Di Mulai Dari yang Terdekat

Pada saat fase dakwah jahriyah, yaitu saat Rasulullah saw ‘mengumumkan’ sebagai utusan Allah swt, dapat dikatakan melalui proses yang tidak mudah. Walaupun Rasulullah sebagai orang yang dapat dipercaya, apapun yang beliau katakan pasti benar, tapi ketika mengatakan bahwa membawa agama Allah hal ini masih sulit dterima oleh kerabat Rasul.

Seruan dakwah yang dimulai dari kerabat terdekat (QS 26:214), pun terdapat kendala penolakan-penolakan, hal ini menjadi dasar Rasul untuk dakwah secara terang-terangan. Hambatan dalam kerabat dekat tak lantas menghentikan dakwah untuk masyarakat yang lebih luas. Sejarah mencatat keluarga Nabi Luth as, Nabi Nuh as, pun justru yang berpaling, tapi hal ini bukan menjadi hambatan. Dan bukan juga membuat pertentangan atau menjadi permusuhan dengan keluarga karena seruan dalam kebenaran terus dilakukan. Pada kondisi inipun segala bentuk perlawanan bahkan peperangan dihindari terhadap orang yang belum menerima saat itu.

MH 1-3

Dukungan Keluarga

Rasanya tak mudah jika kita akan melakukan suatu hal tapi tidak mendapatkan dukungan keluarga atau bahkan malah mendapat hujatan, cacian, cemoohan, dan sebagainya. Hati berasa sempit, kaki berat melangkah, pundak terasa lebih berat…tapi berbeda dengan para Nabi..

Seperti Kisah Nabi Nuh as yang keluarga terdekatnya pun yaitu istri dan putra tak kunjung beriman hingga akhirnya tenggelam dengan yang lainnya.

Kisah Nabi Luth as, yang istrinya sendiri kafir, kecuali kedua anak perempuanya…dibantu dengan orang-orang beriman yang hanya sedikit dan tidak mampu memberikan pembelaan. Hingga dalam Al Qur’an QS Hud 11: 80.

Rasulullah saw, bersabda :
“Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Nabi Luth. Sesungguhnya dia telah berlindung kepada keluarga yang kuat yakni Allah. Maka setelah Nabi Luth, Allah tidak mengutus seorang nabi kecuali dengan dukungan dari kaumnya.”

Hal ini terbukti keluarga terdekat Rasulullah saw adalah yang pertama beriman dan mendukung. Maka mari mulai dari yang terdekat.

MH 1-4

Generasi Pertama

Dalam bidang apapun dan dalam kondisi apapun generasi pertama menjadi generasi terbaik, terkuat atau terkokoh.

Dalam kancah bela diri, kadang kita dengar pendekar yang sakti dengan ilmunya masing-masing yang berbeda. Dalam kancah ekonomi/bisnis, generasi awal yang merintis dari bawah hingga sukses lebih tau cela2 dan menyiasatinya. Dalam silsilah keluarga, selalu kita dengar jaman dulu tidak seperti jaman sekarang, dulu bapak begini-begini…dulu ibu begitu-begitu..waktu dulu kakek/nenek…dan cerita lainnya.

Bahkan dalam perjalanan Islam pun, generasi pertama, generasi sahabat masih berdengung jelas tentang keutamaan mereka.

Sampai-sampai ketika ada perselisihan antara Khalid bin Walid dan Abdul Rahman bin Auf, Rasulullah saw bersabda :

“Wahai Khalid, jangan engkau usik para sahabatku. Demi Allah, andaikan kamu punya emas sebesar Gunung Uhud kemudian kamu infaqkan di jalan Allah, hal itu belum bisa menyamai salah seorang dari sahabatku atau istrinya.”

Karena dalam perkara keimanan, bukan hal yang mudah mempercayai sesuatu yang baru, berbeda, tapi kebenaran tak terbantahkan, perjuangan yang tak mudah. Keimanan yang kokoh, amalan yang luar biasa, adalah cerita yang selalu membersamai para sahabat. Mari belajar dari mereka.

MH 1-4

Gembok dan Kunci

Setiap hati seperti gembok yang memiliki kunci yang berbeda-beda untuk membukanya. Kunci untuk membuka gembok dari pintu keimanan.

Pada awal masa dakwah Rasulullah, yang mulanya dilakukan sembunyi-sembunyi dan dari orang terdekat saja yang beriman. Akan tetapi setelah itu mengalami pertambahan yang signifikan. Strategi yang digunakan karena orang-orang yang pertama beriman (assabiqunal awwalun) menyebarkan dakwah Islam sesuai ‘kesamaan’ dari kesamaan gender, kesamaan pekerjaan/profesi, hingga suku/bani. Kesamaan inilah yang memudahkan pintu-pintu keimanan ini terbuka… gembok terbuka oleh kunci yang sesuai.

Pada hari ini pun, seyogyanya kitalah yang berperan sebagai perantara/kunci untuk membuka gembok pintu keimanan seseorang. Kalau sudah klik pasti gembok itu akan terbuka, kalau belum terbuka berarti belum cocok tinggal mencari gembok yang lain..atau kunci/cara yang lain. Kita hanya kurir kunci/perantara untuk membuka gembok/pintu keimanan seseorang. Maka usaha harus tetap terus, terbuka tidaknya takdir/kuasa Allah swt yang menentukan.

MH 1-2

Sejarah

Terkadang kita terperangkap dengan segala macam versi. Walhasil antara satu dan yang lainnya mempunyai pemahaman dengan versinya masing-masing atau bahkan ada juga yang tidak peduli dengan sejarah. Tidak dipungkiri sejarah yang dirasa dan diyakini secara tidak langsung mempengaruhi kehidupan seseorang bahkan suatu bangsa, negara..juga umat. Penggiringan sejarah yang salah pun bisa berakibat fatal bagi yang mengikutinya. Maka mengikuti sejarah dengan sumber kebenaran yang tak terbantahkan dan tak diragukan adalah pilihan satu-satunya. Al Qur’an terisi sebagian besar kisah-kisah umat terdahulu termasuk kisahnya Rasulullah saw. ‘Sejarah selalu berulang’ maka jika kita tak memahami sejarah umat terdahulu..bagaimana bisa kita bercita-cita untuk dapat membangun peradaban umat. Fragmen-fragmen ayat-ayat Al-Qur’an dipadukan dengan penjelasan tafsir dan apa yang terjadi dalam shirah dapat menuntun kita terhadap rambu-rambu apa saja yang harus diperhatikan. Misal tentang jihad, jika hanya terhadap Al Qur’an saja tanpa melihat tafsir bahkan shirah dapat menimbulkan pemahaman yang berbeda. Bahkan seringkali agama ini jadi dicap agama kekerasan. Maka mau tak mau kembali pada pemahaman sejarah yang menyeluruh, jelas, terperinci untuk gerak hidup yang lebih terarah.

MH 1-1