_Al-Wadud_*.

*Wadud = Mawaddah*

Berasal dari kata *Al-Wud*.

Wadud = untuk perannya sebagai ibu

Mawaddah = untuk perannya sebagai isteri

Sebagaimana kita tahu pengertian mawaddah adalah kecenderungan suami dan isteri untuk terus berdekatan. 

*Wadud adalah kasih sayang yang membuat anak mendekat.*

Jadi kata Ustadz Bendri:

_*Silakan bekerja, silakan berumah tangga, asalkan tetap buat anakmu terikat hati denganmu.*_
🌸 Jangan bangga ketika anakmu mampu melakukan sesuatu sebelum waktunya. Karena setiap amal ada waktunya, setiap waktu ada amalnya. Bisa jadi hal itu karena ibu gagal mengikat hati anaknya.

Pada usia 0 — 2 tahun, idealnya anak ingin selalu dekat dengan ibunya. Oleh karena itu, jangan sampai orang lain lebih sering dilihat oleh anak daripada ibunya.
🌸 *Indikator Ibu yang Al-Wadud:*

– Anak merasa bahagia ibunya di rumah, tidak suka keluyuran saat ibunya di rumah 

– Anak mampu bercerita pengalamannya apa saja (anak dan ibu tidak ada rahasia)
🌸 *MISI PERTAMA IBU: Mengikat hati anak.*

_”Sesungguhnya hati adalah raja, sedangkan anggota badan ibarat prajuritnya.”_ (Majmu’ Al-Fatwa)
🌸 *KESIMPULAN*

_*Sebelum keutamaan dikejar, kejar dulu syaratnya, Al-Wadud. Asah terus itu Al-Wadud. Jauhi hal-hal atau pekerjaan yang mematikan Al-Wadud.*_
Demikian, mohon maaf jika banyak kekurangan. 

Semoga bermanfaat. 
Video kajian bisa diakses di Facebook Masjid Ukhuwah Islamiyyah UI.

👇🏻

fb.me/masjidui
Sumber : WAG

​MENGAPA KETIKA MARAH ORANG BERTERIAK DAN KETIKA BERCINTA BERBICARA DENGAN SUARA LIRIH?

Suatu saat seorang guru  berjalan dengan para muridnya, lalu mereka melihat  sebuah keluarga yang tengah bertengkar, dan saling berteriak.
Guru tersebut berpaling kepada muridnya dan bertanya : “Mengapa orang saling berteriak jika mereka sedang marah?”.
“Karena kehilangan sabar, makanya mereka berteriak.” jawab salah satu murid dari mereka.
“Tetapi , mengapa harus berteriak kepada orang yang tepat berada di sebelahnya?

Bukankah pesan yang ia sampaikan , bisa ia ucapkan dengan cara halus ?”. Tanya sang guru  menguji murid-muridnya.
Muridnya pun saling beradu jawaban, namun tidak satupun jawaban yang mereka sepakati.
Akhirnya sang guru berkata : “Bila dua orang sedang marah, maka hati mereka saling menjauh. Untuk dapat menempuh jarak yang jauh itu, mereka harus berteriak agar perkataannya dapat terdengar. Semakin marah, maka akan semakin keras teriakannya. Karena jarak kedua hati semakin jauh”.
“Begitu juga sebalssali, di saat kedua insan saling jatuh cinta?” lanjut sang guru.
“Mereka tidak saling berteriak antara yang satu dengan yang lain. Mereka berbicara lembut karena hati mereka berdekatan. Jarak antara ke 2 hati sangat dekat.”
“Bila mereka semakin lagi saling mencintai, apa yang terjadi?”, Mereka tidak lagi bicara. Mereka Hanya berbisik dan saling mendekat dalam kasih-sayang. Pada Akhirnya, mereka bahkan tidak perlu lagi berbisik. Mereka cukup hanya dengan saling memandang. Itu saja. Sedekat itulah dua insan yang saling mengasihi.”
Sang guru memandangi muridnya dan mengingatkan dengan lembut : “Jika terjadi pertengkaran diantara kalian, jangan biarkan hati kalian menjauh. Jangan ucapkan perkataan yang membuat hati kian menjauh. Karena jika kita biarkan, suatu hari jaraknya tidak akan lagi bisa ditempuh”
ALLAHUMMA sholli ‘alaa sayyidina Muhammad ‘
Sumber : WAG