​FIRASAT SANG JURU DAKWAH

Kalau kita membaca buku” Ikhwanul Muslimin; Ahdats Shana’at-Tarikh”, kita akan melihat bahwa perjalanan awal asy-syahid Sayyid Quthub, sering melontarkan gagasan nyeleneh pada Islam.   
Saat itu di Mesir terbit majalah sastra yang menjadi ajang pertemuan 20 sastrawan. Salah satu kubunya adalah para tokoh aliran sastra bebas yang dikomandani oleh Abbas Mahmud Al Aqqad, dan kubu lainnya adalah sastrawan muslim yang dikomandani oleh Musthofa Shadiq Ar-Rafi’i. 
Sayyid Qutub adalah murid pilihan Al Aqqad. Ketika Musthofa meninggal, Al Aqqad naik, karena tidak ada saingan, murid-muridnya diberi rangsangan untuk menulis. Dalam sebuah surat kabar mingguan, Sayyid Qutub menulis makalah di mana dia menyerukan kepada para wanita muslimah untuk membuka auratnya, karena menutup aurat dianggap olehnya sebagai penghambat kemajuan wanita.
Tulisan ini dibaca oleh Ustadz Abdul Halim Mahmud dan beliau membuat tanggapan. Tapi sebelum tanggapan ini dimuat di media massa, Ustadz Abdul Halim mendiskusikannya terlebih dahulu dengan Imam Hasan Al Banna.
Kata Imam Al Banna: “Saya menyetujui 100 % tulisan kamu, tapi saya memiliki perasaan lain tentang orang ini, berilah beberapa pertimbangan:
Pertama: Dia masih muda, dan apa yang ditulisnya bukanlah dari otaknya sendiri, tapi dari lingkungannya.
Kedua: Anak muda biasanya menyenangi sensasi dan mencari musuh, apa yang dilakukan Sayyid Quthub oleh Imam Al Banna dinilai sebagai upaya mencari eksistensi diri.
Ketiga: Karena dia masih muda, kita masih memiliki harapan, siapa tahu dia akan menjadi pemikul beban da’wah.
Pertimbangan yang lain, kata Imam Al Banna, dia (Sayyid Quthub) menulis di surat kabar yang tidak terlalu terkenal di Mesir ini. Kalaupun dikenal, makalah atau kolom, umumnya tidak terlalu menarik perhatian orang banyak untuk membacanya, apalagi kalau ditulis oleh seorang pemula yang belum memiliki nama. Kalau kita menanggapinya, orang-orang yang semula tidak tahu menjadi ingin mengetahuinya, dan orang-orang yang mungkin pernah membaca secara selintas akan mengulang kembali membacanya untuk mengenali muatan tulisan tersebut. 
Tujuan anak muda ini menulis adalah untuk mendapatkan serangan atau tantangan dari khayalak yang dengan serangan itu akan menaikkan dan mengangkat namanya. 
Imam Al Banna berkata lagi: “Kalau kita bantah tulisan itu, kita berarti menutup kesempatan diri pemuda itu untuk bertobat karena orang cenderung untuk membela diri jika kesalahannya diluruskan, apalagi bila pelurusan itu dilakukan di depan umum, ia akan membela dirinya mati-matian,meskipun dalam hati kecilnya ia menyadari kesalahan atau kekeliruannya. Dengan demikian, kalau tanggapan itu kita lakukan, berarti kita telah menutup kesempatan bertaubat bagi dirinya”.
Akhirnya Imam Hasan Al Banna mengatakan: “Wahai Mahmud, inilah pandanganku tentang orang ini, akan tetapi, kalau engkau tetap ingin mengirimkannya, silahkan saja”.
Ustadz Abdul Halim Mahmud setuju untuk meninjau kembali rencana pengiriman tulisan itu, sehingga akhirnya tulisan itu tidak jadi dikirim. 
Dan pada akhirnya, terbuktilah kebenaran firasat Imam Hasan Al Banna, sebab pada akhir  perjalanan hidupnya, Sayyid Quthub menjadi penopang dan pemikul beban da’wah dan iapun bergabung didalamnya.
*Dari FB Ustadz DH Al Yusni*
Sumber : broadcast wa

SAMAHAH

Oleh: Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi

Pada tahun 1936 Samuel Zwemer memberi trik-trik metode Kristenisasi kepada para missionaries di Jerussalem. Ia berpesan “tugas kalian bukan mengkristenkan orang Islam tapi merobah cara berfikir orang Islam, agar nanti lahir generasi Muslim yang memusuhi agamanya”.  Trik itu kini berjalan dengan baik dan relatif berhasil. Trik penyebaran agama a la Zwemer itu nampak tidak memaksa tapi sejatinya menipu.

Islam tidak mengajarkan cara-cara berda’wah seperti itu. Prinsip Islam jelas “tidak ada paksaan dalam beragama ” (QS 2:256). Beragama bukan basa-basi. Artinya orang tidak boleh terpaksa atau pura-pura dalam beragama Islam. Islam hanya menunjukkan dan mengajak ke jalan yang benar dari jalan yang salah atau sesat. Ajakan itu ada tiga tingkatan dengan argumentasi yang bijak (hikmah), nasehat yang baik (mauizah hasanah) atau dengan debat yang sehat (jadal). Jika mereka menolak maka tidak perlu dan tidak boleh memaksa. Muslim bahkan tetap harus melindungi mereka, membebaskan mereka menganut agama mereka. Itulah toleransi dalam Islam.

Tema untuk makna toleransi dalam Islam adalah samahah. Tasamuh artinya bersikap mudah dan tenang, halus atau moderat alias tidak ekstrim. Orang Arab biasa membuat ungkapan asmih yusmah, permudahlah niscaya akan dipermudah. Tahanawi dalam al-Ta’rifat mengartikan tasamuh sebagai melakukan sesuatu yang tidak berlebihan. Dalam kamus Tajul Arus terdapat istilah millatun samhah atau agama yang tidak sulit. Tapi dalam kamus Arabic-English Dictionary, samaha diartikan toleran.

Dalam hadith riwayat Ibn Abi Syaybah dan Bukhari Nabi bersabda: ahabbu al-din ila Allah al-hanafiyyah al-samhah (beragama yang paling disukai Allah adalah yang lurus dan mudah). Dalam hadith lain Nabi bersabda: Ursiltu bi al-hanafiyyat al-samhah (aku diutus [Allah] dengan [sikap] lurus dan mudah).

Ajaran ini benar-benar di praktekkan dengan baik dalam aktifitas da’wah para ulama di zaman dulu. Di Andalusia dan Cordoba, misalnya kebebasan untuk para pemeluk agama selain Islam sungguh dijamin. Penduduk Kristen diberi hak memiliki pengadilan sendiri berdasarkan “hukum” Kristen. Ibadah Kristen tidak terganggu sedikitpun. Kebaktian massal masih bebas di adakan di lapangan. Semua itu tidak dinikmati Muslim dinegara Barat sekarang.

Bahkan pendirian gereja tidak perlu izin khalifah. Dalam aktifitas sehari-hari umat Kristiani bebas memilih pakaiannya. Biarawati tidak dilarang memakai jilbab atau pakaian keagamaan mereka. Bahkan para pemeluk agama Kristen mendapat hak yang sama dengan Muslim menjadi pegawai sipil mapun militer. Tidak terbayangkan Negara non-Muslim saat ini ada yang bisa setoleran itu.

Muhammad al-Makkari dalam bukunya The History of the Muhammedan Dynasties of Spain (jld.I) mencatat bahwa karena umat Kristen tidak toleransi terhadap keyakinan kaum pagan, maka mereka membenci agama itu. Merasa dihargai mereka berbondong-bondong masuk Islam. Toleransi ternyata memiliki hikmah yang dalam, dan efektifitas da’wah yang tinggi.

Akibat dari tingginya sikap toleransi ini, kaum Yahudi dan Nasrani di Spanyol merasa hidup nyaman berabad-abad lamanya. Orang tentu akan ingat akan zaman Umar bin Khattab ketika memerintah Yerussalem. Mithaq Umar adalah masa indah hubungan tiga agama yang tidak pernah dilupakan oleh Yahudi dan Nasrani yang tulus. Tentu kerukunan beragama seperti ini tidak mereka temui dalam lingkungan agama Kristen.

Anehnya, energi damai dan toleransi umat Islam di Spanyol itu telah merembes ke bidang-bidang lain. Pelajaran bahasa Arab lebih disukai ketimbang pelajaran bahasa Latin di sekolah-sekolah Kristen waktu itu. Akibatnya, banyak syair Arab yang ditulis oleh para penyair Kristen abad ke 11. Yang lebih menyolok lagi para pendeta justru lebih menguasai bahasa Arab ketimbang bahasa Latin. Maka tidak heran jika seorang penulis Spanyol berkeluh kesah:”kita sibuk mengkaji hukum-hukum Islam seperti beo dan lalai membaca Injil.”

Bukan hanya toleransi, tapi kedamaian, kesantuan, dan keterpelajaran umat Islam telah mencuri hati orang Kristen. Banyak orang Kristen yang meniru-niru gaya hidup orang Islam atau orang Arab. Tren ini kemudian disebut Mozarab. Cara berpakaian, makanan, minuman dan bahkan khitan pun diikuti oleh orang-orang Kristen. Lebih dari sekedar ke Arab-Araban banyak orang Kristen Spanyol yang lebih nyaman menjadi Muslim daripada tetap memeluk Kristen. Akhirnya lahirlah generasi Muslim dari golongan Muwallah, yakni penduduk Muslim tapi keturunan Spanyol. Mungkin ini aneh, sebab wajah bukan Arab tapi Muslim, kulit putih tapi terpelajar.

Banyak kisah tentang keindahan peradaban Islam di Spanyol yang dirindukan orang yang suka damai. Namun, toleransi yang tulus bagai susu itu dibalas dengan air toba. Ketika pasukan Ferdinand dan Isabela merebut Malaga tahun 1487 orang-orang Muwallah ini disiksa sampai mati. Pada tahun 1610, umat Islam diusir secara biadab (baca: tanpa adab) dari Spanyol. orang-orang Muawallah itu juga ikut diusir oleh tim Inquisisi.

Di antara saksi sejarah yang selamat dari pengusiran itu menulis catatatan protes:”pernahkan nenek moyang kami mengusir orang-orang Kristen dari Spanyol? Tidakkah mereka memberi kebebasan kepada kalian beribadah? Orang masuk Islam semata-mata atas keinsyafan sendiri dan tanpa suatu paksaan. Anda tidak akan pernah menemukan perlakuan umat Islam seperti yang dilakukan oleh tim Inquisisi yang menjijikkan itu.”

Karena perlakuan tidak manusiawi itu seorang Archbishop dari Valencia tahun 1602 sadar dan menulis kepada Raja Philip III “mereka (para Muwallah) tidak selayaknya dihukum seberat itu, mengingat sikap mereka yang sangat toleran dalam soal-soal keyakinan agama”.

Namun, apapun yang terjadi Islam adalah agama misi, tapi tidak memaksa. Aqidahnya meneguhkan keesaan Tuhan, dan syariatnya memuliakan kemanusiaan.

Peperangannya untuk kedamaian dan kedamaiannya untuk kemakmuran. Keindahan kehidupan sosialnya mencerminkan ketulusan persahabatan dan keluhuran nurani. Prinsip-prinsip keilmuannya mencerahkan dan implikasi amalnya menjadi rahmat bagi siapapun yang merasakan dengan lubuk hati yang paling dalam. Sungguh tepat kesimpulan Thomas Walker Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam bahwa “Islam adalah agama yang penuh toleransi, dan disiarkan dengan penuh damai”.

Sumber : broadcast wa

Amanah Itu

Sejatinya amanah itu ..

Bukan karena kamu mampu

Bukan pula karena mereka merasa kamu mampu

Bukan karena kamu tahu kapasitasmu

Bukan pula karena mereka tahu kapasitasmu

Dan jangan sampai pula karena kemauanmu

Amanah itu kehendak Allah
Rencana Allah SWT atas kehidupanmu

Bahkan sekiranya semua orang di sekitarmu berhimpun untuk menjauhkanmu dari amanah itu, jika Allah tahu itu yang terbaik bagimu, maka ia berikan amanah itu kepadamu

Bahkan sekiranya semua orang di sekitarmu bersepakat menyatakan bahwa kamu tak mampu, jika Allah tahu amanah itu jalan terbaik untuk meningkatkan kapasitas dirimu, maka Ia tetap berikan amanah itu kepadamu

Bahkan sekiranya semua orang di sekitarmu berupaya maksimal agar seseorang yang BUKAN DIRIMU yang mengemban amanah itu, jika Allah ingin mendidikmu dengan amanah itu, maka Ia berikan amanah itu kepadamu

Bahkan sekiranya seluruh aibmu seketika memenuhi fikiranmu dan membuat berhenti melangkah karena ragu, jika Allah tahu amanah itu akan membuatmu menjadi hamba yang semakin baik dan semakin dekat dengan-Nya, maka amanah itu akan Dia berikan kpdamu

Percayalah, ada rencana terbaik yang sudah Allah persiapkan, sikapilah dengan ikhtiar terbaik yang kamu lakukan, serta pertanggungjawaban terbaik yang bisa kamu persiapkan

Sekali lagi, ini bukan tentang kamu dan mereka
Ini TENTANG KAMU DAN DIA (ALLAH)

Dan melangkahlah dengan percaya, bahwa bersama-Nya semuanya akan baik2 saja
Semangat karena ALLAH 🙂
(Ahmad Zaky)

Semangat Sahabatkuuu, ingat yaa akan selalu ada Allah yang akan menguatkan kamu 🙂
Ingat kan kata-kata Umar 🙂
Jika kita bersenang2 dalam dosa, maka kesenangan itu akan hilang dan dosa akan ttp kekal. Namun, jika kita berlelah-lelah dalam kebaikan, insyaAllah lelah itu akan hilang dan digantikan dengan kebaikan2 yang kekal 🙂

Sumber : broadcast wa

Mengelola Ketidaksetujuan Terhadap Hasil Syuro

Senin, April 04, 2016

Oleh : Anis Matta, Lc.

“Perbedaan adalah sumber kekayaan dalam kehidupan berjamaah. Mereka yang tidak bisa menikmati perbedaan itu dengan cara yang benar akan kehilangan banyak sumber kekayaan. Dalam ketidaksetujuan itu sebuah rahasia kepribadian akan tampak ke permukaan: apakah kita matang secara tarbawi atau tidak?”

RASANYA PERBINCANGAN kita tentang syuro tidak akan lengkap tanpa membahas masalah yang satu ini. Apa yang harus kita lakukan seandainya tidak menyetujui hasil syuro? Bagaimana “mengelola” ketidaksetujuan itu?

Kenyataan seperti ini akan kita temukan dalam perjalanan dakwah dan pergerakan kita. Dan itu lumrah saja. Karena, merupakan implikasi dari fakta yang lebih besar, yaitu adanya perbedaan pendapat yang menjadi ciri kehidupan majemuk.

Kita semua hadir dan berpartisipasi dalam dakwah ini dengan latar belakang sosial dan keluarga yang berbeda, tingkat pengetahuan yang berbeda, tingkat kematangan tarbawi yang berbeda. Walaupun proses tarbawi berusaha menyamakan cara berpikir kita sebagai dai dengan meletakkan manhaj dakwah yang jelas, namun dinamika personal, organisasi, dan lingkungan strategis dakwah tetap saja akan menyisakan celah bagi semua kemungkinan perbedaan.

Di sinilah kita memperoleh “pengalaman keikhlasan” yang baru. Tunduk dan patuh pada sesuatu yang tidak kita setujui. Dan, taat dalam keadaan terpaksa bukanlah pekerjaan mudah. Itulah cobaan keikhlasan yang paling berat di sepanjang jalan dakwah dan dalam keseluruhan pengalaman spiritual kita sebagai dai. Banyak yang berguguran dari jalan dakwah, salah satunya karena mereka gagal mengelola ketidaksetujuannya terhadap hasil syuro.

Jadi, apa yang harus kita lakukan seandainya suatu saat kita menjalani “pengalaman keikhlasan” seperti itu?

Pertama,

marilah kita bertanya kembali kepada diri kita, apakah pendapat kita telah terbentuk melalui suatu “upaya ilmiah” seperti kajian perenungan, pengalaman lapangan yang mendalam sehingga kita punya landasan yang kuat untuk mempertahankannya? Kita harus membedakan secara ketat antara pendapat yang lahir dari proses ilmiah yang sistematis dengan pendapat yang sebenarnya merupakan sekedar “lintasan pikiran” yang muncul dalam benak kita selama rapat berlangsung.

Seadainya pendapat kita hanya sekedar lintasan pikiran, sebaiknya hindari untuk berpendapat atau hanya untuk sekedar berbicara dalam syuro. Itu kebiasaan yang buruk dalam syuro. Namun, ngotot atas dasar lintasan pikiran adalah kebiasaan yang jauh lebih buruk. Alangkah menyedihkannya menyaksikan para duat yang ngotot mempertahankan pendapatnya tanpa landasan ilmiah yang kokoh.

Tapi, seandainya pendapat kita terbangun melalui proses ilmiah yang intens dan sistematis, mari kita belajar tawadhu. Karena, kaidah yang diwariskan para ulama kepada kita mengatakan, “Pendapat kita memang benar, tapi mungkin salah. Dan pendapat mereka memang salah, tapi mungkin benar.”

Kedua,

marilah kita bertanya secara jujur kepada diri kita sendiri, apakah pendapat yang kita bela itu merupakan “kebenaran objektif” atau sebenarnya ada “obsesi jiwa” tertentu di dalam diri kita, yang kita sadari atau tidak kita sadari, mendorong kita untuk “ngotot”? Misalnya, ketika kita merasakan perbedaan pendapat sebagai suatu persaingan. Sehingga, ketika pendapat kita ditolak, kita merasakannya sebagai kekalahan. Jadi, yang kita bela adalah “obsesi jiwa” kita. Bukan kebenaran objektif, walaupun “karena faktor setan” kita mengatakannya demikian.

Bila yang kita bela memang obsesi jiwa, kita harus segera berhenti memenangkan gengsi dan hawa nafsu. Segera bertaubat kepada Allah swt. Sebab, itu adalah jebakan setan yang boleh jadi akan mengantar kita kepada pembangkangan dan kemaksiatan. Tapi, seandainya yang kita bela adalah kebenaran objektif dan yakin bahwa kita terbebas dari segala bentuk obsesi jiwa semacam itu, kita harus yakin, syuro pun membela hal yang sama. Sebab, berlaku sabda Rasulullah saw., “Umatku tidak akan pernah bersepakat atas suatu kesesatan.” Dengan begitu kita menjadi lega dan tidak perlu ngotot mempertahankan pendapat pribadi kita.

Ketiga, 

seandainya kita tetap percaya bahwa pendapat kita lebih benar dan pendapat umum yang kemudian menjadi keputusan syuro lebih lemah atau bahkan pilihan yang salah, hendaklah kita percaya mempertahankan kesatuan dan keutuhan shaff jamaah dakwah jauh lebih utama dan lebih penting dari pada sekadar memenangkan sebuah pendapat yang boleh jadi memang lebih benar.

Karena, berkah dan pertolongan hanya turun kepada jamaah yang bersatu padu dan utuh. Kesatuan dan keutuhan shaff jamaah bahkan jauh lebih penting dari kemenangan yang kita raih dalam peperangan. Jadi, seandainya kita kalah perang tapi tetap bersatu, itu jauh lebih baik daripada kita menang tapi kemudian bercerai berai. Persaudaraan adalah karunia Allah yang tidak tertandingi setelah iman kepada-Nya.

Seadainya kemudian pilihan syuro itu memang terbukti salah, dengan kesatuan dan keutuhan shaff dakwah, Allah swt. dengan mudah akan mengurangi dampak negatif dari kesalahan itu. Baik dengan mengurangi tingkat resikonya atau menciptakan kesadaran kolektif yang baru yang mungkin tidak akan pernah tercapai tanpa pengalaman salah seperti itu. Bisa juga berupa mengubah jalan peristiwa kehidupan sehingga muncul situasi baru yang memungkinkan pilihan syuro itu ditinggalkan dengan cara yang logis, tepat waktu, dan tanpa resiko. Itulah hikmah Allah swt. sekaligus merupakan satu dari sekian banyak rahasia ilmu-Nya.

Dengan begitu, hati kita menjadi lapang menerima pilihan syuro karena hikmah tertentu yang mungkin hanya akan muncul setelah berlalunya waktu. Dan, alangkah tepatnya sang waktu mengajarkan kita panorama hikmah Ilahi di sepanjang pengalaman dakwah kita.

Keempat, 

sesungguhnya dalam ketidaksetujuan itu kita belajar tentang begitu banyak makna imaniyah: tentang makna keikhlasan yang tidak terbatas, tentang makna tajarrud dari semua hawa nafsu, tentang makna ukhuwwah dan persatuan, tentang makna tawadhu dan kerendahan hati, tentang cara menempatkan diri yang tepat dalam kehidupan berjamaah, tentang cara kita memandang diri kita dan orang lain secara tepat, tentang makna tradisi ilmiah yang kokoh dan kelapangan dada yang tidak terbatas, tentang makna keterbatasan ilmu kita di hadapan ilmu Allah swt yang tidak terbatas, tentang makna tsiqoh (kepercayaan) kepada jamaah.

Jangan pernah merasa lebih besar dari jamaah atau merasa lebih cerdas dari kebanyakan orang. Tapi, kita harus memperkokoh tradisi ilmiah kita. Memperkokoh tradisi pemikiran dan perenungan yang mendalam. Dan pada waktu yang sama, memperkuat daya tampung hati kita terhadap beban perbedaan, memperkokoh kelapangan dada kita, dan kerendahan hati terhadap begitu banyak ilmu dan rahasia serta hikmah Allah swt. yang mungkin belum tampak di depan kita atau tersembunyi di hari-hari yang akan datang.

Perbedaan adalah sumber kekayaan dalam kehidupan berjamaah. Mereka yang tidak bisa menikmati perbedaan itu dengan cara yang benar akan kehilangan banyak sumber kekayaan. Dalam ketidaksetujuan itu sebuah rahasia kepribadian akan tampak ke permukaan: apakah kita matang secara tarbawi atau tidak ?

Sumber : broadcast wa

Di Mulai Dari yang Terdekat

Pada saat fase dakwah jahriyah, yaitu saat Rasulullah saw ‘mengumumkan’ sebagai utusan Allah swt, dapat dikatakan melalui proses yang tidak mudah. Walaupun Rasulullah sebagai orang yang dapat dipercaya, apapun yang beliau katakan pasti benar, tapi ketika mengatakan bahwa membawa agama Allah hal ini masih sulit dterima oleh kerabat Rasul.

Seruan dakwah yang dimulai dari kerabat terdekat (QS 26:214), pun terdapat kendala penolakan-penolakan, hal ini menjadi dasar Rasul untuk dakwah secara terang-terangan. Hambatan dalam kerabat dekat tak lantas menghentikan dakwah untuk masyarakat yang lebih luas. Sejarah mencatat keluarga Nabi Luth as, Nabi Nuh as, pun justru yang berpaling, tapi hal ini bukan menjadi hambatan. Dan bukan juga membuat pertentangan atau menjadi permusuhan dengan keluarga karena seruan dalam kebenaran terus dilakukan. Pada kondisi inipun segala bentuk perlawanan bahkan peperangan dihindari terhadap orang yang belum menerima saat itu.

MH 1-3

Dukungan Keluarga

Rasanya tak mudah jika kita akan melakukan suatu hal tapi tidak mendapatkan dukungan keluarga atau bahkan malah mendapat hujatan, cacian, cemoohan, dan sebagainya. Hati berasa sempit, kaki berat melangkah, pundak terasa lebih berat…tapi berbeda dengan para Nabi..

Seperti Kisah Nabi Nuh as yang keluarga terdekatnya pun yaitu istri dan putra tak kunjung beriman hingga akhirnya tenggelam dengan yang lainnya.

Kisah Nabi Luth as, yang istrinya sendiri kafir, kecuali kedua anak perempuanya…dibantu dengan orang-orang beriman yang hanya sedikit dan tidak mampu memberikan pembelaan. Hingga dalam Al Qur’an QS Hud 11: 80.

Rasulullah saw, bersabda :
“Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Nabi Luth. Sesungguhnya dia telah berlindung kepada keluarga yang kuat yakni Allah. Maka setelah Nabi Luth, Allah tidak mengutus seorang nabi kecuali dengan dukungan dari kaumnya.”

Hal ini terbukti keluarga terdekat Rasulullah saw adalah yang pertama beriman dan mendukung. Maka mari mulai dari yang terdekat.

MH 1-4

Generasi Pertama

Dalam bidang apapun dan dalam kondisi apapun generasi pertama menjadi generasi terbaik, terkuat atau terkokoh.

Dalam kancah bela diri, kadang kita dengar pendekar yang sakti dengan ilmunya masing-masing yang berbeda. Dalam kancah ekonomi/bisnis, generasi awal yang merintis dari bawah hingga sukses lebih tau cela2 dan menyiasatinya. Dalam silsilah keluarga, selalu kita dengar jaman dulu tidak seperti jaman sekarang, dulu bapak begini-begini…dulu ibu begitu-begitu..waktu dulu kakek/nenek…dan cerita lainnya.

Bahkan dalam perjalanan Islam pun, generasi pertama, generasi sahabat masih berdengung jelas tentang keutamaan mereka.

Sampai-sampai ketika ada perselisihan antara Khalid bin Walid dan Abdul Rahman bin Auf, Rasulullah saw bersabda :

“Wahai Khalid, jangan engkau usik para sahabatku. Demi Allah, andaikan kamu punya emas sebesar Gunung Uhud kemudian kamu infaqkan di jalan Allah, hal itu belum bisa menyamai salah seorang dari sahabatku atau istrinya.”

Karena dalam perkara keimanan, bukan hal yang mudah mempercayai sesuatu yang baru, berbeda, tapi kebenaran tak terbantahkan, perjuangan yang tak mudah. Keimanan yang kokoh, amalan yang luar biasa, adalah cerita yang selalu membersamai para sahabat. Mari belajar dari mereka.

MH 1-4