Nabi Isa dan Dunia

Suatu saat, Nabi Isa as berjumpa dengan seorang wanita tua yang berwajah amat buruk. ”Akulah dunia,” kata nenek tua buruk rupa itu. Isa as bertanya kepadanya, berapa orang suami yang pernah ia punyai. ”Tak terhitung jumlahnya,” ia menjawab.

”Apakah suami-suamimu meninggal atau menceraikanmu?” Isa as bertanya lagi. ”Tidak,” jawab nenek itu, ”aku membunuh mereka semua.”

Lalu Isa as berkata, ”Aku tak bisa mengerti. Mengapa masih saja ada orang yang tahu apa yang telah kau perbuat kepada manusia, tetapi mereka masih tetap menginginkanmu…”

Ketika Ibrahim Menangis

Suatu hari, seorang tokoh sufi besar, Ibrahim bin Adham, mencoba memasuki sebuah tempat pemandian umum. Penjaganya meminta uang untuk membayar karcis masuk. Ibrahim menggeleng dan mengaku bahwa ia tak punya uang untuk membeli karcis masuk.

Penjaga pemandian lalu berkata, ”Jika engkau tidak punya uang, engkau tak boleh masuk.”

Ibrahim seketika menjerit dan tersungkur ke atas tanah. Dari mulutnya terdengar ratapan-ratapan kesedihan. Para pejalan yang lewat berhenti dan berusaha menghiburnya. Seseorang bahkan menawarinya uang agar ia dapat masuk ke tempat pemandian.

Ibrahim menjawab, ”Aku menangis bukan karena ditolak masuk ke tempat pemandian ini. Ketika si penjaga meminta ongkosuntuk membayar karcis masuk, aku langsung teringat pada sesuatu yang membuatku menangis. Jika aku tidak diijinkan masuk ke pemandian dunia ini kecuali jika aku membayar tiket masuknya, harapan apa yang bisa kumiliki agar diijinkan memasuki surga? Apa yang akan terjadi padaku jika mereka menuntut : Amal salih apa yang telah kau bawa? Apa yang telah kau kerjakan yang cukup berharga untuk bisa dimasukkan ke surga? Sama ketika aku diusir dari pemandian karena tak mampu membayar, aku tentu tak akan diperbolehkan memasuki surga jika aku tak mempunyai amal shalih apa pun. Itulah sebabnya aku menangis dan meratap.”

Dan orang-orang disekitarya yang mendengar ucapan itu langsung terjatuh dan menangis bersama Ibrahim.

Sumber :

Kisah Ashhabul Ukhdud (Para Pembuat Parit)

Dalil Al-Qur’an :

”Binasalah dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar. Ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena mereka itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS Al Buruj : 4-8)

Cerita :

Dahulu kala, di Najran, Yaman, ada seorang raja bernama Jahdun. Seperti umumnya raja-raja kala itu, Jahdun juga mengaku dirinya adalah Tuhan. Jahdun mempunyai tukang sihir yang sekaligus salah satu penasihatnya. Selain tukang sihir tersebut, ada seorang ustadz, yang juga bertugas sebagai penasehat raja.

Suatu ketika, tukang sihir menghadap sang raja, ”Paduka yang mulia, aku kini sudah kian tua. Agaknya, ajalku hampir tiba. Maka carilah seorang pemuda yang cerdas agar aku bisa mewariskan ilmuku,” ucapnya. Jahdun pun mengabulkan permintaan tukang sihir tersebut.

Singkat cerita, dipilihlah seorang pemuda cerdas bernama Waddhah. Atas permintaan raja, pemuda tersebut berguru kepada tukang sihir. Namun, dalam perjalanannya, pemuda itu tertarik juga pada sang ustadz yang tinggal tak jauh dari lingkungan istana tersebut. Waddhah sering mampir ke rumah ustadz itu untuk mendengarkan ajaran dan petuahnya, sebelum ia pergi ke tukang sihir. Karena terpikat dengan ajaran sang ustadz, Waddhah selalu terlambat tiba di rumah tukang sihir. Akibatnya, tukang sihir itu menghukumnya.

”Mengapa kamu selalu terlambat?” Hardik tukang sihir itu sambil terus memukulinya. Namun Waddhah tak menjawab. Usai belajar di rumah tukang sihir, Waddhah singgah lagi ke rumah ustadz. Akibatnya, ia pun sering terlambat tiba di rumah. Kali ini, keluarganya yang marah dan memukulinya. Kondisi itu terjadi berulang-ulang.

Akhirnya, Waddhah mengadukan kejadian tersebut kepada sang ustadz. Mendengar keluhan muridnya, ustadz itu memberi nasihat bijak.

”Jika tukang sihir itu hendak memukulmu, katakanlah bahwa keluargamu telah menahanmu sehingga kau terlambat. Dan jika keluargamu hendak memukulimu karena terlambat, katakanlah bahwa tukang sihir itu telah menahanmu.”

Demikianlah, semua berjalan lancar tanpa ada yang tahu kalau Waddhah telah terpaut hatinya pada ajaran sang ustadz.

Suatu hari, seekor binatang melata berukuran sangat besar tiba-tiba menghalangi jalan umum. Akibatnya, tak seorang pun yang berani melewati jalan itu. Ketika melihat binatang itu, Waddhah bergumam dalam hati, ”Hari ini akan aku ketahui, apakah ajaran sang ustadz lebih dicintai Allah ataukah ajaran si tukang sihir.”

Waddhah mendekati binatang tersebut. Lalu diambilnya sebuah batu sambil berdo’a, ”Ya Allah, jika ajaran sang ustadz lebih Engkau cintai dan Engkau ridhoi daripada ajaran si tukang sihir, maka bunuhlah binatang ini supaya orang-orang bisa lewat.” Waddhah segera melemparkan batu ke arah binatang besar itu. Binatang itu pun mati seketika. Kejadian tersebut diceritakan Waddhah kepada sang ustadz. Mendengar cerita itu, sang ustadz sangat kagum.

”Nah, engkau lebih mulia dari aku,” ujar sang ustadz masih dengan nada tertegun. ” Suatu saat engkau pasti mendapat ujian dan malapetaka. Maka ketika ujian itu menimpamu, jangan sekali-kali engkau menceritakan keadaanku.”

Sejak itu, banyak karunia yang diberikan Allah kepada Waddhah. Atas ijin Allah, ia mampu menyembuhkan berbagai penyakit ringan maupun berat yang menimpa masyarakat.

Kebetulan, ada teman dekat Raja Jahdun yang mengalami kebutaan sejak lahir. Diantar para pengawal, si buta tersebut datang menemui Waddhah dengan membawa berbagai macam hadiah.

”Wahai anak muda, tolong sembuhkan aku,” Waddhah menjawab, ”Aku sama sekali tak bisa berbuat apa-apa. Hanya Allah-lah yang mampu menyembuhkan. Jika engkau beriman kepada-Nya dan berdo’a, insya Allah akan sembuh.”

Karena bertekad ingin sembuh,orang itu pun menurut. Maka ia beriman kepada Allah dan memanjatkan do’a. Sungguh ajaib, kedua mata laki-laki itu sembuh seketika. Semakin kuatlah imannya kepada Allah.

Suatu ketika, laki-laki itu datang ke istana. Dengan perasaan heran, Raja Jahdun bertanya, ”Kawan, siapa yang telah mengembalikan penglihatanmu?” Ia menjawab singkat, ”Tuhanku.” Jahdun menyahut, ”Maksudmu aku?” ”Bukan, tetapi Tuhanku dan Tuhanmu. Yakni Allah Azza wa Jalla.” Raja semakin penasaran. ”Apakah engkau punya Tuhan selain aku?” Dengan mantap ia menjawab, ”Benar, Allahlah Tuhanku dan Tuhanmu jua.” Akibat pengakuan keimanannya, laki-laki itu disiksa secara sadis. Hingga akhirnya Waddhah dipanggil menghadap sang raja.

”Hai Waddhah, aku dengar bahwa sihirmu bisa menyembuhkan berbagai penyakit,” tanya Raja Jahdun dengan nada keras.

Dengan tenang Waddhah menjawab, ”Jahdun, aku tak punya ilmu sihir. Tukang sihir itu tidak mengajarkan apa-apa kepadaku. Ia selalu memukuli aku. Adapun penyakit mata kawanmu itu, bukan aku yang menyembuhkan. Tetapi Allah.” Raja bertanya, ”Aku?” ”Bukan”, jawab Waddhah. ”Kamu punya Tuhan selain aku?” ”Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah semata.”

Jahdun marah besar. Pemuda itu pun disiksa, sampai akhirnya ia berterus terang bahwa ia belajar dari seorang ustadz. Tanpa pikir panjang lagi, Raja Jahdun menyuruh prajuritnya untuk mencuri si ustadz.

”Keluarlah dari agamamu, wahai ustadz. Atau aku siksa kamu,” bentak Jahdun setelah sang ustadz itu tibadi hadapannya.

Namun sang ustadz dengan tegas menolak permintaan itu. Akhirnya Jahdun menyuruh algojo mengeksekusi sang ustadz. Dengan gergaji di tangannya, algojo itu memisahkan kepala sang ustadz dari badannya.

Jahdun kemudian meminta kawannya yang dulu buta itu untuk mengingkari adanya Allah SWT. Tapi ia menolak. Maka laki-laki itu pun menyusul sang ustadz, syahid di tangan algojo.

Tiba giliran Waddhah, ia juga diminta keluar dari keyakinannya. Namun pemuda itu tidak langsung dibunuh, Jahdun meminta para algojo untuk membawanya ke sebuah gunung. ”Jika sampai di puncak nanti, lalu ia mau keluar dari agamanya, bawalah ia kembali. Jika tidak, lemparkan ia ke jurang.”

Sampai dipuncak, Waddhah berdo’a, ”Ya Allah, kupasrahkan jiwaku kepada-Mu. Peliharalah aku dengan apa yang Engkau kehendaki.” Tak berapa lama, gunung itu terguncang dahsyat. Orang-orang itu terperosok, kecuali Waddhah. Ia pun kembali menghadap raja.

”Apa yang telah terjadi dengan mereka?” Tanya Jahdun terkejut. ”Allah SWT yang telah menyelamatkan aku.” Jawab Waddhah. Alangkah murkanya Jahdun. Ia segera menugaskan para prajuritnya agar membuang Waddhah ke laut.

”Jika sudah berada di tengah laut, lalu pemuda ini mau keluar dari keyakinannya. Bawalah ia kembali. Jika tidak, lemparkanlah ia!” Begitu pesan Jahdun.

Namun, dengan ijin Allah, Waddhah selamat. Sedangkan para algojo itu tewas tenggelam. Pemuda itu pun kembali menemui raja Jahdun. Jahdun makin geram dibuatnya.

”Demi Allah SWT, engkau tak akan bisa membunuhku dengan cara apapun, kecuali engkau mengikuti perintahku,” kata Waddhah. ”Bagaimana caranya,” tanya Jahdun. ”Kumpulkan semua penduduk negeri ini di sebuah tempat yang tinggi. Lalu ikatlah aku di sebuah pohon. Ambil anak panah dan ucapkan dengan keras, ”Dengan nama Allah, Tuhannya pemuda ini.” Jika kau lakukan, niscaya kau bisa menghabisi nyawaku.”

Jahdun menurut. Setelah rakyat negeri itu berkumpul dan pemuda tersebut terikat erat di sebuah pohon Jahdun mengambil anak panah dan membidiknya. Anak panah melesat ke arah Waddhah, tapi ternyata tidak mampu menembus kulitnya. Jahdun marah, ”Hai Waddhah, kau telah membohongi aku.”

”Tidak, aku tidak bohong,” sanggah Waddhah. ”Bukankah engkau belum menyebut nama Allah?”

Raja congkak itu mengambil lagi anak panah. Menjelang melepas anak panah itu, ia menyebut nama Allah, tapi hanya di dalam hati. Anak panah melesat, tetapi lagi-lagi tidak mempan. Bukan main marahnya sang raja.

”Bukan telah kuperintahkan kamu untuk menyebut nama Allah dengan keras?” Seru Waddhah.

Jahdun tertegun. Namun sesaat kemudian, cepat-cepat diambilnya anak panah ketiga. Ia berteriak dengan keras, ”Dengan nama Allah, Tuhannya pemuda ini!” Anak panah itu kemudian melesat menembus jantung Waddhah dan mengakhiri hidupnya.

Gemparlah seluruh penduduk menyaksikan adegan tersebut. Mereka pun berteriak, ”Kami beriman kepada Allah, Tuhan pemuda itu!” Pengawal raja berbisik, ”Paduka, tidakkah paduka lihat? Mereka beriman kepada Allah dan tidak mengakui ketuhanan paduka.”

Akhirnya Jahdun memerintahkan pengawalnya untuk membuat parit (ukhdud). Di dalamnya dinyalakan api yang bergejolak, ”Siapa yang mau keluar dariagamanya, selamatlah ia. Jika tidak, kalian akan kulemparkan ke dalam api ini!” Teriak Jahdun.

Namun seluruh rakyat Najran itu tetap teguh dengan iman mereka. Akhirnya satu persatu mereka dilemparkan ke dalam api tersebut. Di antara mereka ada seorang wanita yang sedang menggendong anaknya yang masih menyusui. Sejenak ia bimbang untuk melompat ke dalam kobaran api. Tiba-tiba anak yang digendongnya berkata pelan, ”Ummi, tabah dan bersabarlah. Karena engkau berada di jalan yang benar,” Maka, dengan membopong anaknya, perempuan itu menceburkan diri.

Peristiwa di atas kemudian dikenal dengan kejahatan ashabul ukhdud (para pembuat parit).

Sumber : Iqra Club

Tugas Murid Junaid

Junaid Al-Baghdadi, seorang tokoh sufi, mempunyai anak didik yang amat ia senangi. Santri-santri Junaid yang lain menjadi iri hati. Mereka tak dapat mengerti mengapa Syeikh memberi perhatian khusus kepada anak itu.

Suatu saat, Junaid menyuruh semua santrinya untuk membeli ayam di pasar untuk kemudian menyembelihnya. Namun Junaid memberi syarat bahwa mereka harus menyembelih ayam itu di tempat di mana tak ada yang dapat melihat mereka. Sebelum matahari terbenam, mereka harus dapat menyelesaikan tugas itu.

Satu demi satu santri kembali ke hadapan Junaid, semua membawa ayam yang telah tersembelih. Akhirnya ketika matahari tenggelam, murid muda itu baru datang, dengan ayam yang masih hidup. Santri-santri yang lain menertawakannya dan mengatakan bahwa santri itu tak bisa melaksanakan perintah Syeikh yang begitu mudah.

Junaid lalu meminta setiap santri untuk menceritakan bagaimana mereka melaksanakan tugasnya. Santri pertama berkata bahwa ia telah pergi membeli ayam, membawanya ke rumah, lalu mengunci pintu, menutup semua jendela, dan membunuh ayam itu. Santri kedua bercerita bahwa ia membawa pulang seekor ayam, mengunci rumah, menutup jendela, membawa ayam itu ke kamar mandi yang gelap, dan menyembelihnnya di sana. Santri ketiga berkata bahwa ia pun membawa ayam itu ke kamar gelap tapi ia juga menutup matanya sendiri. Dengan itu, ia pikir, tak ada yang dapat melihat penyembelihan ayam itu. Santri yang lain pergi ke hutan yang lebat dan terpencil, lalu memotong ayamnya. Santri yang lain lagi mencari gua yang amat gelap dan membunuh ayam di sana.

Tibalah giliran santri muda yang tak berhasil memotong ayam. Ia menundukkan kepala, malu karena tak dapat menjalankan perintah guru, ”Aku membawa ayam ke rumahku. Tapi di rumahku tak ada tempat di mana Dia tak melihatku. Aku pergi ke hutan lebat, tapi Dia masih bersamaku. Bahkan di tengah gua yang teramat gelap, Dia masih menemaniku. Aku tak bisa pergi ke tempat di mana tak ada yang melihatku.”

Sumber :

Nabi Ibrahim dan Kematian

Suatu hari, Malaikat Maut datang menemui Nabi Ibrahim as untuk mengambil nyawanya. Ibrahim bertanya, ”Apa kau pernah melihat seorang kekasih mematikan orang yang dikasihinya?”

Tuhan menjawab Ibrahim, ”Apa kau pernah melihat seorang kekasih tak mau pergi menjumpai orang yang dikasihinya?”

Sumber :

Nabi Musa dan Seorang Wali Tuhan

Nabi Musa as meminta Tuhan menunjukkan salah satu wali-Nya. Tuhan memerintahkan Musa untuk pergi ke sebuah lembah. Di tempat itu, Musa menemukan seseorang yang berpakaian compang-camping, kelaparan, dan dikerubungi lalat.

Musa bertanya, ”Adakah sesuatu yang dapat aku lakukan untukmu?”

Orang itu menjawab, ”Wahai utusan Tuhan, tolong bawakan aku segelas air.”

Ketika Musa kembali dengan segelas air, orang itu telah meninggal dunia. Musa pergi lagi untuk mencari sehelai kain untuk membungkus mayatnya, agar ia dapat menguburkannya. Ketika ia kembali ke tempat itu, mayatnya telah habis dimakan singa.

Musa merasa tertekan, ia berdoa, ”Tuhan, Engkau menciptakan semua manusia dari tanah. Ada yang berbahagia tapi ada juga yang tersiksa dan hidup menderita. Aku tak dapat mengerti ini semua.”

Suara Yang Agung menjawab, ” Orang itu bergantung kepada-Ku untuk semua hal. Tapi kemudian ia bergantung padamu untuk satu minuman. Dia tak boleh lagi meminta bantuan kepada orang lain kalau ia telah rido dengan-Ku.”

Sumber :
– Essential Sufism, Penyunting : James Fadiman dan Robert Frager, Castle Books, New Jersey, USA, 1988
– Buletin edisi Mei’00

Bahlul dan Tahta Raja

Bahlul, sering menyembunyikan kecedikiaannya dibalik tabir kegilaan. Dengan itu, ia dapat keluar masuk istana Harun Al-Rasyid dengan bebasnya. Sang Raja pun amat menghargai bimbingannya.

Suatu hari, Bahlul masuk ke istana dan menemukan singgasana Raja kosong. Dengan enteng, ia langsung mendudukinya. Menempati tahta Raja termasuk kejahatanberat dan bisa dihukum mati. Para pengawal menangkap Bahlul, menyeretnya turun dari tahta, dan memukulinya. Mendengar teriakan Bahlul yang kesakitan, Raja segera menghampirinya.

Bahlul masih menangis keras ketika Raja menanyakan sebab keributan ini kepada para pengawal. Raja berkata kepada yang memukuli Bahlul, ”Kasihan ! Orang ini gila. Mana ada orang waras yang berani menduduki singgasana Raja?” Ia lalu berpaling ke arah Bahlul, ”Sudahlah, tak usah menangis. Jangan kuatir, cepat hapus air matamu.” Bahlul menjawab, ”Wahai Raja, bukan pukulan mereka yang membuatku menangis. Aku menangis karena kasihan terhadapmu!”

”Kau mengasihaniku?” Harun menghardik, ”Mengapa engkau harus menangisiku?”

Bahlul menjawab, ”Wahai Raja, aku cuma duduk di tahtamu sekali tapi mereka telah memukuliku dengan begitu keras. Apalagi kau, kau telah menduduki tahtamu selama dua puluh tahun. Pukulan seperti apa yang akan kau terima? Aku menangis karena memikirkan nasibmu yang malang…”

Sumber : Essential Sufism, Penyunting: James Fadiman dan Robert Frager, Castle Books, New Jersy, USA, 1988)
Buletin 14 Mei’00