Welcome..Home, Nak!

Berapa anakmu?
3? 2? 1? Berapa yang sekolah?. Apa yang engkau lakukan ketika menerima mereka sepulang sekolah?
Peluk? Sapa? Mengingatkan serentetan peraturan? Mulai dr taro sepatu di tempatnya sampai, jangan lupa kerjain pe-ernya?
Berapa menit mereka boleh beristirahat sekenanya? Masih pake seragam sekolah? Atau seragam hrs sudah masuk ke tempat cucian kotor? Berapa menit? 10? 20? 30?
Pertanyaannya, berapa menit ibu sanggup tahan melihat mereka blm ganti baju dan berleyeh-leyeh baik di kamar ataupun ruangan lainnya?
Apakah mereka sempat ibu tanya?
Mungkin nanti pas makan malam..tentang bagaimana harinya? Bagaimana teman baiknya? Siapa yg menyebalkan? Susah ngak ujian? Perhatikan jawabannya, Ikut antusias pada ceritanya?
Boleh ngak menahan bertanya, berapa nilai ujian kemaren? Td pas tes hafalan, bisa ngak? Atau berkomentar ttg hal negatif yang terjadi hari ini. Bisa ngak?
Terdengar familiar?
Ya itulah kebanyakan dari kita. Termasuk juga saya, yang tidak luput dari ‘terpeleset’ kembali ke metode ‘interview’ jaman dahulu kala. 
Kalau ibu-ibu NGAK PERNAH mengalami hal diatas..Masha Allah Tabarakallah! Ibu super hebat 👍🏼
Anak zaman sekarang, ngak bisa pake metode lama. Perduli hanya pada nilai test aja, kenapa sekian bisa salah, tapi lupa pada jumlah betulnya. Mengingatkan rutinitas dan peraturan, tapi lupa merasakan, bagaimana rasanya menjadi tubuh kecil yang lelah.. Sekolah dari pagi sampai ashar terkadangnya, belum lagi persiapan sekolah itu. Dari bangun sampai rapi menjelang berangkat. Dan pulang? Bersama dengan tas yang super berat.. Berisi pe-er dan tugasan yang tidak kalah beratnya. 
Mari berandai sejenak..andai anak itu kita. Maukah diperlakukan demikian? Begitu melangkah masuk ke halaman rumah, sudah disapa dengan.. “Ayoo.. Sepatunya ditaro di tempatnya, jangan lupa ganti baju…bla..bla..bla”…
“HHhhhhhh, lelahnyaaa! Blm sampe aja disambut sama rentetan perintah. Belum juga kelihatan mukanya. Nanya apa kek, senyum kek.. Jangan2.. Malah nanya ttg nilai test hari ini??”
Begitu kira-kira?
Istighfar.
Saya tahu ibu-ibu semua,lelah. Capek. Sudah seharian berjibaku dengan rutinitas yang itu-itu saja, dan sepertinya tidak habis-habisnya. Iya, faham. Ngak perlu lah dapat kerjaan tambahan, nyusun sepatu dan mungut baju seragam yang bau asem yg bertebaran dimana-mana itu. Ya kan?? 
Cucian piring aja blm selesai semua. 😭
Tapi, sebentar! Sebentar ajaa…
Tarik nafas. Jadilah mereka. Rasailah bagaimana lelahnya tubuh kecilnya. Menggendong buku yg banyak, dan beban pelajaran yg diterima hari ini. Belum lagi setumpuk pe-er yg sudah menghantui. 
Berhentilah sebentar. Tarik nafas. Atur diri. Senyuuummm… Siapkan posisi pelukan, jongkok.. Biar tingginya sama… Peluk eraaaattt, hujani dengan ciuman… Sapa dengan bilang “mamaaa kangeeen sekali sama (nama) hari ini, bagaimana harimu nak?”
Tanya
Belum tentu ia mau jawab. Ia lelah. Tapi yang pasti, ia akan tersenyum menerima semuaaa perlakuan hangat penuh cinta tersebut!
Ngak percaya?! Cobalah?
Wagu? Aneh? Canggung?
Ah, itu kan karena belum terbiasa

Ala bisa karena biasa…
Bagi yang sudah melakukan ini semuaa.. Alhamdulillah!
Bagi yg belum, yuk kita coba! Dan lihat perbedaannya!
Bagi yang masih suka ‘terpeleset’ seperti saya, banyak -banyak istighfar dan coba lagi aja 😄. Sampai terbiasa. 
Insha Allah kita bisa!
Semangaat 💪🏼💪🏼💪🏼
Untuk para ayah, kalau mau sampe rumah, kami tahu engkau lelah, tarik nafas dan jangan lupa, siapkan senyum terindah, karena buat sang buah hati, ketika ayah pulang ke rumah, mereka sambut bagaikan superhero yang paling ternama. 
Insha Allah kita bisa. Demi sang buah hati. 
Bukankah jika kita tua nanti, begitu pula sambutan yang kita harapkan dari mereka nanti??
Senyum. Pelukan. Tanyakan.. Bagaimana harimu hari ini nak?
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

Wina Risman
*tidak perlu izin share, jika dirasa bermanfaat :)🙏🏻
Sumber : broadcast wa

Advertisements

Welcome..Home, Nak!

Berapa anakmu?
3? 2? 1? Berapa yang sekolah?. Apa yang engkau lakukan ketika menerima mereka sepulang sekolah?
Peluk? Sapa? Mengingatkan serentetan peraturan? Mulai dr taro sepatu di tempatnya sampai, jangan lupa kerjain pe-ernya?
Berapa menit mereka boleh beristirahat sekenanya? Masih pake seragam sekolah? Atau seragam hrs sudah masuk ke tempat cucian kotor? Berapa menit? 10? 20? 30?
Pertanyaannya, berapa menit ibu sanggup tahan melihat mereka blm ganti baju dan berleyeh-leyeh baik di kamar ataupun ruangan lainnya?
Apakah mereka sempat ibu tanya?
Mungkin nanti pas makan malam..tentang bagaimana harinya? Bagaimana teman baiknya? Siapa yg menyebalkan? Susah ngak ujian? Perhatikan jawabannya, Ikut antusias pada ceritanya?
Boleh ngak menahan bertanya, berapa nilai ujian kemaren? Td pas tes hafalan, bisa ngak? Atau berkomentar ttg hal negatif yang terjadi hari ini. Bisa ngak?
Terdengar familiar?
Ya itulah kebanyakan dari kita. Termasuk juga saya, yang tidak luput dari ‘terpeleset’ kembali ke metode ‘interview’ jaman dahulu kala. 
Kalau ibu-ibu NGAK PERNAH mengalami hal diatas..Masha Allah Tabarakallah! Ibu super hebat 👍🏼
Anak zaman sekarang, ngak bisa pake metode lama. Perduli hanya pada nilai test aja, kenapa sekian bisa salah, tapi lupa pada jumlah betulnya. Mengingatkan rutinitas dan peraturan, tapi lupa merasakan, bagaimana rasanya menjadi tubuh kecil yang lelah.. Sekolah dari pagi sampai ashar terkadangnya, belum lagi persiapan sekolah itu. Dari bangun sampai rapi menjelang berangkat. Dan pulang? Bersama dengan tas yang super berat.. Berisi pe-er dan tugasan yang tidak kalah beratnya. 
Mari berandai sejenak..andai anak itu kita. Maukah diperlakukan demikian? Begitu melangkah masuk ke halaman rumah, sudah disapa dengan.. “Ayoo.. Sepatunya ditaro di tempatnya, jangan lupa ganti baju…bla..bla..bla”…
“HHhhhhhh, lelahnyaaa! Blm sampe aja disambut sama rentetan perintah. Belum juga kelihatan mukanya. Nanya apa kek, senyum kek.. Jangan2.. Malah nanya ttg nilai test hari ini??”
Begitu kira-kira?
Istighfar
Saya tahu ibu-ibu semua,lelah. Capek. Sudah seharian berjibaku dengan rutinitas yang itu-itu saja, dan sepertinya tidak habis-habisnya. Iya, faham. Ngak perlu lah dapat kerjaan tambahan, nyusun sepatu dan mungut baju seragam yang bau asem yg bertebaran dimana-mana itu. Ya kan?? 
Cucian piring aja blm selesai semua. 😭
Tapi, sebentar! Sebentar ajaa…
Tarik nafas. Jadilah mereka. Rasailah bagaimana lelahnya tubuh kecilnya. Menggendong buku yg banyak, dan beban pelajaran yg diterima hari ini. Belum lagi setumpuk pe-er yg sudah menghantui. 
Berhentilah sebentar. Tarik nafas. Atur diri. Senyuuummm… Siapkan posisi pelukan, jongkok.. Biar tingginya sama… Peluk eraaaattt, hujani dengan ciuman… Sapa dengan bilang “mamaaa kangeeen sekali sama (nama) hari ini, bagaimana harimu nak?”
Tanya
Belum tentu ia mau jawab. Ia lelah. Tapi yang pasti, ia akan tersenyum menerima semuaaa perlakuan hangat penuh cinta tersebut!
Ngak percaya?! Cobalah?
Wagu? Aneh? Canggung?
Ah, itu kan karena belum terbiasa

Ala bisa karena biasa…
Bagi yang sudah melakukan ini semuaa.. Alhamdulillah!
Bagi yg belum, yuk kita coba! Dan lihat perbedaannya!
Bagi yang masih suka ‘terpeleset’ seperti saya, banyak -banyak istighfar dan coba lagi aja 😄. Sampai terbiasa. 
Insha Allah kita bisa!
Semangaat 💪🏼💪🏼💪🏼
Untuk para ayah, kalau mau sampe rumah, kami tahu engkau lelah, tarik nafas dan jangan lupa, siapkan senyum terindah, karena buat sang buah hati, ketika ayah pulang ke rumah, mereka sambut bagaikan superhero yang paling ternama. 
Insha Allah kita bisa. Demi sang buah hati. 
Bukankah jika kita tua nanti, begitu pula sambutan yang kita harapkan dari mereka nanti??
Senyum. Pelukan. Tanyakan.. Bagaimana harimu hari ini nak?
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

Wina Risman
*tidak perlu izin share, jika dirasa bermanfaat :)🙏🏻
Sumber : broadcast wa

Wahai Anakku…

By KIKI BARKIAH 

Ketika ummi membaca berita tetang wajah-wajah anak negeri yang begitu memilukan, hati ummi masih tetap optimis menatap masa depan saat mengingat dan melihat ada segelintir pemuda yang hari ini sedang menyibukkan diri untuk menghafal Al-Quran. 
Ketika ummi membaca tentang bencana pornografi di negeri ini dimana 92 dari 100 anak kelas 4, 5 dan 6 di negeri ini telah terpapar pornografi bahkan sebagian diantara mereka mengalami kerusakan otak, hati ummi masih tetap optimis menatap masa depan saat mengingat para penghafal Al-quran yang menyibukkan pandangan mereka dengan ayat-ayat Allah dan menjaga mata mereka dari kemaksiatan pandangan. 
Ketika ummi membaca berita tetang semakin banyaknya pemuda-pemudi yang terjerumus dalam pergaulan bebas, bahkan anak-anak seusia sd mengalami musibah hamil di luar nikah, hati ummi masih optimis menatap masa depan karena ada segolongan kecil pemuda penghafal Al-quran yang sedang menyibukkan diri untuk mempelajari agama Allah. 
Ketika ummi melihat semakin maraknya anak-anak yang menghabiskan waktu senggang mereka dengan bermain games online, bahkan sebagian diantara mereka membolos dan duduk di warnet sepanjang hari, hati ummi masih optimis menatap masa depan karena ada segelintir pemuda penghafal Al-quran yang senantiasa menjaga diri mereka dari kesia-siaan. 
Ketika ummi melihat semakin marak pemuda-pemudi dengan gaya hidup hedonisme yang bersenang-senang dengan menghamburkan harta orang tua mereka, hati ummi masih optimis menatap masa depan karena ada segolongan pemuda yang hidup dalam kesederhanaan tengah menyibukkan diri menghafal Al-Quran demi mempersembahkan jubah keagungan bagi para orang tua mereka kelak di surga.
Ya…. harapan itu masih ada, sebagaimana Rasulullah SAW menjanjikan bahwa pada akhirnya dunia ini akan kembali damai dan sejahtera saat islam kelak memimpin dunia. Harapan itu masih ada karena ada kalian yang hari ini tetap berada dalam jalan kebaikan meski dunia pada umumnya bergelimpangan kemaksiatan.
Namun anakku…..

Ummi ingin menyampaikan bahwa jumlah kalian sangat sedikit. Kalian adalah orang asing yang tetap baik di tengah lingkungan yang buruk. 

Maka kelak akan ada sebuah generasi yang penuh kerapuhan dan kebobrokan menjadi tanggung jawab yang dipikul diatas bahu-bahu kalian.
Wahai anakku….

Maka menghafal Al-Quran saja tidak cukup. Ini hanyalah sebuah bekal dasar yang akan menguatkan kalian berjuang memimpin dunia ini menuju kebaikan.
Wahai anakku para penghafal Al-Quran….

Negeri kita, negeri Indonesia tengah berada dalam kondisi yang sangat buruk. Kekayaan kita habis dikeruk dan digali tetapi tak banyak memberikan kesejahteraan bagi para penduduknya. 

Ketidakmampuan kita untuk mengolah secara mandiri menyebabkan harta kekayaan kita dikelola oleh campur tangan asing. 

Namun sayangnya, kekayaan alam itu lebih banyak mensejahterakan pengelolanya dibanding mensejahterakan negeri ini secara lebih merata. Gunung emas kita di papua dikeruk, tetapi hasilnya tak mampu menghilangkan bencana kelaparan di setiap penjuru negeri ini. Gas bumi di negeri kita mengalir keluar, namun tak sepenuhnya membuat rakyat semua sejahtera dan mudah membeli sumber energi. Minyak bumi dan sumber energi lainnya hampir habis, tapi hasilnya tak juga mampu membuat semua anak negeri ini mengenyam pendidikan yang baik. Laut kita begitu luas namun ikan-ikan di negeri kita banyak dicuri, bahkan kekayaan ikan kita tak mampu membuat negeri ini terbebas dari becana gizi buruk.
Wahai anakku para penghafal Al-Quran.

Kepada siapa lagi kami menitipkan negeri ini di masa depan? Kepada mereka yang hari ini sibuk nongkrong di warnet? Atau kepada mereka yang hari ini sibuk bercengkrama di warung kopi sambil mengisap rokok atau shabu-shabu? Kepada siapa lagi kami menitipkan negeri ini di masa depan wahai anakku para penghafal Al Quran? Kepada mereka yang memenuhi klub malam? Atau kepada mereka yang menyibukkan diri menonton sinetron? Kepada siapa lagi kami menitipkan negeri ini? Kepada mereka yang otaknya telah rusak karena pornografi? Atau kepada mereka yang hari ini tengah sibuk berpacaran? Kepada siapa lagi wahai anakku, kami menitipkan negeri ini? Kepada mereka yang belajar demi nilai-nilai indah dalam rapot mereka? Atau kepada mereka yang hanya sibuk mementingkan kesuksesan diri?
Wahai anakku….. negeri ini kehilangan banyak generasi peduli. Ghirah mereka mati, dengan kesibukan sekolah dari pagi hingga sore hari. Kepedulian mereka hilang, karena asiknya bermain games online perang-perangan. Jangankan mereka sempat berfikir tentang nasib umat muslim di sebagian belahan bumi, atau rusaknya bangsa ini karena budaya korupsi. Bahkan untuk peduli tentang kebutuhan diri mereka harus selalu dinasihati. Lalu kepada siapa lagi kami titipkan masa depan negeri ini? Sementara jiwa pejuang “merdeka atau mati” yang membuat negeri ini memerdekakan diri semakin hilang di hati para santri. Kepekaan para santri dalam beberapa dekade ini dikebiri sebagai bagian dari rencana konspirasi. Mereka begitu takut!!! Mereka begitu terancam jika jiwa para santri bergelora seperti jaman perang kemerdekaan dulu. Mereka berencana sedemikian rupa agar santri berada dalam zona aman saja. Mengajar mengaji, menghafal Al-quran dan mengajar agama saja. Sementara mereka berjaya dengan penuh kuasa, mengatur ekonomi dengan semena-semena.
Wahai anakku para penghafal Al-Quran!!!!!

Keluarlah dari masjid, mushola dan mihrab kalian saat Al-Quran telah tersimpan dalam dada. Pergilah engkau mencari ilmu diseluruh penjuru dunia dan jadilah engkau para ulama. Seagaimana ulama-ulama di masa dulu mengerti agama dan pemahamannya berbuah menjadi karya nyata yang bermanfaat untuk umat manusia. 

Wahai anakku para penghafal Al-Quran, masalah ummat ini tak mampu di bayar dengan Al-Quran yang hanya disimpan dalam dada sendiri saja. Pergilah engkau dan masuklah dalam setiap peran kekhalifahan di muka bumi ini. Jadilah sngkau penguasa adil dan pemutar roda perekonomian dunia. Bila tidak engkau yang memainkan peran dalam panggung dunia, maka mereka yang tak paham agama yang akan memainkannya. 

Relahkah engkau membiarkan Al-Quran yang tersimpaan dalam dada sekedar menonton panggung dunia?
Wahai anakku… para penghafal Al-Quran!!!

Keluarlah!!! Keluarlah dari masjid, mushola dan mihrob kalian saat Al-Quran telah tersipan dalam dada. Agar dunia ini dipimpin oleh segolongan kecil pemuda yang luar biasa. Lipatgandakan kekuatan kalian hari ini sebelum engkau memimpin dunia. Karena pemuda-pemuda kebanyakan di masa kini adalah PR-PR mu di masa depan nantinya. Keluarlah anakku… setelah Al-Quran tersimpan dalam dada. Jadilah engkau pejuang yang merealisasikan nubuwat Rasul-Mu bahwa kelak islam akan memimpin dengan manhaj ala Rasulullah sebelum kiamat tiba. Anakku… jadilah engkau salah satu pejuangnya!
ALLAHU AKBAR!!!!!
Parung Bogor 7 Okt 2016
Sumber : broadcast wa

Hanya Soal Waktu…

By Shahnaz Haque 
UNTUK BAPAK/IBU YG SERING JENGKEL DG SI BUAH HATI
HANYA SOAL WAKTU

Saat rumahmu akan sebersih dan serapih rumah2 dalam majalah2 yang sering kau irikan itu..
Maka… nikmatilah setiap detik letihmu yang harus berpuluh kali membereskan kekacauan yang mereka buat
Hanya soal waktu…

Saat mereka tak mau lagi kau gandeng, peluk atau sekedar kau cium rambutnya
Maka… berbahagialah ketika mereka selalu membuntutimu kemanapun kakimu melangkah, meski kadang hal itu mengesalkanmu,

bagi mereka tak ada selainmu
Hanya soal waktu…

Saat kau tak lagi jadi si serba tahu dan tempat mengadu
Maka… bersabarlah dengan rentetan pertanyaan juga celoteh riang dari mulut mungil mereka yang kadang membuat dahimu mengernyit atau keasyikanmu terhenti
Hanya soal waktu…

Saat mereka mulai _meminta kamarnya masing2_ dan melarangmu mengutak atik segala rupa apa yang di dalamnya
Maka… tahan emosimu dari rengekan manja mereka saat minta kelon atau dongeng sebelum tidur ketika mata 5 wattmu juga meminta haknya
Hanya soal waktu…
Saat mereka menemukan separoh hatinya untuk selanjutnya membangun sarangnya sendiri. Mungkin saat itu posisimu tak lagi sepenting hari ini
Maka… resapilah setiap mili kebersamaanmu dengan mereka selagi bisa
Karena tak butuh waktu lama menunggu kaki kecil mereka tumbuh menjadi sayap yang kan membawanya pergi menggapai asa dan cita
Kelak kau hanya bisa menengok kamar kosong yang hanya sekali dua akan ditempati penghuninya saat pulang…
Termangu menghirup aroma kenangan di dalamnya dan lalu tercenung *”Dulu kamar ini pernah begitu riuh dan ceria”* Dan kau akan begitu merindukannya
Kelak kau akan sering menunggu dering telepon mereka untuk sekedar menanyakan *”Apa kabarmu ibu, ayah”?*
Dan kau akan begitu bersemangat menjawabnya dengan cerita-cerita tak penting hari ini
Kelak kau akan merindukan acara memasak makanan kegemaran mereka dan merasa sangat puas saat melihat hasil masakanmu tandas di piring mereka
Janganlah keegoisanmu hari ini akan membawa sesal di kelak kemudian hari
Kau takkan pernah bisa memundurkannya sekalipun sedetik untuk sekedar sedikit memperbaikinya
Karena waktu berjalan…
Ya… ia berlari…

Tidak…. ia bahkan terbang…

Dan dia tak pernah mundur kembali…
MARI KITA SAYANGI ANAK KITA SEPENUH HATI, SELAGI MASIH ADA WAKTU”
Sumber : broadcast wa

​JUALAN KOK MALU?

Mungkin sebagian dari Anda masih nggak suka jualan karena alasan klasik: malu, gengsi, takut dicibir, takut ditolak, dll.
Sesekali coba Anda pikirkan!
Sejatinya pas kita jualan, kita lagi ngasih SOLUSI ke orang lain. Solusi tersebut dikemas dalam bentuk produk entah berupa barang maupun jasa.
Semakin solusi tersebut memecahkan masalah orang, semakin produk tersebut laris di pasaran.
Produk yang nggak laku, karena valuenya kurang. Solusinya gak menyelesaikan masalah secara signifikan.
Uang itu efek.
Efek dari keyakinan dan semangat Anda membantu banyak orang untuk mendapatkan value tersebut.
Kalau uangnya pengen banyak, ya harus semangat jualannya.

Kalau uangnya pengen mengalir deras, ya harus keras perjuangannya.

Semakin ditolak, semakin semangat bukan malah semakin kendor.
Ingat, jualan adalah aktivitas menolong orang yang dibayar.
Bayangkan begitu banyak orang yang terbantu karena hadirnya produk Anda dan bisa menyelesaikan masalah mereka.
Jualan itu halal. Halal!
Gak usah malu, gak usah gengsi.
Dan karena jualan niat utamanya nolong orang, kalaupun ditolak, kenapa mesti pusing, stress, dan putus asa?
Kalau Anda ditolak, artinya bukan Mereka orang-orang yang beruntung mendapatkan solusi yang Anda tawarkan.
Keep calm down. Santai aja….
Setiap produk pasti ada jodohnya.. 
Semoga bermanfaat ˆ⌣ˆ 

Sumber : broadcast wa

​Mungkin Anakmu …

Mungkin anakmu tak berbakat seperti Abu Hurairah,

Tapi dia berbakat seperti Khalid bin Walid.
Mungkin anakmu tak seperti Said bin Musayyib,

Tapi bisa jadi dia seperti Uwais Al-Qarani.
Mungkin anakmu tak seperti Khadijah binti Khuwailid,

Tapi bisa jadi dia seperti Aisyah binti Abu Bakar.
Mungkin anakmu tak seperti Hafshah binti Umar,

Tapi bisa jadi dia seperti Sumayyah Ummu Ammar bin Yasir.
Mungkin anakmu tak berbakat menjadi ulama,

Tapi bisa jadi bekal ilmu agama dan keahlian lainnya membawanya ke jalan seorang Salahuddin Al-Ayyubi.
Mungkin anakmu tak berbakat seperti Sa’ad bin Abi Waqqash,

Tapi bisa jadi Allah memberinya semangat seperti Abdullah bin Ummi Maktum.
Bisa jadi anakmu punya satu atau dua kekurangan,

Tapi bisa jadi Allah beri bashirah di hatinya seperti Syaikh Abdul Aziz bin Baz.
Ibu …
Bersama semangatmu,

Bersama kesabaranmu,

Bersama doa panjangmu,

Bersama husnuzhanmu kepada Sang Khaliq,
Semoga dialah anak yang menjadi sebab engkau masuk surga Allah tanpa hisab dan tanpa azab. Kelak, insyaallah. 
(*) Teruntuk semua ibu yang sedang berkutat dengan hari-harinya.
Barakallahu fikunna.

10 Oktober 2016
Sumber : broadcast wa

​MUHASABAH TAHFIZH 

1. DULU, ayat bertemu dengan hati yang gelisah, maka hati yang gelisah menjadi tenang. KINI, ketika ayat bertemu dengam hati yang gelisah, maka ayatnya yang ikut gelisah.
2. DULU, kesungguhan penghafal Al-Qur’an tumpah pada murajaah hafalan. KINI, kesungguhannya tumpah pada menambah hafalan.
3. DULU, menghafal Al-Qur’an mengalir bersama istiqmah. KINI, menghafal Al-Qur’an mengalir bersama ketergesaan.
4. DULU, kerendahan hati penghafal Al-Qur’an dibuktikan dengan mutqinnya hafalan dan pengamalan. KINI, cukup dicitrakan..
5. DULU, menghafal Al-Qur’an menyingkirkan perasaan malas dan bosan. KINI, menghafal Al-Qur’an menyebabkan datangnya perasaan malas dan bosan.
6. DULU, menghafal cepat dianggap susah dan menghafal lama dianggap mudah. KINI, menghafal cepat dianggap mudah dan menghafal lama dianggap susah.
7. DULU, semangat penghafal Al-Qur’an ada di akhir, semakin ke sini semakin bersemangat. KINI, semangatnya menggebu di awal, semakin ke sini semakin kurang bersemangat.

8. Dulu, lebih suka kehilangan nyawa dari pada kehilangan ayat. KINI, lebih takut kehilangan uang dari pada kehilangan ayat.
9. DULU, para penghafal Al-Qur’an takut kalau hafalannya yang bagus  diketahui orang. KINI, penghafal Al-Qur’an takut kalau hafalannya yang buruk diketahui orang.
10. DULU, tak ragu habiskan harta untuk Al-Qur’an. KINI,…
Allah, maafkan kami…  😭
Sumber : broadcast wa