Landak di Musim Dingin

ﻛﻼﻡ ﻓﻲ ﻗﻤﺔ ﺍﻟﺮﻭﻉ
ﻻ ﻳُﻤﻜﻦ ﻟﻠﻘﻨﺎﻓﺬ ﺃﻥ ﺗﻘﺘﺮﺏ ﻣﻦ ﺑﻌﻀﻬﺎ
ﺍﻟﺒﻌﺾ
ﻓﺎﻷﺷﻮﺍﻙ ﺍﻟﺘﻲ ﺗُﺤﻴﻂ ﺑﻬﺎ ﺗﻜﻮﻥ ﺣﺼﻨﺎً
ﻣﻨﻴﻌﺎً ﻟﻬﺎ ، ﻟﻴﺲ ﻋﻦ ﺃﻋﺪﺍﺋﻬﺎ ﻓﻘﻂ ﺑﻞ ﺣﺘﻰ
ﻋﻦ ﺃﺑﻨﺎﺀ ﺟﻠﺪﺗﻬﺎ
ﻓﺈﺫﺍ ﺃﻃﻞّ ﺍﻟﺸﺘﺎﺀ ﺑﺮﻳﺎﺣﻪ ﺍﻟﻤﺘﻮﺍﺻﻠﺔ
ﻭﺑﺮﻭﺩﺗﻪ ﺍﻟﻘﺎﺭﺳﺔ ﺍﺿﻄﺮﺕ ﺍﻟﻘﻨﺎﻓﺬ
ﻟﻼﻗﺘﺮﺍﺏ ﻭﺍﻻﻟﺘﺼﺎﻕ ﺑﺒﻌﻀﻬﺎ ﻃﻠﺒﺎً ﻟﻠﺪﻑﺀ
ﻭﻣﺘﺤﻤﻠﺔ ﺃﻟﻢ ﺍﻟﻮﺧﺰﺍﺕ ﻭﺣﺪّﺓ ﺍﻷﺷﻮﺍﻙ
ﻭﺇﺫﺍ ﺷﻌﺮﺕ ﺑﺎﻟﺪﻑﺀ ﺍﺑﺘﻌﺪﺕ .. ﺣﺘﻰ ﺗﺸﻌﺮ
ﺑﺎﻟﺒﺮﺩ ﻓﺘﻘﺘﺮﺏ ﻣﺮﺓ ﺃﺧﺮﻯ ﻭﻫﻜﺬﺍ ﺗﻘﻀﻲ
ﻟﻴﻠﻬﺎ ﺑﻴﻦ ﺍﻗﺘﺮﺍﺏ ﻭﺍﺑﺘﻌﺎﺩ
ﺍﻻﻗﺘﺮﺍﺏ ﺍﻟﺪﺍﺋﻢ ﻗﺪ ﻳﻜﻠﻔﻬﺎ ﺍﻟﻜﺜﻴﺮ ﻣﻦ
ﺍﻟﺠﺮﻭﺡ
ﻭﺍﻻﺑﺘﻌﺎﺩ ﺍﻟﺪﺍﺋﻢ ﻗﺪ ﻳُﻔﻘﺪﻫﺎ ﺣﻴﺎﺗﻬﺎ
ﻛﺬﻟﻚ ﻫﻲ ﺣﺎﻟﻨﺎ ﻓﻲ ﻋﻼﻗﺎﺗﻨﺎ ﺍﻟﺒﺸﺮﻳﺔ
ﻻ ﻳﺨﻠﻮ ﺍﻟﻮﺍﺣﺪ ﻣﻨﺎ ﻣﻦ ﺃﺷﻮﺍﻙ ﺗُﺤﻴﻂ ﺑﻪ
ﻭﺑﻐﻴﺮﻩ ﻭﻟﻜﻦ ﻟﻦ ﻳﺤﺼﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺪﻑﺀ ﻣﺎﻟﻢ
ﻳﺤﺘﻤﻞ ﻭﺧﺰﺍﺕ ﺍﻟﺸﻮﻙ ﻭﺍﻷﻟﻢ
ﻟﺬﺍ
ﻣﻦ ﺍﺑﺘﻐﻰ ﺻﺪﻳﻘﺎً ﺑﻼ ﻋﻴﺐ ﻋﺎﺵ ﻭﺣﻴﺪﺍً
ﻭﻣﻦ ﺍﺑﺘﻐﻰ ﺯﻭﺟﺔً ﺑﻼ ﻧﻘﺺ ﻋﺎﺵ ﺃﻋﺰﺑﺎً
ﻭﻣﻦ ﺍﺑﺘﻐﻰ ﺃﺧﺎ ﺑﺪﻭﻥ ﻣﺸﺎﻛﻞ ﻋﺎﺵ ﺑﺎﺣﺜﺎً
ﻭﻣﻦ ﺍﺑﺘﻐﻰ ﻗﺮﻳﺒﺎً ﻛﺎﻣﻼً ﻋﺎﺵ ﻗﺎﻃﻌﺎً
ﻟﺮﺣﻤﻪ
ﻓﻠﻨﺘﺤﻤﻞ ﻭﺧﺰﺍﺕ ﺍﻵﺧﺮﻳﻦ ﺣﺘﻰ ﻧﻌﻴﺪ
ﺍﻟﺘﻮﺍﺯﻥ ﺇﻟﻰ ﺣﻴﺎﺗﻨﺎ
ﺇﺫﺍ ﺃﺭﺩﺕ ﺃﻥ ﺗﻌﻴﺶ ﺳﻌﻴﺪﺍ
ﻓﻼ ﺗﻔﺴﺮ ﻛﻞ ﺷﻲﺀ
ﻭﻻ ﺗﺪﻗﻖ ﺑﻜﻞ ﺷﻲﺀ
ﻭﻻ ﺗﺤﻠﻞ ﻛﻞ ﺷﻲﺀ
ﻓﺈﻥ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺣﻠﻠﻮﺍ ﺍﻷﻟﻤﺎﺱ ﻭﺟﺪﻭﻩ ‏( ﻓﺤﻤﺎً )
( ﻣﻨﻘﻮﻝ)

Sesama Hewan Landak tidak mungkin saling merapat satu dengan lainnya. Duri-duri tajam yang mengitari tubuhnya adalah penghalang utama mereka untuk melakukan hal di  atas. Bahkan kepada anak kandungnya sendiri…

Ketika musim dingin tiba, membawa hembusan badai salju susul menyusul, serta cuaca dingin yg menggigit tulang, dalam kondisi kritis seperti ini, para landak itu terpaksa saling merapat satu dengan lainnya, demi menghangatkan tubuh-tubuhnya meski mereka harus berjuang menahan perih dan sakitnya duri-duri landak lain yg menusuk, melukai kulit-kulit mereka.

Jika sekawanan landak itu telah merasakan sedikit kehangatan, segera saja mereka saling menjauh, namun jika rasa dingin kembali merasuk ke dalam tubuh mereka, mereka akan segera merapat lagi… dan demikianlah seterusnya. sepanjang malam, landak-landak itu disibukkan oleh kegiatan saling menjauh dan saling mendekat. Merapat terlalu lama akan menimpakan atas mereka banyak luka. Sementara jika mereka saling menjauh dalam waktu yang lama justru bisa saja rasa dingin menewaskan mereka.

Demikianlah keadaan kita manusia dalam hubungan interaksi sosial antara sesama kita dalam hidup ini, tentu tak seorang manusiapun terbebas dari duri-duri (kesalahan-kesalahan) yang mengitari dirinya, demikian halnya orang lain… Tentu mereka sama sekali tidak akan dapat merasakan kehangatan jika mereka tidak rela bersabar menanggung perihnya duri-duri (kesalahan) orang lain pada saat saling merapat.

Oleh karena itulah:
Siapa saja yang hendak mencari sahabat tanpa kesalahan, niscaya ia akan hidup sebatang kara. Dan barang siapa yg ingin mencari pendamping hidup sempurna tanpa kekurangan, niscaya ia akan hidup membujang. Dan barang siapa yang berusaha mencari saudara tanpa problema, niscaya ia akan hidup dalam pencarian yang tiada akhirnya. Barang siapa yang hendak mencari kerabat yang ideal dan sempurna, niscaya ia akan lalui seluruh hidupnya dalam permusuhan. Maka, bersabarlah menanggung perihnya  kesalahan orang lain, agar kita dapat mengembalikan keseimbangan dalam hidup ini.

Camkanlah ….
jika engkau ingin hidup bahagia, jangan menafsirkan segala sesuatu, jangan pula terlalu kritis pada segala hal, serta jangan terlalu jeli meneliti segala sesuatu. Sebab jika seseorang jeli meneliti asal usul berlian, ia akan mendapati ternyata berlian itu bermula dari bongkahan batu hitam.

***
Diterjemahkan dari faedah yg dishare oleh Syekh Abu Muhammad as – Sulmiy -hafizhohullah –

Diterjemahkan oleh akhukum Fadlan Akbar, Lc

Sumber : Grup Whatsapp

Advertisements

Hubungan Antara Fenomena Alam Dan Shalat Tepat Waktu

Sebuah buku ilmiah keagamaan yang cukup memikat hati dari hamparan ‘buku laris’ di pelatar toko buku karya Prof. DR. Ir. H. Osly Rachman, MS berjudul “THE SCIENCE OF SHALAT” yang diterbitkan Qultummedia telah membawa semangatku memahami betapa besarnya hikmah shalat tepat waktu. Ternyata perpindahan waktu shalat adalah bagian dari kekuasaan Allah swt yang mempunyai hikmah dan keajaiban alam pada setiap detiknya. Setiap peralihan waktu sholat secara bersamaan telah terjadi perubahan energi alam yang dapat diukur dan dapat dirasakan melalui perubahan warna alam. Nah, aku teringat sebuah lagu ‘sanja kuning’ yang bermakna pantangan sehingga pada posting berikut kupaparkan beberapa rahasia alam kalau kita sempat shalat tepat waktu.

1.SUBUH

Pada waktu subuh alam berada dalam spectrum warna biru muda yang bersesuaian dengan frekuensi tiroid (kelenjar gondok). Dalam fisiologi, tiroid memiliki pengaruh terhadap sistem metabolisme tubuh manusia. Warna biru muda juga mempunyai rahasia tersendiri berkaitan dengan rezeki dan cara berkomunikasi. Ketika adzan subuh berkumandang, tenaga alam ini berada pada tingkatan optimum yang kemudian diserap oleh tubuh terutama pada waktu ruku` dan sujud. Kerugian bagi yang masih tidur pulas pada waktu subuh karena akan kehilangan kesempatan mendapat semangat baru untuk mencari rezeki dan berkomunikasi. Hal ini terjadi karena tiroid tidak dapat menyerap tenaga biru muda di alam ketika ruh dan jasad masih lelap tertidur.

2. DZUHUR

Warna alam pada saat memasuki waktu dzuhur bernuansa menguning yang berpengaruh terhadap perut dan sistem pencernaan manusia. Warna kuning keemasan ini juga memiliki pengaruh terhadap hati. Selain itu warna kuning ini juga mempunyai rahasia yang berkaitan dengan perasaan dan keceriaan seseorang. Jadi, kerugian yang besar bagi yang melewatkan sholat Dzuhur karena akan berakibat gangguan pada sistem pencernaan serta berkurang keceriaan.

3. ASHAR
Warna alam pada waktu Ashar berubah menjadi oranye. Aroma warna orange ini berpengaruh terhadap kondisi prostate, uterus, ovary, testis dan sistem reporduksi. Warna oranye pada waktu dzuhur juga mempengaruhi kreativitas seseorang sehingga kerugian bagi yang kerap tertinggal shalat Ashar karena akan menurun daya kreativitasnya. Selain itu, organ reproduksi juga akan kehilangan energi positif dari warna alam oranye tersebut.

4. MAGHRIB

Menjelang senja terlihat warna alam berubah menjadi merah. Hal ini terjadi karena waktu Maghrib tiba terjadi spectrum warna alam selaras dengan frekuensi jin dan iblis. Pada waktu ini jin dan iblis amat bertenaga karena memiliki resonansi bersamaan dengan warna alam. Jika sedang dalam perjalanan hendaklah berhenti untuk mengerjakan sholat Maghrib. Hal ini lebih baik karena pada waktu maghrib, banyak interfernsi atau tumpang tindihnya dua atau lebih gelombang yang berfrekuensi sama sehingga penglihatan terkadang kurang tajam oleh adanya fatamorgana.

5. ISYA

Suasana alam berubah menjadi warna nila dan selanjudnya menjadi gelap. Waktu Isya` menyimpan rahasia ketentraman dan kedamaian yang frekuensinya sesuai dengan sistem kontrol otak. Kerugian bagi yang melewati waktu shalat Isya karena sering merasa gelisah. Jika waktu Isya usai dan alam mulai diselimuti kegelapan hendaknya segera mengistirahatkan tubuh dengan tidur. Pada saat malam kondisi jiwa berada pada gelombang Delta dengan frekuensi di bawah 4 Hz pada seluruh sistem tubuh sehingga kondisi fisik memasuki waktu istirahat.

6. TAHAJUD

Selepas tengah malam kembali suasana alam bersinar dengan warna putih, merah jambu, dan kemudian ungu. Perubahan warna ini selaras dengan frekuensi kelenjar Pineal (otak kecil), kelenjar Pituitary (bawah otak), thalamus dan hypothalamus. Maka kita sepatutnya bangun dari tidur kemudian sangat baik jika mengerjakan sholat tahajud. (thalamus pusat integrasi dan saluran sensori ke cortex serta cerebellum atau pengatur koordinasi gerak sementara hypothalmus pengatur syaraf, hormon, pembangun hasrat dan temperatur tubuh.

Agar Jangan Sampai Dikatakan

Kisah ini sudah populer di antara kita, namun setiap kali saya membacanya,  mengingatnya, selalu membuat merinding, terharu bahkan berkaca-kaca.. Sebuah kisah persudaraan Islam yang demikian eratnya. Kisah Ukhuwah Islamiyah di atas segalanya. Saya memberinya judul “Agar Jangan Sampai Dikatakan..”

Inilah kisah True Story yang terjadi pada zaman kekhalifahan Umar bin Khattab.
Suatu hari Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di  sekelilingnya para sahabat sedang asyik berdiskusi sesuatu. Di kejauhan datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu  berkata, ”Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!”

“Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini!”.

Umar segera bangkit dan berkata, “Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau  membunuh ayah mereka wahai anak muda?”
Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata, “Benar, wahai Amirul Mukminin.”
”Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.”, tukas Umar.

Pemuda lusuh itu memulai ceritanya.
“Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku, kuikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia. Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera kucabut pedangku dan kubunuh ia. Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini.”
“Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.”, sambung pemuda yang ayahnya terbunuh. ”Tegakkanlah had Allah atasnya!” timpal yang lain. Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh. ”Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat’, ujarnya.

“Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat atas kematian ayahmu”, lanjut Umar.

“Maaf Amirul Mukminin,” sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala,
“kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa”.

Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur dan bertanggung jawab. Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata,”Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha  dengan ketentuan Allah” ujarnya dengan tegas, ”Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash”.

”Mana bisa begitu?”, ujar kedua pemuda.

”Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?” tanya Umar.

“Sayangnya tidak ada Amirul Mukminin, bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggungjawaban kaumku bersamaku?” pemuda lusuh balik bertanya.

”Baik, aku akan meberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji.” kata Umar.

”Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah lah penjaminku wahai orang-orang beriman”, rajuknya.

Tiba-tiba dari belakang hadirin terdengar suara lantang, “Jadikan aku penjaminnya wahai Amirul Mukminin”. Ternyata Salman al Farisi yang berkata..

”Salman?” hardik Umar marah, “Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini”. ”Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, ya Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya”, jawab Salman tenang.

Akhirnya dengan berat hati Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh. Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.

Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh. Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai  mengkhawatirkan nasib Salman. Salah satu sahabat Rasulullah saw yang paling utama. Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya.

Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.  Akhirnya tiba waktunya penqishashan, Salman dengan tenang dan penuh  ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, orang hebat seperti Salman akan dikorbankan. Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari  terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali. ”Itu dia!” teriak Umar, “Dia datang menepati janjinya!”. Dengan tubuh bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pengkuan Umar.

”Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku..” ujarnya dengan susah payah, “Tak kukira.. urusan kaumku.. menyita..banyak.. waktu..”. ”Kupacu.. tungganganku.. tanpa henti, hingga.. ia sekarat di gurun.. terpaksa.. kutinggalkan.. lalu aku berlari dari sana..”

”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum, “Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?” ”Agar.. jangan sampai ada yang mengatakan.. di kalangan Muslimin.. tak ada lagi ksatria.. tepat janji..” jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.

Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya, “Lalu kau Salman,  mengapa mau-maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal? ”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau
menanggung beban saudaranya”, Salman menjawab dengan mantap.

Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu. ”Allahu Akbar!”
tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak, “Saksikanlah wahai kaum Muslimin,
bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”. Semua orang tersentak kaget.
“Kalian..” ujar Umar, “Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru. ”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya” ujar kedua pemuda membahana. ”Allahu Akbar!” teriak hadirin.
Pecahlah tangis bahagia, haru dan bangga oleh semua orang. Begitupun kita disini, di saat ini.. sambil menyisipkan sebersit rasa iri karena tak bisa merasakannya langsung bersama saudara- saudara kita pada saat itu..

“Allahu Akbar…”

Sumber : Dalam Dekapan Ukhuwah, Salim A Fillah

Kisah Pilu Seorang Tabiin

Kisah pilu seorang tabiin yg hafidz qur’an namun murtad pd saat berjihad. Hny krn asmara…

Lelaki gagah itu mengayunkan pedangnya menebas tubuh demi tubuh pasukan romawi. Ia adalah seorang tabiin (270H) yg hafal qur’an. Namanya adalah sebaik-baik nama, Abdullah bin Abdurrahim. Keimanannya tak diragukan. Adakah bandingannya didunia ini seorang mujahid nan hafal quran. Namun lacur akhir hayatnya mati dalam kemurtadan dan hilang hafalannya melainkan 2 ayat sahaja yg tersisa. Yaitu surah al hijr ayat 2-3,

rubamaa yawaddulladziina kafaru lau kaanu  muslimiin, dzarhum ya`kulu wayatamatta’u wayulhihimul amal-fasaw faya’lamuun. (Org2 kafir itu diakhirat nnt sering menginginkan andai didunia dulu mrk muslim. Biarkanlah mrk mkn dn senang2, dilalaikan oleh angan2 kosong belaka, kelak mrk akan tahu akibatnya). 

Seolah ayat ini adalah kutukan sekaligus peringatan اَللّه yg terakhir namun tak digubrisnya.

Apakah penyebabnya? Penyebabnya adalah wanita. Inilah kisahnya;

Pedangnya masih berkilat2 memantul sinar mentari. Masih segar berlumur merahnya darah org romawi. Ia hantarkan org romawi itu ke neraka dg pedangnya. Tak disangka nantinya dirinyapun dihantar ke neraka oleh seorang wanita romawi, tdk dg pedang melainkan dg asmara. Kaum muslimin sedang mengepung kampung romawi. Tiba2 mata Abdullah tertuju kpd seorang wanita romawi di dalam benteng. Kecantikan dan pesona wanita pirang itu begitu dahsyat mengobrak-abrik hatinya. Dia lupa bahwa tak seorangpun dijamin tak lolos su’ul khotimah. Dia lupa bahwa maksiat dan pandangan haram adalah gerbang kekufuran. Tak tahan, iapun mengirimkan surat cinta kpd wanita itu. Isinya kurang lebih: “Adinda, bgm caranya agar aku bs smp ke pangkuanmu?” Perempuan itu mjwb: “Kakanda, masuklah agama nashrani maka aku jd milikmu.”

Syahwat telah memenuhi relung hati Abdullah sampai2 ia mjd lupa beriman, tuli peringatan dan buta alquran. Hatinya terbangun tembok anti hidayah.

Khotamallaahu ‘ala qulubihim wa’ala sam’ihim wa’ala abshorihim ghisyawah… Astaghfirullah, ma’adzallah.

Pesona wanita itu telah mampu mengubur imannya di dasar samudra. Demi tubuh cantik nan fana itu ia rela tinggalkan islam. Ia rela murtad. Menikahlah dia didalam benteng. Kaum muslimin yg menyaksikan ini sngt terguncang. Bgm mungkin? How come? Bgm bisa seorg hafidz yg hatinya dipenuhi alqur’an meninggalkan اَللّه dn mjd hamba salib? Ketika dibujuk utk taubat ia tak bs. Dikatakannya bhw ia telah lupakan qur’an kecuali 2 ayat diatas sj dan ia bahagia hidup berlimpah harta dan keturunan bersama kaum nashrani. Dalam keadaan spt itulah dia sampai wafatnya.

Ya اَللّه seorang hafidz nan mujahid sahaja bs Kau angkat nikmat imannya berbalik murtad jika sudah ditetapkan murtad, apatah lg hamba yg bnyk cacat ini. Tak punya amal andalan.

Saudaraku, doakan aku dan aku doakan pula kalian agr اَللّه lindungi kt dr fitnah wanita dan fitnah dunia serta dihindarkan dr ketetapan yg buruk diakhir hayat.

Ma taraktu ba’di fitnatan adhorro ‘ala ar rijaal min nisaa…
“Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yg maha dahsyat bahayanya bagi lelaki kecuali fitnah wanita” (muttafaq ‘alaih).

Disarikan dr tulisan DR. Hamid Ath Thahir dlm buku Dibawah Kilatan Pedang (101 kisah heroik mujahidin)