Karena Allah adalah sumber kekuatan…

Quote

Karena Allah adalah sumber kekuatan, maka saat diterpa ujian carilah Allah bukan yg lain. Sering kita bersandar dg manusia atau benda yg lemah padahal mereka jg bersandar kpd Allah, lalu bagaimana mungkin kita mendapat kekuatan?

.

.

Sumber : WAG

Advertisements

​EDISON, TESLA DAN PELAJARAN TENTANG TALENT

Pada tahun 1884, seorang anak muda brilian menginjakan kaki di Amerika hanya berbekal  buku puisi, secarik kertas rekomendasi dan uang 4 sen.  Demikian film inflight movie di maskapai Garuda itu dibuka. Sayapun tertarik menyimaknya sampai habis dalam perjalanan pulang ke Jakarta.
.

Kertas rekomendasi itu ditujukan kepada seorang yang sangat terkenal pada zamannya, dan masih tetap terkenal sampai zaman now, namanya Thomas Alfa Edison. Seorang penemu hebat, dan ketika itu juga seorang pebisnis kaya raya Amerika.

.
Nama anak muda itu Nikola Tesla. Usianya ketika itu baru 28 tahun, kelahiran Serbia. Kita mungkin pernah sayup-sayup mendengarnya. Atau mungkin sebagian tidak pernah mendengarnya sama sekali.
Singkat cerita, Tesla kemudian bekerja pada Edison. Keduanya terlibat dalam sebuah proyek perubahan maha besar yang kelak merevolusi kehidupan manusia yaitu penemuan arus listrik. Dengan kejeniusannya Tesla mendatangkan kemakmuran berlipat-lipat terhadap Edison. Sepanjang masa hidupnya tidak kurang dari 300 hak paten didaftarkan atas nama anak muda ini.

.

Sayangnya kerja sama mereka tak berumur panjang.  Tesla yang jenius dijanjikan bonus dan kenaikan gaji yang ternyata kemudian diingkari oleh Edison. Padahal Tesla sudah menunjukan bukti, dengan kecerdasannya, Tesla berhasil memperbaiki “penemuan tak-sempurna” karya Edison yang diberi nama Arus Langsung/ Direct Current (DC) yang menghasilkan listrik. 

.
Ini pelajaran pertama dari kisah ini. Hanya Bos dengan kompetensi bagus yang  mampu menarik talenta-talenta terbaik di sekelilingnya. 

.
Tetapi apakah talenta terbaik itu akan bertahan lama dan memberikan yang terbaik dari dalam dirinya, sangat tergantung kualitas karakter bos itu. Dalam kasus Tesla, dia merasa dibohongi oleh Edison dengan iming-iming bonus dan kenaikan gaji berkala sebagai kompensasi dari kinerjanya yang sangat baik. Dan Edison dengan entengnya menjawab; “Tesla, you don’t understand our American humor”.

.

Tesla pun pergi meninggalkan Edison.

.
Dia mendirikan perusahaannya sendiri dan menyempurnakan pendekatan  Alternating Current (AC) atau arus listrik tak langsung yang sudah dia kembangkan semasa masih di Eropa, sebelum bekerja dengan Edison. Ide ini pernah  ditolak mentah-mentah oleh Edison, karena dianggap potensial menyaingi kepopuleran DC yang ketika itu menjadi ladang emas perusahaan Edison dan membuatnya demikian populer di seluruh Amerika.

.
Tesla yang jenius dan terluka oleh sikap Edison menunjukan bahwa AC jauh lebih sempurna daripada DC-nya Edison. 

.
DC memang penemuan tak sempurna.  Dia memiliki banyak keterbatasan. Beberapa yang fatal adalah dia terlampau mahal, dengan arus yang dihasilkan terlampau lemah serta tidak bisa mengalirkan listrik ke tempat yang jauh.  Di zaman modern, arus DC ini dihasilkan dari battere, aki (accu) dan sejenisnya yang memang terbatas.

.
Akan halnya AC yang dikembangkan Tesla, dalam waktu singkat langsung populer karena mematahkan langsung asumsi arus listrik yang sangat terbatas versi DC-nya Edison.  Dengan tiga motor induksi-nya (itu mengapa disebutnya arus tak langsung alias Alternating Current), AC mampu mengkonversi arus listrik menjadi energi mekanik dengan cara yang sangat efisien.  Dengan itu, AC menghasilkan energi listrik yang jauh lebih tinggi, bisa dialirkan ke tempat-tempat yang jauh dan dengan harga yang 1000 kali lebih murah daripada listrik produksi DC. 

.
Anda tentu tidak ingin mengaliri kulkas anda dengan listrik dari battere atau aki bukan? Terlalu mahal dan terlalu boros. 

.
Jelas penemuan Tesla ini unggul gilang gemilang dan menyisakan Edison yang geram bukan kepalang, karena reputasinya hancur berantakan di depan anak muda yang pernah dipekerjakannya ini.
Dan apa respon Edison?  Ini akan menjadi pelajaran kedua buat kita.
Dengan kekayaan dan pengaruh yang dimilikinya, Edison membuat black campaign ke seluruh Amerika bahwa temuan Tesla itu berbahaya dan bisa menyebabkan kematian.  Dalam buku sejarah dicatat, cara-cara Edison membayar orang dan melakukan character assassination terhadap Tesla ini dianggap lebay dan tidak fair. Dia mempertontonkan di depan umum bagaimana Anjing dan Gajah bisa mati kalo kena setrum listrik versi AC.  

.
Tuduhan itu tidak terbukti. Yang ada Tesla membalasnya dengan elegan, dia mengalirkan 1 juta volt listrik ke tubuhnya dan dia tetap hidup.  Kecuali rambutnya saja yang berantakan. Kebalikannya, justru DC-nya Edison bisa membunuh orang di sebuah kursi yang kelak menjadi cikal-bakal kursi listrik untuk menghukum mati para terpidana di penjara.

.
Pelajaran terpenting disini adalah, old habits never die.  Kalau sekarang  para incumbent (penguasa lama) panik menghadapi para penantang tangguh dan menggunakan berbagai cara untuk menjegalnya, ternyata contohnya sudah ada dari dulu. Dan mungkin akan selalu seperti itu. Dalam bisnis maupun politik.  

.
Dan biasanya ini terjadi oleh karena para incumbent itu abai atau lalai akan potensi diam-diam para penantang tangguh itu. Padahal ada pepatah perang lama yang mengajarkan; “if you can’t beat them join them”.  Menjegal dan mempermalukan penantang yang benar-benar tangguh, pada akhirnya akan berbalik menghajar diri sendiri.  Ini juga terjadi pada Edison. Kita akan bahas nanti.
Dalam sejarah, “perang arus”  AC melawan DC itu berlangsung alot, dalam waktu yang lama dan memakan biaya yang luar biasa besar.  Di belakang dua nama besar Edison dan Tesla itu ada cukong-cukong kakap yang memback-up mereka.  Edison di back up JP Morgan (salah satu kapitalis terbesar penguasa Amerika), sementara Tesla di back-up oleh George Westinghouse, yang modalnya lebih cekak.
Meski akhirnya Tesla dengan Westinghouse yang memenangkan peperangan itu, tetapi Westinghouse terlanjur banyak hutang dan bangkrut,  tak sanggup membayar royalti intelektual kepada Tesla. Westinghouse meminta penangguhan pembayaran royalti yang ketika itu dijawab Tesla dengan merobek kontrak kerjasama mereka. 
Itulah momen krusial perubah nasib penemu eksentrik yang “nyaris dilupakan” ini.

.
Anak muda yang datang ke Amerika dengan buku puisi dan uang 4 sen itu, memiliki sebuah kontrak paten arus listrik yang kalo dinilai dengan kurs sekarang sama dengan USD 300 juta. Seiring waktu, dengan meluasnya penggunaan AC dalam elektrifikasi, disinyalir hak paten dan royalti Tesla saat ini bernilai milyaran dollar. 

.
Dan “uang milyaran dollar” itu dia sobek-sobek  di depan Westinghouse dengan geram.

.
Ini pelajaran berikutnya. 

.
Para talent biasanya orang-orang  tak sabar proses.  Mereka kerap tidak menikmati apa yang mereka rintis karena mereka sudah sibuk memikirkan sesuatu yang baru. Dan ketika mereka tidak melihat hasilnya dalam waktu sekejap, mereka akan mudah frustasi.
Tesla juga demikian. Sempat menikmati kekayaan dari hasil temuan-temuannya, tetapi karena sikap eksentrik dan kekurangsabarannya, banyak proyek-proyek listriknya kemudian merugi.  Dia datang dalam keadaan miskin, dia meninggal juga dalam keadaan miskin dan sendirian, di sebuah kamar hotel di New York City pada tahun 1943.

.
Tetapi kelak, dia menginspirasi banyak ilmuwan dan penemu zaman now. Google didirikan oleh Larry Page dan Sergery Brin dengan semangat kesempurnaan Tesla dalam berkarya. Elon Musk secara khusus menciptakan produk mobil listrik yang fenomenal dan diberi nama “Tesla”.  Nama Tesla juga menjadi bandar udara internasional di negara kelahirannya Serbia. Sekelompok ilmuwan anti mainstream menjadikannya seperti “Imam Besar”  bagi para penemu.

.
Akan halnya Edison, dia kehilangan kontrol atas perusahaannya Edison General Electric  oleh karena hutang menggunung sebagai akibat perang arus diatas. Dia “ditendang keluar” dari perusahan yang didirikannya, dan diambil alih secara penuh oleh JP Morgan. Berikutnya perusahaan itu di merger dengan perusahaan lain yang kelak menjadi “General Electric” (GE) yang kita kenal sekarang. 

.
Saya menarik nafas panjang, melihat keluar jendela pesawat.  Ini sudah di Jakarta.

.
What comes around goes around…

.

.

Sumber : http://www.alidamanik.com

From Disruption to Abundance, from Paranoid to Optimism

​*Mengapa Saya Tidak Sepakat dengan Prof. Rhenald Kasali*

.

Akhir2 ini saya sering dapat broadcast WA, postingan FB, dan pembicaraan simpang siur yg isinya adalah semacam peringatan, bahkan ancaman tentang bahaya “Era Disruption”. Terakhir bahkan ada seorang penulis yg mungkin karena semangat sekali, menyatakan bahwa saking mengkhawatirkannya era disruption ini, “bisa membuat anak cucu kita mati berdiri sambil memeluk kitab suci yg entah akan menolong dengan cara apa”. Maka saya terpaksa bikin tulisan ini, walaupun sedang musim ujian di program MBA saya di UK & USA.
Setelah saya lacak, histeria dan demam “Disruption” ini sepertinya salah satunya berawal dari buku, ceramah dan tulisan2 Prof. Rhenald Kasali, Guru besar FE UI, dan salah satu “World Management Guru”, khususnya dibidang Change Management. 

.
Saya sangat setuju dan menghormati beliau sebagai salah satu tokoh penggerak perubahan yg saya kagumi dan ikuti tulisan2nya. Dan sampai saat inipun saya masih menghormati beliau. Tulisan ini sama sekali “nothing personal”, hanya sekedar perimbangan wacana saja, agar perspektif kita lebih utuh untuk menyikapi gegap gempita demam “disruption era” yg salah kaprah. 

.
Saya merasa ada yg kurang lengkap dari pemaparan beliau yg akhirnya bikin banyak orang ketakutan dan salah paham.  Banyak orang awam yang akhirnya jadi panik nanti masa depan anak2nya bagaimana jika pekerjaan2 yang ada sekarang bakal lenyap. Banyak eksekutif perusahaan jadi panik jangan2 mereka akan jadi korban “disruption” berikutnya dan akhirnya tergopoh2 mau bertindak tapi jadi mati gaya karena bingung entah mau melakukan apa.

.
Saya bisa memahami jika Prof. Rhenald bikin banyak orang jadi ketakutan. Bahkan di acara bedah buku beliau di Periplus yg saya tonton lewat Youtube, sang moderator sendiri sampai bertanya, “Prof, Ini kita kesini mau cari ide bisnis di era disruption, tapi kok malah pada pesimis nih menatap masa depan, setelah mendengar pemaparan profesor.. Dan Prof. Rhenald masih juga belum memberikan jawaban yg tegas bagaimana menyikapi perubahan drastis ini.

.

Saya juga memahami mengapa Prof. Rhenald di buku2nya, tulisan2 dan ceramah2nya banyak menghasilkan kepanikan dan ketakutan. Mungkin ini berawal dari paradigma “Change Management” yg menjadi bidang keahlian beliau. Dalam ilmu manajemen perubahan, salah satu tokoh utamanya adalah Professor Emeritus Harvard Business School, John P. Kotter, dengan teori beliau tentang “8 Steps to change”. Dalam teori ini, langkah pertama untuk bikin sebuah organisasi (dan individu) mau berubah adalah dengan “increase urgency” alias bikin orang2 merasakan urgensitas perubahan. Dan cara paling ampuh untuk itu adalah dengan bikin mereka “ketakutan” apa dampaknya jika tidak mau berubah. Mungkin dengan niat baik inilah Prof. Rhenald hendak menyadarkan masyarakat agar segera “berubah”.

.
Saya sepakat dengan niat baik untuk menggugah kesadaran masyarakat agar berubah, tapi saya tidak sepakat dengat pendekatan yang entah disadari atau tidak oleh beliau telah menebarkan banyak ketakutan dan kegalauan. Mengapa saya tidak sepakat? Berikut ini alasannya:

.
A) Sebenarnya cara “menebarkan ketakutan dan kekhawatiran” ini baik2 saja diterapkan untuk jenis perubahan yang tidak membutuhkan kreativitas, tapi jadi tidak produktif jika tujuan kita adalah untuk melahirkan inovasi, kreatifitas, dan terobosan2 baru. Padahal untuk survive dan Berjaya di era disruption, salah satu syarat utamanya adalah: KREATIVITAS. 

.
B) Tidak pernah (atau setidaknya jarang sekali) ide2 kreatif dan terobosan2 inovatif terlahir dari rasa takut. Buku babon setebal hampir 800 halaman tentang kreativitas, The Encyclopedia of Creativity menyebutkan bahwa salah satu penghalang utama kita untuk menghadirkan solusi kreatif adalah jika kita sedang mengalami “emotional barrier”. Dan diantara semua jenis emosi penghalang kreativitas ini, rasa takut adalah yg paling melumpuhkan. Jadi anda tidak bisa memaksa orang yg sedang dilanda ketakutan tentang bahaya era disruption untuk mencari solusi kreatif tentang bagaimana sukses mengatasinya. Anda hanya akan berhasil membuat mereka ketakutan, merasa terpaksa harus berubah, semangat ikut trainingnya, tapi bingung dan mati gaya harus melakukan apa.

.
C) Cara yg lebih pas untuk bikin orang terbuka pintu hatinya untuk mau berubah, sekaligus terinspirasi untuk jadi kreatif menemukan solusi adalah dengan memberikan mereka rasa OPTIMISME akan hadirnya kesempatan yang sangat besar menanti di depan mata. 

.

1) Bill Gates melahirkan Microsoft bukan karena ketakutan kehilangan pekerjaan, tapi terinspirasi sekali akan hadirnya komputer, dan optimis bahwa dia bisa bikin software bagus. Akhirnya dia telpon ibunya bahwa dia bakal 6 bulan tidak pulang untuk mengerjakan proyek MS-DOS dari IBM.

.

2) Mark Zuckerberg bikin Facebook bukan berangkat dari ketakutan akan masa depannya. Bahkan dia pertaruhkan masa depannya dengan DO dari Harvard demi mengejar impian “menghubungkan tiap orang di muka bumi”. Pada saat ceramah di acara wisuda di Harvard, dia mengatakan, yg bikin dia bisa melahirkan Facebook, karena dia merasa tenang, tidak takut apapun. Dan dia ingin menekankan pentingnya setiap orang untuk “bebas dari rasa takut”, untuk mencoba hal2 baru yg inovatif.

.

3) Steve Jobs, Thomas Alfa Edison, Elon Musk, Jeff Bezos, sebutkan semua inovator kreatif yg bikin perubahan2 radikal abad ini, hampir semuanya tidak ada yg melahirkan inovasinya dalam suasana batin ketakutan akan ancaman situasi masa depan. Mereka semua adalah para OPTIMISTS yg melihat kesempatan besar ditengah kebanyakan orang yang sedang kalut dan takut menghadapi tantangan zamannya.

.

4) Terakhir, di level lokal, Trio Unicorn Indonesia (Startup bernilai diatas 14 Trilyun rupiah: Gojek, Traveloka & Tokopedia) tidak ada yg dilahirkan dari orang2 yg ketakutan akan masa depan. Mereka semua mendirikan perusahaan2 tersebut dengan suasana batin optimis dan terinspirasi akan peluang besar di depan mata.

.

5) Singkat kata: Takut & pesimis = Bingung & Mati Gaya, Tenang & Optimis = Kreatif & Solutif

.
D) Era Disruption adalah era yg seharusnya bikin kita optimis, bukannya malah ketakutan. Mengapa? Karena ini hanyalah era transisi menuju era abundance (keberlimpahan). Minggu lalu saya baru pulang dari training di Singularity Univeristy. Ini adalah salah satu lembaga yg meneliti, mengajarkan dan mempopulerkan istilah “Disruption Era”. Lembaga ini di disponsori oleh NASA, Google, dan perusahaan2 teknologi paling top di Silicon Valley, bahkan bertempat di pusat penelitian NASA disana. Di pusatnya sini, Istilah “disruption era” itu menimbulkan aura positif, optimis, dan penuh semangat. Saya ndak tahu lha kenapa begitu sampai di Indonesia malah diartikan salah kaparah sebagai istilah yg menakutkan dan penuh ancaman. Mungkin karena Prof. Renald sebagai juru bicara utamanya menyampaikannya sepenggal saja (sisi seramnya), jadi banyak orang salah paham, panik dan ketakutan. Itulah mengapa belajar setengah2 itu berbahaya, “little bit learning is dangerous”.

.
E) Era disruption adalah fase ke-3 dari 6 fase Exponential Growth. Yg menelorkan teori ini adalah Peter Diamandis (Co-founder dari Singularity University tersebut). Menurut beliau, abad ini akan ditandai perubahan besar2an yg terjadi dalam 6 fase (6D’s of Exponential Growth):

.
1) Digitalization (Transformasi dari analog menjadi Digital. Misal: Kodak menemukan Foto Digital. Atau Musik, Film, Buku, dll dijadikan bentuk digital MP3, MP4, PDF, dll)

.
2) Deception (Kodak tertipu karena dikira ini teknologi amatir yg ndak bakal bisa menggantikan keindahan dan ketajaman foto manual, karena saat itu resolusinya masih 0,1 Mega Pixel). 

.
3) Disruption (Diluar kendali Kodak, tiap 18 bulan, ketajaman foto digital naik 2x lipat secara eksponensial. Dan pada saat ketajamannya mencapai 2 Mega Pixel, kualitasnya sudah sama dengan foto analog. Saat itulah Kodak mulai terdisrupsi.) Fase inilah yg bikin kehebohan disana sini, karena di fase ini, Uber mendisrupt perusahaan taxy, AirBnB mendisrupt Hotel, dll. Terjadi kepanikan masal karena dipikir dunia (minimal bisnis kita) akan runtuh.

.
4) Dematerialization (semua produk digital akhirnya tidak perlu wadah “material” karena tiba2 semua bisa disimpan di Cloud yg siap diunduh kapanpun dan dimanapun. Jadi silahkan dibuang Semua hardisk yg beirisi koleksi Foto digital anda. Upload aja ke Google Foto yg gratis penyimpanannya, kapanpun, dimanapun, pake alat apapun yg kompatibel, jika anda perlu foto itu tinggal download)

.
5) Demonetization (Begitu semua tidak dalam wadah material, maka harganya makin lama makin turun. Dan satu saat bisa sangat murah dan terjangkau buat semua. Begitu buku sudah di .Pdf kan, harganya nyaris Nol. Silahkan aja ke koleksi 300 juta buku gratis di: http://www.pdfdrive.net. Sekarang semua Musik, foto, buku, film, serial tv sudah dibikin versi digitalnya, yg kita masih diminta bayar, tapi ini makin lama makin murah, karena tidak ada lagi “biaya cetak”.

.
6) Democratization (Pada puncaknya, semua produk akan menjadi murah dan tersedia buat semua orang. Anda telah merasakan sebagian, Video call gratis, HP Murah, Belajar & Baca Buku, Nonton Film dan dengar musik gratis, dll. Inilah fase Abundance for All: Keberlimpahan buat semua). Peter Diamandi menulis buku khusus yg menjelaskan fenomenna “Abundance” ini. Sekedar intermezzo: Saat Bill Clinton mempromosikan buku ini, Peter ditanya sama Bill, “mengapa anda jadi orang kok sangat optimis?” Peter menjawabnya, “Karena saya tidak pernah baca berita (apalagi hoax), dan saya hanya percaya sama data2 ilmiah. Dan semua data ilmiah ini mengarah kesana, bahwa kita semua akan berkelimpahan, abundance for all”. Mungkin ada baiknya kita tiru kebiasaaan Peter Diamandis ini agar kita tidak serba pesimis dan ketakutan: Jangan banyak baca berita, mulailah baca data2 ilmiah. 

.
Maka mestinya, era disruption itu tidak perlu ditakuti atau bikin panik, cuman perlu dipahami bahwa ini bagian dari revolusi kemajuan peradaban yg makin lama akan makin cepat dan insya Allah mengarah pada perbaikan buat semua.. the greatest good for the greatest number of people. Kalau dalam revolusi ada korban2 yg bergelimpangan karena ndak cukup paham dan tanggap, itu hal yg biasa. Nanti juga mereka akan belajar. Dan kita semuapun perlu belajar lebih tuntas untuk menyambut Era Baru yang sangat menjanjikan ini.

.

Kesimpulan:
Terimakasih Prof. Renald Kasali, yang atas jasa bapak telah menggugah banyak orang dan perusahaan untuk shock dan mau berubah. Tapi semoga ini jangan kebablasan jadi ketakutan dan kekhawatiran massal. Karena itu perlu dilengkapi juga dengan wacana penyeimbang yang menyuntikkan optimisme dan harapan. 

.
Karena ide2 besar kreatif dan terobosan2 baru inovatif untuk survive dan Berjaya di era disruption ini tidak akan pernah lahir dari rasa takut dan panik, tapi akan tumbuh subur di pikiran orang2 dan perusahaan2 yg tenang dan optimis. 

.
Salam takdzim buat Prof. Rhenald Kasali dan kawan2 semua yg membaca tulisan ini.

.

Bloomington, 14 November 2017
Ahmad Faiz Zainuddin

.

Mahasiswa MBA

Warwick Business School, UK

Indiana University, USA

Alumni Singularity University, Silicon Valley, USA

.

.

Sumber : WAG

​RAJA HARUN AL RASYID PUN MAU TABAYUN,KITA???

Syahdan.. Khalifah Harun Al-Rasyid marah besar pada sahibnya yang karib dan setia, Abu Nawas.ia ingin menghukum mati Abu Nawas setelah menerima laporan bahwa Abu Nawas mengeluarkan fatwa tidak mau rukuk dan sujud dalam salat.
.

Lebih lagi, Harun Al-Rasyid mendengar Abu Nawas mengatakan bahwa dirinya khalifah yang suka fitnah!

.
Menurut pembantu-pembantunya, Abu Nawas layak dipancung karena melanggar syariat Islam dan menyebar hoax/fitnah.Khalifah mulai terpancing. Tapi untung ada seorang pembantunya yang memberi saran, hendaknya Khalifah melakukan tabayun(konfirmasi).

.
Abu Nawas pun digeret menghadap Khalifah. Kini, ia menjadi pesakitan.

.

“Hai Abu Nawas, benar kamu berpendapat tidak rukuk dan sujud dalam salat?” tanya Khalifah ketus.
Abu Nawas menjawab dengan tenang, “Benar, Saudaraku.”
Khalifah kembali bertanya dengan nada suara yang lebih tinggi,”Benar kamu berkata kepada masyarakat bahwa aku, Harun Al-Rasyid, adalah seorang khalifah yang suka fitnah?”

.
Abu Nawas menjawab, ”Benar, Saudaraku.”

.
Khalifah berteriak dengan suara menggelegar, “Kamu memang pantas dihukum mati, karena melanggar syariat Islam dan menebarkan fitnah tentang khalifah!”

.
Abu Nawas tersenyum seraya berkata, “Saudaraku, memang aku tidak menolak bahwa aku telah mengeluarkan dua pendapat tadi, tapi sepertinya kabar yang sampai padamu tidak lengkap. Kata-kataku dipelintir, dijagal, seolah-olah aku berkata salah.”

.
Khalifah berkata dengan ketus, “Apa maksudmu? Jangan membela diri, kau telah mengaku dan mengatakan kabar itu benar adanya.”

.
Abu Nawas beranjak dari duduknya dan menjelaskan dengan tenang,”Saudaraku, aku memang berkata rukuk dan sujud tidak perlu dalam shalat, tapi dalam shalat apa? Waktu itu aku menjelaskan tata cara shalat jenazah yang memang tidak perlu rukuk dan sujud.”

.
“Bagaimana soal aku yang suka fitnah?” tanya Khalifah.

.
Abu Nawas menjawab dengan senyum, “Kalau itu, aku sedang menjelaskan tafsir ayat 28 surat Al-Anfal, yang berbunyi ketahuilah bahwa kekayaan dan anak-anakmu hanyalah fitnah [ujian] bagimu. Sebagai seorang khalifah dan seorang ayah,Anda sangat menyukai kekayaan dan anak-anak, berarti Anda suka ’fitnah’ (ujian) itu.”

.
Mendengar penjelasan Abu Nawas yang sekaligus kritikan, Khalifah Harun Al-Rasyid tertunduk malu, menyesal dan sadar..

.
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1189681461144791&substory_index=0&id=1139589852820619
________________________________

.
لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِين

.
َ“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan engkau, ya Allah. Maha Suci engkau, sesungguhnya aku adalah dari orang yang membuat dzolim.” (QS Al-Anbiya’: 87)

.

.
Sumber : FB

Tinggalkan Musik, Hafalkan Al Quran

​Kisah ini kisah nyata. Diceritakan kembali dari kisah seorang kenalan saya.

.
Ada seorang yang saya kenal, ia menjadi hafidz setelah meninggalkan musik. Ramadhan tahun lalu (saat masih mendengarkan musik) ia mulai menghafalkan Juz 30. Namun selepas Ramadhan bacaannya mudah lupa. Dua bulan lalu, setelah meninggalkan musik kemudian ia menghafal ulang Juz 30, ia merasa lebih mudah dan cepat menghafalnya. Begitupun ketika ia menghafal ayat dan juz lainnya.

.
Meninggalkan musik itu maksudnya tidak menyetel musik dan menyanyi. Meninggalkan musik secara aktif, tidak sampai menghindar apabila ada orang lain yang memutarnya.

.
Ia mengatakan karena tidak lagi menyetel musik dan menyanyi, maka waktunya ia pakai untuk menghafal dan mengulang bacaan. Bacaan pun lebih mudah masuk karena hati dan pikiran tidak terisi irama2 lagu yang mendayu2 dan bikin baper.

.
Ia memang belum hafal semua juz. Baru afal 1 juz dan saat ini ia sedang menghafal Juz 29. Kita doakan mudah2an ia dapat menjadi hafidz/penghapal Al-Quran dan mampu memberikan mahkota kepada kedua pasang orang tuanya di akhirat kelak. Aamiin.

.

.

Sumber :

FB : M Senoyudha Brenaff

Kita harus memiliki hubungan langsung dengan Quran…

Quote

​Kita harus memiliki hubungan langsung dengan Quran. Banyak masalah yang ada di antara muslim adalah karena terputusnya hubungan dengan Quran.
Kita tidak mencintainya, tidak meminta nasihat darinya, tidak menghapalkannya, tidak memahaminya bahkan tidak membacanya.
Padahal ini kata-kata dari Allah untuk kita semua. Jika kita melakukan itu, percayalah masalah kita akan terselesaikan.

– Nouman Ali Khan

.

.

Sumber :Daily Quotes @temanasihat