The Studying is…

The studying is not about being better than someone else but it’s important that “I do well”. If you compare yourself to someone else, you only get frustrated and it’s no use. You know, but it’s hard. It’s not only studyinf that’s hard, but you feel that it’s because of studying, everything is hard.

There are so many things, which are more important than studying. Regardeless of how well you study, if you don’t know what you do wrong or how to apologize, that is also no use.

~School 2013

Advertisements

If you want to die…

There are time when everyone wants to die. It isn’t wrong to have the thought that you want to die. Even you wanted to die, the fact that you endure it was great. You just climbed a very difficult mountain. While struggling, you did very well. If you just endure it, things will be different. Even things that seem like a big deal will pass. So being able to endure well while it is passing by is the strength.

~School 2013

The Flower

Without being shakened up,
Where is the flower that blooms?

In this world, even the beautiful flower blooms because it got shaken up.
While it is shakened up, the stem becomes straightened.
Without being shaken up, where is the love that is possible?
A flower without getting rained on, where is it?

In this world, even the most beautiful flower, has been rained on, and rained on and bloomed.
Getting wet from the rain and wind, the flower blooms warmly.
A life without getting rained on, where is it?

~School 2013

Hakikat Perjuangan

Tahukah anda, mengapa anak kecil tertawa ketika anda lempar / ayunkan ke atas?
.
Karena ia tahu bawa anda pasti akan menangkapnya dan tidak akan membiarkannya jatuh
.
Inilah keyakinan!!
.
Begitu pula keyakinanku kepada Allah!! Walaupun keadaan buruk “melemparku”.. Aku yakin kasih sayang Allah pasti akan “menangkapku” sebelum aku terjatuh.
.
“Andai perjuangan ini mudah, pasti ramai yang menyertainya. .
.
Andai perjuangan ini singkat pasti ramai yang istiqomah. .
.
Andai perjuangan ini menjanjikan kesenangan dunia pasti ramai orang yang tertarik padanya. .
.
Tetapi hakikat perjuangan bukanlah begitu, turun naiknya, sakit pedihnya, umpama kemanisan yang tidak terhingga.
Andai rebah, bangkitlah semula. Andai terluka, ingatlah Janji-Nya”
.
(Hasan Al Banna)

Bangkitlaaah kawan…
Hapus kesedihan…
Lalui keterpurukan dengan senyuman.bangkit!!
Kokohkan dirimu!!
Dunia menanti kalian!!!

Berapa Gaji Ayah?

Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta , tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Sarah, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya.
Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.

“Kok, belum tidur ?” sapa Andrew sambil mencium anaknya.
Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab,
“Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?”
“Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?”

“Ah, enggak. Pengen tahu aja” ucap Sarah singkat.

“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja. Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayoo ?”

Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Andrew beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya.
“Kalo satu hari Papa dibayar Rp. 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp. 40.000,- dong” katanya.

“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur” perintah Andrew
Tetapi Sarah tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian, Sarah kembali bertanya, “Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak ?”

“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini ? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah”.

“Tapi Papa…”

Kesabaran Andrew pun habis. “Papa bilang tidur !” hardiknya mengejutkan Sarah. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Sarah didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Andrew berkata, “Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini ? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp. 5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih” jawab Andrew
“Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini”.

“lya, iya, tapi buat apa ?” tanya Andrew lembut.

“Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga.
Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp. 15.000,- tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- maka setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp. 5.000,- makanya aku mau pinjam dari Papa” kata Sarah polos.
Andrew pun terdiam. Ia kehilangan kata-kata.

Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk “membeli” kebahagiaan anaknya.

Para Ayah ataupun anda seorang ibu… Jangan Lupa .. Anak anda harta yang tak pernah bisa tergantikan nilainya

Broadcast WA

Apa Kiranya Perasaan..?

By Salim A. Fillah

• Apa kiranya perasaan Ash Shiddiq saat Nabi ﷺ
bersabda, “Andai kuambil kekasih di antara insan; pasti kujadikan Abu Bakr sebagai Khalilku”?

• Apa kiranya perasaan ‘Umar, saat dia berpamit
‘umrah & Nabi bersabda padanya, “Jangan lupakan kami dalam doamu duhai saudara
tersayang”?

• Apa kiranya perasaan ‘Utsman saat mmbekali
pasukan Tabuk & Nabi ﷺ bersabda, “Tiada
bhayakan ‘Utsman apapun yang ia lakukan
setelah ini”?

• Apa kiranya perasaan ‘Ali kala Nabi ﷺ bersabda,
“Hanyasanya kdudukanmu disisiku laksana Harun di sisi Musa, tapi tiada Nabi sesudahku”?

• Apa kiranya perasaan Thalhah saat Nabi ﷺ
brsabda, “Siapa yang ingin melihat syahid yang masih berjalan di atas bumi, lihatlah Thalhah”?

• Apa kiranya perasaan Az Zubair saat Rasulullah bersabda : “Setiap Nabi memiliki Hawari dan Hawariku adalah Zubair ibn Al ‘Awwam”?

• Apa kiranya perasaan Abu ‘Ubaidah saat Nabi ﷺ
bersabda, “Setiap ummat memiliki Amin, dan orang kepercayaan ummat ini adalah Abu
‘Ubaidah”?

• Apa kiranya perasaan ‘Abdurrahman ibn ‘Auf
saat dirinyalah dmaksud oleh sabda Nabi ﷺ
kepada Khalid ibn Al Walid, “Jangan cela
sahabatku…. Demi Allah andai kalian berinfak
emas seberat gunung Uhud; hal itu takkan
menyamai shadaqah segenggam atau setengah genggam tepungnya.”

• Apa kiranya perasaan Sa’d ibn Abi Waqqash
saat Nabi bersabda, “Panahlah duhai Sa’d,
panahlah! Ayah & bundaku sebagai tebusan bagimu”?

• Apa kiranya perasaan Mu’adz ibn Jabal, disaat
RasuluLlah ﷺ bersabda padanya, “Wahai Mu’adz, demi Allah, aku bnar2 mncntaimu”?

• Apa kiranya perasaan Ibn ‘Abbas, saat Nabi ﷺ
merengkuh & mencium kepalanya lalu berdoa, “Ya Allah faqihkan dia & ajarkan tafsir padanya”?

•  Apa kiranya perasaan Ubay ibn Ka’b, saat Nabi berkata padanya, “Allah memerintahkanku tuk
membacakan Surat Al Bayyinah ini kepadamu” ..hingga dengan wajah berseri-seri dia bertanya, “Ya Rasulallah; benarkah Allah menyebut namaku kepadamu?” & Nabi ﷺ
menjawab, “Benar!”?

• Apa kiranya perasaan Abu Musa Al Asy’ari,
disaat Nabi bersabda, ” Esok dtnglah mnjumpaiku, aku ingin mendengarkan bacaan
Quran-mu”?

• Apa kiranya perasaan ‘Aisyah, saat Nabi ﷺ
menyebut namanya tanpa ragu di urutan pertama, kala ditanya ‘Amr siapakah yang paling dicintai?

• Apa kiranya perasaan Ibn Mas’ud, kala betis
kecilnya ditertawakan; maka Nabi ﷺ bersabda,
“Betis itu di sisi Allah lebih berat dari Uhud”?

• Apa kiranya perasaan ‘Ukasyah, saat disebut
70.000 orang masuk ke surga tanpa hisab & Nabi berkata : “Engkau termasuk di antara mereka”?

• Apa kiranya perasaan Bilal ibn Rabah, saat Nabi bersabda ” Ceritakan padaku hai Bilal, ‘amal apakah yang paling kau jaga dalam Islam.. sebab sungguh aku mendengar bunyi terompahmu di
surga?”, lalu dia mnjawab tersipu, “Menjaga wudhu’ & dua raka’at syukur atas wudhu”?

• Apa kiranya perasaan orang-orang Anshar, di
kala Nabi bersabda, “Jika manusia memilih jalan melalui sebuah lembah, sedang kaum Anshar mengambil suatu celah, niscaya aku turut serta di celah yang dilalui para Anshar. Ya Allah rahmatilah Anshar & anak cucu kaum Anshar”?

• Apa kiranya perasaan para sahabat semuanya,
yang mereka berjumpa Nabi ﷺpada petang & pagi, berjalan mengiringi, beroleh senyum & doanya?

• Yang lebih penting dari itu semua; bagaimana
dengan kita? Apa kiranya perasaan kita saat kelak bertemu Nabi & para sahabatnya?

• Adakah Nabi kan bersabda, “Kaliankah
orangnya, yang telah membuatku menangis
karena rindu, yang telah membuat para sahabatku cemburu”? “Kaliankah orangnya; yang beriman kepada apa yang kubawa meski kita tak berjumpa; yang mengucap shalawat atas namaku meski tak bertemu?” Ini kami Ya Rasulallah; yang
rindu tapi malu, membaca shalawat dengan lidah kelu; adakah kami layak jadi ummatmu & beroleh
syafaa’atmu?

• Ya Allah, limpahkan shalawat pada Muhammad, sampaikan salam kami padanya. Pula ridhaMu atas semua sahabat; jadikan kami bersama mereka

Ya Allah, jadikan kami bersama mereka

Allohumma shalli ala Muhammad wa’ala ali
Muhammad. Wa’ala alihi washahbihi ajma’iin.
Aamiin

Mereka Cari Jalan, Bukan Cari Uang

Mereka Cari Jalan, Bukan Cari Uang.

Senin, 18 Mei 2015 | 05:00 WIB

Rhenald Kasali
@Rhenald_Kasali

KOMPAS.com – Duduk di depan saya dua perempuan muda. Sarjana Hukum lulusan UI. Wajah dan penampilan kelas menengah, yang kalau dilihat dari luar punya kesempatan untuk “cepat kaya”. Asal saja mereka mau bekerja di firma hukum papan atas yang sedang makmur, seperti impian sebagian kelas menengah yang memanjakan anak-anaknya.

Tapi keduanya memilih bergabung dalam satgas pemberantasan illegal fishing yang dipimpin aktivis senior: Mas Achmad Santosa. Dari foto-foto yang ditayangkan Najwa Shihab, tampak mereka tengah menumpang sekoci kecil mendatangi kapal-kapal pencuri ikan. Dari Ambon, mereka menuju ke Tual, Benjina, dan pusat-pusat penangkapan ikan lainnya di Arafura.

Itu baru permulaan. Sebab, pencurian besar-besaran baru akan terjadi dua-tiga bulan ke depan. Dan mereka, para pencuri itu, datang dengan kapal yang lebih besar. Bahkan mungkin dengan “tukang pukul” yang siap mendorong mereka ke laut menjadi mangsa ikan-ikan ganas.

Uang atau Meaning?

Di luar sana, anak-anak muda lainnya setengah mati cari kerja. Ikut seleksi menjadi calon PNS, pegawai bank, konsultan IT, guru, dosen dan seterusnya.

Seperti kebanyakan kaum muda lainnya, mereka semua didesak keluarga agar cepat mendapat pekerjaan, membantu keuangan keluarga, dan menikah pada waktunya. Cepat lulus, dan dapat pekerjaan yang penghasilannya bagus.

Tak sedikit di antara mereka yang beruntung bertemu orang-orang hebat, dari perusahaan terkemuka, mendapatkan pelatihan di luar negeri, atau penempatan di kota-kota besar dunia.

Tetapi semua itu akan berubah. Sebab atasan yang menyenangkan tak selamanya duduk di sana. Kursi Anda bisa berpindah ke tangan orang lain. Kaum muda akan terus berdatangan dan ilmu-ilmu baru terus berkembang. Bulan madu karier pun akan berakhir. Mereka akan tampak tua di mata kaum muda yang belakangan hadir.

Sebagian dari mereka juga ada yang menjadi wirausaha. Tidak sedikit yang tersihir oleh kode-kode yang dikirim sejumlah orang tentang jurus-jurus cara cepat menjadi kaya raya. Bisa saja mereka berhasil meraih banyak hal begitu cepat. Tetapi benarkah mereka berhasil selama-lamanya?

Pengalaman saya menemukan, orang-orang yang dulu begitu getol mencari uang kini justru tak mendapatkan uang. Di usia menjelang pensiun, semakin banyak orang yang datang mengunjungi teman-teman lama sekedar untuk mendapatkan pinjaman. Sebagian lagi hanya bisa sharing senandung duka.

Kontrak rumah dan uang kuliah anak yang belum dibayar, pasangan yang pergi meninggalkan keluarga dan serangan penyakit bertubi-tubi. Padahal dulu mereka begitu getol mengejar gaji besar, berpindah-pindah kerja demi kenaikan pendapatan.

Saya ingin membeitahu anda nasehat yang pernah disampaikan  oleh Co-Founder Apple: Guy Kawasaki kepada kaum muda ia pernah mengatakan begini: 

“Kejarlah meaning. Jangan kejar karier demi uang. Sebab kalau kalian kejar uang, kalian tidak dapat ‘meaning’, dan akhirnya tak dapat uang juga. Kalau kalian kejar ‘meaning’ maka kalian akan mendapatkan position, dan tentu saja uang.”

Lantas apa itu meaning?

Meaning itulah yang sedang dikerjakan anak-anak perempuan tadi yang saya temui dalamtapping program televisi Mata Najwa edisi hari Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei beberapa hari ke depan. Menjadi relawan dalam team pemberantas illegal fishing.

Dan itu pulalah yang dulu dilakukan oleh para mahasiswa kedokteran di STOVIA yang mendirikan Boedi Oetomo yang menandakan Kebangkitan Nasional Indonesia. Bahkan itu pula yang dijalankan oleh seorang insinyur lulusan ITB yang merintis kemerdekaan Indonesia, Ir. Soerkarno. Itu pula yang dilakukan para CEO terkemuka saat mereka muda.

Di seluruh dunia, para pemimpin itu lahir dari kegigihannya membangun meaning, bukan mencari kerja biasa. Dalam kehidupan modern, itu pulalah jalan yang ditempuh para miliarder dunia. Mereka bukanlah pengejar uang, melainkan pengejar mimpi-mimpi indah. Seperti yang diceritakan oleh banyak eksekutif Jerman yang dulu menghabidkan waktu berbulan-bulan kerja sosial di Afrika. “Tidak saya duga, apa yang saya lakukan 20 tahun lalu itulah yang diperhatikan pemegang saham,” ujar mereka.

Saya jadi ingat dengan beberapa orang yang mencari kerja di tempat saya, baik di UI maupun di berbagai aktivitas saya. Ada yang benar-benar realistis, datang dengan gagasan untuk membangun meaning dan ada yang sudah tak sabaran mendapatkan gaji besar.

Kelompok yang pertama, sekarang bisa saya sebutkan mereka berada di mana saja. Sebagian sudah menjadi CEO, pemimpin pada berbagai organisasi dan tentu saja wirausaha yang hebat atau Ph.D lulusan universitas terkemuka.

Namun kelompok yang kedua, datang dengan tawaran yang tinggi. Ya, mereka menilai diri jauh lebih tinggi dari kemampuan mereka. Dan tak jarang ada yang diminta berhenti oleh keluarganya hanya beberapa bulan setelah bekerja, demi mencari pekerjaan yang gajinya lebih besar. Amatilah mereka yang baru menikah. Kalau bukan pasangannya, bisa jadi orangtua atau mertua ikut mengubah arah hidup dan merekapun masuk dalam pusaran itu.

Padahal, semua orang tahu orang yang mengejar meaning itu  menjalankan sesuatu yang mereka cintai dan menimbulkan kebahagiaan.  Dan bahagia itu benih untuk meraih keberhasilan. Orang yang mengejar gaji berpikir sebaliknya, kaya dulu, baru bahagia. Dan ini tumbuh subur kala orang dituntut lingkungannya untuk mengkonsumsi jauh lebih besar dari pendapatan.

Sebaliknya, mereka yang membangunmeaning, tahu persis, musuh utama mereka adalah konsumsi yang melebihi pendapatan.

Potret Diri

Kalau saya merefleksikan ke belakang tentang hal-hal yang saya jalani dalam hidup saya, maka dapat saya katakan saya telah menjalani semua yang saya sebutkan di atas. Sementara teman-teman yang 30 tahun lalu memamerkan kartu kreditnya (saat itu adalah hal baru bagi bangsa ini), pekerjaan dengan gaji besar, jabatan dan seterusnya, kini justru tengah mengalami masa-masa yang pahit.

Seorang pengusaha besar mengatakan begini: “Uang itu memang tak punya mata, tetapi mempunyai penciuman. Ia tak bisa dikejar, tapi datang tiada henti pada mereka yang meaning-nya kuat.”

Di dinding perpustakaan kampus Harvard saya suka tertegun membaca esay-esay singkat yang ditulis oleh para aplikan yang lolos seleksi. Dan tahukah Anda, mereka semua menceritakan perjalanan membangunmeaning. Maka saya tak heran saat Madame Sofia Blake, istri duta besar Amerika Serikat di sini berkunjung ke Rumah Perubahan minggu lalu, ia pun membahas hal yang sama untuk membantu 25 putra-putri terbaik Indonesia agar bisa tembus diterima di kampus utama dunia.

Meaning itu adalah cerita yang melekat pada diri seseorang, yang menciptakan kepercayaan, reputasi, yang akhirnya itulah yang anda sebut sebagai branding. Anda bisa mendapatkannya bukan melalui jalan pintas atau lewat jalur cara cepat kaya.

Meaning itu dibangun dengan cara yang berbeda dari yang ditempuh pekerja biasa. Dari terobosan-terobosan baru. Dan kadang, dari bimbingan orang-orang besar yang memberikan contoh dan mainan baru. Ya, contoh dan mainan itulah yang perlu kita cari, dan terobosan-terobosan yang kita lakukan kelak memberikan jalan terbuka.

Selamat mencoba. Selamat hari Kebangkitan Nasional. Jangan lupa pemuda yang dulu membangkitkan kesadaran berbangsa di negri ini adalah juga para pembangun meaning.

Prof. Rhenald Kasali adalah Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Pria bergelar PhD dari University of Illinois ini juga banyak memiliki pengalaman dalam memimpin transformasi, di antaranya menjadi pansel KPK sebanyak 4 kali, dan menjadi praktisi manajemen. Ia mendirikan Rumah Perubahan, yang menjadi role model dari social business di kalangan para akademisi dan penggiat sosial yang didasari entrepreneurship dan kemandirian. Terakhir, buku yang ditulis berjudul Self Driving: Merubah Mental Passengers Menjadi Drivers.