Terkadang hak-hak pribadimu…

Quote

​Salah satu nasehat guru (Ust. Umung Anwar Sanusi – yg  kalaulah bukan karenanya mustahil diriku bisa mengenal Rabbku. Teruntuk siapapun yg mengorbankan dirinya di jalan Allah (deedicated to mujahid da’wah dimanapun berada) :

.
 “Terkadang hak-hak pribadimu  tidak dapat kau penuhi. Jangan bertanya kemana yang lain. Jangan bertanya kenapa dirimu sendiri. Jangan mengingat apa yang telah kau korbankan. Jangan mengharap apa yang akan kau dapatkan. Karena sesungguhnya Allah telah memilih dirimu Maka ikhlaskanlah”.

    

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ ۖ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ ۗ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
.

.

Sumber : WAG

Advertisements

Tekad untuk Tetap Istiqomah Berdakwah

Notulensi ​Kajian CIA

.
Ust. Rayen

.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

.
🍒🌿🍒  

.

Diawali surah an nahl
 📜 Lebah (An-Naĥl):125 – Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk

 🍒🌿🍒  

Dari surah an nahl ayat 125 ini menjelaskan kita untuk berdakwah dgn cara yg baik dan membantah pun dgn cara yg baik.

.
Dimana asal mula izzah jamaah ini akn dimulai dari diri kita pribadi kaum muslimin kpd seluruh umat manusialah.

.
Ketika ana pahami apa yg terdapat dlm kandungan ayat tersebut, ana bulatkan tekad untuk tetap istiqomah berdakwah walau hanya sndirian.

.
Ana smakin kuat berdakwah setelah lihat statement Allah

*”sesungguhnya tuhanmu dialah yg lebih mengetahui tentang siapa yg tersesat dari jalanNya dan dialah yg lebih mengetahui orang2 yg mendapat petunjuk“*

.
Dari sini ana pahami bahwa dakwah itu hakikatnya mnyampaikan, bukan memaksakan, krena Allah yg lebih mngertahui dan *berhak* menentukan siapa yg dpt HIDAYAH/petunjuk, dan siapa yg tersesat di jalanNya.

.
Salah satunya ana dapat pengalaman yg cukup menguras hati.

.
Ana sering mengelukan, mengapa di mushola ana tiap subuh tak ada seorang pun,..

.
Bahkan ana sering sekali adzan sndiri iqomah sndiri, imam sndiri jmaah sndiri…

#mbloo 😓

.
Smpat miris terasa, padahal toa mesjid sangat dekat dgn rumah2 warga.. Dlm hati terbesit “ya Allah apa sbnarnya yg salah di daerah ini, knapa stiap ana adzan, hnya suara pintu yg terbuka yg terdengar? 

.

Apakah adzan ana hanya alarm untk aktifitas duniawi mereka”
Smpat termenung saat bada qobliyah sholat masjid, “apa ana harus hijrah ke mesjid yg lebih jauh”

.
Setelah kajian kemarin malam ana pikir, tak ada alasan ana buat berhenti berdakwah dan beranjak dari mushola ini…

.
Setelah kajian kmarin menyampaikan surah al hijr

.

Al-Ĥijr:99 – dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).

😶

.
‼ *Makna yg ana dapat adalah, sampai kapan pun dakwah ini ga bisa berhenti karena kuantitas jamaah yg sedikit…*

.

*Tp dakwah pada diri ini akn berhenti setelah ajal menjemput,*

.

*Maka lepas sudah tanggung jawab yg di beban kpada diri ini*

.
💢 Teringat kembali tulisan ana yg melampirkan surah ali imran ayat 104 dan 110

.

✍🏼✍🏼✍🏼✍🏼
💢  Keluarga ‘Imran (‘Āli `Imrān):110 – Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

.
💢 Keluarga ‘Imran (‘Āli `Imrān):104 – Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

.
💢 Terakhir…

Saat sholat sbuh td, ada sekitar 6 atau 7 anak2 muda yg tdur di mushola, ana kaget ni anak mana… Kayaknya ni anak2 habis malmingan..

.
Dan………………..

.
Akhirnya ana adzan dgn suara yg keras dan lantang laksana bilal radiallahu anhu😅

😅

.
Tp sayang tiada yg bangun di antara mereka, smpai ana membaca surah an naba saat sholat.. Dan mengeraskan suara namun tetap tidak bngun, dlm hati terbesit “apa perlu al baqarah yg ane baca” padahal apal aj belon😂  😂.. ana adzan dgn suara yg keras laksana bilal😅

😅

.
Akhirnyaa habis sholat karena ana ingat harus tegakkan kebenaran dan mencegah yg buruk,

.

Akhirnya dengan sdikit tenaga, ana pukul tembok sampai bberapa diantara mereka kaget dari tdur ny 😂

.

Dan ane bilang ” ayo bangun, udh adzan subuh, di mushola jgn cuma numpang tdurny aj, manfaatin sholatny, ayo sholat2″

.
Ehhhhh.. rupanya… yg trjadi😷

.
Akhirnya beberapa diantara mereka mengambil wudhu, dan bergegas sholat.

.

Dan ane kembali kerumah..

.

Tp ada jga pura2 ambil wudhu. Malah pergi pulang 😂😷

.
Dan dari sini ana belajar suatu hal yg penting,

.

Dakwah ini secara bentuk mungkin terlihat mudah, laksana antum melihat lingkaran yg smpurna,

.

Namun setelah antm masuk di dlmnya, prosesny tak akan semudah bentukkanny,  sperti antm akan membuat lingkaran yg smpurna..

.

Butuh latihan ujian dan ketekunan yg ulet untk menyempurnakan lingkaran tersebut.

.
Wajar saja jika Allah berfirman kpd para kader dakwah ” *kamu adalah umat yg terbaik yg dilahirkan untuk manusia…..*”

.
So, nunggu apa lg untk mulai dakwahnmu? Alasan apa lg untuk kamu berhenti dlm jalan dakwah mu?

.
Karena Allah sudah menjamin engkau smua adalah manusia terbaik untuk manusia..

.
💢 Dakwah itu mudah, seperti misal menulis tulisan sederhana ini…

Ini tulisanku, mana tulisan mu…
Wallahu’alam bishowab

.

Sumber : WAG

Resign dari Dakwah Menelisik Diri untuk Berbenah

Oleh: Dwi Boediyanto 
Meninggalkan dakwah itu perkara gampang. Kita tinggal sedikit demi sedikit menjauhinya saja. Tidak aktif lagi tanpa pemberitahuan. Tidak merespon saat dihubungi. Bersikap masa bodoh terhadap aktivasi. Tidak datang saat diundang. Sembunyi ketika dimobilisasi. Intinya, bersikap cuek dan masa bodoh saja. Tenggelamkan dalam aktivitas yang memuaskan diri. Dengan cara demikian lambat laun kita akan meninggalkan (atau barangkali lebih tepat — ditinggalkan dakwah). Gampang sekali. Tapi apa manfaatnya bagi kita mengambil sikap demikian?
Benar, meninggalkan dakwah itu perkara yang mudah. Tapi saya sangat yakin, jauh lebih mudah lagi bagi Allah Ta’ala untuk mencari pengganti yang jauh lebih baik daripada mereka yang memutuskan untuk ‘pensiun’ dari dakwah. Para pengganti itu akan menggerakkan dakwah jauh lebih ikhlas dan bersemangat. Ya, sangat mudah bagi Allah untuk melakukannya. Sangat mudah. Tidak ada sedikit pun kerugian bagi dakwah ketika seseorang *_resign_* darinya. Dakwah akan terus berjalan, ada atau pun tanpa kita.
Sekali lagi kita bertanya, apa manfaatnya bagi hidup kita? *Dakwah memang tidak memberi tumpukan harta. Bahkan bisa jadi kitalah yang mesti menyisihkan dari yang Allah karuniakan pada kita untuk menggerakkan dakwah.* Tapi di sanalah kita menemukan makna yang indah. Kita terlibat dalam dakwah bukan untuk memperoleh harta berlimpah. *Kita ingin mendapatkan keridlaan Allah, sehingga dengannya hidup kita bertabur barakah.*

Sekiranya kita memilih ‘masa bodoh’ dan _resign_ dari dakwah, sungguh ada satu hal yang dikhawatirkan: dicabutnya barakah dari hidup kita. Direnggutnya rasa qanaah terhadap harta dari diri kita. Tiba-tiba saja kita berubah menjadi orang yang sangat _‘kemaruk’_ dan rakus terhadap duniawi, secuil apapun ia. Lalu aktivitas dakwah ditinggalkan. Forum-forum pembinaan mulai diabaikan.
Sebagai gantinya proyek-proyek materi menjadi lebih diutamakan.
Dalam situasi demikian (kadang) seseorang masih merasa berkebajikan. Padahal, yang dilakukannya tidak lebih dari aktivitas remeh yang disesaki oleh hasrat yang besar terhadap uang. Semakin dikejar, rasa puas tak pernah akan terpenuhi. Tiba-tiba juga kebutuhan tak bisa tercukupi, padahal pendapatan lebih banyak dari sebelumnya. Jika hal demikian yang terjadi, alangkah baik, sekiranya kita berhenti sejenak. Menelisik kondisi diri.
Jangan-jangan kebarakahan itu telah dicerabut dari hidup kita. _Na’udzubillahi min dzalik._
Setiap saat kita memang perlu menelisik diri. Jika ada benih-benih bergesernya orientasi, mari diluruskan kembali. Saat kelesuan mulai tumbuh, segera pupus dengan semangat beramal. Ketika kejenuhan mulai melanda, perlulah silaturahmi agar ada penyegaran dan suntikan semangat membara.
Memperturutkan kelesuan dan kemalasan beraktivitas dakwah hanya mendatangkan situasi yang semakin berat. Lambat laun seseorang berkemungkinan *‘resign’* tanpa pamitan.
Dalam situasi demikian, ia tidak menyadari bahwa ada yang berbeda dari cara berpikir, berasa, dan juga bertindak. Mulailah ia bersikap seperti penumpang dan mulai menanggalkan mental seorang sopir ( _driver_ ) yang bersemangat, pantang menyerah dan berkeluh kesah, berorientasi untuk mencari solusi, dan memilih untuk tidak menghujat serta menghakimi.

Saking mudahnya meninggalkan dakwah, alasan apapun bisa dikemukakan.
Seseorang dapat mengelabuhi murabbi atau qiyadah dakwah dengan alasan yang tampak masuk akal: bisnis, kerja, urusan keluarga, atau apapun (Qs. Al Fath:11 dan Al Ahzab: 13). Tapi sungguh, Allah yang paling tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam diri kita.
Apakah alasan-alasan itu benar adanya, ataukah muncul dari kelemahan diri dan hasrat kuat untuk menghindar dari amanah. Lagi-lagi, kita memang perlu banyak menelisik diri sendiri.
Jika hari-hari ini kita mulai tampak lesu dan tidak bergairah di jalan dakwah, forum-forum pembinaan juga terasa gampang ditinggalkan, kontribusi yang mesti diberikan juga terasa berat ditunaikan, kerinduan bertemu ikhwah tergantikan dengan hasrat kuat untuk mengejar duniawi, atau teramat nyinyir dan antipati memandang dakwah serta komunitas kebaikan lainnya, rasa-rasanya kitalah yang lebih butuh untuk menerima banyak nasihat dibandingkan orang lain.
Sungguh, tak ada manfaat yang dapat diperoleh dari meninggalkan dakwah, kecuali hidup yang tercerabut dari memperoleh barakah. Hari-hari ini ketika waktu istirahat bagi sejumlah ikhwah terasa amat singkat, kita sungguh merasa malu. Sebagian kita masih bersantai-santai, bahkan membiarkan diri dalam lalai. Ya, ada banyak di antara kita, termasuk saya, yang lebih butuh nasihat.
Semoga Allah jadikan kita generasi yang Allah kokohkan di jalan dakwah ini, terus kokoh, semakin kokoh hingga husnul khotimah. Aamiin.

Sumber : WA

Kematian Hati

_Alm.Ustadz Rahmat Abdullah_
Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi. Seperti penagih utang yang kejam ia perlakukan Tuhannya.
Ada yang datang sekadar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri. Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada izin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang Allah berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan Allah atasmu.
Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudhu di dingin malam, lapar perut karena shiyam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.
Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri. Asshiddiq Abu Bakar Ra selalu gemetar saat dipuji orang. “Ya Allah, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka”, ucapnya lirih.
Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana, lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidak-sesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang.
Mereka telah menukar kerja dengan kata. Dimana kau letakkan dirimu?
Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut. Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkau pun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.
Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat maksiat menggodamu dan engkau menikmatinya? Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaat pun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada Allah, dimana kau kubur dia?
Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. Ini potret negerimu : 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separuhnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan.
Mungkin engkau mulai berfikir “Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan” bila engkau laki-laki atau sebaliknya, di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak kau perlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda “jarak jauh” Betapa jamaknya ‘dosa kecil’ itu dalam hatimu.
Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat “TV Thaghut” menyiarkan segala “kesombongan jahiliyah dan maksiat”?

Saat engkau muntah melihat laki-laki (banci) berpakaian perempuan, karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan “Jika Allah melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat ?”
Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang “Ini tidak islami” berarti ia paling islami, sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada Allah disana?
Sekarang kau telah jadi kader hebat. Tidak lagi malu-malu tampil. Justru engkau akan dihadang tantangan: sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar.
Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa. Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki.
Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi ? *Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu.* Siapa yang mau menghormati ummat yang “kiayi”nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang, lalu dengan enteng mengatakan “Itu maharku, Allah waliku dan malaikat itu saksiku” dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah?
Siapa yang akan memandang ummat yang da’inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan “Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua.”
Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai ‘alimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?
Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da’wahnya? Akankah kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir ? Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini?
Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka. Tengoklah langkah mereka di mal.

Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa “westernnya” . Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan “lihatlah, betapa Amerikanya aku”.
Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri.
Mahatma Ghandi memimpin perjuangan dengan memakai tenunan bangsa sendiri atau terompah lokal yang tak bermerk. Namun setiap ia menoleh ke kanan, maka 300 juta rakyat India menoleh ke kanan. Bila ia tidur di rel kereta api, maka 300 juta rakyat India akan ikut tidur disana.
Kini datang “pemimpin” ummat, ingin mengatrol harga diri dan gengsi ummat dengan pameran mobil, rumah mewah, “toko emas berjalan” dan segudang asesori. Saat fatwa digenderangkan, telinga ummat telah tuli oleh dentam berita tentang hiruk pikuk pesta dunia yang engkau ikut mabuk disana.

“Engkau adalah penyanyi bayaranku dengan uang yang kukumpulkan susah payah. Bila aku bosan aku bisa panggil penyanyi lain yang kicaunya lebih memenuhi seleraku.”
Teringat kita akan cerita dari seorang sahabat yang sangat mencintai Allah dan Rasulullah, hingga di setiap peperangan selalu ada beliau di samping Rasulullah. Apakah yang terjadi pada seorang Ka’ab bin Malik? Ya, ia tidak berangkat ke Tabuk.
“Aku sama sekali tidak pernah absen mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah saw, kecuali dalam perang Tabuk. Ketidakikutsertaanku dalam perang Tabuk itu karena diriku dilalaikan oleh perhiasan dunia. Ketika itu keadaan ekonomiku jauh lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Demi Allah, aku tidak pernah memiliki barang dagangan lebih dari dua muatan onta, akan tetapi pada waktu peperangan itu aku memilikinya”.
Masya Allah. Demikian lugas pengakuan Ka’ab, “Ketidakikutsertaanku dalam perang Tabuk itu karena diriku dilalaikan oleh perhiasan dunia”.
Ternyata bukan hanya “orang awam” yang bisa dilalaikan oleh perhiasan dunia. Seorang mujahid, sahabat Nabi, terlahir menjadi generasi terbaik sepanjang sejarah kemanusiaan, tetap bisa terlalaikan oleh perhiasan dunia. Kurang apa Ka’ab. Tidak pernah absen dalam seluruh peperangan, benar-benar mujahid setia.
“Demi Allah, aku tidak pernah memiliki barang dagangan lebih dari dua muatan onta, akan tetapi pada waktu peperangan itu, aku memilikinya”.
Artinya, bukan soal fasilitas yang menyebabkan Ka’ab tidak berangkat ke Tabuk.
Di zaman kita sekarang, Tabuk itu tidaklah jauh. Sesungguhnya Tabuk kita lebih simpel dibandingkan di zaman Ka’ab. Namun “ketidakberangkatan” tetap saja terjadi. Coba ukur, seberapa jauh Tabukmu?
Ada kader yang merasakan kesulitan ekonomi, yang menyebabkannya memiliki banyak keterbatasan dalam mengikuti kegiatan dakwah. Ia mengatakan, “Andai aku punya motor, tentu akan lebih banyak kegiatan dakwah yang bisa aku lakukan”. Ketika punya motor ternyata ia masih merasa banyak keterbatasan. “Andai aku punya mobil, tentu aktivitasku menjadi lebih leluasa”. Saat memiliki mobil, tetap saja banyak alasan. “Andai mobilku bagus, pasti tidak ada lagi kendala berkegiatan”.
Saat mobilnya sudah bagus, ternyata tetap saja ia tidak tergerak untuk aktif berdakwah. Apa yang terjadi padanya? Padahal sekian banyak mujahid dakwah berjalan kaki melakukan kegiatan, dan berlelah-lelah di tengah keterbatasan sarana serta fasilitas. Dakwah tetap berjalan tanpa tergantung kepada ketersediaan dan kelengkapan fasilitas.

Mengapa ada yang tetap tidak berangkat?
*Panas, Jauh, Lelah….*
“Peperangan ini Rasulullah saw lakukan dalam kondisi panas terik matahari gurun yang sangat menyengat, menempuh perjalanan nan teramat jauh, serta menghadapi lawan yang benar-benar besar dan tangguh… Rasulullah saw mempersiapkan pasukan yang akan berangkat. Aku pun mempersiapkan diri untuk ikut serta, tiba-tiba timbul pikiran ingin membatalkannya, lalu aku berkata dalam hati: Aku bisa melakukannya kalau aku mau!”
Bukan panas musim kemarau seperti yang sering kita alami di Indonesia, namun panas terik matahari gurun yang sangat menyengat. Sangat panas, harus menempuh perjalanan yang jauh, dan “hanya” untuk berperang. Bukan untuk rekreasi, bukan untuk wisata kuliner, bukan untuk menginap di hotel berbintang, bukan untuk tamasya dengan keluarga. Sangat panas, sangat jauh, naik kuda atau unta, tentu akan sangat lelah, dan di sana telah menunggu musuh yang sangat tangguh.
Tabuk di zaman Ka’ab sungguh jauh. Tidak ada pesawat terbang, tidak ada mobil ber-AC, tidak ada sarana yang memadai untuk menempuh jarak yang sedemikian panjang dan cuaca yang sangat panas terik.
Di zaman kita sekarang, Tabuk itu tidaklah jauh, tidak panas terik. Ada pesawat terbang, ada kereta api eksekutif, ada bus eksekutif, ada taksi, ada travel, ada mobil ber-AC, ada motor, ada sepeda. Tabuk kita bahkan tidak panas, namun “ketidakberangkatan” tetap saja terjadi. Sebenarnya, seberapa jauhkah Tabukmu?
Awalnya kita merasa “Aku bisa melakukannya kalau aku mau!” Ah, tapi apa yang aku dapat kalau berangkat?
Mengaji, di tempat para murabbi bahkan kita disuguhi. Rapat, di tempat pertemuan tersedia banyak jajanan. Berbagai agenda dakwah, seperti tatsqif, mabit, daurah, bahkan mukhayam, semua full fasilitas. Apa yang menghalangi untuk datang ke berbagai agenda dakwah tersebut? Apa yang menjadi alasan ketidakberangkatan?
Apa sebenarnya perang kita? Apa yang ada di Tabuk kita?
*Dikuasai Kemalasan*
“Akhirnya aku terbawa oleh pikiranku yang ragu-ragu, hingga para pasukan kaum muslimin mulai bergerak meninggalkan Madinah. Saat aku lihat pasukan kaum muslimin mulai meninggalkan Madinah, timbul pikiranku untuk mengejar mereka, toh mereka belum jauh. Namun, aku tidak melakukannya, kemalasan menghampiri dan bahkan menguasai diriku…”
Di zaman kita, ada kader yang melihat kader lain yang sangat aktif dan dinamis dengan berbagai agenda dakwah, sempat terpikir “Aku masih bisa mengejar mereka”. Ya, aku akan menyusul mereka. Tapi mengapa tidak engkau lakukan? Mengapa tidak engkau susul mereka? Mengapa engkau tetap tidak berangkat? Apa alasan ketidakberangkatanmu?
“Kemalasan menghampiri dan bahkan menguasai diriku……”
Padahal kita tidak bertemu panas terik gurun pasir. Kita tidak bertemu jarak yang demikian jauh untuk ditempuh dengan kaki. Yang kita temui adalah sarana dan fasilitas yang lengkap. Acara dari hotel ke hotel. Kegiatan dari rumah ke rumah. Rapat dari ruang ke ruang. Koordinasi dari gedung ke gedung. Semua nyaman, semua menyenangkan, semua sejuk, semua penuh dengan suguhan.
Mengapa tetap terjadi ketidakberangkatan? Apa alasanmu? Mengapa kita semakin lemah, cengeng dan penakut hanya karena duniawi? Lebih nyamankah hati ini bersama dunia atau bersama Sang Pemilik dunia?
Sebelum semua terlambat, sebelum undangan dan para malaikat-Nya menjemput kita. Berubahlah mulai saat ini, dari diri sendiri dan dari hal yang paling kecilpun kita mampu melakukannya dengan baik. Maka Allah akan ridha, bukan hanya hasil yang Allah nilai tapi juga proses kita berubah itu adalah perjuangan dan pengorbanan yang besar. Paksakan diri ini untuk mampu kembali mengingat Allah dalam sepi dan keramaian, agar kita mampu diselamatkan di dunia dan di akhirat. Fastabiqhul khoirot…Allah ingin dekat dengan kita saudaraku…***
Sumber : WAG

​FIRASAT SANG JURU DAKWAH

Kalau kita membaca buku” Ikhwanul Muslimin; Ahdats Shana’at-Tarikh”, kita akan melihat bahwa perjalanan awal asy-syahid Sayyid Quthub, sering melontarkan gagasan nyeleneh pada Islam.   
Saat itu di Mesir terbit majalah sastra yang menjadi ajang pertemuan 20 sastrawan. Salah satu kubunya adalah para tokoh aliran sastra bebas yang dikomandani oleh Abbas Mahmud Al Aqqad, dan kubu lainnya adalah sastrawan muslim yang dikomandani oleh Musthofa Shadiq Ar-Rafi’i. 
Sayyid Qutub adalah murid pilihan Al Aqqad. Ketika Musthofa meninggal, Al Aqqad naik, karena tidak ada saingan, murid-muridnya diberi rangsangan untuk menulis. Dalam sebuah surat kabar mingguan, Sayyid Qutub menulis makalah di mana dia menyerukan kepada para wanita muslimah untuk membuka auratnya, karena menutup aurat dianggap olehnya sebagai penghambat kemajuan wanita.
Tulisan ini dibaca oleh Ustadz Abdul Halim Mahmud dan beliau membuat tanggapan. Tapi sebelum tanggapan ini dimuat di media massa, Ustadz Abdul Halim mendiskusikannya terlebih dahulu dengan Imam Hasan Al Banna.
Kata Imam Al Banna: “Saya menyetujui 100 % tulisan kamu, tapi saya memiliki perasaan lain tentang orang ini, berilah beberapa pertimbangan:
Pertama: Dia masih muda, dan apa yang ditulisnya bukanlah dari otaknya sendiri, tapi dari lingkungannya.
Kedua: Anak muda biasanya menyenangi sensasi dan mencari musuh, apa yang dilakukan Sayyid Quthub oleh Imam Al Banna dinilai sebagai upaya mencari eksistensi diri.
Ketiga: Karena dia masih muda, kita masih memiliki harapan, siapa tahu dia akan menjadi pemikul beban da’wah.
Pertimbangan yang lain, kata Imam Al Banna, dia (Sayyid Quthub) menulis di surat kabar yang tidak terlalu terkenal di Mesir ini. Kalaupun dikenal, makalah atau kolom, umumnya tidak terlalu menarik perhatian orang banyak untuk membacanya, apalagi kalau ditulis oleh seorang pemula yang belum memiliki nama. Kalau kita menanggapinya, orang-orang yang semula tidak tahu menjadi ingin mengetahuinya, dan orang-orang yang mungkin pernah membaca secara selintas akan mengulang kembali membacanya untuk mengenali muatan tulisan tersebut. 
Tujuan anak muda ini menulis adalah untuk mendapatkan serangan atau tantangan dari khayalak yang dengan serangan itu akan menaikkan dan mengangkat namanya. 
Imam Al Banna berkata lagi: “Kalau kita bantah tulisan itu, kita berarti menutup kesempatan diri pemuda itu untuk bertobat karena orang cenderung untuk membela diri jika kesalahannya diluruskan, apalagi bila pelurusan itu dilakukan di depan umum, ia akan membela dirinya mati-matian,meskipun dalam hati kecilnya ia menyadari kesalahan atau kekeliruannya. Dengan demikian, kalau tanggapan itu kita lakukan, berarti kita telah menutup kesempatan bertaubat bagi dirinya”.
Akhirnya Imam Hasan Al Banna mengatakan: “Wahai Mahmud, inilah pandanganku tentang orang ini, akan tetapi, kalau engkau tetap ingin mengirimkannya, silahkan saja”.
Ustadz Abdul Halim Mahmud setuju untuk meninjau kembali rencana pengiriman tulisan itu, sehingga akhirnya tulisan itu tidak jadi dikirim. 
Dan pada akhirnya, terbuktilah kebenaran firasat Imam Hasan Al Banna, sebab pada akhir  perjalanan hidupnya, Sayyid Quthub menjadi penopang dan pemikul beban da’wah dan iapun bergabung didalamnya.
*Dari FB Ustadz DH Al Yusni*
Sumber : broadcast wa

SAMAHAH

Oleh: Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi

Pada tahun 1936 Samuel Zwemer memberi trik-trik metode Kristenisasi kepada para missionaries di Jerussalem. Ia berpesan “tugas kalian bukan mengkristenkan orang Islam tapi merobah cara berfikir orang Islam, agar nanti lahir generasi Muslim yang memusuhi agamanya”.  Trik itu kini berjalan dengan baik dan relatif berhasil. Trik penyebaran agama a la Zwemer itu nampak tidak memaksa tapi sejatinya menipu.

Islam tidak mengajarkan cara-cara berda’wah seperti itu. Prinsip Islam jelas “tidak ada paksaan dalam beragama ” (QS 2:256). Beragama bukan basa-basi. Artinya orang tidak boleh terpaksa atau pura-pura dalam beragama Islam. Islam hanya menunjukkan dan mengajak ke jalan yang benar dari jalan yang salah atau sesat. Ajakan itu ada tiga tingkatan dengan argumentasi yang bijak (hikmah), nasehat yang baik (mauizah hasanah) atau dengan debat yang sehat (jadal). Jika mereka menolak maka tidak perlu dan tidak boleh memaksa. Muslim bahkan tetap harus melindungi mereka, membebaskan mereka menganut agama mereka. Itulah toleransi dalam Islam.

Tema untuk makna toleransi dalam Islam adalah samahah. Tasamuh artinya bersikap mudah dan tenang, halus atau moderat alias tidak ekstrim. Orang Arab biasa membuat ungkapan asmih yusmah, permudahlah niscaya akan dipermudah. Tahanawi dalam al-Ta’rifat mengartikan tasamuh sebagai melakukan sesuatu yang tidak berlebihan. Dalam kamus Tajul Arus terdapat istilah millatun samhah atau agama yang tidak sulit. Tapi dalam kamus Arabic-English Dictionary, samaha diartikan toleran.

Dalam hadith riwayat Ibn Abi Syaybah dan Bukhari Nabi bersabda: ahabbu al-din ila Allah al-hanafiyyah al-samhah (beragama yang paling disukai Allah adalah yang lurus dan mudah). Dalam hadith lain Nabi bersabda: Ursiltu bi al-hanafiyyat al-samhah (aku diutus [Allah] dengan [sikap] lurus dan mudah).

Ajaran ini benar-benar di praktekkan dengan baik dalam aktifitas da’wah para ulama di zaman dulu. Di Andalusia dan Cordoba, misalnya kebebasan untuk para pemeluk agama selain Islam sungguh dijamin. Penduduk Kristen diberi hak memiliki pengadilan sendiri berdasarkan “hukum” Kristen. Ibadah Kristen tidak terganggu sedikitpun. Kebaktian massal masih bebas di adakan di lapangan. Semua itu tidak dinikmati Muslim dinegara Barat sekarang.

Bahkan pendirian gereja tidak perlu izin khalifah. Dalam aktifitas sehari-hari umat Kristiani bebas memilih pakaiannya. Biarawati tidak dilarang memakai jilbab atau pakaian keagamaan mereka. Bahkan para pemeluk agama Kristen mendapat hak yang sama dengan Muslim menjadi pegawai sipil mapun militer. Tidak terbayangkan Negara non-Muslim saat ini ada yang bisa setoleran itu.

Muhammad al-Makkari dalam bukunya The History of the Muhammedan Dynasties of Spain (jld.I) mencatat bahwa karena umat Kristen tidak toleransi terhadap keyakinan kaum pagan, maka mereka membenci agama itu. Merasa dihargai mereka berbondong-bondong masuk Islam. Toleransi ternyata memiliki hikmah yang dalam, dan efektifitas da’wah yang tinggi.

Akibat dari tingginya sikap toleransi ini, kaum Yahudi dan Nasrani di Spanyol merasa hidup nyaman berabad-abad lamanya. Orang tentu akan ingat akan zaman Umar bin Khattab ketika memerintah Yerussalem. Mithaq Umar adalah masa indah hubungan tiga agama yang tidak pernah dilupakan oleh Yahudi dan Nasrani yang tulus. Tentu kerukunan beragama seperti ini tidak mereka temui dalam lingkungan agama Kristen.

Anehnya, energi damai dan toleransi umat Islam di Spanyol itu telah merembes ke bidang-bidang lain. Pelajaran bahasa Arab lebih disukai ketimbang pelajaran bahasa Latin di sekolah-sekolah Kristen waktu itu. Akibatnya, banyak syair Arab yang ditulis oleh para penyair Kristen abad ke 11. Yang lebih menyolok lagi para pendeta justru lebih menguasai bahasa Arab ketimbang bahasa Latin. Maka tidak heran jika seorang penulis Spanyol berkeluh kesah:”kita sibuk mengkaji hukum-hukum Islam seperti beo dan lalai membaca Injil.”

Bukan hanya toleransi, tapi kedamaian, kesantuan, dan keterpelajaran umat Islam telah mencuri hati orang Kristen. Banyak orang Kristen yang meniru-niru gaya hidup orang Islam atau orang Arab. Tren ini kemudian disebut Mozarab. Cara berpakaian, makanan, minuman dan bahkan khitan pun diikuti oleh orang-orang Kristen. Lebih dari sekedar ke Arab-Araban banyak orang Kristen Spanyol yang lebih nyaman menjadi Muslim daripada tetap memeluk Kristen. Akhirnya lahirlah generasi Muslim dari golongan Muwallah, yakni penduduk Muslim tapi keturunan Spanyol. Mungkin ini aneh, sebab wajah bukan Arab tapi Muslim, kulit putih tapi terpelajar.

Banyak kisah tentang keindahan peradaban Islam di Spanyol yang dirindukan orang yang suka damai. Namun, toleransi yang tulus bagai susu itu dibalas dengan air toba. Ketika pasukan Ferdinand dan Isabela merebut Malaga tahun 1487 orang-orang Muwallah ini disiksa sampai mati. Pada tahun 1610, umat Islam diusir secara biadab (baca: tanpa adab) dari Spanyol. orang-orang Muawallah itu juga ikut diusir oleh tim Inquisisi.

Di antara saksi sejarah yang selamat dari pengusiran itu menulis catatatan protes:”pernahkan nenek moyang kami mengusir orang-orang Kristen dari Spanyol? Tidakkah mereka memberi kebebasan kepada kalian beribadah? Orang masuk Islam semata-mata atas keinsyafan sendiri dan tanpa suatu paksaan. Anda tidak akan pernah menemukan perlakuan umat Islam seperti yang dilakukan oleh tim Inquisisi yang menjijikkan itu.”

Karena perlakuan tidak manusiawi itu seorang Archbishop dari Valencia tahun 1602 sadar dan menulis kepada Raja Philip III “mereka (para Muwallah) tidak selayaknya dihukum seberat itu, mengingat sikap mereka yang sangat toleran dalam soal-soal keyakinan agama”.

Namun, apapun yang terjadi Islam adalah agama misi, tapi tidak memaksa. Aqidahnya meneguhkan keesaan Tuhan, dan syariatnya memuliakan kemanusiaan.

Peperangannya untuk kedamaian dan kedamaiannya untuk kemakmuran. Keindahan kehidupan sosialnya mencerminkan ketulusan persahabatan dan keluhuran nurani. Prinsip-prinsip keilmuannya mencerahkan dan implikasi amalnya menjadi rahmat bagi siapapun yang merasakan dengan lubuk hati yang paling dalam. Sungguh tepat kesimpulan Thomas Walker Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam bahwa “Islam adalah agama yang penuh toleransi, dan disiarkan dengan penuh damai”.

Sumber : broadcast wa

Amanah Itu

Sejatinya amanah itu ..

Bukan karena kamu mampu

Bukan pula karena mereka merasa kamu mampu

Bukan karena kamu tahu kapasitasmu

Bukan pula karena mereka tahu kapasitasmu

Dan jangan sampai pula karena kemauanmu

Amanah itu kehendak Allah
Rencana Allah SWT atas kehidupanmu

Bahkan sekiranya semua orang di sekitarmu berhimpun untuk menjauhkanmu dari amanah itu, jika Allah tahu itu yang terbaik bagimu, maka ia berikan amanah itu kepadamu

Bahkan sekiranya semua orang di sekitarmu bersepakat menyatakan bahwa kamu tak mampu, jika Allah tahu amanah itu jalan terbaik untuk meningkatkan kapasitas dirimu, maka Ia tetap berikan amanah itu kepadamu

Bahkan sekiranya semua orang di sekitarmu berupaya maksimal agar seseorang yang BUKAN DIRIMU yang mengemban amanah itu, jika Allah ingin mendidikmu dengan amanah itu, maka Ia berikan amanah itu kepadamu

Bahkan sekiranya seluruh aibmu seketika memenuhi fikiranmu dan membuat berhenti melangkah karena ragu, jika Allah tahu amanah itu akan membuatmu menjadi hamba yang semakin baik dan semakin dekat dengan-Nya, maka amanah itu akan Dia berikan kpdamu

Percayalah, ada rencana terbaik yang sudah Allah persiapkan, sikapilah dengan ikhtiar terbaik yang kamu lakukan, serta pertanggungjawaban terbaik yang bisa kamu persiapkan

Sekali lagi, ini bukan tentang kamu dan mereka
Ini TENTANG KAMU DAN DIA (ALLAH)

Dan melangkahlah dengan percaya, bahwa bersama-Nya semuanya akan baik2 saja
Semangat karena ALLAH 🙂
(Ahmad Zaky)

Semangat Sahabatkuuu, ingat yaa akan selalu ada Allah yang akan menguatkan kamu 🙂
Ingat kan kata-kata Umar 🙂
Jika kita bersenang2 dalam dosa, maka kesenangan itu akan hilang dan dosa akan ttp kekal. Namun, jika kita berlelah-lelah dalam kebaikan, insyaAllah lelah itu akan hilang dan digantikan dengan kebaikan2 yang kekal 🙂

Sumber : broadcast wa