Kabar Gembira ​Bagi Perokok

Tadi subuh aya anu naroskeun perkawis roko ka ustad.  
Umat : “Punten Ustad, upami di surga aya roko?”
Ustad ; “Aya..”
Umat ; “nuhun atuh kana inpona meni reugreug hate teh ari leres mah  aya   roko di surga 
Ustad  : “Nanging…..”
Umat : “Nanging kumaha Ustad ?
Ustad: “Nanging di surga teu aya seuneu, janten upami hoyong  nyeungeut roko, kedah ka NARAKA heula……”😋😋😋

Sumber : broadcast fb

​BATAS “TIDAK MAMPU” KITA TERLALU RENDAH

Kita sering sekali mendengar orang mengatakan MASTATHO’TUM (Semampumu).
Maka banyak di antara kita yang mengatan ‘INI YANG BISA SAYA LAKUKAN’ entah itu di dalam hati atau terlahir dari lisan kita.
Dalam Al Qur’an, kata Masthatho’tum terdapat dalam surat At-Taghabun ayat 16 di korelasikan dengan kata taqwa.

Maksudnya ialah “Maka Bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu (semampunya)”
Mastatho’tum berarti sesuai kesanggupan atau semampunya, atau bisa di artikan  bahwa kita diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk berTaqwa berdasarkan kesanggupan kita atau semampunya.

Namun sering sekali kita membuat standar ‘target’ kita begitu lemah

❎ Saya biasanya cuma bisa baca Quran 2hlm sehari

❎ Saya mampunya cuma ngajar aja

❎ Saya mampunya cuma…..
Kita membuat standar yang menjadi batas diri yang ternyata sudah banyak orang yang melampauinya.
“Jika kau telah berada di jalan Allah, melesatlah dengan kencang. Jika sulit, maka tetaplah berlari meski kecil langkahmu. Bila engkau lelah, berjalanlah menghela lapang. Dan bila semua itu tak mampu kau lakukan, tetaplah maju meski terus merangkak, dan jangan pernah sekalipun berbalik ke belakang.” (Asy Syafi’i)
Abdullah Al Azzam, seorang syekh teladan. Dihormati lg disegani, oleh para muridnya. Pd suatu saat beliau ditanya oleh muridnya,

“Ya syekh, apa yg dimaksud dengan mastatho’tum”?

Sang Syekh-pun membawa muridnya ke sebuah lapangan. Meminta semuanya muridnya berlari sekuat tenaga, mengelilingi lapangan.

Setelah semua muridnya menyerah, dan menepi ke pinggir lapangan.
Sang Syekh-pun tak mau kalah. Beliau berlari mengelilingi lapangan hingga membuat semua muridnya keheranan…hg akhirnya beliau jatuh pingsan, tak sadarkan diri.
Setelah beliau siuman dan terbangun, muridnya bertanya,

“Syekh, apa yang hendak engkau ajarkan kepada kami?”.

“Muridku, Inilah yang dinamakan titik mastatho’tum! Titik di mana saat kita berusaha semaksimal tenaga sampai Allah sendiri yang menghentikan perjuangan kita (bukan, bukan kita yang berhenti)”, Jawab Sang Syekh dengan mantab !
Mari berlindung kepada ALLOH dari malas dan lemah azzam, 
Mari menjemput limpahan karunia rahmatNYA dengan MASTATHO’TUM !!!
Cukuplah Allah yg memberhentikan kita tilawah Al Qur`an, bukan kita sendiri malah yg memberhentikan nya, bahkan menunda nya demi sesuatu yang menurut kita lebih penting dari tilawah…
Selamat mencari titik mastatho’tum..

☺☺☺☺
Sumber : broadcast wa

GIVE AND GIVE

Ada seorang petani mempunyai seorang tetangga yang berprofesi sebagai pemburu dan mempunyai anjing-anjing galak.
Anjing-anjing itu sering melompati pagar dan mengejar domba-domba petani.
Petani itu meminta tetangganya untuk menjaga anjing-anjingnya, tapi ia tidak mau peduli.
Suatu hari anjing-anjing itu melompati pagar dan menyerang beberapa domba, sehingga terluka parah.
Petani itu merasa tak sabar, dan memutuskan untuk pergi ke kota untuk berkonsultasi pada seorang hakim.

Hakim itu mendengarkan cerita petani itu dan berkata;

“Saya bisa saja menghukum pemburu itu,  dia untuk merantai dan mengurung anjing-anjingnya, tapi Anda akan kehilangan seorang sahabat dan mendapatkan seorang musuh. Mana yang kau inginkan, sahabat atau musuh yang jadi tetanggamu?”
Petani itu menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang Sahabat.

“Baik, saya akan menawari anda sebuah solusi yang mana anda harus menjaga domba-domba anda, supaya tetap aman dan ini akan membuat tetangga anda tetap sebagai teman”.
Mendengar solusi pak hakim, petani itu setuju.

Ketika sampai di rumah, petani itu segera melaksanakan solusi pak hakim.
Dia mengambil tiga domba terbaiknya dan menghadiahkannya kepada 3 anak tetangganya itu, yang mana mereka menerima dengan sukacita dan mulai bermain dengan domba-domba tersebut.
Untuk menjaga mainan baru anaknya, si pemburu itu mengkerangkeng anjing pemburunya. Sejak saat itu anjing-anjing itu tidak pernah mengganggu domba-domba pak tani.
Sebagai rasa terima kasih atas kedermawanan petani kepada anak-anaknya, pemburu itu sering membagi hasil buruan kepada petani.

Sebagai balasannya, petani mengirimkan daging domba dan keju buatannya.

Dalam waktu singkat tetangga itu menjadi Sahabat yang baik.
Jika Anda berkumpul dengan serigala, Anda akan belajar melolong.
Tapi jika Anda bergaul dengan Rajawali, Anda akan belajar cara terbang mencapai ketinggian yang luar biasa.
Kenyataan yang sederhana tetapi benar, bahwa Anda menjadi seperti orang yang bergaul dekat dengan Anda._
Persahabatan tidak ada sangkut pautnya dengan harta, jabatan dan popularitas.
_Persahabatan yang di dapat dari uang, pangkat dan ketenaran bukan persahabatan sejati, melainkan hanya pergaulan dangkal yang penuh kepalsuan, yang egois, materialis, munafik dan penuh kebohongan._
*Persahabatan sejati lahir dari kasih, ketulusan, kepercayaan, kejujuran, kesetiaan dan kebersamaan.*
Itu sebabnya persahabatan itu indah, tidak dapat di nilai dengan harta benda, tidak dapat di perjual-belikan.
Sebuah ungkapan :

CARA TERBAIK UNTUK MENGALAHKAN DAN MEMPENGARUHI ORANG ADALAH DENGAN KEBAJIKAN
*”GIVE AND GIVE, NOT TAKE AND GIVE”*
Robbana Taqobbal Minna.

Ya Alloh terimalah dari kami (amalan kami), aamiin.
Semoga bermanfaat.
Sumber : broadcast wa

Kenapa (Harus) Saya?

​Arthur Ashe, pemain tenis Wimbledon legendaris meninggal karena AIDS yang berasal dari darah yang terinfeksi virus ketika operasi jantung pada 1983.
Sebelum meninggal ia menerima surat dari para penggemarnya, salah satu dari mereka ada yang menyampaikan: “Mengapa Tuhan memilih Anda untuk mendapatkan penyakit yang buruk seperti ini?” 
Terhadapnya, Arthur Ashe menjawab:
Lima puluh juta anak mulai bermain tenis, 

Lima juta dari mereka belajar bagaimana bermain tenis,

Lima ratus ribu belajar tenis secara profesional, 

Lima puluh ribu bertanding dalam turnamen, 

Lima ribu mencapai Grand Slam, 

Lima puluh mencapai Wimbledon,

Empat mencapai semifinal,

Dua mencapai final dan ketika saya menggenggam pialanya, saya tak pernah bertanya pada Tuhan, “Kenapa (harus) saya?” 
Jadi ketika sekarang saya sakit, bagaimana bisa saya menanyakan kepada Tuhan, “Kenapa (harus) saya?”
Kebahagiaan membuatmu tetap manis.

Cobaan membuatmu kuat. Kesedihan membuatmu tetap menjadi manusia.

Kegagalan membuatmu tetap rendah hati.

Kesuksesan membuatmu tetap berpijar.

Namun, hanya iman yang membuatmu tetap melangkah.
Kadang engkau merasa tidak puas terhadap kehidupanmu sementara banyak orang di dunia ini memimpikan bisa hidup sepertimu.
Anak kecil di ladang memandang pesawat terbang di atasnya, dan memimpikan bisa terbang, tetapi sang pilot di pesawat itu memandang ladang di bawahnya dan memimpikan bisa pulang ke rumah. 
Begitulah hidup.

Nikmatilah hidupmu.
Jika kekayaan adalah rahasia kebahagiaan, tentu orang-orang kaya akan menari-nari di jalanan.  

Tapi? Hanya anak-anak miskinlah yang melakukannya.
Jika kekuatan memang menjamin keamanan, tentu orang-orang penting akan berjalan tanpa pengawalan. 

Tapi? Hanya mereka yang hidup sederhana yang bisa tidur nyenyak.
Jika kecantikan dan kepopuleran memang membawa kita pada hubungan yang ideal, tentu para selebriti pasti punya perkawinan yang terbaik.
Hiduplah sederhana.

Berjalanlah dengan rendah hati. Mencintai dengan tulus….
-Alfathri adlin-
Sumber : broadcast fb

RESEP MIE REBUS

​Arafat || Channel Telegram:
Mari kita bayangkan, seandainya ada seorang pemuda yang sedang memasak mie. Pertama dia rebus mie, kemudian masukkan bumbu, lalu aduk rata. Selesai. Hasilnya lumayan enak.
Besoknya dia ingin rasa yang lebih enak. Dia rebus mie, masukkan bumbu, aduk rata, selesai. Begitu dicoba, kok sama kaya kemarin ? gak jadi lebih enak ?
Ternyata dia pantang menyerah. Berharap rasa yang lebih enak, besoknya dia coba lagi. Rebus mie, masukkan bumbu, aduk rata, selesai. Dicoba lagi, kenapa rasa mie itu gak ada bedanya ? Kenapa gak jadi lebih enak ? 
Kita semua tau jawabannya : 

“Jika kita terus melakukan cara yang sama, jangan harap mendapatkan hasil yang berbeda”.
Seharusnya orang itu menambah caranya, misalnya tambahkan telur, tambahkan bawang goreng, sosis, tumisan bawang putih, irisan cabe rawit, dll. Pasti hasilnya berbeda.
Lucunya, kita juga mirip dengan si pemuda tersebut, cuma bukan urusan mie. Melainkan dalam urusan rezeki.
“Kita terus melakukan ibadah yang sama, tetapi berharap Allah memberi rezeki yang berbeda”
Coba ingat-ingat kualitas ibadah kita sepanjang 2014 ? Lalu apa yang kita dapatkan di tahun 2015 ?
Lalu kita ulangi lagi kualitas ibadah yang sama sepanjang 2015, rezeki kita pun sama seperti tahun sebelumnya. Begitu-begitu saja
Sekarang mau kita ulangi lagi kualitas ibadah yang sama sepanjang 2016? Tebak rezeki seperti apa yang kita dapat tahun depan!
Harusnya bagaimana ? Harusnya kan tambah shalat dhuha nya, harusnya tambah tilawah hariannya, tambah shalawat nya, istighfar nya, dll. 
Insya Allah dengan merubah cara, baru kita pantas untuk menikmati perubahan rezeki.
Wassalam.

Sumber : broadcast fb

Filosofi Kopi

Dalam minuman *kopi* pada dasarnya terdiri dari 3 unsur:

1. Kopi

2. Gula

3. Rasa
Yang mana dalam *filosofi kopi* di gambarkan sbb:
Kopi = Orang tua/wali

Gula = Guru

Rasa = siswa
Kasus 1

Jika kopi terlalu pahit

Siapa yang salah?
Gula lah yg di salahkan karena terlalu sedikit hingga “rasa” kopi pahit
Kasus 2

Jika kopi terlalu manis

Siapa yg d salahkan?
Gula lagi karena terlalu banyak hingga “Rasa” kopi manis
Kasus 3

Jika takaran kopi & gula balance

Siapa yg di puji…?
Tentu semua akan berkata…

Kopi’a mantaaap
Kmn gula yg mempunyai andil

Membuat “rasa” kopi menjadi mantaaap
Itulah guru yg ketika, “rasa” (siswa) terlalu manis (menyebabkan diabet) atw terlalu pahit (bermasalah) akan dipersalahkan
Tetapi ketika “rasa” mantap atau berprestasi mk orang tualah yang akan menepuk dadanya

“Anak siapa dulu”
Mari Ikhlas seperti Gula yg larut tak terlihat tapi sangat bermakna.
– itu mungkin yang mendasari logo madrasah harus ‘ ikhlas beramal’

Belajar IKHLAS dari GULA PASIR 
Gula PASIR memberi RASA MANIS pada KOPI, tapi orang MENYEBUTnya KOPI MANIS…bukan KOPI GULA…
Gula PASIR memberi RASA MANIS pada TEH, tapi orang MENYEBUTnyaTEH MANIS…bukan TEH GULA…
Gula PASIR memberi RASA MANIS pada ES JERUK…, tapi orang MENYEBUTnya ES JERUK MANIS…bukan ES JERUK GULA
ORANG menyebut ROTI MANIS…bukan ROTI GULA…
ORANG menyebut SYRUP Pandan, Syrup APEL, Syrup JAMBU…. 

padahal BAHAN DASARnya GULA….

Tapi GULA tetap IKHLAS LARUT dalam memberi RASA MANIS…
akan tetapi apabila berhubungan dgn Penyakit, barulah GULA disebut.. PENYAKIT GULA ..!!!
BEGITUlah HIDUP….Kadang KEBAIKAN yang Kita TANAM tak pernah diSEBUT Orang….

Tapi kesalahan akan dibesar-besarkan…
IKHLASlah seperti GULA…

LARUTlah seperti GULA…
Tetap SEMANGAT memberi KEBAIKAN…!!!!

Tetap SEMANGAT menyebar KEBAIKAN..!!! 

Karena KEBAIKAN tidak UNTUK DISEBUT…

tapi untuk DIRASAkan…
Semoga bermanfaat

Salam Keindahan, berbagi dan kedamaian…😇🙏
Sumber : broadcast wa

SOTO SOLO

​Ijin share 🙏🙏

Kalau pas ke kota  Solo.. coba mampir ke tempat SOTO ini..

🍲🍲 Jualan Soto Cara Langit !!!

Dalam rangka perjalanan ke Solo, 

suatu hari saya mampir makan di warung soto dekat hotel tempat saya menginap di Solo. Saya pikir soto ini pasti enak karena pengunjung nya sampai ke teras warung… 

Suasananya rada aneh, ketika saya lihat sekeliling meja, banyak sekali abang-abang becak yang makan di sana.

“Hmmm.. Pantesan rame, sotonya memang benar-benar enak !” 

Ketika selesai makan dan mau membayar, 

Bu Amir pemilik warung soto itu melarang saya mengeluarkan uang. 

“Tidak usah bayar Dik, terima kasih atas kunjungannya.”.. ..

Dengan penuh rasa heran saya bertanya alasannya kenapa gak boleh bayar ? 

“Ini hari Jumat Dik, 

di sini tiap hari Jumat gratis!” 

Ya Tuhan, 

terjawab sudah kenapa sebagian besar yang makan di warung ini tukang becak. 

Setengah bingung saya mencoba mendekat ke tempat Bu Amir duduk.

 “Ibu, apa gak rugi jual soto seharian gak dapat uang?”, tanya saya setengah menyelidik. 

“Dik, dari hari Sabtu sampai hari Kamis kan alhamdulillah kami dikasih rizki, 

dikasih untung sama Allah !!! 

Kalau kami bersyukur dengan cara menggratiskan satu hari, untung kami masih sangat banyak untuk ukuran kami. 

Kalau mau jujur seharusnya kami memberikan hak kepada Allah minimal 30% ! 

Coba adik pikir, siapa yang menggerakkan hati pelanggan-pelanggan kami untuk datang kemari ? 

Kalau kami harus membayar salesman, berapa uang yang harus kami bayar ? 

Semoga dengan 1/7 bagian ini Allah ridho. Sebagian besar dari hasil usaha ini kami gunakan untuk membiayai 4 anak kami. 

Mereka kuliah semua Dik. Satu di kedokteran UGM, satu di Teknik Sipil ITB, yang 2 lagi di UNS sini. Kalau bukan karena pertolongan Allah, mana bisa usaha kami yang sekecil ini membiayai kuliah 4 orang !” 

Bu Amir menjelaskan panjang lebar.

Jelegerrr.. !!! Saya seperti disambar petir. 

Warung soto sebesar ini bisa membiayai anaknya 4 kuliah di Universitas Negeri semua ! 

Malah masih bisa memberi makan kepada tukang-tukang becak dan semua orang yang berkunjung ke warungnya setiap HARI JUMAT, GRATIS lagi  !!!

Saya gak kehilangan akal, untuk membayar rasa kagum dan rasa bersalah  makan soto gratis, saya masuk mall.

Saya membeli dompet cantik buat hadiah Bu Amir. 

Saya pikir, masa Bu Amir gak mau dikasih dompet secantik ini ?” 

Dalam waktu tidak sampai satu jam saya sudah kembali ke warungnya.

“Lho, kok balik lagi, 

ada yang ketinggalan Dik ?”, sapa Bu Amir heran. 

“Mohon maaf Bu, 

ini hadiah dari saya tolong diterima. 

Anggap saja sebagai kenang-kenangan dari saya buat ibu yang telah memberi pelajaran hidup yang sangat berarti buat saya.” 

Dengan senyum tulus dan bicaranya halus Bu Amir menolak: 

“Dik, terimakasih hadiahnya. 

Maaf, bukan ibu menolak. Ibu cukup pake dompet ini saja, 

kenang-kenangan dari suami ibu ketika beliau masih ada. 

Awet banget, tuh sampe sekarang masih bagus.”

Bu Amir menepuk bahu saya. 

“Bawa saja pulang dan hadiahkan buat istrimu. Percayalah, istrimu pasti senang dapat oleh-oleh dari Solo. 

Adik mampir di warung Ibu saja sudah merupakan sebuah kebahagiaan yang tidak ternilai. 

Ibu senang, benar-benar senang sudah bisa ngobrol sama adik.” 

Begitu kata Bu Amir sambil tersenyum. 

Saya kehilangan akal dan hanya bisa pamit sambil menundukkan kepala ….

Selamat bersyukur atas  berkah.
Silahkan coba sotonya dilokasi : 

Yosodipuro dekat museum Pers Solo
Sumber : broadcast wa