MUTIARA YANG BERNODA

​Berbagi Hikmah Pagi …….
Ada seorang tua yg sangat beruntung. Dia menemukan sebutir mutiara yg besar & sangat indah. Namun kebahagiaannya segera berganti menjadi kekecewaan begitu dia mengetahui ada sebuah titik noda hitam kecil di atas mutiara tsb.
Hatinya terus bergumam, kalaulah tidak ada titik noda hitam, mutiara ini akan menjadi yang tercantik dan paling sempurna di dunia. Semakin dia pikirkan semakin kecewa hatinya.
Akhirnya, dia memutuskan untuk menghilangkan titik noda dgn menguliti lapisan permukaan mutiara.
Tetapi setelah dia menguliti lapisan pertama, noda tsb msh ada. Dia pun segera menguliti lapisan kedua dgn keyakinan titik noda itu akan hilang. Tapi kenyataannya noda tsb msh tetap ada. 
Lalu dgn tidak sabar, dia mengkuliti selapis demi selapis, sampai lapisan terakhir.
Benar juga _noda telah hilang_, tapi _mutiarapun ikut hilang…_
*_H i k m a h …_*

_Begitulah dg kehidupan nyata._

_Kadang kita suka *mempermasalahkan hal yg kecil*, yg tidak penting sehingga akhirnya merusak *nilai yang besar*._
_= Persahabatan yg indah puluhan tahun berubah menjadi permusuhan yg hebat hanya karena sepatah kata pedas yg tidak disengaja._
_= Keluarga yg rukun & harmonispun jadi hancur hanya karena perdebatan2 kecil yg tak penting._
_= Yang remeh kerap dipermasalahkan, yg lebih penting dan berharga lupa dan terabaikan._
_= Seribu kebaikan sering tak berarti. Tapi setitik kekurangan diingat seumur hidup._
_= Mari belajar menerima kekurangan apapun yg ada dlm kehidupan kita. Bukankah tak ada yg sempurna di dunia ini…_
_= SEHATI  bukan karena Memberi, tapi sehati karena saling memahami._
_= CINTA bukan karena terpesona. Tapi cinta karena saling terbuka._
_= BETAH bukan karena mewah, tapi betah karena saling mengalah._
_= BERSAMA bukan karena harta dunia, tapi bersama karena SALING MENGISI._
_= INDAH bukan karena selalu mudah, tetapi indah karena dihadapi bersama setiap kesusahan._
*_Salam sehat, semangat dan damai bersama keluarga, kerabat, teman dan sahabat…_*  💎💎
Sumber : broadcast wa

Advertisements

HUBUNGAN KITA & ANAK…Kini dan “Nanti”

​*🍒RENUNGAN UNTUK KITA ORANGTUA*
*~~~~~~~~~~~~~~~~*
_💞Pada saatnya anak-anak akan pergi, meninggalkan kita, sepi…_
_Mereka bertebaran di muka bumi untuk melaksanakan tugas hidupnya; berpencar, berjauhan…_
_Sebagian di antara mereka mungkin ada yang memilih untuk berkarya dan tinggal di dekat kita agar berkhidmat kepada kita…_
_Diantara mereka ada yang merelakan terlepasnya sebagian kesempatan untuk meraih dunia, karena ingin meraih kemuliaan akhirat dengan menemani dan melayani kita…_
_Tetapi pada saatnya, kita pun akan pergi meninggalkan mereka…_
_Entah kapan…_
_Pergi dan tak pernah kembali lagi ke dunia ini…_
_Kematian adalah perpisahan yang sesungguhnya; berpisah dan tak pernah lagi berkumpul dalam kemesraan penuh cinta…_
_Orangtua dan anak hanya berjumpa nanti di hadapan Mahkamah Allah Ta’ala…_
_Ada yang saling menjadi musuh satu sama lain, saling menjatuhkan…_
_Ada anak-anak yang terjungkal ke dalam neraka dan tak mau menerima dirinya tercampakkan, sehingga menuntut tanggung-jawab orangtua yang telah mengabaikan kewajibannya mengajarkan agama…_
_Adakah itu termasuk kita?_
_Alangkah besar kerugian di hari itu…_
_Jika anak dan orangtua saling menuntut di hadapan Mahkamah Allah Ta’ala…_
_Inilah hari ketika kita tak dapat dibela pengacara, dan para pengacara tak dapat membela diri mereka sendiri…_
_Lalu apakah yang sudah kita persiapkan untuk mengantarkan anak-anak pulang ke kampung akhirat?_
#apakah anak anak kita sudah di ajarkan bagaimana sholat,membaca Alquran dan ilmu agama sesuai dengan tuntunan Rasulullah# ????
_tidak tidak sekali lagi tidak…..jangan kau ajarkan anakmu untuk bernyanyi dan menari dan mencontoh kaum Nasrani dan Yahudi yang setiap tahunnya untuk meniup lilin…._ 
_Dan dunia ini adalah ladangnya…_
_Kematian itu adalah perpisahan sesaat; amat panjang masa itu kita rasakan di dunia, tapi amat pendek bagi yang mati…_
_Anak-anak berpisah dengan kita untuk kemudian dikumpulkan kembali oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala…_
_Tingkatan amal kita dan anak-anak boleh jadi tak sebanding…_
_Entah mana yang lebih tinggi…_
_Allah Ta’ala saling susulkan di antara mereka kepada yang amalnya lebih tinggi…_
*Allah Ta’ala berfirman :*
*”والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم وما ألتناهم من عملهم من شيء كل امرئ بما كسب رهين“*
_*“Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”*_*(QS. Ath-Thur 52:21)*
_Diam-diam bertanya, adakah kita termasuk yang demikian ini?_
_Saling susul kepada yang amalnya lebih tinggi…_
_Termasuk kitakah?_
_Adakah kita benar-benar mencintai anak kita?_
_Kita usap anak-anak kita saat mereka sakit…_
_Kita tangisi mereka saat terluka…_
_Tapi adakah kita juga khawatir akan nasib mereka di akhirat…_
_Sebagaimana diantara kita mengkhawatirkan nasib mereka di dunia…_
_Adakah kita juga khawatir akan nasib mereka di akhirat…_
_Sebagaimana diantara kita mengkhawatirkan nasib kita “nanti” nya…_
_Kita sibuk menyiapkan masa depan mereka…_
_Bila perlu sampai letih badan kita…_
_Tapi disamping untuk diri kita sendiri…, adakah kita berlaku sama untuk “masa depan” mereka yang sesungguhnya di kampung akhirat?_
_Tengoklah sejenak anakmu…_
_Tataplah wajahnya…_
_Adakah engkau relakan wajahnya tersulut api nereka hingga melepuh kulitnya?_
_Ingatlah sejenak, ketika engkau merasa risau melihat mereka bertengkar dengan saudaranya…_
_Adakah engkau bayangkan ia bertengkar denganmu di hadapan Mahkamah Allah Ta’ala karena lalai menanamkan tauhid dalam dirinya?_
_Ada hari yang pasti ketika tak ada pilihan untuk kembali…_
_Adakah ketika itu kita saling susul ke dalam surga?_
_Ataukah saling bertikai?_
_“Maka, mari cintai anak-anak kita untuk selamanya!”_
_“Dengan mencintai mereka karena Allah Azza wa Jalla…”_
_Bukan hanya untuk hidupnya di dunia…_
_Cintai mereka sepenuh hati…_
_Untuk suatu masa ketika tak ada sedikit pun pertolongan yang dapat kita harap, kecuali pertolongan Allah Ta’ala…_
_Cintai mereka dengan pengharapan agar tak sekedar bersama saat dunia saja, lebih dari itu dapat berkumpul bersama kelak di surga…_
_Cintai mereka seraya berusaha mengantarkan mereka meraih kejayaan, bukan hanya untuk kariernya di dunia yang sesaat…_
_Lebih dari itu untuk kejayaannya di masa yang jauh lebih panjang…_
_Masa yang tak bertepi…_
¬¬¬¬¬¬¬¬

*Sumber :*
▶ Tulisan asli dari *Mohammad Fauzil Adhim*.

Penulis buku best seller _“Segenggam Iman untuk Anak dan Saat Berharga untuk Kita”_.                                                🍃🍀🍃🍀🍃🍀
Sumber : broadcast wa

APA YANG MEMBUAT ALLAH SENANG?

​*JANGAN BANGGA* DENGAN BANYAK *SHALAT, PUASA* DAN *DZIKIR* _KARENA_ BELUM TENTU MEMBUAT *ALLAH SENANG.*
*MAU TAU APA YANG MEMBUAT ALLAH  SENANG?*
*Nabi Musa*:

_Wahai Allah aku sudah melaksanakan ibadah._

_Lalu manakah ibadahku yang membuat Engkau senang ?_
*Allah*:

_*Shalat* mu itu untukmu sendiri, karena dengan mengerjakan shalat, engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar._
_*Dzikir ?*_ _Dzikirmu itu membuat hatimu menjadi tenang._
_*Puasa ?*_ _Puasamu itu melatih dirimu untuk memerangi hawa nafsumu._
*Nabi Musa*:

_Lalu apa ibadahku yang membuat hati-Mu senang yaa Allah ?_
*Allah*:

_*SEDEKAH, INFAQ, ZAKAT SERTA AHLAQUL KARIMAHMU.*_

_Itulah yang membuat Aku senang, karena tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang susah, Aku hadir disampingnya. Dan Aku akan mengganti dengan ganjaran 700 kali (QS. Al-Baqarah 261-262)._
_*Nah, bila kita sibuk dengan ibadah ritual dan bangga akan itu maka itu tandanya kita hanya mencintai diri kita sendiri, bukan Allah.*_

_*Tapi, bila kita berbuat dan berkorban untuk orang lain serta melunakkan hati kita kepada orang lain maka itu tandanya kita mencintai Allah dan tentu Allah senang karenanya.*_
*Buatlah Allah senang maka Allah akan limpahkan rahmat-Nya dengan membuat hidup kita lapang dan bahagia…*
_Barakallahu Fiikum._
*Semoga Bermanfa’at *
Sumber : broadcast wa

​Your Words Shape  Your Children’s World!

“Andreeeeiii…. Tobat deh, tuh liat deh naliin sepatu aja  dari tadi gak bisa bisa… Bener bener deh.. lama banget!. Teriak bu  Anton pada anak laki lakinya  yang berusia 6 tahun yang masih berkutat menalikan sepatunya.

Kehilangan kesabarannya, bu Anton menghampiri anaknya dan mengatakan :”Ngiket tali sepatu aja nggak bisa bisa  Dri, bagaimana coba nanti masa depanmu?”

Andri memiringkan kepalanya dan menatap ibunya dengan  pandangan heran tanpa kata kata lalu meneruskan mengikat tali sepatunya.

Mungkin dalam hatinya ia berkata :”Ya Allah mama.. ini kan urusan ngikat sepatu doang.. Masa depan masih jauh banget!”.
Tidak sengaja mungkin, tapi banyak sekali kalimat kalimat negatif terlontar dari mulut orang tua  ketika menghadapi kenakalan, kelambatan atau tingkah laku yang tidak sesuai dengan harapan, baik bernada  meremehkan, merendahkan atau menjatuhkan terhadap anaknya.

Padahal banyak orang percaya bahwa  kata kata orang tua itu bak sebuah doa..

Saya teringat pengalaman saya berpuluh tahun yang lalu ketika saya dan teman teman pelatih dari Yayasan Kita dan Buah Hati menyelenggarakan pelatihan Bagaimana ngomong dengan anak  di daerah kumuh belakang Mall Mangga Dua Jakarta Pusat.  Mula mula pelatihan ini hanya diminati beberapa orang saja..Di hari kedua, ruangan kecil sebelah rumah pak RT itu tak sanggup menampung ibu ibu yang berminat untuk ikut serta. Selama pelatihan  itu banyak sekali ibu ibu yang menyesal bahkan menangis dan bertanya bagaimana caranya agar mereka dan anak mereka  bisa berubah. Pasalnya selama ini  karena  hidup mereka susah penuh tekanan, ibu ibu ini  sering kehilangan kesabarannya dalam menghadapi  anak anak mereka. Mereka bukan saja berkata kasar, mencubit, memukul  tapi juga mengatai  ngatai anak mereka menggunakan kata kata yang mereka sebut “kebun binatang”. Seorang ibu mengadu  sambil berurai air mata pada saya: “Emang bener bu, makin lama  kelakuan anak saya makin bandel dan keras banget aja bu!”. Bagaimana bu, bantuin saya ….

 

Tak luput pula  dari kenangan saya bagaimana  ibu saya mengingat seorang ibu yang masih keluarga jauh  kami agar menjaga dirinya  supaya “mulutnya tidak terlalu tajam” pada anak lelakinya yang sudah remaja. “Nanti, kata ibu saya “Kalau hidup anakmu seperti kata katamu, kau juga yang akan menderita!” Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun..kami semua menyaksikan bagaimana ibu itu menderita  karena susahnya penghidupan anaknya itu . Dia datang menemui  ibu saya  menangisi nasib anaknya. Ibu saya menganjurkannya untuk minta ampun pada Allah.      
Parenting is all about wiring, bagaimana ujung ujung sinaps kita terkoneksi oleh pengalaman pengalaman hidup kita, termasuk kata kata dan sikap serta perilaku yang kita terima. Tak ubah  seperti lampu lampu yang banyak dalam sebuah ruangan.Dibelakang lampu lampu itu  pasti banyak kabel kabel yang menghubungkan satu lampu dengan lampu lainnya. Ada warna biru, hijau, kuning, merah, putih dan dibalut selotip. Tekan satu tombol, semua lampu menyala. 

Begitulah, kebiasaan kebiasaan yang terbentuk sengaja atau tidak selama pengasuhan baik dari orang tua  dan orang sekitar, akan keluar otomatis  ketika seseorang itu menjadi orang tua pula nantinya, lepas dari tinggi rendahnya jenjang pendidikan dan kelas sosial.

Sebagai contoh adalah  pengalaman yang sama yang saya peroleh dalam ruang praktek saya.

Seorang gadis remaja yang cantik dan lembut  kelihatan sangat bingung, nyaris depresi duduk mematung didepan saya. Dari pembicaraan yang panjang ternyata dia tidak sanggup  menggapai target yang diharapkan ibunya yang baginya  terlalu tinggi. Dia lelah melompat dan melompat meraihnya ternyata tak pernah sampai, sehingga jiwanya terengah engah. Harapan ibu itu disampaikan dalam kalimat yang bagus dan nada rendah, tapi menekan dan nyelekitnya bukan main.. Semua upaya anak ini tak pernah berharga. Bak kata orang : “When the best is not enough!”  Padahal kedua orang tuanya pasca sarjana lulusan Negara adidaya. Bahkan ketika suatu saat ibunya  sangat kesal, ia sempat mengatakan pada anaknya :”Lihat tuh kamar anak gadis  gak ada bedanya sama kandang ba**!”

Entah bagaimanalah dulu nenek anak ini mengasuh ibunya.

 

Tidakkah dalam keseharian kita, kita menemukan hal serupa terjadi disekeliling kita? Dan kini,anak itu seperti ibu diatas telah menjadi orang tua atau pejabat publik,pimpinan dunia usaha atau lembaga. Tidakkah sesekali atau seringkali  pengalaman lamanya otomatis muncrat dalam kesehariannya?. Kata kata kasar bahkan keji dan sikap sikap yang kurang terpuji?. Atau kita menemukan dan mengalami ada dilingkungan keluarga atau   masyarakat seseorang yang sangat baik dan rendah hati, santun dan   dermawan,atau  bersikap terpuji bak negarawan? . Paling tidak kita mengetahui bagaimana “wiring” mereka. 

Kalau anda bawahan orang yang kasar dan anda  mau jadi mulia, maka maafkan sajalah. Yang sehat yang ngalah. Mau tak mau kita benarkan jualah pepatah lama: Buah Jatuh tak jauh dari pohonnya!”

Bagi kita yang penting adalah mewaspadai diri sendiri dalam berkata kata, karena kita  tentu tak mau menderita dihari tua, ketika menyaksikan anak kita suatu hari nanti memarahi anaknya, cucu kita!.
Makna  kata kata  bagi anak.
Bila kata kata yang keluar dari ayah ibu, kakek nenek, paman bibi, guru dan orang penting lain sekitar anak, penuh kasih dan sayang, penerimaan, penghargaan dan pujian, maka jiwa anak menjadi sangat padat, kokoh dan bahagia. Keadaan ini yang membuat mereka  merasa berharga dan percaya diri. Tapi bila sebaliknya, konsep diri tidak terbentuk dengan baik, hampa dan berongga. Dari mana anak bisa  merasa berharga hatta didepan orang tuanya sendiri? Apalagi PeDe!.

Anak anak seperti ini akan tumbuh jadi pribadi yang sulit diajak kerjasama, melawan dan menyimpan berjuta  emosi negatif dari sedih yang dalam , kecewa, bingung, takut, ingin menjauh dari orang tua, benci bahkan sampai dendam!      

Bagaimanalah hubungan anak dan orang tua tersebut?. Jarak antara keduanya tak bisa dihitung dengan kilometer. Apa yang ditanam itulah yang dipetik dihari tua. Hanya anak dan orang tua itu saja yang faham bagaimana sesungguhnya makna dari hubungan  mereka.Karena umumnya hal ini susah diungkapkan dengan kata kata, hanya hati yang merasa.
Perbaiki kata dalam bicara dan lempar anakmu  kemasa depan secara emosional…
Otak kita, seperti juga tubuh kita berkembang dan berfungsi secara bertahap, pakai proses. Tentu saja perlu waktu. Tapi banyak orang tua lupa akan hal ini dan ingin semuanya berlangsung cepat. Jadi sering kali mereka bicara dengan anaknya seolah anak itu sudah besar dan mengerti apa yang dia katakan dan harapkan.   

Saya tak hentinya bersyukur dianugrahi Allah orang tua yang bijak dan menjalankan aturan agama. Berkata dengan baik baik, memanggil dengan panggillan yang  baik, penuh kasih dan perhatian.

Waktu kecil, saya sangat kurus, kulit sawo matang agak gelap dan asmatis pula, bayangkanlah!. 

Apa yang diajarkan ayah dan ibu saya selalu bertahap dan dengan ajakan dan harapan  tentang masa depan yang saya jangankan bisa  membayangkannya, mengerti saja tidak.
Suatu hari ibu saya berkata pada saya:”Mau nggak Elly, mama ajarkan bagimana caranya masak dengan cepat?”. Lalu ibu saya bercerita tentang mengapa itu perlu, memberikan contoh dikeluarga kami ada  ibu ibu yang sudah punya anak tapi tak mampu melakukan tugas dapur dan tata laksana rumah tangganya dengan baik.  Lalu ibu saya melemparkan saya secara emosional kedepan dengan berkata seperti ini:”Nanti, insha Allah Elly  akan punya suami yang hebat,pejabat pula. Sebagai perempuan kita ini nak harus bisa “diajak  ketengah”(masuk dalam pergaulan menengah), tapi rumah dan dapur harus selesai!”. Saya  tidak bisa membayangkannya.
Puluhan tahun kemudian, seperti orang lain juga, kami  merangkak dari bawah dan sampai pada suatu titik, dimana sebagai staf dari pejabat tinggi Negara kami kebagian tugas untuk menerima tamu yang juga merupakan pejabat tinggi atau utusan Negara lain  pada saat “open house” lebaran dirumah beliau.

Saya datang dan mencium lutut ibu saya, berterima kasih  atas kata kata beliau dulu dan doanya. Saya tidak bisa datang dihari pertama lebaran karena  saya mendampingi suami saya  bertugas.Seperti yang dulu beliau sering ucapkan kepada saya, benar adanya:suami saya “membawa saya ketengah!”. Ibu saya membelai belai kepala saya dan menciumnya. 
Mungkin bagi orang lain ini hal sederhana dan biasa saja, tidak begitu buat seorang Elly yang dulu kurus, hitam, dan asmatis pula. Lagi pula,  kami berasal dari sebuah kampung di ujung Sumatra,  yang namanya tak akan anda temukan di peta!. apa yang saya alami buat saya dan keluarga saya sesuatu yang luar biasa, tak terbayangan sebelumnya.
Didaerah kami itu, ada kebiasaan orang tua bila marah menyebut anaknya : “Bertuah!” yang artinya “Sakti, Keramat, Beruntung atau Selamat!” 

Jadi kalau anaknya nakal sekali ayah atau ibunya akan berkata atau berteriak : “Ya Allah ini anaaaak, benar benar  ‘bertuah’ engkau !”.

Seandainyalah kalau kita lagi marah sama anak kita, kita bisa mengucapkan kata yang serupa…. 

Belakangan saya membaca riwayat Imam Abdurrahman Sudais yang mungkin juga anda sudah tahu. Bagaimana ketika beliau kecil, juga suka iseng atau mungkin nakal. Ibu beliau tengah menyiapkan jamuan makan dan sudah mengatur  dengan rapih makanan yang akan disantap. Tak disangka Sudais kecil mengambil pasir dan menaburkannya diatas makanan  tersebut. Tapi mulianya sang ibu yang sangat kecewa itu : Beliau “menyumpahi” anaknya dengan kata :” Ya Allah semoga anakku ini menjadi imam Haramain!” (Kedua mesjid :Al Haram dan Nabawi)
Di negeri kita ini banyak kisa serupa.Saya menamatkan membaca buku Athirah yang mengisahkan riwayat hidup ibunya bapak wakil presiden Jusuf Kalla, yang sekarang filmya sedang tayang di bioskop. 

Alkisah ibu Athirah ini sedang berkendara dengan pak JK dan mereka melewati rumah Gubernur Sulawesi Selatan. Ibu Athirah berkata (kurang lebih) pada anak lelakinya yang sangat setia ini :”Saya sebenarnya mengharapkan engkau tinggal dirumah itu!”. Kenyataannya, pak Kalla dapat jabatan yang lebih tinggi dari Gubernur.
Walaupun sebagai orang tua  kita telah berusaha  melakukan yang sebaik yang kita bisa untuk anak anak kita, tapi kita tetap manusia yang bersifat silap, salah,  tidak tahu atau lupa!.  

Sayapun juga begitu, tak luput dari semua itu.Saya melakukan banyak  kesalahan sebagai seorang ibu. Lalu begitu sadar, saya sujud, mohon keampunan Allah .
Marilah kita  lihat masa lalu kita  lewat kaca spion saja agar tidak lupa, tapi yuk kita fokus ke masa depan. Kita minta ampun pada Allah untuk semua keliru dan salah yang kita lakukan sengaja atau tidak sengaja. Kini dan kedepan mari berikan anak kita pondasi yang kokoh  untuk mampu tegar di tengah persaingan yang semakin seram saja.

Percayalah, semua anak akan Allah beri masa depan dan itu bak dinding yang hampa. Biarkanlah anak itu melukisnya  sendiri. 

Marilah kita terus menerus belajar mengendalikan kata kata karena: Your words shape your children’s world !
Bekasi ,2 Oktober 2016

#Elly Risman
Sumber : broadcast wa

Jangan Seperti Mengumpulkan Harta Disebuah Tas Yang Berlubang (Bolong)…

​*Embun Pagi💦*

✍ Engkau Memperbaiki Wudhu’mu, “namun dgn cara Berlebihan dlm Menggunakan Airnya.”
✍ Engkau BerSedekah kpd orang yg kau anggap layak diberikan, “namun engkau Merendahkan & Menyakiti Perasaan & Hatinya atau kau Pamer (riya’).”
✍ Engkau Shalat Malam, Puasa di Siang Hari, Mematuhi ROBBmu, “namun engkau Memutuskan Tali Silaturrahim.”
✍ Engkau BerPuasa & BerSabar Menahan Lapar & Dahaga, “namun Lisanmu dgn Mudah Melaknat, Mencaci & Mencela.”
✍ Engkau Menggunakan Pakaian Serba Longgar & Berlapis Menutupi Kepala & Badanmu,  “namun Tidak Sedikit pun engkau Menjaga Lisan, Perbuatan & Sikapmu utk Lebih Menghormati Orang Lain.”
✍ Engkau Muliakan Tamu, Berkumpul makan dll, “namun Saat Dia Keluar, Pergi & Tak Ada.. engkau Meng’Ghibahinya & Menyebut Kekurangan-2nya bahkan Keburukan-2nya.”
✋ Jangan Kumpulkan Kebaikan-Kebaikanmu di Sebuah Tas & Kantong yg BerLubang (bolong)…”
✍ Engkau Mengumpulkannya dgn Susah Payah, “namun dgn Mudahnya Kebaikanmu BerGuguran krn Perbuatanmu Sendiri Tanpa Di/Kau Sadari…”
👉 Hingga Akhirnya Pahala & Rahmat-NYA, dari Kebaikan-2 yg Kita Lakukan itu Hilang Tak Berbekas, Seperti Buih Diterpa Air Laut…HABIS & HILANG.
👉 Sedangkan kita sendiri Tak tahu Berapa Banyak kah yg Telah Terkumpul utk Bekal kita di Hari Akhir Nanti…
Semoga ini bisa menjadi pengingat bagi kita semua atas apa yg kita telah lakukan sepanjang hari.
🔖Anggap Lah Orang Lain Lebih Baik Dari Diri Kita Sendiri, Agar Kita Selalu Menghormati & Menghargainya & Agar Kita Selalu Belajar Lebih Bersikap Mulia Kpd Sesama (siapa saja).
Wallahu a’lam bish shawab… 

Semoga bermanfaat…
#Semangatpagi

#Tebarkebaikan

#Lurusknniat
🌹💦🌹💦🌹💦🌹💦
Sumber : broadcast wa

HUKUMAN YANG TIDAK TERASA

​Jum’at Berkah 🙂
***
Seorang murid mengadu kepada gurunya:

_”Syaikh, betapa banyak kita berdosa kepada Allah dan tidak menunaikan hakNya sebagaimana mestinya, tapi saya kok tidak melihat Allah menghukum kita”_. 
Sang Guru menjawab dengan tenang:

_”Betapa sering Allah menghukummu tapi engkau tidak merasa”_.
_”Sesungguhnya salah satu hukuman Allah yang terbesar yang bisa menimpamu wahai anakku, ialah: *Sedikitnya taufiq*  (kemudahan) untuk mengamalkan ketaatan dan amal amal kebaikan”_.
Tidaklah seseorang diuji dengan musibah yang lebih besar dari *”kekerasan hatinya dan kematian hatinya”*.
Sebagai contoh:

Sadarkah engkau, bahwa Allah telah *mencabut darimu rasa bahagia dan senang dengan munajat kepadaNya, merendahkan diri kepadaNya, menyungkurkan diri di hadapannya*…? 
Sadarkah engkau, bila *tidak diberikan rasa khusyu’ dalam shalat*…? 
Sadarkah engkau, bahwa *beberapa hari2 mu telah berlalu dari hidupmu, tanpa membaca Al-Qur’an*, padahal engkau mengetahui firman Allah:

_”Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini ke gunung, niscaya engkau melihatnya tunduk, retak, karena takut kepada Allah”_. 
Tapi engkau tidak tersentuh dengan Ayat Ayat Al-Qur’an, seakan engkau tidak mendengarnya… 
Sadarkah engkau, *telah berlalu beberapa malam yang panjang sedang engkau tidak melakukan Qiyamullail di hadapan Allah*, walaupun terkadang engkau begadang… 
Sadarkah engkau, bahwa *telah berlalu atasmu musim musim kebaikan seperti: Ramadhan.. Enam hari di bulan Syawwal.. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dst.. tapi engkau belum diberi taufiq untuk memanfaatkannya sebagaimana mestinya*..?? 
Hukuman apa lagi yang lebih berat dari itu..??? 

Tidakkah engkau *merasakan beratnya mengamalkan banyak ketaatan* (amal ibadah)..??? 
Tidakkah *Allah menahan lidahmu untuk berdzikir, beristighfar dan berdo’a kepadanya*..??? 
Tidakkah engkau merasakan bahwa *engkau lemah di hadapan hawa nafsu*..??? 
Hukuman apa lagi yang lebih berat dari semua ini..??? 
Sadarkah engkau, *mudah bagimu berghibah, berdusta, memandang ke yang haram*..??? 
*Sadarkah engkau, bahwa Allah membuatmu lupa kepada Akhirat, lalu Allah menjadikan dunia sebagai cita2 terbesar dalam hidupmu dan dunia jugalah tujuan utama engkau menuntut ilmu?* 
Semua *bentuk pembiaran* dengan berbagai bentuknya ini, hanyalah beberapa bentuk hukuman Allah kepadamu, sedang engkau menyadarinya, atau tidak menyadarinya… 
Waspadalah wahai sahabatku, agar engkau tidak terjatuh ke dalam dosa dosa dan meninggalkan kewajiban kewajiban. 
Karena *hukuman yang paling ringan* dari Allah terhadap hambaNya ialah:

_*”Hukuman yang terasa”* pada harta, atau anak, atau kesehatan._
*Sesungguhnya HUKUMAN TERBERAT* ialah: _*”HUKUMAN YANG TIDAK TERASA”* yaitu _*KEMATIAN HATI, LALU IA TIDAK MERASAKAN NI’MATNYA KETAATANl DAN TIDAK PULA MERASA GELISAH TELAH BERBUAT DOSA*._
Karena itu wahai sahabat2ku, *Perbanyaklah di sela sela harimu, amalan taubat dan istighfar, semoga Allah menghidupkan hatimu…*
(Diterjemahkan dari Taushiyah Syaikh Abdullah Al-‘Aidan di Masjidil Haram)

*Semoga bermanfaat*
Sumber : broadcast wa

Lebih Baik Mati Ditembak Peluru daripada Mati Digigit Nyamuk!

Tulisan bernas dan bergizi dari pakar Pengasuhan dan Ketahanan Keluarga, Ibu Psi Elly Risman.
_________________________
by : Elly Risman

➖➖➖➖➖➖
Lima hari lagi kita akan merayakan peringatan G 30 S PKI, yaitu suatu kejadian dimana Partai Komunis Indonesia dalam upaya menegakkan kekuasaannya melakukan pembunuhan keji terhadap tujuh Jendral kita. 
Saya tidak ingin membahas peristiwa tersebut, tetapi saya ingin berbagi dengan anda pengalaman masa remaja saya, bagaimana ayah saya membangun rasa kebangsaan atau Nasionalisme dalam diri saya sejak remaja.
Pasca peristiwa G30 S PKI banyak kebijakan pemerintah yang dinilai banyak fihak termasuk mahasiswa tidak memihak rakyat, misalnya devaluasi nilai rupiah dari Rp. 1000 jadi Rp 1, menaikan harga minyak bumi dll. Maka dibentuklah Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia/KAMI, 10 Januari 1966 yang mengajukan TRITURA pada presiden. 
Tritura adalah TRI TUntutan Rakyat yang berisi :1. Bubaran PKI, 2. Retooling (Penggantian/Pembersihan) Kabinet dari unsur PKI dan Turunkan harga bahan pokok.
Suatu sore, ayah saya seperti biasa duduk duduk dengan kami, ibu saya, saya dan beberapa paman bercerita tentang Tritura dan demo mahasiswa serta pelajar. 
Diujung pembicaraan itu, ayah saya mengatakan, setengah instruksi _: “Elly ikut tuh berjuang dengan mahasiswa dan pelajar pelajar itu. Apa yang mereka perjuangkan itu benar.Pemudalah yang harus tegak dan berdiri membela rakyatnya. Waktu ayah muda, ayah berjuang juga melawan penjajah. Sekarang kalian berjuang membela yang benar, bela Kebenaran!”_ tegas ayah saya.
Mulai hari itu saya berusia 14 tahun bergabung dengan KAPI ( Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia). Saya ikut hampir semua kegiatan dari rapat, demo, P3K ( kebetulan saya sudah kursus sejak SMP kelas 1), dan dapur umum. Dalam rapat Presidium Kesatuan Aksi, saya paling muda. 
Walau rapat sampai malam, ayah dan ibu saya selalu mendukung. Beliau mendengarkan ‘laporan pandangan mata’setiap saya pulang dan tetap menyemangati. 
Beliau selalu menutupnya dengan _:”Pegang kepercayaan yang ayah berikan sama Elly ya!”._
Tanggal 24 Februari 1966, mahasiswa dan pelajar yang tergabung dalam KAMI dan KAPI melakukan demo di lapangan Banteng, Jakarta dengan tuntutan yang sama TRITURA. Dalam usaha mengendalikan massa mahasiswa dan pelajar ini fihak aparat menggunakan senjata. 
Terdengar letusan senjata api yang kemudian diketahui menembus dada salah seorang mahasiswa kedokteran UI bernama Arif Rahman Hakim. Peserta demo semakin banyak dan penuh semangat bergerak kearah istana dengan berbagai yel yel..Saya berada dalam kerumunan itu.. 
Di depan istana terdengar tembakan lagi dan kini yang gugur adalah seorang pelajar SMP seperti saya, kemudian diketahui namanya : Ikhwan Ridwan Rais( Saya terbayang wajah sedih ibu bapaknya yang kehilangan anak tunggalnya).
Semua demonstran bubar, kucar –kacir, ketakutan!. Saya ingat benar, saya berlari tidak berhenti. 
Rumah kami terletak dua blok dari Merdeka Utara. Saya menyebrang jalan Merdeka Utara masuk jalan Pecenongan dan diujungnya belok kiri ke Sawah Besar.
Ayah dan ibu saya serta beberapa paman serta Bibi saya yang datang dari Aceh mengikuti Kongres Muhammadiyah sedang duduk duduk di beranda depan minum teh. Melihat saya berlari lari, ayah saya berdiri,mengikat sarungnya dan menghampiri saya dengan tergopoh gopoh. 
Sambil memegang kedua bahu saya, beliau bertanya _:” Ada apa nak hah..?, ada apa?”._ Lalu saya menceritakan apa yang terjadi.
Tanpa saya duga, ayah saya memandang saya tajam lalu tangan kirinya memegang bahu kanan saya dan berkata _:” Kenapa Elly pulang nak ?”._
Saya menjawab bingung _: “Takuut yah !”_
Ayah saya mengangkat tangan kanannya tinggi sekali, menunjuk kearah istana dan berkata dengan tegasnya _:”Ayah bilang Elly BALIK!, balik ke Istana!”._
Saya memandang ayah saya dengan rasa takut, heran, bingung campur aduk jadi satu. 
Yang keluar dari mulut saya Cuma :”Haah?”
Ayah saya meneruskan perintahnya dengan menundukkan sedikit kepalanya sehingga matanya sejajar dengan mata saya dan mengucapkan kalimat diatas
_:” Ayah lebih suka anak ayah mati ditembak peluru, dari pada mati dikamar ( sambil menujuk arah kamar tidur saya ), digigit nyamuk, Faham?. Balik !._
Saya berdiri mematung, dan datanglah malaikat penyelamat saya: ibu saya tersayang. 
Beliau langsung ambil posisi, berdiri didepan saya dan berhadapan dengan ayah saya. Dengan pelahan beliau mengatakan _: “Elly, capek Yah, dan dia lagi ketakutan!._
Beliau menoleh kebelakang dimana saya sedang berlindung _: “Iya kan nak ?’,_ saya mengangguk dan dengan kencang meremas tangan kiri ibu saya yang diulurkannya kebelakang tubuhnya . _“Elly juga lapar Yah!_ Dan memastikan sambil menengok belakang lagi, dan saya mengangguk _‘Juga belum sembahyang’, iya kan nak ?”_ Tanya nya pada saya. 
Ayah saya langsung duduk dan dengan pelan mengatakan _: Yah sudah sana, makan dan sholat dulu, abis itu balik lagi ke istana!”_
Sambil makan ibu saya mendengarkan cerita saya yang menakutkan tegang dan seru. 
Setelah sholat ibu saya mendekati saya dan mengatakan: Patuh sama apa yang disuruh ayahmu, balik tapi jangan sampai ke istana ya, sampai Pecenongan saja.kalau ada demo ikut Dermayu Demo Bhisono

.. tapi jangan sampai ke istana!”…ulangnya lagi.
(Terharu… mengenang semuanya… Ya Allah sayangilah kedua orang tuaku, sebagaimana beliau menyayangiku dulu..)
Bukan sekali ayah dan ibu saya mengajarkan saya untuk berjuang bagi kepentingan orang banyak. 
Umur 12 tahun saya diajak ayah saya ke Notaris, yang saat itu tahun 1963, sangat jarang di Jakarta. Saya diajak ayah saya untuk menyaksikan beliau membuat akte pendidirian sebuah Yayasan Pendidikan untuk Aceh. Disitu saya belajar apa itu Notaris, akte dan yayasan. 
Teringat sekali saya diusia sepuh dengan enam cucu ini, apa yang dikatakan ayah saya _: “Ini yayasan pendidikan untuk Aceh. Nanti kalau Elly sudah besar bergerak dalam pendidikan ya nak, dan jangan pernah tinggalkan Aceh. 

Pendidikan itu sangat penting, karena Pendidikanlah yang Me- Manusiakan Manusia!”._ y
Saya tidak faham apa yang dikatakan ayah saya, maka saya tanyakan pada beliau dan beliau menjelaskannya dan memastikan saya mengerti apa yang dimaksudkannya.
Banyak lagi kisah yang tak mungkin saya tuturkan disini, tapi apa yang saya ingin sampaikan pada anda adalah bahwa kecintaan pada tanah air, bangsa dan kedaulatan negeri itu dimulai dari rumah, akarnya ?: di *PENGASUHAN..!*
Marilah mulai menanamkan rasa cinta dan keperdulian pada kebenaran, kebanggaan pada bangsa dan Negara, kampung halaman, kepemilikan terhadap harta yang dimiliki bangsa , dibawah tanah, diatasnya dan dikedalaman samudra yang terbentang seolah tak bertepi.
Seperti ayah dan ibu saya,anda bisa duduk dengan anak anda bercerita tentang daerah dimana anda berasal saja dulu. 
Apa potensi yang dimiliki, bagaimana selama ini diolah dan dimanfaatkan, bagaimana pembagian hasil dengan pusat, apakah penduduk menikmatinya apakah tidak?. 
Bagaimana kedepan teknologi digunakan untuk memanfaatkannya dan mensejahterakan dan mencerdaskan orang kampung anda.
Saya teringat, ketika suatu hari anak bungsu saya berlari lari turun tangga dan menangis sedih. 
Ketika sudah tenang, dia bercerita dia baru saja menemukan betapa sebenarnya ketika tanah Irian yang sekarang digali emasnya oleh Freeport, saat di temukan dulu emas ada di permukaan tanah setebal 60cm!.
Pada usia 10 tahun dia juga pernah jadi pembicara di Musium bahari, dan dengan gaya kekanak kanakannya mengimbau Mentri Perhubungan waktu itu ( Kita belum punya mentri Kelautan apalagi Menko Maritim) untuk menyelamatkan terumbu karang. 
Ketika dia usia TK, saya menunjukkan menceritakan padanya sebuah buku tebal yang ditulis oleh kenalan kami anggota kelompok penyelam dunia Guy De La Valdene hasil foto foto indah dari Pulau Sipadan dan Ligitan yang kemudian lepas ke tangan Malaysia.
Kini, Pilkada diselenggarakan hampir serentak diseluruh propinsi. Jangan biarkan kesempatan emas ini berlalu. 
Berceritalah pada anak anda diatas 10 tahun, tentang apa itu Pilkada bagaimana prosesnya. Ada berapa calon yang maju dan siapa mereka, latar belakangnya, partai yang mereka wakili atau calon independent.
Sodorkanlah data data atau ajarkan mereka untuk mencarinya sendiri dengan pendampingan, karena internet tidak selamanya aman.
Berusahalah seadil dan seterbuka mungkin, biarkan anak mengalami proses Berfikir, Memilih dan Mengambil Keputusan (BMM) untuk dan atas namanya sendiri, pemimpin yang mana menurut dia yang pantas jadi pemenangnya dan apa alasannya.
Negara kita sekarang ini menghadapi banyak sekali tantangan dan ancaman menyangkut kedaulatan dan kekayaan alamnya.
Anak anak kitalah pemiliknya dimasa datang. 
Sejak kecil mereka harus tahu dan sadar akan hak dan kewajibannya dan juga kebanggan menjadi anak Indonesia. Kalau bukan kita yang mengenalkannya dan menanamkan rasa Kebangsaan dan Nasionalisme, lalu siapa ?.
Anda, seperti saya, pasti akan terkejut kejut mendengarkan pendapat dan pemikirannya. 
Ayo kita ciptakan pemimpin dan negarawan masa depan , disamping mengerjakan PeEr dan tugas les lainnya, cobalah menanamkam nilai nilai mulia mulai sekarang dan jangan berhenti sampai semangat nasionalisme membara di dadanya!
*_Terinspirasi dari Pilgub DKI_*
#Elly Risman 

Akhir September 2016
Penulis
Pakar pendidikan
Sumber : broadcast wa