KOMITMEN DENGAN AL-QURAN

​🍃🍁🍃🍁🍃🍁🍃🍁🍃🍁🍃🍁🍃🍁🍃🍁🍃🍁

InsyaAllah  sangat bermanfaat..

.
Oleh: Ustadz Abdul Aziz Abdul Rauf, Lc., Al Hafizh.

 

1. Sebaik-baik pengajian adalah ketika kita hadir kemudian *bertambah* keimanan, *bertambah* rindunya kepada Allah dan *bertambah* prestasinya

.
2. Jangan sampai *sekedar hadir di pengajian* kemudian merasa sudah mendapatkan prestasi amal yang banyak.

.
3. Mukmin sejati adalah jika Al Quran selalu *akrab* dengan mereka

.
4. *Jangan ada* dalam pikiran kita bahwa Al Quran adalah penghalang aktivitas kita

.
5. *Jangan malas* menghafal Al Quran karena usia

.
6. Lihat Surah Az-Zumar:23 tentang *tata cara interaksi* dengan Al Quran yang benar

.
7. *Luaskanlah hati* kita untuk menerima Al Quran , yaitu senang ketika membacanya , bahkan baru membayangkan membaca Al Quran, ia sudah merasa senang.

القران مأدوبة اللّٰه

_*”Al Quran adalah hidangan Allah “*_

.
8. Tidak akan bisa berinteraksi dengan Al Quran *kecuali mereka yang berusaha membersihkan hatinya*

.
9. *Jangan duakan Al Quran*, yaitu membaca Al Quran sambil melihat gadget

.
10. Berinteraksi dengan Al Quran yang benar adalah *meyakininya* bahwa membacanya mendatangkan keutamaan

.
11. Manusia yang bersama Al Quran hampir hampir *menandingi kenabian*, hanya wahyu tidak diturunkan kepada nya (Alhadist)

.
12. Berinteraksi dengan Al Quran adalah *terus membacanya* setiap hari

.
13. Jangan karena sudah membaca Al Quran 10 juz hari itu, lalu tidak membaca di hari yang lain, karena 10 juz itu jatah hari tersebut dan hari yang lain mempunyai jatah juga

.

14. Waktu membaca Al Quran itu *harus definitif*, jika kita menunggu waktu kosong untuk membaca Al Quran, maka kita tidak akan mendapatkannya

.
15. *Adukanlah* surat surat yang sulit kita hafal, kepada Allah, maka *Allah akan memudahkannya*

.
16. Al Quran adalah ahsanal hadist ( *perkataan terbaik* ), hadist nabi _shallallahu’alayhi wasallam_ tingkatannya hanya hasan, sedangkan perkataan yang lainnya di bawah itu

.
17. Kita sering takjub dengan ciptaanNya, namun kita _*jarang takjub*_ dengan perkataan-Nya

.
18. Siapa yang *sering berhubungan* dengan perkataan yang terbaik, maka ia akan menjadi manusia yang terbaik

.
19. Al Quran itu *mudah dihafal* karena banyak kata yang sama dan diulang. Kalau kita sudah hafal “fa bi ayyi ala i rabbikuma tukadziban” dalam surah arrahhman, maka ayat yang lain dimana redaksinya sama itu sudah hafal secara otomatis. Berinteraksi dengan Al Quran itu harus *berulang ulang*

.

20. Orang yang membaca seratus kali sebuah surah, dan ia belum hafal, maka ia *tetap mulia*, dibandingkan orang yang hanya membaca tiga kali lalu langsung hafal , karena tujuannya adalah *berulang ulang bersama Al Quran* bukan hanya sekedar mendemostrasikan kekuatan hafalannya

.
21. Siapa yang sudah hafal juz 30, maka ia sudah *punya hidayah* untuk menghafal juz 29, dan seterusnya

.
22. *Jangan remehkan ketidak ada interaksian* kita dengan orang2 yang beriman dan beramal sholih.

.
23. *Mungkinkah* rizqi kita berkurang, karir kita menurun ketika bersama Allah dengan berinteraksi melalui firmanNya ?

.
24. Tidaklah kita jauh dengan Al Quran *kecuali* ketika itu kita jauh dengan Allah

.
25. Jangan *menolak kebaikan* untuk mempertahankan kebaikan yang lain

.
26. Jangan *membenturkan satu amalan* dengan amalan yang lain, karena manusia itu *mampu* melakukan berbagai macam aktivitas dalam satu waktu

.
27. Siapa yang *lelah untuk Allah* di dunia ini maka Allah akan *mencukupkan lelahnya* di akhirat

.
28. Siapa yang tidak mau *lelah di dunia untuk taat kepada Allah*, maka ia *akan merasakan lelah* di akhirat.

.

Semoga Allah SWT menganugerahkan kemudahan dan keridloan dalam berinteraksi dgn Al-Qur’an..

#SelaluBersamaAlQuran 

#BahagiaBersamaQuran 

#Bersamakitabisa
🍃🍁🍃🍁🍃🍁🍃🍁🍃🍁🍃🍁🍃🍁🍃🍁🍃🍁
Sumber : WA

Advertisements

SOICHIRO HONDA

​Dulu … Di Jepang, ada anak laki2, tidak Pintar  .. sakit2an .. Tidak Ganteng juga .. 

.
di kelas duduknya paliiiiiing belakang karena takut disuruh maju ke depan oleh Guru …..

.
Tiap hari nemani Ayahnya di bengkel reparasi mesin pertanian didesa Kamyo distrik Shizuko … 

.
Di usia 8 tahun dia mampu mengayuh sepeda sejauh 14 km hanya untuk melihat Pesawat Terbang ……

.
Usia 15 tahun putus sekolah dan bekerja di bengkel mesin di Hary Shokai Company … 

.
Usia 21 tahun diserahi buka cabang …. 
Karena rajin.Bengkelnya maju pesat. 
Tapi dia tak puas dan memutuskan jadi wirausaha dg buka bengkel sendiri …. 

.
Dan memproduksi Ring Piston …. Sayang … TOYOTA menolak karyanya karena dianggap jauh dari Standar …. Dia di bully dan diejek teman2nya ….. 

.
Dia sedih dan jatuh sakit ….
Setelah sembuh, dia putuskan kuliah untuk cari ilmu … Namun dia Drop out tdk bs meneruskan kuliah …. Dia berusaha dan mencoba dan selalu gagal berkali-kali …..

.
Tahun 1947, Jepang porak poranda …. Hidupnya makin parah … Semua dijual untuk kebutuhan sehari hari termasuk mobil kesayangannya dia jual ….
Dari kondisi inilah Titik balik kehidupannya berubah ….!!!

.
Dia punya sepeda kayuh satu2nya … Dia pasang motor kecil di sepeda nya …. Dan tanpa disangka … ” Sepeda yg ada Motor kecil nya itulah yg merubah hidupnya” …..
Banyak yg mau membeli, akhirnya dia memproduksi byk hasil karyanya itu ….
Usahanya berkembang pesat hingga merambah produksi Mobil ….. 

Dan menggurita di seluruh dunia … 
Termasuk Indonesia …… 

Dia menjadi Founding Father yg melegenda …. 
Dia … SOICHIRO HONDA …. 
(Pemilik Perusahaan Honda dari Jepang)

Apa yg dia ucapkan????

.
….Tidak ada sukses tanpa perjuangan…!!!

.
Orang Hanya melihat Saat aku berdiri dengan deretan Mobil dengan segala Kesuksesanku ….
Ketahuilah … Itu cuma 1% keberhasilanku …. 99% adalah kegagalanku ….jarang org yg mau melihatnya.

.
Orang lebih silau dg hasil kesuksesan…
Tanpa mau melihat bgmn kesuksesan itu dibentuk melalui sebuah proses yg berat, susah payah, jatuh bangun, dicaci, diejek, dibully, dikhianati, diremehkan….!!!

.
Sukses butuh semangat pantang menyerah, perjuangan dan doa, bahkan darah dan air mata…..!!!

Semoga bermanfaat…
Sumber : WA

Meng-aqil Baligh-kan Anak


oleh :  Adriano Rusfi, Psi.

.
_Libatkan anak dalam masalah_
Saya baru punya mobil usia 42 tahun. Rumah baru punya 2 tahun lalu, sebelumnya ngontrak.
Dulu saat usia saya 28 tahun, teman-teman saya bilang, _“Lu makanya yang fokus dong cari duit.”_

.
Saya cuek saja, saya memilih fokus mendidik anak. Saya percaya dengan prinsip “Life begin at forty”. Bagaimana pun waktu bersama dengan anak tidak akan bisa diulang saat anak2 sudah dewasa.

.
Kalau sekarang teman-teman saya kagum dan bilang, _“Lu hebat banget sih?”_

.
Saya sekarang bisa membalas, _“Mungkin dulu Lu kecepetan fokus sih.”_

.
Karena setelah menikah dan mempunyai anak, saya memilih fokus untuk mendidik anak-anak saya.

.
*Supaya beban finansial saya cepat beres, saya fokus meng-aqilbaligh-kan anak-anak.*

.
Anak saya dari usia SMP sudah menjadi loper koran, membuka jasa servis tamiya, membantu scoring lembar psikotest.

.
Saya memberikan syarat jika anak meminta sesuatu, maka 10% haruslah memakai uangnya sendiri. Sehingga setiap permintaan anak saya akan dimulai dengan pertanyaan: “Abi ada duit nggak?”
Ketika anak saya ingin sepeda motor, saya katakan, “Bebas boleh pilih yang mana saja, asal 10% uang sendiri.”

.
Anak saya jadi berpikir juga. Yang 16 juta, harus ada 1,6 juta. Akhirnya anak saya memilih yang 9 juta saja, karena merasa mampu menyediakan 10%-nya. Abi nya senang, anak senang.

.
Ketika anak meminta barang baru sementara barang yang lama masih bisa dipakai, saya hanya katakan, 

_”Harusnya kamu bersyukur abi sudah belikan yang itu dan kamu masih bisa gunakan itu.”_

.
Salah satu cara mendidik anak menjadi Aqil Baligh adalah dengan tidak menyembunyikan masalah dari anak. Rem masa baligh anak dengan membantu orang tua menyelesaikan masalahnya.

.
*Jadi kurang tepat juga ketika mengatakan, “Biar Ayah saja yang menderita, kamu belajar saja yang rajin.”*

.
Itu adalah kalimat kurang ajar. Bukti bahwa si Ayah Egois. Mengapa si ayah tidak mengijinkan anaknya mengikuti jalan suksesnya? Tidak ada sejarahnya orang sukses hanya dari gelimangan kemudahan.
Konglomerat Tionghoa itu sadis-sadis sama anaknya. Kalau anak mereka minta macam-macam, jawabnya “Sudah bagus Bapak kasih segitu.”

.
Kita saja yang Melayu ini suka memanjakan anak. Ada tetangga saya Tionghoa yang pengusaha kaya raya. Ketika hujan, ia memberikan payung buat anaknya supaya jadi ojek payung.

.
Ketika anak saya sudah memasuki usia aqil baligh, anak saya beritahu. “Kamu ini sebenarnya sudah bisa abi suruh pindah, tapi sekarang masih boleh tinggal dirumah. 

.

Hanya kamu statusnya numpang. Numpang makan, numpang tidur. Jadi tahu diri ya sebagai penumpang. Baik-baik sama tuan rumah.”

.

Maka anak pun akan berusaha mematuhi tata tertib untuk tidak pulang malam, dll.

.
Hadapkan anak dengan berbagai masalah dan harus mencari solusinya sendiri adalah bagian dari upaya meng-aqilbaligh-kan anak kita. Ajari anak cari uang, ajari anak berorganisasi. Libatkan anak dengan masalah.

.
Anak mulai bisa diajarkan kemandirian saat usia di atas 7 tahun. Itu sudah fitrahnya. Didik anak dengan penuh optimis, tidak perlu rekayasa. Dan jangan lupa untuk meminta kepada Allah melengkapi kekurangan kita dalam mendidik anak-anak.

.
#PendidikanAqilBaligh

#SeniMendidikAnak

#GoodJob

#SmartAndReligius
.
Sumber : FB

​PERASAAN YANG TERABAIKAN

Elly Risman, Psi

.
Direktur, Psikolog, dan Trainer Yayasan Kita dan Buah Hati

.
“Diaaam !.. Diam Mama bilang! Cengeng banget sih gak berhenti-berhenti nangis dari tadi.. Kalau Mama sudah gak sabar nanti Mama pukul kamu!“

“Tau kenapa Mama gak suka sama kamu? Kalau nangis lama, dibilangin gak denger, gak kayak adikmu! Paham?” Ujar Bu Tini pada anaknya yang sulung berusia 5,5 tahun sambil mendorong kepala anaknya…

.
Terkesan familiar?

Bukan hanya Bu Tini tapi banyak ibu-ibu lain sering sekali merasa tak mampu mengendalikan emosinya menghadapi anak-anaknya, tanpa tahu mengapa mereka merasakan seperti itu. Umumnya bila sudah marah panjang lebar bahkan melengkapinya dengan nolak kepala seperti yang dilakukan Bu Tini, ada juga dengan mencubit bahkan memukul, mereka umumnya menyesal bahkan gak jarang menangis di kamar tidurnya. Apalagi kalau sudah malam, semua sudah tenang dan dia mengamati atau memandangi anaknya yang pulas tertidur dan nampak benar keluguan dan kepolosannya..

“Ya Allah kenapa aku marahi dan pukuli anakku ya Allaaah,” keluhnya sambil menciumi anaknya sementara air mata terus berurai. Penyesalan tak pernah datang diawal….

.
BEGINILAH JADINYA BILA TAK ADA PERSIAPAN
Umumnya, jarang sekali ayah dan ibu memiliki kesiapan atau dipersiapkan oleh orang tuanya untuk menjadi orang tua. Kalau dulu, ketika beban pelajaran belum seberat sekarang dan jam belajar belum lagi diatas 8 jam sehari, anak-anak masih punya kesempatan untuk bersama dengan anggota keluarga dirumah. Sehingga kalau tidak terlibat dalam membantu kakak atau tantenya yang punya anak kecil, anak-anak masih dimintai tolong untuk membantu mengasuh atau menolong adiknya.

.
Tapi situasi kini jauh berubah. Anak-anak sekolah pada usia yang lebih dini, mata pelajaran yang padat, jam belajar yang panjang dan tugas sejibun. Pulang, lelah jiwa raga. Main games, nonton TV, kerjakan tugas, lalu tidur. Jarang ada kesempatan untuk dialog dan bercengkrama dalam keluarga. Apalagi kalau kedua orang tua bekerja pula dan pulang selalu lebih telat dari waktu anak tiba dirumah. Bayangkan!

.
Tiba-tiba tak terasa anak sudah lulus sekolah menengah, mahasiswa atau sudah jadi sarjana dan waktu menikah pun tiba. Dari mana ada persiapan menjadi suami istri, apalagi ibu dan ayah? Tahu-tahu sudah punya anak saja. Karena kurang pengetahuan, sengaja atau ‘kesundulan’ : ada dua balita dalam keluarga. Huih!

.
Apa yang paling hilang dari pengasuhan seperti yang diuraikan diatas adalah kesempatan untuk mendengarkan perasaan anak. Andainya saja orang tua tahu, bagaimana pentingnya perasaan itu perlu didengarkan, mereka akan berjuang untuk punya waktu dan berdialog dan membicarakan soal “rasa“ dengan anaknya.
Bisakah Anda bayangkan, apa jadinya dengan anak Bu Tini di atas yang sejak usia balita ibunya suka berteriak, marah, memerintah (diam!), mengecap (cengeng banget), mengancam (mama pukul nanti), menyalahkan (gak suka sama kamu, gak denger), membandingkan (gak kayak adikmu)??..

.
Apakah cara pengasuhan seperti ini, memungkinkan bagi orang tuanya untuk menunjukkan perhatian dan mempedulikan perasaan anaknya? Kemana anak ini akan membawa atau mengadukan derita rasa atau jiwanya kalau orang tuanya terus menerus menggunakan cara pengasuhan serupa ?

.

Itukan baru sekali! biasanya berapa kali dalam sehari? dan sudah berapa lama..? Itu anak siapa ya?

Jadi bagaimana ya kalau nanti dia jadi ibu atau ayah pula? Bila orang tuanya terbiasa kalau marah seperti itu, tidakkah anak ini akan mengulang semua apa yang dia terima ini dengan OTOMATIS terhadap anaknya pula nanti?
Berkata seorang ahli : “Hati-hati mengasuh anakmu. Perbaiki pola pengasuhanmu sebelum anakmu baligh. Karena engkau sedang salah mengasuh cucumu!”
Bagaimana mungkin?

.
Bagaimana mungkin merubah cara mengasuh, kalau kita :
1. Tidak menyadari bahwa pola asuh yang kita lakukan adalah pengulangan otomatis dari apa yang diterima dulu dan belum mampu memutus mata rantainya.
2. Tidak mengenali pola asuh yang bagaimana yang terjadi dengan pasangan kita, mengapa dia suka bersikap dan memiliki cara pengasuhan bahkan cara berfikir yang berbeda dengan kita? Mengenali dan menyesuaikan diri dengan semua perbedaan itu tidaklah mudah, biasanya memerlukan waktu 5 – 10 tahun. Tergantung bisa di dialogkan dan mau mencari pertolongan ahli atau tidak, bisa dicari titik temu atau tidak. Sementara anak nambah terus… Marah sama pasangan, malah anak yang jadi korban, iya kan?
3. Apalagi kalau pernikahan itu sudah bermasalah dari awal, tidak disetujui kedua belah pihak, atau hanya sebelah saja, ada kesalahan dilakukan sebelum perkawinan yang menimbukan penolakan dari salah satu keluarga atau anggotanya.
4. Tidak mengerti sama sekali tahapan perkembangan dan tugas perkembangan anak : Usia sekian anak harusnya sudah mampu melakukan apa dan bagaimana merangsangnya.
5. Tidak faham bahwa bahwa otak anak ketika lahir belum bersambungan dengan sempurna, sehingga kemampuannya terbatas, dan banyak hal mereka belum mengerti. Begitu sambungan mencapai trilliunan pada usia 2.5 tahun, anak mulai belajar menunjukkan dirinya. Tapi ketidakpahaman membuat orang tua mematahkan semangat anak dan tidak memberinya kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya dengan sering menjadi > ayah atau mama “sini” : “Sini mama bantuin, Sini ayah tolongin…”
6. Begitu anak sudah 4 tahun bisa berpura-pura dan berkhayal dikomentari : “bohong, mengada-ada saja,” dll. Atau bila mereka memberikan pendapatnya orangtua mengatakan “dia sudah bisa membantah dan tidak patuh lagi!“ Hoalllah… Kasiannya tuh anak!
7. Orang tua tidak tahu bahwa :

Pusat perasaan di otak, berkembang lebih dulu dari pusat kognitifnya. Karena terburu-buru ingin anak jadi pintar dan masuk sekolah, usia dini sudah dileskan Calistung, usia 6 tahun masuk SD. Kadang-kadang ini dilakukan karena di rumah sudah ada 2-3 adiknya!
8. BKKBN dan Kelompok Neurosaince Terapan pernah menyarankan agar dihindari sedapat mungkin untuk ada dua balita dalam keluarga, karena sangat mengkonsumsi jiwa, pikiran dan tenaga ibu. Apalagi kalau kedua orang tua bekerja dan anak di “subkontrakkan” kepada orang lain. Bayangkan apa jadinya dengan anak itu?

.
Jika anak saja tidak mendapatkan kesempatan untuk didengarkan perasaannya apa lagilah ibunya?

Mengapa fungsi berfikir ibu jadi terganggu?

Bagaimana tidak, kalau ibu mengalami semua 8 masalah diatas?

.
Seorang ahli mengatakan bahwa bila seseorang sedang secara fisik sangat lelah, maka emosi mudah naik, sehingga bagian berpikir di otaknya menjadi sempit dan fungsi berpikir terganggu. Kelakuan di dominasi oleh emosi. Kesadaran dan penyesalan akan muncul belakangan setelah emosi reda, letih berkurang.

.
Katherine Ellison, dalam bukunya The Mommy Brain menceritakan hasil risetnya bertahun tahun, bahwa ibu yang baru melahirkan itu normal bila dua bulan pertama mengalami apa yang disebutnya : “Amnesia keibuan, atau pikun kehamilan”. Hal ini terjadi oleh karena kekacauan kimiawi saat hamil dan melahirkan ditambah dengan rasa sakit, kekurangan tidur dan keharusan untuk belajar banyak hal sekaligus tentang mengurus, bayi, diri sendiri dan tetap memperhatikan lingkungan. Bila Anda lengah sekejap saja, bisa menimbulkan akibat yang sangat mengerikan.

.
Allison mengemukakan juga bahwa di Inggris keadaan ini disebut sebagai : Otak Bubur, di Australia : “Otak Plasenta” dan “Otak mami” di Jepang . Bayangkanlah kalau di bulan ketiga ibu ini sudah hamil lagi…

.
Jadi untuk membantu bagaimana agar ibu “tidak emosian” dalam mengasuh anak-anaknya, semua orang disekitarnya, terutama para ayah dan orang tua hendaknya mengerti akan 8 hal yang umumnya dihadapi oleh seorang ibu berikut “amnesia atau pikun keibuan” di atas dan jangan abaikan perasaannya.

.
Diatas segalanya, ibu itu sendiri harus mampu mengenali dirinya dan berupaya memahami sepenuhnya serta berdamai dengan masa lalunya dengan memaafkan semua yang terjadi. Selain itu ia harus berusaha mengerti apa yang terjadi dengan pasangannya dan orang di sekitarnya. Jangan karena tak mau berdamai dengan sejarah hidup, kesal dengan orang sekitar : suami dan anggota keluarga, anak yang dijadikan korban.

.

Anak tertekan, tak dimengerti dan tak didengarkan perasaannya adalah bencana di hari tua dan akhirat Anda..

.
Dari risetnya tentang otak para ibu, Allison menunjukkan bahwa dengan menjadi ibu, Anda menjadi lebih pintar dan cerdas dari apa yang kita fikirkan! Ada lima sifat otak yang dirangsang oleh bayi Anda: Persepsi, Efisiensi, Daya tahan, Motivasi, dan Kecerdasan emosi..

.
Jadi apalagi dear? : manfaatkan Mommy Brain Anda!

.
Selamat berjuang untuk menyelesaikan urusan dengan diri sendiri sebelum Anda menyelesaikan urusan anak dan keluarga anda. Putuskan mata rantai itu.

.
Mulailah dengan belajar mendengarkan dan menerima perasaan anak Anda…

Selamat Berbahagia ..
Salam hangat,

Elly Risman, Psi

.
#YayasanKitadanBuahHati

#ParentingEraDigital

#EllyRismanParentingInstitute
.
Sumber : FB

FITRAH SEKSUALITAS

​By: Elly Risman Musa

.
Punya suami yang kasar? Kaku? 

 Garing dan susah memahami perasaan istrinya? Tidak mesra dgn anak? Coba tanyakan, beliau pasti tak dekat dengan ibunya ketika masa anak sebelum aqilbaligh.
Punya suami yang “sangat tergantung” pada istrinya? Bingung membuat visi misi keluarga bahkan galau menjadi ayah? Coba tanyakan, beliau pasti tak dekat dengan ayahnya ketika masa anak. 

.
Kok sebegitunya? 

.
Ya! karena figur ayah dan ibu harus ada sepanjang masa mendidik anak anak sejak lahir sampai aqilbaligh, tentu agar fitrah seksualitas anak tumbuh indah paripurna.

.
Pendidikan fitrah seksualitas berbeda dengan pendidikan seks. Pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak bayi lahir.

.
Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati.

.
 Menumbuhkan Fitrah ini banyak tergantung pada kehadiran dan kedekatan pada Ayah dan Ibu. 

.
Riset banyak membuktikan bahwa anak anak yang tercerabut dari orangtuanya pada usia dini baik karena perang, bencana alam, perceraian, dll akan banyak mengalami gangguan kejiwaan, sejak perasaan terasing (anxiety), perasaan kehilangan kelekatan atau attachment, sampai kepada depresi. Kelak ketika dewasa memiliki masalah sosial dan seksualitas seperti homoseksual, membenci perempuan, curiga pada hubungan dekat dsbnya.

.
Jadi dalam mendidik fitrah seksualitas, figur ayah ibu senantiasa harus hadir sejak lahir sampai AqilBaligh. Sedangkan dalam proses pendidikan berbasis fitrah, mendidik fitrah seksualitas ini memerlukan kedekatan yang berbeda beda untuk tiap tahap. 
Usia 0-2 tahun, anak lelaki dan perempuan didekatkan pada ibunya karena ada menyusui, di usia 3 – 6 tahun anak lelaki dan anak perempuan harus dekat dengan ayah ibunya agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional apalagi anak sudah harus memastikan identitas seksualitasnya sejak usia 3 tahun. 
Kedekatan paralel ini membuat anak secara imaji mampu membedakan sosok lelaki dan perempuan, sehingga mereka secara alamiah paham menempatkan dirinya sesuai seksualitasnya, baik cara bicara, cara berpakaian maupun cara merasa, berfikir dan bertindak sebagai lelaki atau sebagai perempuan dengan jelas. Ego sentris mereka harus bertemu dengan identitas fitrah seksualitasnya, sehingga anak di usia 3 tahun dengan jelas mengatakan “saya perempuan” atau “saya lelaki”

.
Bila anak masih belum atau tidak jelas menyatakan identitas gender di usia ini (umumnya karena ketiadaan peran ayah ibu dalam mendidik) maka potensi awal homo seksual dan penyimpangan seksualitas lainnya sudah dimulai. 
Ketika usia 7 – 10 tahun, anak lelaki lebih didekatkan kepada ayah, karena di usia ini ego sentrisnya mereda bergeser ke sosio sentris, mereka sudah punya tanggungjawab moral, kemudian di saat yang sama ada perintah Sholat. 

.
Maka bagi para ayah, tuntun anak untuk memahami peran sosialnya, diantaranya adalah sholat berjamaah, berkomunikasi secara terbuka,  bermain dan bercengkrama akrab dengan ayah sebagai aspek pembelajaran untuk bersikap dan bersosial kelak, serta menghayati peran kelelakian dan peran keayahan di pentas sosial lainnya. 

.
Wahai para Ayah, jadikanlah lisan anda sakti dalam narasi kepemimpinan dan cinta, jadikanlah tangan anda  sakti dalam urusan kelelakian dan keayahan. Ayah harus jadi lelaki pertama yang dikenang anak anak lelakinya dalam peran seksualitas kelelakiannya. Ayah pula yang menjelaskan pada anak lelakinya tatacara mandi wajib dan konsekuensi memiliki sperma bagi seorang lelaki.

.
Begitupula anak perempuan didekatkan ke ibunya agar peran keperempuanan dan peran keibuannya bangkit. Maka wahai para ibu jadikanlah tangan anda sakti dalam merawat dan melayani, lalu jadikanlah kaki anda sakti dalam urusan keperempuanan dan keibuan. 

.
Ibu harus jadi wanita pertama hebat yang dikenang anak anak perempuannya dalam peran seksualitas keperempuanannya. Ibu pula orang pertama yang harus menjelaskan makna konsekuensi adanya rahim dan telur yang siap dibuahi bagi anak perempuan.
Jika sosok ayah ibu tidak hadir pada tahap ini, maka inilah pertanda potensi homoseksual dan kerentanan penyimpangan seksual semakin menguat.

.
Lalu bagaimana dengan tahap selanjutnya, usia 10 – 14? Nah inilah tahap kritikal, usia dimana puncak fitrah seksualitas dimulai serius menuju peran untuk kedewasaan dan pernikahan.

.
Di tahap ini secara biologis, peran reproduksi dimunculkan oleh Allah SWT secara alamiah, anak lelaki mengalami mimpi basah dan anak perempuan mengalami menstruasi pada tahap ini. Secara syahwati, mereka sudah tertarik dengan lawan jenis. 

.
Maka agama yang lurus menganjurkan pemisahan kamar lelaki dan perempuan, serta memberikan warning keras apabila masih tidak mengenal Tuhan secara mendalam pada usia 10 tahun seperti meninggalkan sholat. Ini semua karena inilah masa terberat dalam kehidupan anak, yaitu masa transisi anak menuju kedewasaan termasuk menuju peran lelaki dewasa dan keayahan bagi anak lelaki, dan peran perempuan dewasa dan keibuan bagi anak perempuan.

.
Maka dalam pendidikan fitrah seksualitas, di tahap usia 10-14 tahun, anak lelaki didekatkan ke ibu, dan anak perempuan didekatkan ke ayah. Apa maknanya?

.
Anak lelaki didekatkan ke ibu agar seorang lelaki yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka di saat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok wanita terdekatnya, yaitu ibunya, bagaimana lawan jenisnya harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata perempuan bukan kacamata lelaki. Bagi anak lelaki, ibunya harus menjadi sosok wanita ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.

.
Anak lelaki yang tidak dekat dengan ibunya di tahap ini, tidak akan pernah memahami bagaimana memahami perasaan, fikiran dan pensikapan perempuan dan kelak juga istrinya. Tanpa ini, anak lelaki akan menjadi lelaki yg tdk dewasa, atau suami yang kasar, egois dsbnya.

.
Pada tahap ini, anak perempuan didekatkan ke ayah agar seorang perempuan yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka disaat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok lelaki terdekatnya, yaitu ayahnya, bagaimana lelaki harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata lelaki bukan kacamata perempuan. Bagi anak perempuan, ayahnya harus menjadi sosok lelaki ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.

.
Anak perempuan yang tidak dekat ayahnya di tahap ini, kelak berpeluang besar menyerahkan tubuh dan kehormatannya pada lelaki yang dianggap dapat menggantikan sosok ayahnya yang hilang dimasa sebelumnya.
Semoga kita dapat merenungi mendalam dan menerapkannya dalam pendidikan fitrah seksualitas anak anak kita, agar anak anak lelaki kita tumbuh menjadi lelaki dan ayah sejati, dan agar anak anak perempuan kita tumbuh menjadi perempuan dan ibu sejati.

.
Agar para propagandis homo seksualitas tidak lebih pandai menyimpangkan fitrah seksualitas anak anak kita daripada kepandaian kita menumbuhkan fitrah seksualitas anak anak kita. Agar ahli kebathilan gigit jari berputus asa, karena kita lebih ahli dan berdaya mendidik fitrah anak anak kita.

.
Salam Pendidikan Peradaban 
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
Sumber : WA

MAU TAHU TIPS ULAMA MENGATASI KONFLIK RUMAH TANGGA? 

​Bismillah..

.
Nasehat Syaikh Muhammad bin Mukhtar Asy- Syinqithiy hafidzahullah…

.
Oleh karena itu, bersemangatlah melaksanakan shalat-shalat sunnah di rumah. Itulah diantara tujuan sunnah Nabi.

.
Rumah yang banyak dilakukan shalat di dalamnya, maka Allah akan menjadikan didalamnya kebaikan yang banyak. Hal ini banyak diperbincangakan para ulama dan orang-orang shalih.
Sebagian orang mengeluhkan di rumahnya selalu ada masalah.
Dia bercerita, “Kemudian aku mendatangi salah seorang ulama dan beliau bertanya kepadaku tentang shalat malam dan shalat rowatib.”

.
Ulama bertanya, “Apakah engkau termasuk orang yang menyia-nyiakan shalat sunnah rowatib?
Jawab orang tadi, “Ya benar.”
Rowatib maksudnya shalat sunnah yang dikerjakan sesudah atau sebelum shalat fardhu.

.
Ulama tersebut bertanya lagi, “Apakah engkau juga tidak shalat witir?”
Jawabnya, “Benar aku juga tidak shalat witir.”

.
Ulama tersebut berkata, “Kalau begitu rutinkan shalat sunnah rowatib dan tunaikan seperti Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menunaikan shalat tersebut di rumahmu. Begitupula rutinkan shalat witir jangan pernah engkau tinggalkan.”

.
“Al-Witir itu adalah kebenaran. Barangsiapa yang tidak shalat witir maka bukan golongan kami.” (HR. Ahmad dan Abu Daawud. Dinilai shahih oleh Al-Hakim)

.
“Wahai Ahlul Qur’an, shalat witirlah kalian karena sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla itu witir (Maha Esa) dan mencintai orang-orang yang melakukan shalat Witir.”

.
“Sungguh Allah telah melengkapi kalian dengan suatu shalat yang lebih baik dari unta merah.”

.
Para sahabat bertanya, “Shalat apakah itu wahai Rasulullah?”
Beliau shallallahu’alaihi wa sallam menjawab, “Shalat Witir yang dikerjakan antara waktu ‘Isya dan terbit fajar.”

.
Kemudian subhanallah dalam waktu satu minggu, tiba-tiba di rumahnya keadaan berubah sempurna; akhlak istri berubah, anak-anak mudah diarahkan. Semua perkara telah berubah.
Karena apa?

.
ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺟﺎﻋﻞ ﻟﻪ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻪ ﻣﻦ ﺻﻼﺗﻪ

خيرأ
“Maka Allah jadikan baginya di rumahnya banyak kebaikan dari shalat yang dia lakukan.” (HR. Muslim no.778)

.
Khairan dalam hadis ini bentuknya nakiroh (umum) mencakup semua kebaikan.

.
Jika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan bahwa didalamnya ada kebaikan pasti ada kebaikan.

.
Sungguh apa yang beliau sabdakan adalah kebenaran. Dan tidaklah beliu berucap mengikuti hawa nafsu, sesungguhnya itu adalah wahyu yang diturunkan.

.
Wallallahua’lam bishshowab.

.
Sumber: Channel Duror Asy Syaikh Muhammad hin Mukhtar Asy Syinqithi

.
Di share oleh,

@STaushiyyah

Telegram channel

Whatsapp Group Sahabat Taushiyyah
.
Sumber : WA

​​SANTRI DURHAKA KEPADA GURU​

Dikisahkan belasan tahun lalu seorang santri yang sedang nyantri di rubat tarim yang saat itu diasuh habib Abdulloh assyatiri, dia dikenal sangat Alim hingga mampu menghafal kitab tuhfatul muhtaj 4 jilid. siapa tak kenal dia?? 
Semua tau bahwa ia sangat Alim bahkan diprediksi sebagai calon ulama besar.

.
Nah, Suatu hari disaat habib Abdulloh mengisi pengajian rutin santri, tiba tiba habib bertanya tentang santri yang sangat terkenal Alim itu. “Kemana si fulan???” 
Semua santri bingung menjawab pertanyaan sang guru.

.
Ternyata santri yang dimaksud tidak ada di pondok melainkan keluar berniat mengisi pengajian di kota Mukalla tanpa izin.

.
Akhirnya habib Abdulloh Assyatiri yg sangat terkenal Allamah dan Waliyulloh berkata :”Baiklah orangnya boleh keluar tanpa izin, tapi ilmunya tetap di sini!!!”.

.
Di kota Mukalla, santri yang sudah terkenal Alim tersebut sudah di nanti nantikan para pecinta ilmu untuk mengisi pengajian di masjid omar Mukalla.

.
Singkat cerita si santri ini pun maju kedepan dan mulai membuka ceramahnya dengan salam dan muqaddimah pendek.

.
Allohu akbar !!! Ternyata, setelah membaca amma ba’du si Alim ini tak mampu berkata sama sekali, bahkan kitab paling kecil sekelas Safinah pun tak mampu ia ingat sedikitpun….

.
Sontak dia tertunduk dan menangis.. para hadirin pun heran, “Ada apa ini???”,, akhirnya Salah satu Ulama kota mukalla pun menghapirinya dan bertanya; “Saudara mengapa begini??? Apa yang saudara lakukan sebelumnya?”.

.
Dia menjawab : “Aku keluar tanpa izin habib dari pesantren.” 
Dia terus menangis , dan beberapa orang menyarankan agar ia meminta maaf kepada Habib..
Parahnya dia dengan sombong tidak mau meminta maaf!!. 

.
Kesombongannya ini membuat semua orang menjauhinya, dan tidak ada satupun yang perduli padanya, bahkan hidupnya setelah itu sangat miskin dan terlunta lunta dengan menjual daging ikan kering.
Dan di saat ia meninggal, ia mati dalam keadaan miskin bahkan kain kafannya pun tak mampu dibeli dan akhirnya diberi oleh seseorang.

.
​”Santri Yang Manfaat… Bukanlah Yang Paling Banyak Hafalannya, Yang Paling Bagus Penjelasan Kitabnya, Yang Selalu Juara Kelas….. Tapi Santri Yang Bermanfaat Adalah Yang Paling Hormat dan Taat Kepada Gurunya… dan Menganggap Dirinya Bukan Siapa-siapa Di Hadapan Gurunya…”​

.
Semga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah di atas.
Sumber : WA