Rejeki Itu Milik Allah

​”Saya nggak mau jadi ibu rumah tangga saja. Kalau suami meninggal atau kita bercerai, gimana? Siapa yang kasih makan saya dan anak-anak? Istri itu harus mandiri finansial supaya bisa punya uang untuk jaga-jaga kalau ada apa-apa dengan suami.”
Seketika, kalimat itu buyar kala saya berhadapan dengan seorang wanita berusia 47 tahun yang datang ke rumah saya untuk mengisi pengajian. Wanita bersahaja itu datang jauh-jauh, cukup jauh dari komplek perumahan tempat tinggal saya, untuk memberi pengajian secara gratis. Ingat, gratis lho…. Nggak ada bayaran sepeser pun kecuali sajian makan siang yang saya berikan. Dia datang untuk menggantikan guru ngaji saya yang berhalangan. Sambil menunggu teman-teman lain, kami ngobrol-ngobrol.
“Coba tebak, anak saya berapa, Bu?” tanyanya, ketika kami sedang ngobrol soal anak-anak. Saya sedikit mengeluhkan kondisi rumah yang berantakan karena anak-anak nggak bisa diam, lalu dia memaklumkan. Namanya juga anak-anak. Dia sudah berpengalaman karena anaknya lebih banyak dari saya.
“Ehm… empat?” (pikir saya, paling-paling cuma selisih satu).

“Masih jauh….”

“Tujuh….”

“Kurang… yang benar, delapan.”

Mata saya membelalak. Masya Allah! DELAPAN?!
“Itu masih kurang, Bu. Ustazah Yoyoh (almarhumah Yoyoh Yusroh, mantan anggota DPR) saja anaknya 13. Jadi, saya ini belum ada apa-apanya,” katanya, merendah.
Setelah itu, mengalirlah cerita-ceritanya mengenai anak-anaknya sampai teman-teman saya datang dan acara mengaji pun dimulai. Di sela pengajian, wanita itu bercerita mengenai keluarganya. Dari situ saya baru tahu kalau suaminya sudah meninggal dunia! Meninggal karena kecelakaan motor, meninggalkan istri dan delapan anak, yang terkecil berusia 2,5 tahun dan sang istri, ya… wanita itu… seorang IBU RUMAH TANGGA.

Ibu rumah tangga di sini maksudnya nggak kerja kantoran, tapi juga bukan pengangguran. Beliau aktif mengisi pengajian. Lalu, bagaimana kehidupannya setelah suaminya meninggal? Beliau nggak punya gaji, nggak kerja kantoran. Coba, gimana? Apa beliau lalu sengsara dan anak-anaknya putus sekolah? No. no, no….

Kalau saya mengingat kalimat pembuka di atas kok kayaknya mustahil ya seorang ibu yang nggak bekerja dan suaminya meninggal dunia, bisa bertahan hidup dengan delapan anak dan anak-anaknya bisa tetap kuliah. Mustahil itu… NGGAK MUNGKIN!
“Bagi Allah, nggak ada yang nggak mungkin, Bu. Asal kita percaya sama Allah. Allah yang kasih rezeki, kan? Percaya saja sama Allah. Saya cuma yakin bahwa semua yang saya dapatkan selama ini adalah karena kebaikan-kebaikan saya dan suami semasa hidup. Saya cuma berbagi pengalaman ya, Bu, bukan mau riya. Memang, suami saya dulu itu orangnya pemurah. Kalau ada yang minta bantuan, dia akan kasih walaupun dia uangnya pas-pasan. Alhamdulillah, Allah kasih ganti. Sewaktu suami masih hidup, kami hidup sederhana. Rezeki suami itu dibagi ke orang-orang juga, padahal anak kami ada delapan. Suami nggak takut kekurangan…..”
Kami menahan napas…..
“Hingga suami saya meninggal dunia… uang duka yang kami dapatkan itu… Masya Allah… jumlahnya 100 juta. Padahal, suami saya itu biasa-biasa saja, bukan orang penting. Uang itu langsung dibuat biaya pemakaman, tabungan pendidikan anak, dan sisanya renovasi rumah yang mau ambruk.”
Dengar uang 100 juta dari uang duka saja, saya sudah kagum.
“Saat renovasi rumah, saya serahkan saja ke tukangnya. Dia bilang, uangnya kurang. Saya lillahi ta’ala saja. Yang penting atap rumah nggak ambruk, karena memang kondisinya sudah memprihatinkan. Khawatirnya anak-anak ketimpa atap…..”
Saya membayangkan, keajaiban apa lagi yang didapatkan oleh wanita itu?
“Nggak disangka. Begitu orang-orang tau kalau saya sedang renovasi rumah, mereka menyumbang. Bukan ratusan ribu, tapi puluhan juta! Sampai terkumpul 100 juta lagi dan rumah saya seperti bisa dilihat sekarang…. Sampai hari ini, saya masih dapat transferan uang dari mana-mana, Bu-Ibu. Saya nggak tau dari siapa aja karena mereka nggak bilang. Saya juga udah nggak pernah beli beras lagi sejak suami meninggal. Selalu ada yang kasih beras.”
Duh, nggak bisa nahan airmata deh jadinya….
Apa rahasianya?

“Berbuat baik kepada siapa saja, sekecil apa pun. Insya Allah ada balasannya. Rezeki itu milik Allah. Kalau Allah berkehendak, Dia akan kasih dari mana pun asalnya….” tutupnya.

Rezeki itu milik Allah, siapa pun tidak boleh takabur. Bekerja bukanlah sarana menyombongkan diri bahwa hidup kita bakal terjamin karena bekerja. Yang menjamin hidup kita adalah Allah. Bekerja diniatkan untuk ibadah. Pembuka rezeki bisa datang dari mana saja, salah satunya dari berbuat kebaikan sekecil apa pun.
Ucapan, “Kalau suami meninggal atau bercerai, siapa yang kasih makan saya dan anak-anak?” itu sama saja dengan SYIRIK, atau MENDUAKAN ALLAH.

Menganggap diri kita super, dengan kita bekerja, maka rezeki terjamin. Padahal, ALLAH YANG KASIH REZEKI. Jika dulu Allah kasih rezeki melalui suami, besok Allah kasih lewat jalan lain. From Allah to Allah.

〰〰〰〰〰
Oleh: Leila Hana
Sumber : broadcast wa

Advertisements

KISAH BUAH SEMANGKA


*Suatu riwayat tentang Syeikh al-Imam Syaqiq al-Balkhi yang wafat pada tahun 194 H./810 M.*
Al Kisah.., pada suatu hari Syeikh al-Imam Syaqiq al-Balkhi membeli Buah Semangka untuk istrinya. Saat disantapnya ternyata buah Semangka tersebut terasa hambar.
Dan sang isteri pun marah.
Syeikh al-Imam Syaqiq menanggapi dengan tenang amarah istrinya itu, setelah selesai di dengarkan amarahnya, beliau bertanya dengan halus: 
“Kepada siapakah kau marah wahai istriku?
Kepada pedagang buahnya kah?
atau kepada pembelinya?
atau kepada petani yang menanamnya?
ataukah kepada yang Menciptakan Buah Semangka itu?”
Tanya Syeikh al-Imam Syaqiq
Istri beliau terdiam.
Sembari tersenyum., Syeikh Syaqiq melanjutkan perkataannya:
“Seorang pedagang tidak menjual sesuatu kecuali yang terbaik…
Seorang pembeli pun pasti membeli sesuatu yang terbaik pula..!
Begitu pula seorang petani, tentu saja ia akan merawat tanamannya agar bisa menghasilkan yang terbaik..!
Maka sasaran kemarahanmu berikutnya yang tersisa, tidak lain hanya kepada yang Menciptakan Semangka itu..!”.
Pertanyaan Syeikh al-Imam Syaqiq menembus ke dalam hati sanubari istrinya. Terlihat butiran air mata menetes perlahan di kedua pelupuk matanya…
Syeikh al-Imam Syaqiq al-Balkhi pun melanjutkan ucapannya :
“Bertaqwalah wahai istriku…Terimalah apa yang sudah menjadi Ketetapan-Nya.” Agar Allaah memberikan keberkahan pada kita”
“Mendengar nasehat suaminya itu… Sang istri pun sadar, menunduk dan menangis mengakui kesalahannya dan ridha’ dengan apa yang telah Allaah Subhanahu Wa Ta’ala tetapkan.”
pelajaran terpenting buat kita adalah bahwa setiap keluhan yg terucap sama saja kita tidak ridha dengan ketetapan Allaah SWT, sehingga barokah Allaah jauh dari kita.
Karena Barokah bukanlah serba cukup dan mencukupi saja, akan tetapi barokah ialah bertambahnya ketaatan kita kepada الله dengan segala keadaan yang ada, baik yang kita sukai atau sebaliknya.
Barokah itu: “… bertambahnya ketaatanmu kepada الله.
Makanan barokah itu bukan yang komposisi gizinya lengkap, tapi makanan yang mampu membuat yang memakannya menjadi lebih taat setelah memakannya.
Hidup yang barokah bukan hanya sehat, tapi kadang sakit itu justru barokah sebagaimana Nabi Ayyub, sakitnya menjadikannya bertambah taat kepada الله.
Barokah itu tak selalu panjang umur, ada yang umurnya pendek tapi dahsyat taatnya layaknya Mus’ab ibn Umair.
Tanah yang barokah itu bukan karena subur dan panoramanya indah, karena tanah yang tandus seperti Makkah punya keutamaan di hadapan الله …tiada banding….tiada tara.
Penghasilan barokah juga bukan gaji yg besar dan berlimpah, tetapi sejauh mana ia bisa jadi jalan rejeki bagi yang lainnya dan semakin banyak orang yang terbantu dengan penghasilan tersebut.
Anak² yang barokah bukanlah saat kecil mereka lucu dan imut atau setelah dewasa mereka sukses bergelar & mempunyai pekerjaan & jabatan hebat, tetapi anak yang barokah ialah yang senantiasa taat kepada Rabb-Nya dan kelak mereka menjadi lebih shalih dari kita & tak henti²nya mendo’akan kedua Orangtuanya.
💥Semoga kita semua dianugerahi kekuatan untuk senantiasa bersyukur padaNYA, agar kita mendapatkan keberkahanNYA._ آمِّيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
Sumber : broadcast wa

MENUJU MASA TUA

nasihat alm. Ust. Arifinto 
*1. Sisa umur ini pendek,*

“selagi selera…..makanlah”

“selagi layak……..pakailah”

“Selagi manfaat……belilah”

“Selagi bisa……..berbagilah”

“Silaturahmi……lakukanlah”

*Nikmati hidup apa adanya.* 
*2.* Dulu kita berusaha, utk memiliki. Kini saatnya untuk melepas, harta, tahta, anak, istri, suami semua akan kembali kepada-NYA. *Bahagia terletak pada  keikhlasan.*
*3.* Sehari berlalu, umur berkurang, berbuat baiklah karena *kita tidak tahu kapan akan dipanggil.*
*4.* Hidup ini sangat singkat dalam sekejap kita mulai tua dan *pasti masuk pusara..* 
*5.* Jangan tengok ke atas akan selalu kurang, tengok ke bawah bisa merasa cukup dan sykuri apa adanya pasti bahagia. *Bersyukurlah..*
*6.* Yang terbaik adalah berbuat  baik, membantu orang lain, *Jangan  menyakiti, latih diri dgn berbaik sangka , agar sehat lahir batin.*
*7.* Kasih orang tua tidak ada batas. Sadarlah, bila anak sakit, orang tua bagai teriris, bila orang tua sakit anak cuma tengok dan bertanya.

Anak-anak memakai uang orang tua seperti keharusan, tetapi orang tua memakai uang anak pasti rikuh. *Cukupilah diri sendiri jangan berharap pemberian anak.*
*8.* Rumah orang tua adalah rumah anak, tetapi rumah anak bukanlah rumah orang tua. *Sadarilah.* 
*9.* Orang tua selalu mendoakan anak, tapi anak jarang  mendoakan orang tua. Maka *bekali kubur kita dgn amal yg banyak, jangan bergantung pada doa anak.*
*10.* Kebaikan dan keburukan sebagai ujian dan tdk akan berakhir sampai kita mati. *Sikapi dg syukur dan sabar.*
SELAMAT MENIKMATI “HARI TUA”🙏🙏🙏
Sumber : broadcast wa

​Koin Penyok

Seorang lelaki berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. 

Kondisi keuangan morat-marit. 

Saat menyusuri jalanan sepi, kakinya terantuk sesuatu.
Ia membungkuk dan menggerutu kecewa. 
“Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok”.
Meskipun begitu ia membawa koin itu ke bank.
“Sebaiknya koin ini dibawa ke kolektor uang kuno”, 

kata teller itu memberi saran. 
Lelaki itu membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, koinnya dihargai Rp.500 ribu.
Lelaki itu begitu senang. 
Saat lewat toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu obral. Dia pun membeli kayu seharga Rp. 500 ribu untuk membuat rak buat istrinya. 

Dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati tempat pengerajin mebel. 

Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu bermutu yang dipanggul lelaki itu. 

Dia menawarkan lemari Rp. 2 juta untuk menukar kayu itu. 

Setelah setuju, dia meminjam gerobak untuk membawa pulang lemari itu.
Dalam perjalanan lelaki tersebut melewati perumahan. 

Seorang wanita melihat lemari yang indah itu dan menawarnya Rp. 10 juta. Dia ragu-ragu. 

Si wanita pun menaikkan tawarannya menjadi Rp. 15 juta. Lelaki itupun setuju.
Saat sampai di pintu desa, dia ingin memastikan uangnya. 

Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai Rp. 15 juta.
Tiba-tiba seorang perampok datang, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.

Istrinya kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya dan bertanya,
“Apa yang terjadi?”

“Engkau baik-baik saja kan? Apa yang diambil perampok tadi?”
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, 

“Oh bukan apa-apa. 

Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.
—–

Bila kita sadar, kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?
Sebaliknya, sepatutnya kita bersyukur atas segala yang telah kita miliki, karena ketika datang & pergi kita tidak membawa apa-apa.
Menderita karena melekat. Bahagia karena melepas.
Karena demikianlah hakikat sejatinya kehidupan, apa yang sebenarnya yang kita punya dalam hidup ini?
Tidak ada, karena bahkan napas saja bukan kepunyaan kita dan tidak bisa kita genggam selamanya.
Hidup itu perubahan dan pasti akan berubah.
Saat kehilangan sesuatu, kembalilah ingat bahwa sesungguhnya kita tidak punya apa-apa. 
Jadi”kehilangan” itu tidaklah nyata dan tidak akan pernah menyakitkan. 
Kehilangan hanya sebuah tipuan pikiran yang penuh dengan ke”aku”an. 
Ke”aku”an itulah yang membuat kita menderita.
Rumahku, hartaku, istriku, suami ku, anakku. 

Lahir tidak membawa apa-apa, meninggal pun sendiri, tidak bawa apa-apa dan tidak ngajak siapa-siapa.

—–
Sesungguhnya semua milik Allah dan sesungguhnya semua akan kembali kepada Allah.
(QS. al-Baqarah 2:155-157)
Jumuah Mubarok💐
Sumber : broadcast wa

JANGAN ANGGAP REMEH KEKUASAAN ALLAH TA’ALA

​صباح الصدقة💰🌤🍃💫

KISAH NYATA…

Ibu seorang pemuda dirawat di rumah sakit..

وأدخلت للعناية المركزه 

Ibunya dirawat di ICU..

وفي يوم من الأيام صارحه الأطباء

Beberapa hari kemudian dokter berterus terang :
بأن حال والدته ميؤوس منها وأنها في أي لحظة تفارق 

“Keadaan ibumu tidak ada harapan sembuh  dan sewaktu-waktu ia akan meninggal dunia..”

وخرج من عند أمه هائما على وجهه 
Pemuda itu meninggalkan rumah sakit dengan hati yang sedih mengingat sakit ibunya..
وفي طريق عودته لزيارة والدت

Dalam perjalanan menuju ke rumah sakit untuk menengok ibunya sekali lagi..
وقف في محطة البنزين 

Pemuda itu berhenti di stasiun pengisian bahan bakar (pom bensin)..
وهو ينتظر العامل ليضع البنزين في سيارته 

Sedang dia menunggu  petugas mengisi bensin ke tangki mobilnya..
 رأى تحت قطعة كرتون قطة قد ولدت قططا صغاراً 

tanpa sengaja pemuda itu melihat seekor kucing bersama anaknya berteduh dibawah kotak..
وهم لا يستطيعون المشي 

Kucing itu kelihatan tak mampu untuk  berjalan..
فتساءل!!!!! 

Dia termenung sejenak..!
من يأتي لهم بالطعام وهم في هذه الحال؟ 

فدخل للبقالة

Siapakah yang akan memberi  kucing itu makan dalam keadaan begitu, dan pemuda itu lalu masuk ke sebuah warung yang ada di pom bensin tersebut..
واشترى تونة 

Dibelikannya ikan tuna dalam kaleng..
وفتح العلبة ووضعها للقطة وانصرف للمستشفى  

dibukakannya kaleng ikan tuna itu untuk diberikan kepada kucing tadi.. dan meneruskan perjalanannya ke rumah sakit..
وعندما قدم للعناية مكان تنويم أمه 

Ketika ia akan kembali menghampiri ibunya dan masuk ke ruang ICU..
لم يجدها على سريرها فوقع ما في يده 

Alangkah terperanjatnya dia, ternyata ibunya telah tiada di ruang ICU itu dan tangannya gemetar..
فاسترجع وسأل الممرضة

dan bergegas lari untuk bertanya kepada perawat yang bertugas..
أين فلانة؟ 

“Di mana ibuku..?”
فقالت تحسنت حالتها فأخرجناها للغرفة المجاورة 

Si perawat itu berkata : “Ibumu sudah  berangsur pulih dan kami pindahkan ke ruang perawatan biasa..”
فذهب لها 

Pemuda itu terus mendapatkan ibunya..
فوجدها قد أفاقت من غيبوبتها 

Yang ketika itu dalam keadaan ceria..
فسلم عليها وسألها
Dia bersalam dan mencium ibunya sambil bertanya apa terjadi..
فقالت أنها رأت وهي مغمى عليها 

Ibunya memberitahu ketika dalam keadaan tidak sadar di ruang ICU..
قطة وأولادها رافعين أيديهم يدعون الله لها 

Ibunya melihat kucing dan anak-anaknya menadahkan tangan ke arah langit sambil berdo’a memohon ibunya disembuhkan dengan segera..
فتعجب الشاب 

Pemuda itu terharu mendengar apa yang diceritakan ibunya..
فسبحان من وسعت رحمته كل شيء

Maka segala Puji bagi Dzat Maha luas Karunia Kasih Sayang yang meliputi segala sesuatu..
سبحان الله الصدقةدفعت بلاء بإذن الله

Segala puji bagi Allah, sedekah jariah melepaskan kita daripada penderitaan, dengan izin Allah..
(داووا مرضاكم بالصدقه) 

Sembuhkan penyakitmu dengan melakukan sedekah..
هذه فقط علبة تونه والرسول صلى الله عليه واله وسلم قال: 

Itu hanya sekaleng kecil ikan tuna..
Rasulullah bersabda : “Lindungi diri kamu daripada panas api neraka walaupun hanya dengan separuh kurma..”
( إتقوا النار ولو بشق تمره) 

سبحان الله                  

Subhanallah..
Semoga berbagi cerita ini pun kita ditulis sebagai seorang yang pemurah..

حتى لو مشغول إرسلها”
(لاإله إلا الله)

Lailahaillaallah..
? “يارب فرج هم من ينشره”
Ya Allah.. Engkau ringankanlah beban kepada siapa saja yang berbagi kisah ini..

Aamiin…!🐾💐
Sumber : broadcast wa

​PESAN INDAH

dari Ustadz Arifin Ilham…

Bismillaah..

Assalaamu’alaikum Wr. Wb…
Sahabatku

yang dicintai Allah swt..
CERDASnya orang yang BERIMAN adalah,

dia yang mampu mengolah hidupnya yang sesaat & yang sekejap.. 

untuk HIDUP yang PANJANG….
Hidup bukan untuk hidup, 

tetapi.. 

hidup untuk Yang Maha Hidup. 
Hidup bukan untuk mati, 

tapi.. 

mati itulah untuk hidup…
Kita jangan takut mati,

jangan mencari mati, 

jangan lupakan mati, 

tapi rindukan mati. 

Karena, 

mati adalah pintu berjumpa dengan Allah SWT….
Mati bukanlah akhir cerita dalam hidup, 

tapi.. 

mati adalah awal

cerita sebenarnya, 

maka.. 

sambutlah kematian dengan penuh ketakwaan….
Hendaknya kita selalu menjaga tujuh sunnah Nabi setiap hari. 
Ketujuh sunnah Nabi SAW itu adalah….
Pertama,
TAHAJJUD ….
karena.. 

kemuliaan seorang mukmin terletak pada tahajjudnya…
Kedua,
Membaca AL-QUR’AN sebelum terbit matahari… 
Alangkah baiknya sebelum mata melihat dunia, 

sebaiknya mata membaca Al-Qur’an terlebih dahulu dengan penuh pemahaman…
Ketiga,
Jangan tinggalkan MASJID terutama di waktu shubuh…
Sebelum melangkah kemanapun…, 

langkahkan kaki ke masjid, 

karena.. 

masjid merupakan pusat keberkahan, 

bukan karena panggilan muadzin.. 

tetapi.. 

panggilan Allah yang mencari orang beriman untuk memakmurkan masjid Allah…
Keempat,
Jaga shalat DHUHA
karena..

kunci rezeki terletak pada shalat Dhuha…
Kelima,
Jaga SEDEKAH setiap hari…
Allah menyukai orang yang suka bersedekah,

dan.. 

malaikat Allah selalu mendoakan kepada orang yang bersedekah setiap hari…
Keenam
Jaga WUDHU terus menerus.. 

karena.. 

Allah menyayangi hamba yang berwudhu… 
Kata khalifah Ali bin Abu Thalib, 

“Orang yang selalu berwudhu senantiasa ia akan merasa selalu shalat walau ia sedang tidak shalat, 

dan 

dijaga oleh malaikat dengan dua doa, 

ampuni dosa 

dan 

sayangi dia ya Allah.”…
Ketujuh, 
Amalkan ISTIGHFAR setiap saat…
Dengan istighfar, 

masalah yang terjadi karena dosa kita.., 

akan dijauhkan 

Ya Rabb..

Bimbing, mampukan dan ringankan hamba-Mu ini utk bisa mengamalkan ke tujuh sunnah tersebut..

Aamiin..

Selamat pagi…semangaaaat menebar manfaat….smga Allah berkahi seluruh aktivitas2 kita..
Sumber : broadcast wa

​PESAN INDAH

dari Ustadz Arifin Ilham…

Bismillaah..

Assalaamu’alaikum Wr. Wb…
Sahabatku

yang dicintai Allah swt..
CERDASnya orang yang BERIMAN adalah,

dia yang mampu mengolah hidupnya yang sesaat & yang sekejap.. 

untuk HIDUP yang PANJANG….
Hidup bukan untuk hidup, 

tetapi.. 

hidup untuk Yang Maha Hidup. 
Hidup bukan untuk mati, 

tapi.. 

mati itulah untuk hidup…
Kita jangan takut mati,

jangan mencari mati, 

jangan lupakan mati, 

tapi rindukan mati. 

Karena, 

mati adalah pintu berjumpa dengan Allah SWT….
Mati bukanlah akhir cerita dalam hidup, 

tapi.. 

mati adalah awal

cerita sebenarnya, 

maka.. 

sambutlah kematian dengan penuh ketakwaan….
Hendaknya kita selalu menjaga tujuh sunnah Nabi setiap hari. 
Ketujuh sunnah Nabi SAW itu adalah….
Pertama,
TAHAJJUD ….
karena.. 

kemuliaan seorang mukmin terletak pada tahajjudnya…
Kedua,
Membaca AL-QUR’AN sebelum terbit matahari… 
Alangkah baiknya sebelum mata melihat dunia, 

sebaiknya mata membaca Al-Qur’an terlebih dahulu dengan penuh pemahaman…
Ketiga,
Jangan tinggalkan MASJID terutama di waktu shubuh…
Sebelum melangkah kemanapun…, 

langkahkan kaki ke masjid, 

karena.. 

masjid merupakan pusat keberkahan, 

bukan karena panggilan muadzin.. 

tetapi.. 

panggilan Allah yang mencari orang beriman untuk memakmurkan masjid Allah…
Keempat,
Jaga shalat DHUHA
karena..

kunci rezeki terletak pada shalat Dhuha…
Kelima,
Jaga SEDEKAH setiap hari…
Allah menyukai orang yang suka bersedekah,

dan.. 

malaikat Allah selalu mendoakan kepada orang yang bersedekah setiap hari…
Keenam
Jaga WUDHU terus menerus.. 

karena.. 

Allah menyayangi hamba yang berwudhu… 
Kata khalifah Ali bin Abu Thalib, 

“Orang yang selalu berwudhu senantiasa ia akan merasa selalu shalat walau ia sedang tidak shalat, 

dan 

dijaga oleh malaikat dengan dua doa, 

ampuni dosa 

dan 

sayangi dia ya Allah.”…
Ketujuh, 
Amalkan ISTIGHFAR setiap saat…
Dengan istighfar, 

masalah yang terjadi karena dosa kita.., 

akan dijauhkan 

Ya Rabb..

Bimbing, mampukan dan ringankan hamba-Mu ini utk bisa mengamalkan ke tujuh sunnah tersebut..

Aamiin..

Selamat pagi…semangaaaat menebar manfaat….smga Allah berkahi seluruh aktivitas2 kita..
Sumber : broadcast wa